ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 04 April 2012

Wasiat Nasehat ( Tobat )

Wasiat Nasehat ( Tobat )
===================
Sesungguhnya Allah swt menyukai seseorang yang telah berbuat dosa, lalu bertobat.”
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Keseimbangan Tobat dan Ibadah akan menimbulkan perilaku yang baik yang mendapat Ridho dari Allah swt. Sebab dengan Tobat, kita akan menyadari akan semua kesalahan yang pernah kita lakukan, dan dengan Tobat pula dapat meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah swt.”
Sesuai sabda Rasulullah saw :
“Apabila Allah swt menghendaki seseorang menjadi baik, maka dia membuatnya menyadari akan kesalahan-kesalahannya.”
( Imam Ja’far Shodiq )

"suatu perbuatan paling berbahaya yang harus kamu waspadai adalah dosa-dosa kecil. Sebab, ketika berbuat dosa besar, engkau menyadari bahayanya dan segera bertobat. Tetapi, terhadap dosa-dosa kecil, engkau seringkali meremehkannya dan tidak bertobat darinya. Engkau seperti seorang diselamatkan oleh Allah swt dari kejaran seekor harimau ( pemisalan dosa besar ), tetapi kemudian bertemu dan diterkam oleh lima puluh ekor srigala ( pemisalan dosa kecil ).
Allah Ta'ala mewahyukan :
وتحسبونه هينا وهو عند اللّه عظيم

Kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah swt adalah besar. ( An-Nur, 24 : 15 ).
Dosa besar jika disandarkan pada kemurahan Allah swt menjadi kecil. Sedangkan dosa-dosa kecil jika kau lakukan secara terus-menerus menjadi dosa besar. Racun meskipun sedikit mampu membunuh. Dosa kecil itu ibarat percikan-percikan api. Percikan api kadang mampu membakar sebuah kota. Dan pada hakikatnya api yang berkobar berasal dari percikan-percikan api kecil.
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

“Orang yang bertaubat adalah yang menyesali perbuatannya, menjauhi pendengaran yang tidak bermanfaat, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

Wasiat Nasehat Ttg Pemimpin,Harga Diri,Syukur,Adab

Wasiat Nasehat Ttg Pemimpin,Harga Diri,Syukur,Adab
============
Pemimpin.
========
“Pilar kepemimpinan itu ada lima : perkataan yang benar, menyimpan rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasihat dan menunuaikan amanah.”
( Imam Syafi’i )

“Kaji dan dalamilah sebelum engkau menduduki jabatan, karena kalau engkau telah mendudukinya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk mengkaji dan mendalaminya.”
( Imam Syafi’i*)

Harga Diri
===========
“Di antara orang yang tidak mempunyai harga diri adalah mereka yang dengan mudahnya memberitahukan usianya kepada orang lain, karena kalau usianya lebih muda, tentu mereka akan menganggapnya rendah dan jika usianya lebih tua, tentu mereka akan beranggapan bahwa ia sudah pikun.”
( Imam Syafi’i )

“Peranti terbentuknya harga diri itu ada empat : kemuliaan akhlak, kedermawanan, sikap santun dan ibadah ( yang istiqamah ).”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang menghargai dirinya melebihi kapasitasnya, maka Allah swt akan mengembalikannya kepada nilai sesungguhnya dalam dirinya.”
( Imam Syafi’i )

Syukur
=======
”Hakikat Syukur adalah mengakui dengan penuh ketundukan terhadap nikmat si Pemberi nikmat, mempersaksikan karunianya dan memelihara kehormatannya dengan menyadari, sesungguhnya bahwa kita tidak akan sanggup untuk bersyukur dalam artian yang sebenarnya.”
”Orang miskin yang sabar karena Allah swt menghadapi kemiskinannya adalah lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur kepadanya. Orang Miskin yang bersyukur adalah lebih baik dari kedua orang di atas. Sedangkan Orang Miskin yang sabar dan bersyukur adalah lebih baik dari mereka semua. Tidak ada yang sabar menjalani Ujian, kecuali orang yang tahu akan hakikat ujian tersebut.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

Adab
=====
"Ucapan dibagi menjadi empat :
1. Ucapan yang bermanfaat tetapi berakibat buruk. Sebaiknya engkau diam dan tidak mengucapkannya agar selamat.
2. Ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak berakibat buruk, jika engkau diam dan tidak mengucapkannya, maka tubuh dan lisanmu tidak akan lelah.
3. Ucapan yang tidak bermanfaat dan berakibat buruk, maka seorang yang berakal akan diam menghindari keburukan yang akan membebaninya.
4. Ucapan yang bermanfaat dan tidak berakibat buruk, maka engkau wajib menyebar luaskannya.
( Syekh Ibrahim bin Adham )

"Di zaman ini, hanya sedikit orang yang menunjukkan adab luhur dalam majlis. Jika ada seseorang yang datang, mereka berdiri dan bersalaman atau menghentikan bacaan, padahal orang itu datang ke majlis tersebut tidak lain untuk mendengarkan. Oleh karenanya, banyak aku jumpai orang di zaman ini, jika datang seseorang, mereka berkata, "silahkan kemari" dan yang lain mengatakan juga "silahkan kemari" sedang orang yang duduk di samping mengipasinya.
Gerakan-gerakan dan kegaduhan yang mereka timbulkan menghapus keberkahan majelis itu sendiri. Keberkahan majlis bisa diharapkan, apabila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majlis itu pada intinya adalah adab, sedangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati. Oleh karena itu, wahai saudara-saudarku, aku anjurkan kepada kalian, hadirilah majlis-majlis khoir ( baik ). Ajaklah anak-anak kalian kesana dan biasakan mereka untuk mendatanginya agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majlis-majlis yang baik pula!"
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

Wasiat Nasehat Tentang ( A'mal )

Wasiat Nasehat ( A'mal )
=====================
أفضل الأعمال الحبّ فى اللّه والبغض فىاللّه تعالى. ( رواه ابو داود وعن أبى ذر )

"Amal yang sangat utama adalah cinta dan benci karena Allah Ta'ala."

لافضل لعربيّ على عجميّ ولا لعجميّ على عربيّ إلاّ بالتّقوى. ( الحديث )
"Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam ( bukan Arab ), dan tiada kelebihan orang Ajam atas orang Arab kecuali taqwanya.
( Al-Hadits )

”Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan sabar menanggung gangguannya, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak pula sabar menghadapi gangguannya.”
( HR Ibnu Majah dan Ahmad )

"Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya. Di dunia ini tidak ada kebaikan, kecuali bagi orang berikut :
1. seorang yang banyak berbuat dosa kemudian bertobat dan memperbaiki segala kesalahannya.
2. seorang yang senantiasa bergegas untuk melakukan berbagai amal kebajikan
( Sayyidina Imam Ali bin Abi Thalib kw )

“Ada 4 perkara yang barangsiapa memilikinya, niscaya imannya menjadi sempurna, dosa-dosanya diampuni dan ia akan berjumpa dengan tuhannya dalam keadaan ridlo kepadanya, yaitu barangsiapa yang mau menepati karena Allah swt, terhadap apa yang diwajibkan Allah swt atas dirinya untuk para manusia, lisannya selalu berkata jujur kepada para manusia dan ia bersikap malu terhadap segala perbuatan jelek menurut pandangan Allah swt dan para manusia, serta ia selalu berbudi pekerti yang baik kepada para keluarganya.”
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Amal yang paling utama disisi Allah swt adalah sesuatu yang dilakukan menurut sunnah Rasulullah saw.”
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Orang yang berhati hasud (dengki) tidak akan meraih kemuliaan dan orang yang suka dendam, akan mati merana. Sejelek-jeleknya saudara adalah yang selalu memperhatikan dirimu ketika kamu kaya dan ia menjauhi kamu, ketika kamu dalam keadaan melarat. Bersikap rela terhadap taqdir Allah swt yang tidak menyenangkan adalah merupakan martabat yang tinggi.”
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Pekerjaan terberat itu ada tiga ; Sikap dermawan di saat dalam keadaan sempit; Menjauhi dosa di kala sendiri; Berkata benar di hadapan orang yang ditakuti.”
( Imam Syafi’i )

“Kebaikan itu ada di lima perkara : kekayaan hati, bersabar atas kejelekan orang lain, mengais rezeki yang halal, taqwa, dan yakin akan janji Allah swt.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah swt.”
( Imam Syafi’i )

“Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.”
( Imam Syafi’i )

“Jikalau seseorang dari kalian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keridhaan setiap orang, niscaya ia tidak akan menemukan jalannya; maka hendaklah seorang hamba mengikhlaskan amalannya ke haribaan Allah swt.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada yang tahu tentang riya, kecuali orang yang ikhlas.”
( Imam Syafi’i )

“Keutamaan itu ada empat :
Pertama : hikmah, dan penopangnya adalah pemikiran.
Kedua : iffah ( menjaga harga diri ), dan penopangnya adalah syahwat.
Ketiga : kekuatan, penopangnya adalah kemarahan.
Keempat : adil, penopangnya adalah kekuatan jiwa.
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketaqwaannya, maka dia tidak memiliki harga diri.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa berhias diri dengan kebatilan, maka Allah swt akan membuka penutup kejelekannya.”
( Imam Syafi’i )

“Orang yang selalu menjaga dirinya akan senantiasa bersungguh-sungguh.”
( Imam Syafi’i )

"Empat hal berikut mebghapus agama kalian :
1. Kalian tidak mengamalkan apa yang kalian ketahui.
2. Kalian mengamalkan apa yang tidak kalian ketahui.
3. Kalian tidak mau mempelajari apa yang tidak kalian ketahui, maka selamanya kalian bodoh.
4. Kalian mencegah orang lain untuk mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailany )


“Kembalilah dari menentang Allah swt, maka engkau menjadi Ahli Tauhid. Berbuatlah sesuai dengan rukun-rukun Syara’, maka engkau menjadi Ahli Sunah. Gabungkanlah keduanya, maka engkau menuju kesejatian.”
( Sayyidina Syekh Abul Hasan Ali Asy Syazili )

“Kebaikan seluruhnya bersumber sedikit bicara ( tidak berbicara yang jelek didalam bertafakur tentang Ilahi dan ciptaannya terkandung banyak rahasia.”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Jangan kau abaikan sedekah pada setiap hari sekalipun sekecil atom; perbanyaklah baca Al qur ‘an setiap siang dan malam hari.”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Ciri-ciri orang yang bahagia adalah mendapatkan taufik dalam hidupnya, banyak ilmu dan amal serta baik perangi maupun tingkah lakunya.”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Orang yang berakal adalah yang diam (tidak bicara sembarangan)”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Orang yang takut pada Allah swt adalah orang yang banyak sedih (merasa bersalah)”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Berbagai hakikat tidak akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan berbagai penghalang.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Dalam Qanaah terdapat ketenteraman dan keselamatan; dalam tamak terdapat kehinaan dan penyesalan.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Orang yang arif melihat aib-aib dirinya; sedang orang yang lalai melihat aib-aib orang lain.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Orang yang arif adalah yang mengenal dirinya, sedangkan orang jahil adalah yang tidak mengenal dirinya.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Beristiqamahlah kalian dalam setiap amal, karena para Ahli kasyaf sekalipun semua bermohon kepada Allah swt agar mereka diberikan kekuatan dalam beristiqamah agar mereka tidak jatuh dalam keadaan terhijab darinya.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Tentang Sabda Rasulullah SAW :

“Seseorang adakalanya beramal kebajikan-kebajikan sampai antara ia dengan surga hanya tinggal sejengkal, tetapi dalam ketentuan Ilahi, ia ditetapkan sebagai penghuni neraka, sehingga ia melakukan perbuatan-perbuatan amal penghuni neraka, sampai ia masuk neraka. Seseorang adakalanya beramal kejahatan-kejahatan sampai antara ia dengan neraka hanya tinggal sejengkal, tetapi dalam ketetapan Ilahi, ia ditetapkan sebagai calon penghuni surga, maka ia beramal penghuni surga, sampai ia masuk surga.”

Pendapat Habib Umar Al Attas tentang sabda Nabi SAW diatas :

“Seseorang yang selalumengerjakan amalan ahli surga, kebanyakannya akan masuk ke dalam surga; sebab perbuatan lahiriyah adalah lambing perbuatan batiniyah, jika ia masuk ke dalam neraka, maka hal itu jarang sekali. Hal itu seperti orang yang jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi, tentunya orang itu tidak akan berbahaya. Demikian pula seorang yang melakukanamal-amal ahli neraka, kebanyakannya ia akan masuk ke dalam neraka; tetapi jika ia masuk ke dalam surga, maka hal itu jarang sekali terjadi. Hal itu seperti orangyang jatuh dari puncak gunung, kebanyakan akan wafat”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Seorang yang melakukan amal kebajikan tetapi ia suka makan yang diharamkan, maka ia seperti seorang yang mengambil air dari tempayan yang datar, tidak akan memperoleh pahala sedikitpun.
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Hendaknya orang-orang yang menghendaki keselamatan Akhirat meninggalkan tidurnya, demi untuk mendapatkan siraman rahmat di malam hari.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

Kebanyakan orang, jika tertimpa musibah penyakit atau lainnya, mereka tabah dan sabar; mereka sadar bahwa itu adalah qodho dan qodar Allah SWT. Tetapi jika diganggu orang, mereka sangat marah. Mereka lupa bahwa gangguan-gangguan itu sebenarnya juga qodho dan qodar Allah SWT, mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah SWT hendak menguji dan menyucikan jiwa mereka.
Rasulullah bersabda :
“Besarnya pahala tergantung pada beratnya ujian. Jika Allah SWT mencintai suatu kaum, ia akan menguji mereka. Barang siapa ridho, ia akan memperoleh keridhoannya; barang siapa tidak ridho, Allah SWT akan murka kepadanya.” ( HR Thabrani dan Ibnu Majah )
( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )

“Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada siapapun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka berkelana di gurun sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.”
( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )

"Engkau hendaknya berpikir untuk melakukan amal sebaik mungkin, bukan sebanyak mungkin. Banyak amal jika tidak dilakukan dengan baik adalah seperti pakaian yang banyak jumlahnya, tetapi harganya murah harganya. Sedangkan sedikit amal tetapi berkualitas ( dikerjakan dengan baik ) adalah seperti sedikit pakaian tetapi mahal harganya.
Amal yang berkualitas ( dikerjakan dengan baik ) adalah seperti sebuah intan berlian, kecil bentuknya tetapi mahal harganya. Orang yang menjadikan hatinya selalu ingat kepada Allah swt dan berjuang untuk melindungi hatinya dari pengaruh hawa nafsu, maka itu lebih utama daripada banyak melakukan shalat dan puasa sunah ( tetapi hatinya dikuasai hawa nafsu ).
Orang yang melakukan shalat dengan hati lalai adalah seperti seseorang yang menghadiahkan seratus peti kosong kepada seorang raja, tentunya sang raja akan marah dan selalu mengingat perbuatan buruknya ini.
Sedangkan orang yang shalat dengan hati yang hadir ( khusyuk ), adalah seperti seorang yang menghdiahkan sebutir intan berlian seratus dinar kepada seorang raja, sang raja pun akan mengingat dan memujinya selalu."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

“Tak ada derajat yang lebih tinggi daripada prasangka baik. Karena di dalam prasangka baik terdapat keselamatan dan keberuntungan. Didalam keluasan rahmat Allah swt sirnalah amalmu seperti amal setiap mahluk. Di dalam rahasia Allah swt swt, yang dititipkan pada mahluk-Nya, terdapat sesuatu yang mengharuskan untuk berkeyakinan bahwa semua mahluk adalah Aulia.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Keteguhan yang sempurna berbeda-beda. Keteguhan dalam perkataan berbeda dengan keteguhan dalam perbuatan. Keteguhan perbuatan berbeda dengan keteguhan dalam beramal. Keteguhan dalam beramal berbeda dengan keteguhan dalam mencari. Keteguhan dalam mencari berbeda dengan keteguhan dalam apa yang dicari. Sedangkan hakikatnya, secara utuh dan merupakan kedudukan yang terakhir, adalah tidak memalingkan pandangan dari Allah swt sekedip mata pun, bahkan yang lebih cepat dari itu.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Amal dan niat saleh akan menyebabkan timbulnya kewibawaan pada diri seseorang. Ia akan tampak beda dengan orang lain, ucapannya didengar dan bermanfaat. Sebaliknya, amal dan niat buruk akan menyebabkan pelakunya diselimuti kegelapan”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Barang siapa mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna, maka Allah SWT akan menyempurnakan urusannya. Dan barang siapa mengerjakan segala sesuatu sembarangan, maka Allah SWT pun akan mengabaikan urusannya.”
Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya jika ada seorang hamba mengerjakan sebuah amal, Allah SWT senang jika ia mengerjakan secara sempurna”( HR.Abu Ya’la)
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Manusia punya dua sayap yang dapat ia gunakan untuk terbang ke tempat yang mulia, yaitu Niat dan Himmah ( semangat, tekad ). Sedangkan penghuni zaman ini berpijak pada salah satu diantara keduanya. Ada yang memiliki niat, tapi tidak memiliki himmah. Ada yang himmahnya besar, tapi belum memiliki niat. Jika seseorang punya niat, kemudian memperoleh himmah, maka Allah swt akan memperhatikannya dan akan menyampaikannya pada tujuan. Niat itu sebelum himmah dan himmah sebelum amal.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Thoriqoh salaf Alawiyin adalah zhohirnya Ghazaliah dan bathinnya Syazaliah. Jika seseorang berkonsentrasi pada amal, maka ia akan mengerjakan amal tanpa ruh. Namun, jika ia meninggalkan amal dan banyak berharap kepada Allah swt, ia akan miskin amal saleh.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Barang siapa mendahulukan ikhlas sebelum amal, maka ia tidak akan bisa beramal. Tapi hendaknya ia beramal, kemudian menuntut dirinya untuk ikhlas. Seseorang tidak seharusnya menuntut kesempurnaan, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab jika ia menuntut kesempurnaan dari dirinya, ia tidak akan beramal. jika ia menuntut kesempurnaan dari orang lain, ia tidak akan memandang mulia seorang pun, ia bahkan akan memandang rendah semua orang.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Orang yang berharta, hendaknya banyak berderma dan bersedekah di jalan Allah swt. Yang berilmu, hendaknya mencurahkan semua tenaganya untuk mengajar. Yang mempunyai kedudukan, hendaknya berusaha mendamaikan orang-orang yang dizalimi. Yang berdagang dan menekuni pekerjaan lainnya, hendaknya jujur kepada kaum muslimin dan melakukan pekerjaannya dengan sempurna.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaknya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah swt kepadanya. Allah swt tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah swt berikan kepadanya. Allah swt kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.(QS Ath-Thalaq, 65:7).
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Hanya prasangka baik kepada Allah swt dan hamba-hambanyalah yang dapat membuka pintu-pintu kebajikan.
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Dua hal yang tidak ada sebuah kebaikan pun yang dapat mengungguli keduanya, yaitu prasangka baik kepada Allah swt dan prasangka baik kepada makhluk Allah swt. Dan dua hal yang tidak ada sebuah keburukan yang dapat mengunggulinya, yaitu prasangka buruk kepada Allah swt dan prasangka buruk kepada makhluk Allah swt.” (Al-Hadits)
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Jika kau memandang seorang yang saleh dan istiqomah, khusyu’ dan wara’, lalu kau bandingkan akhlaqmu dengan akhlaqnya. Amalmu dengan amalnya, keadaanmu dengan keadaannya; maka kau akan mengetahui aib dan kekuranganmu. Setelah itu akan mudah bagimu untuk memperbaiki ucapan dan perbuatanmu yang salah, lahir maupun batin. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang saleh dan mulia, serta dilarang bergaul dengan selain mereka. Sebab watak seseorang akan mencuri watak orang lain. Jika tidak kau temukan teman duduk yang saleh, pelajarilah buku, sifat, riwayat hidup dan semua prilaku kaum sholihin.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Ada dua orang yang tidak boleh kau pegang pendapatnya, yaitu orang yang selalu mengikuti kata hatinya dan orang yang tidak melaksanakan pendapatnya sendiri.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

"wahai Sadara-saudaraku, dengarkanlah apa yang dikatakan Habib Ali! Beliau meminta kepada kita untuk selalu meluangkan waktu menghadiri majlis-majlis semacam ini ( ta'lim, Zikir )! Ketahuilah bahwa menghadiri suatu majlis yang mulia akan dapat menghantarkan kita kepada suatu derajat yang tidak dapat dicapai oleh banyaknya amal kebajikan yang lain. Simaklah apa yang dikatakan guruku tadi!"

Wasiat Nasehat ( Zuhud )

Wasiat Nasehat ( Zuhud )
======================
Orang Zuhud itu mempunyai tiga Syarat :

1. Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, menerima apa yang ada, juga tidak merisaukan segala sesuatu yang tidak ada, akan tetapi giat dalam bekerja, karena bekerja adalah mencari rizki, sedangkan mencari rizki, suatu kewajiban.
2. pujian dan celaan adalah hal yang sama, tidak bergembira bila mendapat pujian, juga tidak bersedih jika mendapat celaan atau hinaan.
3. mengutamakan ridho Allah swt dari pada ridho manusia atau merasa tenteram jiwanya bersama Allah swt dan merasa bahagia sebab dapat mentaati semua tuntutannya.
( Imam Hasan Basri )

Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.”
( Imam Syafi’i )

“Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.”
( Imam Syafi’i )

“Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.”
( Imam Syafi’i )

“Sangat jauh jika bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar tentang arti mabuk, meskipun yang mengalaminya mungkin belum pernah mendengar teori mabuk. Maka mengetahui arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.”
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : tobat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat dan ridha. Karena itu seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih."
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

”Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Allah swt, sedangkan perjumpaan dengan Allah swt itu adalah seperti kedipan mata, atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

”Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu, dan dirimu adalah tabir penghalang bagi tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak melihat tuhanmu.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.”
“Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,”
( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )

“Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan qurb ( kedekatan ) kepada Allah swt, air telaga dari celah wishal ( persatuan dengan Allah swt ), dan pengetahuan pada puncak tujuan.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

Wasiat Nasehat ( Perilaku Manusia )

Wasiat Nasehat ( Perilaku Manusia )
========================
"Tiga kelompok manusia yang membuatku heran hingga tertawa :
1. Orang yang senantiasa mengangan-angankan dunia, padahal kematian selalu mengejarnya.
2. Orang yang lalai, padahal semua perbuatannya tidak akan dilalaikan ( akan dibalas )
3. Orang yang tertawa, padahal dia tidak tahu, Allah swt yang Maha memelihara alam semesta, murka atau ridha kepadanya.
( Sayyidina Salman Al-Farisi )

“Bilamana dirimu digigit oleh kekejaman masa,
maka janganlah kamu mengadu kepada manusia.
Dan janganlah kamu meminta selain kepada Allah Tuhan yang Maha penolong, yang Maha Tahu dan yang Maha Benar.
Karena seandainya kamu hidup dan kamu telah berkeliling dari belahan barat sampai kebelahan timur,
maka tentu kamu tidak menemukan seorangpun yang mampu membuat orang lain bahagia atau sengsara.”
( Imam Husein bin Ali Bin Abu Thalib Ra )

“Orang yang berhati hasud (dengki) tidak akan meraih kemulyaan dan orang yang suka dendam, akan mati merana. Sejelek-jeleknya saudara adalah yang selalu memperhatikan dirimu ketika kamu kaya dan ia menjauhi kamu, ketika kamu dalam keadaan melarat. Bersikap rela terhadap taqdir Allah swt yang tidak menyenangkan adalah merupakan martabat yang tinggi.”
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Kenalkanlah rasa kasih sayang dalam hati saudaramu dengan cara memperkenalkannya terlebih dahulu didalam hatimu.”
( Sayyidina Imam Muhammad Al-Baqir )

“Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, tak akan tahan dalam menunaikan kewjiban.”
( Sayyidina Imam Muhammad Al-Baqir )

"Duhai Anakku! Barangsiapa merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah swt, maka dia kaya. Barangsiapa suka memandang harta orang lain, dia akan mati miskin. Barangsiapa tidak ridha dengan apa yang telah diberikan Allah swt kepadanya, maka dia telah menentang keputusan-Nya ( qadha ). Barangsiapa memandang remeh kesalahannya, maka dia akan memandang besar kesalahan orang lain. Barangsiapa memandang besar kesalahannya, maka dia akan memandang remeh kesalahan orang lain.
Duhai Anakku! Barangsiapa membuka aib orang lain, maka aib keturunannya akan tersingkap. Barangsiapa menghunus pedang seorang yang bengis, maka dia akan terbunuh darinya. Barangsiapa menggali lubang untuk mencelakakan saudaranya, maka dia sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya. Barangsiapa memasuki tempat-tempat yang biasa dikunjungi orang-orang bodoh, maka dia akan direndahkan. Barangsiapa bergaul dengan Ulama, dia akan dimuliakan. Dan barangsiapa memasuki tempat-tempat kemaksiatan, maka dia akan dituduh berbuat maksiat."
( Imam Ja'far Ash-Shodiq )

Yang menyebabkan Agama itu rusak adalah hidup tamak, sedangkan yang menyebabkan Agama itu baik adalah hidup wara’
( Imam Hasan Basri )

Saudaraku! Kuperingatkan kau agar tidak sombong. Ingatlah bahwa Allah swt senantiasa mengawasimu. Oleh karena itu jangan sekali-kali menghina seseorang atau menolak kebenaran yang disampaikan kepadamu. Allah swt murka kepada seseorang yang bersikap demikian dan ia akan merendahkan mereka yang menyombongkan diri. Bagaimana kau dapat menghina seorang Muslim, padahal kau tidak pernah tahu bagaimana akhir usiamu dan usianya kelak. Di samping itu kau juga tidak menhetahui, kelak engkau akan masuk mana, surga atau neraka?
Jika mau bersikap jujur, maka yang paling pantas untuk kau hina adalah dirimu sendiri. Sudahkah kau teliti keburukan-keburukan dirimu dan kekotoran jiwamu yang tidak diketahui orang lain, sehingga kau sucikan hati orang lain dank au cela dirimu sendiri?
Sesungguhnya kau dilarang untuk memuliakan dan menyucikan dirimu sendiri. Perbuatan ini haram bagimu, jika kau lakukan, kelak di hari kiamat kau akan berada di bawah telapak kaki orang-orang yang kau hina di dunia. Renungkanlah ini dan memohonlah kepada Allah swt untuk menolongmu menghapuskan kesombongan dari hatimu. Semoga Allah swt melindungi kita semua dari sifat sombong ini.
( Syekh Harits Al-Muhasibi )

“Menghindarkan telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik merupakan suatu keharusan, sebagaimana seseorang mensucikan tutur katanya dari ungkapan buruk.”
( Imam Syafi’i )

Kedermawanan dan kemuliaan adalah dua hal yang dapat menutupi aib.
( Imam Syafi’i )

“Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat menghalau segala rintangan.”
( Imam Syafi’i )

“Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk ketertipuan. Berpegangan dengan suatu pendapat itu lebih selamat daripada berkelebihan dan penyesalan. Melihat dan berpikir, keduanya akan menyingkap keteguhan hati dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan orang bijak merupakan bentuk kemantapan jiwa dan kekuatan mata hati. Maka, berpikirlah sebelum menentukan suatu ketetapan, atur strategi sebelum menyerang, dan musyawarahkan terlebih dahulu sebelum melangkah maju ke depan.”
( Imam Syafi’i )

“Keluarga manapun yang wanita-wanitanya tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang bukan anggota keluarga, dan laki-lakinya tidak pernah bertemu dengan wanita-wanita yang bukan dari keluarganya, niscaya akan ada dari anak-anak mereka yang bodoh.”
( Imam Syafi’i )

“Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai, dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka, maka lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu dan berpegang teguhlah dengannya.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang dipancing untuk marah, namun ia tidak marah, maka dia tak ubahnya keledai, dan barangsiapa yang diminta keridhaannya namun tidak ridha, maka dia adalah syetan.”
( Imam Syafi’i )

“Terimalah dariku tiga hal :

a. Jangan berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang tidak baik perihal Sahabat Rasulullah saw, karena kelak Rasulullah saw nantinya yang akan menjadi seterumu.
b. Janganlah kamu sibukkan dirimu dengan ilmu kalam, sesungguhnya aku telah melakukan kajian dengan ahli ilmu kalam dan mereka telah melakukan ta’thil ( meniadakan sifat Allah swt ).
c. Dan jangan menyibukkan dirimu dalam nujum ( ramalan dengan bintang ).
( Imam Syafi’i )

“Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik, maka posisikan dirimu di antara keduanya.”
( Imam Syafi’i )

“Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap dengan berfikir.”
( Imam Syafi’i )

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.”
( Imam Syafi’i )

“Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan, dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya, maka katakan kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.”
( Imam Syafi’i )

“Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat, perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya daya nalarnya.”
( Imam Syafi’i )

“Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :
• orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang tidak menghargainya.
• menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.
• mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.”
( Imam Syafi’i )

“Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah swt.”
( Imam Syafi’i )

“Karakter umum manusia adalah pelit, termasuk hal yang menjadi kebiasaannya adalah apabila ada orang yang mendekatinya, maka ia akan menjauhinya, dan apabila ada orang yang menjauh darinya, iapun akan mendekati orang itu.”
( Imam Syafi’i )

“Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal mereka.”
( Imam Syafi’i )

“Bukanlah orang yang berakal itu manakala dihadapkan kepadanya perkara yang baik dan perkara yang buruk, lantas ia memilih yang baik, akan tetapi dikatakan orang berakal apabila dihadapkan kepadanya dua hal yang buruk lantas ia memilih yang paling ringan keburukannya di antara keduanya.”
( Imam Syafi’i )

“Perdebatan dalam agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan rasa dendam. “
( Imam Syafi’i )

“Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena ( sulitnya ) ia belajar, dan tidak menyukai pelajaran.”
( Imam Syafi’i )

“Sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan sesamanya.”
( Imam Syafi’i )

“Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik, maka posisikan dirimu di antara keduanya.”
( Imam Syafi’i )

“Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap dengan berfikir.”
( Imam Syafi’i )

“Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.”
( Imam Syafi’i )

“Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan, dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya, maka katakana kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.”
( Imam Syafi’i )

“Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat, perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya daya nalarnya.”
( Imam Syafi’i )

“Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :
• orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang tidak menghargainya.
• menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.
• mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.”
( Imam Syafi’i )

“Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa benar dalam berukhuwah dengan saudaranya, maka kekurangannya akan diterima, kelemahannya akan ditutup dan kesalahan-kesalahannya dimaafkan.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa mengadu domba untuk kepentinganmu, maka dia akan mengadu domba dirimu; dan barangsiapa menyampaikan fitnah kepadamu, maka ia akan memfitnahmu.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa jika engkau menyenangkannya, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu. Begitu juga ketika kau membuatnya marah, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu.”
( Imam Syafi’i )

“Tak akan sempurna ( akal ) seorang laki-laki, kecuali dengan empat hal; beragama, amanah, pemeliharaan dan penjagaan diri, serta ketenangan dan ketabahan.”
( Imam Syafi’i )

“Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah sikap permusuhan.”
( Imam Syafi’i )

“Siasat manusia jauh lebih dahsyat dari siasat binatang.”
( Imam Syafi’i )

“Orang yang berakal adalah mereka yang dapat menjaga dirinya dari segala perbuatan tercela.”
( Imam Syafi’i )

“Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.”
( Imam Syafi’i )

“Berapa banyak orang yang telah berbuat kebajikan kepadamu yang membuatmu terbelenggu dengannya, dan berapa banyak orang yang memperlakukanmu dengan kasar dan ia memberi kebebasan kepadamu.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang*ditertawakan karena suatu masalah, maka ia tidak akan pernah melupakan masalah tersebut.”
( Imam Syafi’i )

“Jika terdapat banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mulailah dari yang terpenting dan mendesak.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa menyimpan rahasianya, maka kebaikan ada di tangannya.”
( Imam Syafi’i )

"Barangsiapa hendak mengetahui aib-aibnya, maka ia dapat menempuh empat jalan berikut :
1. Duduk dihadapan seorang guru yang mampu mengetahui keburukan hati dan berbagai bahaya yang tersembunyi didalamnya. Kemudian ia memasrahkan dirinya kepada sang guru dan mengikuti petunjuknya dalam bermujahadah membersihkan aib itu. Ini adalah keadaan seorang murid dengan syeikhnya dan seorang pelajar dengan gurunya. Sang guru akan menunjukkan aib-aibnya dan cara pengobatannya, tapi di zaman ini guru semacam ini langka.
2. Mencari seorang teman yang jujur, memiliki bashiroh ( mata hati yang tajam ) dan berpegangan pada agama. Ia kemudian menjadikan temannya itu sebagai pengawas yang mengamati keadaan, perbuatan, serta semua aib batin dan zhohirnya, sehingga ia dapat memperingatkannya. Demikian inilah yang dahulu dilakukan oleh orang-orang cerdik, orang-orang terkemuka dan para pemimpin agama.
3. Berusaha mengetahui aib dari ucapan musuh-musuhnya. Sebab pandangan yang penuh kebencian akan berusaha menyingkapkan keburukan seseorang. Bisa jadi manfaat yang diperoleh seseorang dari musuh yang sangat membencinya dan suka mencari-cari kesalahannya adalah lebih banyak dari teman yang suka bermanis muka, memuji dan menyembunyikan aib-aibnya. Namun, sudah menjadi watak manusia untuk mendustakan ucapan musuh-musuhnya dan mengangnya sebagai ungkapan kedengkian. Tetapi, orang yang memiliki mata hati jernih mampu memetik pelajaran dari berbagai keburukan dirinya yang disebutkan oleh musuhnya.
4. Bergaul dengan masyarakat. Setiap kali melihat perilaku tercela seseorang, maka ia segera menuduh dirinya sendiri juga memiliki sifat tercela itu. Kemudian ia tuntut dirinya untuk segera meninggalkannya. Sebab, seorang Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Ketika melihat aib orang lain ia akan melihat aib-aibnya sendiri.
( Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu :
"Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah swt jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku"
jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) :
"Anak ini belum bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku."
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) :
"Dia telah beribadah kepada Allah swt jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku."
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah ( dalam hatimu ) :
"Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku."
Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah ( dalam hatimu ) :
"Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia bodoh ( tidak tahu ), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku."
Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah ( dalam hatimu ) :
"Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk."
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir Al-Jailany )

“Barangsiapa diam, ia akan selamat dan barangsiapa berbicara ia akan menyesal.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Barangsiapa tidak memelihara waktunya, ia tidak akan selamat dari bencana.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Barangsiapa bergaul dengan orang baik, ia akan memperoleh berbagai pengetahuan dan asrar, dan barangsiapa bergaul dengan orang-orang jahat, ia akan memperoleh aib dan siksa neraka.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Berprasangka baiklah kepada sesama hamba Allah, sebab buruk sangka timbul karena tiadanya taufiq. Ridhalah selalu pada qodho, bersikap sabarlah, walaupun musibah yang kamu alami teramat besar. Firman Allah : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan dibalas dengan pahala tanpa batas. ( Az Zumar, 39 :10 )”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Dan tinggalkanlah hal-hal yang tidak ada manfaatnya bagimu, dan benahilah dirimu lebih dahulu.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Barang siapa yang tidak meninggalkan kebiasaannya untuk merokok sampai 40 hari sebelum matinya, maka ditakutkan ia akan mati dalam keadaan Su’ul Khatimah.”
( Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim )

“Perhatikan kebiasaan baik yang engkau inginkan, wafat dalam kebiasaan itu, karena itu tetaplah dalam kebiasaan itu, dan perhatikanlah kebiasaan buruk yang engkau tidak inginkan wafat dalam kebiasaan seperti itu, karena itu jauhilah kebiasaan itu.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Jika engkau melihat seseorang selalu berkelakuan baik, maka yakinlah engkau orang itu teguh agamanya.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Bersabar itu akibatnya adalah positif. Allah SWT akan selalu memberi akibat positif bagi seorang yang bersabar, alhamdulillah apa yang dikehendaki Allah SWT pasti akan ditentukan dan apa yang akan dilaksanakan Allah SWT, maka akan terlaksana.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Yang dikatakan orang baik adalah seorang yang telah melewati pintu surga sampai masuk kedalamnya.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Kedzaliman kaum penguasa terhadap rakyatnya akan menambah kebajikan bagi rakyat negeri itu, baik di dalam masalah dunianya, maupun akheratnya, yang demikian itu sama halnya dengan sebuah sumur, makin banyak diambil airnya, maka sumur itu makin banyak memancarkan air; sebaliknya jika sumur itu tidak diambil airnya, maka tidak akan bertambah airnya sedikitpun, mungkin airnya akan menjadi busuk, karena air didalamnya tidak pernah bergerak.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Wahai saudaraku, berprasangka baiklah kepada Allah swt, wujudkanlah kebenaran janji-Nya, dan rasakanlah kebesaran rahmat-Nya. Cukuplah bagi kita firman Allah swt, seperti disabdakan Rasulullah saw, “Aku bersama prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, maka berprasangkalah kepada-Ku sesukamu.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Setiap orang memiliki 360 urat. Ada urat yang akan mendorongnya untuk berbuat kebaikan, dan ada yang akan menggerakkannya untuk berbuat kejahatan. Jika melihat orang saleh, urat-urat kebaikan akan menggerakkannya untuk berbuat baik. Jika melihat orang durhaka, maka urat-urat keburukannya akan menggerakkannya untuk berbuat jahat.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Orang yang mudah iri, menyangka bahwa semua orang iri; orang yang suka bermaksiat menyangka bahwa semua orang suka bermaksiat; dan orang yang saleh menyangka semua orang gemar berbuat kebaikan.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Segala kesedihan yang dapat hilang dengan uang, bukanlah kesedihan.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

Diwan Imam Syafi'i



Diwan Imam Syafi'i
===================
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح

فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa.Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i - Beirut, page. 42]

ini adalah salah satu contoh diwan dari Imam syafi'i yang bermakna sangat dalam. banyak dari kita yang tidak mengetahui mutiara kata dari imam besar ini. Beliau lebih terkenal sebagai Imam Mazhab dan ahli fiqih, tapi sesungguhnya beliau juga adalah seorang sufi dan ahli tasawuf, akan tetapi tidak banyak yang menggambarkan sosok sufinya.
berikut adalah mutiara kata dari Imam Syafi'i, semoga kita bisa mendapatkan pencerahan dan hikmah dari kata-kata beliau.. Amien


1) MENERIMA TAKDIR ALLAH
l. Biarlah hari-hari itu berlalu Kerjakan yang engkau sukai Apabila takdir sudah menentukan Maka berlapang dadalahkau
2. Janganlah engkau gelisah Terhadap musibah-musibah malam hari Karena tiada satu pun musibah itu Yang kekalabadi
3. Kuatkanlah dirimu Menghadapi cobaan-cobaan hidup Surah hati dan setia Hendaklah menjadi pekertimu
4. Meski bagai buih lautanKeaibanmu di kalangan orang lainNamun rahasia pribadimuHendaklah selalu tersimpan
5. Tutuplah rahasiamuDengan kemurahan hatiKarena konon semua keaiban Dapat ditutup dengan kemurahan hati
6. Jangan engkau tampakkan kelemahan pada lawanmuKarena kuatnya mental lawan Merupakan bahaya bagimu
7. Jangan engkau harapkan Kemurahan orang yang kikir Sebab orang yang sedang kehausan Tak akan mendapatkan airdalam api
8. Sebuah keterlambatan Tak akan mengurangi rizkimu Dan rizkimu pun tak akan bertambah Dengan kepayahanbadanmu
9. Tiada kesusahan yang kekal Tiada kegembiraan yang abadi Tiada kefakiran yang lama Tiada kemakmuran yanglestari
10. Apabila sikap hatimu Selalu rela dengan apa yang ada Maka tak ada perbedaan bagimu Antara dirimu sendiri danpara hartawan
11. Apabila ajal datang padamu Maka tak sejengkal bumi Tidak pula sebidang langit Yang dapat melindungimu
12. Bumi Allah amatlah luas Namun suatu saat Apabila takdir sudah datang Angkasapun menjadi sempit
13. Biarlah hari-hari itu Tidak setia setiap saat Sebab obat apa pun juga Tak akan menangkal ajal

2)NILAI DOA
l4. Apakah engkau meremehkan Suatu doa kepada Allah Apakah engkau tahuYang dihasilkan oleh doa15. Ibarat panah di malam hariIa tidak akan meleset Namun ia punya batasDan setiap batas ada saatnya selesai

(3)PEDIHNYA UJIAN HIDUP
16. Banyak orang berbicara tentang hal ihwal wanitaKonon mcncintui wanita adalah ujian hidup yang pedih
17. Mencintai wanita Bukanlah cobaan hidup yang pedih Tetapi dekatnya orang yang tidak disukai Itulah cobaan hidupyang pedih


(4) SASTERAWAN
18 Aku terlambat Diantara orang-orang yang dungu yang tidak tahu hak-hak sastrawan sampai kepala ditukarnyadengan ekor
19. Manusia dapat disatukanNamun akalnya tetap berbedaBaik dalam masalah sastera Maupun dalam masalah hitungan
20. Tak ubahnya emas Ibriz Semuanya berwarna kuning Namun tidak semua emas Punya nilai yang sama
21. Dan kayu-kayu cendana Bila tidak semerbak baunya Tak dapat dibedakan orang Mana yang cendana mana yangkayu bakar

(5) NASIB UNTUNG
22. Singa yang buas Mati kelaparan di hutan Dan daging-daging domba dimakan anjing
23. Hamba sahaya yang hina Terkadang tidur di atas sutera Sedang bangsawan mulya Tidur di atas debu

(6) GEJALA UBANAN DAN AMAL SALIH
24. Padamlah semangat dirikuKarena rambutmu sudah berubanMalam-malamku pun menlaJi gelap Mestupun hmtang-hintang bercahaya
25. Burung hantu yang manaBersarang di atas kepalakuYang memakasaku hegituWaktu gagak hitamku terbang
26. Engkau datang kepadaku Saat umurku sudah menua Karena tempat bernaungmu Hanyalah rumah-rumah tua
27. Apakah sejahtera hidupku Setelah rambut cambangkuDiliputi uban-uban putih Dan semir menghitam tidak berguna lagi
28. Bila kulit orang sudah menguning Dan rambut rambutnya sudah memutih.Hari-hari yang indah Kian keruh pula jadinya
29. Tinggalkanlah olehmu Perbuatan-perbuatan yang buruk Karena manusia yang hertakwa Tidak holehmengerjakannya
30. Tunaikanlah zakat kedudukanmu karena zakat ini tak ubahnya seperti zakat harta Apabila sudah cukup nisahnya
3l. Berhuat baiklah kepada orang merdeka Maka engkau dapat menguasainya karena sehaik-haiknya dagangan orangmulya Adalah pekerjaannya
32. Jangan hejalan di atas humi Dengan sombong dan congkak Karenaa tiada lama lagi engkau masuk ke bumi juga
33. Siapa yang ingin mencicipi dunia Akulah rasa dunia itu Pahit rerta getirnya Telah herkumpul dalam diriku
34. Dunia yang kulihat Adalah tipu daya dan kebatilan Tak ubahnya sebuah fatamorgana yang tampak di tengah sahara
35. Dunia hanyalah bangkai yang berbau Yang dimakan anjing -anjing Anjing-anjing itu hanya ingin Menarik-narik dan merobeknya
36. Apabila engkau menghindarinya Maka dirimu akan selamat Apabila engkau ikut menariknya berarti engkauberebutan dengan anjing
37. Beruntungnlah orang-orang Yang rumahnya terang menyala Dan tertutup pintu-pintunya Dan raput pulakelambunya.


(7) MURAH HATI DAN BUDI BAIK
38. Apabila orang hina mencaciku Derajatku justru meningkat Dan segala keaiban yang kuterima Aku pula pangkalsebabnya
39. Seandainya jiwaku Tidak lebih mulya dari diriku Niscaya aku sudah menguasainya Dari or`ng hina yangmelawannya
40. Andaikan aku berusahi Untuk kepentinganku puia Engkau akan melihatku Pelan-pelan terhadap yang kucari
41. Namun aku berusaha Vntuk kepentingan kawanku Sebab aib rasanya seorang kenyang perutnya Sedang kawannyadalam kehparan
42. Orang yang bodoh pun memberitalui Dengan segala cara yang buruk
43 Ia semakin dunguSedang aku semakin bijaksanaIbarat kayu cendanaSemakin terbakar semakin harum baunya45.Apabila engkaumelayaninyaEngkau telah menyenangkannyaApabila engkau membiarkanIa akan mati busuk

Untuk edisi lengkap silahkan melihat di link berikut:
http://www.scribd.com/doc/8743839/Diwan-Imam-Syafii-INDONESIA

Imam Syafi'i : Jadilah Faqih dan Sufi

Imam Syafi'i : Jadilah Faqih dan Sufi
====

Sultan al-Malik al-Kamil Muhammad bin al-Malik al-`Adil Abu Bakar bin Ayyub daripada Dinasti Ayyubi yang memerintah Mesir satu ketika dahulu telah membangun sebuah kubah indah menaungi makam Sulthanul A-immah Muhammad bin Idris asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu.

Atas kubah tersebut dibangun suatu lambang berbentuk kapal atau bahtera dan bulan sebagai*isyarat bahawa di bawah kubah tersebut bersemadinya "Bahrul `Ulum" [Lautan Ilmu Pengetahuan], Sulthanul A-immah, Imam al-Muthallibi, Muhammad bin Idris asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu. Keluasan ilmu dan wawasan Imam asy-Syafie diibaratkan seperti lautan yang tidak bertepi. Sebahagian ulama tatkala menziarahi makam Imam besar ini telah mendendangkan syair yang artinya berbunyi:-


Telah kudatangi kuburnya asy-Syafi`i untuk kuziarahi
Kudapati bahtera padanya tanpa samudera di sisi
Maka kukatakan: Maha Tinggi Allah, inilah isyarat menunjuki
Bahawasanya samudera telah ditelan oleh kuburnya Syafi`i

Imam besar ini telah menghabiskan umur beliau di dunia dengan sebaik-baiknya, penuh kesalihan dan manfaat bagi sekalian umat Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam. Umur beliau yang berkat itu juga ditutup*dengan khatimah yang baik, hari Jumaat akhir bulan haram, Rajab. Diceritakan bahawa Imam az-Za'faarani radhiyaAllahu `anhu memberitakan yang beliau mendengar Imam Ahmad radhiyaAllahu `anhu berkata:

"Aku telah bermimpi seakan-akan Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam wafat dan banyak orang melayat jenazah Rasulullah. Maka tatkala pagi harinya, kami dapati bahawa Imam asy-Syafie yang telah wafat pada hari tersebut."

Imam asy-Syafie radhiyaAllahu `anhu adalah seorang imam dalam berbagai lapangan ilmu - ilmu Islam dan beliau juga adalah seorang yang berjalan atas landasan tasawwuf dalam kehidupan sehariannya. Bahkan, beliau berpesan agar seseorang itu menjadikan dirinya orang yang faqih lagi sufi dan bukan hanya faqih dan hanya sufi semata-mata.

Ini adalah karana faqih yang tidak berjalan atas landasan tasawwuf, maka hatinya akan menjadi keras akibat penyakit-penyakit hati yang bersarang dalamnya, manakala sufi yang tidak mempedulikan ilmu fiqh, akan menjadi seorang yang jahil akan hukum-hukum dan ketentuan agamanya. Perkara ini dinyatakan oleh Imam asy-Syafi`i, antaranya, dalam bait-bait syair yang beliau gubah. Bait-bait ini termaktub dalam diwannya yang masyhur. Namun perlu diberi perhatian bahwa dalam sesetengah cetakan "Diwan al-Imam asy-Syafi`i" dan yang dalam bentuk e-book, bait-bait ini telah digugurkan oleh mereka-mereka yang anti kepada sufi dan tasawwuf sebagaimana yang telah mereka lakukan dalam karangan panutan mereka sendiri, Ibnu Taimiyyah, dalam himpunan fatwanya. Berbalik kepada "Diwan al-Imam asy-Syafi`i" maka pada halaman 47, Imam asy-Syafi`i radhiyaAllahu `anhu bersyair dengan katanya yg artinya:-




Faqih lagi sufi, Engkau jadikan dirimu
Kedua-duanya sekali, Jangan hanya salah satu
Demi Allah, Sungguh - sungguh aku menasihatimu
Faqih semata tiada merasa takwa, kerna hatinya membatu
Manakala semata sufi itu jahil, Kurang faham, tiada ilmu
Justru bagaimana si jahil, menjadi baik sholih lagi bermutu ?

Oleh itu, janganlah meremeh-remehkan ilmu fiqh dengan mengganggapnya tidak penting karana itu adalah kulit saja. Berusaha menjadikan diri kita orang yang faqih dan sufi sebagaimana nasihat dan pesanan Imam kita asy-Syafi`i tersebut. Insya-Allah, kita memperolehi keselamatan dan laba di akhirat nanti.

Jangan jadi sesetengah manusia zaman ini,
Dengan thoriqat dia menisbah diri
Saban hari berkhayal dirinya wali
Namun lalai syariat Ilahi
Majlis ilmu ia jauhi
Para ulama tiada ia hampiri
Rasa dirinya sudah mencukupi
Lagi pula guru thoriqatnya wali
Kalau pun sungguh bagai yang dirasai
Maka yang wali itu si gurunya tadi
Sang Guru wali
Ilmunya penuh amalnya selari
Memadaikah bagi si murid hanya dengan bangga diri

Sumber: Bahrus Shofa

Minggu, 01 April 2012

Doa Al Faraj li Sayyidina Al Khidir Alaihissalam

Sufi Road : Doa Keselamatan Nabi Khidir AS
===========================
Doa Al Faraj li Sayyidina Al Khidir Alaihissalam


Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam, Allahumma kamaa lathafta fii ‘adhamatika duunalluthafaa, wa ‘alawta bi‘adhamatika alal ‘udhamaa, wa ‘alimta maa tahta ardhika ka’ilmika bimaa fauqa ‘arsyika, wa kaanat wasaawisasshuduuri kal’alaniyyati ‘indaka, wa ‘alaa niyyatilqauli kassirri fii ilmika, wanqaada kullu syay’in li ‘adhamatika, wa khadha’a kullu dzi sulthaanin li sulthaanika, wa shaara amruddunya wal akhirati kulluhu biyadika.Ij’al lii min kulli hammin ashbahtu aw amsaiytu fiihi farajan wa makhrajaa,Allahumma inna ‘afawaka ‘an dzunuubiy, wa tajaawazaka ‘an khathii’athiy, wa sitraka alaa qabiihi a’maaliy, athmi’niy ‘an as’aluka maa laa astawjibuhu minka mimma qashhartu fiihi, ad’uuka aaminan, wa as;aluka musta;anisaa. Wa innakalmuhsinu ilayya, wa analmusii’i ilaa nafsiy fiima bayniy wa bainaka, atawaddaduu ilayya bini’matika, wa atabagghadhu ilaika bilma’ashiy, alakinnattsiqata bika hamalatniy alal Jaraa’ati ‘alaika, fa’ud bifadhlika wa ihsaanika alayya. innaka antattawaburrahiim ,wa shalallahu alaa Sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallim.

Artinya
Wahai Allah, Sebagaimana Engkau telah berlemah lembut dalam Keagungan Mu melebih
segenap kelembutan, dan Engkau Maha Luhur dan Keagungan Mu melebihi semua Keagungan,
Dan Engkau Maha Mengetahui terhadapa apa apa yg terjadi di Bumi sebagaimana Engkau
Maha Mengetahui apa apa yg terjadi Arsy Mu, dan semua yg telah terpendam merisaukan hati adalah jelas terlihat dihadapan Mu, dan segala yg terang terangan diucapkan adalah Rahasia Yang terpendam dalam Pengetahuan Mu, dan patuhlah segala sesuatu pada Keagungan Mu, dan tunduk segala penguasa dibawah Kekuasaan Mu, maka jadilah segenap permasalahan dunia dan akhirat dalam Genggaman Mu, Maka jadikanlah segala permasalahanku dan kesulitanku segera terselesaikan dan termudahkan pada pagiku atau soreku ini, Wahai Allah kumohon maaf Mu atas dosa dosaku, dan kumohon pengampunan Mu atas kesalahan kesalahanku, dan kumohon tabir penutup Mu dari keburukan amal amalku, berilah aku dan puaskan aku dari permohonanku yg sebenarnya tidak pantas diberikan pada Ku karena kehinaanku, kumohon pada Mu keamanan, dan kumohon pada Mu Kedamaian bersama Mu, Sungguh selalu berbuat baik padaku, sedangkan aku selalu berbuat buruk terhadap diriku atas hubunganku dengan Mu, Kau Ulurkan Cinta kasih sayang lembut Mu padaku dengan kenikmatan kenikmatan Mu, sedangkan aku selalu memancing kemurkaan Mu dg perbuatan dosa, namun kuatnya kepercayaanku pada Mu membawaku untuk memberanikan diri lancang memohon pada Mu, maka kembalikanlah dengan Anugerah Mud an Kebaikan Mu padaku, Sungguh Engkau Maha Menerima hamba hamba yg menyesal dan Engkau Maha Berkasih sayang, Dan shalawat serta salam atas Sayyidina Muhammad serta keluarga dan limpahan salam, dan segala puji bagi Allah Pemilik Alam semesta.

Kenalilah Aqidahmu : Haib Munzir Al Musawa

MENGAMBIL/ NGALAP BERKAH/ BAROKAH



NGALAP BERKAH/ BAROKAH
====================
Tabaruk adalah mengambil berkah, dari benda, baju, debu, air liur, airmata, keringat, atau apa saja dari tubuh shalihin atau benda yg disentuh oleh mereka.
Banyak contoh tabaruk yang diajarkan oleh Rasulullah dan diikuti oleh para sahabat. Tidak ada pertentangan soal ini beratus-ratus tahun sebelum munculnya pemahaman baru yang membidahkan dan mensyirikanya.
Berikut adalah contoh tabaruk yang diajarkan para sahabat yaitu: Tabaruk dengan Air Ludah dan Air Bekas Wudu Nabi SAW, Tabaruk dengan Gelas Nabi SAW, Tabaruk dengan Mimbar Nabi SAW, Tabaruk dengan Uang Pemberian Nabi SAW, Tabaruk dengan Tongkat Nabi SAW, Tabaruk dengan Baju Nabi SAW

1. Tabaruk dengan Air Ludah dan Air Bekas Wudu Nabi saw.
Kita pun mendapati banyak hadis yang bertutur lentang tabaruk dengan air ludah dan air bekas wudu Nabi saw. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa para sahabat akan berebut untuk mendapatkan air bekas wudu Nabi saw., yang kemudian dibasuhkan ke wajah mereka. Al-Nawawi berkata, "Dalam riwayat ini terdapat dalil bagi mencari keberkahan melalui benda-benda peninggalan para wali—fihi al-tabarruk bi atsar al-shalihin." Nabi saw. pernah menyembuhkan orang sakit dengan air ludahnya yang dicampurkan dengan tanah dan dibacakan, "Bis-millah, debu tanah kami dengan ludah salah seorang dari kami akan menyembuhkan orang yang sakit di antara kami dengan izin Tuhan kami."
Mengenai hadis ini, Ibn Hajar menulis:
Ucapan Nabi saw. "dengan ludah salah seorang dari kami" menunjukkan bahwa beiiau akan meludah ketika membaca doa perlindungan {ruqyah). Al-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih. Muslim, "Arti hadis itu adalah bahwa Nabi saw. meletakkan sebagian air ludahnya ke jari telunjuknya, meletakkannya ke tanah, mencampurnya, lalu dipergunakan untuk membasuh bagian tubuh yang sakit atau luka, seraya mengucapkan hadis itu." Al-Qurthubi berkata, "Hadis itu menunjukkan kebolehan menggunakan doa
perlindungan terhadap segata macam pcnyakit, dan menunjukkan bahwa hal ini dikenal luas di antara mereka." la juga bcrkata,
"Nabi saw. melelakkan jarinya di tanah dan mengambil tanah dengan jarinya itu menunjukkan bahwa Nabi saw. mcmang meniatkan hal itu, ditambah lagi kctika beliau mcmbaca doa perlindungan, Ini tentunya termasuk dalam bagian mencari keberkahan (tabaruk) melalui Nama-Nama Allah dan melalui peninggalan Nabi saw bagi kita."

Ibn Hajar menyimpulkan, Doa Perlindungan (ruqa":) dan azimat (azA'im) memiliki pengaruh yang sangal besar, sifat sejati dari sesuatu yang menakjubkan pikiran.
Menurut al-Bukhari, Abu Dawud, Ahmad, dan al-Baiha-qi, Nabi saw. memerintahkan setiap orang uniuk membawa anak-anak bayinya kepadanya. Beliau akan membacakan kepada mereka, seraya meniup dan meludah (nafh dan thifl) ke dalam mulut mereka. Beliau memerintahkan ibu anak-anak itu untuk tidak menyusui mereka hingga malam hari. Beliau melakukan hal serupa di Mekah. Diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa ada lebih dari 100 orang dari kalangan Ansar dan Muhajirin yang menerima keberkahan khusus ini. Nama-nama mereka tercantum dalam buku-buku biografi besar.

2. Tabaruk dengan Gelas Nabi SAW
Benda lain yang dijadikan objek tabaruk adalah gelas peninggalan Nabi saw. Hajjaj ibn Hassan berkata, "Ketika kami berada di rumah Anas, tuan rumah mengeluarkan gelas Nabi saw. dari sebuah kantong berwarna hitam. la memerintahkan agar gelas itu diisi air dan kami minum darinya serta menyiramkan sisanya ke kepala dan wajah kami lalu membaca salawat kepada Nabi saw.""
Ashim berkata, "Aku melihat gelas itu dan minum darinya."

3.Tabaruk dengan Mimbar Nabi SAW
Benda berikutnya adalah mimbar Nabi saw. Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah menyentuh kursi mimbar Nabi saw. dan kemudian mengusap wajahnya untuk mencari keberkahan."
Dari Abu Hurairah, Jabir, Abu Imamah, dan Malik bahwa Nabi SAW menetapkan sunah hukumnya untuk bersumpah demi kebenaran dari mimbarnya ilu. Ibn Hajar berkata, "Dan di Mekah, orang akan bersumpah di antara sudut Yamani dan Maqam Ibrahim (maqam Ibrahim)

4.Tabaruk dengan Uang Pemberian Nabi SAW
Uang yang pernah diberikan Nabi saw. juga menjadi media tabaruk sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bahwa ia menjual seekor unta kepada Nabi saw. dan Nabi saw. memerintahkan Bilal untuk menambah satu qirath (1/12 dirham) atas harga jual yang disepakati. Jabir berkata, "Uang tambahan Nabi saw. itu tak akan pernah meninggalkan diriku." Ia tetap menyimpan uang tambahan tersebut.

5. Tabaruk dengan Tongkat Nabi SAW
Benda yang lainnya adalah tongkat Nabi saw. Diriwayatkan bah¬wa ketika Abdullah ibn Anis kembali dari sebuah peperangan dan berhasil membunuh Khalid ibn Sufyan ibn Nabih, Nabi SAW memberinya tongkat beliau seraya bersabda, "Tongkat ini akan menjadi tanda antara kau dan aku di Hari Kiamat." Sejak saat itu ia tak pernah berpisah dari tongkat itu, yang kemudian dikuburkan bersamanya ketika ia wafat.
Qadhi Iyadh meriwayatkan bahwa setelah Jihjah al-Ghifari mengambil tongkat Nabi saw. dari tangan Utsman dan mencoba mematahkannya dengan lututnya, tiba-tiba lututnya itu diserang penyakit yang kemudian mengakibatkan kakinya mesti dipotong. Ia wafat pada tahun itu juga.

6.Tabaruk dengan Baju Nabi SAW.
Benda peninggalan Nabi yang lainnya adalah baju bcliau. Diriwayatkan dari Jabir bahwa ia berkata, "Nabi SAW datang setelah Abdullah ibn Ubay dileTakkan di dalam kuburnya. Beliau memerintahkan agar ia dikeluarkan kembali. Kemudian beliau meletak-kan tangannya di lutut Abdullah, menyemburkan (nafli) napas bercampur ludah, dan memakaikan baju beliau kepadanya."

Dari Sahl bin Sa'ad RA mengenai kisah pakaian burdah yang dimintanya dari Nabi SAW. Saat itu sahabat-saha-batnya mengecamnya lantaran meminta pakaian burdah tersebut kepada Nabi SAW padahal beliau masih memakai-nya. Sahl bin Sa'ad RA mengatakan, "Aku memintanya kepada beliau hanya agar dijadikan sebagai kafanku." Dalam riwayat lain, "Aku berharap keberkahan-nya karena Nabi SAW telah mengena-kannya, semoga aku dapat dikafani dengannya." Hadits Sahl ini disampaikan oleh Al-Bukhari (1218).

Pada riwayat keduanya juga terdapat hadits ini (5689), dari Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia mengatakan, "Ini adalah jubah Rasulullah SAW. Asma' mengeluarkan jubah Thayalisi Kisrawani kepadaku dan mengatakan, 'Dulu ini berada di tempat Aisyah. Begitu Aisyah wafat, jubah ini beralih kepadaku. Dulu Nabi SAW mengenakannya. Kami membasuhkannya untuk orang-orang yang sakit dengan berharap kesembuhan lantaran jubah beliau ini'." - HR Muslim(2069).

Syafaat, Tawasul dan Tabaruk: Syeikh Hisyam Kabbani