ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 20 Juni 2012

DATUKNYA PARA WALI SONGO(AL-IMAM AL-SAYYID 'ABDUL MALIK BIN 'ALAWI 'AMMIL FAQIH dan KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN

------------------------------------------------------------------------------------ SEKILAS BIOGRAFI AL-SYEIKH AL-IMAM AL-SAYYID 'ABDUL MALIK BIN 'ALAWI('AMMIL FAQIH) "DATUKNYA PARA WALI SONGO" ----------------------------------------------------------------------------------- ============ NASAB BELIAU. ============ Al-Sayyid Abdul Malik bin Alawi (Ammil Faqih) bin Muhammd Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi Baitu Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma’ah bin Alawi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra’ binti Muhammad RasuliLlahi SAW. ============================== TEMPAT DAN TAHUN KELAHIRANNYA. ============================== Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Beliau juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilalloh”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berda’wah sebagaimana kakek beliau, Al-Imam As-Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu “Al-Muhajir Ilalloh”, karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah. ============================= ORANGTUA AL-IMAM ABDUL MALIK. ============================= Ayah dari Al-Imam Abdul Malik adalah Al-Imam Alawi Ammul Faqih bin Muhammad lahir di Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin kaum Arifin, hafal al-Qur’an, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Salim Bafadlol, Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib. Beliau wafat pada hari Senin bulan Dzulqo’dah tahun 613 hijriyah di Tarim dan dimakamkan di pekuburan Zanbal. Al-Imam ‘Alawi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath, memiliki 4 anak, yaitu: 1. Abdullah (keturunannya terputus); 2. Ahmad (anaknya Fathimah ibu dari Ali dan Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam); 3. Abdul Malik keturunannya menyebar di India dan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Asia tenggara yang dikenal dengan nama 'AZMATKHAN (Leluhur Wali Songo); 4. Abdurahman, keturunannya keluarga Bahasyim, Bin Semith, Bin Thahir, Ba’bud Maghfun, Bafaraj, al-Haddad, Basuroh, Bafaqih, Aidid, al-Baiti Auhaj. =========================== ISTRI AL-IMAM ABDUL MALIK : =========================== Istri dari Imam Abdul Malik adalah Putri Raja Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, yang bernama Ummu Abdillah. ============================== ANAK-ANAK AL-IMAM ABDUL MALIK; ============================== Al-Imam Abdul Malik memiliki 4 (Empat) anak, 2 laki-laki, dan 2 Perempuan, yaitu: 1. Sayyid Abdullah 'AZMATKHAN (Leluhur Walisongo); 2. Sayyid Alwi Azmatkhan (Leluhur Azmatkhan India); 3. Syarifah Zainab Azmatkhan (nasabnya terputus); 4. Syarifah Fathimah Azmatkhan (nasabnya terputus). ===================================================================================== NAMA FAM AZMATKHAN DALAM ILMU NASAB; ===================================================================================== Nama ‘AZMATKHAN berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu. “AZMAT” berarti; mulia, terhormat. Dan “KHAN” memiliki arti setara seperti Komandan, Pemimpin, atau Penguasa. Nama ini disandangkan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik setelah beliau menjadi menantu bangsawan Nasarabad. Mereka bermaksud memberi beliau gelar “KHAN” sebagai bangsawan sekaligus penguasa setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan apa yang dialami Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “Syarif” (Mulia) keturunan keturunan Al-Husain putra Sayyidatina Fathimah al-Zahro' Al-Batul binti Sayyidina Wa Habibina Muhammad Rasulillah SAW, maka mereka menambah kalimat “AZMAT” sehingga menjadi “'AZMATKHAN”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان , dengan huruf latin mereka menulis “'AZMATKHAN”, bukan “ADHOMATU KHON” atau “ADHIMAT KHON” seperti yang ditulis sebagian orang. ===================================================================================== ================================================================ KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN sebagai berikut: ================================================================ ------------------- KESAKSIAN PERTAMA : ------------------- Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama’ asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: “Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal hadlramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” . ----------------- KESAKSIAN KEDUA : ----------------- Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata: “Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadlramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadlramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum ‘Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Al-Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Al-Sayyid Abdul Malik. Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India. Setelah Al-Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Al-Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Al-Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi SAW, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان, dengan huruf latin mereka menulis “AZMATKHAN”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang. Al-Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilalloh”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah. Nama putra Al-Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat. Adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan AZMATKHAN adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda. Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, BUKAN MARGA BELIAU yang merupakan PECAHAN MARGA BA 'ALAWY atau Al-Alawi Al-Husaini. Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, NAMUN yang TERTULIS dalam BUKU NASAN 'ALAWIYYIN adalah AZMATKHAN, bukan Al-Khan, sehingga PENULISAN AL-KHAN AKAN MENYULITKAN pelacakan di BUKU NASAB. Al-Sayyid Abdullah AZMATKHAN pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan di dalam memperkenalkan sebuah budaya. Al-Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Al-Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa. Ia (Al-Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzhom Syah Maulana Ahmad. Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzhom” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang “Raja”, “bangsawan” dan “pemimpin”, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang ‘Ulama’ besar. Al-Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”. Maulana Ahmad Syah Mu’azhzhom adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kedzoliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah. Di antara lereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Al-Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Al-Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu : Pertama: Syarif Qomaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua: ialah Al-Sayyid Majiduddin dan Yang Ketiga ialah Al-Sayyid Tsana’uddin.” Adapun Al-Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tambahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasululloh SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Alloh. Al-Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama: Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Thailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi. Barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Al-Sayyid HUSEIN dan Al-Sayyid SULAIMAN inilah NENEK MOYANG dari KELUARGA AZMATKHAN INDONESIA, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini. ------------------- KESAKSIAN KETIGA : ------------------- Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: “Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih”. KESAKSIAN KEEMPAT : Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Tholib berkta: “Al-AZMATKHAN adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih, dan KETURUNANNYA MASIH ADA SAMPAI SEKARANG ini melalui JALUR WALI SONGO di Jawa”. ------------------ KESAKSIAN KELIMA : ------------------ Penelitian sayyid Zain bin abdullah al-Kaf yg dikutip dalam buku: khidmatul ‘asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf: MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur 'AZMATKHAN. ------------------ KESAKSIAN KEENAM : ------------------ Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab: Syamsud Dzohirah, yang memvalidkan nasab jalur AZMATKHAN. KESAKSIAN KETUJUH : Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf Palembang. Bermula silsilah Wali Songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 Hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu Ushuluddin dan al-Quran. Dalam silsilah tersebut, tercatat nasab seorang ‘Alawiyin bernama Al-Sayyid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin ‘Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu, tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar Pangeran dan Raden, nasab Muhammad 'Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri Gresik Jawa Timur. --------------------- KESAKSIAN KEDELAPAN : --------------------- Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif bahwa Keluarga Azmatkhan sejauh ini tercatat memimpin banyak Kesultanan atau Kerajaan di Asia Tenggara. ------------------------------------------------------------------------------------ Diantaranya adalah : ------------------------------------------------------------------------------------ 1. Kesultanan Nasirabad – India; 2. Kesultanan Adipati Bagelen; 3. Kesultanan Adipati Bangkalan – Madura (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 4. Kesultanan Adipati Gerbang Hilir ; 5. Kesultanan Adipati Jayakarta; 6. Kesultanan Adipati Manonjaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 7. Kesultanan Adipati Pajang; 8. Kesultanan Adipati Pakuan (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 9. Kesultanan Adipati Sukapura (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 10. Kesultanan Adipati Sumenep (Sebagian dari Raja-Raja Sumenep adalah Keturunan Azmatkhan dari Jalur Fadhal Ali Al-Murthadha); 11. Kesultanan Adipati Tasikmalaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 12. Kesultanan Ampel Denta – Surabaya; 13. Kesultanan Banten; 14. Kesultanan Campa (Kamboja); 15. Kesultanan Cirebon Larang / Carbon Larang; 16. Kesultanan Demak Bintoro (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 17. Kesultanan Giri Kedaton; 18. Kesultanan Kacirebonan – Cirebon; 19. Kesultanan Kanoman – Cirebon; 20. Kesultanan Kasepuhan – Cirebon; 21. Kesultanan Kedah – Malaysia (Ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 22. Kesultanan Kelantan – Malaysia; 23. Kesultanan Mangkunegaran (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 24. Kesultanan Mataram Islam (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 25. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 26. Kasunanan Surakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan); 27. Kesultanan Pakualaman; 28. Kesultanan Palembang Darussalam; 29. Kesultanan Patani – Thailand; 30. Kesultanan Sumedang Larang / Sunda Larang; 31. Kesultanan Surabaya (Kelanjutan Kesultanan Ampel Denta); 32. Kesultanan Ternate; 33. Keratuan Darah Putih, Lampung; 34. Kerajaan Islam Tawang Alun Macan Putih, Banyuwangi; 35. DAFTAR KEPUSTAKAAN (BUKU-BUKU YANG MENJELASKAN) TENTANG AZMATKHAN : 1. Sayyid Ahmad bin Anbah,Umdatuth Thaalib Fii Ansaabi Aali Abi Thaalib; 2. Sayyid Aki As-Samhudiy, Jawaahir Al-Aqdaini Fii Ansaabi Abnaai As-Sibthaini; 3. Sayyid Abu Thalib Taqiyyuddin An-Naqiibi, Ghaayatu Al-Ikhtishoori Fii Al-buyuutaati Al-’Alawiyyati Al-Mahfuzhati Min Al-Ghayyaari; 4. As-Sayyid Al-Muhaddits Husain bin Abdurrahman Al-Ahdali, Tuhfatuz Zaman Fii Taariikhi Saadaatil Yamani; 5. As-Sayyid Abu Fadhal Muhammad Al-Kazhimi Al-Husaini, An-Nafkhah Al-Anbariyyah Fii Ansaabi Khairil Bariyyah; 6. As-Sayyid Dloomin bin Syadqam, Tuhfatul Azhaari Fii Ansaabi Aal An-Nabiyyi Al-Mukhtaari; 7. As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Attas, Uquud Al-Almaas; 8. Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-Jurjaani Al-Husaini, Musyajjarah Al-Mutadhammin Ansaabi Ahlilbaiti Ath-Thaahiri; 9. As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin ‘Amiiduddin Al-Husaini An-Najafiy, Kitab Bahrul Ansaabi; 10. As-Sayyid Murtadha Az-Zabiidi, Al-Musyajjir Al-Kasysyaaf Li Ushuulis Saadah Al-Asyraaf; 11. As-Sayyid Husain bin Muhammad Ar-Rifaa’i Al-Mishri, Bahrul Ansaabil Muhiith; 12. As-Sayyid ‘Ali bin Abi Bakar as-Sakran, Al-Jawaahir As-Saniyyah Fii Ansaabi Al-Husainiyyah; 13. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini Al-Hadrami, Kitab Syamsudz Dzohiiroh; 14. As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff, Khidmah Al-’Asyiirah Bi Tartiibi wa Talkhiishi Wa Tadzliili Syamsidz Dzoahiiroh; 15. As-Sayyid Dhiyaa’u Syihaab, Ta’liiqaat Mabsuuthah Wa Mufashsholah ‘Alaa Syamsidz Dzohiiroh; 16. As-Sayyid Umar bin Alawi Al-Kaff, Al-Faraayid Al-Jauhariyyah Fii Tarraajumi Asy-Syaharah Al-’Alawiyyah; 17. As-Sayyid Umar bin Abdurrahman bin Shihabuddin, Syajaratul ‘Alawiyyah; 18. As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif ; 19. As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini, Ansaabi Wali Songo; 20. As-Sayyid Abi Al-Mu’ammar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim Ba’alawi Al-Husaini, Kitab Abnaaul Imam Fii Mishra Was Syaami Al-Hasani Wal Husaini; 21. As-Sayyid Al-Qalqasandiy Al-Hasani, Nihaayatul Urabi Fi Ma’rifati Al-Ansaabi Al-’Arabi; 22. Al-Imam Abi Sa’di Abdil Karim bin Muhammad bin Mansur At-Tamimiy As-Sam’aaniy, Kitab Al-ansaab; 23. Al-Imam Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Balaadiri, Kitabu Al-Jumali Min Ansaabil Asyraaf. ===================================================================================== AL-SAYYID AL-IMAM AL-SYEIKH 'ABDUL MALIK AL-HUSAINY BIN 'ALAWY 'AMMIL FAQIH, Bergelar : ===================================================================================== 1. Al-Malik Lil Muslimiin = Raja Bagi Kaum Muslimin; 2. Al-Malik Min ‘Alawiyyiin = Raja dari Kalangan Keturunan Imam Ali bin Abi Thalib; 3. Al-Kholifah Lil Mukminiin = Khalifah bagi Kaum mukmin; 4. Al-Mursyid = Mursyid bagi beberapa tarekat; 5. An-Naaqib = Pakar dalam Ilmu Nasab; 6. Al-Muhaddits = Menghafal Ribuan Hadits; 7. Al-Musnid = Memiliki sanad keilmuan dari berbagai ‘Ulama’ dan guru; 8. Al-Quthub = Wali Qutub pada masanya; 9. Al-Wali = Seorang Waliyulloh; 10. Abu Al-Muluuk = Ayah dan datuk bagi para Raja; 11. Abu Al-Awliyaa’ = Ayah dan datuk bagi Para Wali Songo; 12. Abu Al-Mursyidiin = Ayah dan datuk bagi Para Mursyid; 13. Syaikhul Islam = Guru Besar Islam; 14. Imamul Mujaahidiin = Imam Mujtahid; 15. Al-Faqiihul Aqdam = Ahli Fiqih Yang paling utama; 16. Al-Mujahid Fii Sabiilillah = Pejuang di Jalan Alloh; 17. Al-Hafiizhul Qur’an = Penghafal Qur’an; 18. Shohibul Karomah = Raja dan Wali Alloh yang memiliki Karomah; 19. Amirul Mukminin= Pemimpin Pemerintahan Islam (Sumber Data: Kitab Ansabi Wali Songo, karya Sayyid Bahruddin) ----------------------------------------------------------------------------------- ------------------------------------------------------------------------------------- الامام الامير ابو الملوك وابو الأولياء عبد الملك بن علوى عم الفقية واصل كلمة عظمت خان ------------------------------------------------------------------------------------- ------------------------------------------------------------------------------------- نسبه ========== هو السيد عبد الملك بن علوى(عم الفقيه) بن محمد بن على بن علوي بن محمد بن علوي بن عبيد لله بن احمد المهاجر بن عيسى الرومي بن محمد النقيب بن على العريضي بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن على زين العابدين بن الحسين بن علي بن ابى طالب وبن فاطمة بنت رسول لله ------------------------------------------------------------------------------------- ========= مولده ========= ولد رحمه لله بقسم حضرموت,حوالي سنة 574ﻫ,واشتهر ﺑ"المهاجر الى لله"لهجرته من حضرموت الى كوجرات للدعوت والارشاد كما كان اسلافه,منهم الامام المهاجر احمد بن عيسى,لقب بالمهاجر لهجرته من العراق الى حضرموت. افادنا التاريخ بان غزو المغوليين قد وصل الى قارة اسيا ونواحيها,والشهير من ملوكها هو المسمى ﺑ"كوبلي خان"وهو حفيد لجغكيس خان القاتل المؤسس الاول لمملكة موغول الكبرى, وبعد ان اركع وغلب الموغوليون على كثير من المدن والدول,فظهر وبايع كثير من الممالك الصغيرة تحت سلطة وسيطرة مملكة الموغول,ومن المملكة التابع تحت سيطرتها هي مملكة ناصرابد باالهند,فخلع على ملوك هذه المملكة كلمة "خان"فى اسمه نسبة الى المؤسس الاول جغكيس خان والحفيد كوبلي خان,ويشاء القدر ان يهاجر احد احفاد الامام المهاجر الى الله احمد بن عيسى البصرى الحضرمي,وهو الامام عبد الملك المهاجر من حضرموت الى كوجرت بالهند,باخلاقه المحمودة استطاع رحمه الله ان يقيم علاقة ودية قوية مع سلطان حيدرابد,واستطاع الامام المهاجر باخلاقه المحمودة و باوصاف اسلافه الحسنة وبعد معرفةالسلطان بنسبه الشريف المتصل باهل البيت,فانكح وزوج السلطان ابنته الاميرة الملقبة بأم عبد لله بعبد الملك بن علوى العلوى الحسينى,فخلع عليه لقب الامير,وقصد السلطان ان يخلع لقب"خان"فى اسمه كما استخدمه اسرة وعائلة السلطان,كما وقع مثل ذلك على السيد احمد رحمة الله بن ابرهيم ز؊ن الكبير بعد ان تزوج بابنة احدى اسرة امبراطور"ماجافاهيت"بجاوا الاندونيسية,فزادوا عليه كلمة "عظمت" باللغة الاوردوية وهو لقب بمعنى الاعزاز والاحترام كما هو بالعربية,لانه من بنى علوى من ذرية رسول لله ,و"خان"بمعنى اسرة العظيمة او العائلة المعظمة,فكتبوا "خان عظمت"باللغة الاردوية وهم يقدمون الصفة على الموصوف عكس العربية, و "عظمت خان"باللغة العربية.وقال محمد بن احمد بن عمر الشاطري فى كتابه:"وكانوا غالبيتهم قد نجهوا فى كثير من المجالات الاجتماعية والعلمية والسياسية والادبية والاقتصادية,ومنهم شحصيات كبيرة بارزة,وفى سابق الزمان يحتفظون بانسابهم,ثم قل هذ الاحتفاظ تدريجيا بقدر امتزاجهم بالهنود حتى معظمهم لا يعرف اصله ولا فصله ولا يتميز عن الاعجام من الهنود المسلمين,ومن الباحثين من يجعل ناشرى الاسلام بجاوا ونواحيها منهم" واشتهر الامام عبد الملك بلقب"المهاجر الى لله"لهجرته من حضرموت الى الهند لنشر الاسلام واحكامه كاسلافه منهم الامام المهاجر احمد بن عيسى,لقب بالمهاجر لهجرته من العراق الى حضرموت ليقوم بالدعوة الى الهدى ودين الحق بالدعوة الصالحة والاسوة الحسنة بدون استعمال قوة العسكرية والسيوف.وقال الحامد الحسيني فى كتابه:"ولد السيد عبد الملك بقسم حضرموت حوالي سنة 574ﻫ,غادر وهاجر من حضرموت الى الهند مع جماعة من السادة العلويين,ثم استقر فى ناصر ابد,وله اولاد منها الامام الامير خان عبد لله الذي ولد بناصر ابد,وقيل ولد بقرية قرب ناصر ابد بالهند,وهوولد الثانى لعبد الملك" وقال الشيخ على بدرى عظمت خان فى موقع الرابطة :"ان كتابة الامير خان قبل كلمة عبد لله خطأ فى الكتابة,والصواب هي الامير عبد لله عظمت خان,لان الامير هو لقب لاسرة السلطان واولاده,واما عظمت خان هو لقب الآل,اتباع لابيه,وبعضهم يكتب بعبد لله خان بدون عظمت,وهذا خطأ ايضا,لان "خان"هو لقب قد اشتهر استعماله بالهند وباكستان لعائلة السلطان واسرته,واما الامام عبد لله بن عبد الملك فهو من بنى علوى الحسينى وقال الدكتور السيد محمد حسن العيدروس بان هجرة الاشراف العلويين الحضرمي الى جزيرة الهند واستقرارهم هناك منذ القرن العاشر الملادية او قبله,مثل اسرة الامام عبد الملك بن علوى عم الفقيه بن الامام محمد صاحب مرباط المتوفى سنة 613 ﻫ,سلالته وذريته قد انتشر بالهند ونواحيها,وتميزوا واشتهروا بقوة الارادة والجراءة,حيث اقاموا بسلطنة المسمى "عظمت خان"بالهند ,واضاف الدكتور نجيب صلبي نقلا عن كتابه"دراسات فى تاريخ مورو ودينهم" وذكر فيها بان الدعاة الاسلام الذين قاموا بالدعوة بجزر الفلبين هم اشراف العلويين من حضرموت من سلالة وعترة الامام الشريف علوي بن محمد بن علوي بن عبيد لله بن الامام المهاجر احمد بن عيسى ومن ذرية الدعاة الاسلام بماليزيا واندونيسيا ونقلا عن السيد على بن ابى بكر السكران فى كتابه المسمى:"الجواهر السنية فى انساب الحسينية" قال: العظمت خان هو نسبة الى الامام الامير السيد عبد الملك بن علوى عم الفقيه.وقال السيد سالم بن عبد لله الشاطري الحسيني:آل عظمت خان(اولياء التسعة) وهو من قبيلة باعلوي الحضرمي اليمني,وهم طائفة الاولى المهاجرين الى بلاد جاوا(اندونسيا) لنشر الاسلام والارشاد,رحمهم لله تعالى عليهم اجمعين,يناسب باسمهم"الملك عظمت خان"يعنى الملك من اسرة العظيمة ==================================================================================== ونقلا عن قول السيد بحر الدين عظمت خان الجعفري الحسيني فى كتابه المسمى ﺑ"انساب والى ساغا"وخلع الناس على الامام عبد الملك بن علوي القاب كثيرة ,منها: الملك للمسلمين -الملك من العلويين -الخليفة للمؤمنين -المرشد -النقيب -المحدث -المسند القطب -الولي -ابو الملوك -ابو الاولياء -ابو المرشدين -شيخ الاسلام -امام المجاهدين -الفقيه الاقدم -المجاهد فى سبيل لله -الحافظ القران -صاحب الكرامة -امير المؤمنين ------------------------------------------------------------------------------------- ======== اولاده ======== ورزقه لله اربعة اولاد,ابنان وبنتان 1. السيد عبد لله عظمت خان(جد اولياء التسعة بجاوا) 2. السيد علوي عظمت خان(جد آل عظمت خان بالهند) 3. شريفة زينب عظمت خان(انقطع نسبها) 4. شريفة فاطمة عظمت خان(انقطع نسبها)

QOLAM DAN LAUHUL MAHFUDZ

========================== QOLAM DAN LAUHUL MAHFUDZ ======================== Qolam dan Lauhul Mahfudz adalah perkara yang haq (benar) wajib diimani oleh setiap muslim karena merupakan cabang dari rukun iman, yaitu beriman kepada hari akhirat. Qolam adalah makhluk besar yang diciptakan Alloh bercahaya dan berkilau, lalu Alloh menugaskan untuk mencatat sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi sampai hari kiamat. Sedangkan Lauhul Mahfudz artinya lembaran yang terjaga. Ia adalah makhluk besar yang diciptakan Alloh bercahaya. Dengan idzin-Nya Qolam diperintahkan untuk mencatat sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi di dalam Lauhul Mahfudz atau lembaran yang terjaga. Jadi setiap muslim wajib mengimani dengan keimanan yang benar bahwa Alloh mengetahui sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi. Tidak ada sesuatupun yang ada di bumi dan di langit, baik itu merupakan perkara yang ghaib atau tersembunyi, atau perkara yang telah berlalu dan yang akan datang, tidak ada yang tidak diketahui oleh Alloh. Tidak ada sesuatu yang samar bagi-Nya, semuanya sama, tidak ada perbedaan bagi-Nya antara yang samar dan yang nyata, semua berada dalam pengetahuan Alloh. ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُون Alloh berfirman, “Nun, demi Qolam dan apa yang mereka tulis” (al-Qalam, 1) Dalam ayat diatas Alloh telah memerintahkan Qalam untuk menulis takdir segala sesuatau dalam Lauhul Mahfudz atau lembaran yang terjaga. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh kebanyakan ahli tafsir bahwa pertama tama makhluk diciptakan oleh Allah adalah Qalam (pena), lalu Dia berkata kepadanya: ”Tulislah!”. Qalam itu berkata: ”Apa yang saya tulis”. Dia berkata: “Tulislah sesuatu yang terjadi sampai hari Kiamat”. Maha Suci Allah yang telah menciptakan Qalam dan memerintahkannya untuk menulis dalam Lauhul Mahfudz segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi sampai hari Kiamat, sebagaimana dalam firman-Nya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (AL Hadid, 22)

ARSY DAN KURSI

============== ARSY DAN KURSI. --------------- Arasy dan Kursi adalah perkara yang hak atau benar yang wajib diimani keberadaanya oleh setiap muslim. Iman kepada Arsy dan Kursi merupakan cabang dari rukun iman yang keenam yaitu beriman kepada hari akhirat. Sekarang apa itu Arsy dan Kursi? Arsy atau Singgasana Allah merupakan makhluk besar bercahaya dan berkilau yang meliputi seluruh makhluk. Arsy adalah makhluk yang paling tinggi dan paling besar dari besarnya sehingga tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah sendiri. Arsy terdiri dari 4 tiang yang dipikul oleh 4 malikat. ”Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.(al- Mu’minuun, 116) Sedangkan Malaikat Pemikul Arsy, telah disifatkan dalam hadist yang diriwatkan oleh Ibnu Hatim dengan sanadnya dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda: :”Telah dizinkan kepadaku untuk bercerita tentang seorang dari Malaikat-Malaikat Allah yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun. (dalam riwayat lain:700 tahun burung terbang dengan cepat) (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dari Shahabat Jabir bin Abdillah ra). Hadits ini menunjukkan bahwa Arsy merupakan makhluk Allah yang besar bercahaya dan berkilau, dan perlu diketahui bahwa nanti di hari kiamat Arsy ini akan dijunjung oleh beberapa malaikat (8 malaikat) sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika beliau menafsirkan surat Al Haaqqah: ”Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al Haaqqah,15-17) Tentu kita akan bertanya dimana Arsy dan Kursi Allah berada? Allah berfirman ”Arsy Allah berada diatas air”. Rasulallah saw dalam haditsnya yang diriwatkan oleh Abu Dawud bersabda. ”Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas ‘Arsy” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud). Jadi ‘Arsy adalah singgasana Allah yang berada di atas air. Sedangkan Kursi berada diatas langit ke tujuh dan diatas kursi itu ada air dan diatas air ada Arsy. Sebuah hal yang sangat mengagumkan, bahwa jarak antara langit dengan langit, langit ke tujuh dengan kursi, kursi dengan air dan air dengan arsy-Nya adalah 500 tahun perjalanan (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Khuzaimah, Thabrani dan Ibnu Mahdi). Subhanallah. Anda bisa bayangkan betapa jauhnya jarak tsb! Adapun Kursi adalah makhluk besar bercahaya dan berkilau terdapat dibawah Arsy dan diatas langit yang 7. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah, 255 (ayat Kursi) “Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”. Menurut penafsiran yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa Kursi itu adalah tempat kedua Kaki Allah atau tempat Allah meletakkan kedua Kaki-Nya. Jadi ringkasnya, “kursi Allah” adalah tempat dimana Allah meletakkan kakinya. Dan ini menjadi dalil bahwa Allah mempunyai kaki akan tetapi kaki Allah tidak sama dengan kaki kaki makhluk ciptaan-Nya. Karena Allah telah berfirman dalam surat Asy-Syuura,11 yang artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” Ada satu hadits yang menerangkan kehebatan Kursi dan Arsy Allah yang diriwaykan Muhammad bin Syaibah dalam kitabul ‘Arsy dari Abu Dzar al-Ghifari “Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.” Hikmah Dan Atsar Dari keterangan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa semakin kita mengetahui ilmu Tauhid, semakin banyak kita mengetahui tentang kebesaran dan keagungan Allah, dan semakin membuat diri kita menjadi kerdil, kecil dan hina dihadapan Allah yang Maha Maha Maha besar.

JEMBATAN HAQIQI(SHIROTH)

================= JEMBATAN (SHIROTH) ------------------- Jembatan Shirat adalah sesuatu yang benar/haq wajib diimani oleh setiap muslim. Shirat adalah jembatan yang terbentang diatas neraka jahanam, dilewati oleh semua yang beriman. Muslimin dan pengikut para Rasul akan berhasil melewati Shirat. Shirat ini lebih tajam dari pedang, lebih halus dari rambut, dan mudah menggelincirkan. Shirat adalah jalan yang gelap serta membakar. Melewati jembatan shirat termasuk ujian berat, bahkan yang paling berat pada hari kiamat, sebab di dalamnya terdapat berbagai hal yang menakutkan, mencemaskan, dan mengkhawatirkan mereka. Dan mereka tidak bisa membayakan bagaimana bentuk penyeberangan ini. Maka muslimin, pengikut Rasulallah saw dan yang lainnya akan melewati jembatan tadi. Keselamatan melewat jembatan shirath itu tergantung dari amal perbuatan mereka di dunia, diantara mereka ada yang lewat bagaikan kejapan mata, ada juga yang lewat seperti kilat, ada yang lewat bagaikan angin, ada juga yang lewat bagaikan burung. Ada juga yang seperti kuda tunggangan yang kencang. Ada lagi yang berlari dan berjalan. Ada juga yang lewat seperti bayi merangkak. Mereka semua berjalan sesuai dengan kadar amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. Jika amal mereka baik maka mereka akan mudah melewati shirat, jika buruk mereka akan dipersulit untuk melewatinya. Makanya kita harus menyakini dengan keimanan yang kuat dan memelihara amal amal kita di dunia agar kita bisa selamat dari ujian-ujian tersebut. Dari Abu Said Al-Khudry : ”Maka ada orang-orang mukmin yang melewatinya sekejap mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti burung, ada yang bagaikan tunggangan yang baik. Orang yang selamat tanpa suatu apapun, itulah yang akan selamat kesurga. Orang yang tercakar, masih menggantungkan nasibnya dan yang terdorong akan masuk ke neraka” (Bukhari, Muslim, An-Nasa’i dan Ahmad) Ketika selamat melewati jembatan sampai ke seberang, mereka berkata: ”Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dan kamu dari neraka setelah terlebih dahulu memperlihatkan dirimu kepada kami.Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kami apa yang tak pernah Dia berikan kepada siapapun” (HR. Al-Hakim). Di saat ujian melewati jembatan shirath setiap orang hidup nafsi nafsi, hanya memikirkan dirinya sendiri. Masing masing ketakutan dengan kedahsyatan hari itu. Dan disinilah pentingnya keberadaan Nabi saw di shirath. Keberadan beliau di sana untuk memberi syafaat kepada umatnya agar mudah melewati jembatan itu. Anas bin Malik ra berkata dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, ”Aku memohon kepada Nabi agar memberikan Syafaat untukku pada hari kiamat.” Rasulallah saw bersabda: “aku akan melakukannya”. Anas bertanya lagi :” Wahai Rasulullah dimanakah aku mencarimu? Beliau bersabda : “Carilah aku pertama kali diatas shirat”. Anas lalu bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak menjumpai mu di atas shirat? Beliau bersabda, “Maka carilah aku di mizan”. Aku bertanya, “Lalu bagaimana kalau aku tidak menjumpaimu di mizan? “. Beliau bersabda : “Maka carilah aku di Haudh (telaga) . Karena sesungguhnya aku tidak luput dari tiga tempat tersebut”. Tentu dari kemulian Nabi saw disisi Allah, beliau adalah orang pertama yang akan melewati jembatan shirath yang terbentang diatas neraka jahanam, kemudian diikuti oleh ummatnya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Lalu diletakkan shirat diantara kedua sisi jahanam, maka aku adalah orang yang pertama kali melewatinya diantara para Rasul yang membawa umatnya. Tidak ada yang dapat berbicara ketika itu kecuali para Rasul. Doa para Rasul ketika itu adalah : “Ya Allah. Selamatkanlah, selamatkanlah.” (Bukhari Muslim) Saudaraku, kita tidak segan segan berdoa semoga Allah selalu memberikan petunjuk yang baik kepada kita agar supaya tetap beramal baik dan beristiqamah dalam melakukan segala yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya dan dimapuni dosa dosa kita dan diberikan rahmatNya yang luas agar kita selamat di akhirat nanti dan bisa menyebrangi jembatan shirath bersama sama Nabi saw. Karena beliau adalah satu satunya manusia yang bisa membatu dengan syafaatnya dari kedahsyatan hari hari akhirat. Amin.

AL-HAUDL (TELAGA NABI SAW)الحوض

------------------ Telaga Nabi (Al-Haudl) الحوض الحوض حق يجب الايمان به و هو جسم مخصوص كبير متسع الجوانب يكون على الأرض المبدلة ، ماؤه أبيض من اللبن و ريحه أطيب من المسك و كيزانه أكثر من نجوم السماء ، من شرب منه لا يظمأ أبدا ترده الخلائق يوم القيامة الصراط الصراط حق يجب الايمان به و هو جسر ممدود على متن جهنم يمر عليه الأولون و الآخرون يتفاوت مرورهم عليه ، فمنهم من يمر كطرف العين ، و منهم من يمر كالبرق الخاطف و منهم من يمر كالريح العاصف و منهم من يمر كالطير و منهم من يمر كالجواد السابق و منهم من يمر سعيا و مشيا و منهم من يمر حبوا بحسب أعراضهم عن حرمات الله . AL-HAUDL (TELAGA). Al- Haudh dalam bahasa artinya kolam atau bisa juga diartikan tempat air, tapi yang dimaksudkan haudh di sini adalah telaga Nabi saw di akhirat. Telaga nabi saw merupakan suatu yang telah ditetapkan dalam aqidah akan keberadaannya dan wajib diimani. Keberadaan Telaga Nabi telah disabdakan oleh Rasulallah saw dalam hadits beliau yang diriwatkan oleh shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Telagaku seluas perjalanan selama satu bulan dan panjang tepi-tepinya sama demikian. Airnya lebih putih dari susu, wanginya lebih wangi dari minyak misk, cangkirnya sejumlah bintang-bintang yang ada di langit. Barang siapa yang telah meminum air telaga tersebut niscaya dia tidak akan merasa haus untuk selama-lamanya” Jadi, pembahasan mengenai telaga Nabi saw merupakan pembahasan yang berkaitan dengan keimanan terhadap hari akhir. Atau termasuk perkara sam’iyyat yaitu hal yang ghaib, tidak bisa ditundukan oleh akal tapi diyakini dengan keimanan yang kuat, berdasarkan dalil dalil yang harus lebih didahulukan dari pemikiran akal. Sama dengan syafa’at, setiap nabi memiliki syafaat. Tapi syafaat yang terbesar di hari kiamat adalah syafaat Nabi saw yang disebut Syafaat ’Udhma, begitu pula setiap nabi memili telaga yang bisa dicicipi airnya oleh umatnya. Tapi telaga nabi merupakan telaga yang berlainan dengan telaga telaga para nabi lainya. Telaga Nabi saw adalah telaga paling besar, paling indah, paling lezat airnya, dan paling penuh dikunjungi oleh umatnya. Jelasnya telaga Nabi saw dibuat oleh Allah khusus untuk kita sebagai pengikutnya atau ummatnya. Tentu hal ini bukan hanya cerita atau dongeng tapi berdasarkan sabda Nabi saw , “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga, mereka membanggakan diri, siapa di antara mereka yang paling banyak peminumnya (pengikutnya). Dan aku berharap, akulah yang paling banyak pengikutnya.” (Tirmidzi) Rasulallah saw pernah menggambarkan telaga ini dalam hadistnya, diantaranya airnya sangat bersih dan putih bahkan lebih putih dari susu. Rasanya sangat lezat dan manis lebih manis daripada madu. Wanginya lebih wangi dari minyak kesturi. Cangkirnya tidak terhitung banyaknya sebanyak bintang yang berada di langit. Telaga ini juga memiliki dua saluran yang dihubungkan ke surga, yaitu ke sungai al-Kautsar. Barangsiapa yang minum seteguk dari air telaga ini, maka tidak akan kehausan lagi selamanya. Rasulallah saw bersabda, “Telagaku (panjang dan lebarnya) satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, wanginya lebih harum daripada kesturi, cangkirnya sebanyak bintang di langit, siapa yang minum darinya, ia tidak akan merasa haus selamanya.” (Imam Bukhari). Saudaraku, mari kita berdoa semoga Allah memudahkan bagi kita agar bisa mampir ke telaga Nabi saw dan mencicipi airnya yang lebih putih dari susu, lebih harum dari kesturi, dan lebih manis dari madu. Amin ya Rabbal ’alamin.

TOTALAN(HARI PERHITUNGAN) الحساب

---------------- Hari Hisab. في بقية أحوال ما بعد الموت الحساب الحساب هو توقيف الله الناس على أعمال خيرا كانت أو شرا ، قولا كانت أو فعلا تفصيلا بعد أخذهم كتبهم ، قال الله تعالى { إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ } الوزن و الميزان الوزن حق يجب الايمان به و هو وزن أفعال العباد و الميزان هو على هيئة الميزان المعروف ، له قبضة وعمود و كفتان ، كل واحدة منهما أوسع من طبقات السموات و الأرض و جبريل أخذ بعموده ناظر الى لسانه و ميكائيل أمين عليه و محله بعد الحساب ، قال الله تعالى { فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ * فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ * وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ * فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ * وَمَآ أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ * نَارٌ حَامِيَةٌ } PELAJARAN KETIGABELAS: HAL IHWAL SETELAH KEMATIAN (LANJUTAN) SYARAH HARI HISAB (HARI PERHITUNGAN) Yaum al-Hisab artinya hari perhitungan amal baik dan amal buruknya manusia. Setelah berada di padang Mahsyar selanjutnya semua manuisa satu persatu akan dihisab. Sebelum dihisab, mereka diberitahu tentang amal perbuatan yang telah mereka kerjakan meskipun mereka telah lupa apa yang mereka kerjakan. Mereka akan dihisab dengan perbuatan yang mereka lakukan, dari yang besar sampai yang sekecil kecilnya. Semua anggota tubuh manusia menjadi saksi. Tangan menjadi saksi, kaki menjadi saksi, semua aggota tubuh menjadi saksi. Amal manusia didunia telah dicatat oleh Malaikat, tanpa ada kekliruan sedikitpun. إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ ”Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (al-Ghasyiyah, 25-26) Manusia akan merenima al-kitab atau buku catatan amal yang telah dilakukan ketika di dunia. Amal-amal tersebut kemudian ditimbang di atas mizan atau neraca. Barang siapa yang berat amal kebaikannya akan dimasukkan ke surga dan yang ringan kebaikannya akan dimasukkan ke neraka. Apabila al-kitab itu penuh dengan catatan amal kebaikkan selama di dunia maka akan diterima oleh tangan kanan, sebaliknya bila al-kitab itu penuh dengan catatan amal kejahatan, maka akan diterima oleh tangan kiri. Sesuai dengan Firman Allah: “Maka adapun orang yang diberi kitabnya dari arah kanannya, akan diperhitungkan amal perbuatannya dengan mudah, dan kembali kepada ahlinya riang gembira. Adapun orang yang diberikan kitab amalannya dari arah kirinya dia akan mengalami kesengsaraan, dan dimasukakan kedalam Neraka Sa’ir.” (Al- Insyiqaq, 7 – 12) ” Hari Hisab adalah hari yang benar dan hak wajib diimani oleh setiap muslim dengan keimanan yang benar. Karena merupakan cabang dari rukun iman, yaitu beriiman kepada hari ahkirat.

SYAFA'AT NABI SAW(صلى الله عليه و آله وسلم شفاعة النبي )

============ Syafa’at Nabi شفاعة النبي =============== هي الشفاعة العظمى و فيشفع النبي صلى الله عليه و آله وسلم في فصل القضاء حين يقف الناس و يتمنون الانصراف و لو الى النار لشدة حرارة الشمس في انصرافهم من الموقف . و قد أخرج الشيخان عن أنس رضي الله عنه قال ، قال رسول الله صلى الله عليه و آله وسلم : إذا كان يوم القيامة ماج الناس بعضهم الى بعض ، فيأتون آدم عليه السلام فيقولون اشفع لذريتك ، فيقول : لست لها ولكن عليكم بابراهيم عليه السلام فإنه خليل الله ، فيأتون ابراهيم ، فيقول : لست لها و لكن عليكم بموسى فإنه كليم الله فيؤتى موسى عليه السلام فيقول : لست لها و لكن عليكم بعيسى فإنه روح الله و كلمته ، فيؤتى عيسى عليه السلام فيقول : لست لها و لكن عليكم بمحمد صلى الله عليه وآله و سلم فيأتون فأقول : أنا لها فأنطلق فأستأذن على ربي فيؤذن لي فأقوم بين يديه فأحمده بمحامد لا أقدر عليها الآن يلهمنيها الله ، ثم أخرّ لربي ساجدا فيقول : يا محمد ارفع رأسك و قل يسمع و سل تعطه و اشفع تشفع ، فأقول : يا ربي أمتي ، فيقول : انطلق فمن كان في قلبه مثقال حبة من برة أو شعيرة من أيمان فأخرجه منها . فأنطلق فأفعل ثم أرجع الى ربي فأحمده بتلك المحامد ثم أخرّ له ساجدا فيقال لي مثل الأولى ، فأقول يا ربي أمتي ، فيقال لي انطلق فمن كان في قلبه مثقال حبة من خردل من ايمان فأخرجه منها ، فأنطلق فأفعل ثم أعود الى ربي فأفعل كما فعلت فيقال لي ارفع رأسك مثل الأولى فأقول : يا ربي أمتي أمتي فيقال : انطلق فمن كان في قلبه أدنى من مثقال حبة من خردل من ايمان فأخرجه من النار . فأنطلق فأفعل ثم أرجع الى ربي في الرابعة فأحمده بتلك المحامد ثم أخرّ فيقال لي : يا محمد ارفع رأسك و قل يسمع لك و سل تعطه و اشفع تشفع ، فأقول : يا ربي ائذن لي فيمن قال لا اله إلا الله ، قال ليس ذلك لك أو قال ليس ذلك اليك و لكن و عزتي و جلالي و كبريائي و عظمتي لأخرجن منها من قال لا اله إلا الله . SYAFA’AT NABI SAW Setelah semua mahkluk bernyawa di dunia mati dan hancur binasa, Allah menghidupkan mereka kembali. Maka dengan tiba-tiba mereka pun tegak bangun berdiri. Mereka melihat langit, didapati langit berjalan. Mereka melihat bumi, didapatinya telah bertukar wajah, tidak seperti bumi yang dahulu. Semua makhluk berhimpun, bercampur baur menjadi satu di satu kawasan yang disebut padang Mahsyar, luasnya tak terbatas, berjejal jejal, saling berdesakan, dibanjiri keringat, tanpa pakaian, tanpa busana yang menutupi badan. Dalam masa bangkit itu, manusia dalam keadaan bermacam-macam rupa. Lantas mereka berkata: ”Aduh celakanya kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (dari kubur kami)? Lalu dikatakan kepada mereka: “Inilah dia yang telah dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pemurah dan benarlah berita yang disampaikan oleh Rasul-rasul!” (Yassin, Ayat: 52). Di sana semua makhluk hidup nafsi nafi. Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, lari dari ibu dan bapaknya, lari dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang bisa melupakan segala galanya. Pada hari itu tak ada yang bisa diharapkan di hadapan pengadilan Allah kecuali sekelumit harapan yang disebut “Syafaat Nabi saw”. Syafa’at ini adalah do’a yang Rasulallah saw simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.”. Maka sepatutnya kita sebagai umat Muhammad meyakini wujud syafa’at Nabi saw di hari kebangkitan, disaat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar dengan iman dan keyakinan yang kuat, mengetahui apa yang diimani, bukan hanya sekedar angan-angan dan kepercayaan. Sekarang apa itu Syafa’at? Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi saw baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Ibnul Atsir mengatakan, ”Yang dimaksud dengan Syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.” Contohnya, manusia banyak berbuat dosa selama hidupnya di dunia. Di hari kiamat mereka tidak bisa terhidar dari hisab atau perhitungan yang harus dipertanggung jawabkan. Mereka berharap agar ada orang yang bisa menolongnya, tapi sia sia belaka. Karena hari itu adalah hari yang sangat dahsyat. Mereka akan menemui musibah dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihindarkan oleh seorang pun, hanya ada secerah harapan berupa syafa’at yaitu perantara atau penghubung yang bisa menyelesaikan hajatnya. Di sana mereka meminta pertolongan kepada Allah melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi agar bisa menghilangkan musibah dan kesulitan yang menimpah diri mereka saat itu. Sekarang mari kita ikuti kisah syafa’at Nabi saw yang dikenal dengan Syafa’at al-‘Uzhma dalam hadits yang cukup panjang. Kisah ini terjadi ketika semua makhluk berkumpul di padang masyhar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik ra, sesungguhnya Rasulallah saw bersabda, bahwa pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh makhluk di satu tempat yang luas. Manusia pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan. Mereka tidak kuasa menahan dan memikul beban pada saat itu. Kemudian mereka mendatangi Nabi Adam as, lalu berkata, “Wahai Adam, berilah syafa’at untuk anak cucumu” Adam as berkata, ”Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Ibrahim as, sesungguhnya ia adalah kekasih Allah (Khalilullah)”. Kemudian mereka mendatangi Ibrahim as. Lalu ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Musa, sesungguhnya Allah telah berbicara langsung kepadanya (Kalimullah)”. Kemudian mereka mendatangi Musa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at pada kalian hari ini. Pergilah kalian kepada Isa, sesungguhnya ia adalah ruh Allah dan kalimat-Nya”. Kemudian mereka mendatangi Isa as. Lalu ia berkata, “Aku tidak bisa memberi syafa’at untuk kalian pada hari ini. Pergilah kalian kepada Muhammad!” kemudian mereka mendatangiku. Lalu aku berkata, ”Aku memberi syafaat untuk kalian pada hari ini”. kemudian aku pergi meminta izin kepada Allah. Setelah diizinkan aku berdiri dihadapan-Nya. Kemudian Allah memberi ilham padaku dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya yang belum pernah Allah beritahukan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian aku tersungkur bersujud dihadapan-Nya. Lalu Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku mengangkat kepalaku. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, Ummati, Ummati (umatku, umatku).”. Maka Dia berfirman, ”Wahai Muhammad, pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebesar biji gabah atau gandum dari keimanan”. Kemudian aku pergi dan aku lakukan apa yang diperintahkan, lalu aku kembali lagi kepada Allah dan memuji-Nya dengan pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku seperti dikatakan semula. Kemudian aku berkata, ”Ya Allah, ummati ummati (ummatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku, ”Pergilah, dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang di hatinya memiliki sebiji sawi dari keimanan”. Kemudian aku lakukan sebagaimana aku lakukan pertama. Lalu aku kembali lagi kepada Allah dan aku lakukan sebagai mana yang telah aku lakukan semula. Kemudian dikatakan kepadaku ”Angkatlah kepalamu” sebagaimana dikatakan kepadaku pertama kali. Lalu aku katakan ”Ya Allah, ummati ummati (umatku ummatku). Kemudian dikatakan kepadaku ”pergilah dan keluarkanlah umatmu dari neraka siapa yang dihatinya terdapat lebih kecil dari biji sawi dari keimanan”. Kemudian aku pergi dan melakukan apa yang diperintahkan. Lalu aku kembali kepada Allah untuk yang keempat kalinya. Lalu aku memuji-Nya dengan berbagai pujian dan sanjungan untuk-Nya. Kemudian aku bersujud kepada-Nya, lalu dikatakan kepadaku ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah pasti engkau akan didengar, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu aku katakan ”Ya Allah, izinkanlah aku agar bisa mengeluarkan umatku dari neraka bagi yang telah mengucapkan La Ilaha Ilallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Kemudian Allah berfirman, ”Ya Muhammad, sesungguhnya hal itu bukan bagimu atau hal itu bukan atasmu. Akan tetapi demi Kemulian-Ku, Keluhuran-Ku, Kesombongan-Ku, dan Kebesaran-Ku, Aku pasti akan keluarkan umatmu dari neraka siapa yang telah mengucapkan La Ilaha Illallah”. Hikmah Dan Atsar Dari hadits diatas kita bisa menarik beberapa kesimpulan dan hikmah penting diantaranya: Pertama tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin Allah. Contohnya makhluk yang paling mulia dan penutup para Nabi yaitu Rasulallah saw, disaat ingin memberi syafaat kepada umatnya yang sedang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Beliau tidak lepas dari sujudnya sampai dikatakan pada beliau, “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“. Kedua betapa mulianya kedudukan Rasulallah saw di sisi Allah, sehingga tidak ada satu nabi pun yang mampu memberi syafa’at kepada manusia di padang Mahsyar kecuali Nabi saw. Itulah bukti nyata kecintaan Allah kepada Nabi saw, cinta yang tidak berkesudahan. Dari kecintaan-Nya kepada beliau, apa yang dipintanya dikabulkan. Ketiga, hadits di atas bisa pula dijadikan bukti nyata akan kecintaan sejati Nabi saw terhadap umatnya. Cinta sejati beliau terhadap umatnya dibawa sampai ke padang Mahsyar, ketika manusia dalam keadaan sangat gawat. Ketika manusia dimintai pertanggung jawaban atas semua perbuatannya, ketika para nabi menolak dimintai syafa’at (pertolongan) oleh umatnya. di saat itulah Rasulullah saw justru tidak meninggalkan ummatnya. Beliau tersungkur dan bersujud di Arsy di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya. Allah berkata, ”Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti engkau akan diberi, berilah syafa’at pasti akan dikabulkan”. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan tidak ada yang dikatakan Nabi saw kecuali, ”Ya Allah , umati, umati”.

HARI KEBANGKITAN (YAUMUL BA’ATS DAN YAUMUL NASYR)

================== HARI KEBANGKITAN (YAUMUL BA’ATS DAN YAUMUL NASYR). Hari kebangkitan adalah hari dibangkitkannya seluruh manusia yang pernah hidup di dunia dari mulai zaman nabi Adam as sampai yang baru lahir saat kiamat, semuanya akan bangkit kembali dari dalam kubur setelah kematian untuk kemudian digiring (nasyr) ke satu tempat di padang mahsyar lalu dihisab/dihitung amal perbauatannya selama hidup di dunia. Seluruh manusia akan bangkit dengan jasad ketika masih muda dengan wajah berbeda-beda sesuai amal perbuatannya. Hari kebangkitan wajib diimanai oleh setiap muslim dengan keimanana yang kuat dan merupakan salah satu cabang dari rukun iman yang kelima yaitu percaya kepada hari akhirat. HARI MAHSYAR (HARI BERHIMPUN) Setelah semua makhluk dibangkitkan (ba’ats) dari alam kubur, mereka akan digiring (nasyr) ke satu tempat yang disebut padang Mahsyar. Di sana mereka selanjutnya akan berkumpul menjadi satu himpunan. Mahsyar adalah padang yang sangat luas dan datar, dimana tidak terlihat dataran rendah maupun tinggi di akhirat. Di Mahsyar inilah semua makhluk Allah yang berada di langit dan bumi termasuk manusia, jin, malaikat dan hewan, berkumpul dan berdesak-desakan dalam kondisi telanjang kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan. Setiap manusia pada hari pengadilan ini akan hadir di mahsyar dan akan berhadapan diantaranya dengan: - al-Kitab yaitu sebuah catatan amal amal perbuatan selama di dunia diberikan kepada tiap-tiap makhluk. Orang yang menerima kitab tersebut dengan tangan kanan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan mereka yang menerima kitab itu dengan tangan kiri atau dari balik punggung, akan menyesal dan siksa yang diterima (lihat syarah selanjutnya). - Mizan yaitu sebuah neraca yang akan menimbang antara pahala dan dosa setiap makhluk. Semua amal baik dan buruk manusia akan ditimbang, lalu divonis oleh Allah untuk menentukan apakah seseorang akan masuk surga atau terjerumus ke dalam neraka. (lihat syarah selanjutnya) - Shirot yaitu jembatan yang sangat sensitif terbentang di atas neraka menuju jalan ke surga. Dan setiap orang pasti akan melewatinya untuk diuji mana yang masuk surga dan mana yang masuk neraka. Yang bisa menyebranginya akan selamat dan yang meleset akan terjatuh di neraka dan menjadi penghuni neraka. (lihat syarah selanjutnya) Keselamatan menyeberang juga sangat tergantung dari amal perbuatan manusia selama di dunia. Barang siapa yang berbuat baik dan berjalan di jalan yang diridhai Allah, maka ia akan selamat dan masuk surga Allah dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Namun bila kehidupan dunia selalu diisi dengan keburukan dan perbuatan maksiat, ia akan tergelincir ke dalam neraka, dan mendapat siksa Allah yang amat pedih. - Haudh (telaga) setiap nabi akan memiliki telaga. Dan Rasulallah saw memiliki telaga yang diberi nama Kautsar, namun hanya calon penduduk surga yang dapat merasakan lezatnya air itu. Di sini, setiap manusia yang ketika hidup di dunia selalu menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, beramal sholeh untuk kebaikan seluruh manusia, akan minum dari telaga Nabi saw. (lihat syarah selanjutnya) - Syafa’at, yaitu disaat hari yang sangat menyiksa, Rasulallah saw akan memberikan pertolongan untuk umat Islam yang disebut sebagai Syafa’at Udhma, ia akan memohon kepada Allah supaya secepatnya diadakan hisab. Bagi orang yang beriman akan diberikan syafaat Nabi saw, syafaat itu berupa: dipermudahkannya memasuki Surga, ditambahkan timbangan pahala supaya lebih berat daripada dosa, dimasukkan ke Surga tanpa hisab. (lihat syarah berikutnya) Kita kembali lagi ke Yaumul Mahsyar. Ia adalah tempat dikumpulkannya seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya dari awal hingga akhir zaman untuk dihisab atau diperitungkan semua amal yang dilakukanya di hadapan pengadilan Allah yang sejati.. Menurut faham Ahli Sunnah Wal Jama’ah, manusia yang pertama kali dibangkitkan oleh Allah adalah Rasulallah saw. Kemudian manusia manusia lainnya. Keadaan mereka akan tergantung dari amalan yang telah mereka kerjakan semasa hidup, ketika itu semua manusia akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sehingga anak tidak lagi mengenali kedua orang tuanya, begitu pula sebaliknya. Kemudian matahari diterbitkan oleh Allah, tepat diatas kepala dengan jarak hanya dua busur, sehingga manusia terpanggang oleh teriknya matahari yang panas dan keringat pun mengalir deras menggenangi padang mahsyar seiring dengan rasa takut yang luar biasa karena mereka akan dihadirkan dihadapan Allah. Bagi orang yang beriman, beramal shaleh serta banyak mengerjakan kebaikan akan terlindungi dari terik sengatan sinar matahari. Manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam kondisi tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum disunat. Rasulullah saw mengabarkan bentuk perkumpulan Manusia di Padang Mahsyar. Beliau bersabda: “Semua manusia dikumpulkan dalam kondisi telanjang kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan.” Lalu siti ‘Aisyah ra bertanya, “Wahai Rasulullah, laki-laki dan wanita bersama-sama, sebagian mereka juga melihat sebagian yang lain?” Rasulullah saw bersabda, “Perkara pada saat itu lebih dahsyat daripada saling memandang ke sesamanya.” (Bukhari Muslim)

HARI KIAMAT ( HARI BA’ATS, NASYR, HASYR)

=========== HARI KIAMAT ( HARI BA’ATS, NASYR, HASYR). ”Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Al-Qari’ah:1-11) Hari kiamat adalah hari akhir kehidupan seluruh makhluk bernyawa. Seluruh alam semesta akan musnah. Bumi, langit, pelanet pelanet dan seisi-isinya akan binasa. Gunung akan hancur bertebaran seperti bulu, langit runtuh dan lautan terbalik dan airnya tumpah. Hari kiamat merupakan jembatan untuk menuju ke kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi. Hari kiamat merupakan hari yang wajib dipercayai akan keberadanya. Iman kepada hari kiamat adalah rukum iman yang ke-lima. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet oleh malaikat Isrofil untuk menghancurkan alam semesta dan seisinya. وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ Dan ditiuplah sangsakala maka matilah siapa yang ada dilangit dan ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangsakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu (putusan masing-masing). (Az-Zumar :68). Hari kiamat tidak dapat diketahui kapan terjadinya karena merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui siapa pun. Namun dengan demikian kita masih bisa mengetahui kapan datangnya hari kiamat dengan melihat tanda-tanda yang diberikan oleh Rasulallah saw. Orang yang beriman kepada Allah dan banyak berbuat kebaikan akan menerima imbalan surga yang penuh kenikmatan, sedangkan bagi orang-orang kafir dan dan banyak berbuat kejahatan akan masuk neraka yang sangat pedih untuk disiksa. Tanda-tanda hari kiamat sudah banyak ditemukan diantaranya; waktu menjadi pendek, amal kebaikan berkurang, banyak fitnah, banyak pembunuhan, banyak peperangan, maksiat merajalela sulit dibendung dan lain sebagainya. Ada lagi tanda tanda kiamat yang belum kelihatan diantaranya; keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa as, munculnya Imam Mahdi, keluarnya dabbah atau binatang ajaib, terbitnya matahari dari Barat dan lain sebagainya Dengan percaya dan beriman kepada hari kiamat kita akan didorong untuk selalu berbuat kebajikan dan menghindari perbuatan dosa karena segala amal perbuatan kita dicatat oleh malaikat yang akan digunakan sebagai bukti kelak apakah kita akan masuk surga atau neraka. Peristiwa yang mengisahkan tentang Hari Kiamat atau Akhirat sering kali diucapkan secara berulang-ulang didalam Al Qur’an. Bahkan beriman kepada Hari Akhir sering digandengkan dengan beriman kepada Allah, karena orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak mungkin beriman kepada Allah, orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak akan beramal shalih, orang beramal shalih karena ada harapan kemuliaan di Hari Akhir dan ada rasa takut terhadap adzab di Hari akhir. Dalil aqli (akal) yang meyakini hari Ahkirat sangat mudah yaitu dengan meyakini adanya hari esok setelah hari ini, atau adanya nanti setelah sekarang, atau dalam bercocok-tanam ada istilah memetik setelah menanam. Dengan meyakini adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan didunia ini akan menjaga seseorang dari bertindak semau-maunya, karena ia yakin segala hal yang ia perbuat dalam kehidupannya sekarang akan dihisab/diperhitungkan untung ruginya kemudian di alam setelah kematian.