ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 03 Agustus 2018

FENOMENA GELAR HABIB { HABAIB } Bersama Dr Alwi Shihab.



FENOMENA GELAR HABIB { HABAIB }

Bersama Dr Alwi Shihab.

Disaat "Gelar Habib" Mulai Populer, Quraish Shihab Sekeluarga Memilih Melepas Gelar ini

Tak sembarang orang bisa jadi habib. Ini bukan gelar yang datang dari langit atau karena menang lotre. Habib ialah gelar yang disematkan kepada orang-orang yang punya pertalian darah, yang memiliki garis keturunan, dengan Nabi Muhammad. Bahkan tak cuma itu.

Secara harfiah, habib berarti “orang yang mencintai.” Meskipun demikian, menjadi habib tidak sesederhana arti harfiahnya.
“Pengertiannya bukan hanya orang yang mencintai, tapi termasuk orang yang dicintai, alias jadi Al-Mahbub,” kata Habib Ahmad Muhammad bin Alatas, Ketua Maktab Nasab Rabithah Alawiyah --organisasi pencatat silsilah habib di Indonesia.

Menjadi habib bukan perkara mudah. Ada kriteria dan mekanisme yang harus dipenuhi. Mereka mesti menyerahkan daftar silsilah turunan Rasul hingga tujuh tangga keluarga ke atas. Berbagai syarat administrasi pun wajib dipenuhi. Semua itu diatur oleh Rabithah Alawiyah.

Habib, di kalangan Arab-Indonesia, lebih menjadi titel kebangsawanan orang-orang Timur Tengah kerabat Nabi Muhammad SAW --dari keturunan putri Rasulullah, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib.

Menjadi habib di Indonesia menjamin derajat tersendiri di tengah masyarakat. Imej sebagai keturunan Nabi masih menjadi hal istimewa di negara berpenduduk muslim terbesar ini.

Meski demikian, tak semua memandangnya jadi hal utama. Contohnya Quraish Shihab.

Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya punya semua persyaratan untuk menjadi seorang habib.

Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan.
Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib.

Kenapa ?????

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni, kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya.

Singkatnya, gelar habib di Indonesia menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.”

Maka ia bersikukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus.
Quraish juga enggan menyandang gelar kiai. Terlebih sang ayah, Habib Abdurrahman, mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak menonjolkan gelar apapun, apalagi yang berasal dari garis keturunan.

Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat
Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan
Keluarga besar Shihab pun demikian. Alwi Shihab dan Umar Shihab, kedua adik Quraish Shihab, juga memilih untuk tidak menggunakan gelar habib.

Alwi mengkhawatirkan adanya fenomena kemunculan habib-habib yang tidak sesuai dengan aturan dan tidak mencerminkan akhlak seorang yang pantas dipanggil habib. Alwi menyebutnya sebagai “inflasi habib,” di mana jumlah habib yang bertambah justru menjadikan nilai mereka turun.

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun
dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat*
Ketiga bersaudara itu sepakat hanya memakai sebutan habib untuk kakek mereka, Habib Ali bin Abdurrahman. Sebab, menurut Quraish, cinta sang kakek demikian besar kepada cucu-cucunya.

Maka habib, yang berarti orang yang mencintai, dirasa Quraish sudah tepat untuk kakeknya yang kelahiran Yaman itu.
Lantas Quraish lebih suka dipanggil bagaimana?
“Udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustaz saja,” ucapnya tersenyum.
Ustaz berarti “guru,” dan Quraish yang mantan rektor IAIN tak keberatan menjadi sosok yang berbagi ilmu.

Sumber : nu.or.id

GURU SYAIKHONA KH.MBAH KHOLIL AL-BANGKALANY RA: {Copas Dari Group WA Madura}:




*GURU SYAIKHONA KH.MBAH KHOLIL AL-BANGKALANY RA:* {Copas Dari Group WA Madura}:
================

Ketika Syaikhona Kholil masih sangat kecil, bahkan masih belum baligh beliau pernah diajak ayahandanya, Kiai Abdul Lathif, untuk bersilaturrohmi ke Pasuruan, ke tempat pesantren sahabat ayah beliau yang bernama Sayid Abu Dzarrin yang belakangan masyhur dengan julukan Sayid Tugu atau Mbah Tugu.
Sayid Abu Dzarrin kala itu adalah sosok ulama yang berasal dari Cirebon dan menetap di Karangsono, Winongan, Pasuruan. Beliau mendirikan sebuah pesantren di desa itu. Beliau sangat alim, zuhud, dan waro'. Konon di pesantren beliau, bukan para manusia saja yang menuntut ilmu disana, namun banyak juga para jin yang ngaji di sana.

Saat Syaikhona Kholil kecil dan ayahandanya sampai di rumah Sayid Abu Dzarrin di Karangsono, Pasuruan, mereka disambut dengan sangat hangat, saling ngobrol dan sesekali ada canda. Sedangkan Kholil kecil seperti layaknya anak yang masih kecil bermain di luar. Namun tiba-tiba Sayid Abu Dzarrin minta izin kepada Kiai Abdul Lathif, ayah Kholil kecil, untuk mengajaknya ke dalam rumah sebentar. Diajaklah dia ke suatu tempat.
Memang Sayid Abu Dzarrin adalah seorang wali Allah yang kasyaf, yang mengetahui tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh orang biasa. Beliau telah lama melihat bahwa Kholil kecil adalah sosok yang akan menjadi orang besar dan menjadi wali Allah. Alkisah, saat pertemuan berdua itu, beliau memegang dada Kholil kecil sambil berdoa yang entah apa yang beliau baca. Setelah itu beliau berkata kepada si Kholil kecil. "Kamu nanti kalau sudah besar main lagi ke sini ya, aku tunggu". kata Sayid Abu Dzarrin. "Inggih". jawab Kholil.

Tapi yang namanya anak kecil, dia anggap peristiwa tadi itu, tidak ada istimewanya sama sekali. Yang dia inginkan ya cuma bermain dan bermain saja. Maklum, masih kecil. Karena sudah cukup lama berada di rumah Sayid Abu Dzarrin, akhirnya tibalah waktunya berpamitan. Kholil kecil dan ayahnya pun pamit pulang. Namun mereka tidak langsung pulang, mereka meneruskan perjalanan silaturrohmi ke ulama-ulama lainnya. Harapan sang ayah adalah agar Kholil kecil ini nantinya mendapat berkah dari para kiai-kiai yang disowaninya (meskipun sang ayahanda, Kiai Abdul Lathif, juga termasuk sosok ulama besar yang sangat disegani).

Menurut beberapa sumber, silaturrohmi pun berlanjut hingga sampai ke Jawa Tengah. Kurang tahu persisnya di daerah mana. Di Jawa Tengah mereka mampir ke rumah seorang Kiai yang masih ada pertalian saudara. Seperti biasanya, mereka pun saling ngobrol dan canda untuk melepas kangen. Di tengah-tengah berbincang serius, tibalah waktu sholat dhuhur. Akhirnya mereka pun melaksanakan sholat berjama'ah termasuk si Kholil kecil. Yang menjadi imam saat itu adalah tuan rumah. Namun aneh, ketika di tengah-tengah sholat, Kholil yang masih kecil itu tiba-tiba tidak meneruskan sholatnya. Dia cuma duduk saja dan memandangi tuan rumah yang masih sibuk menjadi imam sholat.
Setelah sholat selesai sang ayah dan tuan rumah merasa heran. Mereka bertanya kenapa Kholil kecil tidak mengikuti sholat berjama'ah hingga selesai?.. dengan entengnya Kholil menjawab: "Lha saya heran dengan imamnya itu. Sholat kok sambil bawa sayuran di pundaknya".

Mendengar jawaban seperti itu, kontan sang ayah marah dan merasa malu sama tuan rumah. Bagaimana tidak, kenyataan yang ada adalah, sang imam tidak membawa apapun di pundaknya. Tapi tuan rumah melarang ayah Kholil memarahi anaknya, malah tuan rumah itu berkata: "Sudah sudah.. anak anda tidak salah, memang saya yang salah. Sholat itu mestinya menghadap Allah, lha kok malah saya ingat dagangan sayur saya, itu namanya sholat yang tidak khusyu'".
Luar biasa.. Kholil yang masih sekecil itu bisa mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu. Itulah karomah beliau di kala masih kecil. Sang ayah pun heran, dia bertanya pada anaknya yang masih lugu itu:
"Kholil.. siapa yg mengajari kamu, hingga kamu bisa seperti itu?"..
Dengan polosnya ia menjawab:
"Mbah Yai"..
"Mbah yai yg mana?"..
"Mbah Yai yang di Pasuruan yang kemarin kita ke sana"..
"Kiai Abu Dzarrin Itu?"..
"Inggih"..
*****

Singkat cerita, Kholil kecil sekarang sudah dewasa, beliau sangat tekun dalam mencari ilmu di beberapa pondok pesantren. Beliau telah lupa dengan kejadian luar biasa yang beliau alami saat di Pasuruan dulu. Berkat ketekunan dalam hal mencari ilmu, beliau akhirnya menjadi sosok pemuda yang disegani karena kealimannya. Beliau senang sekali mengikuti bahtsul masa-il yang diadakan dimanapun, apalagi kalau ngobrol tentang kitab-kitab atau hukum-hukum syar'i pasti beliau sangat betah sekali. Beliau sudah merasakan manisnya rasa beribadah dan menuntut ilmu.

Meskipun beliau sudah nyantri ke beberapa kiai alim dalam waktu yang tidak sebentar, hingga ukuran ilmu yang beliau peroleh sebenarnya sudah sangat mencukupi untuk diajarkan, namun beliau ibarat orang yang selalu haus akan tetesan air yang segar saat berada di tengah padang pasir. Begitu juga di dalam masalah belajar dan tabarruk, beliau masih merasa haus akan dua hal itu.
Hingga suatu ketika, beliau mendengar tentang seorang ulama besar yang sangat alim di daerah Banten yang bernama Kiai Nawawi. Sebenarnya Kiai Nawawi tidak berada di Banten, tempat kelahirannya, namun beliau sudah menetap dan berda'wah di kota Makkah Al Mukarromah. Kealiman dan kezuhudan Kiai Nawawi sudah terdengar di seluruh penjuru Indonesia, hingga saking seringnya Kiai Kholil mendengar tentang Kiai Nawawi, maka niat dan tekad beliau untuk berguru pada Kiai Nawawi tak bisa dibendung lagi. Beliau dengan sabar menunggu kedatangan Kiai Nawawi pulang ke Banten. Memang biasanya Kiai Nawawi juga pulang ke Banten, entah itu 2 tahun sekali atau lebih, meski cuma sebentar.
Kiai Nawawi sendiri adalah salah satu kekasih Allah yang di kehidupan beliau selalu dipenuhi dengan kemuliaan dan karomah. Terbukti saat beliau masih berada di kota Makkah, beliau tahu dengan apa yang diinginkan oleh Kiai Kholil yang ada di Madura pada saat itu. Segera beliau berangkat pulang ke Banten dengan waktu perjalanan yang tak seperti biasanya, seperti yang dilakukan oleh Syekh Abul Qois Al Haroni, seorang wali dari Turki yang tiap habis berjama'ah shubuh di Turki lalu mengajar di Madinah Al Munawwaroh, dan pulang lagi ke Turki sebelum matahari terbit.
Jika Allah yang berkehendak pada Kiai Nawawi seperti halnya pada Syekh Al Haroni tadi, maka tidak perlu waktu lama untuk menempuh perjalanan dari Makkah ke Banten. Sesampainya Kiai Nawawi di Banten, banyak yang gembira atas kepulangan beliau, banyak yang sowan. Berita kepulangan beliau pun segera menyebar ke seluruh tanah Jawa dan Madura.

Begitu senangnya hati Kiai Kholil mendengar hal itu. Segera beliau bersiap-siap menempuh perjalanan ke Banten. Ketika Kiai Nawawi mengetahui bahwa Kiai Kholil akan berkunjung ke Banten, beliau hanya tersenyum dan segera beliau bersiap-siap kembali ke Makkah agar Kiai Kholil tidak bisa menemuinya. Beliau berpesan pada salah satu keluarganya:
"Jika ada pemuda yang bernama Kholil datang, bilang saja saya sudah kembali ke Makkah.. dan tolong hal ini jangan kau ceritakan pada siapapun juga, karena ini adalah urusan saya dgn kiai muda itu (Kiai Kholil )".

Ternyata Kiai Nawawi memang benar-benar kembali ke Makkah. Akhirnya sampailah Kiai Kholil muda itu di rumah Kiai Nawawi. Begitu kecewanya beliau karena tidak bisa bertemu dengan Kiai Nawawi yang sangat beliau harapkan barokah dan nasehatnya. Beliau sangat ingin belajar pada Kiai Nawawi meski cuma sebentar. Rasa capek tidak beliau rasakan, tekadnya untuk belajar ke Kiai Nawawi tidak surut malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya Kiai Kholil pun berencana menyusul Kiai Nawawi ke Makkah.

Adapun Kiai Nawawi yang sudah berada di Makkah, ketika tahu bahwa Kiai Kholil muda akan menyusul dirinya ke Makkah, beliau mengajar seperti biasanya di salah satu daerah di Makkah sambil menunggu kedatangan Kiai Kholil muda itu. Akhirnya tiba saatnya Kiai Kholil berangkat ke Makkah dengan membawa bekal secukupnya yang bisa beliau bawa. Meskipun sangat lama perjalanan menuju Makkah, namun semua itu terkalahkan oleh tekad dan niat beliau untuk belajar ke Kiai Nawawi. Itulah gambaran sosok Kiai Kholil yang tidak pernah merasa cukup dan puas dengan ilmu agama yang sudah didapat di beberapa pesantren, beliau masih tetap ingin belajar dan belajar terus.

Tibalah Kiai Kholil di Tanah Suci, terlebih dulu beliau datang ke Masjidil Harom, yang di dalamnya terdapat Ka'bah yang mulia. Belum jelas sejarah mencatat apakah ketika beliau datang ke Makkah untuk mencari Kiai Nawawi itu adalah yang pertama kali atau yang kedua kali. Kemudian beliau pun mencari tempat di mana biasanya Kiai Nawawi mengajar. Dalam waktu yang tak seberapa lama, akhirnya ketemulah tempat Kiai Nawawi itu. Namun apa yg terjadi?..

Ketika ditanyakan.. Memang betul rumah itu adalah tempat Kiai Nawawi muqim dan mengajar, namun sudah 2 hari yang lalu beliau berangkat pulang ke Indonesia (Banten). Pasti bisa kita rasakan bagaimana perasaan beliau saat itu..

Meskipun tidak bertemu dengan Kiai Nawawi, Kiai Kholil tidak langsung pulang karena beliau harus melaksanakan ibadah haji dulu. Musim haji pun telah usai, dan Kiai Kholil berangkat pulang ke negerinya lagi. Namun untuk kepulangan beliau yang ini, Allah SWT memberikan satu karomah kepada beliau, yaitu entah bagaimana kisahnya, yang jelas perjalanan beliau menuju ke Indonesia berlangsung sangat singkat dan cepat. Kita pasti mengerti akan hal itu, jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil untuk terjadi, walaupun semuanya ada di luar jangkauan akal kita.

Kiai Kholil akhirnya sampai di Indonesia. Singkat cerita.. Setelah beliau selesai menerima tamu-tamu yang menyambut kedatangan beliau dari tanah suci, maka niat untuk menemui Kiai Nawawi beliau teruskan lagi. Berangkatlah beliau menuju ke Banten untuk yang kedua kalinya. Susah payah dalam perjalanan itu tidak beliau hiraukan. Akhirnya sampailah Kiai Kholil di rumah Kiai Nawawi.
Ada yang berbeda kali ini, yaitu Kiai Nawawi sengaja menunggu kedatangan Kiai Kholil dan akan menemuinya. Tidak seperti sebelumnya, di mana beliau selalu menghindar agar Kiai Kholil tak bisa menemui dirinya. Pastilah itu semua ada tujuan dan maksud tertentu, dan Allah lah yang mengatur semua perjalanan para "kekasihNya".

Pertemuan pun akhirnya terjadi. Bahagia sekali hati Kiai Kholil bisa berhadapan langsung dengan Kiai Nawawi pada saat itu. Kiai Kholil sungkem di hadapan beliau. Kemudian saling ngobrol pun berlangsung:

"Sampean dari mana Gus?", tanya Kiai Nawawi.
"Saya dari Madura, Yai", jawab Kiai Kholil.
"Kira-kira ada keperluan apa ya Gus?"..
Kiai Kholil pun menjelaskan tujuan beliau yang ingin menimba ilmu kepada beliau dengan bahasa yang sangat santun yang mencerminkan bahwa Kiai Kholil nantinya adalah bukan orang sembarangan.
Kiai Nawawi pun mengerti akan maksud Kiai Kholil itu. Beliau pun berkata: "Lho.. kenapa sampean datang jauh-jauh ke sini untuk menimba ilmu kepada saya?.. Bukankah di dekat daerah sampean terdapat seseorang yang sangat alim, sangat zuhud dan sangat waro'nya?.. Kenapa sampean tidak menimba ilmu pada beliau saja?", kata Kiai Nawawi.
"Ngapunten (maaf) Yai.. Siapakah orang yang Yai maksud tadi?", tanya Kiai Kholil penasaran.
"Lha itu.. Kiai yang ada di Pasuruan itu.. Bukankah saat sampean masih kecil dulu sudah pernah ke sana?.. dan bukankah Kiai itu dulu pernah bilang kepada sampean agar sampean datang ke sana lagi jika sudah besar?", jawab Kiai Nawawi.

Jawaban Kiai Nawawi itu membuat beliau membuka kembali kenangan masa kecil dulu. Beliau teringat saat diajak ayahandanya bersilaturrohmi ke tempat seorang Kiai yang bernama Sayid Abu Dzarrin. Namun dalam hati Kiai Kholil masih ragu, apakah Kiai Abu Dzarrin itu yang dimaksud oleh Kiai Nawawi?..
"Nah, sudah ingat kan?.. iya betul.. nama beliau Kiai Abu Dzarrin.. Sampean sudah lama ditunggu oleh beliau.. segeralah ke Pasuruan dekat desa Karangsono itu!", kata Kiai Nawawi sebelum Kiai Kholil menanyakan siapa Kiai yg beliau maksudkan itu.

Kiai Kholil menyesal kenapa beliau sampai lupa dengan peristiwa yang beliau alami bersama Kiai Abu Dzarrin dulu?..bukankah Kiai itu memang sudah berpesan agar beliau menemuinya lagi di saat dirinya sudah dewasa?.. Dan beliau juga semakin yakin bahwa Kiai Nawawi adalah benar-benar seorang kekasih Allah. Dari mana beliau tahu sedetail itu tentang peristiwa yang beliau alami dulu bersama Kyai Abu Dzarrin?..
Akhirnya.. Kiai Kholil pun menuruti anjuran Kiai Nawawi agar kembali ke Jawa Timur dan menemui Kiai Abu Dzarrin di Pasuruan. Ada hal yang menarik dalam kisah ini.. Sebenarnya Sayid Abu Dzarrin sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu. Kiai Nawawi pun sudah tahu akan hal itu, namun Kiai Kholil belum mengetahuinya, dan rupanya Kiai Nawawi sengaja tidak memberi tahu beliau tentang hal itu. Dengan tekad yang sangat kuat, akhirnya beliau menuju ke Pasuruan ke tempat Kiai Abu Dzarrin.

Nah.. sekarang timbul pertanyaan.. logika apa yang akan kita pakai, jika ada seseorang yang masih hidup, akan menemui bahkan belajar kepada orang yang nyata-nyata sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu?..Sekali lagi jawabannya adalah.. Allah lah yang mengatur dan menghendaki semua itu, dan tidak ada sesuatu pun yang sulit bagiNya.

Setelah sampai di Pasuruan, beliau pun menanyakan tempat Kiai Abu Dzarrin. Sudah lama sekali beliau tidak kembali ke tempat itu sehingga sekarang beliau lupa tempatnya. Sedangkan tiap orang yang beliau tanya dimana tempat Kiai Abu Dzarrin, mereka menyangka bahwa yang beliau tanyakan adalah tempat kubur (pesarean) beliau. Mereka pun menunjukkan tempat kubur Kiai Abu Dzarrin itu, namun bagi Kiai Kholil yang mereka tunjukkan adalah rumah Kyai Abu Dzarrin, bukan kuburnya.

Setelah beliau sampai di tempat Kiai Abu Dzarrin, subhanallah.. benar-benar Kiai Kholil ditemui oleh beliau, seakan-akan Kiai Abu Dzarrin itu benar-benar masih hidup. Tidak jelas seperti apa proses belajar Kiai Kholil di tempat Kiai Abu Dzarrin saat itu, yang jelas.. hingga kini di makam Kiai Abu Dzarrin terdapat sebuah tulisan di dinding yang menceritakan tentang pertemuan dan belajarnya Kiai Kholil bersama Kiai Abu Dzarrin At Tuqo (Kiai Tugu), dan peristiwa itu sudah menjadi sebuah kisah yang selalu disampaikan disaat acara haul akbar Sayid Abu Dzarrin di Pasuruan yang biasanya diselenggarakan pada tanggal 16 Syawwal tiap tahunnya. Bahkan hingga kini dari pihak anak cucu Kiai Kholil selalu mengirimi beras ke Pasuruan untuk acara haul tersebut.

Al-Fatihah....


Kamis, 02 Agustus 2018

CUCU SYAIKH NAWAWI BANTEN DARI JALUR TRAH SIDOARJO






 3 CUCU SYAIKH NAWAWI BANTEN DARI JALUR TRAH SIDOARJO


0
107
Oleh: A. Ginanjar Sya’ban
Ini adalah foto tiga orang cucu Syaikh Nawawi Banten dari jalur Sidoarjo. Zahra, salah satu putri Syaikh Nawawi, menikah dengan Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub asal Siwalan Panji (Sidoarjo/ Surabaya). Dari pernikahan Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub dengan Nyai Zahra b. Nawawi itu, lahirlah empat orang putra, yaitu Ahmad b. Abdul Muhith, Abdurrahman b. Abdul Muhith, Shadaqah b. Abdul Muhith, dan Abdul Muntaqim b. Abdul Muhith.
Tiga sosok pada foto di atas sendiri adalah (dari kiri ke kanan): Ahmad b. Abdul Muhith, Abdurrahman b. Abdul Muhith, Shadaqah b. Abdul Muhith. KH. Ahmad b. Abdul Muhith pulang ke Surabaya, menjadi menantu dari KH. Nur Fadhil Sukolilo (Surabaya) sekaligus menjadi imam besar Masjid Sunan Ampel Surabaya, untuk kemudian pulang ke tempat asal leluhurnya di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Adapun Syaikh Abduurahman b. Abdul Muhith, beliau menetap di Jeddah. Sementara Syaikh Shadaqah b. Abdul Muhith menetap di Makkah dan menjadi pengajar di Madrasah Darul Ulum. Syaikh Abdurrahman dan Syaikh Shadaqah ini menjadi warga negara Saudi Arabia hingga wafatnya.
Sang ayah, yaitu Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub, tercatat sebagai salah satu pengajar di Masjidil Haram Makkah sejak awal abad ke-20 M. Data ini saya dapatkan dalam kitab “Sejarah Perjuangan Kiyai Abdul Wahhab [Hasbullah]” (berbahasa Melayu aksara Pegon) karya KH. Abdul Halim Leuwimunding. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa ketika KH. Abdul Halim (Leuwimunding) bersama-sama dengan senior-gurunya KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras) berada di Makkah pada tahun 1913, keduanya belajar kepada Syaikh Abdul Muhith (Sidoarjo). Jika demikian, Syaikh Abdul Muhith berarti “menangi” Syaikh Abdul Hamid Kudus (w. 1916), Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920), Syaikh Mukhtar Bogor (w. 1930), dan ulama asal Nusantara lainnya yang mengajar di Makkah pada awal abad ke-20 M.
Biografi Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub sendiri termuat dalam kitab berbahasa Arab berjudul “Natsr al-Jawâhir wa al-Durar fî Tarâjim ‘Ulamâ al-Qarn al-Râbi’ ‘Asyar” karangan Dr. Yûsuf al-Mar’asylî, juga dalam kitab “Tasynîf al-Asmâ’” karangan Syaikh Mamdûh al-Mashrî. Beberapa ulama besar Nusantara banyak yang menjadi murid Syaikh Abdul Muhith semasa mereka belajar di Makkah pada awal abad ke-20. Dalam dua kitab itu, Syaikh Abdul Muhith b. Ya’qub disebutkan wafat pada tahun 1384 Hijri (1964 Masehi).
Saya mendapatkan foto tiga cucu Syaikh Nawawi tersebut dari dua sumber yang berbeda. Pertama, foto KH. Ahmad b. Abdul Muhith dan Syaikh Abdurrahman b. Abdul Muhith, saya mendapatkannya dari buku berjudul “Sejarah Pujangga Islam: Syech Nawawi Albanteni” karya Sayyid Chaidar Dachlan (Lasem, Jawa Tengah). Buku tersebut ditulis tahun 1975-8 dan diterbitkan tiga tahun kemudian (1978) oleh Penerbit Sarana Utama (Jakarta). Dua foto tersebut diambil pada tahun 1976. Adapun foto ketiga, penulis mendapatkannya dari laman Pesantren Siwalan Panji.
Buku karya Dachlan tersebut kemungkinan besar adalah buku berbahasa Melayu-Indonesia pertama yang ditulis dan mengkaji riwayat hidup Syaikh Nawawi Banten. Riset penulisan buku tersebut dilakukan secara langsung terjun ke lapangan, menggali informasi dan data sedalam-dalamnya dari sumber-sumber terdekat Syaikh Nawawi Banten, baik di Banten (Jawa Barat), Surabaya dan Pasuruan (Jawa Timur), bahkan hingga ke Makkah dan Jeddah (Saudi Arabia). Karena itu, informasi dan data yang dihimpun buku tersebut sangat langka dan kaya, terutama galeri foto-foto yang disuguhkannya.
Chaidar Dachlan sendiri merupakan kerabat dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (w. 1885), mufti agung madzhab Syafi’i di Makkah yang menjadi salah satu guru utama Syaikh Nawawi Banten. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan memiliki adik bernama Sayyid Shadaqah Zaini Dahlan, yang kemudian mempunyai dua orang anak yaitu Abdullah dan Hasan Shadaqah Dahlan. Keduanya eksil (hijrah) dari Makkah dan memilih menetap di Nusantara hingga akhir hayat mereka. Abdullah Shadaqah Dahlan menetap di Karang Pawitan, Ciparay, Garut (Jawa Barat), sementara Hasan Shadaqah Dahlan menetap di Lasem, Rembang (Jawa Tengah). Hasan Shadaqah Dahlan ini menikah dengan putri Syaikh Hamzah Syatha, kerabat dari Syaikh Abu Bakar Muhammad Syatha (pengarang kitab I’ânah al-Thâlibîn Hâsyiah ‘alâ Fath al-Mu’în, w. 1889), yang juga eksil dari Makkah dan menetap di Sedan, Rembang. Hasan Shadaqah Dahlan ini menurunkan anak Chaidar b. Hasan b. Shadaqah b. Zaini Dahlan (dikenal dengan Chaidar Dachlan atau Sayyid Chaidar). Beliau adalah santri dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng (Jombang) dan KH. Maksum Lasem (Rembang).
Bogor, Agustus 2018
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban
Sumber: 
https://jaringansantri.com/foto-3-cucu-syaikh-nawawi-banten-dari-jalur-trah-sidoarjo/

Ponpes Tertua Sidoarjo 
Pondok Pesantren Siwalanpanji Keturunan nya Menikah sama Putri Syaikh Nawawi Al Bantani
(Nyai Zahra)

PASCA FORUM IJTIMA' ULAMA' YANG MEMBINGUNGKAN:



PASCA FORUM IJTIMA' ULAMA' YANG MEMBINGUNGKAN:

Ijtima' Ulama yang dihadiri ratusan Ulama dan cendekiawan muslim itu berjalan lancar dan menggelegar. Bagaimana tidak, Ijtima Ulama itu dihadiri pula oleh petinggi-petinggi partai yg disebut partai keumatan. Dari mulai Prabowo (Gerindra), Amien Rais, Zulkifli Hasan (PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Shohibul Iman dan Salem Segaf Aljufri (PKS). Juga Hutomo Mandala Putra/Tomi Soeharto (Partai Berkarya).

Tokoh-tokoh politik itu masing-masing punya kesempatan berorasi, dan masing-masing berorasi dengan memukau...

Tidak kalah penting adalah sambutan pembukaan Habib Rizieq Shihab (HRS) menandai dimulainya pelaksanaan Ijtima Ulama. Sambutan khas HRS lewat telekonferen yang memukau, itu sampai membuat Prabowo memujinya dengan mengatakan, bhw dia tidak segan untuk memanggilnya dengan Imam Besar.

Namun hasil dari Ijtima Ulama yang tidak menyebutkan nama tertentu dari nama-nama kandidat yang dijagokan partai masing-masing, khususnya pada kandidat jabatan Wapres, tapi tiba-tiba dimunculkan nama yang diluar nama-nama yang selama ini beredar.  Nama-nama yang muncul hanya seorang kandidat presiden yang "direstui" dengan dua nama kandidat Wakil presiden...

Muncul nama Prabowo sebagai calon Presiden, dan dua nama lain sebagai Wakil Presiden yaitu Salem Segaf Aljufri dan Ustad Abdul Shomad. Nama kandidat Wapres diluar "radar" yg beredar selama ini.

Tentu kita tidak tahu kenapa muncul nama-nama itu, khususnya untuk jabatan calon Wakil Presiden. Dan apalagi kriteria yang dipakai, kita pun tidak tahu. Nama-nama itu tiba-tiba "dipaksakan" untuk dipilih. Lagi, tentu kita tidak tahu motivasi munculnya nama-nama yang katanya mendapat "restu" Ulama. Pertanyaannya menjadi, Ulama yang mana yang diberi mandat untuk "memilih" itu?

Harusnya Forum Ijtima Ulama itu menjaga harmoni pasca dimunculkannya nama-nama itu. Mestinya berpikirnya demikian. Bukan malah pasca forum itu umat makin bingung, dan tidak mustahil melecehkan forum itu sebagai dagelan bahkan dagangan politik, dan yang.mengambil peran berlebihan dan salah tempat.

Bijak jika Forum Ijtima itu cukup menyebut kriteria siapa-siapa yang layak menjadi kandidat Presiden dan kandidat Wakil Presiden... Umat insya Allah sudah faham betul memaknai kriteria-kriteria yang dibuat.

Saya, dan tentu banyak pihak yang kecewa dengan hasil forum itu, yang menyebut nama-nama, tanpa mengecilkan nama-nama yang bersangkutan, namun untuk dijual pada pemilih, nama-nama itu tampaknya kurang marketable... Maaf🙏🙏

Alfaqir
Abdul Hamid Mudjib

EFEK NEGATIF TIDAK BERJIMA'



IBADAH SING ENAK, NI'MAT, HALAL TUR GRATIS. 😂😂😂
                                                                       
EFEK NEGATIF TIDAK BERJIMA'

وقال محمد بن زكريا من ترك الجماع مدة طويلة ضعفت قوى اعصابه واستد مجارها وتقلص ذكره
قال ورأيت جماعة تركوه لنوع من التفشف فبردت أبدانهم وعسرت حركاتهم ووقعت عليهم كابة بلا سبب وقلت شهواتهم ومضمهم.. إنتهى...

Muhammad bin zakaria berkata: siapa meninggalkan jima dalam waktu yang lama, otot-ototnya akan menjadi lemah, peredaran darahnya terhambat dan anunya (ATM=alat tusuk manual) menjadi susut (mengkered 😂😂).

Kemudian ia juga berkata: " Aku pernah melihat sekelompok orang meninggalkan berhubungan dengan alasan menghindari nafsu duniawi.  Tidak lama kemudian ia merasakan demam, sulit bergerak, dilanda perasaan sedih dengan tanpa tahu penyebabnya, birahinya menjadi lemah dan pencernaannya tidak bisa berfungsi normal.

فتزوجوا وجامعوا تصحوا...

Menikah dan gauli, maka kalian akan sehat

RAHASIA JIMA'

كان ابن عقيل الحنبلي رحمه الله تعالى يقول :
كنت إذا ستغلقت على مسألة، دعوت زوجتي إلى الفراش,فإذا فرغت من أمرها قمت إلى قراطيس أصب العلم صبا. لأن الجماع يصفى الذهن ويقوى الفهم.

Al-Imam Ibnu 'Uqail Al-Hanbali berkata: _"Ketika aku terkunci pada suatu permasalahan (ilmu), maka aku panggil istriku untuk berhubungan. Ketika aku selesai, maka aku ambil kertas dan ku tuangkan ilmu ke atasnya (mulai mengarang kitab)."_ Jima' dapat membersihkan pikiran dan menguatkan kepahaman.

 وكان الجنيد يقول : أحتاج الى الجماع كماأحتاج الى القوت. فالزوجة على التحقيق قوت وسبب لطهارة القلب. ولذلك أمر رسول الله كل من وقع نظره على إمرأة فتاقت اليها نفسه ان يجامع أهله.

 Al-Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata : _"Aku butuh biologis sebagaimana aku butuh makanan (untuk asupan badan), maka seorang istri takubahnya asupan badan dan menjadi sebab bersihnya hati."_ Oleh karena itu Rosulullah memerintahkan kepada setiap lelaki yg melihat perempuan yg membuat hati tertarik padanya, maka hendaknya menggauli istrinya.

 قال الفقهاء : وعلى الرجل ان يشبع إمراته جماعا او وطأ كما يشبعها قوتا.

Para Pakar Fiqih berkata: _"Wajib bagi lelaki untuk memuaskan istrinya dlm hubungan biologis, sebagaimana mengenyangkannya dengan makanan."_

 *المراجع*

احياء علوم الدين
اسرار الجماع

#Catatan penting :

Semua ini berlaku bagi pasangan yang halal (PASUTRI).
Kalau dilakukan dengan pasangan yang tidak halal justru akan menimbulkan penyakit dan mala petaka dunia dan akhirat.

Rabu, 01 Agustus 2018

Rahasia Lisan Dan Hati Para Wali Alloh



*Rahasia Lisan Dan Hati Para Wali Alloh:*

  “Bersungguh-sungguhlah engkau dalam meraih derajat makrifatullah, karena engkau akan menyelam bersama-Nya, kokoh dengan keteguhan diri menuju kepada Allah, serta dengan ilmu-Nya engkau menuju kepada-Nya.

  Perkataanmu adalah cermin hatimu. Lisanmu adalah penerjemah hatimu. Jika hati seseorang bercampur-baur banyak perkara, maka dia kadang berkata benar dan kadang berkata salah. Dia tidak dapat mengubah apa yang tersembunyi dalam hati. Jika hati seseorang telah terbebas dari syirik, maka lisannya akan lurus dan benar. Jika dia bersekutu dan mengikuti sifat makhluk, maka dia dapat berubah, terpeleset dan berdusta.

  Karena itu, di antara para pembicara, ada orang-orang yang berbicara dari hatinya, ada pula yang berbicara dari rahasianya, dan bahkan ada yang berbicara dari hawa nafsu, setan dan kebiasaan buruknya.

  Jika engkau mencintai atau membenci seseorang, janganlah cinta dan bencimu berlandaskan hawa nafsu dari tabiat burukmu, tapi ukurlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika apa yang engkau cintai sesuai, maka cintailah terus menerus.

  Demikian pula jika kau membenci pada seseorang. Jika kebencianmu tidak mendatangkan manfaat,  maka dekatilah hati orang-orang shaleh dan bertanyalah kepada mereka. Karena hatinya adalah kebenaran. Jika hatinya benar, maka dia akan benar di sisi Allah. Jika hati beramal dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia akan menjadi dekat kepada-Nya, serta akan mengetahui hak dan kewajibannya sendiri. Dia tahu apa yang harus ditunaikan untuk Allah dan apa yang harus dilakukan kepada sesuatu selain-Nya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani _dalam kitab Al-Fath Ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani_

Al-Fatihah...

Suara Rakyat: Ganti Atau Tidak Ganti: "Suara Tuhan"


*Suara Rakyat: #Ganti Atau #Tidak Ganti: "Suara Tuhan":*
===========
Rakyatlah yang berdaulat, Rakyatlah yang berkuasa....
#Ganti atau #tidak ganti #ada di tangan rakyat...
"......Suara Rakyat...Suara Tuhan....."

Kisah Seputar Makam Mawlana Ishaq Ayah Kanjeng Sunan Giri


*Kisah Seputar Makam Mawlana Ishaq Ayah Kanjeng Sunan Giri:*
===========
Al-Kisah:
Habib Husein Bin Muhammad Bin Alawi Assegaf depan rumah saya pernah menceritakan kpd saya bhw Habib Abdul Qodir Quthban Assegaf Tuban yg makamnya ada di sebelah makam Mawlana Ishaq yg asli di Tuban pernah ziyaroh ke Sunan Bonang Bin Sunan Ampel di Tuban, lalu Hbb Abdul Qodir tsbt ditemui langsung oleh Sunan Bonang seraya berkata kpd dia; *"Bahwa Tidak sah ziyaroh ke saya (Sunan Bonang) sebelum terlebih dahulu ziyaroh ke " Ammi saya: Mawlana Ishaq"*.

 Wallohu A"lam.


Kisah lagi dari Habib Husein Assegaf kpd saya;

Hbb Husein berkisah; saat saya (Habbib Husein) lagi muro'bal semua usaha saya dan saya bingung, lalu saya ke Habbib Abdulloh Ba'bud Lawang dan menceritakan kondisi saya yg muro'bal ini, lalu Hbb Abdulloh Ba'bud Lawang menetintahkan saya (Hbb Husein) begini: "Ente Ziyaroho nang Mawlana Ishaq Tuban di Tuban, Sunan Bonang dan Hbb Abdul Qodir Bin Quthban.

Kemudian dg petunjuk itu, Hbb Husein Assegaf ziyaroh ke makam2 yg diperintahkan tsbt, dan setelah ysai ziyaroh dan masih ada di sekitar makam, ada orang nelpon hbb Husein yg isinya pesan dagangan dg fulus udah siap kontan yg dibawa yg nelpon itu. Lalu hbb Husein dlm percakapan telpin itu mnjawab bhw hbb husein masih ada di Tuban, tapi tetap sj yg nelpon mengatakan bhw tak tunggu hingga datang.

Akhirnya, Hbb Husein pulang dan sesampai di rumahnya, bertemulah dg penelpin tadi yg memesan dagangan dg fulus kontan, dimana dg fulus ini, Hbb Husein bisa selesaikan permasalahan yg dihadapi dan juga cukup utk modal usahanya lagi hingga berjalan lagi dg sukses.

Lalu hbb husein berkata kpd saya: *Ente iki dulur ana teko Mawlana Ishaq teko jalur Ummi, sbb ana yo nyambung nang Mawlana Ishaq teko rojo palembang. Ente ziyaroho nang Mawlana Ishaq yg asli di Tuban, Sunan Bonang dan Hbb Abdul Qodir Bin Quthban.* Makam Mawlana Ishaq de' Tuban iku dikelilingi koco,..Habib teko jakarta sing mbangun makame.

Maka kemudian, saya dg kisah itu, ziyaroh ke Tuban itu.

Wallohu A'lam

Al-Fatihah...

GUS MUS : AGAR DIKABULKAN HAJAT, INI IJAZAH AMALAN AL-FATIHAH DARI MBAH KH. MUNAWWIR KRAPYAK



GUS MUS : AGAR DIKABULKAN HAJAT, INI IJAZAH AMALAN  AL-FATIHAH DARI MBAH KH. MUNAWWIR KRAPYAK

Setiap orang tentunya memiliki keinginan atau hajat yang berusaha diraih. Sayangnya, tidak jarang mereka salah jalan dengan mendatangi dukun atau tukang ramal untuk dimintai pertolongan. Padahal, di dalam Islam diajarkan untuk berdoa, memohon kepada Allah, agar hajat atau keinginan tersebut bisa terwujud dengan membawa kebaikan.

Berbagai aneka doa telah diajarkan, baik oleh Nabi saw maupun para ulama. Salah satu diantara doa agar mudah dikabulkan hajatnya oleh Allah, adalah bacaan Al-Fatihah. Namun bukan sembarang bacaan Fatihah tentunya, tapi Fatihah yang telah diamalkan oleh para ulama dan terbukti berhasil.

Salah satunya adalah ijazah surat Al-Fatihah dari KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ijazah ini sering disampaikan oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam beragam kesempatan, terutama ketika beliau mengisi tausiyah di momen haul KH. M. Munawwir, Krapyak. Gus Mus mendapatkan ijazah Fatihah tersebut ketika beliau mondok di Krapyak, dan beliau kemudian memberikan ijazah tersebut kepada masyarakat.

Berikut ijazah Fatihah dari KH. M. Munawwir :

1. Baca surat Al-Fatihah dengan hati yang ikhlas dan yakin
Ketika sampai pada ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, dibaca 11x sambil dalam hati memohon kepada Allah apa yang menjadi keinginan atau hajat

2. Lalu dilanjutkan pada ayat berikutnya sampai bacaan Fatihah selesai

Demikian bacaan Fatihah tersebut. Cukup mudah untuk diamalkan tentunya. Semoga bermanfaat.

www.bangkitmedia.com