ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 11 November 2018

Jasa Besar NU Selamatkan Makam Nabi Muhammad SAW Dari Penghancuran Pemerintah Saudi



*Jasa Besar NU Selamatkan Makam Nabi Muhammad SAW Dari Penghancuran Pemerintah Saudi:*
==============

Komite Hijaz mungkin saat ini masih ada orang yang belum tahu tentangnya, yaitu sebuah komite yang sangat melegenda dalam sejarah NU. Coba bayangkan, ketika itu Indonesia belum merdeka dari penjajahan Belanda, dalam keadaan serba susah para Ulama Aswaja di Jawa masih sempat mencermati apa yang tengah terjadi di Hijaz (Arab saudi). Waktu itu di Hijaz sedang dalam masa-masa awal berdirinya kerajaan arab Saudi.

Waktu itu betapa para Kiyai dan ulama Jawa gundah gulana mendengar kabar bahwa makam Rasulullah Saw akan diratakan dengan tanah atau dibongkar oleh penguasa Saudi yang ditopang penasehat Wahabi. Para ulama Jawa waktu itu berupaya keras mencari cara bagaimana mencegah pihak penguasa Hijaz agar tidak membongkar makam Nabi Muhammad saw.  Sungguh ini pekerjaan berat, dalam keadaan serba sulit di masa penjajahan Belanda, dimana transportasi dan alat komunikasi yang terbatas, para kiyai harus berangkat ke Hijaz dalam missi penyelamatan makam Rasulullah saw.

Pada tahun 1924-1925 Arab Saudi baru saja berdiri, dipimpin oleh Ibnu Saud, Raja Najed yang ber-aliran Wahabi. Aliran ini sangat dominan di tanah Haram, sehingga aliran lain tidak diberi ruang dan gerak untuk mengerjakan mazhabnya. Semasa kepemimpinan Ibnu Saud, terjadi eksodus besar-besaran ulama dari seluruh dunia. Mereka kembali ke negara masing-masing, termasuk para pelajar Indonesia yang sedang mencari ilmu di tanah Hijaz.

Aliran Wahabi yang terkenal puritan, berupaya menjaga kemurnian agama dari musyrik dan bid’ah namun secara membabibuta dan melalui kekerasan. Maka beberapa tempat bersejarah, seperti rumah Nabi Muhammad SAW dan sahabat, termasuk makam Nabi Muhammad pun hendak dibongkar. Umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz.

Komite Hijaz ini merupakan sebuah kepanitiaan kecil yang dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Setelah berdiri, Komite Hijaz menemui Raja Ibnu Suud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan,  seperti meminta Hijaz memberikan kebebasan kepada umat Islam di Arab untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang mereka anut.  Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud.  Adapun lima permohonan yang disampaikan oleh Komite Hijaz, seperti ditulis di situs www.nu.or.id tersebut adalah:
memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqidah maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya.
memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimahdan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya.”
memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tidak dimintai lagi lebih dari ketentuan pemerintah.
memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.
Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) memohon balasan surat dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan surat mandatnya dan permohonan-permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat balasan tersebut diserahkan kepada kedua delegasi tersebut.
Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang merupakan respons terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya organisasi NU. Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud. Makam Nabi Muhammad yang akan dibongkar pun tidak jadi dihancurkan.


Sumber : http://www.muslimoderat.net/2017/02/jasa-besar-nu-selamatkan-makam-nabi.html#ixzz5WY0PWySA


Cara Bertemu Rasulullah SAW Dari Guru Mulia Al Habib Umar Bin Hafidz BSA:






*Cara Bertemu Rasulullah SAW Dari Guru Mulia Al Habib Umar Bin Hafidz BSA:*
======================

سئل شيخنا المربي سيدي الحبيب عمر بن حفيظ حفظه الله واطال بعمره في المدينة المنورة ليلة العيد عام 1417هـ :

Guru kami, al murabby, Sayyidi Al Habib Umar ditanyai saat berada di Madinah Munawwaroh, Malam ‘ied tahun 1417 H:

كيف نرى النبي صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم في المنام واليقظة؟

Bagaimana caranya kita dapat melihat Nabi shallallahu alaihi wa alihi washahbihi wasallam, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga?

فأجاب: ازدد شوقا

Beliau pun menjawab: Tambahkan rasa rindumu

ازدد ولعا

Tambahlah kobaran cintamu

احمل همه

Embanlah tugas dakwahnya

قف على بابه بالادب

Berdirilah di depan pintunya dengan penuh adab

وستراه
وستراه
وستراه

Kamu pasti akan melihatnya…! Pasti akan melihatnya…! Pasti akan melihatnya…!

وأضاف قائلاً : كلما أدخلتَ أدبًا من آدابه في ذاتك.. انفتحت لك باب الرؤية، شعرت أو لم تشعر،

Habib Umar juga berkata, “Tiap kali kau menjaga adab-adab Nabi Saw. dalam dirimu, peluang untuk melihatnya makin terbuka. Kau sadari atau tidak”

فإذا تكاثرت أنوار آدابه فيك.. تجلت لك الذات النبوية المصطفوية

Jika cahaya adab-adabnya semakin banyak dalam dirimu, maka akan tampak bagimu Dzat Nabi yang terpilih Saw.

اللهم أكرمنا بالنظر إلى وجه حبيبك المصطفى
صلى الله عليه واله وسلم

Ya Allah, muliakan kami dengan memandang wajah kekasih-Mu.

‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق

Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh…

Aamiin aamiin ya rabbal'alamin....

Peringatan & Perayaan Mawlid Nabi Muhammad SAW






*Peringatan & Perayaan Mawlid Nabi Muhammad SAW:*
الاحتفال بالمولد النبوي الشريف
================

بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله
بسم الله ما شاء الله لا يصرف السوء الا الله 
بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله
بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله
الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على أشرف الانبياء و المرسلين سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق و الهادي الى الصراط المستقيم و على آله و صحبه حق قدره و مقداره العظيم،،،،،، سبحانك لا علم لنا الا ما علمتنا انك انت العليم الحكيم،،،،، اما بعد
Hadirin رحمكم الله
Pada hari yang penuh dengan berkah ini , mari kita sama-sama meningkatkan iman , islam serta taqwa kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dalam arti menjalankan semua perintah Allah dan Rosulnya dan menjahui semua larangannya , sebagaimana perintah Allah dalam Alqur'an
 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهْ
Begitu juga Rosulullah telah  bersabda :
 اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“ Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada “
Insya Allah kalau kita betul-betul termasuk hamba Allah yang bertaqwa , maka segala urusan kita pasti akan menjadi mudah .
 firman Allah
 وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Hadirin رحمكم الله
( Sebentar lagi lagi kita akan memasuki bulan Robiul awwal /
Kita sekarang berada di dalam bulam Robiul awwal )
Bulan dimana junjungan kita Rosulullah telah dilahirkan dan diutus oleh Allah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan serta penerang dan cahaya bagi semua manusia ,firman Allah dalam Al-Quran
يا أيها النبي إنا أرسلناك شهدا و مبشرا و نذيرا و داعيا إلى الله بإذنه و سراجا منيرا
Dan Wajib bagi kita sebagai pengikutnya dan ummatnya untuk merasa senang dan gembira dengan lahirnya baginda Rosulullah, maka dari itu banyak dan sering kita saksikan diadakannya maulidur rosul dengan tujuan untuk memuji Rosulullah, mengingatkan bagaimana ahlaq dan sifat Rosulullah seperti yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab maulid agar kita menirunya.
Disamping dengan acara maulid kita bisa menguatkan rasa cinta kita kepada baginda Rosulullah juga kita bisa memperbanyak membaca solawat dimana diantara keutamaan orang yang banyak membaca solawat dia akan temasuk orang yang paling dekat dengan Rosulullah besok pada hari kiamat.
Sabda Rosulullah :
أولى الناسِ بي يوم القامة أكثرهم علي صلاة ( رواه البيهقي)
Tapi mengapa ada sebagian orang atau kelompok yang menganggap Peringatan maulid Nabi justru tidak boleh di kerjakan bahkan menurut mereka maulid Nabi adalah salah satu ritual sesat yang harus ditinggalkan dan dijahui dengan alasan karena Rosulullah tidak pernah mengerjakan, dan menurut mereka setiap apa yang tidak pernah dikerjakan oleh Rosulullah adalah bid’ah dan setiap bi’dah tempatnya adalah nereka 

Hadirin رحمكم الله
Tidaklah semua bid’ah itu harom , kalau  seandainya semua bid’ah itu harom tanpa perkecualian maka haromlah apa yang dikerjakan sayyidina Abu Bakar Assiddiq  ketika mengumpulkan Al-qur’an ,.
Juga, kalau itu memang benar, maka harom bagi sayyidina Umar ketika mengumpulkan manusia untuk solat tahajjud berjamaah tapi justru beliau berkata : alangkah ni’matnya bid’ah ini .
Juga, kalau itu memang benar, maka harom bagi kita untuk mempelajari ilmu nahwu, ilmu sorof, ilmu tajwid  apalagi ilmu matematika, fisika, biologi dan yang lainnya, karena kesemuanya itu tidak ada dan tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah.
Rosululah tidak pernah berbahasa inggris ketika berceramah,
Rosululah tidak pernah naik pesawat ketika mengerjakan ibadah haji, Rosulullah tidak pernah memakai pengeras suara ketika solat
Dan semua apa yang kita kerjakan pada zaman ini kebanyakan Rosulullah tidak pernah mengerjakannya.
Masalahnya sekarang adalah, apakah setiap hari kita telah melakukan bid’ah  yang ancamannya adalah neraka? Dan bagaimana dengan solat yang telah kita kerjakan , zakat yang telah kita keluarkan , puasa yang telah kita lakukan , bintang yang telah kita korbankan ? apakah kesemuanya akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah hanya karena masalah peringatan Maulid Nabi ???? 
Ini adalah salah satu contoh kalau seandainya hadist Rosulullah
كل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار
diartikan tanpa menggunakan akal yang sehat, tanpa membuka dan melihat sabda Rosulullah yang lain, tanpa kembali kepada kitab-kitab karangan salafunas soleh , para ulama’ ulama’ terdahulu

Hadirin رحمكم الله
Peringatan Maulid Nabi seperti yang kita kerjakan dan kita peringati dengan membaca kitab-kitab maulid, membagi-bagi makanan kepada mereka yang hadir tidak pernah terjadi pada zaman Rosulullah , tapi bid’ah seperti ini adalah bid’ah yang baik karena tujuan dari pada  peringatan tersebut adalah sama dengan tujuan ketika Rosululah memperingatinya dengan puasa yaitu dengan tujuan untuk mengagungkan hari kelahiran Rosulullah
Sebagaimana disebutkan dalam hadist ketika Rosulullah ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari senen maka beliau menjawab :
فيه ولدت و فيه أنزل علي ( رواه مسلم )
‘ Pada hari itu saya dilahirkan, dan pada hari itu diturunkan kepada saya wahyu pertama “
Dalam kitab مفاهيم يجب أن تصحح  karangan guru kami Abuya Assayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani, beliau mengatakan : Kita memang tidak mengatakan bahwa acara mauled Nabi yang diperingati pada hari atau bulan tertentu hukumnya sunnah apalagi wajib , bahkan kita mengatakan bahwa orang yang berpendapat demikian itulah orang yang telah berbuat bid’ah yang sesat, dikarenakan setiap waktu kita harus selalu ingat dengan Rosulullah .Disebutkan dalam kitab maulid Diba’ :
ولو أنا عملنا كل حين * لأحمد مولدا قد كان واجب 

Hadirin رحمكم الله
Sesungguhnya rasa gembira dan senang dengan datangnya Rosulullah adalah termasuk salah satu dari kewajiban kita sebagaimana telah diperintah kan Allah dalam Alqur’an :,
قل بفضل الله و برحمته فبذلك فليفرحوا
“ Katakanlah : dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu kalian bergembira “
Ayat ini sudah jelas bahwa Allah menyuruh kita untuk bergembira dengan datangnya rohmat, sedangkan Rosulullah adalah merupakan satu-satunya rohmat yang terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hambanya
Firman Allah ;
و ما أرسلناك الا رحمة للعالمين
“ Dan tidaklah kami mengutus engkau ( Muhammad ) melainkan untuk menjadi rohmat bagi alam semesta.”

 Hadirin رحمكم الله
Abu Lahab yang sudah jelas kekufurannya dan sudah dipastikan akan  masuk neraka , tapi setiap hari senen adzabnya diringan Allah karena dia gembira ketika Rosulullah dilahirkan , lantas  bagaimana dengan kita seorang muslim yang setiapa hari membaca 2 kalimat syahadat
Berkata Al-Hafidz Syamsuddin Ad-Dimasqy ;

إذا كان  هذا  كافرا  جاء  ذمه *
                           بتبت  يداه  فى  الجحيم  مخلدا
أتى  أنه  فى  يوم  الإثنين دائما *
                           يخفف  عنه  للسرور   بأحمدا
فماالظن بالعبد الذي كان عمره *
                           بأحمد مسرورا و مات موحدا 

Hadirin رحمكم الله

Yang terahir marilah kita sering-sering membaca kitab maulid baik mualid Ad-Dayba’ atau mauled Al-Habsy atau mauled Al-Barzanzi atau yang lain agar kita selalu ingat dengan sejarah, ahlaq dan sifat Rosulullah, agar rasa cinta kita kepada Rosululah bertambah kuat dan juga agar iman kita betambah kokoh, sebagaimana difirmankan Allah ;
و كلا نقص عليك من أنباء الرسل ما نثبت به فؤادك
“ Dan semua kisah dari Rosul-rosul kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.

أقول قولِى هذا و أستغفر الله العظيم لِي و لكم و لسائر الْمؤمنين و الْمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم


Sabtu, 10 November 2018

Hukum Melangkahi Kuburan





*Hukum Melangkahi Kuburan:*
===========================

Salah satu cara untuk menghormati orang yang telah meninggal adalah merawat dan menziarahi makamnya berikut menjaga adab-adab di dalamnya. Karena bagaimanapun, orang yang telah meninggal statusnya sama dengan orang yang masih hidup dalam hal kewajiban untuk menghormatinya. Dalam berbagai kitab fiqih dijelaskan:

حرمة الميت كحرمة الحي

“Menghormati mayit sama halnya dengan menghormati orang yang masih hidup.”

Oleh sebab itu perilaku kita dalam menyikapi mayit atau orang wafat mestinya sama persis dengan cara kita dalam berperilaku pada orang yang masih hidup. Manusia sangat dimuliakan dalam Islam, tak hanya ketika hidup tapi juga ketika meninggal dunia. Tidak bernyawa bukan berarti setara dengan benda mati: kita boleh merendahkan jenazah dan kuburannya. Apalagi bila jasad yang bersemayam adalah dari kalangan orang-orang saleh.

Lalu apakah melangkahi kuburan termasuk merendahkan mayit?

Rasulullah ﷺ dalam menyikapi perihal tentang melangkahi kuburan dijelaskan dalam salah satu haditsnya:

لأن أمشي على جمرة أو سيف أو أخصف نعلي برجلي أحب إلي من أن أمشي على قبر مسلم

“Sungguh aku berjalan di atas bara api atau pedang, atau aku menjahit sandalku menggunakan kakiku, lebih aku sukai daripada aku berjalan di atas kuburan orang Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Kandungan makna yang terdapat dalam hadits di atas salah satunya bahwa melangkahi kuburan atau berjalan di atasnya merupakan bentuk perilaku yang tidak beretika. Kesimpulan ini bisa ditangkap dari redaksi “berjalan di atas api dan pedang” sebagai sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapa pun.

Hal yang telah dijelaskan di atas ketika ditinjau dari sudut pandang adab. Berbeda halnya ketika permasalahan melangkahi kuburan ini kita kaitkan dengan hukum fiqih. Melangkahi kuburan secara fiqih adalah makruh (dibenci) untuk dilakukan oleh seseorang. Hukum makruh ini selamanya tetap kecuali ketika tidak ada jalan alternatif sama sekali untuk menuju tempat tujuan. Dalam kondisi terpaksa seperti ini status melangkahi atau berjalan di atas kuburan menjadi boleh.

Keterangan ini seperti yang terdapat dalam kitab Fiqih 'ala Mazahib al-Arba’ah:

ويكره المشي على القبور إلا لضرورة كما إذا لم يصل إلى قبر ميته إلا بذلك باتفاق

“Makruh berjalan di atas kuburan kecuali dalam keadaan darurat, seperti seseorang yang tidak bisa sampai pada kuburan mayatnya kecuali dengan cara melangkahi kuburan. Hukum ini telah menjadi kesepakatan para ulama.” (Abdurrahman Al-Jaziri, al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Arba’ah, juz 1 hal. 841)


Meski secara fiqih hukumnya makruh, namun hendaknya seseorang tidak menganggap remeh hal ini dalam ranah etika serta dalam hal akibat yang ditimbulkan pada mayit yang dilangkahi kuburannya. Mayit akan merasa tersakiti jika terdapat orang yang bersikap tidak baik pada kuburannya, seperti yang terdapat dalam hadits Amr bin Hazm:

رَآنِي رَسُولُ اللهِ صَلى الله عَليه وسَلم مُتَّكِئًا عَلَى قَبْرٍ فَقَالَ: لاَ تُؤْذِ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

“Rasulullah ﷺ melihat padaku bersandar pada kuburan. Lalu ia menegurku, ‘Jangan kau sakiti mayit yang ada di kuburan ini!’” (HR Hakim)

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjaga adab di kuburan adalah tidak berjalan di area sekitar kuburan dengan menggunakan sandal atau sepatu. Meski jalan yang ditapaki tidak sampai melangkahi kuburan, namun jika dengan menggunakan sandal atau sepatu seseorang dianggap kurang begitu menjaga adab pada mayit yang ada di kuburan tersebut. Hal ini dikarenakan Rasulullah pernah melarang seseorang yang memakai sandal di sekitar kuburan dan memerintahkan padanya untuk melepasnya.

Berikut hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Basyir bin Khashasiyah:

أَنّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَأَى رَجُلا يَمْشِي بَيْنَ الْمَقَابِرِ فِي نَعْلَيْهِ ، فَقَالَ : يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ أَلْقِهِمَا

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melihat lelaki yang berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah ﷺ menegurnya “Wahai orang yang memakai dua sandal, buanglah dua sandalmu itu!”

Demikian penjelasan tentang materi ini, secara umum dapat disimpulkan bahwa meski hukum melangkahi kuburan hanya sebatas makruh, namun di samping kemakruhan ini, orang yang melakukan tindakan ini dianggap sebagai cacat etika, sebab tidak menghormati mayit yang ada di kuburan. Bahkan banyak para ulama hadits menjadikan bab tersendiri dalam menjelaskan larangan berjalan di atas kuburan ini, hanya untuk menegaskan betapa perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak baik.

Ketika mendapati orang yang melakukan tindakan ini, alangkah baiknya pula kita tidak tergesa-gesa menghina dan menebar kebencian padanya. Hal yang dipandang tepat dan bijak adalah mengingatkannya bahwa perbuatan yang dilakukan menyalahi adab serta akan menyakiti mayit yang ada di kuburan tersebut, sehingga perbuatan yang sama tak terulangi lagi di kemudian hari. Wallahu a’lam.

Sumber:
http://www.nu.or.id/post/read/98744/hukum-melangkahi-kuburan?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

Jumat, 09 November 2018

Biografi KH Bisyri Syansuri (PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang)


*Biografi KH Bisyri Syansuri (PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang)*

Kiai Haji Bisyri Syamsuri dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Siti Rohmah dan ayah yang bernama Syansuri di desa Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah, pada 23 Agustus 1887 atau bertepatan dengan 05 Dzulhijjah 1304 H dan bernama asal Mustajab.
Syansuri dan Siti Rohmah mempunyai lima anak. Anak pertama dari dua pasangan suami istri ini bernama Mas’ud, anak lelaki sesuai dengan harapan keluarga di daerah itu pada umumnya. Kedua adalah seorang anak perempuan, bernama Sumiyati. Bisri (Mustajab) adalah anak ketiga, dan setelah itu masih ada lagi dua anak lagi yang dilahirkan dalam keluarga ini, yaitu Muhdi dan Syafa’atun.
Beliau berkakak ipar dengan KH Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Bisri juga berbesan dengan KH Hasyim Asy’ari, gurunya. KH Wahid Hasyimputra KH Hasyim Asy’ari, menikah dengan Hj. Solichah putri beliau dan dari merekalah lahir KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, yang kelak akan menjadi Presiden.
KH. Bisri Syansuri menikah dengan Hj. Chodidjah dan pada tahun yang sama, kedua suami isteri baru itu kembali ke tanah air (1914). Dari pernikahan tersebut KH. Bisri Syansuri mendapatkan enam keturunan, anak pertama yaitu Kiai Achmad Athoillah, lahir pada 18 Juni 1916 (17 Sya’ban 1334 H), kedua Nyai Moeasshomah lahir pada 06 Juli 1921 (29 Syawal 1339 H), ketiga Nyai Solichah lahir pada 19 Desember 1923 (11 Jumadil Awal 1344 H), keempat Moesjarrofah, 31 Desember 1925 (15 Jumadil Akhir 1344 H), kelima Moechamad Aliaschab, 03 Agustus 1929 (27 Safar 1348 H) dan keenam Moechamad Sochib, 22 November 1951 (23 Rajab 1351 H).
KH. Bisri Syansuri dalam kehidupannya memiliki keteguhan hati dan disiplin organisasi yang ditunjukkan dalam salah satu kondisi, misalnya keterbentukan MPRS yang sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan internal Nahdlatul Ulama. KH. Bisri Syansuri menganggap DPR sebagai lembaga yang antidemokrasi.  Bagi Kiai Bisri, ikut serta dan bergabung dengan dan dalam lembaga DPR yang tidak seluruhnya dipilih oleh rakyat adalah bertentangan dengan ilmu fiqih yang dipegangnya.
Berbeda dengan kelompok NU lainnya yang dipelopori oleh sahabat karibnya, Kiai Wahab Chasbullah yang memutuskan untuk menerima keanggotaan dewan perwakilan rakyat tunjukan dari presiden. Alasan Kiai Wahab menerima karena amar makruf nahi mungkar yang dipegang warga NU. Di sisi lain KH. Bisri Syansuri menghargai keputusan Kiai Wahab dengan tetap mempersilahkan anggota konstituante dari hasil pemilu 1955 untuk menerima dan menjadi anggota MPRS dengan alasan bahwa Kiai Wahab adalah pimpinan tertinggi dalam Partai Nahdlatul Ulama harus dihormati keputusannya dan menjadi titik kesepakatan keorganisasian atau kepartaian.
Sifat tawaduk KH. Bisri Syansuri tidak diragukan lagi, hal ini terbukti ketika sedang terjadi pemilihan Rais Aam yang seolah-olah melibatkan “rivalitas” antara dua kiai sepuh yang sama-sama berwibawa, yaitu Kiai Wahab yang saat itu menjabat Rais Aam dengan Kiai Bisri yang menjadi salah satu Rais Syuriah PBNU. Hasil pemilihan ternyata di luar dugaan. Walaupun lebih muda, tiba-tiba Kiai Bisri bisa meraih suara terbanyak. Kiai Wahab menerima kekalahan dengan berbesar hati, apalagi yang mengalahkan adalah sahabat dekatnya sekaligus adik iparnya sendiri. Demikian halnya Kiai Bisri yang memperoleh kemenangan juga dengan sangat rendah hati. Walaupun telah dipilih oleh muktamirin, tetapi kemudian Kiai Bisri segera memberikan sambutan, bahwa selama masih ada Kiai Wahab yang lebih senior dan lebih alim Kiai Bisri tidak bersedia menduduki jabatan itu. “Karena itu saya menyatakan untuk mengundurkan diri dan kembali menyerahkan jabatan itu kepada Kiai Wahab Chasbullah.”
Kemudian sikap berbeda ditunjukan oleh KH. Bisri Syansuri, ketika kalangan ulama dan muslim merespon program pemerintah, yaitu Keluarga Berancana (KB). Mereka mengartikan dan menafsirkan KB sebagai program pengendalian jumlah penduduk. Pada waktu program Keluarga Berencana diperkenalkan dalam kalangan muslim, terjadi pertentangan karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam. Selain itu juga, Keluarga Berencana (KB) menurut para muslim merupakan bentuk pengebirian umat Islam dan dapat menghambat peningkatan pemeluk agama, karena dengan memperbanyak anak maka pemeluk agama tersebut akan meningkat. Namun KH. Bisri Syansuri melihat masalah tersebut dengan pandangan berbeda, yang pada akhirnya, program Keluarga Berencana didukung oleh organisasi masyarakat Islam seperti NU. Saat itu, Ulama NU, KH. Bisri Syansuri dengan merujuk pendapat Imam Al-Ghazali memperbolehkan KB dengan niat untuk kemaslahatan umat dalam berumah tangga.
Kiai Bisri dalam banyak sikapnya selalu berpegang teguh pada tekstualitas fikih dan kaedahnya. Namun, menyangkut hajat orang banyak, hajat dan maslahat masyarakat banyak, dalam hal ini misalnya terkait dengan KB, Kiai Bisri seolah-olah melompat dari kebiasaan tekstualitasnya. Ya, sikap Kiai Bisri ini dapat kita maknai sebagai upaya kontekstualisasi fikih dan ajaran agama, sekaligus membuktikan sikap kenegaraannya; sikap nasionalismenya. (Yusuf Suharto dan Muhammad Hilmi)

Al-Fatihah...





Kamis, 08 November 2018

Al-Imam Alawi 'Ammil Faqih* Bin Al-Imam Muhammad Shohibul Mirbath, Punya anak 4 (Empat):









*Sayyiduna Wa Mawlana  Al-Imam 'Alawi 'Ammil Faqih* Bin Al-Imam Muhammad Shohibul Mirbath, Punya anak 4 (Empat), yaitu:
1. Al-Sayyid 'Abdulloh, bahwa Beliau ini selain menurunkan jalur Mindanao / Maguindanao juga jalur Kesultanan Sulu di Philipina, dimana ada juga jalur keluarga ini yang hijrah ke Banjar / Kalimantan;

2. Al-Sayyid Ahmad berputri Fathimah (Ibu dari Ali dan Abdulloh Ibnay Alawi bin Al-Faqihil Muqoddam);

3. Al-Sayyid 'Abdul Malik, yang menurunkan keluarga Azmatkhan, teemasuk Wali Songo;
4. Al-Sayyid 'Abdul Rohman, yang menurunkan Keluarga, Antara lain:
1. Baskutah;
2. Bahasyim;
3. Bin sumaith;
4. Al Thohir;
5. Bashurroh;
6. Al BaFaroj;
7. Al Haddad;
8. BaFaroj;
9. Al Auhaj;
10. Al Aidid;
11. BaFaqih;
12. Al BaFawq;
13. Al BaQorwasy;
14. Al Walaj;
15. Al Bashuroh;
16. Al Ba As'ad;
17. Al Haiqon;
18. Al An_Nadlir;
19. Al Zain;
20. Al Atthoyyib;


AlFatihah....


MAW'IDZOH_HADROTUS_SYEKH KH. HASYIM ASY'ARI PADA MUKTAMAR NU XI DI BANJARMASIN 1936:






*MAW'IDZOH_HADROTUS_SYEKH KH. HASYIM ASY'ARI PADA MUKTAMAR NU XI DI BANJARMASIN 1936:*
===================

#دروس_هامة_ومواعظ_هامة لصاحب الفضيلة حضرة الشيخ الحاج محمد هاشم أشعري

_ألقاها في مؤتمر نهضة العلماء الحادي عشر ببنجر ماسين سنة 1936_

بسم الله الرحمن الرحيم
من أقل الخليقة بل لا شيء في الحقيقة محمد هاشم أشعري عفا الله عنه وعن والديه وعن جميع المسلمين آمين إلى إخواننا الكرام من أهل جاوى وما حواليها العلماء منهم والعوام

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أما بعده ، فقد بلغني أن بينكم إلى الآن اشتغال نار الفتن والمنازعة فتأملت سبب ذلك فإذا هو ما عليه أهل هذا الزمان إنهم بدلوا وغيروا كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم . قال تعالى : إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم . وهم جعلوهم أعداء ولم يصلحوهم بل أفسدوهم . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تبادروا ولا تنافسوا وكونوا عباد الله إخوانا. وهم يتحاسدون ويتباغضون ويتدابرون ويتنافسون ويكونون أعداء.

أيها العلماء ، والمتعصبون لبعض المذاهب أو لبعض الأقوال دعوا تعصبكم في أمر الفروع الذي العلماء فيه على قولين : قائل كل مجتهد مصيب ، وقائل المصيب واحد ، ولكن المخطئ يؤجر . ذروا التعصب ودعوا هذه الأهوية المردية وادفعوا عن دين الإسلام واجتهدوا فيمن يطعن في القرآن وصفات الرحمن ومن يدعي العلوم الباطلة والعقائد الفاسدة . والجهاد في هؤلاء واجب فهلا شغلتم أنفسكم.

ويا أيها الناس ، بينكم الكفار وقد ملؤوا بقاع البلاد فمن انتصب منكم للبحث معهم والاعتناء بإرشادهم ؟.

فيا أيها العلماء ، في مثل هذا فاجتهدوا وتعصبوا ، وأما تعصبكم في فروع الدين وحملكم الناس على مذهب واحد أو قول واحد فهو الذي لا يقبله الله تعالى منكم ولا يرضاه رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا يحملكم على ذلك إلا محض التعصب والتنافس والتحاسد. ولو أن الشافعي وأبا حنيفة ومالكا وأحمد بن حنبل وابن حجر والرملي أحياء لشددوا النكير عليكم وتبرءوا منكم فيما تفعلون. أتنكر العلماء فيها خلاف ؟.

رأيتم من العوام ما لا يحصي عدده إلا الله تعالى يتركون الصلاة التي جزاء من تركها عند الشافعي ومالك وأحمد ضرب العنق بالسيف ولا تنكرون عليهم بل لو رأى الواحد منكم كثيرا من جيرانه يتركون الصلاة وهو ساكت عنهم ، ثم بالكم تنكرون مثل هذه الفروع التي للفقهاء فيها خلاف ولا تنكرون المحرمات المجمع عليها كالزنا والربا وشرب الخمر وغيرها. ولا تأخذكم الغيرة لله تعالى فيها وإنما تأخذكم الغيرة للشافعي وابن حجر فيؤدي ذلك إلى افتراق كلمتكم وتقاطع رحمكم وتسلط الجهال عليكم وسقوط هيبتكم عند عامة الناس وقول السفهاء في إعراضكم ما لا يبقى فتهلكون السفهاء بكلامهم فيكم لأن لحومكم مسمومة على كل حال لأنكم علماء وتهلكون أنفسكم بما تركبون من العظام

أيها العلماء ، إذا رأيتم من يعمل عملا على قول من يجوز تقليده من الأئمة أهل المذاهب المعتبرة ولو مرجوحا إن لم توافقوهم فلا تعنفوهم وأرشدوهم بلطف وإن لم يتبعوكم فلا تتخذوكم أعداء ، فمثل من فعل ذلك كمثل من بنى قصرا وخرب مدينة ، ولا تجعلوا ذلك سبب التفرق والشقاق والتنازع والخصام فإنها من الجنايات العامة والجرائم الكبرى التي تهدم بنيان الأمم وتغلق أمامها باب كل خير. وهذا نهى الله عباده المؤمنين من التنازع وحذر ما من عواقبه السيئة ونتائجه المؤلمة ، قال تعالى : ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم.

أيها المسلمون ، إن في حوادث الأيام لعبرة جمة وعظات كثيرة يستفيدها الرجل الرشد أكثر مما يستفيدها من خطب الوعاظ ونصائح المرشدين، وها هي الحواديث تمرينات في كل لحظة ، فهل آن لنا أن نعتبر ونتعظ ؟ وهل آن لنا أن نفيق من سكرتنا ونتنبه من غفلتنا ونعلم أن فلاحنا موقوف على تعاوننا واتحادنا وصفاء قلوبنا وإخلاص بعضنا لبعض؟ أو نحن نظل في التفرق والتحاذل والشقاق والنفاق والغل والحسد والضلال القديم مع أن ديننا واحد الإسلام ، ومذهبنا واحد  الشافعية ، وقطرنا واحد جاوى ، ونحن جميعنا من أهل السنة والجماعة ، فوالله إن ذلك هو البلاء المبين والخسران العظيم.
أيها المسلمون ، اتقوا الله وارجعوا إلى كتاب ربكم واعملوا على سنة نبيكم واقتدوا بأسلافكم الصالحين تفلحوا كما فلحوا وتسعدوا كما سعدوا ، اتقوا الله وأصلحوا ذات بينكم وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان ، وأن يشملكم الله برحمته ويعمكم بإحسانه ، ولا تكونوا كالذين قالوا سمعنا وهم لا يسمعون.
والسلام في المبدإ والختام.

▪ محمد هاشم أشعري
تبوايرنغ جومبانغ

=================

Teks ini bersumber dari KH. Muhammad jazuli hanafi, mukim di malang wafat tahun 2006, santri KH. Hasyim asy’ari. Dan dikutip oleh Dr. KH.M.Afif Hasan, salah satu Pengasuh PP An-Nuqayah, Guluk-guluk Sumenep dalam bukunya “Mazhab pelangi; Mengagas pluralisme mazhab fiqh” (hal : 137-139) Beliau dawuh : pidato beliau -KH.Hasyim Asy’ari- ini sudah sulit ditemukan walaupun di rak buku kaum nahdiyyin sendiri.

Rabu, 07 November 2018

PERBEDAAN SYARIF,SAYYID DAN HABIB



*PERBEDAAN SYARIF,SAYYID DAN HABIB*
====================
Organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad Saw. di Indonesia, Rabithah Alawiyah, menilai banyak terjadi salah kaprah di masyarakat terkait sebutan habib. Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith menyatakan bahwa fenomena itu perlu diluruskan.
Menurutnya, *habib* secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicintai. Adapun, *habaib* adalah kata jamak dari habib. *Jadi tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib*.
*Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif*. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Zen menjelaskan, di Indonesia para keturunan Rasullullah banyak yang berasal dari Husein. Maka banyak yang disebut sayyid.
Sementara keturunan-keturunan Hasan kebanyakan menjadi raja atau presiden seperti di Maroko, Jordania, dan kawasan Timur Tengah. Pertama kali ulama-ulama dari Yaman atau Hadramaut masuk ke Indonesia di beberapa daerah. Karena adanya akulturasi budaya, sebutan sayyid di Aceh berubah menjadi Said, di Sumatra Barat menjadi Sidi dan lain sebagainya.
Dia mengatakan, saat ini banyak orang yang mengaku sebagai seorang habib, padahal bukan. *‘Gelar’ habib, kata dia, tidak bisa disematkan kepada setiap sayyid* . Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib. Seorang sayyid, lanjutnya, tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah habib.
Pengakuan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, harus memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.
Dan yang paling penting, lanjutnya, adalah akhlak yang baik. Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. *Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya.* Maka, kata dia, menjadi aneh jika seseorang mengaku-ngaku dirinya adalah seorang habib.
Dari proses zaman ke zaman, orang akhirnya menamakan semua keturunan sayyid menjadi habib. “Padahal seharusnya tidak,” katanya. Artinya, kata dia, dari waktu yang cukup lama orang mengatakan mana habib dan mana yang sayyid, untuk membedakan bahwa habib adalah ulama-ulama.
Zen mencontohkan, di Jakarta ada Habib Ali bin Abdurrahman Kwitang, Habib Ali bin Husein Alatas di Cikini, Habib Abdullah bin Muchsin Alatas di Bogor dan lain-lain. Menurutnya, beberapa habib itulah sedikit contoh dari yang memang benar-benar habib dalam arti yang sebenarnya.
Seiring berjalannya waktu, lanjutnya, penyebutan habib terjadi degradasi kualitas. Panggilan habib lebih dijadikan sebagai panggilan keakraban atau panggilan kekerabatan. Sementara di sisi lain, banyak kalangan dari sayyid sendiri maupun dari kalangan habib sendiri ingin menggunakan gelar habib untuk dakwah.
“Tapi, akhirnya melenceng, mereka mentitelkan dirinya sendiri,” katanya kepada Republika saat ditemui di kantornya, Sabtu (11/10/2014).
Saat ini, kata Zen, di seluruh dunia kurang lebih ada sekitar 68 qobilah (marga) dari keturunan Rasulullah, termasuk di Indonesia. Hanya saja, Rabithah Alawiyah masih melakukan proses pendataan secara detail berapa jumlah keturunan Nabi Muhammad yang ada di Indonesia.
“Jumlah persis kita belum tahu. Tapi estimasi kasar sekitar 1-1,5 juta orang dan saat ini proses verifikasi,” ujarnya. Perbedeaan Sayyid, syarifah,dan habib versi robithoh alawiyah

Selasa, 06 November 2018

Rebo Wekasan: Tulis Tujuh Ayat Yang Diawali Lafadz: Salamun




*Rebo Wekasan: Tulis Tujuh Ayat Yang Diawali Lafadz: Salamun:*
===========

*{FAIDAH}*
*Disebutkan dalam kitab Nihayatuz Zain karya Imam Nawawi al-Jawi al-Bantani: _Siapa orang yg menulis tujuh ayat salamah, yaitu tujuh ayat Al-Qur'an yg diawali dengan lafazh Salamun:_*
١. سلام قولا من رب رحيم
٢. سلام على نوح في العالمين
٣. سلام على ابراهيم
٤. سلام على موسى وهارون
٥. سلام على الياسين
٦. سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين
٧. سلام هي حتى مطلع الفجر
*_lalu dilebur dengan air dan diminum, maka (إن شاء الله) ia akan diselamatkan dari bahaya dan balak sampai tahun depan._*