Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa:
''satu batang kayu kecil yg tdk seberapa harganya. ''ASSIWAK MUTHAHHARATUN LILFAMI MARDHAATUN LIRRAB''
Siwak adlh pensuci mulut kita dan pembawa keridhoaan bagi Allah swt.
Al Imam Ibn Hajjar Asqalaniy dlm kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Al Bukhari mnjelaskan bahwa Rasul saw berkali-kali,belasan bahkan puluhan bahkan ratusan riwayat yg menyebutkan ttg kemuliaan siwak.
Di dlm hadits lainnya riwayat shahih bukhari Rasul saw bersabda : ''Lawla an asyuqqa alaa ummatiy laamartuhum bissiwaki ma'a kulli sholatin''
''Kalau tdk karena risau akan memberatkan ummatku niscaya kuwajibkan siwak itu pd setiap akan melakukan shalat''
ADA APA DI BELAKANG SIWAK ??
Di dlm riwayat shahih bukhari lainnya Rasul saw bersabda : ''Aktsartu'alaikum fissiwak''
Aku sarankan dan aku himbau kalian dgn memperbanyak bersiwak.
Di dlm riwayat yg tsigah lainnya Rasul saw bersabda :
''sholat bissiwak tafdhulu min sab'iin sholat bilaa siwak''
shalat dgn memakai siwak pahalanya 70x lbh besar dr shalat tanpa memakai siwak.
ADA APA dgn 1 batang kayu yg terbuat dr pohon siwak ini ?? Ketika Rasul saw berkata ''muthahharatun lilfam'' pembersih mulut. Kita b'kata kalau pembersih mulut pasta gigi zaman skrg bisa lbh membersihkan mulut.tp kita bertanya maksudnya. Maksudnya ini membersihkan mulut yg bagaimana ? Jawabannya adlh membersihkan mulut dari dosa-dosa. Adakah 1000 pasta gigi di muka bumi ini bisa mensucikannya ?
Siwak membersihkan kotoran ''dosa'' yg ada di mulut kita. Mana buktinya ?? Kalimat selanjutnya ''mardhaatun lirrab'' membawa keridho'an bg Allah swt. Jadi memakai siwak itu membuka keridho'an Allah swt
Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Sabtu, 03 Juni 2017
Siwakan Sebagai Pencuci Mulut dan Keridloan Alloh SWT
Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa:
''satu batang kayu kecil yg tdk seberapa harganya. ''ASSIWAK MUTHAHHARATUN LILFAMI MARDHAATUN LIRRAB''
Siwak adlh pensuci mulut kita dan pembawa keridhoaan bagi Allah swt.
Al Imam Ibn Hajjar Asqalaniy dlm kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Al Bukhari mnjelaskan bahwa Rasul saw berkali-kali,belasan bahkan puluhan bahkan ratusan riwayat yg menyebutkan ttg kemuliaan siwak.
Di dlm hadits lainnya riwayat shahih bukhari Rasul saw bersabda : ''Lawla an asyuqqa alaa ummatiy laamartuhum bissiwaki ma'a kulli sholatin''
''Kalau tdk karena risau akan memberatkan ummatku niscaya kuwajibkan siwak itu pd setiap akan melakukan shalat''
ADA APA DI BELAKANG SIWAK ??
Di dlm riwayat shahih bukhari lainnya Rasul saw bersabda : ''Aktsartu'alaikum fissiwak''
Aku sarankan dan aku himbau kalian dgn memperbanyak bersiwak.
Di dlm riwayat yg tsigah lainnya Rasul saw bersabda :
''sholat bissiwak tafdhulu min sab'iin sholat bilaa siwak''
shalat dgn memakai siwak pahalanya 70x lbh besar dr shalat tanpa memakai siwak.
ADA APA dgn 1 batang kayu yg terbuat dr pohon siwak ini ?? Ketika Rasul saw berkata ''muthahharatun lilfam'' pembersih mulut. Kita b'kata kalau pembersih mulut pasta gigi zaman skrg bisa lbh membersihkan mulut.tp kita bertanya maksudnya. Maksudnya ini membersihkan mulut yg bagaimana ? Jawabannya adlh membersihkan mulut dari dosa-dosa. Adakah 1000 pasta gigi di muka bumi ini bisa mensucikannya ?
Siwak membersihkan kotoran ''dosa'' yg ada di mulut kita. Mana buktinya ?? Kalimat selanjutnya ''mardhaatun lirrab'' membawa keridho'an bg Allah swt. Jadi memakai siwak itu membuka keridho'an Allah swt
''satu batang kayu kecil yg tdk seberapa harganya. ''ASSIWAK MUTHAHHARATUN LILFAMI MARDHAATUN LIRRAB''
Siwak adlh pensuci mulut kita dan pembawa keridhoaan bagi Allah swt.
Al Imam Ibn Hajjar Asqalaniy dlm kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Al Bukhari mnjelaskan bahwa Rasul saw berkali-kali,belasan bahkan puluhan bahkan ratusan riwayat yg menyebutkan ttg kemuliaan siwak.
Di dlm hadits lainnya riwayat shahih bukhari Rasul saw bersabda : ''Lawla an asyuqqa alaa ummatiy laamartuhum bissiwaki ma'a kulli sholatin''
''Kalau tdk karena risau akan memberatkan ummatku niscaya kuwajibkan siwak itu pd setiap akan melakukan shalat''
ADA APA DI BELAKANG SIWAK ??
Di dlm riwayat shahih bukhari lainnya Rasul saw bersabda : ''Aktsartu'alaikum fissiwak''
Aku sarankan dan aku himbau kalian dgn memperbanyak bersiwak.
Di dlm riwayat yg tsigah lainnya Rasul saw bersabda :
''sholat bissiwak tafdhulu min sab'iin sholat bilaa siwak''
shalat dgn memakai siwak pahalanya 70x lbh besar dr shalat tanpa memakai siwak.
ADA APA dgn 1 batang kayu yg terbuat dr pohon siwak ini ?? Ketika Rasul saw berkata ''muthahharatun lilfam'' pembersih mulut. Kita b'kata kalau pembersih mulut pasta gigi zaman skrg bisa lbh membersihkan mulut.tp kita bertanya maksudnya. Maksudnya ini membersihkan mulut yg bagaimana ? Jawabannya adlh membersihkan mulut dari dosa-dosa. Adakah 1000 pasta gigi di muka bumi ini bisa mensucikannya ?
Siwak membersihkan kotoran ''dosa'' yg ada di mulut kita. Mana buktinya ?? Kalimat selanjutnya ''mardhaatun lirrab'' membawa keridho'an bg Allah swt. Jadi memakai siwak itu membuka keridho'an Allah swt
DAWUH MBAH MAIMOEN TENTANG LARANGAN MENGHINA ORANG MUNAFIQ BAHKAN IBLIS
DAWUH MBAH MAIMOEN TENTANG LARANGAN MENGHINA ORANG MUNAFIQ BAHKAN IBLIS
Romo KH. Maimoen Zubair pernah mengatakan begini; Hajjaj ats-Tsaqafi, siapa yang tidak kenal panglima perang Dinasti Bani Umayyah ini, panglima yang dikecam banyak sahabat dan tabi’in karena kekejamannya. Ketika bercerita tentang (diantara kekejaman) beliau, Mbah Mun dawuh: “Jangan (ikut-ikutan) menghina Hajjaj! Meskipun dia begitu, tapi kalau bukan karena jasanya tentu kita sekarang tidak bisa baca al-Quran, karena beliaulah yang mengeluarkan perintah memberi tanda baca al-Quran sehinga mudah dibaca”.
Abdullah bin Ubay bin Salul, siapa tidak tahu gembong orang munafiq ini, musuh dalam selimut kaum Muslim zaman Rasulullah Saw. Dia juga (diantara) orang Madinah yang menuduh Nabi Saw. tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang Hunain, kenapa hanya diberikan kepada kaum Muhajirin yang banyak kabur dari medan perang, sedangkan kaum Anshor yang mati-matian berjuang tidak diberi bagian. Tentang Abdullah bin Ubay ini, Mbah Mun pun dawuh: “Jangan menghina Abdullah bin Ubay! Karena, seandainya kita dalam posisinya waktu itu, belum tentu kita bersikap lebih baik darinya”.
Dan bahkan tentang Iblis sekalipun beliau berpesan sama, jangan menghina! Tidak ada seorang pun menghina sesuatu kecuali ia menganggap dirinya lebih baik, dan itu adalah 'kesombongan'. (Sumber: Muchammad Ibnu Muchammad).
Romo KH. Maimoen Zubair pernah mengatakan begini; Hajjaj ats-Tsaqafi, siapa yang tidak kenal panglima perang Dinasti Bani Umayyah ini, panglima yang dikecam banyak sahabat dan tabi’in karena kekejamannya. Ketika bercerita tentang (diantara kekejaman) beliau, Mbah Mun dawuh: “Jangan (ikut-ikutan) menghina Hajjaj! Meskipun dia begitu, tapi kalau bukan karena jasanya tentu kita sekarang tidak bisa baca al-Quran, karena beliaulah yang mengeluarkan perintah memberi tanda baca al-Quran sehinga mudah dibaca”.
Abdullah bin Ubay bin Salul, siapa tidak tahu gembong orang munafiq ini, musuh dalam selimut kaum Muslim zaman Rasulullah Saw. Dia juga (diantara) orang Madinah yang menuduh Nabi Saw. tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang Hunain, kenapa hanya diberikan kepada kaum Muhajirin yang banyak kabur dari medan perang, sedangkan kaum Anshor yang mati-matian berjuang tidak diberi bagian. Tentang Abdullah bin Ubay ini, Mbah Mun pun dawuh: “Jangan menghina Abdullah bin Ubay! Karena, seandainya kita dalam posisinya waktu itu, belum tentu kita bersikap lebih baik darinya”.
Dan bahkan tentang Iblis sekalipun beliau berpesan sama, jangan menghina! Tidak ada seorang pun menghina sesuatu kecuali ia menganggap dirinya lebih baik, dan itu adalah 'kesombongan'. (Sumber: Muchammad Ibnu Muchammad).
Jumat, 02 Juni 2017
Abuya Al-Sayyid Muhammad Bin Alawy Al-Maliky Wafat pada hari Jum'at, 15 Romadlon 1425 H.
*Abuyya As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani wafat pada hari Jum'at, 15 Ramadhan 1425 Hijriyah di Mekkah.*
=============
Beliau dimakamkan disebelah makam ayahnya dan Sayyidah Khadijah Al-Kubra...Kebiasaan beliau dibulan Ramadhan setelah shalat Tarawih selalu membaca Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra dan beliau pengarang Kitab Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra dengan judul Al-Bushra Fi Manaqib Al-Sayyidah Khadijah Al-Kubra (Kabar gembira tentang biografi Sayyidah Khadijah wanita yang agung).
Al Fatihah Ila Ruh Sayyidina Wa Imamina Al -Habib Al-Sayyid Muhammad Bin Alawy Al-Maliki...Wa iIa Ruuh Al-Sayyidah Wa Ummina Khadijah Al-Kubro Lahumul Fatihah...
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
==========
Detik-Detik Wafatnya Beliau:
a.Detik-detik Kewafatan Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki
Al-Habib Hamid bin Zaid pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Mustafa (Hadramaut Yaman) dan telah menikah dengan adik perempuan istri Sayyid Muhammad al-Maliki. Seminggu sebelum Ramadhan 1425 H, Habib Hamid menerima telepon dari Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekah dan memintanya supaya datang ke Mekah untuk umrah dan menemuinya. Habib Hamid memenuhi undangan tersebut dan bersama istrinya segera mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. Tiket dan visa sudah diurus oleh biro perjalanan yang ditunjuk Abuya (panggilan hormat untuk Sayyid Muhammad al-Maliki).
“Saya hanya mengurus paspor. Seluruh biaya juga ditanggung Abuya”, kata Habib Hamid.
Hari kedua Ramadhan, Sayyid Muhamad al-Maliki kembali meneleponnya. Beliau meminta Habib Hamid untuk segera terbang ke Mekah. “Kamu harus cepat menyelesaikan urusanmu, segeralah terbang ke Mekah”, pinta Sayyid Muhammad al-Maliki terkesan agak cemas.
Hari keempat Ramadhan, kembali beliau menelepon untuk memastikan Habib Hamid dan istrinya jadi berangkat. “Ketika itu Abuya bilang agar saya langsung saja terbang ke Madinah untuk berziarah ke Makam Rasulullah Saw. dan shalat di Masjid Nabawi. Sekali lagi, saat itu, beliau meminta agar secepatnya sampai di Mekah.”
Tepat pada 5 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid dan istri terbang menuju Madinah. Di bandar udara, dijemput oleh salah seorang murid Sayyid Muhammad al-Maliki dan membawanya ke hotel yang telah disediakan. Dua hari di Madinah, kemudian terbang ke Mekah. “Saya sampai di Mekah pada tanggal 8 Ramadhan dan langsung istirahat di hotel yang disediakan Abuya. Sorenya baru dijemput oleh Habib Isa bin Abdul Qadir, salah satu murid beliau untuk menemui orang yang paling saya kagumi, Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani. Sungguh tegang dan jantung berdetak lebih keras dari biasanya.”
Sore itu, seusai sholat Asar, Abuya menerima Habib Hamid di ruang kerjanya. “Beliau memelukku, mengucap selamat datang dan bertanya kabar teman dan muridnya di Indonesia, seperti Habib Abdurrahman Assegaf (Bukit Duri), Habib Abdullah al-Kaf (Tegal), KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan ulama lainnya. Saya jawab semua baik-baik saja. Setelah itu saya kembali ke hotel. Beliau pesan, agar nanti berbuka puasa bersama dengannya”, kenang Habib Hamid.
Ketika saat berbuka puasa hampir tiba, utusan Sayyid Muhammad al-Maliki menjemput Habib Hamid.“Hamid, apa yang kau bawa dari Indonesia?” Tanya Abuya tiba-tiba, saat Habib Hamid masuk ke ruang kerjanya.
“Saya membawa dodol durian kesukaan Abuya.” jawab Habib Hamid.
Wajah Sayyid Muhammad al-Maliki tampak gembira sekali. Beliau langsung membagikan oleh-oleh itu kepada teman-teman dan muridnya yang ada di situ. Beliau juga langsung mencicipinya saat buka puasa tiba.
“Ada titipan lagi buat saya?” tanya Abuya lagi.
“Ya, saya membawa buah mangga dan kelengkeng”
Dahi Abuya berkerut. “Kelengkeng? Buah apa itu?” tanya beliau.
Habib Hamid menjelaskan buah kelengkeng dan meminta beliau mencobanya. “Abuya tampak suka sekali buah itu, dan memakannya sampai menjelang shalat Isya.” Tutur Habib Hamid.
Malam itu, tepat malam tanggal 9 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid berkesempatan shalat Isya dan Tarawih berjamaah bersama Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu ikut berjamaah beberapa ulama dari Turki, Mesir dan beberapa negara lain. Tiba-tiba Sayyid Muhamad al-Maliki memanggil Habib Hamid.
“Hamid bin Zaid, kamu jadi imam Tarawih!” kata Sayyid Muhammad al-Maliki. Habib Hamid tidak merasa namanya yang dipanggil, sebab ia merasa tidak mungkin ditunjuk menjadi imam. Sementara di situ banyak ulama besar yang pasti lebih layak menjadi imam shalat Tarawih.
Sekali lagi Sayyid Muhammad al-Maliki memanggil Habib Hamid.“Hamid bin Zaid, kamu yang akan menjadi imam.”
“Sulit dipercaya, saya yang masih muda ini ditunjuk menjadi imam. Sementara di belakang saya ada Abuya dan ulama-ulama besar yang disegani. Sungguh, saya gemetar. Membaca surah al-Fatihah yang biasanya lancar di luar kepala pun, menjadi terasa sangat sulit. Alhamdulillah, saya mampu melewati ujian berat itu dengan baik, meskipun harus gemetaran.” Habib Hamid melanjutkan ceritanya.
Selesai shalat Tarawih, Sayyid Muhammad al-Maliki membaca shalawat dan qasidah. “Menurut murid-muridnya, setiap Ramadhan, seusai shalat, beliau selalu membaca Qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Beliau juga sering berziarah ke makam istri pertama Nabi Saw. bersama keluarganya. Sebelum meninggalkan masjid, beliau memanggil dan menyuruh saya umrah malam itu juga.”
“Sebelum saya berangkat umrah, Abuya sempat menanyakan keadaan Indonesia. Beliau ingin berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan para ulama dan murid-muridnya. Tapi wakyunya belum tepat, beliau bilang, kesibukan menulis buku dan pertemuan dengan para ulama Mekah, sangat menyita waktunya.”
Pada 10 Ramadhan, kembali Abuya memanggil Habib Hamid untuk shalat Tarawih bersama dan untuk kedua kalinya menyuruhnya umrah.“Ajaklah istrimu untuk umrah dan kembalilah untuk shalat Shubuh berjamaah, pesan Abuya sebelum saya berangkat umrah. Saya pun berpamitan sambil meminta izin untuk pergi ke Jeddah, sekadar silaturrahim ke saudara-saudara istri saya. Abuya hanya memberi izin dengan isyarat tangan dan wajah menunduk. Saya merasa, beliau tidak ingin mengizinkan saya pergi, tapi juga tidak ingin mencegah. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke Jeddah.”
Pagi hari tanggal 11 Ramadhan, Habib Hamid shalat Shubuh bersama bersama Sayyid Muhamad al-Maliki. Beliau terkejut saat saya berada di sampingnya. “Kamu tidak jadi pergi ke Jeddah?” tanyanya.
“Tidak Abuya”, sahut Habib Hamid.
“Bagus!” jawab Abuya sambil memeluknya.
Malamnya, seperti hari sebelumnya, Habib Hamid berjamaah shalat Tarawih yang diakhiri dengan membaca qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Malam itu juga, Habib Hamid mendapat perintah Sayyid Muhammad al-Maliki untuk umrah yang ketiga kalinya.
“Pada 12 Ramadhan, selesai shalat Isya, Abuya menyuruhku untuk umrah yang keempat kalinya. Katanya, itu adalah umrah terakhir atas perintahnya. Perasaan saya memang tak enak saat beliau mengatakan itu. Ah, mungkin beliau punya rencana lain untuk saya besok.”
Rabu 13 Ramadhan, untuk kedua kalinya, Habib Hamid ditunjuk menjadi imam Tarawih oleh Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu jamaahnya sekitar 200 orang, sebagian besar adalah tamu-tamu Abuya. “Malam itu, beliau merasa letih dan kakinya kesemutan.”
Di luar kebiasaan pula, kali ini, Abuya tidak membaca sholawat dan qasidah. Beliau meminta murid-muridnya, Bilal, Burhan, Aqil al-Aththas dan satu murid asal Kenya, membacakan secara bergantian. Sayyid Muhammad al-Maliki kelihatan sangat lelah. Maklum terkadang selama hampir 24 jam terjaga. Tamunya tak pernah berhenti mengalir, dan di sela waktu luangnya, masih tekun menulis dan membaca buku. Perpustakaan di rumah tinggalnya sampai membutuhkan tiga lantai. Kamarnya juga penuh dengan buku. Selain itu, beliau juga suka berkebun, tanahnya luas. “Abuya juga punya kebun buah yang cukup luas.” Kata Habib Hamid.
Akhirnya, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki masuk rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Menurut dokter, kondisinya cukup baik, hanya perlu istirahat di rumah sakit. Pada kamis 14 Ramadhan, istri dan keluarga beliau menjenguk. “Apa kabar Hamid bin Zaid, kamu betah di sini?” tanya Abuya ambil memandangku. Seperti biasanya, wajahnya kelihatan gembira, tidak seperti orang yang sedang sakit.
“Kami tidak lama di rumah sakit, karena istri dan anak-anak Abuya akan berziarah ke Ma’la, ke makam Sayyidah Khodijah al-Kubra. Ziarah kali ini aneh. Biasanya istri Abuya tidak pernah turun dari mobil. Beliau membaca sholawat dan qasidah dari dalam mobil. Eh, hari itu beliau dan semua anggota keluarga bersama-sama membaca al-Fatihah di makam istri pertama Rasulullah Saw.” ungkap Habib Hamid.
Malamnya, murid dan kerabat beliau berkumpul di rumah akit. Wajah beliau tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak sedang sakit. “Sekitar jam 20.00. dokter datang, dan mengatakan Abuya sudah sembuh. Kami semua memekik, Allahu Akbar!”
b.Saat Bulan Purnama Tersaput Awan
Di luar rumah sakit sesaat kemudian, Sayyid Muhammad al-Maliki meminta izin kepada dokter untuk menengok keluarga dan murid-muridnya. Tepat jam 00.00, beliau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama dua menit. Bilal, salah satu muridnya bertanya: “Ada apa, Abuya?”
Abuya al-Maliki menjawab: “Tidak ada apa-apa.”
Saat itu, seharusnya bulan sedang purnama sangat indah, namun malam itu justru tertutup awan.“Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, beliau selalu meminta agar murid-muridnya melihat bulan, dan bertanya apakah bulan sudah kelihatan?”
Dari rumah sakit, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menemui murid-murinya. Saat itu jam 03.00. “Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu, datang Sayyid Abbas, adiknya, bersama keluarga yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam obrolan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar”, cerita Habib Hamid sambil mengenang peristiwa penting itu.
Pertemuan malam itu, katanya, diakhiri dengan sahur bersama. Sebelumnya, Abuya sempat bertemu kakaknya dan bikin perjanjian untuk berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma dan air zamzam. “Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat Shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya.”
Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tapi Bilal diminta keluar kamar. Saat itulah, Sayyid Muhammad al-Maliki tiba-tiba bertanya kepada Burhan. “Hai, Burhan. Aku sebaiknya istirahat di kursi atau di bumi (maksudnya karpet)?”
“Terserah Abuya.” Sahut Burhan bingung, karena tidak tahu harus menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid memutuskan sesuatu untuk gurunya?
“Saya akan istirahat di bumi saja.”Kata Sayyid Muhammad al-Maliki.
Beliau kemudian duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tapi kemudian, diletakkan di meja, lalu beliau menengadah menyebut,“Lailaaha illallah….”
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un...”hanya itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari tepat tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, saat pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani wafat. Jenazah almarhum langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyuruh semua keluarga dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren.
Tepat seusai shalat Shubuh, ambulan rumah sakit yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. “Saya pingsan. Ya, sepertinya, pertemuan saya dengan beliau hanya untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma’la, tempat beliau dimakamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang qasidahnya dibaca setiap kali selesai shalat Tarawih.”
c.Berkah Doa Al-Fatihah
Mari kita hadiahkan al-Fatihah untuk Guru kita al-‘Allamah al-Muhaddits Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Beliau wafatnya pada hari Jum’at, malam 15 Ramadhan di waktu sahur, wafat di saat beliau beristighfar di waktu Sahur, pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahnya, Sayyid Alawi al-Maliki.
Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husein dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.
Ilaa hadhrotinnabiyil musthofa rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, wa ila ruuhi sayyid muhammad bin alawi al-maliki qoddasallahu sirrohu wanawwaro dloriihahu, al-Fatihah...
Diposting oleh🙏🏻 Abdul Hamid Mudjib Hamid Al-Ishaqy🙏🏻
=============
Beliau dimakamkan disebelah makam ayahnya dan Sayyidah Khadijah Al-Kubra...Kebiasaan beliau dibulan Ramadhan setelah shalat Tarawih selalu membaca Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra dan beliau pengarang Kitab Manaqib Sayyidah Khadijah Al-Kubra dengan judul Al-Bushra Fi Manaqib Al-Sayyidah Khadijah Al-Kubra (Kabar gembira tentang biografi Sayyidah Khadijah wanita yang agung).
Al Fatihah Ila Ruh Sayyidina Wa Imamina Al -Habib Al-Sayyid Muhammad Bin Alawy Al-Maliki...Wa iIa Ruuh Al-Sayyidah Wa Ummina Khadijah Al-Kubro Lahumul Fatihah...
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
==========
Detik-Detik Wafatnya Beliau:
a.Detik-detik Kewafatan Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki
Al-Habib Hamid bin Zaid pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Mustafa (Hadramaut Yaman) dan telah menikah dengan adik perempuan istri Sayyid Muhammad al-Maliki. Seminggu sebelum Ramadhan 1425 H, Habib Hamid menerima telepon dari Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekah dan memintanya supaya datang ke Mekah untuk umrah dan menemuinya. Habib Hamid memenuhi undangan tersebut dan bersama istrinya segera mempersiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya. Tiket dan visa sudah diurus oleh biro perjalanan yang ditunjuk Abuya (panggilan hormat untuk Sayyid Muhammad al-Maliki).
“Saya hanya mengurus paspor. Seluruh biaya juga ditanggung Abuya”, kata Habib Hamid.
Hari kedua Ramadhan, Sayyid Muhamad al-Maliki kembali meneleponnya. Beliau meminta Habib Hamid untuk segera terbang ke Mekah. “Kamu harus cepat menyelesaikan urusanmu, segeralah terbang ke Mekah”, pinta Sayyid Muhammad al-Maliki terkesan agak cemas.
Hari keempat Ramadhan, kembali beliau menelepon untuk memastikan Habib Hamid dan istrinya jadi berangkat. “Ketika itu Abuya bilang agar saya langsung saja terbang ke Madinah untuk berziarah ke Makam Rasulullah Saw. dan shalat di Masjid Nabawi. Sekali lagi, saat itu, beliau meminta agar secepatnya sampai di Mekah.”
Tepat pada 5 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid dan istri terbang menuju Madinah. Di bandar udara, dijemput oleh salah seorang murid Sayyid Muhammad al-Maliki dan membawanya ke hotel yang telah disediakan. Dua hari di Madinah, kemudian terbang ke Mekah. “Saya sampai di Mekah pada tanggal 8 Ramadhan dan langsung istirahat di hotel yang disediakan Abuya. Sorenya baru dijemput oleh Habib Isa bin Abdul Qadir, salah satu murid beliau untuk menemui orang yang paling saya kagumi, Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani. Sungguh tegang dan jantung berdetak lebih keras dari biasanya.”
Sore itu, seusai sholat Asar, Abuya menerima Habib Hamid di ruang kerjanya. “Beliau memelukku, mengucap selamat datang dan bertanya kabar teman dan muridnya di Indonesia, seperti Habib Abdurrahman Assegaf (Bukit Duri), Habib Abdullah al-Kaf (Tegal), KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan ulama lainnya. Saya jawab semua baik-baik saja. Setelah itu saya kembali ke hotel. Beliau pesan, agar nanti berbuka puasa bersama dengannya”, kenang Habib Hamid.
Ketika saat berbuka puasa hampir tiba, utusan Sayyid Muhammad al-Maliki menjemput Habib Hamid.“Hamid, apa yang kau bawa dari Indonesia?” Tanya Abuya tiba-tiba, saat Habib Hamid masuk ke ruang kerjanya.
“Saya membawa dodol durian kesukaan Abuya.” jawab Habib Hamid.
Wajah Sayyid Muhammad al-Maliki tampak gembira sekali. Beliau langsung membagikan oleh-oleh itu kepada teman-teman dan muridnya yang ada di situ. Beliau juga langsung mencicipinya saat buka puasa tiba.
“Ada titipan lagi buat saya?” tanya Abuya lagi.
“Ya, saya membawa buah mangga dan kelengkeng”
Dahi Abuya berkerut. “Kelengkeng? Buah apa itu?” tanya beliau.
Habib Hamid menjelaskan buah kelengkeng dan meminta beliau mencobanya. “Abuya tampak suka sekali buah itu, dan memakannya sampai menjelang shalat Isya.” Tutur Habib Hamid.
Malam itu, tepat malam tanggal 9 Ramadhan 1425 H, Habib Hamid berkesempatan shalat Isya dan Tarawih berjamaah bersama Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu ikut berjamaah beberapa ulama dari Turki, Mesir dan beberapa negara lain. Tiba-tiba Sayyid Muhamad al-Maliki memanggil Habib Hamid.
“Hamid bin Zaid, kamu jadi imam Tarawih!” kata Sayyid Muhammad al-Maliki. Habib Hamid tidak merasa namanya yang dipanggil, sebab ia merasa tidak mungkin ditunjuk menjadi imam. Sementara di situ banyak ulama besar yang pasti lebih layak menjadi imam shalat Tarawih.
Sekali lagi Sayyid Muhammad al-Maliki memanggil Habib Hamid.“Hamid bin Zaid, kamu yang akan menjadi imam.”
“Sulit dipercaya, saya yang masih muda ini ditunjuk menjadi imam. Sementara di belakang saya ada Abuya dan ulama-ulama besar yang disegani. Sungguh, saya gemetar. Membaca surah al-Fatihah yang biasanya lancar di luar kepala pun, menjadi terasa sangat sulit. Alhamdulillah, saya mampu melewati ujian berat itu dengan baik, meskipun harus gemetaran.” Habib Hamid melanjutkan ceritanya.
Selesai shalat Tarawih, Sayyid Muhammad al-Maliki membaca shalawat dan qasidah. “Menurut murid-muridnya, setiap Ramadhan, seusai shalat, beliau selalu membaca Qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Beliau juga sering berziarah ke makam istri pertama Nabi Saw. bersama keluarganya. Sebelum meninggalkan masjid, beliau memanggil dan menyuruh saya umrah malam itu juga.”
“Sebelum saya berangkat umrah, Abuya sempat menanyakan keadaan Indonesia. Beliau ingin berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan para ulama dan murid-muridnya. Tapi wakyunya belum tepat, beliau bilang, kesibukan menulis buku dan pertemuan dengan para ulama Mekah, sangat menyita waktunya.”
Pada 10 Ramadhan, kembali Abuya memanggil Habib Hamid untuk shalat Tarawih bersama dan untuk kedua kalinya menyuruhnya umrah.“Ajaklah istrimu untuk umrah dan kembalilah untuk shalat Shubuh berjamaah, pesan Abuya sebelum saya berangkat umrah. Saya pun berpamitan sambil meminta izin untuk pergi ke Jeddah, sekadar silaturrahim ke saudara-saudara istri saya. Abuya hanya memberi izin dengan isyarat tangan dan wajah menunduk. Saya merasa, beliau tidak ingin mengizinkan saya pergi, tapi juga tidak ingin mencegah. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak pergi ke Jeddah.”
Pagi hari tanggal 11 Ramadhan, Habib Hamid shalat Shubuh bersama bersama Sayyid Muhamad al-Maliki. Beliau terkejut saat saya berada di sampingnya. “Kamu tidak jadi pergi ke Jeddah?” tanyanya.
“Tidak Abuya”, sahut Habib Hamid.
“Bagus!” jawab Abuya sambil memeluknya.
Malamnya, seperti hari sebelumnya, Habib Hamid berjamaah shalat Tarawih yang diakhiri dengan membaca qasidah Sayyidah Khadijah al-Kubra. Malam itu juga, Habib Hamid mendapat perintah Sayyid Muhammad al-Maliki untuk umrah yang ketiga kalinya.
“Pada 12 Ramadhan, selesai shalat Isya, Abuya menyuruhku untuk umrah yang keempat kalinya. Katanya, itu adalah umrah terakhir atas perintahnya. Perasaan saya memang tak enak saat beliau mengatakan itu. Ah, mungkin beliau punya rencana lain untuk saya besok.”
Rabu 13 Ramadhan, untuk kedua kalinya, Habib Hamid ditunjuk menjadi imam Tarawih oleh Sayyid Muhammad al-Maliki. Saat itu jamaahnya sekitar 200 orang, sebagian besar adalah tamu-tamu Abuya. “Malam itu, beliau merasa letih dan kakinya kesemutan.”
Di luar kebiasaan pula, kali ini, Abuya tidak membaca sholawat dan qasidah. Beliau meminta murid-muridnya, Bilal, Burhan, Aqil al-Aththas dan satu murid asal Kenya, membacakan secara bergantian. Sayyid Muhammad al-Maliki kelihatan sangat lelah. Maklum terkadang selama hampir 24 jam terjaga. Tamunya tak pernah berhenti mengalir, dan di sela waktu luangnya, masih tekun menulis dan membaca buku. Perpustakaan di rumah tinggalnya sampai membutuhkan tiga lantai. Kamarnya juga penuh dengan buku. Selain itu, beliau juga suka berkebun, tanahnya luas. “Abuya juga punya kebun buah yang cukup luas.” Kata Habib Hamid.
Akhirnya, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki masuk rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Menurut dokter, kondisinya cukup baik, hanya perlu istirahat di rumah sakit. Pada kamis 14 Ramadhan, istri dan keluarga beliau menjenguk. “Apa kabar Hamid bin Zaid, kamu betah di sini?” tanya Abuya ambil memandangku. Seperti biasanya, wajahnya kelihatan gembira, tidak seperti orang yang sedang sakit.
“Kami tidak lama di rumah sakit, karena istri dan anak-anak Abuya akan berziarah ke Ma’la, ke makam Sayyidah Khodijah al-Kubra. Ziarah kali ini aneh. Biasanya istri Abuya tidak pernah turun dari mobil. Beliau membaca sholawat dan qasidah dari dalam mobil. Eh, hari itu beliau dan semua anggota keluarga bersama-sama membaca al-Fatihah di makam istri pertama Rasulullah Saw.” ungkap Habib Hamid.
Malamnya, murid dan kerabat beliau berkumpul di rumah akit. Wajah beliau tidak berubah, tetap gembira, seperti tidak sedang sakit. “Sekitar jam 20.00. dokter datang, dan mengatakan Abuya sudah sembuh. Kami semua memekik, Allahu Akbar!”
b.Saat Bulan Purnama Tersaput Awan
Di luar rumah sakit sesaat kemudian, Sayyid Muhammad al-Maliki meminta izin kepada dokter untuk menengok keluarga dan murid-muridnya. Tepat jam 00.00, beliau keluar dari rumah sakit. Sebelum masuk ke mobil, Abuya menghadap ke langit selama dua menit. Bilal, salah satu muridnya bertanya: “Ada apa, Abuya?”
Abuya al-Maliki menjawab: “Tidak ada apa-apa.”
Saat itu, seharusnya bulan sedang purnama sangat indah, namun malam itu justru tertutup awan.“Sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, beliau selalu meminta agar murid-muridnya melihat bulan, dan bertanya apakah bulan sudah kelihatan?”
Dari rumah sakit, beliau tidak langsung ke rumah, tapi ke pondok pesantren, untuk menemui murid-murinya. Saat itu jam 03.00. “Saya sendiri yang membukakan pintu gerbang. Setelah itu, datang Sayyid Abbas, adiknya, bersama keluarga yang lain. Kami bersama-sama membaca qasidah, lalu terlibat dalam obrolan yang sesekali diselingi dengan tertawa lebar”, cerita Habib Hamid sambil mengenang peristiwa penting itu.
Pertemuan malam itu, katanya, diakhiri dengan sahur bersama. Sebelumnya, Abuya sempat bertemu kakaknya dan bikin perjanjian untuk berbuka puasa hanya dengan tiga buah kurma dan air zamzam. “Pas jam 04.00, beliau meminta semuanya istirahat dan bersiap shalat Shubuh. Beliau sendiri masuk ke kamar kerjanya.”
Di kamar itu, beliau ditemani Bilal dan Burhan. Tapi Bilal diminta keluar kamar. Saat itulah, Sayyid Muhammad al-Maliki tiba-tiba bertanya kepada Burhan. “Hai, Burhan. Aku sebaiknya istirahat di kursi atau di bumi (maksudnya karpet)?”
“Terserah Abuya.” Sahut Burhan bingung, karena tidak tahu harus menjawab Abuya. Bagaimana mungkin seorang murid memutuskan sesuatu untuk gurunya?
“Saya akan istirahat di bumi saja.”Kata Sayyid Muhammad al-Maliki.
Beliau kemudian duduk menghadap kiblat dan bersandar. Sesaat, sempat mengambil buku dari tangan Burhan. Tapi kemudian, diletakkan di meja, lalu beliau menengadah menyebut,“Lailaaha illallah….”
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un...”hanya itu yang terucap dari mulut Burhan. Hari tepat tanggal 15 Ramadhan 1425 H atau 29 Oktober 2004, saat pagi mulai membuka kehidupan, Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani wafat. Jenazah almarhum langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menyuruh semua keluarga dan murid-murid beliau untuk pulang ke Pondok Pesantren.
Tepat seusai shalat Shubuh, ambulan rumah sakit yang membawa jenazah Abuya, tiba di kediaman beliau. “Saya pingsan. Ya, sepertinya, pertemuan saya dengan beliau hanya untuk mengantarkan jenazahnya ke Ma’la, tempat beliau dimakamkan, dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang qasidahnya dibaca setiap kali selesai shalat Tarawih.”
c.Berkah Doa Al-Fatihah
Mari kita hadiahkan al-Fatihah untuk Guru kita al-‘Allamah al-Muhaddits Prof. Dr. as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani. Beliau wafatnya pada hari Jum’at, malam 15 Ramadhan di waktu sahur, wafat di saat beliau beristighfar di waktu Sahur, pada malamnya beliau tidak mengajar kitab-kitab namun banyak menceritakan perihal surga dan menyatakan hasratnya untuk bertemu dengan ayahnya, Sayyid Alawi al-Maliki.
Beliau wafat hari Jumat 15 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M dan dimakamkan di pemakaman al-Ma’la di samping makam istri Rasulallah Saw. Khadijah binti Khuailid Ra. dengan meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alawi, Ali, al- Hasan dan al-Husein dan beberapa putri-putri yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.
Ilaa hadhrotinnabiyil musthofa rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, wa ila ruuhi sayyid muhammad bin alawi al-maliki qoddasallahu sirrohu wanawwaro dloriihahu, al-Fatihah...
Diposting oleh🙏🏻 Abdul Hamid Mudjib Hamid Al-Ishaqy🙏🏻
Dari berbagai sumber.
Sya’roni As-Samfuriy, Cibitung Bekasi 15 Ramadhan 1434 H
"Pemimpin bulan adalah bulan Romadlon, dan pemimpin hari adalah Jum'at"
(06) Kajian kitab Ithafu Ahli Al-Islam Bi-Khushushiyyati Al-Siyam karya Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami yang dibaca oleh Syaikhina Maimoen Zubair Sarang di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar.
***
Diposkan hari Jum'at Pon, 7 Romadlon 1438 H/ 2 Juni 2017 M.
***
سيد الشهور شهر رمضان وسيد الأيام الجمعة (رواه الطبراني والبيهقي وغيرهما)
"Pemimpin bulan adalah bulan Romadlon, dan pemimpin hari adalah Jum'at".
سيد الشهور شهر رمضان، وأعظمها حرمة ذو الحجة (رواه البزار والبيهقي عن أبي سعيد وابن عساكر)
"Pemimpin bulan adalah bulan romadlon, sedang bulan paling agung kehormatannya adalah Dzulhijjah".
Bulan Romadlon lebih mulia (Afdlol) dari pada bulan Dzulhijjah. Pemahaman ini diambil dari kata "Pemimpin (Siyadah)" dalam hadits itu.
Hal ini tidak bertentangan dengan lebih agungnya kehormatan bulan Dzulhijjah, karena kehormatan itu dipandang dari wujudnya haji dan umroh pada bulan Dzulhijjah, serta dikarenakan bulan Dzulhijjah termasuk salah satu bulan yang mulia (Asyhur Al-Hurum).
إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم.
Disamping itu, Muharram lebih Afdlol dari pada Dzulhijjah, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kehormatan yang lebih (A'dlomiyyatul Hurmah) yang dimiliki Dzulhijjah tidak menjadikan lebih Afdlolnya bulan Dzulhijjah atas Muharrom, lebih-lebih terhadap bulan Romadlon. Sehingga jelas bahwa Romadlon lebih Afdlol dari Dzulhijjah.
إن الله تعالى فرض صيام رمضان وسننت لكم قيامه فمن صامه وقامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه (رواه أحمد والترمذي عن عبد الرحمن بن عوف)
"Sesungguhnya ALLOH mewajibkan puasa Romadlon, dan aku sunahkan sholat Romadlon terhadap kalian. Maka barangsiapa berpuasa dan sholat Romadlon dengan iman dan ihtisab (mencari ridho ALLOH), maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari kelahirannya".
Hadits tersebut menunjukkan bahwa kewajiban puasa Romadlon karena perintah ALLOH, dalam firman-nya:
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام....
Sedangkan kesunahan menjalankan ibadah sholat malam pada bulan Romadlon karena anjuran dari Nabi Muhammad.
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر (رواه الدار قطني عن ابن عباس)
"Barangsiapa yang berpuasa Romadlon dengan iman dan ihtisab, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau dan yang akan datang".
Diampuninya dosa yang lalu sudah jelas, sedangkan maksud terampuninya dosa yang akan datang adalah janji ALLOH terhadap hamba bila suatu saat melakukan dosa, maka ia akan mendapatkan suatu ampunan. Maka tidaklah menjadi isykal tentang kemustahilan mengampuni suatu dosa sebelum terjadinya dosa itu.
تفتح فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب النار....(رواه الدار قطني عن عقبة بن فرقد)
"Pada bulan Romadlon dibukalah pintu-pintu langit dan dikuncilah pintu-pintu neraka".
إذا جاء شهر رمضان فتحت أبواب الرحمة وغلقت أبواب النار....(رواه النسائي عن أبي هريرة رضي الله).
"Apabila masuk bulan Romadlon, maka dibukalah pintu-pintu Rahmat dan dikuncilah pintu-pintu neraka".
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وتغلق أبواب النار...(رواه الشيخان عن أبي هريرة رضي الله عنه)
"Apabila masuk bulan Romadlon, maka dibukalah pintu-pintu surga dan dikuncilah pintu-pintu neraka".
Pada ketiga hadist tersebut terdapat perbedaan riwayat, yaitu pada permasalahan pintu yang dibuka:
1. Pintu langit.
2. Pintu rahmat.
3. Pintu surga.
Redaksi "terbukanya pintu surga" dalam hadist di atas menunjukkan bahwa pintu surga benar-benar dibuka secara nyata. Bukan sebagai kinayah tentang luasnya rahmat ALLOH, karena luasnya rahmat ALLOH sudah bisa ditunjukkan dengan redaksi "terbukanya pintu rahmat atau pintu langit" pada dua hadist yang lain.
Hal ini tentu lebih menambah suatu faidah pemahaman, yaitu terbukanya pintu langit, pintu surga dan pintu rahmat pada bulan Romadlon.
Begitu pula dengan redaksi "dikuncinya pintu neraka", yang menunjukkan bahwa pintu neraka memang benar-benar dikunci pada bulan Romadlon.
ليس ليوم فضل على يوم في الصيام إلا شهر رمضان ويوم عاشوراء (رواه الطبراني والبيهقي عن ابن عباس رضي الله عنه)
"Tidak ada hari yang mengungguli hari yang lain dalam puasa kecuali bulan Romadlon dan hari Asyura".
Pengecualian pada hadist itu bukanlah secara Hakiki, tetapi dipandang dari salah satu sudut pandang (Hashr Idlofi). Hal itu karena puasa hari arofah lebih Afdlol dari pada puasa Asyura. Puasa hari arofah (9 Dzulhijjah) melebur dosa dua tahun, sedangkan puasa hari Asyura (10 Muharrom) melebur dosa setahun. Begitu pula terdapat hadist yang menyebutkan keutamaan puasa senin, kamis, enam hari bulan syawwal yang menunjukkan keistimewaan hari satu dengan hari lainnya.
أبسطوا النفقة في شهر رمضان فإن النفقة فيه كالنفقة في سبيل الله (رواه ابن ابي الدنيا عن ضمرة وراشد بن سعد مرسلا)
"Perluaslah nafaqoh kalian pada bulan Romadlon, karena sesungguhnya nafaqoh pada bulan Romadlon itu seperti nafaqoh di jalan ALLOH".
Memperluas nafaqoh pada bulan Romadlon pun tentu tetap dengan melakukan kewajiban pokok yaitu puasa.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السماء (في الإحياء)
"Jikalau setan-setan tidak mengelilingi hati anak Adam, niscaya mereka akan melihat alam malakut langit".
Tentang hal alam, Syaikhina Maimoen Zubair menyebutkan bahwa dibumi maupun langit terdapat alam mulki dan alam malakut, seperti disebutkan oleh Al-Qur'an:
ولله ملك السموات والأرض (آل عمران: ١٨٩).
وكذلك نري إبراهيم ملكوت السموات والأرض (الأنعام:٧٥).
Bagaimana cara menyempitkan jalan syetan?.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الشيطان ليجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع (الإحياء)
"Sesungguhnya setan berjalan pada tempat mengalirnya darah anak Adam, maka sempitkanlah jalan setan dengan lapar".
***
Diposkan hari Jum'at Pon, 7 Romadlon 1438 H/ 2 Juni 2017 M.
***
سيد الشهور شهر رمضان وسيد الأيام الجمعة (رواه الطبراني والبيهقي وغيرهما)
"Pemimpin bulan adalah bulan Romadlon, dan pemimpin hari adalah Jum'at".
سيد الشهور شهر رمضان، وأعظمها حرمة ذو الحجة (رواه البزار والبيهقي عن أبي سعيد وابن عساكر)
"Pemimpin bulan adalah bulan romadlon, sedang bulan paling agung kehormatannya adalah Dzulhijjah".
Bulan Romadlon lebih mulia (Afdlol) dari pada bulan Dzulhijjah. Pemahaman ini diambil dari kata "Pemimpin (Siyadah)" dalam hadits itu.
Hal ini tidak bertentangan dengan lebih agungnya kehormatan bulan Dzulhijjah, karena kehormatan itu dipandang dari wujudnya haji dan umroh pada bulan Dzulhijjah, serta dikarenakan bulan Dzulhijjah termasuk salah satu bulan yang mulia (Asyhur Al-Hurum).
إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم.
Disamping itu, Muharram lebih Afdlol dari pada Dzulhijjah, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kehormatan yang lebih (A'dlomiyyatul Hurmah) yang dimiliki Dzulhijjah tidak menjadikan lebih Afdlolnya bulan Dzulhijjah atas Muharrom, lebih-lebih terhadap bulan Romadlon. Sehingga jelas bahwa Romadlon lebih Afdlol dari Dzulhijjah.
إن الله تعالى فرض صيام رمضان وسننت لكم قيامه فمن صامه وقامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه (رواه أحمد والترمذي عن عبد الرحمن بن عوف)
"Sesungguhnya ALLOH mewajibkan puasa Romadlon, dan aku sunahkan sholat Romadlon terhadap kalian. Maka barangsiapa berpuasa dan sholat Romadlon dengan iman dan ihtisab (mencari ridho ALLOH), maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari kelahirannya".
Hadits tersebut menunjukkan bahwa kewajiban puasa Romadlon karena perintah ALLOH, dalam firman-nya:
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام....
Sedangkan kesunahan menjalankan ibadah sholat malam pada bulan Romadlon karena anjuran dari Nabi Muhammad.
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر (رواه الدار قطني عن ابن عباس)
"Barangsiapa yang berpuasa Romadlon dengan iman dan ihtisab, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau dan yang akan datang".
Diampuninya dosa yang lalu sudah jelas, sedangkan maksud terampuninya dosa yang akan datang adalah janji ALLOH terhadap hamba bila suatu saat melakukan dosa, maka ia akan mendapatkan suatu ampunan. Maka tidaklah menjadi isykal tentang kemustahilan mengampuni suatu dosa sebelum terjadinya dosa itu.
تفتح فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب النار....(رواه الدار قطني عن عقبة بن فرقد)
"Pada bulan Romadlon dibukalah pintu-pintu langit dan dikuncilah pintu-pintu neraka".
إذا جاء شهر رمضان فتحت أبواب الرحمة وغلقت أبواب النار....(رواه النسائي عن أبي هريرة رضي الله).
"Apabila masuk bulan Romadlon, maka dibukalah pintu-pintu Rahmat dan dikuncilah pintu-pintu neraka".
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وتغلق أبواب النار...(رواه الشيخان عن أبي هريرة رضي الله عنه)
"Apabila masuk bulan Romadlon, maka dibukalah pintu-pintu surga dan dikuncilah pintu-pintu neraka".
Pada ketiga hadist tersebut terdapat perbedaan riwayat, yaitu pada permasalahan pintu yang dibuka:
1. Pintu langit.
2. Pintu rahmat.
3. Pintu surga.
Redaksi "terbukanya pintu surga" dalam hadist di atas menunjukkan bahwa pintu surga benar-benar dibuka secara nyata. Bukan sebagai kinayah tentang luasnya rahmat ALLOH, karena luasnya rahmat ALLOH sudah bisa ditunjukkan dengan redaksi "terbukanya pintu rahmat atau pintu langit" pada dua hadist yang lain.
Hal ini tentu lebih menambah suatu faidah pemahaman, yaitu terbukanya pintu langit, pintu surga dan pintu rahmat pada bulan Romadlon.
Begitu pula dengan redaksi "dikuncinya pintu neraka", yang menunjukkan bahwa pintu neraka memang benar-benar dikunci pada bulan Romadlon.
ليس ليوم فضل على يوم في الصيام إلا شهر رمضان ويوم عاشوراء (رواه الطبراني والبيهقي عن ابن عباس رضي الله عنه)
"Tidak ada hari yang mengungguli hari yang lain dalam puasa kecuali bulan Romadlon dan hari Asyura".
Pengecualian pada hadist itu bukanlah secara Hakiki, tetapi dipandang dari salah satu sudut pandang (Hashr Idlofi). Hal itu karena puasa hari arofah lebih Afdlol dari pada puasa Asyura. Puasa hari arofah (9 Dzulhijjah) melebur dosa dua tahun, sedangkan puasa hari Asyura (10 Muharrom) melebur dosa setahun. Begitu pula terdapat hadist yang menyebutkan keutamaan puasa senin, kamis, enam hari bulan syawwal yang menunjukkan keistimewaan hari satu dengan hari lainnya.
أبسطوا النفقة في شهر رمضان فإن النفقة فيه كالنفقة في سبيل الله (رواه ابن ابي الدنيا عن ضمرة وراشد بن سعد مرسلا)
"Perluaslah nafaqoh kalian pada bulan Romadlon, karena sesungguhnya nafaqoh pada bulan Romadlon itu seperti nafaqoh di jalan ALLOH".
Memperluas nafaqoh pada bulan Romadlon pun tentu tetap dengan melakukan kewajiban pokok yaitu puasa.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لولا أن الشياطين يحومون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السماء (في الإحياء)
"Jikalau setan-setan tidak mengelilingi hati anak Adam, niscaya mereka akan melihat alam malakut langit".
Tentang hal alam, Syaikhina Maimoen Zubair menyebutkan bahwa dibumi maupun langit terdapat alam mulki dan alam malakut, seperti disebutkan oleh Al-Qur'an:
ولله ملك السموات والأرض (آل عمران: ١٨٩).
وكذلك نري إبراهيم ملكوت السموات والأرض (الأنعام:٧٥).
Bagaimana cara menyempitkan jalan syetan?.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الشيطان ليجري من ابن آدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع (الإحياء)
"Sesungguhnya setan berjalan pada tempat mengalirnya darah anak Adam, maka sempitkanlah jalan setan dengan lapar".
Kamis, 01 Juni 2017
Sholawat adalah Penghantar Ma'rifat dan Ibadah Yang Pasti Diterima
_*SHALAWAT ADALAH PENGHANTAR MA’RIFAT DAN IBADAH YANG PASTI DITERIMA*_
Seorang murid pernah bertanya kepada *Syaikh Ali Jum’ah*, Mufti Mesir:
_“Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”_
*Syaikh Ali Jum’ah* menjawab:
_“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”_
Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima
Dalam kitab *al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni* meriwayatkan bahwa *Abul Mawahib Imam asy-Syadzili* berkata:
رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً
_“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda *Nabi Muhammad SAW*. Aku bertanya,_
_“Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”_
*Nabi SAW.*menjawab,
_“Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”_
Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.
عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.
*Baginda Nabi SAW* mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, *Nabi SAW* bersabda,
_“Orang ini terburu-buru.”_
Kemudian *Nabi SAW* mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati,
_“Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.”_
*(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)*
Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena *Nabi SAW* bersabda dalam sebuah hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.
_“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”_
Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan *Rasulullah SAW* Ada penyair yang berkata:
أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ # فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
_“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”_
_*Shalawat Penghantar Ma’rifat*_
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.
_“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk *Baginda Nabi Muhammad SAW*. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut *Imam Malik*, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut *Imam Syafi’i*, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama *Nabi SAW* disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”_
_“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan:_
_“Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui *Nabi SAW*.”_
_Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada *Nabi SAW*. dan beliau *Nabi SAW* membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.”_
*(Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).*
*Abdurrahman bin Samrah* meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh *Sa’id bin al-Musayyab*, bahwa *Nabi SAW* bersabda,
_“Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.”_
*(HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan)*.
_*Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat*_
*Imam Abul Hasan asy-Syadzilli* pernah berkata,
_“Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada *Rasulullah SAW*.”_
*Imam Ibnu Hajar al-Asqalani* menyatakan,
_“Tidak tertolak shalawat atas *Nabi SAW*.”_
*Al-Hafidz asy-Syaraji* berkata,
_“Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu *Abul Hasan al-Bakri* berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”_
*Syaikh Abdul Qadir al-Jailani* pernah berwasiat,
_“Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”_
Adapun *Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari* berkata,
_“Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada *Nabi Muhammad SAW*.”_
*Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad* menyebutkan bahwasanya para ulama berkata,
_“Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”_
*As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki* pernah berpesan,
_“Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada *Rasulullah SAW*. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”_
*Al-Habib Umar bin Hafidz* mengatakan,
_“Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt.”_
Seorang murid pernah bertanya kepada *Syaikh Ali Jum’ah*, Mufti Mesir:
_“Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”_
*Syaikh Ali Jum’ah* menjawab:
_“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”_
Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima
Dalam kitab *al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni* meriwayatkan bahwa *Abul Mawahib Imam asy-Syadzili* berkata:
رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً
_“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda *Nabi Muhammad SAW*. Aku bertanya,_
_“Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”_
*Nabi SAW.*menjawab,
_“Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”_
Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.
عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.
*Baginda Nabi SAW* mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, *Nabi SAW* bersabda,
_“Orang ini terburu-buru.”_
Kemudian *Nabi SAW* mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati,
_“Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.”_
*(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)*
Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena *Nabi SAW* bersabda dalam sebuah hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.
_“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”_
Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan *Rasulullah SAW* Ada penyair yang berkata:
أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ # فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
_“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”_
_*Shalawat Penghantar Ma’rifat*_
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.
_“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk *Baginda Nabi Muhammad SAW*. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut *Imam Malik*, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut *Imam Syafi’i*, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama *Nabi SAW* disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”_
_“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan:_
_“Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui *Nabi SAW*.”_
_Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada *Nabi SAW*. dan beliau *Nabi SAW* membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.”_
*(Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).*
*Abdurrahman bin Samrah* meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh *Sa’id bin al-Musayyab*, bahwa *Nabi SAW* bersabda,
_“Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.”_
*(HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan)*.
_*Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat*_
*Imam Abul Hasan asy-Syadzilli* pernah berkata,
_“Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada *Rasulullah SAW*.”_
*Imam Ibnu Hajar al-Asqalani* menyatakan,
_“Tidak tertolak shalawat atas *Nabi SAW*.”_
*Al-Hafidz asy-Syaraji* berkata,
_“Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu *Abul Hasan al-Bakri* berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”_
*Syaikh Abdul Qadir al-Jailani* pernah berwasiat,
_“Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”_
Adapun *Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari* berkata,
_“Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada *Nabi Muhammad SAW*.”_
*Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad* menyebutkan bahwasanya para ulama berkata,
_“Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”_
*As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki* pernah berpesan,
_“Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada *Rasulullah SAW*. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”_
*Al-Habib Umar bin Hafidz* mengatakan,
_“Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt.”_
Keutamaan Romadlon Oleh Mbah KH.Maimoen Zubeir
(05) Kajian kitab Ithafu Ahli Al-Islam Bi-Khushushiyyati Al-Siyam karya Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami yang dibaca oleh Syaikhina Maimoen Zubair Sarang di Musholla Pondok Pesantren Al-Anwar.
***
Diposkan 6 Romadlon 1438 H/ 1 Juni 2017 M.
***
Keutamaan Romadlon
Nabi bersabda:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين (رواه الشيخان عن أبي هريرة)
"Apabila Romadlon datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci dan setan-setan dibelenggu".
شهر رمضان شهر مبارك تفتح فيه أبواب الجنة وتغلق فيه أبواب السعير وتصفد فيه الشياطين وينادي مناد كل ليلة يا باغي الخير هلم ويا باغي الشر أقصر (أخرجه أحمد والبيهقي عن رجل من الصحابة رضوان الله عليهم)
"Bulan Romadhon adalah bulan yang diberkahi, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan pada bulan itu. Setiap malam selalu ada orang yang mengundangkan suara: Wahai orang yang mengharapkan kebaikan datanglah, wahai orang yang menginginkan kejelekan tahanlah".
Dari hadits tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa terbukanya pintu surga dan terkuncinya pintu neraka adalah secara nyata (Haqiqi). Hal itu sebagai bentuk pemberitahuan terhadap malaikat dan lainnya tentang besarnya keutamaan Romadlon dan bertambahnya pahala dan kebaikan pada bulan itu, sedikitnya kejelekan pada bulan itu. Hal itu dikarenakan terbelenggunya syetan secara hakiki pada kebanyakan waktu Romadlon, atau terbelenggu secara majazi, atau dengan kata lain tercegahnya syetan dari merusak dan menyesatkan kebanyakan manusia.
Hal itu tidaklah bertentangan dengan kenyataan yang kita lihat berupa masih banyaknya kemaksiatan, dosa-dosa besar, bahkan dosa terbesar yang diterjang oleh kebanyakan manusia pada bulan romadlon.
Dari dua hadist di atas pun kita bisa mengambil kesimpulan tentang diperbolehkannya mengatakan bulan Romadhon atau hanya Romadlon tanpa didahului dengan kata "bulan".
تفتح ابواب الجنة في أول ليلة من رمضان إلى آخر كل ليلة، وتغلق فيه أبواب النار وتصفد فيه مردة الشياطين ويبعث الله مناديا ينادي يا باغي الخير هلم هل من داع يستجاب له هل من مستغفر يغفر له هل من تائب يتاب عليه ولله عند وقت الفطر في كل ليلة من رمضان عتقاء يعتقهم من النار (رواه ابن صصرى في أماليه وابن النجار عن أنس رضي الله عنه)
"Pintu-pintu surga dibuka pada permulaan malam Romadlon sampai akhir tiap malam Romadlon, pintu-pintu neraka dikunci, Setan-setan dibelenggu, dan ALLOH mengutus orang yang mengumandangkan: Wahai orang yang mengharapkan kebaikan datanglah, adakah orang yang berdoa maka dikabulkan doa untuknya? Adakah orang yang beristighfar maka diampuninya? Adakah orang yang bertaubat maka diterima taubatnya?. Dan bagi ALLOH pada waktu berbuka tiap malam dari Romadlon terdapat orang-orang yang dimerdekakan dari neraka".
Dari hadits tersebut dapat diperoleh pemahaman tentang waktu keutamaan yang terdapat pada bulan Romadhon.
نعم الشهر شهر رمضان تفتح فيه أبواب الجنة وتغلق فيه أبواب النيران وتصفد فيه مردة الشياطين ويغفر فيه إلا من تأبى (رواه الخطيب وابن النجار عن أبي هريرة رضي الله عنه).
"Sebaik-baik bulan adalah bulan Romadhon, pada bulan itu dibuka pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan yang sombong dan congkak, serta diampuni kecuali orang yang enggan".
Yang dimaksud dengan orang yang enggan dari diampuninya dosa adalah orang-orang yang mencegah diri dan berpaling dari sebab-sebab diampuninya dosa.
أظلكم شهر رمضان هذا بمحلوف رسول الله صلى الله عليه وسلم ما مر على المسلمين شهر هو خير لهم منه ولا يأتي على المنافقين شهر هو شر لهم منه إن الله يكتب أجره وثوابه من قبل أن يدخل ويكتب وزره وشقاءه قبل أن يدخل (أخرجه أحمد والبيهقي عن أبي هريرة رضي الله عنه).
"Bulan Romadhon ini telah meliputi kalian, pada masa Rosulloh Shollallohu Alaihi wassalam. Tidaklah ada bulan yang datang kepada orang muslimin yang lebih baik untuk mereka dari padanya, dan tidaklah ada bulan yang lewat atas orang-orang munafik yang jelek dari pada bulan itu. Sesungguhnya ALLOH menulis pahala dan ganjarannya sebelum masuknya bulan Romadlon,dan menulis dosa dan balasannya sebelum masuknya bulan Romadlon".
Hal itu karena orang yang beriman menyiapkan diri dan hartanya untuk diinfaqkan sebagai kekuatan beribadah, sedangkan orang yang munafik menyiapkan diri untuk mencela dan mencari-cari kesalahan orang beriman. Sehingga bulan Romadlon menjadi sebuah keberuntungan bagi orang yang beriman dan sebagai siksaan bagi orang yang munafik.
أول شهر رمضان رحمة ووسطه مغفرة وآخره عتق من النار (رواه ابن ابي الدنيا والخطيب والديلمي وابن عساكر عن أبي هريرة رضي الله عنه)
"Permulaan bulan Romadlon itu Rahmat, pertengahannya maghfiroh dan akhirnya adalah kemerdekaan dari neraka".
Sedangkan orang yang dimerdekakan dari neraka adalah enam puluh ribu tiap malamnya, dan orang yang dimerdekakan pada akhir malam bulan Romadlon pada saat berbuka, yaitu malam 'Idlul Fithri, sejumlah 30 × 60.000= 1.800.000 orang.
Seperti disebutkan dalam hadits berikut.
...ولله تعالى عند كل فطر من شهر رمضان كل ليلة عتقاء من النار ستون ألفا فإذا كان يوم الفطر أعتق مثل ما أعتق في جميع الشهر ثلاثين مرة ستين ألفا (رواه البيهقي عن ابن مسعود رضي الله عنه)
Orang yang sholat pada malam harinya, akan dicatatkan baginya seribu lima ratus kebaikan tiap kali ia bersujud, dibangunkan sebuah rumah dari Yaqut merah di surga, yang didalamnya enam puluh ribu pintu, Setiap pintu tersebut terdapat istana dari emas yang dihiasi dengan Yaqut merah. Dan orang yang berpuasa pada awal romadlon, maka dosa-dosa yang telah lampau akan diampuni sampai hari yang sama pada bulan Romadlon, dimintakan ampunan oleh tujuh puluh ribu malaikat tiap hari mulai sholat pagi sampai terbenamnya matahari, dan mendapatkan suatu pahala berupa pohon yang besarnya ditempuh perjalanan lima ratus ribu tahun bagi tiap sujud yang dilakukan pada malam hari atau siang bulan Romadlon, seperti dalam hadits:
...وليس من عبد مؤمن يصلي في ليلة منها إلا كتب الله له ألفا وخمسمائة حسنة بكل سجدة وبنى له بيتا في الجنة من ياقوتة حمراء فإذا صام أول يوم من رمضان غفر له ما تقدم من ذنبه إلى مثل ذلك اليوم من شهر رمضان واستغفر له كل يوم سبعون ألف وملك من صلاة الغد إلى أن توارى بالحجاب-أي إلى غروب الشمس وكان له بكل سجدة يسجدها في شهر رمضان بليل أو نهار شجرة يسير الراكب في ظلها خمسمائة عام (أخرجه البيهقي عن أبي سعيد رضي الله عنه).
***
Diposkan 6 Romadlon 1438 H/ 1 Juni 2017 M.
***
Keutamaan Romadlon
Nabi bersabda:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين (رواه الشيخان عن أبي هريرة)
"Apabila Romadlon datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci dan setan-setan dibelenggu".
شهر رمضان شهر مبارك تفتح فيه أبواب الجنة وتغلق فيه أبواب السعير وتصفد فيه الشياطين وينادي مناد كل ليلة يا باغي الخير هلم ويا باغي الشر أقصر (أخرجه أحمد والبيهقي عن رجل من الصحابة رضوان الله عليهم)
"Bulan Romadhon adalah bulan yang diberkahi, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan pada bulan itu. Setiap malam selalu ada orang yang mengundangkan suara: Wahai orang yang mengharapkan kebaikan datanglah, wahai orang yang menginginkan kejelekan tahanlah".
Dari hadits tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa terbukanya pintu surga dan terkuncinya pintu neraka adalah secara nyata (Haqiqi). Hal itu sebagai bentuk pemberitahuan terhadap malaikat dan lainnya tentang besarnya keutamaan Romadlon dan bertambahnya pahala dan kebaikan pada bulan itu, sedikitnya kejelekan pada bulan itu. Hal itu dikarenakan terbelenggunya syetan secara hakiki pada kebanyakan waktu Romadlon, atau terbelenggu secara majazi, atau dengan kata lain tercegahnya syetan dari merusak dan menyesatkan kebanyakan manusia.
Hal itu tidaklah bertentangan dengan kenyataan yang kita lihat berupa masih banyaknya kemaksiatan, dosa-dosa besar, bahkan dosa terbesar yang diterjang oleh kebanyakan manusia pada bulan romadlon.
Dari dua hadist di atas pun kita bisa mengambil kesimpulan tentang diperbolehkannya mengatakan bulan Romadhon atau hanya Romadlon tanpa didahului dengan kata "bulan".
تفتح ابواب الجنة في أول ليلة من رمضان إلى آخر كل ليلة، وتغلق فيه أبواب النار وتصفد فيه مردة الشياطين ويبعث الله مناديا ينادي يا باغي الخير هلم هل من داع يستجاب له هل من مستغفر يغفر له هل من تائب يتاب عليه ولله عند وقت الفطر في كل ليلة من رمضان عتقاء يعتقهم من النار (رواه ابن صصرى في أماليه وابن النجار عن أنس رضي الله عنه)
"Pintu-pintu surga dibuka pada permulaan malam Romadlon sampai akhir tiap malam Romadlon, pintu-pintu neraka dikunci, Setan-setan dibelenggu, dan ALLOH mengutus orang yang mengumandangkan: Wahai orang yang mengharapkan kebaikan datanglah, adakah orang yang berdoa maka dikabulkan doa untuknya? Adakah orang yang beristighfar maka diampuninya? Adakah orang yang bertaubat maka diterima taubatnya?. Dan bagi ALLOH pada waktu berbuka tiap malam dari Romadlon terdapat orang-orang yang dimerdekakan dari neraka".
Dari hadits tersebut dapat diperoleh pemahaman tentang waktu keutamaan yang terdapat pada bulan Romadhon.
نعم الشهر شهر رمضان تفتح فيه أبواب الجنة وتغلق فيه أبواب النيران وتصفد فيه مردة الشياطين ويغفر فيه إلا من تأبى (رواه الخطيب وابن النجار عن أبي هريرة رضي الله عنه).
"Sebaik-baik bulan adalah bulan Romadhon, pada bulan itu dibuka pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan yang sombong dan congkak, serta diampuni kecuali orang yang enggan".
Yang dimaksud dengan orang yang enggan dari diampuninya dosa adalah orang-orang yang mencegah diri dan berpaling dari sebab-sebab diampuninya dosa.
أظلكم شهر رمضان هذا بمحلوف رسول الله صلى الله عليه وسلم ما مر على المسلمين شهر هو خير لهم منه ولا يأتي على المنافقين شهر هو شر لهم منه إن الله يكتب أجره وثوابه من قبل أن يدخل ويكتب وزره وشقاءه قبل أن يدخل (أخرجه أحمد والبيهقي عن أبي هريرة رضي الله عنه).
"Bulan Romadhon ini telah meliputi kalian, pada masa Rosulloh Shollallohu Alaihi wassalam. Tidaklah ada bulan yang datang kepada orang muslimin yang lebih baik untuk mereka dari padanya, dan tidaklah ada bulan yang lewat atas orang-orang munafik yang jelek dari pada bulan itu. Sesungguhnya ALLOH menulis pahala dan ganjarannya sebelum masuknya bulan Romadlon,dan menulis dosa dan balasannya sebelum masuknya bulan Romadlon".
Hal itu karena orang yang beriman menyiapkan diri dan hartanya untuk diinfaqkan sebagai kekuatan beribadah, sedangkan orang yang munafik menyiapkan diri untuk mencela dan mencari-cari kesalahan orang beriman. Sehingga bulan Romadlon menjadi sebuah keberuntungan bagi orang yang beriman dan sebagai siksaan bagi orang yang munafik.
أول شهر رمضان رحمة ووسطه مغفرة وآخره عتق من النار (رواه ابن ابي الدنيا والخطيب والديلمي وابن عساكر عن أبي هريرة رضي الله عنه)
"Permulaan bulan Romadlon itu Rahmat, pertengahannya maghfiroh dan akhirnya adalah kemerdekaan dari neraka".
Sedangkan orang yang dimerdekakan dari neraka adalah enam puluh ribu tiap malamnya, dan orang yang dimerdekakan pada akhir malam bulan Romadlon pada saat berbuka, yaitu malam 'Idlul Fithri, sejumlah 30 × 60.000= 1.800.000 orang.
Seperti disebutkan dalam hadits berikut.
...ولله تعالى عند كل فطر من شهر رمضان كل ليلة عتقاء من النار ستون ألفا فإذا كان يوم الفطر أعتق مثل ما أعتق في جميع الشهر ثلاثين مرة ستين ألفا (رواه البيهقي عن ابن مسعود رضي الله عنه)
Orang yang sholat pada malam harinya, akan dicatatkan baginya seribu lima ratus kebaikan tiap kali ia bersujud, dibangunkan sebuah rumah dari Yaqut merah di surga, yang didalamnya enam puluh ribu pintu, Setiap pintu tersebut terdapat istana dari emas yang dihiasi dengan Yaqut merah. Dan orang yang berpuasa pada awal romadlon, maka dosa-dosa yang telah lampau akan diampuni sampai hari yang sama pada bulan Romadlon, dimintakan ampunan oleh tujuh puluh ribu malaikat tiap hari mulai sholat pagi sampai terbenamnya matahari, dan mendapatkan suatu pahala berupa pohon yang besarnya ditempuh perjalanan lima ratus ribu tahun bagi tiap sujud yang dilakukan pada malam hari atau siang bulan Romadlon, seperti dalam hadits:
...وليس من عبد مؤمن يصلي في ليلة منها إلا كتب الله له ألفا وخمسمائة حسنة بكل سجدة وبنى له بيتا في الجنة من ياقوتة حمراء فإذا صام أول يوم من رمضان غفر له ما تقدم من ذنبه إلى مثل ذلك اليوم من شهر رمضان واستغفر له كل يوم سبعون ألف وملك من صلاة الغد إلى أن توارى بالحجاب-أي إلى غروب الشمس وكان له بكل سجدة يسجدها في شهر رمضان بليل أو نهار شجرة يسير الراكب في ظلها خمسمائة عام (أخرجه البيهقي عن أبي سعيد رضي الله عنه).
In Memoar Detik-Detik Wafatnya Hadlrotus_Syeikh KH. Hasyim Asy'ari Rois Akbar dan Pendiri NU
*السّلام عليكم والرّحمۃ والبركۃ*
Kepada seluruh umat muslimin-muslimat wa bilkhusus warga Nahdliyin.....
_Malam ini (7 Romadlon 1348H) adalah malam haul ke-72_ *Hadlorotus Syaikh KH. HASYIM ASY'ARI (Pendiri NU)*
Wafat. : *7 Ramadhan 1366 H*
Malam ini: *7 Ramadhan 1438 H*
(Genap ke-72 Haul Beliau)
*_Maka mari dg keikhlasan kita luangkan bersama2 kirim hadiyah minimal S.Alfatihah kepada Beliau....._*
*Lahu Al-Faaatihah..*
والسّلام عليكم والرحمۃ والبركۃ
*________________________*
*IN MEMOAR*
[ _ALMAGHFURLAH HADLOROTUS SYAIKH KH.HASYIM ASY'ARY_]
*Kisah Wafatnya Mbah Hasyim Asy’ari (Pendiri NU & Pejuang Kemerdekaan RI)*
Muslimedianews ~ Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H (14 Februari 1871 M) di Pesantren Gedang Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kyai Asy’ari dan Nyai Halimah.
Dalam buku ‘Profil Pesantren Tebuireng’ dan NU-Online, tertulis bahwa tanggal 3 Ramadhan 1366 H (21 Juli 1947 M) jam 9 malam Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari selesai mengimami shalat Tarawih. Sebagaimana biasanya beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian datanglah tamu utusan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo. Mbah Hasyim menemui utusan tersebut dengan didampingi Kyai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.
Sang tamu menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi 3 pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kyai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah:
1) Di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro dan Madiun.
2) Hadhratus Syaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh.
3) Jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kyai Hasyim.
Keesokan harinya Mbah Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan. Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Soedirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada Hadhratus Syaikh Kyai Hasyim. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kyai Hasyim mengeluarkan komando ‘jihad fi sabilillah’ bagi umat Islam Indonesia. Karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadhratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.
Tidak lama berselang, Mbah Hasyim mendapat laporan dari Kyai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa Kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu Mbah Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…” sambil memegang kepalanya, tapi hal ini ditafsirkan oleh Kyai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk.
Akhirnya para tamu pun pamit keluar, tetapi Mbah Hasyim tetap diam tidak menjawab. Sehingga Kyai Ghufron mendekat ke Mbah Hasyim, dan meminta kedua tamu tersebut meninggalkan tempat. Tak lama kemudian Kyai Ghufron baru menyadari bahwa Mbah Hasyim tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Mbah Hasyim.
Kala itu putra-putri Mbah Hasyim sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Semisal Kyai Yusuf Hasyim yang waktu itu sedang berada di markas tentara pejuang, kemudian dapat hadir dan mendatangkan seorang dokter, yakni dr. Angka Nitisastro.
Setelah diperiksa, barulah diketahui bahwa Mbah Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain. Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari akhirnya wafat pada waktu sahur (pukul 03.00 dini hari) tanggal 07 Ramadhan 1366 H (25 Juli 1947).
Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan 3 fatwanya yang sangat penting, yakni:
1. Perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia.
2. Kaum Muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda.
3. Kaum Muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah Belanda.
Maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.
Sedikit berbeda dengan kutipan di atas, Kyai Sanusi Lebaksiu Tegal yang merupakan santri Mbah Hasyim Asy’ari menuturkan bahwa menjelang wafat sang gurunya itu dirinya sedang turut mengaji. Seperti tidak terjadi apa-apa, sebagaimana laiknya orang yang sehat, Mbah Hasyim mengajar sebuah kitab di hadapan para santrinya. Hal tersebut merupakan rutinitas Mbah Hasyim setiap ba’da Shubuh.
Sebagai salah satu saksi mata, Kyai Sanusi menyaksikan tatkala Mbah Hasyim sedang membacakan kitab tiba-tiba terdiam menundukkan kepalanya. Para santri mengira beliau hanya sedang mengantuk. Tapi setelah salah seorang santrinya mendekat (mungkin Kyai Ghufron, sebagaimana kutipan di atas) dan memastikan keadaan Mbah Hasyim, ternyata nyawa gurunya itu telah tiada. Sontak saja para santri yang saat itu sedang mengaji geger bercampur duka yang mendalam. Guru yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, kabar kewafatan Pendiri NU dan Ponpes. Tebuireng itu pun dengan cepat tersiar ke berbagai penjuru tanah air.
Rasa bela sungkawa yang amat dalam datang dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU dan terlebih para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini terbaring di pusara beliau di tengah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Pada saat mengantar kepergiannya, sahabat sekaligus saudara beliau, KH. A. Wahab Hasbullah, sempat mengemukakan kata sambutan. Inti dari sambutan Mbah Wahab adalah menjelaskan tentang prinsip hidup Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, diantaranya: _“Berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder istirahat.”_
*Lahu ALFAATIHAH...*
Kepada seluruh umat muslimin-muslimat wa bilkhusus warga Nahdliyin.....
_Malam ini (7 Romadlon 1348H) adalah malam haul ke-72_ *Hadlorotus Syaikh KH. HASYIM ASY'ARI (Pendiri NU)*
Wafat. : *7 Ramadhan 1366 H*
Malam ini: *7 Ramadhan 1438 H*
(Genap ke-72 Haul Beliau)
*_Maka mari dg keikhlasan kita luangkan bersama2 kirim hadiyah minimal S.Alfatihah kepada Beliau....._*
*Lahu Al-Faaatihah..*
والسّلام عليكم والرحمۃ والبركۃ
*________________________*
*IN MEMOAR*
[ _ALMAGHFURLAH HADLOROTUS SYAIKH KH.HASYIM ASY'ARY_]
*Kisah Wafatnya Mbah Hasyim Asy’ari (Pendiri NU & Pejuang Kemerdekaan RI)*
Muslimedianews ~ Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H (14 Februari 1871 M) di Pesantren Gedang Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kyai Asy’ari dan Nyai Halimah.
Dalam buku ‘Profil Pesantren Tebuireng’ dan NU-Online, tertulis bahwa tanggal 3 Ramadhan 1366 H (21 Juli 1947 M) jam 9 malam Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari selesai mengimami shalat Tarawih. Sebagaimana biasanya beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian datanglah tamu utusan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo. Mbah Hasyim menemui utusan tersebut dengan didampingi Kyai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.
Sang tamu menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi 3 pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kyai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah:
1) Di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro dan Madiun.
2) Hadhratus Syaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh.
3) Jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kyai Hasyim.
Keesokan harinya Mbah Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan. Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Soedirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada Hadhratus Syaikh Kyai Hasyim. Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kyai Hasyim mengeluarkan komando ‘jihad fi sabilillah’ bagi umat Islam Indonesia. Karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadhratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.
Tidak lama berselang, Mbah Hasyim mendapat laporan dari Kyai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa Kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu Mbah Hasyim berujar: “Masya Allah, masya Allah…” sambil memegang kepalanya, tapi hal ini ditafsirkan oleh Kyai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk.
Akhirnya para tamu pun pamit keluar, tetapi Mbah Hasyim tetap diam tidak menjawab. Sehingga Kyai Ghufron mendekat ke Mbah Hasyim, dan meminta kedua tamu tersebut meninggalkan tempat. Tak lama kemudian Kyai Ghufron baru menyadari bahwa Mbah Hasyim tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Mbah Hasyim.
Kala itu putra-putri Mbah Hasyim sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Semisal Kyai Yusuf Hasyim yang waktu itu sedang berada di markas tentara pejuang, kemudian dapat hadir dan mendatangkan seorang dokter, yakni dr. Angka Nitisastro.
Setelah diperiksa, barulah diketahui bahwa Mbah Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain. Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari akhirnya wafat pada waktu sahur (pukul 03.00 dini hari) tanggal 07 Ramadhan 1366 H (25 Juli 1947).
Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan 3 fatwanya yang sangat penting, yakni:
1. Perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia.
2. Kaum Muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda.
3. Kaum Muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah Belanda.
Maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.
Sedikit berbeda dengan kutipan di atas, Kyai Sanusi Lebaksiu Tegal yang merupakan santri Mbah Hasyim Asy’ari menuturkan bahwa menjelang wafat sang gurunya itu dirinya sedang turut mengaji. Seperti tidak terjadi apa-apa, sebagaimana laiknya orang yang sehat, Mbah Hasyim mengajar sebuah kitab di hadapan para santrinya. Hal tersebut merupakan rutinitas Mbah Hasyim setiap ba’da Shubuh.
Sebagai salah satu saksi mata, Kyai Sanusi menyaksikan tatkala Mbah Hasyim sedang membacakan kitab tiba-tiba terdiam menundukkan kepalanya. Para santri mengira beliau hanya sedang mengantuk. Tapi setelah salah seorang santrinya mendekat (mungkin Kyai Ghufron, sebagaimana kutipan di atas) dan memastikan keadaan Mbah Hasyim, ternyata nyawa gurunya itu telah tiada. Sontak saja para santri yang saat itu sedang mengaji geger bercampur duka yang mendalam. Guru yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, kabar kewafatan Pendiri NU dan Ponpes. Tebuireng itu pun dengan cepat tersiar ke berbagai penjuru tanah air.
Rasa bela sungkawa yang amat dalam datang dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU dan terlebih para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini terbaring di pusara beliau di tengah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Pada saat mengantar kepergiannya, sahabat sekaligus saudara beliau, KH. A. Wahab Hasbullah, sempat mengemukakan kata sambutan. Inti dari sambutan Mbah Wahab adalah menjelaskan tentang prinsip hidup Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, diantaranya: _“Berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder istirahat.”_
*Lahu ALFAATIHAH...*
Detik-Detik Wafatnya Siti Khodijah Al-Kubro Istri Tercinta Rosululloh SAW pada Hari Ke-11 Romadlon Tahun 10 Kenabian
*Detik-Detik Wafatnya Siti Khodijah Al-Kubro Istri Tercinta Rosululloh SAW Yang Wafat Pada Hari Ke-11 Bulan Romadlon Tahun Ke-10 Kenabian...Al-Fatihah....*
=====<======<======
Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.
Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.
*PERMINTAAN TERAKHIR*
Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,
Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.
Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung da'wah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah
Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,
Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.
Mendengar itu Rasulullah bersabda,
Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.
Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.
*KAIN KAFAN DARI ALLAH*
Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,
Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?
Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?
Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan, sahut Jibril.
Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,
Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.
"Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.
"Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?
Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.
Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.
Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.
Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.
Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?
Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulallah!
*PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP*
Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,
Wahai Khadijah tetaplah kamu di tempatmu.
Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah.
Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.
Wahai Khadijah. Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?� tanya Rasulullah dengan lembut.
Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis
Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.
"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.
"Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.
"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.
Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.
Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah...
========
Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani RA. Al-Fatihah...
Diposting oleh🙏🏻 Abdul Hamid Mudjib Hamid Al-Ishaqy🙏🏻
=====<======<======
Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.
Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.
*PERMINTAAN TERAKHIR*
Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,
Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.
Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung da'wah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah
Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,
Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.
Mendengar itu Rasulullah bersabda,
Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.
Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.
*KAIN KAFAN DARI ALLAH*
Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,
Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?
Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?
Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan, sahut Jibril.
Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,
Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.
"Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.
"Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?
Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.
Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.
Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.
Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.
Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?
Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulallah!
*PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP*
Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,
Wahai Khadijah tetaplah kamu di tempatmu.
Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah.
Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.
Wahai Khadijah. Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?� tanya Rasulullah dengan lembut.
Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis
Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.
"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.
"Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.
"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.
Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.
Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah...
========
Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani RA. Al-Fatihah...
Diposting oleh🙏🏻 Abdul Hamid Mudjib Hamid Al-Ishaqy🙏🏻
Langganan:
Postingan (Atom)