ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 03 Desember 2012

DUA PULUH NASEHAT DALAM KITAB TAUROT

 -------------------------------------------------------
Telah tertulis dalam kitab Taurat 20 (dua puluh) nasihat dan ditambahkan tujuh (7) nasehat oleh Al-Imam Nawawi,  sehingga menjadi dua puluh tujuh (27) nasehat
 --------------------------------------------------------
Al-Syeikh Al-Imam Nawawi Al Bantaniy Al-Jawy menerangkan bahwa Al-Imam Wahab bin Munabbih, semoga Allah merahmati beliau, berkata: “Telah tertulis dalam kitab Taurat 20 (dua puluh) nasihat dan ditambahkan tujuh (7) nasehat oleh Al-Imam Nawawi,  sehingga menjadi dua puluh tujuh (27) nasehat, yaitu sebagai berikut:

1.Taqwa;
2. Marah;
3. Mencintai Kesenangan Dunia;
4. Hasud;
5. Sombong;
6. Harta, Pangkat dan Tahta;
7. Permusuhan;
8. Kikir;
9. Berleha-leha;
10. Makanan, Minuman, Pakaian, Ucapan, dan Perbuatan Haram;
11. Pemandangan Haram;
12. Bekerja;
13. Penghibur dalam Kubur;
14. Zuhud;
15. Penasehat diri;
16. Wara';
17. Tengah Surga;
18. Tanpa Perhitungan;
19. Orang Kaya;
20. Pandai;
21. Bijaksana;
22. Selamat dari Kejelekan Manusia;
23. Kemuliaan Dunia Akhirat;
24. Maksiat;
25. Dermawan;
26.Tafakur & Mengingat Mati;
27. Memohonkan Ampunan;
--------------------------------------

1.Taqwa

1. Barangsiapa yang mencari bekal di dunia untuk perjalanan akhirat dengan taqwa, yaitu menjauhi setiap sesuatu yang dikhawatirkan akan membahayakan agama, maka di hari kiamat dia akan menjadi kekasih Allah.

2.Marah

2. Barangsiapa yang meninggalkan marah, maka dia akan menjadi tetangga Allah.
Rasulullah saw. bersabda
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ .
“Bukanlah orang yang kuat itu sebab membanting lawannya; sesungguhnya orang yang kuat itu hanyalah orang yang dapat menguasai dirinya pada waktu marah”.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad s`w. bersabda:
 مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللهُ عَنْهُ عَذَابَهُ
“Barangsiapa yang dapat menahan marahnya, niscaya Allah akan menahan siksa-Nya terhadap dirinya”.

3.Mencintai Kesenangan Dunia

3. Barangsiapa yang meninggalkan kesenangan hidup di dunia dengan tidak mencintai kesenangan-kesenangan di dunia, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang aman dan selamat dari siksa Allah.

4.Hasud

4. Barangsiapa yang meninggalkan perbuatan hasud, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang terpuji di hadapan para makhluk.
Rasulullah saw. bersabda:
 إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيْ آدَمَ إِنَّمَا قَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ حَسَدًا
“Awas-awas kamu, jauhilah olehmu sekalian perbuata hasud; karena sesungguhnya kedua putera nabi Adam, salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanyalah karena hasud”.

5.Sombong

5. Barangsiapa yang meninggalkan kesenangan berlagak, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang mulia di sisi Dzat Yang Maha Merajai lagi Maha Perkasa.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
 مَا مِنْ رَجُلٍ يَتَعَاظَمُ فِيْ نَفْسِهِ وَيَخْتَالُ فِيْ مِشْيَتِهِ إِلاَّ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ .رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَالْحَاكِمُ
“Tiadalah seseorang laki-laki yang mengagungkan dirinya dan sombong dalam berjalan, kecuali dia akan bertemu Allah sedangkan Allah sangat murka kepadanya”. HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Al Hakim.

6.Harta, Pangkat dan Tahta

6. Barangsiapa yang meninggalkan kelebihan-kelebihan di dunia dari: omongan, harta, pangkat dan lainnya dari hal-hal yang mubah yang dapat menempatkan dalam kemaksiatan dan kelalaian, niscaya dia akan menjadi orang yang akan diberi kelapangan dalam makanan-makanan bersama orang-orang abrar (orang-orang yang berbuat kebajikan).

7. Permusuhan

7. Barangsiapa yang meninggalkan permusuhan di dunia, niscaya di hari kiamat dia termasuk orang-orang yang berbahagia, selamat dan memperoleh kebaikan.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
 مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِيْ رَبَضِ الْجَـــــــنَّةِ وَمَنْ تَرَكَهُ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِيْ وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِيْ أَعْلاَهَا .
“Barangsiapa yang meninggalkan berbantah sedangkan dia tidak berhak membantah, niscaya akan dibangunkan rumah baginya di sebuah tempat di sorga. Barangsiapa yang meninggalkan berbantah sedangkan dia berhak untuk membantah, niscaya akan dibangunkan rumah baginya di tengah-tengah sorga. Dan barangsiapa yang membaguskan akhlaknya, niscaya akan dibangunkan rumah baginya di atas sorga”.

8. Kikir

8. Barangsiapa yang meninggalkan sifat kikir di dunia, niscaya dia akan menjadi orang yang disebut-sebut di hadapan para makhluk. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
لاَ يَجْتَمِعُ اْلإِيْمَانُ وَالْبُخْلُ فِي قَلْبِ رَجُلٍ مُؤْمِنٍ أَبَدًا. رَوَاهُ ابْنُ سَعْدٍ
“Tidak dapat berkumpuk iman dan sifat kikir dalam hati seorang mukmin selama-lamanya”. HR Ibnu Sa’ad.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
 وَأَيُّ دَاءٍ أَدْوَأُ مِنَ الْبُخْلِ. رَوَاهُ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
“Penyakit manakah yang lebih berbahaya dari pada sifat kikir?” HR Imam Ahmad, Bukhori dan Muslim.
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ .

9. Berleha-leha

9. Barangsiapa yang meninggalkan beristirahat di dunia, yakni dengan memayahkan dirinya untuk taat kepada Allah, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi orang yang disenangkan di sorga.

10.Makanan, Minuman, Pakaian, Ucapan, dan Perbuatan Haram

10. Barangsiapa yang meninggalkan haram, dalam makanan, minuman, pakaian, ucapan dan perbuatan, niscaya di hari kiamat dia akan menjadi tetangga para nabi a.s.

11. Pemandangan Haram

11. Barangsiapa yang meninggalkan memandang sesuatu yang haram di dunia, niscaya di hari kiamat Allah akan menggembirakan matanya di sorga dengan dapat memandang apa yang akan menyenangkan dia dari hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah dibayangkan dalam hati.
Barangsiapa yang meninggalkan kekayaan di dunia dan memilih kefaqiran, niscaya di hari kiamat Allah akan membangkitkannya bersama para wali dan para nabi.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
 إِنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تَجْفَافًا فَإِنَّ الْفَقْرَ أَسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّنِيْ مِنَ السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ. رَوَاهُ الإِمَامُ أَحْمَدُ وَ التُّرْمُذِيُّ.
“Jika kamu mencintaiku maka bersiap-siaplah kamu untuk faqir dengan menghabiskan hartamu, karena sesungguhnnya faqir itu lebih cepat (sampai) kepada orang yang mencintaiku dari pada banjir ke muaranya. HR. Imam Ahmad dan At Turmudzi.

12. Bekerja

12. Barangsiapa yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia di dunia, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di dunia dan akhirat.
Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
. مَنْ قَضَى ِ لأَخِيْهِ الْمُسْلِمِ حَاجَةً كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ كَمَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ
“Barangsiapa yang memenuhi satu kebutuhan dari saudaranya yang muslim, niscaya baginya ada pahala seperti pahala orang yang melaksanakan haji dan umroh”.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
مَنْ قَضَى ِ لأَخِيْهِ الْمُسْلِمِ حَاجَةً كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ كَمَنْ خَـــــدَمَ اللهَ عُمُرَهُ
“Barangsiapa yang memenuhi satu kebutuhan dari saudarannya yang muslim, niscaya baginya ada pahala seperti pahala orang yang mengabdi (ta’at) kepada Allah selama hidupnya”.
Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Imam Al Hifni: “Yakni seperti orang yang shalat selama hidupnya. Karena sesungguhnya shalat adalah pengabdian kepada Allah di bumi”, sebagaimana yang dik`takan pula oleh imam Al ‘Azizi.

13. Penghibur dalam Kubur

13. Barangsiapa yang ingin mempunyai penghibur di dalam kuburnya, maka hendaklah dia bangun pada waktu gelap malam dan hendaklah dia shalat sunnat meskipun hanya satu raka’at.

14. Zuhud

14. Barangsiapa yang ingin berada di bawah naungan ‘arasy dari Dzat Yang Maha Penyayang, maka hendaklah dia menjadi orang yang zuhud, yakni orang yang berpaling dengan hatinya dari dunia.
Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
 نَـجَا أَوَّلُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ بِــالزُّهْدِ وَالْيَقِيْنِ وَسَيَهْلِكُ آخِرُهَـــا بِـــالْحِرْصِ وَطُــوْلِ اْلأَمَلِ
“Permulaan ummat ini selamat sebab zuhud dan keyaqinan, dan akhir dari umat ini akan celaka sebab tamak dan angan-angan yang panjang”.

15. Penasehat diri

15. Barangsiapa yang ingin perhitungan amalnya mudah, maka hendaklah dia menjadi penasehat bagi dirinya sendiri dan saudara-saudaranya. Diriwayatkan dari sahabat ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda:
مَنْ لَمْ يَزْدَدْ يَوْمًا بِيَوْمٍ خَيْرًا فَذَلِكَ رَجُلٌ تَجَهَّزَ إِلَى النَّارِ عَــــــــــــــلَى بَصِيْرَةٍ. رَوَاهُ الْعَسْكَرِيُّ

Barangsiapa yang hari demi hari kebaikannya tidak bertambah, maka orang tersebut adalah orang yang bersiap-siap ke neraka dengan nyata”. HR. Al ‘Askari.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

 إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ لأَخِيْهِ نُصْحًا فِيْ نَفْسِهِ فَلْيَذْكُرْهُ لَهُ. رَوَاهُ ابْنُ عَدِيٌّ.
“Jika salah seorang dari kamu menemukan nasihat dalam dirinya bagi saudaranya, maka hendaklah dia menuturkan nasehat tersebut kepadanya”. HR. Ibnu ‘Adi.

16. Wara'

16. Barangsiapa yang ingin para malaikat mengunjunginya, maka hendaklah dia menjadi orang yang wara’. Sifat wara’ adalah syarat dalam melakukan istiqamah dalam agama. Sifat wara’ yang paling rendah adalah sifat wara’ dari orang-orang yang adil yang disebutkan dalam kesaksian, dan sifat wara’ yang paling tinggi adalah sifat wara’ dari orang-orang yang shiddiq.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
 خَيْرُ دِيْنِكُمْ الْوَرَعُ
“Sebaik-baik pekerjaan agamamu adalah wara’”.

17. Tengah Surga

17. Barangsiapa yang ingin bertempat tinggal di tengah-tengah surga, maka hendaklah dia menjadi orang yang mengingat Allah di waktu malam dan siang hari.
Imam Al Qusyairi berkata:
“Seseorang hamba tidak dapat sampai kepada Allah kecuali dengan melanggengkan dzikir. Sedang dzikir itu ada dua macam: dzikir lisan dan dzikir hati. Dzikir lisan itu dapat menyampaikan hamba pada melanggengkan dzikir hati dan dalam memberi pengaruh bagi dzikir hati. Maka tatkala hamba itu berdzikir dengan lisan dan hatinya, maka dia adalah orang yang sempurna dalam sifatnya dalam keadaan menempuh jalan menuju ridla Allah.

18. Tanpa Perhitungan

18. Barangsiapa yang ingin masuk surga tanpa perhitungan amal, maka hendaklah dia bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha.
Imam Al Qusyairi berkata:
“Taubat itu adalah permulaan persinggahan dari persinggahan-persinggahan orang-orang yang menempuh jalan menuju ridla Allah dan permulaan pangkat dari pangkat-pangkat orang-orang yang menuntut ridla Allah.
Ahli ma’rifat berkata:
“Basuhlah empat perkara dengan empat: Basuhlah mukamu dengan air matamu. Basuhlah lidahmu dengan dzikir kepada Penciptamu. Basuhlah hatimu dengan takut kepada Tuhanmu. Dan basuhlah dosa-dosamu dengan bertaubat kepada Tuhanmu”.

19. Orang Kaya

19. Barangsiapa yang ingin menjadi orang kaya, maka hendaklah dia rela dengan apa yang Allah telah bagikan kepadanya dan kepada orang lain, mengenai harta, pangkat dan lainnya.
Abdul Wahid bin Zaid berkata:
“Rela itu adalah pintu Allah yang paling agung dan sorga dunia”.

20. Pandai

20. Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang pandai beserta Allah, maka hendaklah dia menjadi orang yang khusyu’ dalam urusan-urusan agamanya. Artinya menjadi orang yang tunduk pada urusan-urusan agama tersebut karena kebenaran, serta menerima kebenaran tersebut dari orang yang manapun yang mengatakannya.

21. Bijaksana

21. Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang bijaksana, maka hendaklah menjadi orang yang pandai.
Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
 مَنْ غَدَا أَوْ رَاحَ وَهُوَ فِيْ تَعْلِيْمِ دِيْنِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ . رَوَاهُ أَبُوْ نَعِيْمٍ.
Barangsiapa yang berangkat di waktu pagi atau petang, sedangkan dia dalam mengajarkan agamanya, niscaya dia berada dalam sorga”. HR. Abu Na’im.
Ini adalah apa yang dikatakan pada waktu melaksanakan pelajaran dari Syeikh Ali Al Maghrabi, semoga Allah mensucikan rahasia beliau:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ اِسْتَوْدَعْتُكَ مَا قَرَأْتُهُ فَارْدُدْهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menitipkan kepada-Mu apa yang telah aku baca. Oleh karena itu kembalikanlah titipan tersebut kepadaku pada waktu aku memerlukannya”.

22. Selamat dari Kejelekan Manusia

22. Barangsiapa yang ingin menjadi orang yang selamat dari kejelekan manusia, maka hedaklah dia tidak menyebutkan salah seorang dari mereka kecuali dengan baik. Dan hendaklah dia mengambil pelajaran pada dirinya, dari apakah dirinya diciptakan. Sesungguhnya dia diciptakan dari sperma yang menjijikkan, dan untuk apa dia diciptakan. Dia diciptakan adalah untuk ta’at kepada Allah ta’ala.

23. Kemuliaan Dunia Akhirat

23. Barangsiapa yang ingin kemuliaan di dunia dan akhirat, maka hendaklah dia memilih akhirat dari pada dunia, dengan tetap beribadah pada semua waktunya selama dia kuat melakukannya.

24. Maksiat

24. Barangsiapa yang ingin surga Firdaus dan kenikmatan yang tidak rusak, yakni kenikmatan sorga, maka hendaklah dia tidak menyia-nyiakan umurnya dalam kerusakan dunia dengan melakukan perbuatan maksiat.

25. Dermawan

25. Barangsiapa yang ingin kesenangan di dunia dan akhirat, maka wajib baginya bersifat dermawan. Karena sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan sorga dan jauh dari neraka.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra.: “Rasulullah saw. telah bersabda:
 اَلسَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيْدٌ مِنَ النَّارِ, وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ تَعَالَى بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ , وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْبَخِيْلِ. .
“Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah ta’ala, dekat dengan manusia, dekat dengan sorga dan jauh dari neraka. Orang yang kikir itu jauh dari Allah ta’ala, jauh dari manusia, jauh dari sorga dan dekat dengan neraka. Dan orang bodoh yang dermawan itu lebih dicintai oleh Allah ta’ala dari pada orang yang ahli ibadah yang kikir”.
Di antara cerita dari orang-orang yang mulia adalah bahwasannya Hasan dan Husein serta Abdullah bin Ja’far telah keluar untuk melaksanakan ibadah haji, kemudian bekal mereka hilang sehingga mereka kelaparan dan kehausan. Kemudian mereka melewati rumah seorang wanita tua yang di dalamnya ada seekor domba. Mereka meminta kepada wanita tersebut, lalu wanita tua itu memberi minum mereka susu domba tersebut dan dia menyembelihnya untuk mereka. Setelah suatu waktu, Hasan melihat wanita tua itu di Madinah dan dia mengenalinya, lalu dia memberi wanita tua itu seribu ekor domba dan seribu dinar, lalu dia mengantarkan wanita itu kepada saudaranya, Husein. Husein pun memberi wanita itu sama seperti Hasan. Kemudian ia mengantarkannya kepada Ibnu Ja’far At Thayyar dan Ibnu Ja’far memberinya dua ribu ekor domba dan dua ribu dinar. Ibnu Ja’far berkara:
“Andaikan engkau datang pertama kali kepadaku, niscaya aku akan membuat payah Hasan dan Husein”. Kemudian wanita tua itu pulang dengan membawa empat ribu ekor domba dan empat ribu dinar.

26. Tafakur & Mengingat Mati

26. Barangsiapa yang ingin Allah menyinari hatinya dengan cahaya yang sempurna, maka wajib baginya bertafakkur dan mengambil pelajaran dalam keagungan Allah ta’ala dan mengambil nasihat dengan kematian.

27. Memohonkan Ampunan

27. Barangsiapa yang ingin memiliki badan yang sabar, lisan yang selalu berdzikir dan hati yang khusyu’, maka wajib baginya memperbanyak permohonan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan orang-orang muslim laki-laki dan perempuan.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
. مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِــنَةٍ حَسَنَةً. رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ عِنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ
“Barangsiapa yang memintakan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, niscaya Allah akan menulis baginya dengan setiap mukmin laki-laki dan perempuan, satu kebaikan”. HR. At Thabrani dari ‘Ubadah bin As Shomit.
Nabi saw. telah bersabda:
 . مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعًا وَعِشْرِيْنَ مَرَّةً كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ وَيُرْزَقُ بِهِمْ أَهْلُ الأَرْضِ . رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ
“Barangsiapa yang memohonkan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan setiap hari duapuluh tujuh kali, niscaya dia termasuk orang-orang yang dikabulkan do’anya dan penduduk bumi diberi rizki sebab mereka”. HR. At Thabrani dari Abu Darda’.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
 عَشْرٌ تَمْنَعُ عَشْرًا : سُوْرَةُ الْفَاتِحَةِ تَمْنَعُ غَضَبَ الرَّبِّ , وَسُوْرَةُ يس تَمْنَعُ عَطَشَ الْقِيَامَةِ , وَسُوْرَةُ الدُّخَانِ تَمْنَعُ أَهْوَالَ الْقِيَامَةِ , وَسُوْرَةُ الْوَاقِعَةِ تَمْنَعُ الْفَقْرَ , وَسُوْرَةُ الْمُلْكِ تَمْنَعُ عَذَابَ الْقَبْرِ , وَسُوْرَةُ الْكَوْثَرِ تَمْنَعُ خُصُوْمَةَ الْخَصَمَاءِ , وَسُوْرَةُ الْكَافِرُوْنَ تَمْنَعُ الْكُفْرَ عِنْدَ النَّزْعِ وَسُوْرَةُ اْلإِخْلاَصِ تَمْنَعُ النِّفَاقَ , وَسُوْرَةُ الْفَلَقِ تَمْنَعُ حَسَدَ الْحَاسِدِيْنَ , وَسُوْرَةُ النَّاسِ تَمْنَعُ الْوَسْوَاسَ..
“Ada sepuluh surat yang dapat mencegah sepuluh perkara, yaitu:
1. Surat Al Fatihah dapat mencegah murka Allah.
2. Surat Yasin dapat mencegah rasa haus pada hari kiamat.3. Surat Ad Dukhan dapat mencegah kesulitan pada hari kiamat.
4. Surat Al Waqi’ah dapat mencegah kefakiran.
5. Surat Al Mulk dapat mencegah siksa kubur.

6. Surat Al Kautsar dapat mencegah tuntutan dari para penuntut.

7. Surat Al Kafirun dapat mencegah kekufuran pada waktu sekarat mati.

8. Surat Al Ikhlas dapat mencegah kemunafikan.

9. Surat Al Falaq dapat mencegah perbuatan hasud dari orang-orang yang hasud.
10. Surat An Nas dapat mencegah perasaan was-was."

10 Muharrom disebut Asyuro' karena memiliki sejarah khusus

 =====================

Al-Sayyid 'Alwi ibn Salim Alaydrus: Menyambut 10 Muharrom Hari Asyuro'

================================Risalah al-marhum Habib Alwi ibn Ahmad Alaydrus yang dibagikan ke segenap santrinya di Majlis Ta’lim al Islamiy menjelang 10 Muharram 1413 H. Semasa hidupnya Habib Alwi menjadi ulama panutan di kota Malang, Rais Syuriah NU Kota Malang dan kemudian Mustasyar NU hingga beliau wafat. Habib Alwi termasuk ulama yang paling berjasa dalam upaya menghilangkan sekat antara ulama pribumi dan habaib di kota Malang. Secara periodik al Habib menyelenggarakan musyawarah kitab dengan para Kyai di kediamannya. Hingga tidak ada seorang Kyaipun di Kota Malang yang tidak pernah bersentuhan silaturahim dengan beliau. Bersama beliau, semua ulama guyub dalam ke-NU-an. Ketika majalah dakwah belum semarak seperti sekarang ini, pada momen-momen keislaman, beliau membuat selebaran, himbauan, anjuran, peringatan dan hadiah ijazah doa ke segenap lapisan masyarakat di kota Malang.
السلامُ عَلَيْكُمْ وَرحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الحَمْدُ للهِ الَّذِى هَدَانَا إِلَى دِيْنِهِ القَوِيْمِ. وَسَلَكَ بِنَا سَبِيْلَهُ المُسْتَقِيْمِ . وَلاَ حَولاَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ أَحْكِمُ الحَاكِمِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.المَبْعُوثُ رَحْمَةً للعَالَميْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ سَيِّدٍنَا وَمَولاَنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةً أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Alhamdulillah dengan segala pertolongan Allah swt. serta hidayat dan taufiqnya kita saat ini berada pada bulan Muharram yang di dalamnya terdapat tanggal 10 yang terkenal dengan sebutan malam Asyura dan besok harinya hari Asyura .
Semua bulan pasti ada tanggal sepuluhnya, akan tetapi tidak disebut Asyura kecuali tanggal 10 Muharram. Tanggal 10 Muharram disebut Asyura karena memiliki sejarah khusus. Pada masa Rasul-Rasul terdahulu, banyak diantara mereka mendapat kemenangan dan keselamatan dari gangguan penentang-penentang dan musuh-musuh mereka, tepat pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura), termasuk Nabi Nuh as. Umatnya yang ingkar, kufur dan syirik dihancurkan serta dibinasakan oleh Allah swt, dengan banjir topan selama enam bulan lamanya. Setelah banjir surut, kemudian Nabi Nuh as dan pengikut-pengikutnya berjumlah kurang lebih 80 orang turun dari kapal dengan aman serta selamat tepat pada tanggal 10 Muharram. Begitu juga Nabi Ibrahim as. keluar dengan selamat dari api unggun yang dinyalakan Raja Namrud untuk membakarnya, tepat pada tanggal 10 Muharram. Allah telah memerintahkan api unggun itu untuk menjadi dingin sehingga nabi Ibrahim tidak terluka sedikitpun. Allah berfirman
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِى بَردًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.
Kami telah berfirman, "Wahai api jadilah dingin dan selamat atas Ibrahim." (QS: Al Anbiya 69).
Nabi Musa dan ummatnya mendapat kemenangan dan keselamatan dari Allah swt. dengan hancurnya Fir’aun beserta bala tentaranya yang ditenggelamkan Allah di lautan tepat pada 10 Muharram. Karena itu setiap 10 Muharram Nabi Musa berpuasa dengan menghaturkan syukur kepada Allah swt.
Dari kisah-kisah di atas, jelaslah bagi kita bagaimana keistimewaan hari Asyura itu. Pada hari itu pula Allah menerima taubat suatu kaum pada umat terdahulu dan Allah akan tetap menerima taubat kaum-kaum setelahnya pada hari Asyura , sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Imam at Tirmidzi dari al Imam Ali ibn Abi Tholib ra.:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ : أَيُّ شَهْرٍ تَأْمُرُنِى أَنْ تَصُومَ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ قَالَ: إِنْ كُنْتَ صَائِمًا بَعْدَ رَمَضَان فَصُمْ المُحَرَّمَ, فَإِنَّهُ شَهْرُ اللهِ, فِيْهِ يَوْمٌ تَابَ فِيْهِ عَلَى قَومٍ وَيَتُوبُ عَلَى قَومٍ آخَرِيْنَ
Seorang pria datang kepada Nabi Muhammad saw. dan bertanya: "pada bulan apakah Rasulullah memerintahkan saya berpuasa setelah Ramadan" Beliau Menjawab: "Apabila engkau (ingin) berpuasa setelah Ramadan, berpuasalah pada bulan Muharram, sesungguhnya bulan itu bulan Allah, didalamnya ada hari dimana Allah menerima taubat suatu kaum dan akan menerima taubat kaum-kaum yang lain (yaitu hari Asyura ).
Apabila datang hari Asyura , hari yang istimewa itu, hendaklah kita gunakan kesempatan sebaik-baiknya dengan pelaksanaan tuntunan dan anjuran Nabi Muhammad saw serta ajakan para ulama ahlussunnah wal jamaah agar kita mendapatkan pahala dan keutamaan dalam kehidupan dunia yang sementara ini dan di akhirat yang kekal abadi dengan ridla dan rahmat Allah .
Nabi Muhammad saw pada hari Asyura melakukan puasa dan menganjurkan serta memerintahkannya sebagaimana riwayat al Turmudzi dari Ibn Abbas:
أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَومِ عَاشُوراءَ يَومَ العَاشِرِ
Rasulullah memerintahkan puasa Asyura pada hari kesepuluh (muharram)
Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al Turmudzi meriwayatkan pula dari Sayidah Aisyah ra.:
كاَنَ يَومُ عَاشُورَاء تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ و آلِهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فِى الجَاهِلِيَّةِ. فَلَمَّ قَدِمَ المَدِيْنَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بَصِيَامِهِ, فَلَمَّ فُرِضَ رَمَضَانَ تَرَكَ يَومَ عَاشُرَاءَ, فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
Dahulu orang Quraisy pada masa jahiliyyah berpuasa pada hari Asyura . Pada masa jahiliyyah Rasulullah (juga) berpuasa Asyura . Ketika masuk Madinah, Rasullah berpuasa Asyura dan memerintahkan berpuasa Asyura . Kemudian ketika puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa Asyura . Maka barangsiapa berkehendak, dia berpuasa dan baragsiapa berkehendak, dia meninggalkannya.
Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud meriwayatkan dari Ibn Abbas:
قَدِمَ النَّبِّيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ عَاشُرَاءَ فَقَالَ لَهُمْ : مَاهَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَومٌ صَالِحٌ, هَذَا يَومٌ نَجَّى اللهُ بَنِى إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى, قَالَ : فَإِنَّا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
Ketika Nabi Muhammad datang di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura , maka beliau bertanya :"Apa ini?" mereka menjawab:"Ini hari baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah Nabi Musa". Nabi bersabda: "Maka akulah lebih berhak dengan Musa dari kalian, kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa Asyura .
Al Imam Bukhari, Muslim meriwayatkan dari Abu Musa ra, ia berkata:
كاَنَ أَهْلُ خَيْبَرْ يَصُومُونَ يَومَ عَاشُورَاءَ وَيَتَّخِدُونَهُ عِيْدًا وَيَلْبِسُونَ نِسَاءَهُمْ فِيْهِ حُلِّيَّهُمْ وَشَارَتَهُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللهَِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : فَصُومُوهُ أَنْتُمْ.
Dahulu penduduk khaibar berpuasa hari Asyura dan mereka menjadikannya hari raya serta memaikan istri-istri mereka perhiasan-perhiasan mereka dan tanda-tanda keindahan mereka, lalu bersabda Rasulullah SAW : maka berpuasalah kalian.
Dari keutamaan puasa Asyura itu, Rasulullah SAW memerintahkan seorang pria untuk mengadakan pengumuman dan seruan pada hari penting itu disekitar kota Madinah, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Albukhoriy, Muslim dan Annasaiy dari Salamah bin Akwa" r.a. ia berkata:
أمر النبي صلى الله عليه واله وسلم رجلا من أسلم أن أذن في الناس أن من كان أكل فليصم بقية يومه, ومن لم يكن يأكل فليصم, فإن اليوم يوم عاشوراء.
Nabi Muhammad s.a.w. telah memerintahkan seorang pria dari suku Aslam, harap umumkanlah pada orang-orang itu bahwa siapa yang telah makan, maka hendaklah puasa (merupa orang puasa) pada sisa harinya dan siapa yang belum makan, maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya hari ini hari Asyura .
Demikian juga sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Albukhoriy dan Muslim dari Rubaiyi' binti Mu'awwith r.a. ia berkata:
أرسل رسول الله صلى الله عليه واله وسلم غداة عاشُوراء إلى قرى الأنصار التي حول المدينة : من كان أصبح صائما فليتم صومه, ومن كان أصبح مفطرا فليتم بقية يومه. فكنّا بعد ذلك نصومه ونصوم صبياننا الصغار منهم إن شاء الله ونذهب الى المسجد فنجعل لهم اللعبة من العهن, فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناها إياه إلى الإفطار.
Rasulullah s.a.w. mengutus pada hari pagi Asyura ke desa-desa Al-ansor yang terletak di sekitar Madinah. Siapa yang berada pagi-pagi puasa maka hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang berada pagi-pagi tidak puasa, maka hendaklah menyempurnakan sisa harinya (sebagaimana orang puasa), maka kita dahulu setelah itu memuasainya dan memuasakan anak-anak mereka insya Allah dan kita pergi ke masjid lalu kita membuatkan mereka permainan dari kapas, apabila salah satu dari mereka menangis meminta makanan, kita berikan mainan itu hingga waktu berbuka tiba.
Rasulullah SAW sangat memperhatikan dan mengutamakan adanya puasa Asyura sebagaimana yang tela diriwayatkan oleh Al Bukhory dan Muslim:
وقال ابن عباس رضى الله عنه : ما رايت رسول الله صلى الله عليه واله وسلم يتحرى صيام يوم فضله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء, وهذا الشهر شهر رمضان.
Ibnu Abbas berkata : saya tidak melihat Rasulullah memperhatikan suatu puasa yang beliau utamakan dari lainnya selain puasa pada hari ini yakni hari Asyura dan puas pada bulan ini yakni bulan Ramadan.
Disamping kita berpuasa pada tanggal sepuluh muharram (Asyura'), hendaklah kita juga berpuasa pada tanggal sembilannya (tasu'a) dan tanggal sebelasnya, karena ada beberapa hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas r.a.
صام رسول الله صلى الله عليه واله وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه , قالوا : يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى, قال : فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع, فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه واله وسلم.
Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk memuasainya. Sahabat berkata : Ya Rasulullah, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani. Beliau bersabda : tahun depan jika kita masih bisa menjumpainya Insya Allah kita berpuasa pada hari tasu'a. Lalu tidak datang tahun berikutnya hingga wafat Rasulullah SAW.
Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas:
قال رسول الله صلى الله عليه واله وسلم : صوموا يوم عاشوراء وخالفوا اليهود, وصواموا قبله يوما وبعده يوما.
Rasulullah SAW bersabda : Puasalah kalian pada hari Asyura , bedakanlah dengan orang-orang yahudi, berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya.
Demikian Rasulullah SAW menunjukkan keutamaannya disamping pahalanya besok di hari akhirat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, At Turmudzi dan An Nasa'i dari Qotadah r.a bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
صيام يوم عاشوراء إنى أحتسب على الله أن يكفر السنة التى قبله.
Puasa hari Asyura , sungguh aku berharap kepada Allah untuk melebur dosa tahun yang lalu.
Telah diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Abi Qotadah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Asyura , beliau menjawab
يكفر السنة الماضية
dosa-dosa setahun yang lalu.
Dosa-dosa yang terlebur karena amal-amal ibadah itu adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar, harus melalui taubat dengan mengikuti syarat-syaratnya. Termasuk apa yang hendaknya kita lakukan pada hari Asyura , ialah memperluas belanja rumah tangga, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh At Tobarony dan Al Baihaqy dari Abu Said Al Khudry r.a dari Nabi Muhammad SAW.
من وسع على عياله فى يوم عاشوراء وسع الله عليه فى سنة كلها
yang meluaskan belanja bagi keluarganya pada hari Asyura niscaya Allah meluaskan baginya dalam setahun sepenuhnya.
Pada masa Imam Syafi'i ada seorang ulama besar yang bernama Al Imam Sufyan bin Uyainah r.a
جربنا العمل بهذا الحديث خمسين أو ستين سنة فوجدنا كذالك.
telah mengalami dengan ini hadist lima puluh tahun atau enam puluh tahun maka kami mendapatkannya yang demikian itu nyata.
Menambah uang belanja dan bersodaqah kepada keluarga ialah untuk kepentingan rumah tangga dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum syar'iy. Perluaslah shadaqah pada kaum fakir miskin serta berilah santunan pada anak-anak yatim, disamping kita memperbanyak amal-amal ibadat yang lain, gunakan pula kesempatan sebaik-baiknya untuk taqarub.
Terpenting, gerakkanlah upacara pembacaan doa Asyura yang telah dirintis oleh ulama-ulama ahlussunnah wal jamaah demi kepentingan, kemaslahatan dan keselamatan kita serta keberkahan umur dan hayat kita masing-masing di dalam dunia yang sementara ini dan terutama di dalam akhirat yang kekal abadi dengan ridlo, rahmat Allah serta syafaat Nabi Muhammad.

GENEALOGI GIRINDRAWANSA (RAJASAWANSA) SILSILAH DINASTI RAJA-RAJA SINGASARI – MAJAPAHIT

-----------------------------------------------------------------------

KETURUNAN BRAWIJAYA V (RAJA MAJAPAHIT TERAKHIR)

------------------------------------------------
BERIKUT KETURUNAN BRAWIJAYA V  (RAJA MAJAPAHIT TERAKHIR):
-----------------------------------------------
NB:

Kyai Abdurrahim sendir II berputra Kyai Abdullah berputra perempuan istri Kyai Abdul-Qidam bin Kyai Talang Parompong berputra Abdullah berputra Bindereh Su'ud Tirtonegoro. (BABAD SUMENEP)

KITAB MANDZUMATU SYU'ABIL IMAN(منظومة شعب الإيمان لزين الدين المليبارى)

------------------------------------------------
بسم الله الرحمن الرحيم 
 اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى قَدْ صَـيَّرَا * اِيْمَانَ شَخْصٍ ذَا شُعَبْ فَتُتَمَّمُ
هَذِىْ بُيوْتٌ مِنْ كِتَابِ الْكُوْشِنِى * مَنْ قَـالَ بَعْدَ صَـلاَتِنَا َنُسَـلِّمُ
لِمُحَـمَّدٍ وَِلآلِـهِ وَصَــحَـابَتِهْ * مَادَارَ شَمْسٌ فِى السَّمَـاءِ وَاَنْجُمُ

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan iman seseorang mempunyai cabang-cabang, sehingga cabang tersebut harus disempurnakan.
Bait-bait syair ini diambil dari kitab Syeikh Zainuddin al-Kusyini, yaitu orang yang berkata setelah kami membaca salawat dan salam,
bagi Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau, selama matahari dan bintang-bintang di langit masih beredar.
-----------------------------------------------

اِيْمَانُنَا بِضْعٌ وَعَــيْنٌ شُعْبَـةً * يَسْتَكْمِلَنْهَا اَهْـلُ فَضْلٍ يَعْظُمُ
Iman kita ada 77 cabang, yang para ahli keutamaan benar-benar akan menyempurnakannya, sehingga menjadi orang besar di sisi Allah
--------------------------------------------------------
آمِنْ بِرَبِّكَ وَالْمَلآئِكِ وَالْكُتُبِ * وَالأَنْبِيَا وَبِيَوْمِ يَفْنَى لْعَـالَمُ
Berimanlah engkau kepada Tuhanmu, para malaikat, kitab-kitab, para nabi dan hari kerusakan alam
--------------------------------------------------------
وَالْبَعْثِ وَالْقَدَرِ الْجَلِيْلِ وَجِمْعِنَا * فِي مَحْشَرٍ فِيهِ الْخَلاَئِقُ تَحَشَمُ
Dan (beriman) kepada: kebangkitan, qadar dari Yang Maha Agung, dan kumpul kita di Padang Mahsyar yang di situ para makhluk merasa malu (sehingga pucat mukanya)
------------------------------------------------------
وَاحْبُبْ اِلَهَكَ خَفْ اَلِيْمَ عِقَابِهِ * وَلِرَحْمَةِ ارْجُ تَوَكَّلَنْ يَا مُسْلِمُ
Cintailah Tuhanmu, takutlah akan kepedihan siksa-Nya, berharaplah engkau akan rahmat Allah, dan bertawakallah benar-benar wahai orang muslim.
-----------------------------------------------------
وَاحْبُبْ نَبِيَّكَ ثُمَّ عَظِّمْ قَدْرَهُ * وَابْخِلْ بِدِيْنِكَ مَا يُرَى بِكَ مَأْثَمُ
Cintailah nabimu, kemudian agungkan derajatnya; dan kikirlah dengan agamamu selama dilihat perbuatan dosa bagimu
------------------------------------------------------
وَاطْلُبْ لِعِلْمٍ ثُمَّ لَقِّـنْهُ الْوَرَى * عَظِّمْ كَلاَمَ الرَّبِّ وَاطْهُر تُعْصَمُ
Carilah ilmu, ajarkan kepada manusia; agungkanlah kalam Tuhanmu dan bersucilah, pasti engkau terjaga dari bencana
-----------------------------------------------------
صَلِّ الصَّلاَةَ وَزَكِّ مَالَكَ ثُمَّ صُمْ * وَاعْكُفْ وَحُجَّ وَجَاهِدَنَّ فَتُكْرَمُ
Salatlah engkau, zakatilah hartamu, kemudian puasalah; dan lakukan i'tikaf, haji, dan berjuang dengan sungguh-sungguh, maka engkau akan dimuliakan".
-----------------------------------------------------
رَابِطْ تَثَبَّتْ اَدِّ خُمْسَ مَغَـانِمٍ * حَتَّى يُفَرِّقَهُ الإِمَامُ الْحَــاكِمُ
Pertahankan garis demarkasi, jangan mundur dari medan pertempuran, dan berikan seperlima dari hasil rampasan perang; agar kepala negara yang memutuskan perkara membaginya.
-----------------------------------------------------
وَاعْتِقْ وَكَفِّرْ اَوْفِ بِالْوَعْدِ اشْكُرَنْ * وَاحْفَظْ لِسَانَكَ ثُمَّ فَرْجَكَ تَغْنَمُ
Merdekakanlah budak, bayarlah kafarat, penuhi janji, bersyukurlah dengan sungguh-sungguh; jaga lidah dan kemaluanmu, niscaya engkau beruntung.
-----------------------------------------------------
اَدِّ اْلاَمَانَةَ لاَ تُقَـاتِلْ مُسْــلِمًا * وَاحْذَرْ طَعَامًا ثُمَّ مَالَكَ تَحْرُمُ

Tunaikanlah amanat, janganlah kamu membunuh orang muslim, jagalah makanan, jaga hartamu dari yang haram, niscaya kamu menjadi terhormat.
--------------------------------------------------------
وَالزِّيَّ مَعْ ظَرْفٍ وَلَهْوًا قَدْ نُهِيْ * اَنْفِقْ بِمَعْرُوْفٍ وَإِلاَّ تَأْثَـمُ
Hindarilah perhiasan, bejana, dan permainan yang dilarang. Belanjakan hartamu dengan baik. Jika tidak, engkau berdosa
--------------------------------------------------------
اُتْرُكْ وَاَمْسِكْ كُلَّ غِلٍّ وَالْحَسَدَ * حَرِّمْ لِعِرْضِ الْمُسْلِمِيْنَ فَتَسْلَمُ
Tinggalkan dan cegahlah olehmu setiap dendam dan hasud; haramkan bagi kehormatan orang-orang muslim, maka engkau akan selamat.
---------------------------------------------------------
أَخْلِصْ لِرَبِّكَ ثُمَّ سُرَّ بِطَاعَةٍ * وَاحْزَنْ بِسُوْءٍ تُبْ وَاَنْتَ النَّادِمُ
Ikhlaskan niat karena Tuhanmu, gembiralah dengan ketaatan, susahlah berbuat jelek, taubatlah dengan penyesalan.
-----------------------------------------------------------
وَائْتِ الضَّحِيَّةَ وَالْعَقِيْقَةَ وَاهْدِيَنْ*وَاُولِى الاُمُوْرِاَطِعْهُمُ لاَتَجْرِمُ
Bagikanlah binatang kurban, aqiqah dan hendaklah engkau sungguh-sungguh menyembelih binatang hadiah; taatilah penguasa dan janganlah kamu durhaka
---------------------------------------------------------
اَمْسِكْ حَبِيْبِى مَا عَلَيْهِ جَمَاعَةٌ * وَاحْكُمْ بِعَدْلٍ وَانْهَ مَاهُوَ مَأْثَمُ
وَأْمُرْ بِمَعْرُوْفٍ وَاَنْتَ اَعِنْهُمُ * جِدًّا عَلَى بِرٍّ وَتَقْوَى تُـكْرَمُ
Pegang teguh wahai kasihku, apa yang ada pada jamaah; hukumilah dengan adil dan cegahlah segala yang dosa. Perintahkan `pa yang telah diketahui kebaikannya, bantulah manusia dengan sungguh-sungguh terhadap kebajikan dan ketakwaan, maka engkau akan dimuliakan.
--------------------------------------------------------
وَاسْتَحْيِ رَبَّكَ اَحْسِنَنْ لِلْوَالِدِ * رَحِمًا فَصِلْ حَسِّنْ بِخُلْقِكَ تُرْحَمُ
Malulah engkau pada Tuhanmu, berbuat baiklah kepada orang tua, sambunglah hubungan famili serta baguskanlah pekertimu, niscaya engkau dirahmati.
----------------------------------------------------------
اَحْسِنْ لِقِنِّكَ فَاعْفُ عَنْهُ وَعَلِّمَنْ * وَاِطَاعَةُ السّادَاتِ عَبْدًاتَلْزَمُ
Berbuatlah baik kepada budakmu, maafkan kesalahannya, dan ajarlah ia dengan sungguh-sungguh; dan hamba sahaya wajib taat kepada majikannya.
----------------------------------------------------------
وَاحْفَظْ حُقُوْقَ الاَهْلِ وَالاَوْلاَدِ * اَنْفِقْ وَعَلِّمْهُمْ فَذَاكَ مُحَــتَّمُ
Jagalah hak-hak dari isteri dan anak-anak; berilah nafkah dan ajarlah mereka, karena hal tersebut adalah kewajiban.
--------------------------------------------------------,----
وَاحْبُبْ لأَهْلِ الدِّيْنِ رُدَّ سَلاَمَهُمْ * عُوْدَنَّ مَرْضَى صَلِّ مَوْتَى أَسْلَمُوْا
Cintalah ahli agama, jawablah salam mereka; kunjtngilah orang yang sakit, salatilah orang muslim yang mati.
-----------------------------------------------------------
شَمِّتْ لِعَاطِشِ مُسْلِمٍ حَمِدَ اْلإِلَهَ * وَابْعُدْ اَخِى عَنْ مُفْسِدٍ لاَتُظْلَمُ
Bacalah tasymit bagi orang muslim yang bersin dan memuji Allah; jauhilah wahai saudaraku orang yang berbuat kerusakan, niscaya engkau tidak dianiaya.
----------------------------------------------------------
اَكْرِمِ لِجَارٍ ثُمَّ ضَيْفٍ وَاسْتُرَنْ *عَوْرَاتِ اَهْلِ الدِّيْنِ تَاْمَنْ تَغْنَمُ
Muliakan tetangga dan tamu; dan tutuplah aurat-aurat ahli agama, niscaya engkau akan aman lagi beruntung
----------------------------------------------------------
وَاصْبِرْ تَزَهَّدْ وَائْتِيَنَّ بِغِيْرَةٍ * اَعْرِضْ عَنْ الْمَلْغَاةِ جُدْ تَتَكَرَّمُ
Bersabarlah, berzuhudlah, dan benar-benarlah engkau cemburu; berpalinglah dari hal yang tidak berguna, berbuatlah dermawan, niscaya engkau menjadi orang mulia.
----------------------------------------------------------
وَقِّرْ كَبِيْرًا وَارْحَمَنَّ صَغِيْرَنَا * أَصْلِحْ لِهَجْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَتُكْرَمُ
Hormatilah orang tua dan sayangilah anak muda; damaikan perselisihan di antara orang-orang 
----------------------------------------------------------
وَاحْبُبْ لِنَاسٍ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ * حَتَّى تَكُوْنَ بِجَنَّةٍ تَتَنَــعَّمُ
Cintailah manusia seperti engkau mencintai dirimu sehingga engkau menjadi orang yang bernikmat-nikmat dengan surga
----------------------------------------------------------
Rasulullah saw bersabda:
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمنُ ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
Para penyayang akan disayangi oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya siapa saja yang ada di langit akan menyayangi kamu.
Diriwayatkan dari Mujahid dan Salman ra dari Nabi Muhammad saw bahwa sesungguhnya beliau bersabda:
مَنْ حَفِظَ عَلَى اُمَّتِى هَذِهِ اْلاَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَحَشَرَهُ اللهُ تَعَالَى مَعَ الاَنْبِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، اَيُّ الاَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا؟ قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّيْنَ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى . وَتَشْهَدَ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ . وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ بِإِسْبَاغِ الْوُضُوْءِ لِوَقْتِهَا بِتَمَامِ رُكُوْعِهَا وَسُجُوْدِهَا . وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ بِحَقِّهَا . وَتَصُوْمَ شَهْرَ رَمَضَانَ . وَتَحُجَّ الْبَيْتَ اِنِ اسْتَطَعْتَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً . وَتُصَلِّيَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ وَهِيَ سُنَّتِى ، وَثَلاَثَ رَكَعَاتٍ وِتْرًا لاَ تَتْرُكْهَا . وَلاَ تُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا . وَلاَ تَعْصِ وَالِدَيْكَ . وَلاَ تَأْكُلْ مَالَ الْيَتِيْمِ . وَلاَ تَأْكُلِ الرِّبَا . وَلاَ تَشْرَبِ الْخَمْرَ . وَلاَ تَحْلِفْ بِاللهِ كَاذِبًا . وَلاَ تَشْهَدْ شَهَادَةَ الزُّوْرِ عَلَى اَحَدٍ قَرِيْبٍ اَوْ بَعِيْدٍ . وَلاَ تَعْمَلْ بِالْهَوَى . وَلاَ تَغْتَبْ اَخَاكَ . وَلاَ تَقَعْ فِيْهِ مِنْ خَلْفِهِ وَقُدَامِهِ . وَلاَ تَقْذِفِ الْمُحْصَنَةَ . وَلاَ تَقُلْ ِلأَخِيْكَ : يَا مُرَآئِى ، فَتَحْبَطَ عَمَلَكَ . وَلاَ تَلْعَبْ وَلاَ تَلْهُ مَعَ اللاَّهِيْنَ . وَلاَ تَقُلْ لِلْقَصِيْرِ : يَا قَصِيْرُ ، تُرِيْدُ بِذَلِكَ عَيْبَهُ . وَلاَ تَسْخَرْ مِنْ اَحَدٍ مِنَ النَّاسِ . وَلاَ تَأْمَنْ مِنْ عِقَابِ اللهِ تَعَالَى . وَلاَ تَمْشِ بِالنَّمِيْمَةِ فِيْمَا بَيْنَ الإِخْوَانِ . وَتَشْكُرَ ِللهِ عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ الَّتِى اَنْعَمَ بِهَا عَلَيْكَ . وَتَصْبِرَ عِنْدَ الْبَلاَءِ وَالْمُصِيْبَةِ . وَلاَ تَقْنُطْ مِنْ رَّحْمَةِ اللهِ . وَتَعْلَمَ اَنَّ مَا اَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاَنَّ مَا اَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ . وَلاَ تَطْلُبْ سُخْطَ الرَّبِّ بِرِضَا الْمَخْلُوْقِيْنَ . وَلاَ تُؤْثِرِ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ . وَاِذَا سَأَلَكَ اَخُوْكَ الْمُسْلِمُ مِمَّا عِنْدَكَ فَلاَ تَبْخَلْ عَلَيْهِ . وَانْظُرْ فِى اَمْرِ دِيْنِكَ اِلَى مَنْ فَوْقَكَ وَفِى اَمْرِ دُنْيَاكَ اِلَى مَنْ هُوَ دُوْنَكَ . وَلاَ تَكْذِبْ . وَلاَ تُخَالِطِ السُّلْطَانَ . وَدَعِ الْبَاطِلَ وَلاَ تَأْخُذْ بِهِ . وَاِذَا سَمِعْتَ حَقًّا فَلاَ تَكْتُمْهَ . وَاَدِّبْ اَهْلَكَ وَوَلَدَكَ بِمَا يَنْفَعُهُمْ عِنْدَ اللهِ وَيُقَرِّبُهُمْ اِلَى اللهِ ، وَأَحْسِنْ اِلَى جِيْرَانِكَ وَلاَ تَقْطَعْ اَقَارِبَكَ وَذَا رَحِمِكَ وَصِلْهُمْ . وَلاَ تَلْعَنْ اَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى . وَاَكْثِرْ التَّسْبِيْحَ والتَّهْلِيْلَ وَالتَّحْمِيْدَ وَالتَّكْبِيْرَ وَلاَ تَدَعْ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَلَى كُلِّ حَالٍ اِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ جُنُبًا ، وَلاَ تَدَعْ حُضُوْرَ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَاتِ وَالْعِيْدَيْنِ . وَانْظُرْ كُلَّ مَا لَمْ تَرْضَ اَنْ يُقَالَ لَكَ وَيُصْنَعَ بِكَ ، فَلاَ تَرْضَ بِهِ وَلاَ تَصْنَعْهُ بِهِ . بَلْ قَالَ سَلْمَانُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ : قُلْتُ ، يَا رَسُوْلَ اللهِ ، مَا ثَوَابُ هذِهِ الاَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا؟ قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : وَالَّذِىِ بَعَثَنِى بِالْحَقِّ نَبِيًّا اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الاَنْبِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ . وَمَنْ تَعَلَّمَ هذِهِ الاَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا وَعَلَّمَهَا النَّاسَ كَانَ ذلِكَ خَيْرًا مِنَ اَنْ يُعْطَى الدُّنِيَا وَمَا فِيْهَا
Barangsiapa yang mengutipkan 40 berita ini kepada umatku, maka ia akan masuk surga dan Allah akan mengumpulkannya bersama para nabi dan ulama pada hari kiamat! Kami (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, 40 berita yang manakah itu?" Rasulullah saw menjelaskan:
  1. Hendaklah engkau beriman kepada Allah, hari kiamat, para malaikat, kitab-kitab, para nabi, kebangkitan sesudah mati, dan takdir baik dan buruk dari Allah Ta'ala.
  2. Engkau mengakui bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.
  3. Engkau mendirikan salat dengan menyempurnakan wudlu pada waktunya, dengan menyempurnakan ruku' dan sujudnya.
  4. Engkau menunaikan zakat dengan haknya.
  5. Engkau berpuasa pada bulan Ramadlan.
  6. Engkau pergi haji ke Baitullah jika mampu.
  7. Engkau salat duabelas rakaat sehari semalam. Salat duabelas rakaat adalah sunnahku (menurut riwayat Imam an-Nasai, Ummu Habibah, maksudnya adalah salat rawatib, yaitu: 4 rakaat sebelum salat fardlu dhuhur; 2 rakaat sesudah salat fardlu dhuhur; 2 rakaat sebelum salat fardlu asar; 2 rakaat sesudah salat fardlu maghrib; dan 2 rakaat sebelum salat fardlu isyak). Janganlah engkau tinggalkan salat witir tiga rakaat.
  8. Jangan engkau sekutukan Allah dengan sesuatu.
  9. Jangan engkau durhakai kedua orang tuamu.
  10. Jangan engkau makan harta anak yatim.
  11. Jangan engkau makan harta riba.
  12. Jangan engkau minum arak.
  13. Jangan engkau bersumpah atas nama Allah dengan dusta.
  14. Jangan engkau menjadi saksi palsu terhadap seseorang, baik kerabat dekat maupun jauh.
  15. Jangan engkau berbuat karena menuruti hawa nafsu.
  16. Jangan engkau mengghibah saudaramu.
  17. Jangan engkau terjatuh dalam perbuatan ghibah dari belakang maupun dari muka saudaramu.
  18. Jangan engkau menuduh zina perempuan yang baik-baik.
  19. Jangan engkau mengatakan kepada saudaramu: "Hai orang yang riya", agar engkau tidak menghapus amalmu sendiri.
  20. Jangan engkau bermain dan berbuat sia-sia bersama orang-orang yang berbuat lalai.
  21. Jangan engkau katakan kepada orang yang pendek: "Hai si pendek", dengan maksud mencelanya.
  22. Jangan engkau olok-olok seseorang.
  23. Jangan engkau merasa aman dari siksa Allah Ta'ala.
  24. Jangan engkau adu domba di antara para saudara.
  25. Hendaklah engkau bersyukur pada Allah atas tiap nikmat yang telah diberikan kepadamu.
  26. Hendaklah engkau bersabar pada waktu tertimpa bala' dan cobaan.
  27. Jangan engkau berputus asa terhadap rahmat Allah.
  28. Hendaklah engkau mengetahui bahwa musibah yang menimpamu tidak mungkin dapat terlepas darimu dan bahwa sesuatu yang tidak menimpamu tidak mungkin dapat mengenai kamu.
  29. Jangan engkau cari kemurkaan Allah lantaran mencari kerelaan makhluk.
  30. Jangan engkau pentingkan dunia dari pada akhirat.
  31. Jika saudaramu meminta sesuatu yang ada padamu, janganlah engkau bakhil kepadanya.
  32. Bandingkanlah urusan agamamu dengan orang yang di atasmu, dan dalam urusan duniamu dengan orang yang di bawahmu.
  33. Jangan engkau berdusta.
  34. Jangan engkau bergaul dengan penguasa.
  35. Tinggalkan perkara yang batal dan jangan engkau mengambilnya.
  36. Jika engkau mendengar kebenaran, jangan engkau sembunyikan.
  37. Didiklah keluarga dan anak-anakmu dengan segala sesuatu bermanfaat bagi mereka di sisi Allah dan dapat mendekatkan didi kepada Allah, berbuat baiklah kepada tetangga dan jangan putuskan hubungan kerabat dan famili, tapi sambungkan hubungan dengan mereka.
  38. Jangan engkau laknat makhluk Allah Ta'ala.
  39. Perbanyaklah membaca: tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan jangan engkau tinggalkan membaca al-Quran pada setiap keadaan, kecuali jika kamu sedang junub; jangan engkau tinggalkan salat Jumat, salat berjamaah, dan salat hari raya.
  40. Perhatikanlah segala yang tidak engkau relakan untuk diucapkan dan dilakukan kepadamu, maka jangan engkau relakan untuk dilakukan kepada seseorang dan jangan engkau lakukan.
Sahabat Salman ra bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah pahala dari 40 berita ini?" Rasulullah saw bersabda: "Demi Dzat yang telah mengutusku sebagai nabi dengan hak, sungguh Allah Ta'ala akan mengumpulkan dia pada hari kiamat bersama para nabi dan para ulama. Dan Barangsiapa yang mempelajari 40 berita ini dan mengajarkannya yang lain, niscaya hal itu lebih baik dari pada ia diberi dunia dan isinya.
Syeikh Abdul Mun'im menambah satu bait syair mengenai salawat sebagai penutup
ثُمَّ الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ × وَاْلآلِ وَالصَّحْبِ الَّذِيْنَ يُحَشَّمُ
Kemudian kesejahteraan semoga tetap atas Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat yang seperti pelayan, keluarga, dan kerabat di sisi Nabi saw.                      
 

JASAD PROF. DR. AS-SAYYID MUHAMMAD BIN 'ALAWY BIN 'ABBAS AL- MALIKI AL-HASANIY RA MASIH UTUH


 -----------------------------------------------------
Sudah maklum bagi kita semua bahwa PROF. DR. AS-SAYYID MUHAMMAD BIN 'ALAWY BIN 'ABBAS AL- MALIKI AL-HASANIY RA  pulang ke rahmatulloh pada tanggal 15 Ramadlon 1425H bersamaan 29 Oktober 2004, waktu subuh,hari Jum’at.


Setahun pasca wafatnya AS-SAYYID MUHAMMAD AL- MALIKI Al-Hasani al-Makkiy, orang-orang Wahabi yang berniat ingin menghinakan beliau yang sering dipanggil Habib Muhammad ini, ingin memindah jenazah beliau karena kebiasaan di Mekkah yaitu jika jenazah sudah hancur maka akan dipindah ke tempat lain agar area yang lama dimasukkan jenazah baru. Kemudian orang wahabi melakukan penggalian makam beliau. Awawlnya mereka berharap agar apa yang mereka temukan pasca 1 tahun adalah jenazah yang sudah hancur. Tapi apa hendak dikata?

Ternyata tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya, JENAZAH  AS-SAYYID MUHAMMAD AL- MALIKI masih UTUH.

Dua tahun kemudian, mereka menggali kembali makam Habib Muhammad, apa dikata? JENAZAH pun masih utuh, bahkan RAMBUT dan KUKU beliau terlihat tumbuh panjang.

Lima  tahun kemudian, dilakukan hal yang sama, dan ternyata JENAZAH  AS-SAYYID MUHAMMAD AL- MALIKI masih utuh juga, bahkan tercium aroma wangi yang wanginya melebihi wangi kayu gaharu. SUBHANALLOH....................................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!






Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Yg Ummy Yg Tiada Bersabda Melalui Nafsunya, Tetapi semuanya didasarkan atas Wahyu Alloh SWT


RASULULLOH SAW ADALAH NABI YANG UMMI

Tanggal 12 Rabiul Awal telah mencatat satu sejarah- satu tarikh agung diingati umat islam seluruh dunia Pada tarikh inilah lahirnya seorang pemimpin agong, nabi serta rasul yang menjadi rahmat bagi sekelian alam.


Pelbagai aktiviti seperti perarakan serta ceramah diadakan di mana-mana sahaja. Kecintaan kita terhadap nabi pada hari itu jelas terserlah.

Selain mendapat jolokan "Al Amin" ( yang amanah ) dan "Khatamul Anbiyai wal Mursalin" ( Penghulu para Nabi- nabi dan Rasul-rasul ), Rasulullah juga digelar di dalam AlQur'an sebagai النبي الأمي - "Nabi yang Ummiy " sebagaimana firman Allah dalam Surah Al 'araf ayat 157 dan 158



  
Maksudnya
"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,nabi yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya."


"Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk."

Surah Al "araf ayat 157 &158


Kalimah Ummiy dalam bahasa Arab bermaksud "buta huruf" atau ringkasnya golongan yang tidak tahu menulis dan membaca.Itu terjemahan rambang dari sudut bahasa namun begitu cuba kita tanya pada diri kita pula apakah nabi kita ini benar-benar buta huruf ? dan bagaimana pula keimanan kita terhadap sifat Fathonah ( Bijaksana ) iaitu salah satu daripada sifat-sifat yang wajib bagi Rasul.

Sahabat-sahabat sekelian, pujian serta selawat yang kita ucapkan pada setiap hari samada di dalam  mahupun di luar solat  tidak akan bermakna seandainya kita terus menerus menggelar nabi yang kita sanjung ini dengan gelaran buta huruf dan seharusnya gelaran seumpama ini tidak akan wujud pada mana-mana nabi mahupun rasul, tidak kiralah samada ianya Nabi Isa as, Nabi Musa as, Nabi Solih as mahupun Nabi Muhammad saw..


Yang anehnya gelaran buta huruf hanya ada pada Rasulullah saw sahaja iaitu ketua kepada segala nabi dan rasul. Tidak masuk akal sama sekali bahawa penghulu kepada segala nabi itu seorang yang buta huruf sedangkan nabi-nabi yang lain sebelum Baginda adalah bijak-bijak belaka.

Di sini kita dah nampak ada agenda tertentu dari ahli kitab dan golongan yang enggan beriman dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Ianya merupakan salah satu propaganda Yahudi untuk menyekat dan menghapuskan agama islam sebagaimana tindakan kaum kafir Quraisy Mekah menggelar Baginda dengan gelaran gila dan tukang sihir. 



Kalimah Ummiy dimulakan dengan huruf alif dan Lam ta'rif  yang berperanan untuk mengkhususkan sesuatu perkara. Katakan diatas meja terdapat banyak buku. Seandainya saya katakan " Tolong ambilkan saya buku" maka orang yang diminta tolong boleh mengambil mana- mana buku sahaja kerana lafaz buku itu umum. Seandainya saya berkata " Tolong ambilkan saya buku itu" maka orang diminta tolong perlu mengambil buku- buku yang telah ditentukan sahaja kerana lafaz buku ini adalah lafaz khusus.


Kalimah Ummiy pada surah Al A'raf ayat 157 dan 158  ini terdapat alif dan Lam dipermulaan perkataan yang membawa maksud khusus iaitu " Nabi yang Ummiy itu". Dalam hal ini  makna Ummiy kita kena rujuk terjemahannya kepada empunya kalam ( Allah ) kerana lafaz kalam itu adalah khusus.


Maksud Ummiy yang sebenarnya

Firman Allah dalam surah Al Ankabut ayat 48



Maksudnya
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).

Dalam ayat ini Allah menerangkan maksud ummiy adalah tidak pernah membaca kitab-kitab terdahulu sebelum AlQuran dan Rasulullah tidak pernah menulis dengan tangan kanannya. Seandainya Rasulullah pernah berbuat demikian ( membaca dan menulis kitab-kitab terdahulu ) maka orang-orang Yahudi akan mengatakan bahawa AlQuran yang dibawa oleh Rasulullah ini adalah ciplak dari kitab- kitab Taurat, Zabur dan Injil. 


Lihatlah betapa bijaknya mereka cuba memutarbelitkan kalimah Al Ummiy sebagaimana mereka pernah memutarbelitkan kitab - kitab Taurat, Injil dan Zabur . Firman Allah  dalam surah An Nisa' ayat 46

Maksudnya
"Daripada orang orang Yahudi itu mereka suka memutarbelitkan kalam allah dari tempatnya dan mereka berkata kami dengar dan kami engkar"

Tidak penah membaca bukan beerti seseorang itu buta huruf. Sekarang kita tanya pada diri kita berapa ramaikah diantara kita yang pernah membaca kitab Taurat, Injil dan Zabur dan setujukah anda seandainya orang yang tidak pernah membaca dan menulis kitab-kitab yang diturunkan sebelum AlQuran ini digelar sebagai Buta Huruf.


Kalau begitu tak guna kita belajar tinggi tinggi sampai ambil phd tapi kita masih digelar buta huruf  hanya kerana tidak pernah membaca kitab-kitab sebelum AlQuran.

Dalam surah Ali Imran ayat 20, umat manusia dalam agama samawi terbahagi kepada dua iaitu golongan yang didatangkan alkitab ( iaitu kitab-kitab sebelum AlQuran ) dan Al Ummiyin sebagaimana firman Allah.



maksudnya
"Seandainya mereka membantahimu maka katakanlah maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan orang-orang yang ummi "Apakah telah Islam kamu ". Jika telah Islam mereka , sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya".  Surah Ali Imran  ayat 20

Orang- orang yang diberikan Al Kitab adalah merujuk kepada orang Yahudi dan Kristian yang berasal daripada keturunan Nabi Ishak a.s dan Nabi Yaakob a.s. Golongan yang lebih dikenali sebagai Bani Israil ini telah diturunkan kepada mereka kitab- kitab sebelum AlQuran iaitu kitab Taurat ( Nabi Musa a.s ), kitab Zabur ( Nabi Daud a.s ) dan kitab Injil ( Nabi Isa a.s ).

Adapun golaongan AlUmmiyyin adalah golongan yang tidak pernah didatangkan AlKitab iaitu  lawan kepada golongan yang didatangkan Alkitab. Mereka ini adalah daripada keturunan Nabi Ismail a.s. yang salsilahnya terus kepada Nabi Muhammad s.a.w serta umat islam seperti kita yang tidak pernah menerima, memegang apatah lagi membaca kitab - kitab terdahulu sebelum AlQuran seperti Taurat, Injil dan Zabur .

Seandainya Al Ummiyyin ini bermaksud golongan yang Buta huruf mengapakah Allah tidak namakan golongan dari Bani Israil ini sebagai golongan yang bijak tetapi sebaliknya Allah gelarkan mereka sebagai golongan yang telah didatangan AlKitab.

Jelas sekali dalil yang kedua ini menafikan maksud Al Ummiyyin ini sebagai golongan Buta huruf dan di sini telah menampakkan kepada kita niat jahat bangsa Yahudi ini untuk memperbodohkan  umat  yang Allah sifatkan didalam AlQuran sebagai sebaik baik umat ( Khaira Ummah ).

Kesimpulan dari perbincangan ini bahwa kalimah AL UMMIY dalan surah Al 'Araf  ayat 157  dan 158 ini maknanya bukanlah Buta Huruf . Kita sebagai umat yang menyayangi Rasulullah harus berwaspada dan tidak terpedaya dengan propaganda yang sengaja ditimbulkan dengan maksud jahat meminta agar kita menghina rasul kita sendiri dan menolak segala ajarannya. Rosululloh SAW adalah Al-Insan Al-Kamil Al-Mukammil Wa Sayyidul Wujud.
---------------------------------------------
Kata "UMMI" itu berasal dari perkataan Bahasa Arab  yang mengandung dua maksud. Maksud yang pertama ialah INDUK sedang maksud yang kedua ialah ORANG YANG TIDAK TAHU MENULIS DAN MEMBACA. Perkataan INDUK ini juga mengandung dua maksud, yaitu yang pertama: IBU dan maksud yang kedua ialah TEMPAT LETAKNYA SEGALA SESUATU. Sebenarnya ummi pada Nabi Muhammad SAW itu mengandung maksud pengertian induk yang kedua, yaitu "tempat letaknya segala sesuatu" dan bukannya orang yang tidak tahu menulis dan membaca.

Perlu dipahami bahwa segala ilmu pengetahuan yang berada di dunia ini terdapat di dalam kitab Al-Quran. Sedangkan Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia. Ini mengandung maksud bahwa Rasululloh SAW adalah tempat berkumpulnya segala ilmu pengetahuan. Perlukah orang yang telah mempunyai segala ilmu pengetahuan belajar menulis dan membaca, sedangkan menulis dan membaca itu hanyalah satu kaedah untuk mencari ilmu pengetahuan.

Rasululloh SAW tidak perlu kepada menulis dan membaca karena Alloh SWT sendiri melalui malaikat Jibril telah mengajarkan Al-Qur'an kepada Rasululloh SAW, dimana Al-Qur'an itu adalah al-Kitab yang mengandung segala multidisiplin ilmu dunia dan akhirat yang tiada sesuatupun yang dialpakan sedikitpun segalanya dalam Al-Qur'an itu. Hanya orang biasa seperti ummatnya inilah yang patut belajar dan tahu bagaimana hendak menulis dan membaca karena hanya dengan cara itulah kita dapat mencari / mendapat ilmu. Oleh karena itu maksud ummi pada Rasululloh SAW, bukanlah orang yang tidak tahu menulis dan membaca, akan tetapi terdapat dalam maksud induk yang kedua diatas yaitu “ TEMPAT LETAKNYA SEGALA ILMU PENGETAHUAN “. Nabi Muhammad SAW adalahAhsannas Kholqon Wa Khuluqon dan pelajarilah tentang Haqiqat Nur Muhammad SAW yang diciptakan Alloh SWT sebelum adanya sesuatu apapun sebagaimana hadits riwayat Jabir Ra(Innalloha Kholaqo qoblal asyya' Nuro Nabiyyika Muhammad SAW Min Nurihi)

--------------------------------------------,-------
:وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan diantara mereka pula ada orang-orang yang buta huruf, mereka tidak mengetahui ttg isi Al-Kitab selain dari penerangan-penerangan bohong dan mereka hanyalah berpegang kepada sangkaan-sangkaan saja.” (Surah Al-Baqarah: ayat 78).
يَقُول تَعَالَى " وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ" أَيْ وَمِنْ أَهْل الْكِتَاب قَالَهُ مُجَاهِد : وَالْأُمِّيُّونَ جَمْع أُمِّيّ وَهُوَ الرَّجُل الَّذِي لَا يُحْسِن الْكِتَابَة .
Alloh berfirman: “diantara mereka yang ummiyun”adalah dari kalangan ahli kitab seperti yang dikatakan oleh Mujahid: Ummiyyun adalah jamak bagi perkataan ummi dimana hal itu membawa maksud seseorang yang tidak tahu/bagus dalm menulis kitabah/tulisan.
قَالَهُ أَبُو الْعَالِيَة وَالرَّبِيع وَقَتَادَة وَإِبْرَاهِيم النَّخَعِيّ وَغَيْر وَاحِد وَهُوَ ظَاهِر فِي قَوْله تَعَالَى " لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَاب " أَيْ لَا يَدْرُونَ مَا فِيهِ .
Telah berkata Abu Al-`Aliyah, Ar-R`bi`, Qatadah, Ibrahim An-Nakha`i dan lain-lain bahawa Alloh berfirman, “..mereka yang tidak tahu al-kitab..” maksudnya adalah mereka tidak mengetahui apa yg ada dlm al-kitab.

وَلِهَذَا فِي صِفَات النَّبِيّ - صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - : أَنَّهُ الْأُمِّيّ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يُحْسِن الْكِتَابَة كَمَا قَالَ تَعَالَى " وَمَا كُنْت تَتْلُوا مِنْ قَبْله مِنْ كِتَاب وَلَا تَخُطّهُ بِيَمِينِك إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ "Oleh karena itu  (ummi) adalah salah satu sifat Nabi SAW, bhw Beliau adalah Ummy, karena Beliau tdk pernah tahu/bagus menulis/membaca, sebagimana firman Alloh:- “Dan engkau (wahai Muhammad) tidak pernah tahu/bagus mebulis/ membaca sebuah kitab/tulisan pun sebelum turunnya Al-Quran ini dan tidak pula tahu menulisnya dengan tangan kananmu; (kalaulah engkau dahulu pandai membaca dan menulis) tentulah ada alasan bagi orang-orang kafir yang menentangmu akan merasa ragu-ragu (tentang kebenaranmu).” (Surah Al-Ankabuut: ayat 48) .وَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى " هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ "
Dan Firman Aloah SWT “Dialah yang telah mengutus Rasul dalam kalangan orang (Arab) yang Ummiyyin…”(Surah Al-Jumu'ah: ayat 2). Imam Al-Raghib Al-Isf`hani(مفردة الفذ القران التقدم العربي ) menafsirkan ummi dlm ayat surat Al-Ankabut, itu sebagai seseorang yang biasa dan tidak berpendidikan, tidak tahu menulis dan tidak tahu membaca. Pendapat ini juga didokong oleh Al-Imam Ibn Katsir dlm menafsirkan ayat al-ankabut(48) sebagimana berikut:
الْآيَة وَهَكَذَا كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَائِمًا إِلَى يَوْم الدِّين لَا يُحْسِن الْكِتَابَة وَلَا يَخُطّ سَطْرًا وَلَا حَرْفًا بِيَدِهِ بَلْ كَانَ لَهُ كِتَاب يَكْتُبُونَ بَيْن يَده الْوَحْي وَالرَّسَائِل إِلَى الْأَقَالِيم
Ayat ini menunjukkan bahawa Rasulullah SAW selalu berkekalan hingga hari pembalasan, tiada daya upaya utk menulis walaupun satu ayat ataupun satu huruf dengan tangannya sendiri. Bahkan Beliau selalu menuliskan apa yang diwahyukan kpdnya saja atau menuliskan risalah2 kpd tempat lain.
أَيْ لَوْ كُنْت تُحْسِنهَا لَارْتَابَ بَعْض الْجَهَلَة مِنْ النَّاس فَيَقُول إِنَّمَا تَعَلَّمَ هَذَا مِنْ كُتُب قَبْله مَأْثُورَة عَنْ الْأَنْبِيَاء مَعَ أَنَّهُمْ قَالُوا ذَلِكَ مَعَ عِلْمهمْ بِأَنَّهُ أُمِّيّ لَا يُحْسِن الْكِتَابَة
Artinya bhw sekiranya nabi seorang pandai membaca menulis, pasti orang jahil akan mempersoalkannya, dimana mereka akan mengatakan bhw kamu (nabi) belajar hal ini dari kitab2 para nabi sebelumnya. Sesungguhnya mereka berkata demikian juga walaupun mereka tahu bahwa baginda seorang yang buta huruf dan tidak tahu/bagus/pandai membaca atau menulis kitabah/tulisan." ( تفسير ابن كثير). Dimana semua apa yg dilakukan Nabi adalah berdasrakan wahyu, bukan menurut hawa nafsunya. Bhw Rasululloh itu Ummiy yakni dimaksudkan tidak tahu membaca dan menulis untuk membuktikan bahwa Al Quran itu bukan dari tulisan Rasululloh SAW sendiri, diman dgn bersifat Ummiy ini sebenarnya justru memperlihatkan kehebatan Rasululloh SAW, hal mana Ummiy ini adalah satu mukjizat besar Rasululloh dan bukannya buta huruf sebagimana manusia umumumnya.”  Disamping itu Rasulullah itu diberi gelar sifat Ummiy karena pada beliau diberikan ibu segala ilmu. Separtimana Al Fatih`h dikatakan Ummul Kitab, karena di dalamnya adalah intipati Al Quran, begitu jugalah dengan Rasulullah, di mana wahyu yang diturunkan kepadanya adalah ibu segala ilmu. Oleh karena apa yang dianugerahkan kepada Rasulullah itu adalah ibu ilmu, ia tidak boleh diterima melalui proses biasa sebagimana manusia pd umumnya. Bhw Nabi Muhammad itu Basyarun(manusia), Falaisa Kalbasyari(tapi bukan seperti manusia pd umumnya/biasanya). Rasululah selalu mendapat wahyu dlm segala mulltidimensialnya, tidak cukup sekadar melalui proses biasa sebagaimana manusia pd umumnya/biasanya dengan menggunakan pancaindera. Tetapi Ilmu wahyu yang Alloh anugerahkan kepada Beliau SAW adalah diajarkan terus menerus selalu kepadanya. Sedang Ilmunya bukan dari sumber membaca dan menulis sebagaimana manusia pada umumnya/biasanya.


DALAM Kitab Suci Al-Qur’an, Surat al-A`raf ayat 157, Allah SWT menyatakan Rasulullah Muhammad SAW sebagai an-nabiyy al-ummiy (Nabi yang “Ummi”). Sudah menjadi pemahaman umum di kalangan umat Islam bahwa “ummi” artinya buta huruf, tuna aksara, tidak tahu membaca dan menulis. Anggapan yang salah kaprah ini harus segera diperbaiki, sebab ternyata istilah ummiy (dengan plural ummiyyuun atau ummiyyiin) dalam Al-Qur’an sama sekali bukanlah bermakna seperti itu.

Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW merupakan mata rantai terakhir dari agama Nabi-Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Isa al-Masih, dan Nabi-Nabi Allah lainnya (`alaihimus-salaam). Kebanyakan para Nabi itu berasal dari kalangan Bani Israil, keturunan Nabi Ibrahim melalui putranya Nabi Ishaq. Bani Israil telah banyak menerima Kitab Allah, seperti Taurat, Zabur dan Injil. Adapun orang-orang Arab, keturunan Nabi Ibrahim melalui putranya Nabi Ismail, sebelum Al-Qur’an diwahyukan tidak pernah menerima Kitab Allah. Itulah sebabnya orang-orang Arab disebut kaum ummiyyuun atau ummiyyiin, artinya “kaum yang belum pernah membaca atau menulis Kitab Allah”, sebagai lawan dari kaum al-ladziina uutu l-kitaab, “kaum yang sudah menerima Kitab Allah”, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 20.

Orang-orang Yahudi semasa Rasulullah SAW sering merendahkan orang-orang Arab yang mereka anggap tidak mempunyai Kitab. Ejekan orang Yahudi itu antara lain direkam oleh Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 75: “Tiada yang patut disalahkan bagi kami atas kaum ummiyyiin”. Maka Allah SWT menyindir bahwa di kalangan Yahudi sendiri banyak juga yang ummiy, tidak memahami Taurat, sebagaimana tercantum dalam Surat al-Baqarah ayat 78: “Dan sebagian mereka ummiyyuun, tidak mengetahui Kitab.”

Dari kalangan orang Arab yang merupakan kaum ummiyyuun itu Allah SWT mengutus Nabi dan Rasul Terakhir Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Jumu`ah ayat 2: “Dia yang membangkitkan pada kaum ummiyyiin seorang Rasul dari kalangan mereka, membacakan atas mereka ayat-ayat-Nya.” Akan tetapi Nabi Muhammad SAW bukanlah diutus kepada kaum ummiyyuun saja, melainkan diutus kepada seluruh umat manusia. Allah SWT menginstruksikan Nabi Muhammad SAW untuk mendakwahkan Islam baik kepada kaum al-ladziina uutu l-kitaab maupun kepada kaum ummiyyuun. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 20: Wa qul li l-ladziina uutu l-kitaaba wa l-ummiyyiina a aslamtum (“Dan katakanlah kepada kaum yang telah menerima Kitab dan kepada kaum yang belum menerima Kitab: apakah kamu bersedia memeluk Islam?”).

Istilah an-nabiyy al-ummiy pada Surat al-A`raf ayat 157 berhubungan dengan kaum Ahlul-Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang memeluk agama Islam. Kalimatnya berbunyi: Al-ladziina yattabi`uuna r-rasuulan-nabiyya l-ummiya l-ladzii yajiduunahuu maktuuban `indahum fii t-tawraati wa l-injiil (“Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang Ummi, yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil”). Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa meskipun Muhammad SAW itu Nabi yang Ummi, artinya berasal dari kaum ummiyyuun, kaum Ahlul-Kitab seharusnya memeluk agama Islam, sebab kedatangan Nabi Muhammad SAW sudah diberitakan dalam Kitab Taurat dan Injil.

Istilah an-nabiyy al-ummiy juga sekaligus berarti bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca atau menuliskan Kitab-Kitab Allah sebelumnya, sehingga seluruh isi Al-Qur’an betul-betul langsung beliau terima dari Allah SWT, bukan hasil jiplakan atau salinan dari Taurat dan Injil seperti tuduhan kaum Ahlul-Kitab kepada beliau. Hal ini dipertegas oleh Allah SWT dalam Surat Al-`Ankabut ayat 48: “Dan engkau tidak pernah membaca Kitab sebelum Al-Qur’an dan tidak pernah menuliskannya dengan tangan kananmu. Seandainya demikian tentu makin ragu kaum penganut kebathilan.”

Masyarakat Arab sebelum Islam telah mengenal sastra tulisan baik natsar (prosa) maupun sya`ir (puisi). Setiap tahun orang-orang Quraisy menyelenggarakan festival (pekan raya) di Ukazh. Di sana diperlombakan pembacaan prosa dan puisi, lalu naskah yang dipandang bagus mendapat kehormatan untuk ditempelkan di dinding Ka`bah. Fakta ini membuktikan bahwa masyarakat Arab waktu itu, termasuk suku Quraisy, mahir membaca dan menulis, sehingga istilah ummiyyuun bukanlah berarti “masyarakat buta huruf”. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW adalah seorang pelaku bisnis yang handal di masa muda beliau sebelum menjadi Rasul. Kesuksesan beliau dalam melakukan transaksi niaga merupakan indikasi bahwa beliau mampu membaca dan menulis, sehingga istilah an-nabiyy al-ummiy dalam Al-Qur’an bukanlah berarti “nabi yang buta huruf”.

Kisah turunnya wahyu yang pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW memberikan isyarat bahwa beliau mampu membaca. Ketika Rasulullah SAW bertafakur menyendiri di Gua Hira’ bukit Jabal Nur, maka pada malam Senin tanggal 17 Ramadhan, yang bertepatan dengan 10 Agustus 610 Masehi, datanglah malaikat Jibril kepada beliau seraya berkata, “Iqra’ (Bacalah).” Nabi menjawab, “Maa aqra’ (Apa yang saya baca?)” Tiga kali Jibril menyuruh Iqra’, dan Rasulullah SAW menjawab serupa pula. Lalu Jibril membacakan lima ayat pertama dari Surat al-`Alaq sebagai wahyu Allah yang paling awal.

Ketika Rasulullah SAW membuat perjanjian gencatan senjata dengan kaum musyrikin Makkah yang diwakili Suhail ibn Amr di Hudaibiyah bulan Dzulqa`dah tahun 6 Hijriyah atau April 628 Masehi, naskah perjanjian dituliskan oleh Ali ibn Abi Thalib dan didiktekan oleh Rasulullah SAW: “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan Suhail ibn Amr.” Suhail protes atas kalimat tersebut dan mengusulkan agar Muhammad Rasulullah diganti menjadi Muhammad ibn Abdillah. Ali ibn Abi Thalib tidak mau menghapus kata rasulullah itu, sehingga Nabi Muhammad SAW sendiri yang menghapusnya dengan tangan beliau untuk diganti menjadi seperti yang diusulkan Suhail.

Dari seluruh uraian yang telah kita bahas, baik analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an maupun analisis terhadap beberapa episode riwayat hidup Rasulullah SAW, jelaslah bahwa istilah an-nabiyy al-ummiy bukanlah berarti “nabi yang buta huruf”, melainkan berarti “nabi yang tidak pernah membaca Kitab Allah sebelum Al-Qur’an” atau “nabi dari kalangan ummiyyuun yang belum pernah menerima Kitab Allah sebelum Al-Qur’an”. Jadi terjemahan “ummi” dalam bahasa Indonesia bukanlah “buta huruf”, melainkan “buta kitab”. Oleh para ulama abad pertengahan dikembangkan pengertian bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar tidak dapat membaca dan menulis, mungkin dengan tujuan agar umat Islam makin yakin bahwa Al-Qur’an itu bukan karangan Nabi. Padahal, meskipun Rasulullah SAW mampu membaca dan menulis, sama sekali tidaklah berkurang sedikit pun keimanan kita bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah SWT.

Alangkah banyaknya aspek yang membuktikan kewahyuan Al-Qur’an, baik dari segi keindahan bahasa maupun dari segi isi Al-Qur’an itu sendiri. Misalnya, banyak sekali fakta ilmiah tentang fenomena alam dalam Al-Qur’an yang baru dapat dipahami sekarang setelah ilmu pengetahuan modern berkembang. Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa Al-Qur’an memang berasal dari Pemilik Alam Semesta yaitu Allah SWT, dan kita tidak perlu merekayasa atau bahkan secara tidak sengaja membuat semacam pelecehan bahwa junjungan kita Nabi Muhammad SAW buta huruf. Alangkah tegany` kita selama ini menyangka junjungan yang kita cintai, manusia paling mulia di muka bumi, Nabi Muhammad SAW, sebagai seorang yang tidak bisa tulis. Sangatlah Mustahil untuk Rosululloh SAW.

Disamping itu perlu selalu ditanamkan bahwa sifat-sifat yg wajib, mustahil dan jaiz bagi Rosul SAW.

Empat Sifat Wajib/Mustahil Bagi Rosul SAW

الدرس الثامن : في صفات الرسل
الصفات الواجبة في حق الرسل أربع  وهي الصدق و الأمانة و التبليغ و الفطانة .
الصدق هو مطابقة الخبر للواقع فيجب علينا أن نعتقد بأن جميع ما جاء به الرسل قولا و فعلا صدق و حق ، قال الله تعالى: صدق الله و رسوله و الدليل العقلي على ذلك ظهور المعجزات على أيديهم فلو لم يكونوا صادقين لكانوا كاذبين و لو كان كاذبين لكان الله يؤيد الكاذبين و يأمر بالاقتداء بهم في قوله تعالى { وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ } و هو محال لأن الله لا يأمر بالفحشاء و المنكر .
الامانة : معنى الأمانة في حق الرسل هو حفظ ظواهرهم و بواطنهم من الوقوع في منهي عنه لو كراهة ، فيجب علينا أن نعتقد بأنهم محفوظون من الظاهرة و الباطنة ، قال الله تعالى حكاية عن أحد الرسل { إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ } ، و الدليل العقلي على ذلك أنهم لو كان غير أمناء لكانوا خائنين لما أمرنا الله باتباعهم ، قال الله تعالى { إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ }

PELAJARAN KEDELAPAN: SIFAT PARA RASUL
SYARAH:
Sebagaimana para malaikat, yang selalu patuh kepada perintah Allah, dan tidak pernah sekalipun melanggar larangan Allah, maka para nabi dan rasul Allah juga demikian. Mereka adalah orang-orang yang dijaga Allah dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa. Para nabi dan Rasul adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah telah menjaga para nabi dan rasul dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sejak mereka baru lahir, begitu pula setelah diangkat menjadi nabi dan rasul.
Telah diyakini bahwa para rasul yang diutus Allah, mereka adalah laki laki merdeka yang telah dipilih dengan sempurna dan dilengkapi dengan keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk biasa. Begitu pula telah diberikan kepada mereka sifat-sifat kesempurnaan dengan tujuan untuk menguatkan risalah yang dibawa. Maka Allah telah menganugerahkan kepada mereka empat sifat kesempurnaan, y`ng wajib dimiliki oleh seorang rasul, yaitu Shidiq (Jujur), Amanah (dipercaya), Tabligh (menyampaikan) dan Fathanah (cerdas).
1. SHIDIQ (JUJUR)
Setiap rasul pasti jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Apa apa yang telah disampaikan kepada manusia baik berupa wahyu atau kabar harus sesuai dengan apa yang telah diterima dari Allah tidak boleh dilebihkan atau dikurangkan. Dalam arti lain apa yang disampaikan kepada manusia pasti benar adanya, karena memang bersumber dari Allah. Makanya setiap rasul pasti jujur dalam pengakuan atas kerasulannya. Dan kita sebagai manusia harus meyakinkanya dan beri’tikad bahwa semua yang datang dari Rasul baik perkataan atau perbuatan adalah benar dan hak. Karena apa yang diucapkan atau diperbuat oleh para rasul bukan menurut kemauannya sendiri. Ucapan dan perbuatannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan atau risalah yang diterima dari Allah.
Sebagai bukti atas kebenaran para rasul, mereka telah dibekali dengan mukjizat mukjizat yang harus diyakini oleh setiap muslim kebenaranya. Dan tidak mungkin harus diyakini dan diteladani jika mereka (para rasul) itu tidak jujur. Tentu setelah itu apa yang telah diperintahkan Allah melalui perantaraan para rasul, kita sebagai muslim harus mengikuti dengan ta’at dan apa yang dilarang Allah kita tinggalkan.
وَمَآ آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُواْ
”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah,” (al-Hasyr, 7)
2. AMANAH (DIPERCAYA)
Amanah berarti bisa dipercaya baik dhahir atau bathin. Sedangkan yang dimaksud di sini bahwa setiap rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Para rasul akan terjaga secara dhahir atau bathin dari melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika.
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” (asy-syuara’ 143)
Maka hal yang muhal atau mustahil jika rasul itu terjerumus ke dalam perzinahan, pencurian, meminum minutan keras, berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya’, sombong, dusta dan sebagainya. Jika para rasul telah melanggar etika berarti mereka telah bekhianat dan Allah tidak menyukai manusia yang berkhianat.
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الخَائِنِينَ
Allah berfirman,  “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”(al-Anfal, 58)

التبليغ : معنى التبليغ في حق الرسل عليهم السلام هو ايصال الأحكام التى أمروا بتبليغها الى المرسل اليهم ، فيجب علينا أن نعتقد أنهم عليهم السلام بلغوا ما أمروا بتبليغه ما أخفوا على الناس من ذلك شيئا ، لا عمدا و لا سهوا و لا نسيانا قال الله تعالى { الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً } و الدليل العقلي على ذلك أنهم لو كتموا شيئا مما أمروا بتبليغه ، و لكنا مأمورين بكتم العلم ، لأننا أمرنا بالاقتداء بهم و هو باطل لأن كاتم العلم ملعون .
الفطانة : هي حدة الذكاء و التيقظ التام لإلزام الخصوم و إبطال دعاويهم ، فيجب علينا أن نعتقد أنهم عليهم الصلاة و السلام أكمل أهل زمانهم في العقل و الفطنة و قوة الذكاء . و الدليل العقلي على ذلك أن الله تعالى أرسلهم لإحقاق الحق و إبطال الباطل و إبطال دعاوي الخصوم بإقامة الحجة ، فلو كانوا غير فطناء لكانوا بلداء و لو كانوا بلداء لعجزوا عن إقامة الحجة و هو باطل ، قال الله تعالى { وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ }

3. TABLIGH (MENYAMPAIKAN)
Sudah menjadi kewajiban para rasul untuk menyampaikan kepada manusia apa yang diterima dari Allah berupa wahyu yang menyangkut didalamnya hukum hukum agama. Jika Allah memerintahkan para rasul untuk menyampaikan wahyu kepada manusia, maka wajib bagi manusia untuk menerima apa yang telah disampaikan dengan keyakinan yang kuat sebagai bukti atau saksi akan kebenaran wahyu itu.
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَداً إِلاَّ اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيباً
Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (al-Ahzab, 39).
Hal ini bisa dikiyaskan bahwa jika Allah memberikan wahyu kepada para rasul untuk tidak disampaikan atau dirahasiakan kepada manusia, maka tidak wajib bagi manusia untuk mempelajarinya. Sedangkan menyampaikan adalah hal yang wajib dan menyembunyikan adalah hal yang terlaknat dan tercela.
4. FATHONAH (CERDAS)
Dalam menyampaikan risalah Allah, tentu dibutuhkan kemampuan, diplomasi, dan strategi khusus agar wahyu yang tersimpan didalamnya hukum hukum Allah dan risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh manusia. Karena itu, seorang rasul wajib memiliki sifat cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran Islam.
Maka diharuskan bagi kita untuk meyakinkan bahwa para rasul itu adalah manusia yang paling sempurna dalam penampilan, akal, kekuatan berfikir, kecerdasan dan pembawaan wahyu yang diutus pada zamannya. Kalau saja para rasul itu tidak sesuai dengas sifat sifatnya maka mustahil manusia akan menerima dan mengakuinya. Sifat sifat itu merupakan satu hujjah bagi mereka agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik.
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ آتَيْنَاهَآ إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ
Allah berfirman: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.” (al-An’am, 83)


الصفات المستحيلة في حق الرسل  
يستيحل في حق الرسل عليهم السلام أضداد الصفات الواجبة وهي أربع : الكذب و الخيانة و الكتمان و البلادة
الصفات الجائزة في حق الرسل : يجوز في حق الرسل عليهم السلام كل وصف من أوصاف البشر التى لا تؤدي الى نقص في مراتبهم العلية ، كالأكل و الشرب و النكاح و المرض الخفيف و الاغماء والدليل على ذلك مشاهدة احوالهم لأن من حضر معهم ذلك معهم ، و وصل الينا بالتواتر ، قال الله تعالى { وَمَآ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأَسْوَاقِ } و يستحيل في حقهم الجنون و البرص والعمى و كل مرض ينفر الناس عنهم.

SIFAT MUSTAHIL BAGI RASUL
Telah diterangkan di atas sifat sifat wajib para rasul yang harus diimani oleh setiap muslim yaitu: Shidiq (jujur), Amanah (bisa dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan  Fathonah (cerdas). Adapun kebalikan dari sifat sifat wajib para rasul adalah sifat sifat mustahil yaitu Kidhb (Bohong), Khianah (Berkhianat atau tidak dipercaya), Kitman (menyembunyikan) dan Baladah (Bodoh).

SIFAT JAIZ BAGI RASUL
Allah telah mengutus para rasul kepada manusia dan telah dihiasi dengan sifat kesempurnaan melebihi makhluk Allah yang lain, namun mereka tidak akan terlepas dari fitrah kemanusian yang ada dalam dirinya. Seorang rasul tetaplah sebagai seorang manusia biasa yang berprilaku sebagaimana manusia.
Sifat para rasul Allah ini telah membuat mereka melakukan aktifitas sebagaimana manusia lainnya. Sudah tentu yang dimaksud di sini adalah prilaku dan sifat yang tidak mengurangi derajat kerasulan mereka di mata manusia. Jadi sifat sifat ini boleh dikatakan jaiz bagi para rasul, yaitu sifat sifat yang boleh dilakukan dan boleh pula ditinggalkan Seperti makan, minum, tidur, kawin, istirahan, sakit yang ringan, pingsan, jalan ke pasar pasar, berniaga dan semacamnya.
Sedangkan prilaku dan sifat yang bisa merendahkan derajat kerasulan, mereka akan terpelihara dan dipelihara oleh Allah dan sudah pasti perilaku dan sifat itu tidak pernah dilakukannya. Dan inilah yang membedakan mereka dengan manusia yang lain.
وَمَآ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأَسْوَاقِ
Allah berfirman, ”Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (al-Furqon, 20)