=========
Sholawat Badar:
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Minggu, 12 Januari 2014
Jumat, 10 Januari 2014
ASAL MUASAL DALA'ILUL KHOIROT OLEH Al-Imam Al-Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli RA
========
Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli RA adalah wali besar pada zamannya,suatu hari beliau berada di tengah padang
tandus.ketika itu,hendak melaksanakan ibadah dan mau berwudlu,tapi
beliau tidak menemukan setetes pun air.tak lama berselang beliau
menemukan sumur,namun bingung karena tak ada gayung untuk mengambil
airnya.
Tiba tiba ada perempuan (satu riwayat ia adalah Robi'ah Al-Adawiyyah ) yang melihatnya dari bukit yang tinggi dan bertanya: "hai Fulan,siapa engkau...?" "Aku Al Jazuli" Jawab Al Jazuli.
Perempuan itu berkata: "Engkau orang yang sangat terkenal,kenapa harus bingung mencari air...?"
Lalu wanita itu membacakan sholawat di depan mulut sumur itu,mendadak air sumur itu naik hingga luber,Al Jazuli bersyukur bisa berwudlu.
Setelah selesai, Al Jazuli bertanya: "Apa yang menyebabkn engkau mendapat karomah sehebat ini...?"
"tiap waktu lisanku basah dengan sholawat,karena aku cinta & rindu pada Rosulullah saw."jawab wanita tersebut.
Mendengar jawaban itu, kemudian Al Jazuli pulang dan bersumpah untuk tidak melanjutkan perjalanannya.
Lalu beliau menyepi di kamar khususnya selama kurang lebih 15
tahun.Guna menyusun kitab tentang sholawat. Setelah selesai,kitab
tersebut dinamakan DALA'ILUL KHOIROT.
Lalu Kitab itu diajarkan kepada murid-muridnya, hingga beliau wafat pada
usia 63 th. Beliau di makamkan di dekat sungai,ketika terjadi banjir
bandang,masyarakat sekitar khawatir karena di dekat sungai ada makam Al
Jazuli.
Akhirnya mereka bermusyawarah untuk memindahkan makam Al Jazuli ke belakang masjid desa Jazulah (Maroko).
Ketika dibongkar, masyarakat heran karena mencium bau wangi dari dalam
makam Al Jazuli.Yg lebih heran lagi,jasad beliau masih utuh seperti
orang baru meninggal,padahal sudah lebih 3 th setelah itu.
Semoga kita semua mendapat syafa'at Rosululloh SAW dan barokah Al-Imam Al-Jazuli RA, amiin.
============
اَللهُم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ
نَامُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ فِى اْلاَخِرِيْنَ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ فِى النَّبِيِّن، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
فِى اْلمُرْسَلِيْنَ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى
كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنَ ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
فِى اْلمَلاَءِ
اْلاَعْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ
==========
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَهْوَالِ
وَاْلآفَاتِ ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيْعَ اْلحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا
بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى
الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصَى اْلغَايَاتِ، مِنْ جَمِيْعِ
اْلخَيْرَاتِ فِى اْلحَيَاةِ وَبَعْدَ اْلمَمَاتِ ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
==========
يادَاْئِمَ اْلفَضْلِ عَلَى اْلبَرِيَّه يَابَاسِطَ اْليَدَيْنِ بِاْلعَطِيَّه
يَاصَاحِبَ اْلمَوَاهِبِ السَّنِيَّه صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ خَيْرِاْلبَرِيَّه
وَاغْفِرْلِي يَاذَااْلعُلَى فِى هَذِهِ اْلعَشِيَّه
Kamis, 09 Januari 2014
Majzuw المجزوّ / المجزوء dalam istilah sya'ir arab
==========
Wazan rojaz yang tam التامّ :
Sedangkan di bawah ini merupakan wazan rojaz yang majzu مجزوّ :
a. Tidak boleh di majzu:
Majzuw المجزوّ
Majzuw المجزوّ / المجزوء dalam istilah sya'ir arab artinya bait syair yang dihilangkan satu taf'ilat pada 'arudh dan dhorobnya.
Wazan rojaz yang tam التامّ :
مستفعلن - مستفعلن - مستفعلن ... مستفعلن - مستفعلن - مستفعلن
حشو - حشو - عروض ... حشو - حشو - ضرب
سالمة - سالمة - صحيحة ... سالمة - سالمة - صحيح
حشو - حشو - عروض ... حشو - حشو - ضرب
سالمة - سالمة - صحيحة ... سالمة - سالمة - صحيح
Sedangkan di bawah ini merupakan wazan rojaz yang majzu مجزوّ :
مستفعلن - مستفعلن ... مستفعلن - مستفعلن
حشو - عروض ... حشو - ضرب
سالمة - صحيحة ... سالمة - صحيح
حشو - عروض ... حشو - ضرب
سالمة - صحيحة ... سالمة - صحيح
Adakah perbedaan dari rojaz yang tam dan majzu di atas?
tentu saja, pada contoh rojaz yang tam memiliki 6 taf'ilat sedangkan
pada rojaz yang majzu memiliki 4 taf'ilat (karena dihilangkan satu
taf'ilat, masing-masing pada akhir syatar awwal dan akhir syatar tsani
[pada taf'ilat itu]).
Berdasarkan boleh tidaknya sebuah syair di majzu, maka kita dapat mengklasifikasikan struktur syair arab yang 16 itu menjadi:
a. Tidak boleh di majzu:
- Bahar thowil
- Bahar munsareh
- Bahar sare'
- Bahar madid
- Bahar mudhore'
- Bahar hazaj
- Bahar muqtadhob
- Bahar mujtats
- Bahar basith
- Bahar wafir
- Bahar kamil
- Bahar khofif
- Bahar rojaz
- Bahar mutadarok
- Bahar mutaqorob
Rabu, 08 Januari 2014
Candi Singasari Versi Para Ahli Purbakala
-------------
sumber:http://candi.pnri.go.id/jawa_timur/singasari/singasari.htm
Candi
Singasari
Candi Singasari terletak di Desa Candi Renggo,
Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kurang lebih 9 Km dari kota
Malang ke arah Surabaya.
Candi ini juga dikenal dengan nama Candi Cungkup atau Candi Menara,
nama yang menunjukkan bahwa Candi Singasari adalah candi yang tertinggi
pada masanya, setidaknya dibandingkan dengan candi lain di
sekelilingnya. Akan tetapi, saat ini di kawasan Singasari hanya candi
Singasari yang masih tersisa, sedangkan candi lainnya telah lenyap tak
berbekas.
Kapan tepatnya Candi Singasari didirikan masih belum diketahui, namun para ahli purbakala memperkirakan candi ini dibangun sekitar tahun 1300 M, sebagai persembahan untuk menghormati Raja Kertanegara dari Singasari. Setidaknya ada dua candi di Jawa Timur
yang dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara, yaitu Candi Jawi dan
Candi Singasari. Sebagaimana halnya Candi Jawi, Candi Singasari juga
merupakan candi Syiwa. Hal ini terlihat dari adanya beberapa arca Syiwa
di halaman candi.
Bangunan Candi Singasari terletak di tengah halaman. Tubuh candi berdiri di atas batur kaki
setinggi sekitar 1,5 m, tanpa hiasan atau relief pada kaki
candi. Tangga naik ke selasar di kaki candi tidak diapit oleh pipi
tangga dengan hiasan makara seperti yang terdapat pada candi-candi lain.
Pintu masuk ke ruangan di tengah tubuh candi menghadap ke selatan,
terletak pada sisi depan bilik penampil (bilik kecil yang menjorok ke
depan). Pintu masuk ini terlihat sederhana tanpa bingkai berhiaskan
pahatan. Di atas ambang pintu terdapat pahatan kepala Kala yang juga
sangat sederhana pahatannya. Adanya beberapa pahatan dan relief yang
sangat sederhana menimbulkan dugaan bahwa pembangunan Candi Singasari
belum sepenuhnya terselesaikan.
Di kiri dan kanan pintu bilik pintu, agak ke
belakang, terdapat relung tempat arca. Ambang relung juga tanpa bingkai
dan hiasan kepala Kala. Relung serupa juga terdapat di ketiga sisi lain
tubuh Candi Singasari. Ukuran relung lebih besar, dilengkapi dengan
bilik penampil dan di atas ambangnya terdapat hiasan kepala Kala yang
sederhana. Di tengah ruangan utama terdapat yoni yang sudah rusak bagian
atasnya. Pada kaki yoni juga tidak terdapat pahatan apapun.
Sepintas bangunan Candi Singasari terlihat seolah
bersusun dua, karena bagian bawah atap candi berbentuk persegi,
menyerupai ruangan kecil dengan relung di masing-masing sisi. Tampaknya
relung-relung tersebut semula berisi arca, namun saat ini kempatnya
dalam keadaan kosong. Di atas setiap ambang 'pintu' relung terdapat
hiasan kepala Kala dengan pahatan yang lebih rumit dibandingkan dengan
yang ada di atas ambang pintu masuk dan relung di tubuh candi. Puncak atap sendiri berbentuk meru bersusun, makin ke atas makin mengecil. Sebagian puncak atap terlihat sudah runtuh.
Candi Singasari pernah dipugar oleh pemerintah
Belanda pada tahun 1930-an, terlihatan dari pahatan catatan di kaki
candi. Akan tetapi, tampaknya pemugaran yang dilakukan hasilnya belum
menyeluruh, karena di sekeliling halaman candi masih berjajar tumpukan
batu yang belum berhasil dikembalikan ke tempatnya semula.
Di halaman Candi Singasari juga terdapat beberapa
arca yang sebagian besar dalam keadaan rusak atau belum selesai dibuat,
di antaranya arca Syiwa dalam berbagai posisi dan ukuran, Durga, dan
Lembu Nandini.
Sekitar 300 m ke arah barat dari Candi Singasari,
setelah melalui permukiman yang cukup padat, terdapat dua arca
Dwarapala, raksasa penjaga gerbang, dalam ukuran yang sangat besar.
Konon berat masing-masing arca mencapai berat 40 ton, tingginya mencapai
3,7 m, sedangkan lingkar tubuh terbesar mencapai 3,8 m. Letak kedua
patung tersebut terpisah sekitar 20 m (sekarang dipisahkan oleh jalan
raya).
Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas
Negeri Malang (UM), kedua arca Dwarapala itu semula menghadap ke arah
timur, yaitu ke arah Candi Singasari, namun saat ini arca di sisi
selatan sudah berubah arah menghadap agak ke timur laut. Pergeseran arah
tersebut terjadi saat pengangkatannya dari dalam tanah. Sampai akhir
1980-an patung yang berada di sisi selatan masih terbenam dalam tanah
sampai sebatas dada. Di belakang arca yang berada di selatan terdapat
reruntuhan bangunan batu yang nampak seperti tembok. Diduga kedua arca
ini merupakan penjaga gerbang masuk ke istana Raja Kertanegara
(1268-1292) yang letaknya di sebelah barat (dibelakangi) kedua patung
tersebut.
Legenda sekitar Dinasti Singasari
Beberapa candi di Jawa Timur, terutama yang
terletak di sekitar kota Malang, mempunyai kaitan sejarah yang erat
dengan Kerajaan Singasari. Dinasti Singasari merupakan keturunan Ken
Dedes dengan kedua suaminya, Tunggul Ametung akuwu (kepala pemerintahan
setingkat kecamatan) Tumapel dan Ken Arok, rakyat kebanyakan yang
membunuh, mengambil alih kekuasaan, dan sekaligus merebut istri Tunggul
Ametung.
Sejarah Kerajaan Singasari ini melahirkan legenda
tentang keris buatan Mpu Gandring yang sangat terkenal di kalangan
masyarakat Jawa Timur. Menurut legenda, Ken Arok adalah anak hasil
hubungan gelap seorang wanita Desa Panawijen, bernama Ken Endog, dengan
Batara Brahma. Tak lama setelah dilahirkan, bayi Ken Arok dibuang oleh
ibunya di sebuah pekuburan, kemudian ditemukan dan dibawa pulang oleh
seorang pencuri ulung. Dari ayah angkatnya inilah Ken Arok belajar
tentang segala siasat dan taktik perjudian, pencurian dan perampokan.
Setelah dewasa ia dikenal sebagai perampok yang sangat ditakuti di
wilayah Tumapel. Suatu saat Ken Arok berkenalan dengan seorang brahmana
bernama Lohgawe yang menasihatinya agar meninggalkan dunianya yang
hitam. Atas dorongan Lohgawe, Ken Arok berhenti menjadi perampok lalu
mengabdikan diri sebagai prajurit Tumapel.
Pada masa itu yang menjadi akuwu di Tumapel,
wilayah Kerajaan Kediri, adalah Tunggul Ametung. Sang Akuwu memperistri
Ken Dedes, putri Mpu Purwa yang tinggal di Panawijen. Dari perkawinan
tersebut lahir seorang putra bernama Anusapati. Pada suatu hari, Ken
Dedes pulang ke Panawijen untuk menjenguk ayahnya. Ketika Ken Dedes
turun dari kereta kerajaan, bertiuplah angin kencang yang menyingkap
bagian bawah kain panjangnya. Pada saat itu, Ken Arok yang bertugas
mengawal kereta Ken Dedes sempat melihat sekilas betis istri Tunggul
Ametung tersebut. Di mata Ken Arok, betis Ken Dedes memancarkan sinar
yang menyilaukan. Pemandangan tersebut tak mau hilang dari benak Ken
Arok. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Mpu Purwa. Sang Mpu menjelaskan
bahwa sinar yang dilihat Ken Arok merupakan pertanda bahwa Ken Dedes
ditakdirkan sebagai wanita yang akan menurunkan raja-raja di Pulau Jawa.
Ken Arok kemudian memesan sebuah keris kepada
seorang Mpu di Tumapel yang bernama Mpu Gandring. Untuk membuat sebuah
keris yang dapat diandalkan keampuhannya, diperlukan waktu yang cukup
lama untuk menempa, membentuk dan menjalankan ritual yang diperlukan.
Karena keris yang dipesan tak kunjung selesai, Ken Arok menjadi sangat
marah. Ia merebut keris yang belum selesai tersebut lalu menikamkannya
ke tubuh pembuatnya. Menjelang ajalnya, Mpu Gandring mengutuk bahwa Ken
Arok pun akan mati di ujung keris yang sama dan keris itu akan meminta
korban tujuh nyawa.
Keris buatan Mpu Gandring tersebut oleh Ken Arok
dipinjamkan kepada temannya yang mempunyai watak suka pamer, yaitu Kebo
Ijo. Kebo Ijo memamerkan keris itu kepada teman-teman prajuritnya dan
mengatakan bahwa keris itu adalah miliknya. Setelah banyak orang yang
mengetahui keris itu milik sebagai milik Kebo Ijo, ken Arok lalu
mencurinya dan menggunakannya untuk menikam Tunggul Ametung. Dengan
sendirinya tuduhan jatuh kepada kebo Ijo, sementara Ken Arok berhasil
menggantikan kedudukan Tunggul Ametung sebagai akuwu dan menikahi Ken
Dedes.
Setelah berhasil menjadi akuwu, Ken Arok kemudian
menaklukkan Kerajaan Kediri, yang kala itu diperintah oleh Raja yang
kala itu diperintah oleh Raja Kertajaya (1191-1222), dan mendirikan
Kerajaan Singasari. Ia menobatkan dirinya menjadi raja Singasari yang
pertama dengan gelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi. Dari Ken Dedes,
Ken Arok berputra seorang, bernama Mahisa Wongateleng, sedangkan dari
Ken Umang ia juga mendapatkan seorang putra bernama Tohjaya. Kutukan Mpu
Gandring mulai berlaku. Ken Arok dibunuh dan digantikan kedudukannya
oleh Anusapati. Anusapati dibunuh dan digantikan kedudukannya oleh
Tohjaya. Tohjaya dibunuh dan digantikan oleh Ranggawuni, anak Anusapati.
Ranggawuni kemudian dinobatkan sebagai raja dengan gelar
Jayawisnuwardhana dan memerintah Singasari mulai pada tahun 1227 hingga
1268. Jayawisnuwardhana digantikan oleh putranya, Joko Dolog yang
bergelar Kertanegara (1268-1292).
Kertanegara adalah Raja Singasari yang terakhir.
Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun
Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama
Raden Wijaya. Raden Wijaya yang merupakan keturunan Mahisa Wongateleng
dan Raja Udayana di Bali ini kemudian mendirikan kerajaan Majapahit dengan pusat pemerintahan di Tarik (Trowulan).
sumber:http://candi.pnri.go.id/jawa_timur/singasari/singasari.htm
Kisah KEN AROK dan Raja-raja (Singhasari) setelah Ken Arok
-----------
Kisah KEN AROK dan Raja-raja (Singhasari) setelah Ken Arok
Pembahasan :
Ø Ken Arok Versi Pararaton dan Kertagama
Ø Ken Arok telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa oelh para dewa dan Batara Guru.
SERAT PARARATON
Serat Pararaton, atau Pararaton
saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah
Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini
cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126
baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa
Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.
Pararaton
diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri
kerajaan Singhasari (1222–1292). Selanjutnya hampir setengah kitab
membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia
menjadi raja di tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini
cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan
bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis.
Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati
bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan
bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga
kerajaan Majapahit.
Penekanan atas
pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya
cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam
naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok".
Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran
naskah adalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian
terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600,
dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun
kedua.
Kisah Ken Arok versi Pararaton
Pararaton
dimulai dengan pendahuluan singkat mengenai bagaimana Ken Arok
mempersiapkan inkarnasi dirinya sehingga ia bisa menjadi seorang raja.[1] Diceritakan bahwa Ken Arok menjadikan dirinya kurban persembahan (bahasa Sanskerta: yadnya)
bagi Yamadipati, dewa penjaga pintu neraka, untuk mendapatkan
keselamatan atas kematian. Sebagai balasannya, Ken Arok mendapat karunia
dilahirkan kembali sebagai raja Singhasari, dan di saat kematiannya
akan masuk ke dalam surga Wisnu.
Janji
tersebut kemudian terlaksana. Ken Arok dilahirkan oleh Brahma melalui
seorang wanita dusun yang baru menikah. Yaitu Ken Endok dan Gajahpara,
dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada istri Gajahpara (Ken Endok):
"Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan
suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku
itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa". Ken Arok atau sering pula ditulis Ken Angrok (lahir:1182 - wafat: 1227/1247)
seteah lahir ibunya (ken endok) meletakkan Ken Arok di atas sebuah
kuburan ketika baru saja melahirkan; dan tubuh Ken Arok yang memancarkan
sinar menarik perhatian Ki Lembong, seorang pencuri yang kebetulan
lewat. Ki Lembong mengambilnya sebagai anak dan membesarkannya, serta
mengajarkannya seluruh keahliannya. Ken Arok tumbuh menjadi berandalan
yang lihai mencuri & gemar berjudi, sehingga membebani Lembong
dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh
Bango Samparan, seorang penjudi pula yang menganggapnya sebagai pembawa
keberuntungan.
Ken Arok tidak betah
hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan. Ia
kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng. Keduanya
pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan
Kadiri. hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok
berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh orang-orang
Daha.
Dalam naskah disebutkan bahwa
Ken Arok berulang-kali diselamatkan dari kesulitan melalui campur
tangan dewata. Disebutkan suatu kejadian di Gunung Kryar Lejar, dimana
para dewa turun berkumpul dan Batara Guru menyatakan bahwa Ken Arok
adalah putranya, dan telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan
kekuasaan di Jawa. Diberi petunjuklah Ken Angrok agar mengaku ayah
kepada seorang brahmana yang bernama Sang Hyang Lohgawe. dia ini baru
saja dari Jambudipa, disuruh menemuinya di Taloka. Itulah asal mulanja
ada brahmana di sebelah timur Kawi.
Akhirnya,
Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang
datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang
ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya. Ken
Angrok pergi dari Taloka, menuju ke Tumapel, ikut brahmana itu. Tumapel
merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang menjadi akuwu (setara camat zaman sekarang) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.
Kemudian adalah seorang pujangga, pemeluk agama Budha, menganut aliran Mahayana, bertapa di ladang orang Panawijen, bernama Mpu Purwa.
Ia mempunyai seorang anak perempuan tunggal, pada waktu ia belum
menjadi pendeta Mahayana. Anak perempuan itu luar biasa cantik moleknja
bernama Ken Dedes. Dikabarkan, bahwa ia ayu, tak ada yang
menyamai kecantikannya itu, termasyur di sebelah timur Kawi sampai
Tumapel. Tunggul Ametung mendengar itu, lalu datang di Panawijen,
langsung menuju ke desa Mpu Purwa, bertemu dengan Ken Dedes; Tunggul
Ametung sangat senang melihat gads cantik itu. Kebetulan Mpu Purwa tak
ada di pertapaannya, sekarang Ken Dedes sekonyong konyong dilarikan oleh
Tunggu1 Ametung. Setelah Mpu Purwa pulang dari bepergian, ia tidak
rnenjumpai anaknya, sudah dilarikan oleh Akuwu di Tumapel; ia tidak tahu
soal yang sebenarnya, maka Mpu Purwa menjatuhkan serapah yang tidak
baik: "Nah, semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam
kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga
orang orang di Panawidjen ini, semoga menjadi kering tempat mereka
mengambil air, semoga tak keluar air kolamnya ini, dosanya: mereka tak
mau memberitahu, bahwa anakku dilarikan orang dengan paksaan.
Demikian
kata Mpu Purwa: ,,Adapun anakku yang menyebabkan gairat dan bercahaya
terang, kutukku kepadanya, hanya: semoga ia mendapat keselamatan dan
kebahagiaan besar." Demikian kutuk pendeta Mahayana di Panawidjen.
Ken
Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang
cantik. Apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan
raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk
merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.
Ken
Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung
yang terkenal sakti. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada
sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang (sekarang Lumbang, Pasuruan), yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh.
PEMBUNUHAN OLEH KERIS MPU GANDRING
Mpu
Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun.
Ken Arok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan.
Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring sampai tewas.
Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa kelak “kamu
akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga,
tujuh orang raja akan mati karena keris itu”
Kembali
ke Tumapel, Ken Arok menjalankan rencana liciknya. Mula-mula ia
meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo, rekan sesama pengawal. Kebo
Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua
orang yang ia temui, sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah
milik Kebo Hijo. Dengan demikian, siasat Ken Arok berhasil.
Malam
berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo
yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan
membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi
pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok. Lagi
pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa
keterpaksaan. Pagi harinya, Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya
ditemukan menancap pada mayat Tunggul Ametung. Ken Arok lalu mengangkat
dirinya sendiri sebagai akuwu baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes.
Tidak seorang pun yang berani menentang kepustusan itu. Ken Dedes
sendiri saat itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung.
Ken Dedes telah melahirkan empat orang anak Ken Arok, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Ken Dedes juga memiliki putra dari Tunggul Ametung yang bernama Anusapati. Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang, yang telah memberinya empat orang anak pula, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola dan Dewi Rambi. Banyaknya anak kenarok semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.
Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana.
Para brahmana itu memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken
Arok yang kebetulan sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri.
Setelah mendapat dukungan mereka, Ken Arok pun menyatakan Tumapel
sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri. Sebagai raja pertama ia
bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi
Kertajaya (dalam Pararaton
disebut Dhandhang Gendis) tidak takut menghadapi pemberontakan Tumapel.
Ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Mendengar sesumbar
itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Siwa dan siap memerangi
Kertajaya.
Perang antara Kadiri dan
Tumapel terjadi di dekat desa Ganter. Pihak Kadiri kalah. Kertajaya
diberitakan naik ke alam dewa, yang mungkin merupakan bahasa kiasan
untuk mati. Menurut Pararaton, pada tahun 1222 Ken Arok menaklukkan Kadiri
dan menjadikannya sebagai bawahan Tumapel. Menurut prasasti Mula
Malurung, wilayah Kadiri diperintah oleh Parameswara. Besar kemungkinan
bahwa Parameswara identik dengan Mahisa Wonga Teleng, karena ia
merupakan putra tertua Ken Arok yang lahir dari permaisuri Ken Dedes.
Mungkin pengangkatan Mahisa Wonga Teleng sebagai raja Kadiri inilah yang
membuat Anusapati anak tiri Ken Arok cemburu.
Kematian Ken Arok
Anusapati
merasa heran pada sikap Ken Arok yang seolah menganaktirikan dirinya,
padahal ia merasa sebagai putra tertua. Setelah mendesak ibunya (Ken
Dedes), akhirnya Anusapati mengetahui kalau dirinya memang benar-benar
anak tiri. Bahkan, ia juga mengetahui kalau ayah kandungnya bernama
Tunggul Ametung telah mati dibunuh Ken Arok.
Anusapati
berhasil mendapatkan keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken
Dedes. Ia kemudian menyuruh pembantunya yang berasal dari desa Batil
untuk membunuh Ken Arok. Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat
sedang makan sore hari. Anusapati ganti membunuh pembantunya itu untuk
menghilangkan jejak.
Peristiwa kematian Ken Arok dalam naskah Pararaton terjadi pada tahun 1247.
PEMERINTAHAN TUMAPEL SETELAH KENAROK
Anusapati
Bhatara Anusapati
adalah raja kedua Kerajaan Tumapel (atau kemudian terkenal dengan nama
Singhasari), yang memerintah pada tahun 1227 - 1248 (versi Nagarakretagama), atau 1247 - 1249 (versi Pararaton).
Sepeninggal Ken Arok tahun 1247, Anusapati naik takhta. Pemerintahannya
dilanda kegelisahan karena cemas akan ancaman balas dendam anak-anak
Ken Arok. Puri tempat tinggal Anusapati pun diberi pengawalan ketat,
bahkan dikelilingi oleh parit dalam. Meskipun Anusapati memperketat
pengawalan atas dirinya, namun Tohjaya mampu memanfaatkan kelemahannya.
Suatu hari Tohjaya mengajak Anusapati menyabung ayam. Anusapati menuruti
tanpa curiga karena hal itu memang menjadi kegemarannya. Saat Anusapati
asyik memperhatikan ayam aduan yang sedang bertarung, Tohjaya segera
membunuhnya dengan menggunakan keris Mpu Gandring. Peristiwa itu terjadi tahun 1249.
Tohjaya
Sepeninggal Anusapati, Tohjaya naik takhta. Namun pemerintahannya hanya berlangsung singkat karena ia kemudian tewas pada tahun 1250
akibat pemberontakan Ranggawuni putra Anusapati. Tohjaya tertusuk
tombak namun berhasil melarikan diri. Karena lukanya itu, ia akhirnya
meninggal dunia di desa Katang Lumbang (sekarang Lumbang, Pasuruan).
Peristiwa ini terjadi tahun 1250.
Akan tetapi dalam prasasti itu ditulis bahwa Tohjaya bukan raja Tumapel atau Singhasari, melainkan raja Kadiri yang menggantikan adiknya, bernama Guningbhaya.
Adapun Guningbhaya menjadi raja setelah menggantikan kakaknya yang
bernama Bhatara Parameswara. Ketiga raja Kadiri tersebut merupakan paman
dari Seminingrat.
Wisnuwardhana
Setelah pemberontakan tersebut, Ranggawuni naik takhta bergelar Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya
bergelar Narasinghamurti. Adapun Mahisa Campaka adalah putra Mahisa
Wonga Teleng, atau cucu Ken Arok. (lahir: ? - wafat: Singhasari, 1268)
adalah raja Kerajaan Tumapel yang kemudian terkenal dengan nama Kerajaan
Singhasari. Ia memerintah pada tahun 1248 - 1268 bergelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana (menurut prasasti Maribong, 1248). Menurut Pararaton, nama asli Wisnuwardhana adalah Ranggawuni
putra Anusapati putra Tunggul Ametung. Pemerintahan bersama antara
Wisnuwardhana dan Narasingamurti diibaratkan dua ular dalam satu liang,
dan dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian antara keluarga Tunggul
Ametung dan keluarga Ken Arok.
Pemerintahan Wisnuwardhana berakhir tahun 1272, setahun setelah peresmian pelabuhan Canggu di daerah Mojokerto sekarang.
Kertanagara
Sri Maharaja Kertanagara
(meninggal tahun 1292), adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan
Singhasari. Masa pemerintahan Kertanagara dikenal sebagai masa kejayaan
Singhasari, dan ia dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang
berambisi ingin menyatukan wilayah Nusantara. Menantunya Raden Wijaya,
kemudian mendirikan kerajaan Majapahit sekitar tahun 1293 sebagai
penerus dinasti Singhasari.
Kertanagara adalah putera Wisnuwardhana raja Singhasari tahun 1248-1268. Ibunya bernama Waning Hyun yang bergelar Jayawardhani. Waning Hyun adalah putri dari Mahisa Wunga Teleng (putra Ken Arok pendiri Singhasari).
Istri Kertanagara bernama Sri Bajradewi.
Dari perkawinan mereka lahir beberapa orang putri, yang dinikahkan
antara lain dengan Raden Wijaya putra Lembu Tal, dan Ardharaja putra
Jayakatwang. Nama empat orang putri Kertanagara yang dinikahi Raden
Wijaya menurut Nagarakretagama adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita,
Jayendradewi, dan Gayatri.
NB
: Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Ken Arok, dapat ditarik
kesimpulan kalau pendiri Kerajaan Tumapel hanya seorang rakyat jelata,
namun memiliki keberanian dan kecerdasan di atas rata-rata sehingga
dapat mengantarkan dirinya sebagai pembangun suatu dinasti baru yang
menggantikan dominasi keturunan Airlangga dalam memerintah pulau Jawa.
© http://naskahkenarok.blogspot.com/
SEJARAH RAJA JAYABHAYA/PANGERAN JOYOBOYO
-------------
SEJARAH RAJA JAYABHAYA/PANGERAN JOYOBOYO*
SEJARAH RAJA JAYABHAYA/PANGERAN JOYOBOYO*
============================================
Maharaja Jayabhaya adalah raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun
1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji
Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha
Parakrama Uttunggadewa.
Dalam sejarah, Jayabaya adalah
seorang raja yang memerintah Kerajaan Kediri pada kurang lebih tahun
1.130 sampai dengan tahun 1.160 masehi.Dia adalah seorang keturunan
langsung dari Prabu Airlangga, penguasa tertinggi Kerajaan Kahuripan
yang memerintah antara tahun 1.019 sampai dengan 1.042.
Kerajaan kediri (1.042 - 1222) sebelumnya merupakan pecahan dari
kerajaan Kahuripan. Sebelum meninggalkan tahta dan kemudian menjalani
hidup sebagai pertapa, Airlangga membagi kerajaannya untuk dua orang
putranya masing-masing Kerajaan Jenggala (Singosari) dengan Ibukotanya
Kahuripan dan Kerajaan Panjalu (Kediri) dengan Ibukotanya Daha. Dalam
perjalanan sejarah berikutnya, melalui perang saudara antar pewaris
Airlangga, Kerajaan Jenggala akhirnya takluk dan menjadi bagian dari
kerajaan Kediri.
Jayabhaya dalam Tradisi Jawa
Pangeran Jayabaya
Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa,
sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau
sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung
tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.
Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang
beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana,
putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.
Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya,
Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan
raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam.
Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan
Anglingdarma raja Malawapati. Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia
dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan
masih ramai dikunjungi sampai sekarang.
Prabu Jayabaya
adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat
beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat
Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya. Dikisahkan
dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada
seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut,
Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi
oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.
Dari nama
guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut
ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui
dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi
kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka,
si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung
Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kadiri.
Tokoh pujangga
besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering
disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi,
Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya,
sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.
Ramalan Jayabhaya
Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah
ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh
Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di
kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para
pujangga .Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab
Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan
keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg
menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.
"Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."
Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman
dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali
tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin
Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki
karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara
kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan
Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita
ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi
Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah
titisan Dewi Sri.
Isi Ramalan
- Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran - Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
- Tanah Jawa kalungan wesi - Pulau Jawa berkalung besi.
- Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang - Perahu berjalan di angkasa.
- Kali ilang kedhunge - Sungai kehilangan mata air.
- Pasar ilang kumandhang - Pasar kehilangan suara.
- Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak - Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
- Bumi saya suwe saya mengkeret - Bumi semakin lama semakin mengerut.
- Sekilan bumi dipajeki - Sejengkal tanah dikenai pajak.
- Jaran doyan mangan sambel - Kuda suka makan sambal.
- Wong wadon nganggo pakeyan lanang - Orang perempuan berpakaian lelaki.
- Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
- Akeh janji ora ditetepi - Banyak janji tidak ditepati.
- Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe - Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
- Manungsa padha seneng nyalah - Orang-orang saling lempar kesalahan.
- Ora ngendahake hukum Hyang Widhi- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
- Barang jahat diangkat-angkat - Yang jahat dijunjung-junjung.
- Barang suci dibenci - Yang suci (justru) dibenci.
- Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit - Banyak orang hanya mementingkan uang.
- Lali kamanungsan - Lupa jati kemanusiaan.
- Lali kabecikan - Lupa hikmah kebaikan.
- Lali sanak lali kadang - Lupa sanak lupa saudara.
- Akeh bapa lali anak - Banyak ayah lupa anak.
- Akeh anak wani nglawan ibu - Banyak anak berani melawan ibu.
- Nantang bapa - Menantang ayah.
- Sedulur padha cidra - Saudara dan saudara saling khianat.
- Kulawarga padha curiga - Keluarga saling curiga.
- Kanca dadi mungsuh - Kawan menjadi lawan.
- Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
- Ukuman Ratu ora adil - Hukuman Raja tidak adil
- Akeh pangkat sing jahat lan ganjil - Banyak pejabat jahat dan ganjil
- Akeh kelakuan sing ganjil - Banyak ulah-tabiat ganjil
- Wong apik-apik padha kapencil - Orang yang baik justru tersisih.
- Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin - Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
- Luwih utama ngapusi - Lebih mengutamakan menipu.
- Wegah nyambut gawe - Malas untuk bekerja.
- Kepingin urip mewah - Inginnya hidup mewah.
- Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka - Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
- Wong bener thenger-thenger - Orang (yang) benar termangu-mangu.
- Wong salah bungah - Orang (yang) salah gembira ria.
- Wong apik ditampik-tampik - Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
- Wong jahat munggah pangkat - Orang (yang) jahat naik pangkat.
- Wong agung kasinggung - Orang (yang) mulia dilecehkan
- Wong ala kapuja - Orang (yang) jahat dipuji-puji.
- Wong wadon ilang kawirangane - perempuan hilang malu.
- Wong lanang ilang kaprawirane - Laki-laki hilang jiwa kepemimpinan.
- Akeh wong lanang ora duwe bojo - Banyak laki-laki tak mau beristri.
- Akeh wong wadon ora setya marang bojone - Banyak perempuan ingkar pada suami.
- Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
- Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
- Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang gonta-ganti pasangan.
- Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
- Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
- Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
- Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
- Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
- Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
- Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
- Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
- Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
- Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
- Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
- Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
- Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
- Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
- Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
- Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
- Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
- Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
- Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
- Akeh laknat--- Banyak kutukan
- Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.
- Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
- Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.
- Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
- Guru disatru---Guru dimusuhi.
- Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
- Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
- Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
- Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
- Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
- Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
- Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
- Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
- Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
- Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
- Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.
- Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
- Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
- Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
- Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
- Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
- Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
- Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
- Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
- Akeh barang haram---Banyak barang haram.
- Akeh anak haram---Banyak anak haram.
- Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
- Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
- Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
- Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
- Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.
- Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.
- Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
- Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
- Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
- Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
- Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
- Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
- Sing wedi mati---Yang takut mati.
- Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
- Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
- Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
- Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
- Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.
- Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
- Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
- Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
- Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
- Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
- Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
- Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.
- Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
- Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
- Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
- Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
- Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
- Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
- Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.
- Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
- Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
- Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
- Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
- Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
- Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.
- Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
- Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
- Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
- Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.
- Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
- Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
- Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
- Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
- Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
- Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
- Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
- Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
- Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
- Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
- Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
- Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.
- Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.
- Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.
- Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
- Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
- Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
- Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
- Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.
- Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
- Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
- Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
- Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
- Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
- Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.
- Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.
- Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
- Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
- Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.
- Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.
- Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
- Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
- Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
- Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
- Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
- Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.
- Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
- Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.
- Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
- Agama ditantang---Agama ditantang.
- Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.
- Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.
- Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
- Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
- Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.
- Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
- Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
- Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
- Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
- Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.
- Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
- Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
- Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
- Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
- Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.
- Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga
- Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
- Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.
- Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
- Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.
- Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.
- Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.
- Buruh mangluh---Buruh menangis.
- Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
- Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.
- Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.
- Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
- Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
- Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
- Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan
disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
- Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.
- Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.
- Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
- Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
- Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
- Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.
- Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.
- Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.
(Sumber : id.wikipedia.org)
Biografi KH. Yahya Gading Pesantren Gading Kasri Malang
==========
KH. Yahya Gading Kasri Malang
Kyai Haji Muhammad Yahya dilahirkan pada tahun 1903 M, di desa Jetis, 10 km arah barat kota Malang,
perjalanan kearah kota Batu. Saat ini, desa jetis berada di wilayah
kerja kecamatan Dau, kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan
kelurahan Tlogomas yang sudah berada di wilayah kerja kecamatan
Lowokwaru, Kotamadya Malang.
Meskipun lahir di daerah Malang, namun sebenarnya kiai Yahya memiliki darah keturunan Jawa Tengah,
tepatnya daerah Juwana, kabupaten Pati. Karena ayahandanya, kiai
Qoribun dan ibunda nyai Sarmi adalah penduduk asli Juwana. Dari
perkawinan kiai Qoribun dan nyai Sarmi itulah kiai Yahya dilahirkan
sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara. Dengan demikian beliau
memiliki tiga kakak dan tiga adik. Kakak pertama dan kedua adalah
perempuan, yaitu Ratun dan Tasmi, sedangkan kakak ketiganya adalah
seorang laki-laki yang bernama Abdul Hamid. Ketiga adik beliau
kesemuanya laki-laki, yaitu Subadar, Jayadi dan si bungsu Nasibun.
Sejak kecil kiai Yahya telah bersentuhan dengan ilmu agama melalui
pendidikan keluarga dengan tradisi santri yang kental. Disamping itu,
beliau juga mengikuti pendidikan dasar keagamaan yang diasuh oleh paman
beliau sendiri, yaitu kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid
thoriqoh Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah kiai Yahya
menghenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama
atau ilmu akhlaq. Penguatan dasar agama dimasa kecil ini menjadikan
beliau kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip serta memperoleh
kemudahan dalam mengembangkan ilmu dimasa berikutnya.
RIWAYAT PENDIDIKAN
Kiai Yahya termasuk pecinta ilmu. Hal ini terbukti dengan lamanya masa studi
beliau dan banyaknya jumlah pesantren yang pernah ditempati untuk
menuntut ilmu. Tidak kurang dari 6 pesantren telah beliau pondoki dalam
waktu lebih dari 20 tahun. Masing-masing dari keenam pesantren tersebut,
telah member maziah keilmuan tersendiri bagi kiai Yahya yang kelak
beliau tunjukkan dalam kiprahnya di tengah masyarakat.
Seusai menjalani pendidikan dasar keagamaan di surau kiai Abdullah, kiai
Yahya melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren besar di Malang, yaitu
pesantren Mbungkuk, Singosari. Tampaknya, tujuan beliau mondok di
pesantren ini selain untuk mendalami ilmu alat, fiqih dan aqidah, juga
mengharap barokah ilmu dan hikmah dari Al Allamah Almasyhur bi
Waliyillah Syaikh Hajj Muhammad Thohir. Dipesantren ini kiai Yahya
pertama kali mendapat ijazah
amalan Thoriqoh Kholidiyah dari kiai Thohir. Selepas dari pesantren
Mbungkuk, kiai Yahya memperdalam ilmu fiqih sekaligus ilmu tasawuf
selama beberapa tahun kepada Al Allamah, kiai Abbas di daerah Cempaka,
Blitar.
Merasa belum cukup, kiai Yahya mondok di pesantren Kuningan, Blitar dan
kemudian dilanjutkan lagi di pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo yang diasuh
oleh KH Khozin. Dari Sidoarjo, kiai Yahya melanjukan kesebuah pesantren
di Kediri, tepatnya desa Jampes, yang diasuh oleh KH Moh. Dahlan.
Di pondok Jampes inilah kesungguhan kiai Yahya dalam menuntut ilmu
benar-benar teruji. Hal ini ditunjukkan dari ketekunan dalam mengikuti
pengajian yang diberikan oleh kiai. Siang dan malam digunakan untuk
mengaji dan membaca kitab,bahkan dalam keadaan sakit sekalipun. Pernah
pada waktu pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin, kiai Yahya dalam keadaan
sakit. Namun, kiai Yahya tetap mengikuti pengajian sampai khatam walau
dalam kondisi tidak sehat. Oleh karena itu, bisa dimaklumi bila
ketinggalan pengajian ( ada kitab yang ‘bolong’ ), maka beliau pasti
meminjam kitab pada teman santri lain, untuk mengganti ketertinggalan
itu ( dikalangan pesantren dikenal dengan istilah nembel ). Salah
seorang teman akrab kiai Yahya yang biasa dipinjami adalah kiai Asy’ari
asal Wajak.
Kepada kiai Dahlan, kiai Yahya pernah meminta ijin untuk menambah aurad (
wiridan ) thoriqoh selain yang telah dilakukan selama ini. Namun kiai
Dahlan tidak memberinya, bahkan menyatakan bahwa suatu saat nanti akan
datang sendiri guru thoriqoh yang akan memberi ijazah kepada kiai
Yahya.”mengko bakal teko dhewe guru thoriqoh nang awakmu”,titah kiai
Dahlan waktu itu. Setelah hampir 30 tahun, ucapan kiai Dahlan itu
terbukti. Yaitu dengan datangnya seorang ulama’ mursyid thoriqoh
Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, yakni syekh Zainal Makarim dari Solo yang
kemudian membaiat kiai Yahya dengan ijazah thoriqoh. Pada saat itu
pulalah, beliau dibai’at sebagai mursyid thoriqoh tersebut.
Kesungguhan kiai Yahya dalam menuntut ilmu dan kepatuhan pada guru,
membuat kiai Dahlan memberikan pembinaan tersendiri, baik secara dzahir
melalui penyampaian ilmu-ilmu kitab kuning, maupun secara batin melalui
do’a dan barokah. Salah satu bentuk barokah do’a itu, kiai Yahya pernah
diludahi mulut beliau oleh kiai Dahlan. Menurut keyakinan ulama’, barang
siapa yang diludahi oleh kiai Dahlan, maka akan mendapatkan ilmu
ladunni tujuh turunan.
Dan ketika kiai Dahlan wafat, kiai Yahya meneruskan pengembaraan ilmunya
pada sebuah pesantren di Tulungagung yang diasuh oleh KH Asy’ari dan KH
Abdul Fatah. Namun saat pondok Jampes diasuh oleh kiai Ihsan putra KH
Dahlan, kiai Yahya kembali ke pesantren tersebut dan belajar disana
selama tujuh tahun. Pada saat di pesantren Jampes untuk kedua kalinya
ini, kiai Yahya mendapat tugas dari kiai Ihsan untuk ikut mengajar para
santri. Karena keistiqomahan, kepemimpinan dan besarnya tanggung jawab
beliau, maka kiai Yahya juga dipercaya oleh pengasuh untuk menjabat
sebagai lurah pondok ( kepala pondok ) untuk beberapa tahun. Di
pesantren ini kiai Yahya memperoleh pengalaman mengajar dan
berorganisasi yang nantinya beliau terapkan untuk mengelola pesantren
sendiri.
Atas restu kiai Ihsan, akhirnya pada tahun 1930, kiai Yahya boyong dari
pesantren Jampes kembali ke kota kelahirannya di Malang. Pada tahun yang
sama, kiai Yahya diambil menantu oleh kiai Isma’il, dan dikawinkan
dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Chodijah. Kiai Isma’il
mengambil putri angkat dari kemenakan beliau sendiri,yaitu kiai Abdul
Majid. Kedua ulama’ ini merupakan pengasuh generasu kedua pada Pondok
Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat
itu yang kemudian lebih dikenal dengan Pondok Gading
Pasangan kiai Yahya dan nyai Chodijah benar-benar membangun mahligai
rumah tangga. Baru lima tahun setelah akad nikah, tepatnya pada tahun
1935 kiai Abdul Majid dan kiai Isma’il wafat. Dan milai tahun itu pula,
kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun
sebagai kepala keluarga. Semoga kita semua mendapat barokah mereka semua, amiin. Al-Fatihah..........
Rabu, 01 Januari 2014
Diantara Khashiyat/ Fadlilah Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlash
Surat Al-Ikhlas ini mengandung Khasiat , Antara lain sebagai berikut :
1. Abu Sa'id Al-Khanafi menerangkan : Surah ini dinamakan Surah Al-Ikhlas, artinya bersih atau lepas, maka barangsiapa yang membacanya dan mengamalkannya dengan hati yang ikhlas maka ia akan dilepaskan kesusahan-kesusahan duniawi, dimudahkan dalam gelombang sakaratul maut, dihindarkan dari kegelapan kubur dan kengerian hari kiamat.
2. Ibnu Syu'bah Al-Zukhri menerangkan : Rosululloh saw bersabda :"BarangSiapa membaca Suratul Ikhlas, seolah-olah ia membaca sepertiga Al-Qur'an."
3. Riwayat dari Sayyidinaa 'Ali Bin Abi Tholib KRW : BarangSiapa membaca Suratul Ikhlash sebanyak 11 kali sesudah sembahyang shubuh, maka syetan tidak akan dapat menggodanya untuk memperdayainya, sehingga terjerumus berbuat dosa, meskipun syetan itu sungguh-sungguh seirus hendak menggodanya pada hari itu.
4. Sayyidatina 'Aisyah RA menerangkan : Dari Nabi Muhammad saw : "BarangSiapa membaca sesudah selesai sembahyang Jum'at, surat Al-Fatihah 7x, surah Al Ikhlash 7x, Surah Al Falaq 7x, dan surah An-Naas 7x, maka Tuhan akan melindunginya dari kejahatan sampai hari Jum'at berikutnya/yang akan datang.
5. Dari Sayyidina 'Ali Bin Abi Tholib KRW dari Rosululloh SAW : BarangSiapa hendak pergi/ bermusafir, kemudian ketika ia hendak meninggalkan rumahnya, ia membaca surat Al-Ikhlas 11x, maka Tuhan memelihara rumahnya sampai ia kembali/pulang.
6. Sayyidina Anas Bin Malik RA menerangkan dari Rosululloh saw. : "BarangSiapa membaca Suratul Ikhlas 30x, maka Tuhan akan menulis barokah, selamat dari api neraka dan aman dari adzab pada hari kiamat.
Demikianlah Diantara Khasiat dan Keutamaan surat Al-Ikhlas, Semoga dapat bermanfa'at untuk kita semuanya, amiin...!
1. Abu Sa'id Al-Khanafi menerangkan : Surah ini dinamakan Surah Al-Ikhlas, artinya bersih atau lepas, maka barangsiapa yang membacanya dan mengamalkannya dengan hati yang ikhlas maka ia akan dilepaskan kesusahan-kesusahan duniawi, dimudahkan dalam gelombang sakaratul maut, dihindarkan dari kegelapan kubur dan kengerian hari kiamat.
2. Ibnu Syu'bah Al-Zukhri menerangkan : Rosululloh saw bersabda :"BarangSiapa membaca Suratul Ikhlas, seolah-olah ia membaca sepertiga Al-Qur'an."
3. Riwayat dari Sayyidinaa 'Ali Bin Abi Tholib KRW : BarangSiapa membaca Suratul Ikhlash sebanyak 11 kali sesudah sembahyang shubuh, maka syetan tidak akan dapat menggodanya untuk memperdayainya, sehingga terjerumus berbuat dosa, meskipun syetan itu sungguh-sungguh seirus hendak menggodanya pada hari itu.
4. Sayyidatina 'Aisyah RA menerangkan : Dari Nabi Muhammad saw : "BarangSiapa membaca sesudah selesai sembahyang Jum'at, surat Al-Fatihah 7x, surah Al Ikhlash 7x, Surah Al Falaq 7x, dan surah An-Naas 7x, maka Tuhan akan melindunginya dari kejahatan sampai hari Jum'at berikutnya/yang akan datang.
5. Dari Sayyidina 'Ali Bin Abi Tholib KRW dari Rosululloh SAW : BarangSiapa hendak pergi/ bermusafir, kemudian ketika ia hendak meninggalkan rumahnya, ia membaca surat Al-Ikhlas 11x, maka Tuhan memelihara rumahnya sampai ia kembali/pulang.
6. Sayyidina Anas Bin Malik RA menerangkan dari Rosululloh saw. : "BarangSiapa membaca Suratul Ikhlas 30x, maka Tuhan akan menulis barokah, selamat dari api neraka dan aman dari adzab pada hari kiamat.
Demikianlah Diantara Khasiat dan Keutamaan surat Al-Ikhlas, Semoga dapat bermanfa'at untuk kita semuanya, amiin...!
Langganan:
Postingan (Atom)


