ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 16 November 2013

Hubungan Mahrom Suami Yang Menyusu Pada Istrinya?

=========

Hubungan Mahrom Suami Yang Menyusu Pada Istrinya

Oleh : Siroj Munir 
Pertanyaan :

Apakah terjadi hubungan mahrom antara suami-istri jika suami menyusu pada istri ?

Jawaban :
Menurut pendapat Jumhuru Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i,Hanbali,dan pendapat yang Ashoh dalam madzhab Maliki masa penyusuan yang dapat menyebabkan keharoman adalah dua tahun, jadi jika yang disusui sudah lebih dari dua tahun maka tak bisa timbul hubungan mahrom karena penyusuan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa tidak bisa terjadi hubungan mahrom karena penyusuan jikalau seorang suami menyusu pada istrinya karena sudah melewati batas maksimal dua tahun.

Dalil yang dipakai Jumhur ulama’ diantarnya adalah sebagai berikut :

1. Surat Al Baqoroh, Ayat 233 :

 وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَة َ

“ Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan “.

Para Ulama’ mengambil dalil dari ayat diatas bahwa Alloh menjadikan batasan waktu dua tahun penuh sebagai kesempurnaan penyusuan,jadi jika sudah melampaui dua tahun penyusuan tersebut tak kan berpengaruh lagi.

Kesimpulan tersebut dikuatkan dengan ayat ke-14 dari surat Luqman :

وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

“ Dan menyapihnya dalam dua tahun “


2. Hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Daruquthni :

لاَ رَضَاعَ إِلاَّ مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ

“ Tidak ada ( hubungan ) penyusuan kecuali dalam waktu dua tahun “.


أَلاَّ يَبْلُغَ الرَّضِيعُ حَوْلَيْنِ

لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي أَنَّ ارْتِضَاعَ الطِّفْل وَهُوَ دُونَ الْحَوْلَيْنِ يُؤَثِّرُ فِي التَّحْرِيمِ.
فَقَال الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَهُوَ الأَْصَحُّ الْمُفْتَى بِهِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ: إِنَّ مُدَّةَ الرَّضَاعِ الْمُؤَثِّرِ فِي التَّحْرِيمِ حَوْلاَنِ، فَلاَ يُحَرِّمُ بَعْدَ حَوْلَيْنِ. وَاسْتَدَلُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَالْوَالِدَاتُ رْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ } ، وَقَالُوا: جَعَل اللَّهُ الْحَوْلَيْنِ الْكَامِلَيْنِ تَمَامَ الرَّضَاعَةِ، وَلَيْسَ وَرَاءَ تَمَامِ الرَّضَاعَةِ شَيْءٌ. وَقَال عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: {وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ } وَقَال: {وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْرًا } وَأَقَل الْحَمْل سِتَّةُ أَشْهُرٍ فَتَبْقَى مُدَّةُ الْفِصَال حَوْلَيْنِ؛ وَلِحَدِيثِ: لاَ رَضَاعَ إِلاَّ مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ. وَلِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ مَرْفُوعًا لاَ يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ إِلاَّ مَا فَتَقَ الأَْمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ وَكَانَ قَبْل الْفِطَامِ  .

( Referensi : Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah,  Juz : 22, Hal : 246 )
 
sumber:http://www.fikihkontemporer.com/2012/06/hubungan-mahrom-suami-yang-menyusu.html