ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 02 Februari 2014

Legenda Danau Ranu Grati Pasuruan

==============


Legenda Ranu Grati
Ki Ageng Bangil mengambil telur ular sanca di hutan, untuk mengobati istrinya (Purwosari) yang sakit lumpuh. Setelah meminum telur ular sanca itu, secara ajaib kaki Purwosari sembuh. Tapi sepasang ular sanca raksasa pemilik telur itu mengamuk di kampung Bangil, untuk mengambil telurnya. Sepasang ular sanca itu berhasil dikalahkan Ki Ageng Bangil dengan tongkat emas yang sakti. Tahu kalau telurnya sudah diminumkan ke istrinya, ular sanca kembang mengutuk, kalau anak yang tengah dikandung Purwosari akan segera lahir dengan kulit bersisik ular. Kutukan itu benar terjadi, karena bayi perempuan yang dilahirkan Purwosari, kulitnya berisisik seperti ular. 

Untuk menutupi aib, Ki Ageng Bangil mengungsikan anak dan istrinya di sebuah gubuk di tengah hutan. Tapi Purwosari sangat menyayangi anaknya dan diberi nama Grati. Sepasang ular sanca memberi tahu, bahwa sisik ular di kulit Grati akan hilang kalau ada yang berhasil mengeluarkan mustika merah delima dari dalam tubuhnya. Tapi mustika merah delima itu harus diserahkan kepada sepasang ular sanca, karena merupakan intisari dari telur yang diminum Purwosari. Jika mustika itu keluar tapi hilang, Grati akan dimakan sebagai gantinya. Merasa bersalah, Ki Ageng Bangil membuang tongkat emasnya di kawah gunung berapi.

__________________________________________________________________
Setelah 10 tahun berlalu. Grati tumbuh sebagai Gadis cilik bersisik ular. Ia tidak dibolehkan keluar dari hutan dan hanya bermain dengan berbagai jenis ular, termasuk sepasang ular sanca yang selalu mengawasi sekaligus melindungi. Suatu ketika, ada bocah laki-laki (Ranu) tersesat di hutan dan terjebak lumpur hidup. Grati menolongnya. Sejak itu Ranu dan Grati berteman.
__________________________________________________________________

Sementara itu di desa Pakis, Ki Lurah Pakis (ayahnya Ranu) yang mau mengambil empedu ular raja kobra malah kena patok. Akibat bisa ular itu, Ki Lurah Pakis mengalami sakit kepala tengleng. Menurut Ki Sronen (pawang ular) sakit kepala tengleng Ki Lurah pakis hanya bisa disembuhkan dengan mustika ular. Perburuan ularpun segera dilakukan. Grati dan para ular melakukan perlawanan. Tapi suling ajaib yang ditiup Ki Sronen mampu melumpuhkan semua ular. Bahkan Grati dibikin tak berdaya oleh suara suling. Melihat cahaya merah delima memancar dari dada Grati, Ki Sronen langsung yakin, kalau mustika ular itu ada di dalam tubuh Grati. Dengan suling ajaib, Ki Sronen berusaha mengeluarkan mustika dari tubuh Grati. Grati kejang-kejang oleh suara suling. Anehnya, sisik-sisik ular ditubuh Grati berontokan dan menjadi kepingan emas. Ki Lurah Pakis dan istrinya yang tamak, segera mengambili semua kepingan emas itu. Setelah sisik terakhir terlepas, mustika berwarna merah delima juga keluar dari dalam tubuh Grati. 

Dengan meminum air rendaman mustika itu, sakit kepala tengleng Ki Lurah Pakis berhasil disembuhkan. Ki Ageng Bangil datang meminta mustika itu untuk dikembalikan pada sepasang ular sanca. Tapi Ki Lurah Pakis tidak mau memberikan mustika, kecuali ditukar dengan tongkat emas milik Ki Ageng Bangil. Karena tongkat emas itu sudah dibuang dikawah gunung berapi, Grati berniat mengambilnya. Diam-diam Ranu mengikuti. Setelah melewati berbagai halangan, Ranu dan Grati berhasil mengambil tongkat emas itu. Tapi Ki Lurah Pakis tidak mau menyerhkan mustika ular. Bahkan Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen malah saling berebut tongkat emas yang dikenal sakti itu. Grati kesal, menancapkan tongkat emas itu di tanah. Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen tak sanggup mencabutnya. Bahkan semua warga kampung yang ingin memiliki tongkat emas itu juga tak ada yang sanggup mencabutnya. 

Menurut Ki Ageng Bangil, yang bisa mencabut hanya anak yang masih suci, berhati bersih dan berpikiran jernih, tanpa maksud untuk memilikinya. Akhirnya Ranu dan Grati bersedia mencabut tongkat emas itu, asal diberikan mustikanya. Ki Lurah Pakis memberikan mustika pada Grati. Ranu dan Grati berhasil mencabut tongkat emas itu dengan mudah. Tapi dari lobang bekas tancapan tongkat emas, memancar air beserta kepingan-kepingan emas. Warga pada berebut menghumpulkan kepingan emas itu, sementara Ki Lurah Pakis berebut tongkat dengan Ki Sronen. Ki Ageng Bangil segera membawa pergi Ranu dan Grati beserta sebagian warga yang mau mengungsi meninggalkan desa Pakis. Dalam waktu singkat, muncratan air menjadi banjir bah yang dahsyat. Ki Lurah Pakis dan Ki Sronen yang berebut tongkat emas, serta warga yang berebut mengumpulkan kepingan, semuanya ikut tenggelam karena desa Pakis sudah berubah menjadi danau. Danau itu kemudian diberi nama Ranu Grati.

Wisata Danau Ranu


Danau Ranu Grati merupakan salah satu obyek wisata alam kabupaten pasuruan. yang memiliki luas lebih kurang 198 hektar ini, Lokasi danau Ranu Grati berada di sebelah selatan tidak jauh dari akses jalan antar propinsi melalui jalur pantura. Di Danau Ranu Grati ini  banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk budidaya ikan keramba, ini yang membuat menarik karena disamping kita bisa melihat para petani budidaya ikan tersebut bekerja, kita juga bisa membeli untuk dinikmati di tempat ini.
Danau Ranu Grati ini terletak diantara 3 desa di kecamatan Grati, yaitu Desa Sumberdawesari, Desa Ranuklindungan, dan Desa Gratitunon. Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar Ranu Grati

Sumber:http://www.pasuruantourism.com/2011/09/danau-ranu-grati.html?showComment=1315808459082

Asal Muasal Danau Ranu Grati Pasuruan

===============


Asal Mula Ranu Grati
---------------------
Pada zaman dahulu desa Kademangan Klindungan terkenal sebagai desa yang tenteram, pemandangannya sangat elok dan dikelilingi oleh hutan belantara. Suatu hari datanglah seorang wanita yang sangat cantik ke Kademangan Klindungan. Pakaian yang dipakai laksana puteri keraton, wanita itu adalah Endang Sukarni.
Endang Sukarni merupakan salah seorang puteri kerajaan Mataram. Karena terjadi kekacauan di Mataram, akhirnya dia meninggalkan kerajaan. Dia menempuh perjalan yang sangat panjang dan melelahkan sampai kearah timur Pasuruan. Setelah sekian lama perjalanan, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil melepas letih. Pada saat itu melintas seorang warga dihadapan Endang Sukarni.

“ Di daerah manakah sekarang saya berada ? “ Tanya Endang Sukarni, sambil terheran – heran.
Warga tersebut menjawab, “ Puteri sekarang berada di Kedemangan Klindungan.”
“ Maaf, kalau boleh saya tahu, siapa orang yang dituakan dan dihormati di daerah ini ?” Tanya Endang Sukarni sekali lagi.
“ Di sekitar sini ada orang yang bernama Begawan Nyampo. Beliaulah orang yang paling dihornati didaerah ini.” Jawab warga tersebut.
“ Terima kasih atas keterangannya. Kalau begitu , dimanakah rumahnya. saya ingin bertemu dengan Begawan Nyampo “ kata Endang Sukarni sambil berpamitan.
“ Kalau ingin bertemu dengan  Begawan Nyampo, teruslah berjalan sampai ke pinggir hutan. Disana ada sumur tua. Disitulah biasanya beliau bersemedi.”

Ketika Begawan Nyampo sedang melakukan semedi, tiba – tiba ada orang memanggil namanya.
“ Maafkan Tuan, saya terpaksa mengganggu ketenangan semedi Tuan.” Kata Endang Sukarni kepada Begawan Nyampo.
Begawan Nyampo menghentika semedinya, “ Ada apakah gerangan sehingga engkau mengganggu ketenangan semediku ? “ Tanya Begawan Nyampo.
“ Saya berasal dari jauh. Dari sebuah kerajaan yang terpecah belah. Saat ini saya hidup sebatang kara. Kalau Tuan berkenan, saya ingin mengabdi kepada Tuan,” pinta Endang Sukarni sambil memohon .

Begawan Nyampo diam sejenak sambil berpikir, “  Siapa namamu ? ”
“  Nama saya Endang Sukarni “
“ Baiklah kalau itu maumu. Untuk sementara saya minta engkau membantu memasak di dapur.”

Hari demi hari dilewati dengan perasaan yang senang oleh Endang Sukarni. Suatu ketika tanpa sengaja, Begawan Nyampo melihat kemulusan kulit betis Endang Sukarni. Kainnya tersingkap tiupan angina yang sangat kencang. Tanpa sadar keluarlah air suci dari tubuh Begawan Nyampo. Air suci yang biasa  terpancar dari seorang lelaki dewasa yang sedang tenggelam dalam asmara. Pada saat itulah air suci itu jatuh ketanah. Atas kuasa Tuhan, air suci itu berubah menjadi sebuah pisau kecil.

Dengan perasaan yang bersalah, Begawan Nyampo memberikan pisau itu kepada Endang Sukarni.
“ Hai Endang Sukarni, Kemarilah “.
“ Ada apakah Tuan memanggil saya ? “ Tanya Endang Sukarni.
“ Saya mempunyai sebuah pisau kecil. Pakailah untuk berbagai keperluan mu didapur dan berhati – hatilah dengan pisau ini. Selain tajam ada satu pantangan yang harus kamu perhatikan dan harus kamu ingat , jangan sekali – kali pisau ini kau letakkan di atas pangkuanmu. “ ujar Begawan Nyampo sambil memberikan pisau itu pada Endang Sukarni.

Setiap kali memasak didapur, Endang Sukarni selalu memakai pisau itu untuk berbagai keperluannya. Pesan Begawan Nyampo selalu diingatnya setiap selesai memakai, pisau itu ditaruh ditempat yang aman. Tetapi manusia selalu dilekati sifat lupa. Suatu ketika, setelah memasak di dapur, sifat kehati – hatian Endang Sukarni mulai nengendur. Tanpa sadar pisau itu diletakkan dipangkuannya. Endang Sukarni sangat terkejut. Dicarinya pisau tersebut disekitar tempat duduknya tetapi tidak ditemukan.

Ending Sukarni merasa takut menyampaikan apa yang telah terjadi kepada Begawan Nyampo. Hilangnya pisau itu terus dipendam sampai beberapa bulan . tanpa ia sadari, ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Semakin lama parutnya  terasa semakin  membesar. Hatinya bertanya – Tanya. Apa yang sedang menimpa dirinya : “ Munkinkah saya hamil ? tapi bagaimana mungkin sedangkan saya belum pernah bersentuhan dengan seorang lelaki.”
Tak kuasa memendam rahasia akhirnya Endang Sukarni menceritakan kejadian yang telah menimpa dirinya kepada Begawan Nyamp. Meskipun terkejut tetapi Begawan Nyampo mencoba menenangkan Endang Sukarni.

“ Tapi ini sudah terjadi, dan kamu benar – benar hamil, “ ucap Begawan Nyampo.

Kini Endang Sukarni tinggal menunggu saat yang mendebarkan, yaitu melahirkan seorang bayi. Setelah sembilan bulan , akhirnya Endang Sukarni melahirkan. Dengan wajah kaget dan tidak percaya Endang Sukarni melihat bayinya, ternyata bayi yang baru dilahirkannya bukan seorang bayi mungil nan lucu yang diharapkan. Akan tetapi seorang bayi dengan kulit yang bersisik seperti ular dan dibagian belakang tubuhnya tumbuh semacam ekor.

Akhirnya dengan menahan rasa malu dia membesarkan bayi tersebut layaknya manusia biasa yang sempurna. Bayi tersebut diberi nama Jaka Baru. Agar mudah mengetahui keberadaannya. Maka bagian ekornya diberi lonceng kecil ( klintingan ). Sehingga lama – kelamaan dia dikenal dengan nama Baru Klinting. Karena malu memiliki anak yang aneh dengan barbagai cara Endang Sukarni mencoba menyingkirkan Baru Klinting.

Pada suatu hari Baru Klinting disuruh ibunya untuk mencari air dengan menggunakan keranjang bamboo yang berlubang. “Baru Klinting tolong tunjukkan kepada ku apakah engkau mewarisi kesaktian ayahmu. Jika kamu berhasil, sebaiknya kau tinggalkan rumah ini. “ pinta Endang Sukarni .

Dengan gembira Baru Klinting  berangkat dengan membawa keranjang bamboo untuk mencari air. Betapa kagetnya orang tua Baru Klinting melihat dia berhasil membawa sekeranjang air. Rupanya dengan kecerdikannya bamboo tersebut dilapisi dedaunan yang dilekatkan dengan menggunakan air liurnya.

Karena cara tersebut tidak berhasil menyingkirkan Baru Klinting, maka dicari cara lain untuk menyingkirkannya. Dan sebuah cara baru  muncul dari pikiran Begawan Nyampo dan Endang Sukarni. Baru Klinting disuruh tempur dengan Buaya Putih di sungai Bedadung Jember, dengan alasan buaya tersebut mengganggu ketentraman warga sekitar.

Sebenarnya Buaya Putih tersebut masih saudara sepupu Baru Klinting. Karena Buaya Putih adalah putera dari Raden Dodo Putih yang tidak lain adik dari Begawan Nyampo. Raden Dodo Putih bertempat tinggal dilereng Gunung Semeru. Suatu malam Raden Dodo Putih bermimpi melakukan hubungan layaknya suami istri dengan seorang bidadari. Mimpi itu begitu nyata.

Setelah beberapa hari dari kejadian mimpi tarsebut, tiba – tiba batu yang dibuat  bersemedi langsung pecah dan mengeluarkan seekor Buaya Putih yang masih kecil. Setelah dipelihara oleh Raden Dodo Putih, buaya tersebut menjadi besar dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Karena dirundung malu, Rasen Dodo Putih bersepakat dengan Begawan Nyampo untuk mengadu putranya dengan Baru Klinting. Harapan mereka, dalam pertenpuran itu Buaya Putih dan Baru Klinting sama – sama mati.

Baru Klinting seketika itu berangkat menemui Buaya Putih dengan tergesa – gesa dan rasa penasaran. Akibatnya saat dia melintasi sebuah gunung, maka runtuhlah puncak gunung tersebut ( tugel ) akibat dari sebetan ekornya. Gunung itu kini bernama Gunung Tugel  yang berada didaerah  Tongas Probolinggo.
Saat bertempur dengan Buaya Putih, ternyata Baru Klinting menang dengan mudah. Tubuh Buaya Putih itu dipotong – potong dan dilemparkan kesegala arah. Sebagian dilempar sampai ke Gersik, sebagian dilempar dan jatuh menjadi Gunung Bentar di Probolinggo, dan sebagian dilempar ke Puger Jember. Semua tubuh buaya putih itu kini menjadi Gunung Kapur.

Dengan gembira Baru Klinting pulang kerumahnya. Akan tetapi kedua orang tuanya masih gundah melihat Baru Klinting masih hidup. Akhirnya Begawan Nyampo mempunyai satu cara yang menurutnya berhasil, yaitu memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa dihutan.

“ Baru Klinting berangkatlah kehutan untuk melakukan tapa disebuah bukit. Apabila engkau dapat memutari bukit itu dengan tubuhmu, maka engkau akan berubah menjadi manusia yang sempurna,” ucap Begawan Nyampo.

Akhirnya Baru Klinting melakukan tapa disebuah bukit kecil. Pada saat itu pula di Kademangan Klindungan sedang mengalami paceklik. Warga bingung menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan, sedangkan mereka harus mencari makan. Dan mereka memutuskan untuk berburu hewan dihutan untuk dijadikan makanan.

Warga mulai melakukan pemburuan. Diantara warga itu ada seorang kakek tua yang buta yang bernama Kek Kerti. Dia pergi kehutan untuk berburu dan mencari kayu bakar. Para warga merasa kasihan melihat Kek Kerti pergi kehutan sendirian, akhirnya ada ide untuk membujuk supaya Kek Kerti pulang. Namun watak yang dimiliki Kek Kerti sangat keras, dia tidak mau pulang.

Kek Kerti sudah mengelilingi hutan kemudian dia memutuskan istirahat dibawah pohon. Saat melepas lelah, tiba – tiba dia merasa akar yang didudukinya bergerak – garak. Dia merasa takut dan heran.
“ Apa ini sebenarnya ? “ ucap Kek Kerti sambil terkaget –kaget
“ Jangan kaget dan jangan takut Kek Kerti. Wujudku memang seekor ular, akan tetapi bukan ular sembarangan. Aku tidak akan menyakiti manusia seperti mu. Aku sedang melakukan semedi agar menjadi manusia yang sempurna kelak. “
“ Apa ? bagaimana ceritanya ? “ Tanya Kek Kerti sambil kaget.
“ Panjang ceritanya, Kek, aku tidak mungkin menceritakannya. Namaku Baru Klinting, anak dari Begawan yang sangat sakti. Sudah bertahun – tahun aku melakukan semedi ini .”
Baru Klinting mengetahui nahwa Kek Kerti tidak bisa melihat, dengan kemampuannya, dia akan menyembuhkannya. Tetapi Baru Klinting mempunyai syarat. “ Apabila Kek Kerti sudah dapat melihat jangan sekali – sekali mengatakan keberadaanku disini. Kalau Kek Kerti mengingkarinya, maka Kek Kerti akan buta lagi. “
“ Baiklah, asal mataku bisa melihat, saya memenuhi syarat itu .” kata Kek Kerti.
“ Irislah punggungku, Kek. Darah yang nantinya keluar dari tubuhku usapkan kedua mata Kek Kerti,” ujar Baru Klinting. Dan sungguh ajaib, setelah Kek Kerti mengusapkan darah itu kematanya, dia langsung dapat melihat. Kek Kerti mengucapkan terima kasih dan pulang dengan senang.

Warga terheran – heran melihat Kek Kerti yang buta kini bisa melihat lagi. Warga mulai menanyai Kek Kerti, akan tetapi dia tidak mau mengatakan apa yang terjadi. Dengan segala rayuannya warga mendesak Kek Kerti untuk mengatakan, dan akhirnya keluarlah perkataan yang seharusnya tidak boleh diucapkan oleh Kek Kerti. Akhirnya mata Kek Kerti menjadi buta kembali.

Setelah mendengar cerita dari kek kerti,muncul ide dari salah satu warga untuk membantai Baru Klinting. Dagingnya akan digunakan untuk pesta selamatan desa. Untuk itu warga beramai – ramai ke hutan. Setibanya bersemedi. Tanpa pikir panjang warga langsung menyenbelihnya. Karena tubuh Baru Klinting yang sangat besar akibatnya darah mengalir ke segalah arah.

Tempat penyembelihan Baru Klinting (mbeleh), kini menjadi  Desa Mbelerah. Setelah itu, badan Baru Klinting  dikelupas sisiknya (kresek). Tempat itu kini menjadi  Desa kresek. Setelah di bersihkan tubuh Baru Klinting dipotong – potong menjadi empat puluh (patang puluh) bagian, dan kini menjadi Desa patang puluh. Sedangkan daging dari tubuh Baru Klinting dibakar (tunu), kini menjadi  kini menjadi Desa tunon  atau biasa dikenal Grati tunon.

Selamatan desa dimulai, berbagai hidangan ditumpuk jadi satu termasuk daging dari tubuh Baru Klinting. Tak lama berselang tiba – tiba datang seorang wanita yang tidak lain adalah Emdang Sukarni. Dia meminta – minta sambil menangis. Warga tidak suka dengan kehadiran Endang Sukarni karena itu mereka mengusirnya.
Sambil memohon – mohon Endang Sukarni mulai putus asa. Tiba - tiba  seorang nenek mendengar tangisannya. “ Apakah yang terjadi pada dirimu. Nak ?” Tanya sang nenek.

“ saya ingin sekali meminta daging yang dipanggang itu karena perutku lapar sekali,” Ucap Endang Sukarni .
“ jadi itu permintaanmu ? Ambillah sebagian daging punyaku ini supaya perutmu tidak lapar lagi.”
Sambil makan daging Endang Sukarni mengucapkan terima kasih kepada nenek tersebut.
“Siapakah nama kamu, Nak ?” Tanya nenek sambil tersenyum.
“ Namaku Endang Sukarni . Saya ke sini untuk meminta daging ular agar dapat mengembalikan anakku Baru Klinting yang dagingnya dibuat pesta oleh warga.”
“ Apa ?” Kata nenek itu kaget .
“ Benar Nek, itulah kenyataannya,” jawab Endang Sukarni.

Hati Endang Sukarni mulai tidak tenang. Ia ingin membalas apa yang telah di perbuat oleh warga terhadap Baru Klinting. Kemudian Endang  Sukarni berdiri dan menancapkan sebatang  lidi ( sodo lana), lalu berteriak – teriak meminta perhatian warga yang berpesta.
 “ Barang siapa baik laki – laki maupu perempuan yang merasa sakti, buktikan kemampuan kalian di hadapan ku dengan mencabut sebatang lidi yang tertancap ini,” teriak Endang Sukarni sambil menancapkan sebatang lidi.
“ Apa ?” seluruh warga merasa terkejut dan bertanya – Tanya.
“ heeeeeee, jangan kan mencabut sebatang lidi, nyawamu pun bisa ku cabut,” ucap salah satu yang besar mulut .
“ Sekarang  buktikan, jika kalian bisa mencabutnya,” ujar Endang Sukarni marah.

Setelah berbagai macam cara di lakukan ternyata tidak ada seorang pun yang bisa mencabut batang lidi itu dengan mudah, mereka terheran – heran melihatnya.
“ Kini kalian merasakan akibat dari perbuatan kalian terhadap keluargaku,” kata Endang Sukarni
Lubang bekas tancapan sebatang lidi, mulai mengeluarkan air yang sangat deras. Lama kelamaan menjadi sumber air yang sangat besar. Warga kebingungan ,berlarian kesana kemari. Satu per satu warga di telan air Bah dan akhirya seluruh warga tenggelam.

Sumber air, bekas tancapan sebatang lidi tadi tidak pernah surut sampai sekarang. Kini sumber air itu menjadi sebuah danau yang di batasi oleh sebuah bukit di sebelah selatannya. Dan danau itu sekarang lebih di kenal oleh masyarakat dengan nama RANU GRATI Nama itu di ambil dari desa yang berada tepat di pinggir danau itu yaitu DESA RANU KLINDUNGAN .


sumber:http://www.pasuruankab.go.id/cerita-37-asal-mula-ranu-grati.html

Gajah Mada lahir di Pandaan (Yaitu anak dari Gajah Pagon. Cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan)

============
Sejarah  mencatat. Gajah Mada adalah Mahapatih Amangkubumi mumpuni dan berjasa besar pada Majapahit.  Bahkan, nama besar Gajah Mada, di beberapa daerah, lebih dikenal dari pada raja-raja Majapahit, termasuk Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara (1350 – 1359) sendiri. Karena jasanya,  Professor Muhammad Yamin menyebut Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara. Boleh jadi, konsep Negara Kepulauan Indonesia saat ini adalah visi dari Gajah Mada di tahun 1300 Masehi. Sekitar 7 abad lalu.

Dibalik ketenaran, keunggulan serta kecemerlangan di bidang ilmu politik pemerintahan, hukum serta  kanuragan, namun asal usul, jati diri dan  akhir hayat Gajah Mada masih menjadi teka teki. Gajah Mada muncul dalam sejarah saat menjadi Bekel (kepala)Bhayangkara , yaitu satuan pengawal raja Jayanegara. Gajah Mada mampu menyelamatkan raja ke Bedander karena ada pemberontakan yang dipimpin Kuti. Bahkan, dengan segala daya upaya dan kepiawaiannya, Gajah Mada mampu mengatasi pemberontakan dan mengembalikan Prabu Jayanegara ke dampar kencana tahta Majapahit. Menariknya, tidak mungkin bila Prabu Jayanegara mempercayakan keselamatannya kepada seorang “Gajah Mada” yang tidak diketahui asal usulnya! Ibaratnya, tidak mudah dan tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi bagian apalagi pimpinan Paspampres(Pasukan Pengamanan Presiden) bila tidak memiliki track record yang luar biasa dan istimewa.

Muhammad Yamin mengatakan Gajah Mada lahir di sebuah lembah di dekat sumber mata air Brantas. Di kaki Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Naskah Usana Jawa yang digubah di Bali menyebut bahwa tokoh sejarah kuno ini lahir di Bali. Menurut naskah ini Gajah Madalahir dengan cara “memancar” dari buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana. Jadi lahir tanpa ayah dan ibu. Lahir karena kehendak dewa-dewa (Yamin 1977: 13 dalam  Munandar 2010:1).

Babad Gajah Mada yang juga digubah di Bali menguraikan  Gajah Mada berasal dari pertapaan Lemah Tulis.  Ibunya Patni Nari Ratih yang bersuamikan Mpu Sura Darma Yogi, murid dari Mpu Raga Runting. Namun, Dewa Brahma terpesona dengan kecantikan Nari Ratih sehingga menanam benih dengan cara memaksanya. Akhirnya,  suami istri ini pergi meninggalkan wilayah Lemah Tulis. Mereka mengembara sampai berbulan-bulan dan tiba di kaki Gunung Semeru. Di Desa Mada lahirlah sang jabang bayi laki-laki yang akhirnya diasuh oleh kepala Desa Mada. Kedua orangtuanya melanjutkan bertapa di Gunung Plambang. Kelak si bayi akan menjadi orang besar yang dikenal di seantero Nusantara.

Viddy Al Mahfud Daeri, seorang budayawan berpendapat, bahwa Gajah Mada lahir di Desa Modo yang termasuk Kabupaten Lamongan. Buktinya, di tempat itu ada petilasan yang dipercaya sebagai tempat kelahiran sang Mahapatih Amangkubumi. Akhirnya, Pemda Lamongan pun giat menelusuri bukti-bukti sejarah yang ada.

Interpretasi terbaru: Gajah Mada lahir di Pandaan. Demikian ungkap Agus Aris Munandar. Doktor dan dosen Arkeologi FIB UI. Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. Cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan. Bila benar Pandakan yang sekarang, dulu berpangkal kepada Desa Pandakan si Macan Kuping, maka Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Berantas (Munandar 2010: 11).

Walau secara geografis Agus Aris Munandar tidak secara tepat menyebut Pandaan sebagai dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan di kaki gunung Welirang – Arjuno, pendapat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Apalagi interpretasi ini sangat dekat dengan perkiraan Yamin bahwa Gajah Mada lahir di kaki gunung Kawi dan Arjuno.

Berita Pararaton menyebutkan bahwa runtuhnya kraton Singosari adalah akibat seranganJayakatwang dari Gelang-gelang/ Kediri Awalnya Raden Wijaya, menantu Kertanegaradisertai dengan pengawal dan teman-teman setianya seperti Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi mencoba bertahan. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengungsi ke utara. Gajah Pagon yang telah bertempur hebat melawan tentara Kediriterkena tombak di pahanya.

Pararaton secara lugas dan panjang lebar menulis perjalanan Raden Wijaya yang mengungsi ke arah utara akhirnya tiba di hutan kawasan Telaga Pager. Diputuskan kemudian Raden Wijaya harus menuju Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja. Akhirnya, dengan susah payah rombongan Raden Wijaya tiba di desa Pandakan dan diterima oleh kepala desa bernama Macan Kuping. Raden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka ternyata isinya tak lain nasi putih.
Lebih jauh Pararaton menyatakan: :
Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: “Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal disini”.
Berkatalah orang Pandakan: “Hal itu akan membuat buruk tuanku, jika Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan. Seyogyanya dia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, ditengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi tak  ada yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari”

Dari berita ini, dapat ditafsirkan keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan. Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri dan Wijaya menjadi raja. Saat itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas.Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan.  (Munandar 2010: 11).

Tokoh yang menonjol di awal Majapahit, kala diperintah Raden Wijaya (Krtaraja Jayawardhana) yang menggunakan nama “Gajah” adalah Gajah Pagon. Sedangkan tokoh selanjutnya yang bernama “Gajah“ yang juga terkenal adalah Gajah Mada, di jaman pemerintahan Jayanegara. Nama “Gajah “ sesungguhnya berarti pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah yang akan menghalau semua penghalang! Jadi dapat diperkirakan bahwa Gajah Mada sejatinya adalah anak dari Gajah Pagon, salah seorang perwira dan pahlawan Majapahit yang terluka di Pandakan. Gajah Mada lahir dari hasil perkawinan Gajah Pagon dan putri Macan Kuping.Kedua “Gajah” ini  punya nama dan sifat yang hampir identik.

Maka, mudahlah menerima alasan bila Prabu Jayanegara memilih anak muda bernama Gajah Mada untuk menjadi Bekel (Kepala) Bhayangkara, pasukan pengawal raja, karena Gajah Mada memang memiliki track record yang istimewa. Ayah Gajah Mada adalah perwira pilih tanding, setia kepada Raden Wijaya, tidak terlibat dalam berbagai kerusuhan yang muncul saat awal Majapahit berdiri karena ketidak puasan pembagian jabatan atau daerah. Gajah Mada sendiri adalah prajurit  unggul baik secara lahir maupun batin karena gemblengan yang diperolehnya dari ayah dan tokoh-tokoh lainnya kala itu.

Bila Gajah Mada unggul dalam olah lahir dan olah batin hal tersebut dapat dengan mudah dipahami. Pandakan adalah termasuk lereng timur Gunung Penanggungan yang dulu disebut Pawitra. Gunung Penanggungan saat itu merupakan  kiblat bagi masyarakat Majapahit. Di gunung suci inilah banyak terdapat mandala-mandala dan ke-resi-an tempat menggembleng berbagai macam ilmu. Baik ilmu ajaran keagamaan. yoga, mitologi, serta ilmu duniawi seperti ilmu pemerintahan, hukum, politik kerajaan, strategi perang dan mungkin juga dasar geografi Nusantara (Munandar 2010: 15). Tak heran, bila akhirnya,Gajah Mada menjadi tokoh Majapahit yang mumpuni dan memiliki visi jauh ke depan.

Masih ada pertanyaan. Dimanakah letak Telaga Pager? Benarkah Pandakan jaman dahulu sama dengan Pandaan sekarang? Hasil penelusuran Hadi Sidomulyo terhadap beritaNegarakertagama, Telaga Pager terdiri dari dua nama, Pager dan  Telaga. Desa Pager 2 km di utara Damar (termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari). Sedangkan Telagamerupakan nama lama dusun Kucur (Sumberejo) yang letaknya 3 Km di barat daya Pager.Ini jelas tidak bertentangan  dengan berita Pararaton, yang menyatakan dari Telaga Pager,Raden Wijaya menuju Pandakan sebelum ke Rembang lalu menyeberang ke Madura.

Nama Pandakan juga muncul dalam kitab Negarakertagama yang selesai ditulis tahun 1365. “ rahina muwah ri tambak i rabut wayuha balanak linakwan alaris anuju ri pandhakan ri bhanaragi amgil…. (Pada hari berikutnya ia melalui Tambak, Rabut Wayuhadan Balanak menuju Pandhakan dan Bhanaragi…) (Sidomulyo 2007: 84).

Tambak adalah dusun di Desa Lemahbang, 14 km dari Purwosari,  Rabut Wayuha tak lain daripada Suwayuwo, 2 km di utara Lemahbang. Balanak dan Bhanaragi tak dikenal lagi. Dari urutan nama tempat itu jelas, Pandhakan tentu saja adalah Pandaan sekarang.

Pandhakan jaman dulu adalah identik dengan Pandaan sekarang juga didukung uraian Piagam Kudadu bertahun 1294, dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawardana berdasarkan pengalamannya saat mengungsi ke Madura. Prasasti Kudadu yang berasal dari Gunung Buthak, Trawas Mojokerto menceritakan terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua dusun Kudadu yang pernah menerimanya dengan ramah waktu singgah dalam perjalanan ke Madura. Saat mengungsi Raden Wijaya dalam masalah besar. Namun ketua dusun Kudadumenerimanya dengan ramah dan memberinya makan dan minum. Kemudian mengantarnya ke Rembang untuk melanjutkan menyeberang ke Madura.  Demikianlah dapat disimpulkan, nama Kudadu sebenarnya identik dengan Pandak /Pandhakan atau Pandaan sekarang.

Multi Tafsirnya Sumpah Palapa??

=========

Sumpah Palapa yang diucapkan lantang oleh Gajah Mada berabad lalu masih belum bisa ditafsirkan dengan pas hingga sekarang. Apakah 'Palapa' mengartikan kelapa, atau mungkin buah palapa yang tidak ketahuan bentuknya?

“Sira Gadjah Mada paptih amangkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gadjah Mada: Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa." (Gajah Mada, Padmapuspita, 1966:38).
Arti bebas :  Gadjah Mada sang Mahapatih tak akan menikmati palapa, berkata Gadjah Mada, “selama aku belum menyatukan nusantara, aku takkan menikmati palapa, sebelum aku menaklukan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pahang, Dompu, Pulau Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik, aku takkan mencicipi palapa

Demikian sumpah lantang sang patih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada, menurut kitab Pararaton. Ikrar terucap karena kuatnya keinginan Gajah Mada untuk membendung pengaruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara di Kepulauan Nusantara. Nusantara harusnya berada di bawah kuasa kerajaan yang ada di dalamnya. Bukan dikuasai kerajaan lain yang ada di daratan Asia Tenggara.

Dikutip dari Kompas dan National Geographic, banyak ahli sejarah dan budaya yang menafsirkan sumpah sang patih dengan cara berbeda. Misalnya, M.Yamin menafsirkanpalapa berarti Gajah Mada akan pantang bersenang-senang sebelum janjinya terucap.

Sedangkan Slamet Muljana, profesor yang ternama dengan Tafsir Sejarah Nagarakretagama yang kerap jadi referensi mengenai perjalanan Majapahit, menyebut bahwa amukti palapa artinya bebas tugas atau cuti.

Tafsiran lain datang dari pakar bahasa Jawa Kuno, P.J Zoetmulder, yang coba mengupasnya dari muasal arti amukti dan palapa. Menurutnya, amukti palapa diartikan "(mendapat) kesenangan yang tiada berakhir."

"Gajah Mada akan mendapat kesenangan yang tiada taranya jika saja seluruh wilayah Nusantara yang disebutkan dalam sumpahnya itu dapat mengakui kekuasaan Majapahit," papar Zoetmulder.

Dosen Arkeologi FIB UI Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik, menyebut bahwa ada sebagian kalangan yang mengartikan amukti palapa dengan "memakan buah kepala," atau "memakan buah palapa."

"Namun, jika buah kepala memang jelas maksudnya, ada buah yang dinamakan kelapa. Namun, 'buah palapa' sampai sekarang belum ada yang mengetahui bentuk apalagi rasanya," tulis Agus.

Kesimpulannya adalah multitafsir. Memang susah memaknai isi pararaton seperti disebut di atas.

Gajah Mada sendiri adalah salah tokoh besar di jaman Majapahit. Uniknya, tidak ada literatur maupun prasasti yang menyebutkan kapan majapahit lahir tapi menurut Pararton , ia memulai karirnya di Majapahit sebagai Komandan Bhayanngkara, sebuah satuan pasukan elit kerajaan. kareana berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara saat pemberontakan Ra Kunti sekitar tahun 1309-1328 M ia diangkat sebagi patih Kahuripan.

Dua tahun kemudian menjadi Patih Kediri. tahun 1329 Masehi, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah atau lebih terkenal dengan sebutan Empu Krewes mengundurkan diri sebagai Patih dan menunjuk Gadjah Mada sebagai Patih. 
Namun, Gadjah Mada tidak serta merta begitu saja menerima jabatan itu. Dia justru bersedia menjadi patih setelah menaklukan keta dan sadeng (pembrontak). Akhirnya setelah berhasil memadamkan api pembrontakan pada tahun 1334 Tribhuwana Tunggadewi mengangkat Gadjah Mada sebagai patih.

Tafsir Sumpah Palapa Gajah Mada

============

Memaknai Sumpah Palapa Gajah Mada

Serat Pararaton yang memuat naskah Sumpah Palapa sebenarnya tak secara eksplisit menyebutkan teks itu sebagai sebuah sumpah dan tak ada satu pun kata dalam sarat tersebut yang mencantumkan kata sumpah di dalamnya, tapi bila dilihat dari makna teks yang terkandung di dalamnya jika dihubungkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang arti sumpah (halaman 973) yang berbunyi sumpah adalah : (1) pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dsb.); (2) pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar; (3) janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu), maka teks mengenai ucapan Gajah Mada yang terdapat dalam Serat Pararaton yang berbunyi :
Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring ahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Terjemahannya adalah : 
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa (nya). Beliau Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru) melepaskan puasa, jika (berhasil) mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru) melepaskan puasa (saya)”. 
Itu jelas sekali sebagai sebuah sumpah setidaknya jika parameter yang digunakan adalah buku Kamus Besar Bahasa Indonesia di atas. Maka jelaslah sekarang jika teks dalam Serat Pararaton itu bisa dikategorikan sebagai sebuah sumpah karena ketiga pengertian tersebut di atas, baik secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan dapat dipakai dalam konteks pengertian Sumpah.
Sebuah ungkapan apalagi sebuah sumpah kalau dikaji benar-benar menawarkan bentuk, isi, nilai, ideologi, dan enerji. Dari sisi bentuk Sumpah Palapa adalah prosa. Sedangkan isinya mengandung pernyataan suci kepada Tuhan Yang Maha Esa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan ratu Majapahit Tribuwana Tunggadewi dengan disaksikan oleh para menteri dan pejabat-pejabat lainnya, yang substansinya Gajah Mada baru mau melepaskan (menghentikan) puasanya apabila telah terkuasai Nusantara. Sayangnya tidak diterangkan di dalam teks tersebut tentang jenis puasa dan berapa lama pelaksanaan puasanya itu (keterangan tentang terjemahan amukti palapa,lihat Budya Pradipta, 2003).
Dari sisi nilai Sumpah Palapa mengandung pelbagai nilai : nilai kesatuan dan persatuan wilayah Nusantara, nilai historis, nilai keberanian, nilai percaya diri, nilai rasa memiliki kerajaan Majapahit yang besar dan ber-wibawa, nilai geopolitik, nilai sosial budaya, nilai filsafat, dsb.
Dari sisi ideologi, Sumpah Palapa yang juga dikenal sebagai Sumpah Gajah Mada atau Sumpah Nusantara. Sumpah Palapa memiliki ideologi kebineka tunggal ikaan, artinya menuju pada ketunggalan keyakinan, ketunggalan ide, ketunggalan senasib dan sepenanggungan, dan ketunggalan iedeologi akan tetapi tetap diberi ruang gerak kemerdekaan budaya bagi wilayah-wilayah negeri se Nusantara dalam mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraannya masing-masing. 
Dari sisi enerji Sumpah Palapa dianugerahi enerji Ketuhanan Yang Maha Dasyat karena tanpa enerji tersebut tak mungkin Gajah Mada berani mencanangkan sumpah tersebut. Sumpah Palapa akan menjadi sangat menarik lagi apabila dikaji dengan pendekatan komunikasi. Pertanyaan-pertanyaan seperti : Kepada siapa Sumpah Palapa diucapkan, dalam lingkungan apa (situasi, kondisi, iklim, dan suasana) Sumpah Palapa dicanangkan, dengan sasaran apa dan siapa Sumpah Palapa dideklarasikan, mengapa atau apa perlunya Gajah Mada mengumumkan Sumpah Palapa, dan manfaat apa yang mau dicapai adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara seksama. Betapapun Sumpah Gajah Mada itu kontekstual. Tidak semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan di jawab di sini, namun pertanyaan manfaat apa yang mau dicapai, kiranya perlu dijawab sekarang dengan lebih cermat. 
Menurut pemahaman saya Gajah Mada mempunyai kesadaran penuh tentang kenegaraan dan batas-batas wilayah kerajaan Majapahit, mengingat Nusantara berada sebagai negara kepulauan yang diapit oleh dua samudra besar yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, di samping diapit-apit oleh lautan Cina Selatan dan Lautan Indonesia (Segoro Kidul). Dari kesadaran yang tinggi terhadap keberadaan Nusantara, Gajah Mada meletakkan dasar-dasar negara yang kokoh, sebagaimana terungkap dalam perundang-undangan Majapahit (Slamet Mulyana, 1965 : 56 - 70; 1979 : 182 - 213). 
Uraian singkat tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa kerajaan Majapahit khususnya ketika berada dalam penguasaan Gajah Mada telah berorientasi jauh ke depan, kalau istilah sekarang mempersiapkan diri sebagai negara yang modern, kuat, dan tangguh.
Dari beberapa pengertian diatas maka tak berlebihan kiranya jika sumpah / amukti palapa itu memiliki dimensi spiritual artinya tidak main-main. Oleh sebab itu tidak berlebihan, apabila dikatakan bahwa Sumpah Palapa itu sakral.

Menelusuri Sejarah Syeikh Washil Kediri

=============

Menelusuri Sejarah Syech Wasil Kediri


Menelusuri Sejarah Syech Wasil, Ulama Besar Abad Ke-12
SIAPAKAH Syech Sulaiman Al-Wasil Syamsudin alias Mbah Wasil? Pertanyaan ini mengemuka dalam dialog menelusuri ketokohan Mbah Wasil, di Kompleks Makam Setonogedong, Kota Kediri, Minggu (30/6). Hingga kini, siapa Mbah Wasil yang makamnya ada di Setonogedong, masih menjadi tanda tanya besar. Yang pasti, Syech Wasil adalah seorang ulama besar yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Jawa Timur (Jatim), sekitar abad ke-12.Itu terbukti dari banyaknya umat Islam yang berziarah ke makamnya, setiap Kamis malam. Tak hanya warga Kediri. Warga luar kota pun banyak yang datang ke makam Sulai-man Al-Wasil. Kesibukan pada malam Jumat itu dapat dijumpai dengan mudah di Kompleks Makam Setonogedong, di Desa Setonogedong, Kecamatan Kota, Kota Kediri.

Digelarnya dialog itu merupakan rangkaian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri dalam menelusuri sejumlah situs sejarah. Selain makam Mbah Wasil, dua situs yang tengah ditelusuri dan nantinya akan dilestarikan adalah situs penerbitan kuno Boekhandel Tan Khoen Swie, dan tokoh kejawen tempo dulu Pontjo Legowo.
Kesimpulan bahwa Syech Wasil adalah ulama atau imam besar pada sekitar abad ke-12 merupakan kesimpulan se-mentara Prof Dr Habib Mustopho, yang menjadi salah satu pembicara dalam dialog tersebut. Menurut Habib Mustopho yang juga Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang, kesimpulan sementara tentang Syech Wasil merupakan hasil penelitian berbasis data historis dan arkeologis. "Beliau imam atau ulama besar, yang berjasa mengajarkan agama Islam di Kediri," katanya.
Kesimpulan itu antara lain diperoleh dari adanya prasasti berhuruf Jawa Kuno-biasa juga disebut epigraf-yang terdapat di makam Mbah Wasil. Sayang sekali, bagian terakhir dari kalimat prasasti itu sudah terhapus oleh ulah tangan-tangan jahil. Akibatnya, kalimat pada sekian baris terakhir yang di antaranya menyebut tanggal dan tahun kematian, tak terbaca.
Namun, lanjut Habib, pembacaan prasasti penting itu dapat dilakukan melalui gaya bahasa Jawa Kuno dari kalimat di prasasti. "Dari penelitian yang saya lakukan, ini sesuai gaya abad ke-12. Sekaligus juga menunjukkan bahwa di Ke-diri pada saat itu sudah ada pe-nyebaran Islam," ujarnya.

***

KOMPLEKS Makam Setonogedong berada di sebuah gang yang merupakan salah satu cabang dari Jalan Dhoho, salah satu jalan tersibuk di Kota Kediri. Makam Mbah Wasil berada satu kompleks dengan puluhan makam lainnya. Hanya saja letaknya tersendiri, yakni di sudut baratlaut.
Siapa nama asli Mbah Wasil juga masih menjadi kajian. Nama Sulaiman Al-Wasil Syamsudin diduga merupakan nama panggilan yang berasal dari kesepakatan masyarakat.
Nama Al-Wasil yang berarti pengajar atau guru, diduga berasal dari sebutan masyarakat. Kata "Al-Wasil" terdapat dalam epigraf di makam tokoh tersebut. Sebutan-sebutan semacam ini juga banyak tertulis di makam-makam tokoh Islam zaman dulu, seperti makam Maulana Malik Ibrahim.
Nama Sulaiman, masih menurut Habib Mustopho, justru tidak ada dalam sejumlah referensi yang dia temukan. Sedangkan nama Syamsudin tercantum dalam sebuah sumber tertulis yang disimpan di Museum Pusat Jakarta.
Usai diterjemahkan, sumber tertulis itu menyatakan, "... raja pendeta dari Ngerum bernama Maulana Ali Syamsudin, datang ke Joyoboyo untuk membicarakan kitab musyarar.." Kitab musyarar adalah buku tentang ramalan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang.
Informasi menjadi makin menarik ketika dari teks itu juga diketahui bahwa Maulana Ali Syamsudin membahas kitab musyarar atas permintaan Joyoboyo. Setelah membahas kitab, Maulana mukswa, atau tiba-tiba hilang tanpa bekas.
Djauhari Luthfi dari Tim Penelusuran Sejarah Mbah Wasil menambahkan, teks tentang permintaan Joyoboyo terhadap Maulana Ali Syamsudin juga disinggung dalam buku Serat Parmonosidhi. Buku tersebut adalah salah satu buku terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie.

***

MAKAM Mbah Wasil berada di belakang Masjid Auliya. Tepat di belakang masjid itu terdapat sebuah pelataran luas sekitar 225 meter persegi. Pelataran seluas itu sampai sekarang masih jadi kontroversi. Sebagian orang menyebut itu bekas masjid, sebagian lainnya menyatakan itu candi.
Ciri-ciri candi antara lain terlihat dari banyaknya penemuan arca berbentuk Ganesha di sekitar pelataran, serta relief batu bergambar bunga teratai dan burung garuda. Bentuk-bentuk tersebut dikenal sebagai simbol-simbol penting agama Hindu.
Sementara ciri masjid, lanjut Djauhari, terlihat dari adanya tempat imam di sisi barat pelataran, dan sumur untuk pengadaan air wudu. Kontroversi ini juga belum berakhir, karena masih minimnya referensi yang ada.
Namun, terkait dengan masalah ini Habib Mustopho berkeyakinan bahwa pelataran itu dulunya memang candi. "Tetapi, ketika Islam ganti berkuasa, tempat ini diubah peruntukannya menjadi masjid. Perubah-an ini wajar seiring dengan perubahan zaman. Di luar negeri kan banyak masjid yang kini jadi gereja, dan yang dulu gereja sekarang jadi masjid," tambahnya.
Bangunan penting lain, tentunya makam Mbah Wasil yang panjangnya sekitar 4,5 meter. Sekarang makam tersebut sedang dalam perbaikan. Minggu siang itu tampak ratusan umat yang bergantian berziarah di makam yang ditutup kain putih tersebut.
Pemuliaan terhadap tokoh, terutama tokoh penyebar agama, rasanya wajar-wajar saja. Asalkan, tutur Habib, jangan sampai saking bersemangatnya memuliakan tokoh, justru merusak situs aslinya. Kasus hilangnya deret terakhir kalimat prasasti di makam Mbah Wasil patut menjadi pelajaran.
Kebiasaan para peziarah untuk datang berbondong-bondong dalam jumlah besar banyak menimbulkan dampak negatif. "Makin banyak orang yang menyentuh makam dan ornamen-ornamennya, kemungkinan rusaknya makam tentu bertambah besar," ujar Habib Mustopho.
Renovasi makam, seperti yang sedang dilakukan saat ini, jika tak hati-hati, juga bisa berdampak pada hilangnya ornamen penting. Maksudnya hendak memperbaiki, tetapi ternyata malah mengganti semua unsur lama dengan yang baru, sehingga menyesatkan generasi mendatang.
Oleh karena itu, tidak salah jika Indah Kristina dari Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur mengingatkan Pemkot Kediri yang tidak berkoordinasi saat akan merenovasi makam Syech Wasil. "Kami khawatir ciri penting makam diganti baru, sehingga menghilangkan data otentik situs," kata Indah.

sumber:http://adipatipanjer.blogspot.com/2012/06/menelusuri-sejarah-syech-wasil-kediri.html

Siapa Mbah Wasil Kediri??

=============

Mbah Wasil Kediri, siapa dia?

A. Syekh Wasil
Ada dua sumber yang dapat digunakan untuk menelusuri siapa Sulaiman Al-Wasil Syamsudin atau Syekh Wasil alis Mbah Wasil.
Syekh Wasil alias Mbah Wasil, sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli dimungkinkan adalah seorang ulama besar dari Persia (Ngerum) yang datang ke Kediri untuk membahas kitab musyarar atas undangan dari Raja Jayabaya. Tokoh inilah yang kemudian berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Kediri. Sebagai seorang ulama besar atau tokoh penting yang berjasa mengembangkan Islam di Kediri maka wajar jika setelah meninggal beliau mendapat penghormatan yang tinggi dari masyarakat. Kompleks bangunan makam Setono Gedong merupakan salah satu wujud penghormatan yang diberikan oleh masyarakat terhadap jasa beliau dalam mengembangkan agama Islam di Kediri.
Berkaitan dengan pendapat di atas, terdapat beberapa kelemahan, pertama kedatangan Maulana Ali Syamsuddin di Kediri pada masa pemerintahan raja Jayabaya, yaitu pada abad XII M. Pada masa ini kebudayaan Hindu-Budha khususnya di Kediri sedang mencapai puncak kejayaan sehingga mustahil jika Islam sudah mendapatkan tempat, baik secara cultural maupun secara politis di masyarakat Kediri pada waktu itu. Kedua, kemiripan nama antara Maulana Ali Syamsuddin dengan Sulaiman Al-Wasil Syamsudin belum dapat digunakan sebagai bukti bahwa dua nama itu mengarah pada satu orang yang sekarang makamnya ada di kompleks bangunan makam Setono Gedong jika tidak didukung oleh data-data atau bukti yang valid. Ketiga, berdasarkan pada bukti-bukti arkeologis, khususnya berdasarkan hasil komparasi terhadap arsitektur dan ornamentasi maka lebih tepat jika kompleks makam Setono Gedong dibangun sekitar abad XVI M. Oleh karena itu penelusuran sejarah Syekh Wasil atau Mbah Wasil sebaiknya mengarah pada tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Kediri pada masa itu.
Jika pendapat itu benar, lalu siapakah Syekh Wasil atau Mbah Wasil itu? Syekh Wasil atau Mbah Wasil adalah tokoh penyebar agama Islam di Kediri yang hidup sejaman dengan para Wali Songo. Tokoh ini dimungkinkan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan seorang wali, yaitu Sunan Drajat yang merupakan putra kedua dari Sunan Ampel. Pendapat ini didasari oleh dua indikasi, pertama adanya kesamaan arsitektur bangunan dan ornamentasi yang terdapat di kompleks bangunan makam Setono Gedong dengan kompleks bangunan makam Sunan Drajad di Lamongan. Kedua, Istri Sunan Drajat adalah Retno Ayu Condro Sekar, seorang Putri Adipati Kediri yang bernama Suryo Adilogo.
Namun demikian untuk dapat memastikan apakah Syekh Wasil atau Mbah Wasil itu adalah Adipati Suryo Adilogo, mertua dari Sunan Drajat, memang masih memerlukan kajian secara intensif dan sistematis.
B. Masjid Setono Gedong
Bekas bangunan yang terdapat di belakang masjid Setono Gedong sekarang adalah bekas bangunan masjid bukan bekas bangunan candi. Terdapat beberapa indikasi bahwa reruntuhan bangunan tersebut merupakan bekas bangunan masjid.
Pertama, pola denah bangunan lebih mengarah pada bangunan masjid. Sebagaimana pola denah bangunan masjid kuna di Indonesia, pada bekas bangunan tersebut pola denahnya bujur sangkar, dengan tambahan serambi di depan dan satu ruangan khusus di depan yang disebut dengan mihrab. Jika bekas bangunan ini merupakan bangunan candi maka akan muncul pertanyaan apa fungsi tambahan bangunan yang terdapat di depan bangunan utama.
Kedua, bentuk pagar keliling bangunan merupakan ciri khas bangunan-bangunan masjid atau makam kuna di Indonesia. Jika diperhatikan secara cermat maka bentuk pagar keliling menyerupai bentuk pagar yang ada di makam Sendang Duwur, makam Sunan Drajat, atau makam Sunan Giri.
Ketiga, letak dan jumlah pintu masuk. Pada pagar keliling bekas bangunan masjid Setono Gedong terdapat tiga pintu masuk yaitu di bagian depan (timur), samping kanan (selatan) dan samping kiri (utara). Jika bekas bangunan ini merupakan bangunan candi, biasanya pintu masuk itu hanya satu dan harusnya berada di bagian barat.
Keempat, bahan bangunan pagar keliling yang terbuat dari batu kapur. Penggunaan batu kapur sebagai bahan pembuatan pagar keliling sebab batu kapur yang berwarna putih itu merupakan lambang kesucian dalam agama Islam. Jika bekas bangunan ini merupakan bangunan candi, mengapa bahan pembuatan pagar keliling bukan batu bata atau batu andhesit yang banyak terdapat di wilayah Kediri sementara batu kapur harus didatangkan dari tempat yang jauh dari Kediri. 

sumber:http://imamlirboyo.blogdetik.com/2009/10/23/mbah-wasil-kediri-siapa-dia/

Situs Setono Gedong Kediri

=============
Situs Setono Gedong Kediri
Situs Setono Gedong Kediri
Situs Setono Gedong lokasinya berada di belakang Masjid Aulia Setono Gedong, dicapai melalui sebuah gang yang cukup besar di Jl. Doho, Kediri, yang letak dan arahnya berseberangan dengan jalan simpang yang menuju ke arah Stasiun Kereta Api Kediri. Di dekat situs ini juga terdapat kompleks makam keramat yang banyak dikunjungi peziarah.
Sebelum masuk ke kompleks Masjid Setono Gedong, terdapat sebuah gapura yang tidak begitu tinggi namun sangat tebal dindingnya, yang konon sebelumnya merupakan gapura sebuah candi. Sebuah sumber mengatakan bahwa beberapa pihak telah berupaya untuk mempertahankan gapura itu, namun sayang tidak berhasil. Masih beruntung bahwa gapura candi itu tidak dihancurkan, namun hanya dilapis semen sehingga bentuknya pun berubah seperti sekarang ini.
Situs Setono Gedong Kediri
Susunan batu yang ditata berjajar membentuk undakan menuju bangunan pendopo bergaya joglo, yang berukuran besar di sebelah kanan, dan yang berukuran kecil berada di sebelah kiri. Kedua bangunan itu tampaknya belum terlalu lama didirikan.
Situs Setono Gedong Kediri
Susunan batu di bagian bawah yang berwarna kekuningan adalah masih asli, yang menurut sebuah sumber merupakan pondasi sebuah candi dari jaman Kerajaan Kediri, sedangkan yang dibagian atasnya merupakan susunan batu yang ditata kemudian.
Konon di atas pondasi candi itu sempat akan dibangun sebuah masjid oleh para wali. Namun karena alasan yang tidak diketahui, pembangunan masjid itu tidak jadi dilaksanakan. Materialnya konon kemudian digunakan untuk membantu menyelesaikan pembangunan Masjid Demak di Demak, dan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon.
Area di atas pondasi itu sempat difungsikan sebagai sarana prasarana ibadah, dan tempat pertemuan para wali. Menurut cerita, wilayah Kediri dibagai dalam 2 kelompok oleh para wali. Di Barat sungai di pimpin oleh Sunan Bonang, sedangkan di sebelah Timur sungai dipimpin oleh Sunan Kali Jogo, yang di dalamnya termasuk mbah Wasil yang berasal dari Istambul. Kediri adalah salah satu daerah yang paling akhir di-Islam-kan oleh para wali.
Situs Setono Gedong Kediri
Relief Burung Garuda di Situs Setono Gedong, yang dipahat pada sisi sebuah batu persegi yang bagian atasnya berbentuk bunga teratai yang bulat dan gemuk di tengah berhias garis-garis lengkung, dengan bagian atas rata. Batu di Situs Setono Gedong ini di simpan di bawah bangunan joglo kecil yang berada di sebelah kiri.
Situs Setono Gedong Kediri
Sebuah lingga yang diletakkan di sisi sebelah kanan batu berelief Garuda. Seperti tampak pada foto, bahwa di sisi batu yang berada di belakang lingga ini juga terdapat relief Garuda dengan sayap mengembang, berbeda bentuknya dengan relief garuda pada sisi sebelumnya.
Situs Setono Gedong Kediri
Relief Garuda itu ternyata dipahat pada keempat sisi batu di Situs Setono Gedong ini. Dalam kepercayaan Hindu, Garuda adalah burung yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu.
Situs Setono Gedong Kediri
Tumpukan batu-batu berukir, yang diletakkan pada salah satu sisi di kompleks Situs Setono Gedong ini. Jika diperhatikan, batu yang menumpang pada sebelah kiri atas batu yang memanjang, memiliki ukiran relief manusia yang tengah duduk bersila, dengan jari-jari tangan menangkup, sebatas dada, tanpa kepala. Sebuah relief yang lazim dijumpai pada candi.
Situs Setono Gedong Kediri
Sebuah bentuk batu di Situs Setono Gedong yang menyerupai sebuah mangkuk besar yang rata permukaannya, diletakkan di atas sebuah umpak yang ornamennya sudah tidak begitu kentara lagi.
Situs Setono Gedong Kediri
Bangunan pendopo tanpa dinding, dengan atap bersusun tiga, yang disangga lima baris pilar kayu yang masing-masing berjumlah enam buah. Sebelum dibangun pendopo, area ini sempat tidak terurus dan ditumbuhi alang-alang yang tinggi.
Situs Setono Gedong Kediri
Sebuah sumur tua yang letaknya berdekatan dengan situs Situs Setono Gedong, yang mengingatkan saya pada Sendang Tirta Kamandanu.
Situs Setono Gedong merupakan sebuah situs yang sangat menarik buat saya, meskipun masih menyimpan banyak misteri. Tidak ada prasasti bertulis yang ditemukan di sekitar Situs Setono Gedong ini yang bisa mengungkap riwayat situs ini. Hanya ada relief Garuda dan serakan sisa-sisa batu candi, serta cerita-cerita yang memberi gambaran samar mengenai riwayat Situs Setono Gedong di Kediri ini.

Situs Setono Gedong

Belakang Masjid Setono Gedang,
Jl. Doho, Kediri, Jawa Timur
GPS: -7.816378,112.011796

sumber:http://thearoengbinangproject.com/situs-setono-gedong-kediri/