Mengenai Mayyit yg memiliki tanggungan Sholat ?يصل للميت كل عبادة تفعل، واجبة أو مندوبة (Tiap ibadah2 akan sampai ke mayyit)
================================================
Mengenai Mayyit yang memiliki tanggungan Sholat
=================================
(تنبيه)
PERINGATAN
من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه،
barangsiapa yang meninggal dunia dan mempunyai tanggungan shalat, maka shalat tersebut tidak dapat di qadha dan dibayarkan fidyahnya.
وفي قول أنها تفعل عنه - أوصى بها أم لا ما حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه،
Dalam sebuah pendapat yang dikatakan oleh al-Imam al-‘Ubadi dari al-Imam asy-Syafi’i, bahwa ; shalat tersebut harus diqadha’ oleh orang lain, baik si mayat berwasiat agar mengerjakan atau pun tidak (berwasiat). Hal ini didasarkan pada sebuah hadits.
وفعل به السبكي عن بعض أقاربه.
Al-Imam as-Subki juga melakukan hal yang demikian pada kerabat-kerabatnya beliau yang meninggal dunia.
_________________
Penjelasan ;
Masalah qadha terhadap shalat yang ditinggalkan mayyit terdapat Khilafiyah (perbedaan pendapat) dikalangan Ulama. Orang yang mati (mayyit) dan masih memiliki tanggungan shalat fardhu, maka shalat tersebut tidak bisa di qadha dan tidak bisa dibayarkan fidyah, sebagaimana yang disebutkan diatas. Namun, dikatakan pula bahwa terdapat ada sebuah pendapat bahwa shalat harus diqadha' oleh orang lain, baik si mayyit berwasiat maupun tidak, berdasarkan pada sebuah hadits. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Ubadi dari Al-Imam Asy-Syafi'i.
Demikian juga Al-Imam As-Subki melakukan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Al-Imam Ubadi dari Al-Imam Asy-Syafi'i kepada kerabat-kerabatnya yang meninggalkan. Jadi, ketika kerabat Al-Imam As-Subki meninggal, beliau mengqadha' shalat yang pernah di tinggalkan oleh kerabatnya.
Dijelaskan dalam Syarah kitab Fathul Mu'in ini (I'anah Thalibin), sebagai berikut ;
وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه
"dan menurut pendapat sebagian besar para Mujtahid bahwa bagi keluarganya tetap terkena beban (kewajiban membayar) karena ada hadits riwayat Imam Bukhari dan yang lainnya. Dan ternyata pendapat yang terakhir ini yang dipilih (diikuti) oleh ulama-ulama kami (Syafi'iyah) dan Al-Imam as-Subki juga melakukan hal yang demikian pada kerabat-kerabatnya beliau yang meninggal dunia".
. ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي إن خلف تركة أن يصلى عنه، كالصوم. وفي وجه ـ عليه كثيرون من أصحابنا ـ أنه يطعم عن كل صلاة مداً
"telah dinukil dari Ibnu Burhan dari Qoul Qadim (Madzhab Asy-Syafi'i) bahwa wajib bagi wali menshalatkan (mengqadha' shalat) yang ditinggalkan mayyit, seperti hal nya puasa. Menurut sebagian besar Ashab kami (ulama-ulama Syafi'iiyah) bahwa sesungguhnya (mengganti dengan) memberi makan, untuks setiap shalat dibayatkan satu mud (6 Ons)".
Dari penjelasan diatas dapat kita disimpulkan bahwa shalat yang ditinggalkan mayyit dapati di bayar dengan beberapa cara, pertama ; Menggantinya dengan shalat (mengqadha' shalatnya) oleh keluarga mayyit, Sedangkan yang kedua ; dengan membayar fidyah (memberi makan) kepada faqir miskin, untuk setiap satu shalat maka dendanya satu Mud (6 Ons beras).
Didalam kitab Syarahnya juga dikatakan bahwa Al-Imam Ath-Thabari mengatakan,
يصل للميت كل عبادة تفعل، واجبة أو مندوبة
"setiap ibadah-ibadah yang dikerjakan akan sampai kepada mayyit baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah"
Dalam Madzhab Ahlus sunnah wal jamaah, (qoul) pendapat yang telah dipilih (Mukhtar), bahwa pahala dari amal, shalat dan yang lainnya yang diberikan akan sampai kepada mayyit. Pembahasan masalah ini, akan dibahas pada kesempatan yang lain. Sebab masalah sampai atau tidaknya pahala shalat, demikian juga membaca Al-Qur'an dan sebagainya adalah pembahasan yang panjang. Namun, untuk sekedar diketahui bahwa pahala dari semua itu sampai menurut pendapat yang lebih muktamad (kuat), agar lebih ahsan (bagus) kiranya sambil menghaturkan do'a memohon kepada Allah supaya pahalanya disampaikan kepada mayyit.
=============================
sumber:http:http://www.facebook.com/note.php?note_id=422607861024
Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Senin, 01 Agustus 2011
Sholawat Nabi di Bulan Sya'ban
Sholawat di Bulan Sya'ban
============================
بسم الله الرحمن الرحيم
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، شَجَرَةِ النُّبُوَّةِ، وَمَوْضِعِ الرِّسالَةِ، وَمُخْتَلَفِ الْمَلائِكَةِ، وَمَعْدِنِ الْعِلْمِ، وَاَهْلِ بَيْتِ الْوَحْىِ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad syajaratin nubuwwah, wa mawdhi’ir risâlah, wa mukhtalifil malâikah, wa ma’dinil ‘ilmi, wa ahli baytil wahyi.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya pohon kenabian, pengemban risalah, tempat silih-berganti turunnya para malaikat, khazanah ilmu, keluarga tempat turunnya wahyu.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد الْفُلْكِ الْجارِيَةِ فِي اللُّجَجِ الْغامِرَةِ، يَأْمَنُ مَنْ رَكِبَها، وَيَغْرَقُ مَنْ تَرَكَهَا، الْمُتَقَدِّمُ لَهُمْ مارِقٌ، وَالْمُتَاَخِّرُ عَنْهُمْ زاهِقٌ، وَاللاّزِمُ لَهُمْ لاحِقٌ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad al-fulkil jâriyah fil lujajil ghâmirah, ya’manu man rakibaha, wa yaghraqu man tarakaha, al-mutaqaddimu lahum mâriq, wal-mutaakhkhiru ‘anhum zâhiq, wal-lâzimu lhum lâhiq.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad bahtera yang mengarungi gelombang samudera yang bergemuruh, selamatlah orang yang menaikinya dan tenggelamlah orang yang meninggalkannya, tersesatlah orang yang mendahului mereka, binasalah orang yang tertinggal dari mereka dan beruntunglah orang yang mengikuti mereka.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، الْكَهْفِ الْحَصينِ، وَغِياثِ الْمُضْطَرِّ الْمُسْتَكينِ، وَمَلْجَأِ الْهارِبينَ، وَعِصْمَةِ الْمُعْتَصِمينَ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad al-kahfil hashîn, wa ghiyâtsil mudhtharril mustakîn, wa maljail hâribîn, wa ‘ishmatil mu’tshimîn.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad benteng yang kokoh, penolong orang-orang yang menderita dan kesulitan, pelindung mereka yang ketakutan, dan penjaga mereka yang mencari perlindungan.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد صَلاةً كَثيرَةً، تَكُونُ لَهُمْ رِضاً وَلِحَقِّ مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد اَداءً وَقَضاءً، بِحَوْل مِنْكَ وَقُوَّة يا رَبَّ الْعالَمينَ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad shalâtan katsîrah, takûnu lahum ridhâ, wa lihaqqi Muhammadin wa âli Muhammadin adâan wa wa qadhâan, bihawlin minka wa quwwatin yâ Rabbal ‘alamîn.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad shalawat yang banyak, yang membuat mereka ridha. Karena hak Muhammad dan keluarga Muhammad aku melakukan dan menunaikan, dan dengan daya dan kekuatan dari-Mu ya Rabbal ‘alamin.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، الطَّيِّبينَ الاَْبْرارِ الاَْخْيارِ، الَّذينَ اَوْجَبْتَ حُقُوقَهُمْ، وَفَرَضْتَ طاعَتَهُمْ وَوِلايَتَهُمْ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad ath-thayyibînal abrâril akhyâr, alladzî awjabta huqûqahum, wa faradhta thâ’atahum wa wilâyatahum.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad yang baik dan terpilih, yang Kau tetapkan hak-hak mereka, dan Kau wajibkan ketaatan kepada mereka dan berwilayah kepada mereka.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، وَاعْمُرْ قَلْبي بِطاعَتِكَ، وَلا تُخْزِني بِمَعْصِيَتِكَ، وَارْزُقْني مُواساةَ مَنْ قَتَّرْتَ عَلَيْهِ مِنْ رِزْقِكَ بِما وَسَّعْتَ عَلَيَّ مِنْ فَضْلِكَ، وَنَشَرْتَ عَلَيَّ مِنْ عَدْلِكَ، وَاَحْيَيْتَني تَحْتَ ظِلِّكَ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad, wa’mur qalbî bithâ’atika, wa lâ tukhzinî bima’shiyatika, warzuqnî muwâsâta man qattarta ‘alayhi mir rizqika bimâ wassa’ta ‘alayya min fadhlika, wa nasyarta ‘alayya min ‘adlika, wa ahyaytani tahta zhillika.
Ya Allah, penuhi hatiku dengan ketaatan pada-Mu, jangan hinakan aku dengan kemaksiatan pada-Mu. Anugerahkan padaku rizki yang luas dari karunia-Mu sehingga aku dapat menolong orang sedikitkan rizkinya, dengan rizki yang telah Kau limpahkan padaku, keadilan-Mu yang Kau karuniakan padaku, dan Kau hidupkan daku di bawah naungan-Mu.
وَهذا شَهْرُ نَبِيِّكَ سَيِّدِ رُسُلِكَ، شَعْبانُ الَّذي حَفَفْتَهُ مِنْكَ بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوانِ، الَّذي كانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وَسَلَّمَ يَدْاَبُ في صِيامِه وَقِيامِه في لَياليهِ وَاَيّامِه بُخُوعاً لَكَ في اِكْرامِه وَاِعْظامِه اِلى مَحَلِّ حِمامِهِ
Wa hâdzâ syahru nabiyyika sayyidi rusulika, sya’bânul ladzî hafaftahu minka bir-rahmati war-ridhwân, allâdzî kâna Rasûlullâhi shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wa sallam yad-abu fî shiyâmihi wa qiyâmihi fî layâlihi wa ayyâmihi, bukhû’an laka fi ikrâmihi wa i’zhâmihi ilâ mahalli himâmihi.
Ini adalah bulan Nabi-Mu penghulu para rasul. Yaitu bulan Sya’ban, bulan yang Engkau liputi dengan rahmat dan ridha-Mu, bulan Rasulullah saw bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa dan ibadah di saat-saat malamnya dan siangnya karena kerinduan pada-Mu sehingga Kau muliakan dia dan Kau agungkan dia sampai ia kembali ke haribaan-Mu.
اَللًّهُمَّ فَاَعِنّا عَلَى الاْسْتِنانِ بِسُنَّتِه فيهِ، وَنَيْلِ الشَّفاعَةِ لَدَيْهِ، اَللًّهُمَّ وَاجْعَلْهُ لي شَفيعاً مُشَفَّعاً وَطَريقاً اِلَيْكَ مَهيعاً
Allâhumma fa-a’innâ ‘alal istinâni bisunnatihi fîhi, wa naylisy syafâ’ati ladayhi. Allâhumma waj’alhulî syafî’an musyaffa’an, wa tharîqan ilayka mahî’an.
Ya Allah, bantulah kami di dalamnya untuk mengikuti sunnahya dan memperoleh syafaatnya. Ya Allah, jadikan beliau pemberi syafaat bagiku dan diizinkan memberi syafaat bagiku. Jadikan beliau jalan yang terang bagiku untuk menuju-Mu.
وَاجْعَلْني لَهُ مُتَّبِعاً حَتّى اَلْقاكَ يَوْمَ الْقِيامَةِ عَنّي راضِياً، وَ عَنْ ذُنُوبي غاضِياً، قَدْ اَوْجَبْتَ لي مِنْكَ الرَّحْمَةَ وَالرِّضْوانَ، وَاَنْزَلْتَني دارَ الْقَرارِ وَمَحَلَّ الاَْخْيارِ
Waj’alnî lahu muttabi’an hattâ alqâka yawmal qiyâmati ‘annî râdhiyan, wa ‘an dzunûbî ghâdhiyan, qad awjabtalî minkar rahmata war-ridhwân, wa anzaltanî dâral qarâri wa mahallil akhyâr.
Jadikan aku pengikutnya sehingga Engkau ridha padaku di hari kiamat, Engkau ampuni dosa-dosaku dan Engkau wajibkan bagiku rahmat dan ridha-Mu. Tempatkan aku di tempat yang abadi dan kediaman yang pilihan.
========================
(Mafâtihul Jinân, bab2, Keutamaaan bulan Sya’ban)
============================
بسم الله الرحمن الرحيم
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، شَجَرَةِ النُّبُوَّةِ، وَمَوْضِعِ الرِّسالَةِ، وَمُخْتَلَفِ الْمَلائِكَةِ، وَمَعْدِنِ الْعِلْمِ، وَاَهْلِ بَيْتِ الْوَحْىِ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad syajaratin nubuwwah, wa mawdhi’ir risâlah, wa mukhtalifil malâikah, wa ma’dinil ‘ilmi, wa ahli baytil wahyi.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya pohon kenabian, pengemban risalah, tempat silih-berganti turunnya para malaikat, khazanah ilmu, keluarga tempat turunnya wahyu.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد الْفُلْكِ الْجارِيَةِ فِي اللُّجَجِ الْغامِرَةِ، يَأْمَنُ مَنْ رَكِبَها، وَيَغْرَقُ مَنْ تَرَكَهَا، الْمُتَقَدِّمُ لَهُمْ مارِقٌ، وَالْمُتَاَخِّرُ عَنْهُمْ زاهِقٌ، وَاللاّزِمُ لَهُمْ لاحِقٌ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad al-fulkil jâriyah fil lujajil ghâmirah, ya’manu man rakibaha, wa yaghraqu man tarakaha, al-mutaqaddimu lahum mâriq, wal-mutaakhkhiru ‘anhum zâhiq, wal-lâzimu lhum lâhiq.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad bahtera yang mengarungi gelombang samudera yang bergemuruh, selamatlah orang yang menaikinya dan tenggelamlah orang yang meninggalkannya, tersesatlah orang yang mendahului mereka, binasalah orang yang tertinggal dari mereka dan beruntunglah orang yang mengikuti mereka.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، الْكَهْفِ الْحَصينِ، وَغِياثِ الْمُضْطَرِّ الْمُسْتَكينِ، وَمَلْجَأِ الْهارِبينَ، وَعِصْمَةِ الْمُعْتَصِمينَ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad al-kahfil hashîn, wa ghiyâtsil mudhtharril mustakîn, wa maljail hâribîn, wa ‘ishmatil mu’tshimîn.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad benteng yang kokoh, penolong orang-orang yang menderita dan kesulitan, pelindung mereka yang ketakutan, dan penjaga mereka yang mencari perlindungan.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد صَلاةً كَثيرَةً، تَكُونُ لَهُمْ رِضاً وَلِحَقِّ مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد اَداءً وَقَضاءً، بِحَوْل مِنْكَ وَقُوَّة يا رَبَّ الْعالَمينَ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad shalâtan katsîrah, takûnu lahum ridhâ, wa lihaqqi Muhammadin wa âli Muhammadin adâan wa wa qadhâan, bihawlin minka wa quwwatin yâ Rabbal ‘alamîn.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad shalawat yang banyak, yang membuat mereka ridha. Karena hak Muhammad dan keluarga Muhammad aku melakukan dan menunaikan, dan dengan daya dan kekuatan dari-Mu ya Rabbal ‘alamin.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، الطَّيِّبينَ الاَْبْرارِ الاَْخْيارِ، الَّذينَ اَوْجَبْتَ حُقُوقَهُمْ، وَفَرَضْتَ طاعَتَهُمْ وَوِلايَتَهُمْ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad ath-thayyibînal abrâril akhyâr, alladzî awjabta huqûqahum, wa faradhta thâ’atahum wa wilâyatahum.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad yang baik dan terpilih, yang Kau tetapkan hak-hak mereka, dan Kau wajibkan ketaatan kepada mereka dan berwilayah kepada mereka.
اَللًّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، وَاعْمُرْ قَلْبي بِطاعَتِكَ، وَلا تُخْزِني بِمَعْصِيَتِكَ، وَارْزُقْني مُواساةَ مَنْ قَتَّرْتَ عَلَيْهِ مِنْ رِزْقِكَ بِما وَسَّعْتَ عَلَيَّ مِنْ فَضْلِكَ، وَنَشَرْتَ عَلَيَّ مِنْ عَدْلِكَ، وَاَحْيَيْتَني تَحْتَ ظِلِّكَ
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad, wa’mur qalbî bithâ’atika, wa lâ tukhzinî bima’shiyatika, warzuqnî muwâsâta man qattarta ‘alayhi mir rizqika bimâ wassa’ta ‘alayya min fadhlika, wa nasyarta ‘alayya min ‘adlika, wa ahyaytani tahta zhillika.
Ya Allah, penuhi hatiku dengan ketaatan pada-Mu, jangan hinakan aku dengan kemaksiatan pada-Mu. Anugerahkan padaku rizki yang luas dari karunia-Mu sehingga aku dapat menolong orang sedikitkan rizkinya, dengan rizki yang telah Kau limpahkan padaku, keadilan-Mu yang Kau karuniakan padaku, dan Kau hidupkan daku di bawah naungan-Mu.
وَهذا شَهْرُ نَبِيِّكَ سَيِّدِ رُسُلِكَ، شَعْبانُ الَّذي حَفَفْتَهُ مِنْكَ بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوانِ، الَّذي كانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِه وَسَلَّمَ يَدْاَبُ في صِيامِه وَقِيامِه في لَياليهِ وَاَيّامِه بُخُوعاً لَكَ في اِكْرامِه وَاِعْظامِه اِلى مَحَلِّ حِمامِهِ
Wa hâdzâ syahru nabiyyika sayyidi rusulika, sya’bânul ladzî hafaftahu minka bir-rahmati war-ridhwân, allâdzî kâna Rasûlullâhi shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wa sallam yad-abu fî shiyâmihi wa qiyâmihi fî layâlihi wa ayyâmihi, bukhû’an laka fi ikrâmihi wa i’zhâmihi ilâ mahalli himâmihi.
Ini adalah bulan Nabi-Mu penghulu para rasul. Yaitu bulan Sya’ban, bulan yang Engkau liputi dengan rahmat dan ridha-Mu, bulan Rasulullah saw bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa dan ibadah di saat-saat malamnya dan siangnya karena kerinduan pada-Mu sehingga Kau muliakan dia dan Kau agungkan dia sampai ia kembali ke haribaan-Mu.
اَللًّهُمَّ فَاَعِنّا عَلَى الاْسْتِنانِ بِسُنَّتِه فيهِ، وَنَيْلِ الشَّفاعَةِ لَدَيْهِ، اَللًّهُمَّ وَاجْعَلْهُ لي شَفيعاً مُشَفَّعاً وَطَريقاً اِلَيْكَ مَهيعاً
Allâhumma fa-a’innâ ‘alal istinâni bisunnatihi fîhi, wa naylisy syafâ’ati ladayhi. Allâhumma waj’alhulî syafî’an musyaffa’an, wa tharîqan ilayka mahî’an.
Ya Allah, bantulah kami di dalamnya untuk mengikuti sunnahya dan memperoleh syafaatnya. Ya Allah, jadikan beliau pemberi syafaat bagiku dan diizinkan memberi syafaat bagiku. Jadikan beliau jalan yang terang bagiku untuk menuju-Mu.
وَاجْعَلْني لَهُ مُتَّبِعاً حَتّى اَلْقاكَ يَوْمَ الْقِيامَةِ عَنّي راضِياً، وَ عَنْ ذُنُوبي غاضِياً، قَدْ اَوْجَبْتَ لي مِنْكَ الرَّحْمَةَ وَالرِّضْوانَ، وَاَنْزَلْتَني دارَ الْقَرارِ وَمَحَلَّ الاَْخْيارِ
Waj’alnî lahu muttabi’an hattâ alqâka yawmal qiyâmati ‘annî râdhiyan, wa ‘an dzunûbî ghâdhiyan, qad awjabtalî minkar rahmata war-ridhwân, wa anzaltanî dâral qarâri wa mahallil akhyâr.
Jadikan aku pengikutnya sehingga Engkau ridha padaku di hari kiamat, Engkau ampuni dosa-dosaku dan Engkau wajibkan bagiku rahmat dan ridha-Mu. Tempatkan aku di tempat yang abadi dan kediaman yang pilihan.
========================
(Mafâtihul Jinân, bab2, Keutamaaan bulan Sya’ban)
Kisah nabi SAW yg rindukan kepulangan orang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka
Kisah Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka
==============================================================
Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.
"Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah." Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya."Sedangkan kemunafikan berakar di sini," katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, "Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini."
Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.
Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do'a:
"Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan."
"Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?" kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.
"Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya."
Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.
======================
sumber:http://www.facebook.com/note.php?note_id=436592711024
==============================================================
Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.
"Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah." Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya."Sedangkan kemunafikan berakar di sini," katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, "Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini."
Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.
Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do'a:
"Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan."
"Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?" kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.
"Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya."
Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.
======================
sumber:http://www.facebook.com/note.php?note_id=436592711024
DOA SHOLAT TAROWIH
========================
DOA SHOLAT TAROWIH
==================
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ،يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِسُلْطَانِكَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِاْلإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ،وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ، وَعَلَى الصَّلَوَاتِ مُحَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِفَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَىمُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ،وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَبِالنَّعْمَاءِشَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلاَيَا صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ e يَوْمَ الْقِيَامَةِسَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَفِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ،وَعَلَى سَرِيْرَةِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ،وَمِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِالْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّيْنِ شَارِبِيْنَ،بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَعَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِيْ هذِهِ اللَّيْلَةِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَتَجْعَلْنَا اللَّهُمَّ مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، إِلهَنَا عَافِنَاوَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلأُمَّهَاتِنَا،وَلإِخْوَانِنَا وَلأَخَوَاتِنَا، وَلأَزْوَاجِنَا وَلأَهْلِيْنَا َوِلأَهْلِبَيْتِنَا، وَلأَجْدَادِنَا وَلِجَدَّاتِنَا، وَلأَسَاتِذَتِنَا وَلِمَشَايِخِنَاوَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ عَلَّمْنَاهُ وَلِذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا،وَلِمَنْ أَحَبَّنَا وَأَحْسَنَ إِلَيْنَا، وَلِمَنْ هَدَانَا وَهَدَيْنَاهُ إِلَىالْخَيْرِ، وَلِمَنْ أَوْصَانَا وَوَصَّيْنَاهُ بِالدُّعَاءِ، وَلِجَمِيْعِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
وَاكْتُبِاللَّهُمَّ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَاوَعَلَيْهِمْ، وَعَلَى عَبِيْدِكَ الْحُجَّاجِ وَالْمُعْتَمِرِيْنَ وَالغُزَاةِوَالزُّوَّارِ وَالمُسَافِرِيْنَ، فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَالْجَوِّ مِنَالْمُسْلِمِيْنَ، وَقِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِالْكَافِرِيْنَ، يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ، وَاخْتِمْ لَنَا يَا رَبَّنَامِنْكَ بِخَيْرٍ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
وَصَلَّىاللَّهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ،وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
=====================================================
Dipetik dari Buku Al-Adzkar Muhammadiyyah
DOA SHOLAT TAROWIH
==================
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ،يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِسُلْطَانِكَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِاْلإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ،وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ، وَعَلَى الصَّلَوَاتِ مُحَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِفَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَىمُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ،وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَبِالنَّعْمَاءِشَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلاَيَا صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ e يَوْمَ الْقِيَامَةِسَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَفِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ،وَعَلَى سَرِيْرَةِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ،وَمِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِالْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّيْنِ شَارِبِيْنَ،بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَعَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِيْ هذِهِ اللَّيْلَةِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَتَجْعَلْنَا اللَّهُمَّ مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، إِلهَنَا عَافِنَاوَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلأُمَّهَاتِنَا،وَلإِخْوَانِنَا وَلأَخَوَاتِنَا، وَلأَزْوَاجِنَا وَلأَهْلِيْنَا َوِلأَهْلِبَيْتِنَا، وَلأَجْدَادِنَا وَلِجَدَّاتِنَا، وَلأَسَاتِذَتِنَا وَلِمَشَايِخِنَاوَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ عَلَّمْنَاهُ وَلِذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا،وَلِمَنْ أَحَبَّنَا وَأَحْسَنَ إِلَيْنَا، وَلِمَنْ هَدَانَا وَهَدَيْنَاهُ إِلَىالْخَيْرِ، وَلِمَنْ أَوْصَانَا وَوَصَّيْنَاهُ بِالدُّعَاءِ، وَلِجَمِيْعِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
وَاكْتُبِاللَّهُمَّ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَاوَعَلَيْهِمْ، وَعَلَى عَبِيْدِكَ الْحُجَّاجِ وَالْمُعْتَمِرِيْنَ وَالغُزَاةِوَالزُّوَّارِ وَالمُسَافِرِيْنَ، فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَالْجَوِّ مِنَالْمُسْلِمِيْنَ، وَقِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ، وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِالْكَافِرِيْنَ، يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ، وَاخْتِمْ لَنَا يَا رَبَّنَامِنْكَ بِخَيْرٍ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
وَصَلَّىاللَّهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ،وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
=====================================================
Dipetik dari Buku Al-Adzkar Muhammadiyyah
Fadlilah Sholat Tarowih
Fadlilah (Keutmaan) Sholat Tarowih?
=====================================
1.Sholat pada hari pertama = seorang mukmin akan keluar, bebas dari dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.
2.Sholat pada hari kedua = diampuni dosanya dan dosa kedua orangtuanya jika orangtuanya adalah orang mukmin.
3.Sholat pada hari ketiga = berteriaklah malaikat dari bawah Arsy:"ALLOH telah mengampuni dosamu yg telah lalu".
4.Sholat pada hari keempat = ia diberi pahala seakan-akan telah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Qur'an.
5.Sholat pada hari kelima = ia diberi pahala oleh ALLOH SWT sama seperti orang yg telah sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Al Aqsa.
6.Sholat pada hari keenam = ia diberi pahala oleh ALLOH SWT sama seperti orang yg bertawaf di Baitullah dan memintakan ampun bagi segala batu dan pasir.
7.Sholat pada hari ketujuh = ia seakan-akan telah mengalami masa Nabi Musa dan membelanya terhadap Fir'aun dan Hamman.
8.Sholat pada hari kedelapan = ALLOH SWT memberikan padanya apa yg telah diberikan kepada Nabi Ibrahim as.
9.Sholat pada hari kesembilan = seakan-akan telah telah beribadah kepada ALLOH SWT seperti ibadahnya Nabi Muhammad SAW.
10.Sholat pada hari kesepuluh = ALLOH SWT mengaruniai kebaikan dunia dan akhirat.
11.Sholat pada hari kesebelas = ia keluar dari dunia bersih bebas dosa seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.
12.Sholat pada hari keduabelas = ia akan tiba di hari kiamat dengan wajah berseri-seri seperti bulan purnama.
13.Sholat pada hari ketigabelas = di hari kiamat ia akan terhindar dari segala keburukan.
14.Sholat pada hari keempatbelas = ia memperoleh kesaksian dari malaikat bahwa ia telah sholat taraweh dan karenanya ia tidak dihisab.
15.Sholat pada hari kelimabelas = para malaikat pendukung Arsy membacakan shalawat untuk dia.
16.Sholat pada hari keenambelas = ALLOH SWT mencatat kebebasannya dari api neraka.
17.Sholat pada hari ketujuhbelas = ia mendapat pahala seperti pahala para nabi.
18.Sholat pada hari kedelapanbelas = ia dipanggil malaikat,"Hai hamba ALLOH, ketahuilah bahwa ALLOH telah meridhai kamu dan kedua orang tuamu."
19.Sholat pada hari kesembilanbelas = ALLOH SWT mengangkat derajat tingkatnya di surga Firdaus.
20.Sholat pada hari keduapuluh = ia mendapat pahala seperti para syuhada dan orang2 saleh.
21.Sholat pada hari keduapuluh satu = ALLOH SWT membangun baginya sebuah rumah dari cahaya di dalam surga.
22.Sholat pada hari keduapuluh dua = di hari kiamat kelak akan terhindar dari segala rasa duka dan sesak hati.
23.Sholat pada hari keduapuluh tigas = ALLOH SWT akan membangunkan sebuah kota untuknya di surga.
24.Sholat pada hari keduapuluh empat = dua puluh empat doanya akan dikabulkan.
25.Sholat pada hari keduapuluh lima = ALLOH SWT akan membebaskannya dari adzab kubur.
26.Sholat pada hari keduapuluh enam = diberinya pahala enam puluh tahun.
27.Sholat pada hari keduapuluh tujuh = ia akan melewati shirat al mustaqim secepat kilat.
28.Sholat pada hari keduapuluh delapan = dia akan mendapat seribu tingkat surga.
29.Sholat pada hari keduapuluh sembilan = ALLOH SWT akan memberinya pahala seribu kali perjalanan haji yg makbul.
30.Sholat pada hari ketigapuluh = ALLOH SWT berfirman padanya,"Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil dan minumlah dari air kautsar, Aku Tuhanmu dan engkau hambaKu"
====================================
sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=436922436024
=====================================
1.Sholat pada hari pertama = seorang mukmin akan keluar, bebas dari dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.
2.Sholat pada hari kedua = diampuni dosanya dan dosa kedua orangtuanya jika orangtuanya adalah orang mukmin.
3.Sholat pada hari ketiga = berteriaklah malaikat dari bawah Arsy:"ALLOH telah mengampuni dosamu yg telah lalu".
4.Sholat pada hari keempat = ia diberi pahala seakan-akan telah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Qur'an.
5.Sholat pada hari kelima = ia diberi pahala oleh ALLOH SWT sama seperti orang yg telah sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Al Aqsa.
6.Sholat pada hari keenam = ia diberi pahala oleh ALLOH SWT sama seperti orang yg bertawaf di Baitullah dan memintakan ampun bagi segala batu dan pasir.
7.Sholat pada hari ketujuh = ia seakan-akan telah mengalami masa Nabi Musa dan membelanya terhadap Fir'aun dan Hamman.
8.Sholat pada hari kedelapan = ALLOH SWT memberikan padanya apa yg telah diberikan kepada Nabi Ibrahim as.
9.Sholat pada hari kesembilan = seakan-akan telah telah beribadah kepada ALLOH SWT seperti ibadahnya Nabi Muhammad SAW.
10.Sholat pada hari kesepuluh = ALLOH SWT mengaruniai kebaikan dunia dan akhirat.
11.Sholat pada hari kesebelas = ia keluar dari dunia bersih bebas dosa seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.
12.Sholat pada hari keduabelas = ia akan tiba di hari kiamat dengan wajah berseri-seri seperti bulan purnama.
13.Sholat pada hari ketigabelas = di hari kiamat ia akan terhindar dari segala keburukan.
14.Sholat pada hari keempatbelas = ia memperoleh kesaksian dari malaikat bahwa ia telah sholat taraweh dan karenanya ia tidak dihisab.
15.Sholat pada hari kelimabelas = para malaikat pendukung Arsy membacakan shalawat untuk dia.
16.Sholat pada hari keenambelas = ALLOH SWT mencatat kebebasannya dari api neraka.
17.Sholat pada hari ketujuhbelas = ia mendapat pahala seperti pahala para nabi.
18.Sholat pada hari kedelapanbelas = ia dipanggil malaikat,"Hai hamba ALLOH, ketahuilah bahwa ALLOH telah meridhai kamu dan kedua orang tuamu."
19.Sholat pada hari kesembilanbelas = ALLOH SWT mengangkat derajat tingkatnya di surga Firdaus.
20.Sholat pada hari keduapuluh = ia mendapat pahala seperti para syuhada dan orang2 saleh.
21.Sholat pada hari keduapuluh satu = ALLOH SWT membangun baginya sebuah rumah dari cahaya di dalam surga.
22.Sholat pada hari keduapuluh dua = di hari kiamat kelak akan terhindar dari segala rasa duka dan sesak hati.
23.Sholat pada hari keduapuluh tigas = ALLOH SWT akan membangunkan sebuah kota untuknya di surga.
24.Sholat pada hari keduapuluh empat = dua puluh empat doanya akan dikabulkan.
25.Sholat pada hari keduapuluh lima = ALLOH SWT akan membebaskannya dari adzab kubur.
26.Sholat pada hari keduapuluh enam = diberinya pahala enam puluh tahun.
27.Sholat pada hari keduapuluh tujuh = ia akan melewati shirat al mustaqim secepat kilat.
28.Sholat pada hari keduapuluh delapan = dia akan mendapat seribu tingkat surga.
29.Sholat pada hari keduapuluh sembilan = ALLOH SWT akan memberinya pahala seribu kali perjalanan haji yg makbul.
30.Sholat pada hari ketigapuluh = ALLOH SWT berfirman padanya,"Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air salsabil dan minumlah dari air kautsar, Aku Tuhanmu dan engkau hambaKu"
====================================
sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=436922436024
LAILATUL QODAR??? sepuluh malam terakhir romadlon, pada malam-malam ganjil
"karakteristik" Lailatul Qodar:sepuluh malam terakhir romadlon, pada malam-malam ganjil>malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29
===========================================================
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا
كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ... ﴿٤﴾ أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾ ... Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5) ;
==================================================
Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya : تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾ Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5);
===================================================
Rasulullah saw bersabda :”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah. ====================================================
Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban).
=====================================================
Rasulullah saw bersabda:”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah). =====================================================
Rasulullah saw berabda:”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim).
=====================================================
Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178). =====================================================
sabda Rasulullah saw:”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).
=====================================================
Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi). =======================================================
Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.” Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)
Keutamaan Shodaqoh>"Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sodaqoh"
"Fadlilah dan Keutamaan Shodaqoh, Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sodaqoh"
==============================================================================
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang bersedekah semisal kurma dari pencaharian yang baik (halal), dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya.” artinya dengan disertai berkah dan kebaikan-Nya. kemudian Allah akan memelihara untuk pemiliknya sebagaimana engkau memelihara anak kuda mulai dari proses kelahirannya. Sehingga sedekah dari yang kecil tersebut akan menumpuk menjadi gunung. Sebagai mana firman Allah di dalam QS At-Taubah:104 : “alam yaklamuu annallaha Huwa yakbalu taubata an ibadihii wa yak khudhus sadaqoh.” arti:Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba Nya dan menerima sedekah.”
dan didalam QS Al-Baqarah 276: yg artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
Dengan sedekah, tidak akan mengurangi sedikitpun harta benda kita, dan sesuai dengan janji Allah bhw Alloh akan menggantinya sepuluh kali lipat bahkan lebih, yakni terserah Dia SWT. Ada orang yang bakhil berkata bahwa harta yang disedekahkan kepada orang lain itu adalah sia-sia, harta yang disedekahkan itu akan mengurangi harta benda miliknya. Padahal dia bekerja keras untuk mengumpulkan harta benda itu siang malam, mengapa harus saya bagi dengan orang lain? Perhitungan atau matematika Allah dengan manusia berbeda. Jika harta benda milik kita sebagiannya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan maka secara hitungan manusia itu, harta tersebut akan berkurang, akan tetapi dengan hitungan Allah justru harta itu akan bertambah banyak. Allah akan mengganti dan menambah harta yang disedekahkan itu 10 kali lipat bahkan lebih (terserah Allah yang maha kaya). Didalam sebuah riwayat untuk Ath-Thabrani dikatakan: “Tidaklah sebuah sedekah akan mengurangi harta, tidaklah seorang hamba mengulurkan tangan untuk sedekah kecuali dijatuhkan pada tangan Allah” yakni Allah menerimanya dan ridha dengannya sebelum jatuh ke tangan orang yang meminta, dan tidaklah seorang hamba membuka sebuah pintu permintaan yang kemudian hamba itu menghindarinya maka Allah membuka baginya (hamba tersebut) sebuah pintu kefakiran.
Banyak orang selalu mengatakan hartaku….hartaku…… padahal sesungguhnya hak baginya adalah hanya tiga hal dari hartanya yaitu: apa yang dia makan lalu dia habiskan….. atau apa yang dia pakai lalu dia binasakan….. atau apa yang dia berikan lalu dipelihara / simpan yakni pahalanya, sedang selain itu…. semuanya akan ditinggalkan untuk orang lain.
Sesunggunya sedekah adalah sebagai perisai diri buat orang yang bersedekah, sesungguhnya sedekah benar-benar memadamkan kemurkaan Tuhan dan menghalangi mati dalam keadaan jahat.” Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah…manakah sedekah yang paling utama? Beliau bersabda: “Membantu kesusahan orang yang tidak mampu, tetapi dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu (keluargamu). Nabi SAW bersabda: “Sekeping dirham dapat mendahului seratus dirham.” bertanyalah seorang laki-laki, “Bagaimana hal itu bisa terjadi ya.. Rasulullah? Beliau bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengambil dari sisinya seribu dirham lalu dia bersedekah dengan nya. Ada seorang laki-laki lain yang yang tidak memiliki uang kecuali dua dirham, dia mengambil satu diantara keduanya dan bersedekah dengannya.” Nabi SAW bersabda: “Janganlah engkau mengembalikan (menolak) orang yang minta-minta kepadamu walaupun hanya dengan kikil (kaki sapi atau kambing).
Ada tujuh orang yang Allah akan menaungi mereka dibawah naungan-Nya , sampai pada sabda Beliau, “Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sesuatu yang dirahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya.”
Perbuatan-perbuatan yang baik akan menghindarkan dari jatuhnya seseorang pada perbuatan yang buruk, maka sedekah secara rahasia akan dapat memadamkan kemurkaan Tuhan dan menyambung hubungan kerabat dan akan memperpanjang umur.” Didalam sebuah riwayat untuk Ath-Thabrani disebutkan: “perbuatan -perbuatan yang baik dapat memadamkan kemurkaan Tuhan, menyambung hubungan kerabat, dapat memperpanjang umur, dan setiap perbuatan baik merupakan sedekah. Pelaku kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akherat dan pelaku perbuatan munkar didunia, mereka adalah pemilik munkar di akherat. sedang orang yang pertama kali masuk surga adalah pemilik-pemilik kebaikan (ma,ruf).”
Dan didalam riwayat Ath-Thabrani dan Ahmad dikatakan: “Bagaimana dengan sedekah itu ya.. Rasulullah? Beliau bersabda, “Beberapa pahala yang dilipatgandakan dan disisi Allah masih terdapat tambahan lagi, kemudian Beliau membaca: “Man dzaladzi yuqridlullaha qordlon hasanan fayudlo'ifahu lahuu adl’afan katsiron” arti:Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepda Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak.” (QS Al-Baqarag 245).
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW manakah sedekah yang paling utama? Beliau bersabda: “Yaitu sedekah dengan rahasia kepada seorang yang membutuhkan atau sedekah atas kesusahan orang yang kurang mampu.” kemudian Beliau membaca: “In tubduu shodaqotin fa ni’imma hiy, wa in tukh’fuuha wa tu’thuhalfuqoroo’a wa huwa khairun lakum.” artinya: Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka sedekah secara sembunyi itulah paling baik bagimu.” (QS Al-Baqarah 271).
Barang siapa yang memberi sebuah pakaian kepada muslim, maka tidak henti-hentinya dia berada dalam tutup Allah Swt, selagi benang dan pintalan (pakaian tersebut) masih melekat pada orang itu.
Barang siapa diantara orang Islam yang memberi pakaian kepada saudaranya yang telanjang dengan sebuah pakaian, maka kelak Allah akan memberinya pakaian dari sutera hijau di surga.
Barang siapa orang Islam yang memberi makan kepada saudaranya yang dalam keadaan lapar, maka Allah Swt akan memberinya makan dari buah-buah surga. dan barang siapa orang islam yang memberi minum saudaranya dalam keadaan haus, maka Allah Swt akan memberinya minum dari arak yang tertutup rapat (di surga).”
Sedekah kepada orang miskin dan kerabat yang Kasyih (kasyih:orang yang menyimpan permusuhan denganmu) itu adalah sedekah yang sesungguhnya. termasuk juga dikatakan sedekah yakni orang yang memberikan hutang kepada saudaranya dengan tulus (bukan riba). Dan barang siapa yang memberikan kemudahan atas orang yang miskin (misalnya memberi kesempatan kepada orang lain untuk menangguhkan pembayaran), maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akherat.”
Manakah (kepasrahan) Islam yang paling utama? Beliau bersabda: “Engkau memberikan sebuah makanan dan membacakan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak kau kenal.”
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi SAW. ya…Rasulullah… ceritakan kepadaku mengenai segala sesuatu? Beliau bersabda,”Segala sesuatu diciptakan dari air.” Lalu aku berktanya lagi, ceritakan pula kepadaku mengenai sesuatu yang apabila aku kerjakan aku akan masuk surga? Beliau bersabda: “Berikanlah sebuah makanan, perlihatkan salam, sambunglah hubungan famili, dan salatlah pada malam hari ketika semua orang sedang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” “Beribadahlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih berikanlah sebuah makanan dan perlihatkan salam, maka kamu akan masuk surga dengan selamat.” “Diantara hal-hal yang menyebabkan rahmat Allah adalah pemberian makan seorang muslim kepada orang miskin.”
“Barang siapa yang memberi makan kepada saudaranya hingga membuatnya kenyang dan memberinya minum dengan air hingga menyegarkannya, maka Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan tujuh buah parit, yang jarak antara kedua buah parit adalah lima ratus tahun perjalanan.”
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat. “Hai anak Adam, Aku telah sakit dan kamu tidak menjengukku?” Bertanya Anak Adam,”Bagaimana aku harus menjenguk-Mu? Sedang Engkau adalah Tuhan sekalian alam? Allah berfirma,”Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya hamba-Ku si…Fulan…itu telah sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya jika kamu menjenguknya tentu kamu menemukan Aku disisinya? Hai anak Adam, Aku telah meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberi makan kepada-Ku? Anak Adam bertanya,”Ya..Tuhan …bagaimana aku memberi makan Engkau, sedang Engkau adalah Tuhan sekalian alam? Allah berfirman,”Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya hamba-Ku fulan telah meminta makan kepadamu, dan kamu tidak mau memberinya makan? Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya jika kamu memberi makan padanya tentu kamu akan dapat menemukannya lagi di sisi-Ku. Hai anak Adam Aku telah minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberi minum Aku? Anak Adam bertanya,”Ya…Tuhan..bagaimana aku harus memberi minum Engkau, sedang Engkau adalah Tuhan sekalian alam? Allah berfirman,”Hamba-Ku fulan telah minta minum kepadamu dan kamu tidak mau memberinya minum. Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya bila kamu memberinya minum tentu kamu akan menemukannya disisi-Ku.? (dipetik dari buku Imam Ghazali).
==============================================================================
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang bersedekah semisal kurma dari pencaharian yang baik (halal), dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya.” artinya dengan disertai berkah dan kebaikan-Nya. kemudian Allah akan memelihara untuk pemiliknya sebagaimana engkau memelihara anak kuda mulai dari proses kelahirannya. Sehingga sedekah dari yang kecil tersebut akan menumpuk menjadi gunung. Sebagai mana firman Allah di dalam QS At-Taubah:104 : “alam yaklamuu annallaha Huwa yakbalu taubata an ibadihii wa yak khudhus sadaqoh.” arti:Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba Nya dan menerima sedekah.”
dan didalam QS Al-Baqarah 276: yg artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
Dengan sedekah, tidak akan mengurangi sedikitpun harta benda kita, dan sesuai dengan janji Allah bhw Alloh akan menggantinya sepuluh kali lipat bahkan lebih, yakni terserah Dia SWT. Ada orang yang bakhil berkata bahwa harta yang disedekahkan kepada orang lain itu adalah sia-sia, harta yang disedekahkan itu akan mengurangi harta benda miliknya. Padahal dia bekerja keras untuk mengumpulkan harta benda itu siang malam, mengapa harus saya bagi dengan orang lain? Perhitungan atau matematika Allah dengan manusia berbeda. Jika harta benda milik kita sebagiannya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan maka secara hitungan manusia itu, harta tersebut akan berkurang, akan tetapi dengan hitungan Allah justru harta itu akan bertambah banyak. Allah akan mengganti dan menambah harta yang disedekahkan itu 10 kali lipat bahkan lebih (terserah Allah yang maha kaya). Didalam sebuah riwayat untuk Ath-Thabrani dikatakan: “Tidaklah sebuah sedekah akan mengurangi harta, tidaklah seorang hamba mengulurkan tangan untuk sedekah kecuali dijatuhkan pada tangan Allah” yakni Allah menerimanya dan ridha dengannya sebelum jatuh ke tangan orang yang meminta, dan tidaklah seorang hamba membuka sebuah pintu permintaan yang kemudian hamba itu menghindarinya maka Allah membuka baginya (hamba tersebut) sebuah pintu kefakiran.
Banyak orang selalu mengatakan hartaku….hartaku…… padahal sesungguhnya hak baginya adalah hanya tiga hal dari hartanya yaitu: apa yang dia makan lalu dia habiskan….. atau apa yang dia pakai lalu dia binasakan….. atau apa yang dia berikan lalu dipelihara / simpan yakni pahalanya, sedang selain itu…. semuanya akan ditinggalkan untuk orang lain.
Sesunggunya sedekah adalah sebagai perisai diri buat orang yang bersedekah, sesungguhnya sedekah benar-benar memadamkan kemurkaan Tuhan dan menghalangi mati dalam keadaan jahat.” Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah…manakah sedekah yang paling utama? Beliau bersabda: “Membantu kesusahan orang yang tidak mampu, tetapi dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu (keluargamu). Nabi SAW bersabda: “Sekeping dirham dapat mendahului seratus dirham.” bertanyalah seorang laki-laki, “Bagaimana hal itu bisa terjadi ya.. Rasulullah? Beliau bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengambil dari sisinya seribu dirham lalu dia bersedekah dengan nya. Ada seorang laki-laki lain yang yang tidak memiliki uang kecuali dua dirham, dia mengambil satu diantara keduanya dan bersedekah dengannya.” Nabi SAW bersabda: “Janganlah engkau mengembalikan (menolak) orang yang minta-minta kepadamu walaupun hanya dengan kikil (kaki sapi atau kambing).
Ada tujuh orang yang Allah akan menaungi mereka dibawah naungan-Nya , sampai pada sabda Beliau, “Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sesuatu yang dirahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya.”
Perbuatan-perbuatan yang baik akan menghindarkan dari jatuhnya seseorang pada perbuatan yang buruk, maka sedekah secara rahasia akan dapat memadamkan kemurkaan Tuhan dan menyambung hubungan kerabat dan akan memperpanjang umur.” Didalam sebuah riwayat untuk Ath-Thabrani disebutkan: “perbuatan -perbuatan yang baik dapat memadamkan kemurkaan Tuhan, menyambung hubungan kerabat, dapat memperpanjang umur, dan setiap perbuatan baik merupakan sedekah. Pelaku kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akherat dan pelaku perbuatan munkar didunia, mereka adalah pemilik munkar di akherat. sedang orang yang pertama kali masuk surga adalah pemilik-pemilik kebaikan (ma,ruf).”
Dan didalam riwayat Ath-Thabrani dan Ahmad dikatakan: “Bagaimana dengan sedekah itu ya.. Rasulullah? Beliau bersabda, “Beberapa pahala yang dilipatgandakan dan disisi Allah masih terdapat tambahan lagi, kemudian Beliau membaca: “Man dzaladzi yuqridlullaha qordlon hasanan fayudlo'ifahu lahuu adl’afan katsiron” arti:Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepda Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak.” (QS Al-Baqarag 245).
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW manakah sedekah yang paling utama? Beliau bersabda: “Yaitu sedekah dengan rahasia kepada seorang yang membutuhkan atau sedekah atas kesusahan orang yang kurang mampu.” kemudian Beliau membaca: “In tubduu shodaqotin fa ni’imma hiy, wa in tukh’fuuha wa tu’thuhalfuqoroo’a wa huwa khairun lakum.” artinya: Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka sedekah secara sembunyi itulah paling baik bagimu.” (QS Al-Baqarah 271).
Barang siapa yang memberi sebuah pakaian kepada muslim, maka tidak henti-hentinya dia berada dalam tutup Allah Swt, selagi benang dan pintalan (pakaian tersebut) masih melekat pada orang itu.
Barang siapa diantara orang Islam yang memberi pakaian kepada saudaranya yang telanjang dengan sebuah pakaian, maka kelak Allah akan memberinya pakaian dari sutera hijau di surga.
Barang siapa orang Islam yang memberi makan kepada saudaranya yang dalam keadaan lapar, maka Allah Swt akan memberinya makan dari buah-buah surga. dan barang siapa orang islam yang memberi minum saudaranya dalam keadaan haus, maka Allah Swt akan memberinya minum dari arak yang tertutup rapat (di surga).”
Sedekah kepada orang miskin dan kerabat yang Kasyih (kasyih:orang yang menyimpan permusuhan denganmu) itu adalah sedekah yang sesungguhnya. termasuk juga dikatakan sedekah yakni orang yang memberikan hutang kepada saudaranya dengan tulus (bukan riba). Dan barang siapa yang memberikan kemudahan atas orang yang miskin (misalnya memberi kesempatan kepada orang lain untuk menangguhkan pembayaran), maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akherat.”
Manakah (kepasrahan) Islam yang paling utama? Beliau bersabda: “Engkau memberikan sebuah makanan dan membacakan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak kau kenal.”
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi SAW. ya…Rasulullah… ceritakan kepadaku mengenai segala sesuatu? Beliau bersabda,”Segala sesuatu diciptakan dari air.” Lalu aku berktanya lagi, ceritakan pula kepadaku mengenai sesuatu yang apabila aku kerjakan aku akan masuk surga? Beliau bersabda: “Berikanlah sebuah makanan, perlihatkan salam, sambunglah hubungan famili, dan salatlah pada malam hari ketika semua orang sedang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” “Beribadahlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih berikanlah sebuah makanan dan perlihatkan salam, maka kamu akan masuk surga dengan selamat.” “Diantara hal-hal yang menyebabkan rahmat Allah adalah pemberian makan seorang muslim kepada orang miskin.”
“Barang siapa yang memberi makan kepada saudaranya hingga membuatnya kenyang dan memberinya minum dengan air hingga menyegarkannya, maka Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan tujuh buah parit, yang jarak antara kedua buah parit adalah lima ratus tahun perjalanan.”
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat. “Hai anak Adam, Aku telah sakit dan kamu tidak menjengukku?” Bertanya Anak Adam,”Bagaimana aku harus menjenguk-Mu? Sedang Engkau adalah Tuhan sekalian alam? Allah berfirma,”Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya hamba-Ku si…Fulan…itu telah sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya jika kamu menjenguknya tentu kamu menemukan Aku disisinya? Hai anak Adam, Aku telah meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberi makan kepada-Ku? Anak Adam bertanya,”Ya..Tuhan …bagaimana aku memberi makan Engkau, sedang Engkau adalah Tuhan sekalian alam? Allah berfirman,”Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya hamba-Ku fulan telah meminta makan kepadamu, dan kamu tidak mau memberinya makan? Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya jika kamu memberi makan padanya tentu kamu akan dapat menemukannya lagi di sisi-Ku. Hai anak Adam Aku telah minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberi minum Aku? Anak Adam bertanya,”Ya…Tuhan..bagaimana aku harus memberi minum Engkau, sedang Engkau adalah Tuhan sekalian alam? Allah berfirman,”Hamba-Ku fulan telah minta minum kepadamu dan kamu tidak mau memberinya minum. Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya bila kamu memberinya minum tentu kamu akan menemukannya disisi-Ku.? (dipetik dari buku Imam Ghazali).
BERPUASA PADA 10 MUHARRAM('ASYURO') DAN PERISTIWA2 URGEN
FADLILAH BERPUASA PADA 10 MUHARRAM('ASYURO') DAN PERISTIWA2 URGEN YG TJD PADA HARI TSBT
=================================================================
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda : ” barang siapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.” Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W : ” Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?”. Maka berkata Rasulullah S.A.W : ” Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura !”.
=================================================================
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda : ” barang siapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.” Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W : ” Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?”. Maka berkata Rasulullah S.A.W : ” Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura !”.
(KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogya) BULAN SUCI ROMADLON & SHOLAT TAROWIH
BULAN SUCI ROMADLON
====================
Oleh : KH. Ali Ma’shum
I. DALIL PUASA ROMADLoN
=============================
Puasa bulan Suci Ramadhan adalah Fardhu ‘Ain bagi setiap orang Mukallaf (dewasa/baligh). Perintah pengamalannya (kefardhuannya) turun pada tanggal 10 Sya’ban, -18 bulan setelah Nabi Hijrah ke Madinah. Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar hukum puasa adalah :
1. Firman Allah :
“ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan (pula) kepada orang-orang sebelum kalian, semoga kalian bertakwa; yaitu (puasa dilakukan) pada hari-hari yang tertentu “. (QS. Al-Baqarah : 183)
2. Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan :
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَدَةٍ أَنْ لَاإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ االزَّكَاةِ، وَ حِجِّ الْبَيْتِ، وَصِيَامِ رَمَضَا نَ (متفق عليه)
“ Islam didirikan atas lima dasar ; Syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah, mendirikan Shalat, membayar Zakat, naik Haji dan Puasa bulan Ramadhan “. (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar )
3. Adanya Ijma :
Kesepakatan para Imam dimana para Imam telah sepakat mengenai kefardhuannya dan tidak ada seorang Muslim-pun yang mengingkarinya.
II. PENETAPAN AWAL BULAN ROMADLON
================================
Dalam sebuah Hadits disebutkan :
صُِوْمُوْأ لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْلِمُوْا ِعدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا
(رواه البحاري )
“ Berpuasalah kalian karena melihat Hilal (bulan tanggal satu) dan berbukalah karena melihatnya ; dan jikalau tidak tampak lantaran langit tertutup awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban genap 30 hari “.
(Riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah).
Dalam Hadits ini jelas dalam memberikan gambaran tentang cara menentukan awal bulan Ramadlan dan akhirnya. Yaitu :
1. Ramadlan ditentukan awalnya dengan Ru’yah (melihat bulan tanggal satu).
2. Jikalau Hilal tidak tampak diRu’yah karena langit berawan, maka awal Ramadlan ditentukan dengan Ikmal, yaitu bulan Sya’ban di hitung sampai 30 hari kemudian hari berikutnya itulah tanggal satu Ramadlan.
Menurut rumusan Hadits di atas, maka dasar satu-satunya untuk menentukan awal Ramadhan adalah Ru’yah sedang Ikmal hanya merupakan jalan keluar jika Ru’yah tidak dapat dilakukan lantaran langit mendung.
Ru’yah dilakukan dengan melihat langsung, sedang Ikmal dapat dilakukan dengan Hisab. Oleh karena itu, maka Hisab hanya berperan sebagai petunjuk saja, tidak dapat di pakai sebagai dasar penentuan awal bulan. Walaupun misalnya pada hari ahad sudah mulai masuk Ramadhan menurut Hisab, tetapi jika ternyata Hilal belum dapat di Ru’yah maka Hisab tersebut tidak dapat diikuti.
Demikianlah empat mazhab sependapat bahwa dasar penentuan awal bulan Ramadlan adalah Ru’yah. Tentang kedudukan hasil hisab adalah sebagai berikut :
a) Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hambali berpendapat bahwa hasil hisab tidak mengikat sama sekali, baik bagi ahli hisab yang menghisab itu sendiri maupun bagi orang yang mempercayainya. Hal demikian karena adanya ketetapan agama yang telah jelas dan tidak boleh di langgar, bahwa dasar penentuan awal bulan adalah Ru’yah atau Ikmal.
b) Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa hasil hisab mengikat pada ahli hisab yang bersangkutan dan orang-orang yang membenarkan hasil hisab tersebut, sedangkan kaum Muslimin pada umumnya tidak terikat dengan hasil tersebut. Jadi yang wajib berpuasa berdasarkan hisab tersebut adalah hanya orang yang menghisab itu sendiri dan orang-orang yang membenarkannya. Orang selain mereka tidak.
Masalah Ru’yah adalah bukan masalah khilafiyah, tetapi hal itu merupakan ketentuan agama yang jelas tegas (Sharih) dan karenanya harus kita terima dan kita ikuti secara mutlak. Tidak perlu dibanding-bandingkan atau di timbang-timbang dengan hisab.
Ada sekelompok orang yang tidak mau menerima Ru’yah tersebut, dan sebaliknya mempertahankan peranan hisab secara mutlak. Mereka beralasan bahwa ; Ru’yah itu cocok pada zaman dahulu dimana belum banyak ahli hisab (termasuk Nabi sendiri), Ru’yah itu menyulitkan sedangkan agama itu menghendaki kemudahan, dan ada juga yang menta’wil kata Ru’yah dengan makna pena (berarti hisab), dan masih banyak lagi alasan yang mereka kemukakan yang berdasar buah rasio semata. Kalau memang benar pendapat mereka ini, berarti benar pula pemahaman dan penghayatan agama yang hanya dengan rasio, bila demikian maka, rusaklah Islam. Dasar pokok yang tadinya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi telah dirubah menjadi berdasarkan akal rasio. Na’udzu billah….. Kalau mereka menganggap kita yang berdasar petunjuk Nabi ini Bid’ah, lalu mereka yang beragama berdasar akar rasio itu apa namanya ?. Mungkinkah mereka telah membuat Syari’at baru atau memperbaharui (mentajdid) Syari’at Islam. Allah tidak mengangkat Nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW. Sejuta alasan dapat mereka kemukakan. Dan sejuta alasan juga dapat kita sampaikan untuk menolaknya. Yang jelas Allah SWT telah berfirman :
“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka . Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat , sesat yang nyata”.
(QS. Al-Ahzab : 36)
III. NIAT PUASA
=======================
Niat melakukan puasa adalah salah satu rukun puasa. Niat puasa wajib dilaksanakan di malam hari sebelum terbit fajar. Sabda Nabi Muhammad SAW. :
مَنْ لَمْ يُبَيَّت الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ (رواه البخاري و مسلم غيرهما)
“ Barang siapa tidak melakukan niat di malam hari, sebelum fajar, maka tidak sah puasanya”. (HR Bukhari, Muslim dll dari Hafsah Ummil Mu’minin)
Hadits tersebut jelas menyatakan bahwa niat puasa harus dilakukan di malam hari. Kewajiban melakukannya di malam hari ini adalah khusus untuk puasa wajib. Sedangkan untuk puasa sunnah berniat disiang hari diperbolehkan.
Pendapat Imam Maliki dan sahabat - sahabatnya memperbolehkan niat puasa sebulan Ramadhan dengan cukup sekali niat untuk semuanya, sedangkan setiap malam disunnahkan untuk memperbaharuinya.
إِذَا نَوَى أَوَّالَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صِيَامَ جَمِيْعِهِ كَفَاهُ وَلاَ يَحْتَاجُ لِنِيَةٍ لِكُلِّ يَوْمٍ، وَيُسْتَحَبُّ تَجْدِيْدُ هَا فَقَطْ
“ Apabila niat berpuasa di malam pertama bulan Ramadhan untuk puasa 1 (satu) bulan , maka telah cukup. Setiap harinya tidak perlu lagi berniat sendiri. Hanya disunnahkan memperbaharuinya saja ”.
Imam Syafi’i menyatakan sunnah melafalkan niat tersebut, agar dengan cara begitu hatinya tertuntun dan lebih dapat memusatkan perhatian pada niatnya itu.
وَيُسَنُّ أَنْ يَنْطِقَ بِلِسَانِهِ بِالنِّيَّةِ ِلأَنَّهُ عَوْنٌ لِلْقَلْبِ
“ Sunnah lisannya melafalkan niat, karena hal itu dapat menolong niat dalam hatinya “.
Lafal Niat puasa dapat berbentuk sebagai berikut :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ رَمَضَان هَذِهِ السَّنّةِ ِللهِ تَعَالَى
“ Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kepardhuan bulan Ramadhan tahun ini, sebagai fardhu karena Allah Ta’ala “.
Apabila kita telah niat puasa sebulan pada malam pertama maka pada malam-malam berikutnya tidak perlu niat lagi, bila pada malam berikutnya kita niat lagi hukumnya sunnah, tidak wajib.
IV. SHALAT TARAWIH
===========================
Shalat Tarawih hukumnya Sunnah Muakkad dan dalam menunaikannya disunnahkan dengan berjamaah. Waktunya adalah setelah Shalat Isya’ sampai terbit fajar. Dapat dilakukan sebelum Shalat Witir. Bahkan menurut para Ulama Maliki melakukan Tarawih setelah witir itu Makruh.
a) Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Jumlah rakaat Shalat Tarawih adalah 20. Hal ini berdasar apa yang dilakukan oleh sahabat Nabi Umar bin Khathab dan seluruh sahabat Nabi waktu itu. Mereka melakukan Shalat Tarawih 20 rakaat disambung 3 rakaat witir . Jadi semuanya 23 rakaat. Disebutkan dalam suatu hadits :
كَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ فِى زَمَانٍ عُمَرَبْنِ اْلحَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلاَثٍ وَ عِسْرِيْنَ رَكَعَهً (رواه ما لك)
“ Orang-orang di zaman Umar bin Khathab melakukannya 23 rakaat “.
(riwayat Imam Malik)
Dalam riwayat lain disebutkan :
إِنَّهُمْ يَقُوْ مُوْ نَ عَلَى عَهْدٍ عُمَرَ بْنِ اْلحَطَّا بِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِى شَهْرِرَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكَعَةً (رواه البيهقى )
“ Bahwa sesungguhnya para sahabat di masa Umar bin Khathab pada bulan Ramadhan melakukan (Tarawih) 20 rakaat”. (Riwayat Baihaqi)
Dalam hal ini kita memang harus mengikuti praktek yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khathab dan sahabat lainnya, keterangannya sebagai berikut :
1. Tidak ada Hadits Nabi yang secara langsung dan jelas menerangkan berapa jumlah rakaat Shalat Tarawih Nabi. Memang ada diketahui Nabi bersama para sahabat melakukan Tarawih di masjid 8 rakaat, kemudian mereka pulang dan pada penyempurnaan sendiri di rumah masing-masing, hingga komplek perumahan mereka gemuruh (dari suara orang shalat) bagaikan suara lebah. Kemudian sampai berapa rakaat mereka menyempurnakan itu, inilah masalahnya. Yang menegaskan jawabannya adalah Umar bin Khathab, yaitu 20 rakaat. Dan ternyata penegasan ini tidak diragukan oleh sahabat-sahabat yang lain. Mereka semua menerima bahkan juga melakukan Tarawih 20 rakaat.
2. Nabi sendiri memerintahkan agar kita mengikuti jejak Abu Bakar dan Umar bin Khathab, yaitu dalam hadits :
إِقْتَدُوْا بِالَّلذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ (رواه أحمدوالترمذى وإبن ماجه)
“ Ikutilah kalian sesudah aku kepada dua orang ; Abu Bakar dan Umar “.
(riwayat Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)
b) Ada Yang Salah Paham
Sekelompok orang yang salah paham menyatakan bahwa Shalat Tarawih itu 8 rakaat. Witir 3 rakaat jumlah semua 11 rakaat, Kelompok kecil ini beralasan dengan Hadits riwayat Aisyah sebagai berikut :
قَالَتْ : مَاكَانَ يَزِيْدُفىِ رَمَضَانَ وَلاَفىِ غَيْرِهِ عَلىَ إِحْدَى عَشْرَةَرَكْعَةً
“ Aisyah berkata : Tidak pernah Nabi menambah hingga melebihi 11 rakaat, baik dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan”.
Hadits ini memang menyatakan bahwa Nabi melakukan 11 rakaat, tidak pernah lebih dari itu. Shalat ini selalu Nabi lakukan dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Lalu Shalat apakah ini ? Apakah yang di maksud di sini Shalat Tarawih ?. Ini bukan Shalat Tarawih. Sebab tidak ada Shalat Tarawih yang dilakukan di luar bulan Ramadhan. Awas jangan salah paham !!!
Lalu Shalat apa ? ini adalah Shalat Witir. Jumlah maksimal rakaat Shalat Witir adalah 11 rakaat. Di dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan Witir paling banyak dapat dilakukan 11 rakaat. Oleh karena itu Imam Bukhari-Ahli Hadits terbesar mencantumkan Hadits tersebut dalam bab Shalat Witir, bukan bab Tarawih.
Kesimpulannya, kelompok kecil tadi salah paham. Mereka menerapkan dalil tidak tepat. Dalil Haditsnya shahih, bagus. Tetapi penerapannya tidak benar.
Memang tidak ada satupun Ulama yang menyatakan bahwa Shalat Tarawih itu 8 rakaat. Mazhab empat sepakat 20 rakaat, diseluruh dunia termasuk Makkah dan Madinah melaksanakan dengan 20 rakaat, dari dahulu sampai sekarang. Sedang yang melakukan 8 rakaat hanyalah kita dapati di beberapa Musholla yang ternyata jauh dari Ulama. Kami menghimbau marilah kita bersama-sama mengaji Al-Qur’an dan Sunnah sekali lagi.
c) Pelaksanaan Shalat Tarawih
Shalat Tarawih dilakukan sekali salam setiap dua rakaat. Jadi untuk 20 rakaat itu dilakukan 10 salam. Hal berdasarkan Hadits :
صَلاَةُ الَّليْلِ مَثْنَى مَثْنَى (رواه البحاري عن عبدالله بن عمر )
“ Shalat sunnah di malam hari adalah dua – dua “.
(HR. Bukhari dari Abdullah bin Umar)
Apabila dilakukan dengan sekali salam dalam setiap 4 rakaat, maka :
1. Ulama Hanafiah menyatakan hanya di hitung dengan dua rakaat saja untuk 4 rakaat yang dilakukan dengan sekali salam itu.
2. Ulama Hambaliah menyatakan Tarawih tetap sah tetapi Makruh.
3. Ulama Malikiah menyatakan sah tetapi Makruh.
4. Ulama Syafi’iyyah menyatakan tidak sah, Tarawih harus dilakukan dengan sekali salam setiap dua rakaat.
Oleh karena itu demi menjaga persatuan umat hendaklah kita melakukan Tarawih dua-dua. Sebab cara inilah yang jelas disepakati oleh semua Ulama serta dilakukan sejak dahulu sampai sekarang.
===================
Sumber : Dirosah Diniyah "BANGKIT"
====================
Oleh : KH. Ali Ma’shum
I. DALIL PUASA ROMADLoN
=============================
Puasa bulan Suci Ramadhan adalah Fardhu ‘Ain bagi setiap orang Mukallaf (dewasa/baligh). Perintah pengamalannya (kefardhuannya) turun pada tanggal 10 Sya’ban, -18 bulan setelah Nabi Hijrah ke Madinah. Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar hukum puasa adalah :
1. Firman Allah :
“ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan (pula) kepada orang-orang sebelum kalian, semoga kalian bertakwa; yaitu (puasa dilakukan) pada hari-hari yang tertentu “. (QS. Al-Baqarah : 183)
2. Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan :
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَدَةٍ أَنْ لَاإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ االزَّكَاةِ، وَ حِجِّ الْبَيْتِ، وَصِيَامِ رَمَضَا نَ (متفق عليه)
“ Islam didirikan atas lima dasar ; Syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah, mendirikan Shalat, membayar Zakat, naik Haji dan Puasa bulan Ramadhan “. (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar )
3. Adanya Ijma :
Kesepakatan para Imam dimana para Imam telah sepakat mengenai kefardhuannya dan tidak ada seorang Muslim-pun yang mengingkarinya.
II. PENETAPAN AWAL BULAN ROMADLON
================================
Dalam sebuah Hadits disebutkan :
صُِوْمُوْأ لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْلِمُوْا ِعدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا
(رواه البحاري )
“ Berpuasalah kalian karena melihat Hilal (bulan tanggal satu) dan berbukalah karena melihatnya ; dan jikalau tidak tampak lantaran langit tertutup awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban genap 30 hari “.
(Riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah).
Dalam Hadits ini jelas dalam memberikan gambaran tentang cara menentukan awal bulan Ramadlan dan akhirnya. Yaitu :
1. Ramadlan ditentukan awalnya dengan Ru’yah (melihat bulan tanggal satu).
2. Jikalau Hilal tidak tampak diRu’yah karena langit berawan, maka awal Ramadlan ditentukan dengan Ikmal, yaitu bulan Sya’ban di hitung sampai 30 hari kemudian hari berikutnya itulah tanggal satu Ramadlan.
Menurut rumusan Hadits di atas, maka dasar satu-satunya untuk menentukan awal Ramadhan adalah Ru’yah sedang Ikmal hanya merupakan jalan keluar jika Ru’yah tidak dapat dilakukan lantaran langit mendung.
Ru’yah dilakukan dengan melihat langsung, sedang Ikmal dapat dilakukan dengan Hisab. Oleh karena itu, maka Hisab hanya berperan sebagai petunjuk saja, tidak dapat di pakai sebagai dasar penentuan awal bulan. Walaupun misalnya pada hari ahad sudah mulai masuk Ramadhan menurut Hisab, tetapi jika ternyata Hilal belum dapat di Ru’yah maka Hisab tersebut tidak dapat diikuti.
Demikianlah empat mazhab sependapat bahwa dasar penentuan awal bulan Ramadlan adalah Ru’yah. Tentang kedudukan hasil hisab adalah sebagai berikut :
a) Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hambali berpendapat bahwa hasil hisab tidak mengikat sama sekali, baik bagi ahli hisab yang menghisab itu sendiri maupun bagi orang yang mempercayainya. Hal demikian karena adanya ketetapan agama yang telah jelas dan tidak boleh di langgar, bahwa dasar penentuan awal bulan adalah Ru’yah atau Ikmal.
b) Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa hasil hisab mengikat pada ahli hisab yang bersangkutan dan orang-orang yang membenarkan hasil hisab tersebut, sedangkan kaum Muslimin pada umumnya tidak terikat dengan hasil tersebut. Jadi yang wajib berpuasa berdasarkan hisab tersebut adalah hanya orang yang menghisab itu sendiri dan orang-orang yang membenarkannya. Orang selain mereka tidak.
Masalah Ru’yah adalah bukan masalah khilafiyah, tetapi hal itu merupakan ketentuan agama yang jelas tegas (Sharih) dan karenanya harus kita terima dan kita ikuti secara mutlak. Tidak perlu dibanding-bandingkan atau di timbang-timbang dengan hisab.
Ada sekelompok orang yang tidak mau menerima Ru’yah tersebut, dan sebaliknya mempertahankan peranan hisab secara mutlak. Mereka beralasan bahwa ; Ru’yah itu cocok pada zaman dahulu dimana belum banyak ahli hisab (termasuk Nabi sendiri), Ru’yah itu menyulitkan sedangkan agama itu menghendaki kemudahan, dan ada juga yang menta’wil kata Ru’yah dengan makna pena (berarti hisab), dan masih banyak lagi alasan yang mereka kemukakan yang berdasar buah rasio semata. Kalau memang benar pendapat mereka ini, berarti benar pula pemahaman dan penghayatan agama yang hanya dengan rasio, bila demikian maka, rusaklah Islam. Dasar pokok yang tadinya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi telah dirubah menjadi berdasarkan akal rasio. Na’udzu billah….. Kalau mereka menganggap kita yang berdasar petunjuk Nabi ini Bid’ah, lalu mereka yang beragama berdasar akar rasio itu apa namanya ?. Mungkinkah mereka telah membuat Syari’at baru atau memperbaharui (mentajdid) Syari’at Islam. Allah tidak mengangkat Nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW. Sejuta alasan dapat mereka kemukakan. Dan sejuta alasan juga dapat kita sampaikan untuk menolaknya. Yang jelas Allah SWT telah berfirman :
“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka . Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat , sesat yang nyata”.
(QS. Al-Ahzab : 36)
III. NIAT PUASA
=======================
Niat melakukan puasa adalah salah satu rukun puasa. Niat puasa wajib dilaksanakan di malam hari sebelum terbit fajar. Sabda Nabi Muhammad SAW. :
مَنْ لَمْ يُبَيَّت الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ (رواه البخاري و مسلم غيرهما)
“ Barang siapa tidak melakukan niat di malam hari, sebelum fajar, maka tidak sah puasanya”. (HR Bukhari, Muslim dll dari Hafsah Ummil Mu’minin)
Hadits tersebut jelas menyatakan bahwa niat puasa harus dilakukan di malam hari. Kewajiban melakukannya di malam hari ini adalah khusus untuk puasa wajib. Sedangkan untuk puasa sunnah berniat disiang hari diperbolehkan.
Pendapat Imam Maliki dan sahabat - sahabatnya memperbolehkan niat puasa sebulan Ramadhan dengan cukup sekali niat untuk semuanya, sedangkan setiap malam disunnahkan untuk memperbaharuinya.
إِذَا نَوَى أَوَّالَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صِيَامَ جَمِيْعِهِ كَفَاهُ وَلاَ يَحْتَاجُ لِنِيَةٍ لِكُلِّ يَوْمٍ، وَيُسْتَحَبُّ تَجْدِيْدُ هَا فَقَطْ
“ Apabila niat berpuasa di malam pertama bulan Ramadhan untuk puasa 1 (satu) bulan , maka telah cukup. Setiap harinya tidak perlu lagi berniat sendiri. Hanya disunnahkan memperbaharuinya saja ”.
Imam Syafi’i menyatakan sunnah melafalkan niat tersebut, agar dengan cara begitu hatinya tertuntun dan lebih dapat memusatkan perhatian pada niatnya itu.
وَيُسَنُّ أَنْ يَنْطِقَ بِلِسَانِهِ بِالنِّيَّةِ ِلأَنَّهُ عَوْنٌ لِلْقَلْبِ
“ Sunnah lisannya melafalkan niat, karena hal itu dapat menolong niat dalam hatinya “.
Lafal Niat puasa dapat berbentuk sebagai berikut :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ رَمَضَان هَذِهِ السَّنّةِ ِللهِ تَعَالَى
“ Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kepardhuan bulan Ramadhan tahun ini, sebagai fardhu karena Allah Ta’ala “.
Apabila kita telah niat puasa sebulan pada malam pertama maka pada malam-malam berikutnya tidak perlu niat lagi, bila pada malam berikutnya kita niat lagi hukumnya sunnah, tidak wajib.
IV. SHALAT TARAWIH
===========================
Shalat Tarawih hukumnya Sunnah Muakkad dan dalam menunaikannya disunnahkan dengan berjamaah. Waktunya adalah setelah Shalat Isya’ sampai terbit fajar. Dapat dilakukan sebelum Shalat Witir. Bahkan menurut para Ulama Maliki melakukan Tarawih setelah witir itu Makruh.
a) Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Jumlah rakaat Shalat Tarawih adalah 20. Hal ini berdasar apa yang dilakukan oleh sahabat Nabi Umar bin Khathab dan seluruh sahabat Nabi waktu itu. Mereka melakukan Shalat Tarawih 20 rakaat disambung 3 rakaat witir . Jadi semuanya 23 rakaat. Disebutkan dalam suatu hadits :
كَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ فِى زَمَانٍ عُمَرَبْنِ اْلحَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِثَلاَثٍ وَ عِسْرِيْنَ رَكَعَهً (رواه ما لك)
“ Orang-orang di zaman Umar bin Khathab melakukannya 23 rakaat “.
(riwayat Imam Malik)
Dalam riwayat lain disebutkan :
إِنَّهُمْ يَقُوْ مُوْ نَ عَلَى عَهْدٍ عُمَرَ بْنِ اْلحَطَّا بِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِى شَهْرِرَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكَعَةً (رواه البيهقى )
“ Bahwa sesungguhnya para sahabat di masa Umar bin Khathab pada bulan Ramadhan melakukan (Tarawih) 20 rakaat”. (Riwayat Baihaqi)
Dalam hal ini kita memang harus mengikuti praktek yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khathab dan sahabat lainnya, keterangannya sebagai berikut :
1. Tidak ada Hadits Nabi yang secara langsung dan jelas menerangkan berapa jumlah rakaat Shalat Tarawih Nabi. Memang ada diketahui Nabi bersama para sahabat melakukan Tarawih di masjid 8 rakaat, kemudian mereka pulang dan pada penyempurnaan sendiri di rumah masing-masing, hingga komplek perumahan mereka gemuruh (dari suara orang shalat) bagaikan suara lebah. Kemudian sampai berapa rakaat mereka menyempurnakan itu, inilah masalahnya. Yang menegaskan jawabannya adalah Umar bin Khathab, yaitu 20 rakaat. Dan ternyata penegasan ini tidak diragukan oleh sahabat-sahabat yang lain. Mereka semua menerima bahkan juga melakukan Tarawih 20 rakaat.
2. Nabi sendiri memerintahkan agar kita mengikuti jejak Abu Bakar dan Umar bin Khathab, yaitu dalam hadits :
إِقْتَدُوْا بِالَّلذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ (رواه أحمدوالترمذى وإبن ماجه)
“ Ikutilah kalian sesudah aku kepada dua orang ; Abu Bakar dan Umar “.
(riwayat Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah)
b) Ada Yang Salah Paham
Sekelompok orang yang salah paham menyatakan bahwa Shalat Tarawih itu 8 rakaat. Witir 3 rakaat jumlah semua 11 rakaat, Kelompok kecil ini beralasan dengan Hadits riwayat Aisyah sebagai berikut :
قَالَتْ : مَاكَانَ يَزِيْدُفىِ رَمَضَانَ وَلاَفىِ غَيْرِهِ عَلىَ إِحْدَى عَشْرَةَرَكْعَةً
“ Aisyah berkata : Tidak pernah Nabi menambah hingga melebihi 11 rakaat, baik dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan”.
Hadits ini memang menyatakan bahwa Nabi melakukan 11 rakaat, tidak pernah lebih dari itu. Shalat ini selalu Nabi lakukan dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Lalu Shalat apakah ini ? Apakah yang di maksud di sini Shalat Tarawih ?. Ini bukan Shalat Tarawih. Sebab tidak ada Shalat Tarawih yang dilakukan di luar bulan Ramadhan. Awas jangan salah paham !!!
Lalu Shalat apa ? ini adalah Shalat Witir. Jumlah maksimal rakaat Shalat Witir adalah 11 rakaat. Di dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan Witir paling banyak dapat dilakukan 11 rakaat. Oleh karena itu Imam Bukhari-Ahli Hadits terbesar mencantumkan Hadits tersebut dalam bab Shalat Witir, bukan bab Tarawih.
Kesimpulannya, kelompok kecil tadi salah paham. Mereka menerapkan dalil tidak tepat. Dalil Haditsnya shahih, bagus. Tetapi penerapannya tidak benar.
Memang tidak ada satupun Ulama yang menyatakan bahwa Shalat Tarawih itu 8 rakaat. Mazhab empat sepakat 20 rakaat, diseluruh dunia termasuk Makkah dan Madinah melaksanakan dengan 20 rakaat, dari dahulu sampai sekarang. Sedang yang melakukan 8 rakaat hanyalah kita dapati di beberapa Musholla yang ternyata jauh dari Ulama. Kami menghimbau marilah kita bersama-sama mengaji Al-Qur’an dan Sunnah sekali lagi.
c) Pelaksanaan Shalat Tarawih
Shalat Tarawih dilakukan sekali salam setiap dua rakaat. Jadi untuk 20 rakaat itu dilakukan 10 salam. Hal berdasarkan Hadits :
صَلاَةُ الَّليْلِ مَثْنَى مَثْنَى (رواه البحاري عن عبدالله بن عمر )
“ Shalat sunnah di malam hari adalah dua – dua “.
(HR. Bukhari dari Abdullah bin Umar)
Apabila dilakukan dengan sekali salam dalam setiap 4 rakaat, maka :
1. Ulama Hanafiah menyatakan hanya di hitung dengan dua rakaat saja untuk 4 rakaat yang dilakukan dengan sekali salam itu.
2. Ulama Hambaliah menyatakan Tarawih tetap sah tetapi Makruh.
3. Ulama Malikiah menyatakan sah tetapi Makruh.
4. Ulama Syafi’iyyah menyatakan tidak sah, Tarawih harus dilakukan dengan sekali salam setiap dua rakaat.
Oleh karena itu demi menjaga persatuan umat hendaklah kita melakukan Tarawih dua-dua. Sebab cara inilah yang jelas disepakati oleh semua Ulama serta dilakukan sejak dahulu sampai sekarang.
===================
Sumber : Dirosah Diniyah "BANGKIT"
Langganan:
Postingan (Atom)






