=========
Jarang orang berpikir mengenai fungsi jari-jari tangannya. Seolah
dibiarkan bergerak begitu saja. Padahal kita dapat memanfaatkannya
sebagai pendulang pahala, jika mengetahui tata caranya. Karena banyak
laku ibadah yang sepele, jika diniati sebagai sebuah kesunnatan akan
mendatangkan pahala. Termasuk didalamnya adalah mengenai letak jari-jari
dalam shalat.
Jangan biarka jari-jari tangan kita bergerak demikian saja dalam
shalat. kadang renggang dan kadang rapat. Karena ada tata cara dan waktu
khusus untuk merenggangkan atau merapatkan jari-jari dalam shalat.
Disunnahkan merenggangkan (sekadarnya) jari-jari tangan dalam shalat ketika mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, ruku’, bangun dari ruku’ (I’tidal), dan berdiri dari tahiyat awal. Demikian pula sunnah hukumnya merenggangkan jari-jari ketika rukuk. Artinya jari-jari direnggangkan ketika menekan lutut.
Berbeda halnya ketika dalam keadaan sujud. Hendaknya posisi jari-jari
rapat dan mengarah kiblat. Tepatnya ketika jari-jari tangan kita
menempel pada alas tempat shalat. Demikian pula ketika duduk di antara
dua sujud, sebaiknya jari-jari tetap rapat di atas kedua lipatan kaki.
Adapun ketika tahiyat, maka jari-jari tangan kiri tetap rapat
mengarah ke kiblat, dan jari-jari tangan kanan menggenggam sambil
mendirikan jari telunjuk mengarah ke kiblat.
Demikianlah sedikit informasi tentang posisi jari-jemari tangan dalam
shalat sebagaimana diterangkan Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,44640-lang,id-c,syariah-t,Posisi+Jari+Jemari+Ketika+Shalat-.phpx
Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Jumat, 07 Juni 2013
Cara Cucu Rasulullah Nasihati Orang Tua
=========
Sayidina Hasan dan Sayidina Husain suatu ketika melihat seseorang sedang berwudhu. Sayangnya, cara wudhu orang tersebut tidak sempurna, tidak sesuai dengan tuntunan agama.
Kedua cucu baginda Nabi SAW yang tengah beranjak remaja itu pun berpikir tentang cara mengoreksinya secara bijak. Mereka tak ingin menyinggung dan berharap pesan nasehatnya dapat diterima dengan lapang dada.
Salah seorang dari keduanya akhirnya mengatakan kepada orang tersebut, ”Wahai paman, saya dan saudara saya beda pendapat mengenai siapa di antara kami yang paling benar dan bagus cara wudhunya. Kami minta tolong paman untuk menilai kami, siapa yang terbaik wudhunya!”
Orang itu setuju. Hasan dan Husain lantas berwudhu sementara ia memperhatikan satu persatu dengan seksama, disertai rasa kagum akan cara wudhu dua anak dimaksud. Saat itu, ia beruntung karena mendapatkan pelajaran praktik dari kedua anak itu. Pelan-pelan kesadarannya tumbuh bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Setelah Hasan dan Husain selesai “lomba berwudhu” tiba saatnya untuk menentukan pemenangnya. ”Wudhu kalian berdua sangat istimewa,” kata orang itu sembari tersenyum seolah mengucapkan terima kasih.
Tidak ada pemenangnya. Memang tujuannya bukan untuk mencari pemenang.
Apapun situasinya, nasihat-menasihati merupakan prinsip esensial dalam Agama. Sayangnya prinsip ini semakin luntur, karena banyak orang yang “berat” menasihati orang lain dan banyak pula orang yang merasa “berat” untuk menerima nasihat.
Tampaknya, dibutuhkan kiat yang tepat untuk menyampaikan nasihat, dan tidak harus selalu diungkapkan secara tersurat, seperti yang dilakukan dua pemuda ahli surga tadi. Formatnya barangkali tidak menasihati walaupun secara tersirat kandungannya adalah nasihat.
Saya teringat saat belajar di salah satu madrasah ibtidaiyah di Jakarta. Saat itu saya belum mengerti kenapa setiap akan pulang sekolah guru-guru kami meminta semua siswa menutup pelajaran dengan membaca surat “Al-Ashr”. Rupanya para sahabat Rasul SAW, tabiin dan generasi sesudahnya mempunyai kebiasaan mengakhiri majelis atau pertemuan mereka dengan membaca surat tersebut. Surat al-Ashr yang berisikan deklarasi kerugian manusia, kecuali mereka yang beriman, melakukan amal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,43645-lang,id-c,hikmah-t,Cara+Cucu+Rasulullah+Nasihati+Orang+Tua-.phpx
Sayidina Hasan dan Sayidina Husain suatu ketika melihat seseorang sedang berwudhu. Sayangnya, cara wudhu orang tersebut tidak sempurna, tidak sesuai dengan tuntunan agama.
Kedua cucu baginda Nabi SAW yang tengah beranjak remaja itu pun berpikir tentang cara mengoreksinya secara bijak. Mereka tak ingin menyinggung dan berharap pesan nasehatnya dapat diterima dengan lapang dada.
Salah seorang dari keduanya akhirnya mengatakan kepada orang tersebut, ”Wahai paman, saya dan saudara saya beda pendapat mengenai siapa di antara kami yang paling benar dan bagus cara wudhunya. Kami minta tolong paman untuk menilai kami, siapa yang terbaik wudhunya!”
Orang itu setuju. Hasan dan Husain lantas berwudhu sementara ia memperhatikan satu persatu dengan seksama, disertai rasa kagum akan cara wudhu dua anak dimaksud. Saat itu, ia beruntung karena mendapatkan pelajaran praktik dari kedua anak itu. Pelan-pelan kesadarannya tumbuh bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Setelah Hasan dan Husain selesai “lomba berwudhu” tiba saatnya untuk menentukan pemenangnya. ”Wudhu kalian berdua sangat istimewa,” kata orang itu sembari tersenyum seolah mengucapkan terima kasih.
Tidak ada pemenangnya. Memang tujuannya bukan untuk mencari pemenang.
Apapun situasinya, nasihat-menasihati merupakan prinsip esensial dalam Agama. Sayangnya prinsip ini semakin luntur, karena banyak orang yang “berat” menasihati orang lain dan banyak pula orang yang merasa “berat” untuk menerima nasihat.
Tampaknya, dibutuhkan kiat yang tepat untuk menyampaikan nasihat, dan tidak harus selalu diungkapkan secara tersurat, seperti yang dilakukan dua pemuda ahli surga tadi. Formatnya barangkali tidak menasihati walaupun secara tersirat kandungannya adalah nasihat.
Saya teringat saat belajar di salah satu madrasah ibtidaiyah di Jakarta. Saat itu saya belum mengerti kenapa setiap akan pulang sekolah guru-guru kami meminta semua siswa menutup pelajaran dengan membaca surat “Al-Ashr”. Rupanya para sahabat Rasul SAW, tabiin dan generasi sesudahnya mempunyai kebiasaan mengakhiri majelis atau pertemuan mereka dengan membaca surat tersebut. Surat al-Ashr yang berisikan deklarasi kerugian manusia, kecuali mereka yang beriman, melakukan amal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,43645-lang,id-c,hikmah-t,Cara+Cucu+Rasulullah+Nasihati+Orang+Tua-.phpx
Ketika Sayyidina Umar Bin Khotthob Akan Penggal Kepala Orang
=======
Nasib malang menimpa salah seorang musyrikin Quraisy, Hakam bin Kaisan. Kekalahan kelompoknya dalam perang Badar mengubah jalan hidupnya sebagai tawanan dan hampir saja kehilangan kepala.
Umar bin Khattab beriniat akan memenggal kepala Hakam lantaran tak terlalu sabar menunggu keinsafan orang Quraisy tersebut atas ajaran Islam. Meski sebagai tawanan, Hakam tetap tak beranjak dari ajaran jahiliyahnya.
”Sebaiknya lepaskan saja ia. Kita serahkan saja kepada Rasulullah,” usul bawahan Umar, Miqdad bin Amr.
Mereka akhirnya sepakat membawa Hakam menghadap Rasulullah SAW. Dalam pertemuan itu, Hakam menerima banyak pelajaran dari Rasulullah.
”Ya Rasulallah, untuk apa Engkau mendakwahinya? Demi Allah, orang ini tidak akan masuk Islam sampai akhir abad. Biarkan aku memenggal kepalanya supaya ia kembali ke perut neraka Hawiyah,” protes Umar.
Rasulullah tak menoleh sedikit pun kepada Umar. Mungkin mengabaikannya. Tapi, Hakam akhirnya benar-benar jatuh hati dengan Islam.
Menyaksikan kebijaksanaan Nabi dan proses Hakam memeluk Islam, Umar pun menyesali perbuatannya. ”Bagaimana aku sampai membantah Nabi SAW untuk perkara yang sesungguhnya beliau lebih mengetahui?” katanya.
Diriwayatkan, Hakam pernah bertanya kepada Rasulullah, ”Apa itu Islam?”
”Engkau menyembah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Engkau bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya,” jawab Rasulullah.
”Sungguh aku telah memeluk agama Islam,” jawab Hakam.
Nabi segera menoleh kepada para sahabatnya. ”Seandainya saja aku memenuhi keinginan kalian (untuk membunuh Hakam) beberapa saat yang lalu, pasti ia sudah masuk neraka.”
Dalam perkembangannya, Hakam berubah menjadi muslim yang sangat saleh dan taat. Bahkan Hakam turut berjuang di medan perang bersama Nabi hingga ia wafat sebagai syahid di Bi’r Ma’unah.
Bi’r Ma’unah adalah tempat syahidnya 70 sahabat pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriyah. Saat itu, Rasulullah mengungkapkan rasa dukanya yang mendalam atas peristiwa memilukan yang menimpa para sahabatnya selama beberapa hari dengan qunut nazilah.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,43726-lang,id-c,hikmah-t,Ketika+Umar+Akan+Penggal+Kepala+Orang-.phpx
Nasib malang menimpa salah seorang musyrikin Quraisy, Hakam bin Kaisan. Kekalahan kelompoknya dalam perang Badar mengubah jalan hidupnya sebagai tawanan dan hampir saja kehilangan kepala.
Umar bin Khattab beriniat akan memenggal kepala Hakam lantaran tak terlalu sabar menunggu keinsafan orang Quraisy tersebut atas ajaran Islam. Meski sebagai tawanan, Hakam tetap tak beranjak dari ajaran jahiliyahnya.
”Sebaiknya lepaskan saja ia. Kita serahkan saja kepada Rasulullah,” usul bawahan Umar, Miqdad bin Amr.
Mereka akhirnya sepakat membawa Hakam menghadap Rasulullah SAW. Dalam pertemuan itu, Hakam menerima banyak pelajaran dari Rasulullah.
”Ya Rasulallah, untuk apa Engkau mendakwahinya? Demi Allah, orang ini tidak akan masuk Islam sampai akhir abad. Biarkan aku memenggal kepalanya supaya ia kembali ke perut neraka Hawiyah,” protes Umar.
Rasulullah tak menoleh sedikit pun kepada Umar. Mungkin mengabaikannya. Tapi, Hakam akhirnya benar-benar jatuh hati dengan Islam.
Menyaksikan kebijaksanaan Nabi dan proses Hakam memeluk Islam, Umar pun menyesali perbuatannya. ”Bagaimana aku sampai membantah Nabi SAW untuk perkara yang sesungguhnya beliau lebih mengetahui?” katanya.
Diriwayatkan, Hakam pernah bertanya kepada Rasulullah, ”Apa itu Islam?”
”Engkau menyembah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Engkau bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya,” jawab Rasulullah.
”Sungguh aku telah memeluk agama Islam,” jawab Hakam.
Nabi segera menoleh kepada para sahabatnya. ”Seandainya saja aku memenuhi keinginan kalian (untuk membunuh Hakam) beberapa saat yang lalu, pasti ia sudah masuk neraka.”
Dalam perkembangannya, Hakam berubah menjadi muslim yang sangat saleh dan taat. Bahkan Hakam turut berjuang di medan perang bersama Nabi hingga ia wafat sebagai syahid di Bi’r Ma’unah.
Bi’r Ma’unah adalah tempat syahidnya 70 sahabat pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriyah. Saat itu, Rasulullah mengungkapkan rasa dukanya yang mendalam atas peristiwa memilukan yang menimpa para sahabatnya selama beberapa hari dengan qunut nazilah.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,43726-lang,id-c,hikmah-t,Ketika+Umar+Akan+Penggal+Kepala+Orang-.phpx
Mimpi Para Sahabat soal Nasib Sayyidina Umar Bin Khotthob di Kuburan
========
Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah ketiga ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, ”Bagaimana Allah memperlakukanmu?”
Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah dikisahkan Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan-kekeliruannya dan membebaskan siksa dari dirinya. Para sahabat menyahut dengan pertanyaan susulan. ”Apa penyebabnya? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?”
Umar menimbalinya dengan mengisahkan peristiwa di alam kubur. Sejenak usai ia dimakamkan, dua malaikat menghampirinya. Umar dalam perasaan takut luar biasa. Nalarnya hilang. Sebelum malaikat bertanya, tiba-tiba suara tanpa rupa terdengar.
”Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.”
Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memagang burung emprit sembari memperlakukannya selayak mainan.
Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu. Sekarang burung emprit sepenuhnya menjadi milik Umar. Untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah, khalifah ketiga ini pun mengikhlaskan burung emprit terbang ke ke udara dengan merdeka.
Hal ini membuktikan bahwa ajaran Rasulullah SAW telah menancap kuat di hati dan perilaku Umar. Meski sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk ”Singa Padang Pasir” itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya.
Pesan lain yang bisa ditangkap bahwa cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan seterusnya. Terlebih manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.
”Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya ’penduduk langit’ mengasihimu.”
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,44918-lang,id-c,hikmah-t,Mimpi+Para+Sahabat+soal+Nasib+Umar+di+Kuburan-.phpx
Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah ketiga ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, ”Bagaimana Allah memperlakukanmu?”
Dalam al-Aqthaf ad-Daniyyah dikisahkan Umar menjawab bahwa Allah telah mengampuni kekeliruan-kekeliruannya dan membebaskan siksa dari dirinya. Para sahabat menyahut dengan pertanyaan susulan. ”Apa penyebabnya? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?”
Umar menimbalinya dengan mengisahkan peristiwa di alam kubur. Sejenak usai ia dimakamkan, dua malaikat menghampirinya. Umar dalam perasaan takut luar biasa. Nalarnya hilang. Sebelum malaikat bertanya, tiba-tiba suara tanpa rupa terdengar.
”Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.”
Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memagang burung emprit sembari memperlakukannya selayak mainan.
Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu. Sekarang burung emprit sepenuhnya menjadi milik Umar. Untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah, khalifah ketiga ini pun mengikhlaskan burung emprit terbang ke ke udara dengan merdeka.
Hal ini membuktikan bahwa ajaran Rasulullah SAW telah menancap kuat di hati dan perilaku Umar. Meski sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk ”Singa Padang Pasir” itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya.
Pesan lain yang bisa ditangkap bahwa cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan seterusnya. Terlebih manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.
”Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya ’penduduk langit’ mengasihimu.”
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,44918-lang,id-c,hikmah-t,Mimpi+Para+Sahabat+soal+Nasib+Umar+di+Kuburan-.phpx
Hikmah Mengangkat Tangan ketika Takbir
========
Demikianlah Allah swt mensyariatkan gerakan shalat melalui Rasulullah saw. Sebagaimana dalam hadits yang popular shallu kama roaitumuni ushalli (shalatlah kalian sebagaimana, aku menjalankan shalat). Jika diamati dengan seksama, harmonisasi gerakan shalat sungguh luar biasa. Hampir semua anggota badan terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, jika dilaksanakan dengan baik dan benar shalat akan mengantarkan kita pada kehidupan yang sehat secara jasmani dan rohani.
Sebagai tamsil adalah hikmah yang terkandung dalam gerakan takbir dengan mengangkat tangan. Sesungguhnya, reggangan sepuluh jemari tangan ketika sedang bertakbiratul ihram dan memposisikannya sejurus dengan telinga, merupakan salah satu bentuk refleksi urat siku dan pergelangan lengan. Jika hal ini dilakukan berkali-kali dalam setiap shalat dan dijalankan lima kali dalam sehari, maka pergelangan tangan kita akan senantiasa terjaga.
Begitu juga makna yang terkandung di dalamnya, ketika seseorang menganggkat tangan dengan jemari terenggangkan dan berucap takbir, maka gerakan itu menandakan usaha seorang hamba membuka tabir antara dirinya dan Sang Khaliq. Setelah tabir terbuka, maka komunikasi antar keduanya dapat terjalin dengan harmonis.
Demikian pula keterangan Imam Syafi’I sebagaimana dikutib oleh Syaikh Nawawi dalam NIhayatuz Zain, sesungguhnya gerakan takbir itu meruapakan isyarat pengakuan seorang hamba atas keagungan Allah swt, dan pengharapan atas karunia-Nya dan ampunan-Nya.
sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,44641-lang,id-c,ubudiyah-t,Hikmah+Mengangkat+Tangan+ketika+Takbir-.phpx
Demikianlah Allah swt mensyariatkan gerakan shalat melalui Rasulullah saw. Sebagaimana dalam hadits yang popular shallu kama roaitumuni ushalli (shalatlah kalian sebagaimana, aku menjalankan shalat). Jika diamati dengan seksama, harmonisasi gerakan shalat sungguh luar biasa. Hampir semua anggota badan terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, jika dilaksanakan dengan baik dan benar shalat akan mengantarkan kita pada kehidupan yang sehat secara jasmani dan rohani.
Sebagai tamsil adalah hikmah yang terkandung dalam gerakan takbir dengan mengangkat tangan. Sesungguhnya, reggangan sepuluh jemari tangan ketika sedang bertakbiratul ihram dan memposisikannya sejurus dengan telinga, merupakan salah satu bentuk refleksi urat siku dan pergelangan lengan. Jika hal ini dilakukan berkali-kali dalam setiap shalat dan dijalankan lima kali dalam sehari, maka pergelangan tangan kita akan senantiasa terjaga.
Begitu juga makna yang terkandung di dalamnya, ketika seseorang menganggkat tangan dengan jemari terenggangkan dan berucap takbir, maka gerakan itu menandakan usaha seorang hamba membuka tabir antara dirinya dan Sang Khaliq. Setelah tabir terbuka, maka komunikasi antar keduanya dapat terjalin dengan harmonis.
Demikian pula keterangan Imam Syafi’I sebagaimana dikutib oleh Syaikh Nawawi dalam NIhayatuz Zain, sesungguhnya gerakan takbir itu meruapakan isyarat pengakuan seorang hamba atas keagungan Allah swt, dan pengharapan atas karunia-Nya dan ampunan-Nya.
والحكمة فى هذا الرفع الإشارة إلى رفع الحجاب بين العبد وربه. وقال الشافعي وحكمته إعظام جلال الله تعالى ورجاء ثوابه
Hikmah di dalam pengangkatan tangan (ketika takbir) adalah
isyarat membukakan tabir antara seorang hamba dan Allah swt. Imam
Syafi’I berkata bahwa hikamah mengangkat tangan adalah pengakuan seorang
hamba akan keagungan-Nya dan mengharap pahala dari-Nya. sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,44641-lang,id-c,ubudiyah-t,Hikmah+Mengangkat+Tangan+ketika+Takbir-.phpx
Sempurnakan Shalat dengan Berjamaah
========
Jepara, NU Online
Sebagai Muslim, momentum Isra’ Mi’raj yang di dalamnya termaktub perintah shalat lima waktu adalah saat yang paling tepat untuk mengoreksi ibadah shalat yang selama ini telah dijalankan. Selain itu, seberapa sering kita menjalankan shalat secara berjamaah?
Demikian dipaparkan K Khoirul Kamal, mewakili Nadlir Musholla “Baitur Rohman” KH Muchlisul Hadi, Jepara, dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Musholla setempat, Rabu (5/6) malam.
Wujud paling kongkret dari peringatan isra’ mi’raj adalah menunaikan shalat secara benar. Apalagi shalat lima waktu itu sudah merupakan subsidi dari Allah SWT, yang sebelumnya 50 waktu.
Lebih dari itu Kiai Kamal mengimbau warga agar senantiasa menjalankan shalat secara berjamaah. “Dengan Jamaah insyaAllah shalat kita semua dikabulkan oleh Allah,” jelasnya.
Dalam riwayat disebutkan, shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibandingkan dengan shalat yang ditunaikan secara munfarid atau sendirian. Shalat mencakup beberapa syarat dan rukun yang harus dipenuhi oleh setiap yang menjalankannya.
Ibarat mengendarai kendaraan umum, semua penumpang baik yang tidak bisa berkendara maupun yang sangat mahir berkendara akan sampai di tempat tujuan bersama-sama.
“Jika dilaksanakan dengan berjamaah InsyaAllah kekurangan-keurangan jamaah akan ditanggung bersama-sama,” lanjutnya.
Usai taushiyah, sejenak kemudian peringatan Isra’ Mi’raj dilanjutkan dengan pembacaan maulid al-Barjanzi, tahlil, doa, dan kepungan atau makan bersama.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44961-lang,id-c,daerah-t,Sempurnakan+Shalat+dengan+Berjamaah-.phpx
Jepara, NU Online
Sebagai Muslim, momentum Isra’ Mi’raj yang di dalamnya termaktub perintah shalat lima waktu adalah saat yang paling tepat untuk mengoreksi ibadah shalat yang selama ini telah dijalankan. Selain itu, seberapa sering kita menjalankan shalat secara berjamaah?
Demikian dipaparkan K Khoirul Kamal, mewakili Nadlir Musholla “Baitur Rohman” KH Muchlisul Hadi, Jepara, dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Musholla setempat, Rabu (5/6) malam.
Wujud paling kongkret dari peringatan isra’ mi’raj adalah menunaikan shalat secara benar. Apalagi shalat lima waktu itu sudah merupakan subsidi dari Allah SWT, yang sebelumnya 50 waktu.
Lebih dari itu Kiai Kamal mengimbau warga agar senantiasa menjalankan shalat secara berjamaah. “Dengan Jamaah insyaAllah shalat kita semua dikabulkan oleh Allah,” jelasnya.
Dalam riwayat disebutkan, shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibandingkan dengan shalat yang ditunaikan secara munfarid atau sendirian. Shalat mencakup beberapa syarat dan rukun yang harus dipenuhi oleh setiap yang menjalankannya.
Ibarat mengendarai kendaraan umum, semua penumpang baik yang tidak bisa berkendara maupun yang sangat mahir berkendara akan sampai di tempat tujuan bersama-sama.
“Jika dilaksanakan dengan berjamaah InsyaAllah kekurangan-keurangan jamaah akan ditanggung bersama-sama,” lanjutnya.
Usai taushiyah, sejenak kemudian peringatan Isra’ Mi’raj dilanjutkan dengan pembacaan maulid al-Barjanzi, tahlil, doa, dan kepungan atau makan bersama.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44961-lang,id-c,daerah-t,Sempurnakan+Shalat+dengan+Berjamaah-.phpx
ISRA' MI'RAJ >Habib Novel: Mari Perkuat Ahlussunnah wal Jama’ah
======
Kudus, NU Online
Habib Novel mengajak warga Nahdliyin memperkuat aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dengan meningkatkan amalan-amalan yang diajarkan para ulama dan mengajarkannya kembali kepada keluarga.
“Mari kita perkuat amalan Aswaja dengan mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat kita!”tegas Habib Novel dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj dan harlah ke-90 NU di lapangan desa Penganjaran Bae Kudus, Rabu malam(5/6).
Habib Novel mengatakan pada akhir zaman ini muncul kelompok yang ingin merubah kebiasaan ajaran Aswaja semacam tahlilan, zaiarah kubur, mauludan maupun peringatan Isra’ Mi’raj. Kelompok ini sering menuding bid’ah dan mengatakan tidak ada gunanya amalan tersebut.
“Kita harus waspada karena gerakan itu mulai masuk ke sekolah-sekolah maupun masjid-masjid,”ujar Habib asal Solo ini.
Ia menegaskan mauludan, ziarah kubur, tahlilan dan amalan Aswaja lainnya merupakan amalan yang benar. Nahdliyyin, ajak Habib, tidak perlu takut dengan tudingan-tudingan kelompok yang tidak suka amalan tersebut.
“Nahdliyin harus bangkit dan yakin kepada amalan aswaja yang kita ikuti,”tegasnya lagi.
KH Hasyim Asy’ari bersama ulama lainnya mendirikan NU, kata Habib, sebagai upaya menjaga aqidah dan menyampaikan ilmu kepada masyarakat.
“Kita harus mengembalikan ruh berdirinya NU, menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah,”tandasnya di depan ribuan nahdliyyin.
Peringatan Isra’ Mi’raj dan harlah ke 90 NU ini diadakan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Peganjaran Bae Kudus. Sejak Rabu pagi kegiatan sudah dimulai dengan Tahlil Umum , siangnya Khotmil Qur’an bil ghoib dengan 20 hafid-hafidhah dan malamnya pengajian Umum yang dihadiri ribuan nahdliyin.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,44975-lang,id-c,nasional-t,Habib+Novel++Mari+Perkuat+Ahlussunnah+wal+Jama%E2%80%99ah-.phpx
Kudus, NU Online
Habib Novel mengajak warga Nahdliyin memperkuat aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dengan meningkatkan amalan-amalan yang diajarkan para ulama dan mengajarkannya kembali kepada keluarga.
“Mari kita perkuat amalan Aswaja dengan mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat kita!”tegas Habib Novel dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj dan harlah ke-90 NU di lapangan desa Penganjaran Bae Kudus, Rabu malam(5/6).
Habib Novel mengatakan pada akhir zaman ini muncul kelompok yang ingin merubah kebiasaan ajaran Aswaja semacam tahlilan, zaiarah kubur, mauludan maupun peringatan Isra’ Mi’raj. Kelompok ini sering menuding bid’ah dan mengatakan tidak ada gunanya amalan tersebut.
“Kita harus waspada karena gerakan itu mulai masuk ke sekolah-sekolah maupun masjid-masjid,”ujar Habib asal Solo ini.
Ia menegaskan mauludan, ziarah kubur, tahlilan dan amalan Aswaja lainnya merupakan amalan yang benar. Nahdliyyin, ajak Habib, tidak perlu takut dengan tudingan-tudingan kelompok yang tidak suka amalan tersebut.
“Nahdliyin harus bangkit dan yakin kepada amalan aswaja yang kita ikuti,”tegasnya lagi.
KH Hasyim Asy’ari bersama ulama lainnya mendirikan NU, kata Habib, sebagai upaya menjaga aqidah dan menyampaikan ilmu kepada masyarakat.
“Kita harus mengembalikan ruh berdirinya NU, menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah,”tandasnya di depan ribuan nahdliyyin.
Peringatan Isra’ Mi’raj dan harlah ke 90 NU ini diadakan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Peganjaran Bae Kudus. Sejak Rabu pagi kegiatan sudah dimulai dengan Tahlil Umum , siangnya Khotmil Qur’an bil ghoib dengan 20 hafid-hafidhah dan malamnya pengajian Umum yang dihadiri ribuan nahdliyin.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,44975-lang,id-c,nasional-t,Habib+Novel++Mari+Perkuat+Ahlussunnah+wal+Jama%E2%80%99ah-.phpx
Mendikbud Mulai Perhatikan Madrasah Diniyah
==============
Menteri Pendikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof Dr Muh Nuh DEA mengakui Madrasah Diniyah (Madin) merupakan komponen dari Pendidikan Nasional yang selama ini terlupakan. Ibarat mata rantai, ketika rantai menanggung beban berat maka semua harus kuat sehingga tak akan lemah dan tak putus ketika di kayuh.
“Akibat Madin lemah dan bahkan terputus dari pendidikan nasional maka tujuan pendidikan tidak tercapai,” ujar Mendikbud ketika menerima rekomendasi hasil Halaqoh Nasional Pendidikan Diniyah Takmiliyah di Pondok Pesantren Modern Al Falah Desa Jatirokeh Kec Songgom Brebes, Kamis (6/6).
Pada dasarnya, kata Nuh, pendidikan keagamaan secara eksplisit sudah masuk dalam Undang-undang Sisdiknas terutama pada pasal 30. Sehingga keberadaannya sangat dilindungi dan wajib untuk penuhi. Demikian pula dengan pemerintah wajib mengikhtiarkan keberadaan madrasah diniyah sebagai sekolah yang sepadan dengan pendidikan pada umumnya.
Nuh melihat, terpenuhinya pendidikan keagamaan mutlak diupayakan, tidak hanya pendidikan diniyah di Islam, tetapi juga pendidikan keagamaan di Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.
Apalagi, Kurikulum 2013 telah menjelmakan konsep tilawah (membaca), ta’alim (belajar) dan tazkiyah (pembersihan/pensucian). Disini, anak-anak harus memiliki kemampuan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap (tata krama). Dalam sikap masyarakat kita sudah sangat berubah dan perlu pendidikan keagamaan yang matang untuk terus mempertahankan sikap tata krama yang Indonesia sesungguhnya.
Pendidikan,lanjutnya, ibarat tubuh yang perlu daya imunitas tinggi. Kalau pendidikan lemah maka akan timbul penyakit sosial yang sulit disembuhkan seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan peradaban.
Diakui anggota komisi X DPR RI Nasrudin SH pendidikan diniyah yang lahir sebelum Indonesia merdeka tetapi keberadaannya masih terpinggirkan. Maka perlu dicarikan rumusan yang pas agar bisa sejajar dengan sekolah umum. “Santri-santri madrasah diniyah ikut mencerdaskan bangsa dan menegakan NKRI, tetapi setelah merdeka malah ditinggalkan,” kata Nasrudin yang juga pengasuh Pesantren Al Falah.
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE memberi sinyal, pemerintah kabupaten Brebes akan berupaya mensyaratkan pendidikan diniyah untuk melanjutkan ke jenjang SMP/MTs. Namun demikian perlu penggodokan yang lebih matang lagi mengingat tidak semua desa memiliki madrasah diniyah. Begitupun dengan sarana dan prasarana serta dewan ustadz yang masih kurang.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Diniyah Taklimiyah (FKDT) Sumitro SPdI MSi menyerahkan hasil halaqoh berupa rekomendasi kepada Mendikbud. Isi rekomendasi tersebut berupa 1. Lembaga legislatif mencantumkan Program dan Satuan Pendidikan Diniyah Taklimiyah dalam revisi UU Sistem Pendidikan Nasional. 2. Menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Dalam Negeri tentang: a. Memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Satuan Pendidikan Diniyah Takmiliyah; b. Memberikan bantuan peningkatan sarana prasarana kepada Satuan Pendidikan Diniyah Takmiliyah; c. Memberikan bantuan insentif untuk Ustadz/Ustadzah Pendidikan Diniyah Takmiliyah; d. Memberikan bantuan beasiswa kepada santri Pendidikan Diniyah Takmiliyah; e. Memberikan tunjangan profesi bagi ustadz-ustadzah pada Satuan pendidikan Diniyah Takmiliyah; f. Ijazah pendidikan Diniyah Takmiliyah menjadi syarat dan atau mendapatkan skor penilaian untuk melanjutkan sekolah formal pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi; g. Pengaturan jadwal ekstrakurikuler dan penambahan jam pelajaran pada sekolah formal agar tidak berbenturan dengan waktu pembelajaran Pendidikan Diniyah Takmiliyah.
Sumitro menambahkan, upaya ini tidak berhenti hanya pada tingkat halaqoh saja. Tetapi dirinya akan terus berjuang hingga point-point tersebut diatas bisa terealisir. “Dalam waktu dekat, kami akan ke Presiden dan DPR menyampaikan rekomendasi ini,” pungkasnya.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,44977-lang,id-c,nasional-t,Mendikbud+Mulai+Perhatikan+Madrasah+Diniyah-.phpx
OKSIGEN DAN NITROGEN GRATIS DARI ALLOH, walau harganya Perbulannya; Rp 5,5 Milyard/Orang bila pakai rumus dagang
=============
OKSIGEN DAN NITROGEN GRATIS DARI ALLOH, padahal kalo pakai rumus dagang seharga: Rp. 185 Juta/hari/Orang ATAU perbulannya = Rp. 5,5 Milyard/Orang
===============
Tahukah anda harga Oksigen di RS ?
Rp 25rb/ltr..
Tahukah anda harga Nitrogen di RS ?
Rp 10rb/ltr..
Tahukah Anda bahwa dalam sehari manusia mnghirup;
2880 ltr Oksigen, &
11.376 ltr Nitrogen ?
Jika hrs dihargai dgn rupiah, Oksigen & Nitrogen yg kita hirup, akan mncapai Rp.185jt/hari /manusia.
Kalo dikalikan sebulan Rp. 185jt x 30hr = Rp. 5,5M/org..
Org yg paling KAYA sekalipun tidak akan sanggup melunasi biaya nafas untuk hidupnya, apabila TUHAN mnggunakan Rumus dagang seperti manusia.
Masihkah kita ENGGAN BERSYUKUR ?
Baru nafas saja, kita sudah semestinya membayar Rp.5,5M per bulan, dan itu GRATIS.
Maha Baik Paduka Ya اللّه terimakasih. Kapan saya dan teman-teman saya bisa mencontoh dg benar kebaikan Paduka??
OKSIGEN DAN NITROGEN GRATIS DARI ALLOH, padahal kalo pakai rumus dagang seharga: Rp. 185 Juta/hari/Orang ATAU perbulannya = Rp. 5,5 Milyard/Orang
===============
Tahukah anda harga Oksigen di RS ?
Rp 25rb/ltr..
Tahukah anda harga Nitrogen di RS ?
Rp 10rb/ltr..
Tahukah Anda bahwa dalam sehari manusia mnghirup;
2880 ltr Oksigen, &
11.376 ltr Nitrogen ?
Jika hrs dihargai dgn rupiah, Oksigen & Nitrogen yg kita hirup, akan mncapai Rp.185jt/hari /manusia.
Kalo dikalikan sebulan Rp. 185jt x 30hr = Rp. 5,5M/org..
Org yg paling KAYA sekalipun tidak akan sanggup melunasi biaya nafas untuk hidupnya, apabila TUHAN mnggunakan Rumus dagang seperti manusia.
Masihkah kita ENGGAN BERSYUKUR ?
Baru nafas saja, kita sudah semestinya membayar Rp.5,5M per bulan, dan itu GRATIS.
Maha Baik Paduka Ya اللّه terimakasih. Kapan saya dan teman-teman saya bisa mencontoh dg benar kebaikan Paduka??
Langganan:
Postingan (Atom)