ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 29 Oktober 2017

*KH. 'Ali Murtadlo Pendiri Pon.Pes.Besuk Pasuruan & KH.Mas Subadar:

*KH. 'Ali Murtadlo Pendiri Pon.Pes.Besuk Pasuruan & KH.Mas Subadar:*
========
KH. Ali Murtadho, pendiri Pondok Pesantren Besuk adalah sosok yang sangat pendiam, hampir tiada pernah kata terucap di setiap harinya kecuali dalam hal-hal yang sangat  penting dan dalam bentuk kebaikan saja. Dibalik pendiamnya tersebut, beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat tawadhu' dan besar rasa syukurnya. Hal itu nampak dari kebiasaan beliau yang tiap kali tertimpa musibah selalu meratap menangis memohon ampun. Bahkan, pada saat merasakan nikmat pun kedua mata beliau selalu terlihat lebam tak kuasa menahan tangis. Hingga beliau mendapat julukan al-baki dari Kiai Nawawi, pendiri Pondok Pesantren Sidogiri.
Kebanyakan pesan-pesan Kiai Ali Murtadho untuk para santrinya, yaitu mengambil dari dawuh para Anbiya'. Salah satu pesan Kiai Ali yang kerap kali di sampaikan oleh KH. Muhammad Subadar adalah "madza ta'buduna min ba'diy" sebuah sekapur sirih yang memberi pesan kepada kita agar senantiasa menegakkan agama Allah dimanapun kita berada, dari masa ke masa hingga tertutupnya masa 'alamuddunya ini. ~sepenggal kisah yang pernah disampaikan KH. Muhammad Subadar dalam acara pertemuan keluarga Bani KH. Ali Murtadho~
Al-Fatihah...
Sumber: fb.pon.pes.besuk.
*KH.NAS  SUBADAR*
*Kiyai Fiqh dan Falak:*
==========
KH. Mas Subadar adalah tokoh ulama’ yang dikenal ahli bahtsul masa’il atau diskusi masalah agama, terutama bidang fiqh. Selain itu juga dikenal sebagai Ulama’ yang ahli ilmu falaq atau astronomi.
 Hal itu merupakan karunia Allah yang ia terima sebab jerih payahnya menuntut ilmu sewaktu masih muda. Beliau di kenal sebagai pemuda yang ulet, giat dan rajin belajar. Hari-harinya selalu disibukkan membaca dan berfikir lil ilmi. Karena  itulah beliau selalu dekat dan disayang oleh para gurunya.
 Pada tahun 1921 M, beliau dinikahkan dengan nyai Maimunah, putri dari KH. Aly Murtadlo yang ke-6, sekaligus sebagai nahkoda generasi ke II pondok pesantren Besuk setelah vakum beberapa bulan (100 hari) sepeninggal Al-Maghfurlah KH. Aly Murtadlo. Beliau dikaruniai delapan keturunan, dua orang pria dan enam perempuan. Setelah menunaikan ibadah haji beliau berganti nama KH. Baqir.
1. Tentang Mbah Badar
Hadratussyekh KH. Mas Subadar atau KH. Baqir berasal dari desa Kajen kecamatan Watusalak kabupaten Pati Jawa Tengah. Terlahir pada tahun 1889 M. Beliau merupakan cucu ke delapan dari Mbah Mutamakkin, seorang Ulama’ yang dikenal oleh masyarakat daerah Jawa Tengah sebagai waliyullah. Beliau menjadi yatim setelah ditinggal wafat ayahanda kyai Tasmin ketika melaksanakan ibadah Haji di tanah haram. Baqi’ al-Ghorqot, makam umum tanah suci yang menjadi tempat peristirahatan terakhir kyai Tasmin.  Semenjak itu beliau diasuh oleh pamannya sekaligus menjadi gurunya.
 2.Masa mencari ilmu
Semenjak kecil kyai Mas Badar belajar al-Qur’an dan ilmu agama lainnya kepada paman-pamannya sendiri. Diantaranya, Kyai Abdulloh Salam dan Kyai Sirojuddin. Berkat kecerdasan yang dimilikinya beberapa pelajaran dasar fiqh seperti kitab Sullam Safinah, Sullam Taufiq dan Fathul Qorib telah hatam dengan pemahaman yang tinggi. Sedangkan dibidang ilmu alat, beliau telah menguasai dengan baik kitab-kitab seperti; Sharraf, Jurumiyah, dan ‘Imrity. Setelah itu beliau diperintahkan sang paman untuk menimba ilmu kepada al-Mukarrom kyai Kholil Rembang Jawa Tengah, untuk mendalami kitab al-Fiyyah Ibnu Malik. Disana beliau dikenal sebagai santri yang sangat rajin, ulet dan pintar, sehingga kyai Kholil sang guru sangat menyayanginya.
 Mengerti akan kemampuan dan adanya benih-benih berkualitas dalam diri muridnya itu, Kyai Kholil memerintahkan agar beliau meneruskan ngaji ke sahabatnya di Jawa Timur yaitu al-Mukarrom KH. Nawawi Sidogiri Kraton Pasuruan.
 Perintah gurunya (kyai Kholil) dijunjung tinggi dan dilaksanakan. Pagi hari yang ceria itu dengan menumpang kereta api beliau berangkat ke Pasuruan mencari pondok pesantren Sidogiri dan seorang ulama’ besar yang bernama al-Mukarrom KH. Nawawi Sidogiri.
 Pada saat matahari hampir tenggelam, Kyai Mas Badar sampai di stasiun pasuruan. Beliau menapakkan kakinya di stasiun itu untuk mencari seseorang yang akan memberi tambahan ilmu pada dirinya. Karena di kota santri inilah guru yang beliau cari tinggal.
 Gontai melangkah pasti mencari masjid yang tidak jauh dari stasiun (+1km) untuk melaksanakan shalat Maghrib dan lepaskan kepenatan setelah seharian terpaku dibangku kereta. Selesai shalat, ia keluar dari masjid dengan wajah yang nampak kebingungan. Kemana ia harus melangkah, maklum saja dia baru pertama kali menapakkan kakinya di tanah kelahiran Untung Surapati, sang pahlawan Pasuruan itu. Melihat kebingungan pemuda asing itu al-Mukarram Kyai Yasin (Kebonsari Pasuruan kerabat dekat ibu nyai Khairatun) tak sampai hati membiarkannya tersesat. Beliau hampiri dan menegur pemuda itu, seraya menyapa dari mana dan hendak kemana. Pengembara muda itu menanggapi dan menceritakan tujuannya bahwa dia bermaksud untuk  mondok dan nyantri ke pondok Sidogiri. Karena sudah malam dia dipersilahkan singggah dan menginap di kediaman kyai Yasin-Kebonsari. Pagi harinya, pemuda pemburu ilmu itu diantarkan ke pondok Sidogiri. Sejak saat itu ia resmi menjadi santri kyai Nawawi Sidogiri.
Diakui banyak orang bahwa Kyai Badar memang pemburu ilmu sejati. Seakan tidak ada peluang untuk tidak belajar. Bukan hanya bidang alat dan fiqh yang beliau geluti, ilmu  falaq pun tak luput dari incarannya. Setiap hari pulang pergi dari Sidogiri ke desa Sladi beliau jalani dengan penuh rasa ikhlas dan semangat yang tinggi, hanya dengan satu tujuan: adalah menuntut dan mendapatkan ilmu, menghilangkan kebodohan agar selalu bisa melangkah dijalan yang diridloi Allah SWT. Di desa Sladi inilah beliau memperdalam ilmu hisab dan ilmu falaq dari kyai Hasan Asy’ari (adik sepupu KH. Aly Murtadlo). Juga dari Sladi ini, beliau mengenal kyai Mas Ahmad Zahid putra Hadrotussyeh KH. Aly Murtadlo. Semenjak itu beliau sering mampir ke Besuk dan semakin dekat hubungannya dengan kyai Hasan Asy’ari dan kyai Zahid.
3.Menjadi penerus\ pengasuh generasi II pondok besuk
Tak terelakkannya kevakuman beberapa saat sepeninggal KH Aly Murtadlo adalah karena belum ada figur yang siap menjadi penggantinya. Akhirnya, keluarga Besuk berinisiatif untuk mengadakan rapat guna membahas masa depan pondok yang mulai berkembang itu. Mereka yang terlibat antara lain adalah Ibu nyai Khairatun (istri KH. Aly Murtadho), kyai Zahid (putra KH. Aly Murtadho ) kyai Hasan Asy’ari (adik sepupu KH. Aly Muratdho). Kyai Yasin- Kebonsari (kerabat dekat nyai Khairatun) untuk mencari pengganti sang ayah sebagai pengasuh pondok Besuk dengan menjodohkannya dengan putri kyai Aly yang bernama Maimunah (lahir pada tahun 1900 M.)
Takdir memang di tangan Allah. Kyai Hasan Asy’ari (sepupu kyai Aly Murtadlo sekaligus guru kyai Badar) menjadi mediator terjalinnya pernikahan. Beliau bersama Kyai Zahid pergi ke Sidogiri menemui kyai Nawawi agar mencari salah satu santrinya yang siap menikah dan mampu menjadi pengasuh pondok Besuk.
Secara sepontan kyai Nawawi langsung menunjuk santrinya yang bernama Badar asal Kajen-Pati-Jawa Tengah. Tanpa melalui proses yang lama kyai Badar dinikahkan dengan nyai Maimunah dan menjadi pengasuh pondok pesantren Besuk priode II.
 Sebetulnya kyai Badar sudah mengenal kyai Aly Murtadlo semenjak mondok di Sidogiri, bahkan sudah pernah sowan. namun beliau belum tahu siapa kyai Aly Murtadlo sebenarnya, beliau hanya tahu kalau mertuanya itu adalah seorang sufi yang suka menyendiri tidak banyak bicara  yang ahli beribadah, itu saja. Beliau baru mengetahui siapa mertuanya sebetulnya, ketika beliau melihat beberapa kitab peninggalan mertuanya yang di letakkan di lemari. Terkejut dan terperana beliau melihatnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya: Subhanallah ternyata kyai Aly Murtadlo bukan hanya seorang pertapa yang sufi saja, tapi lebih dari itu, adalah orang ‘alim ‘allamah (amat sangat berilmu tinggi) yang mastur oleh sikap tawaddu’nya. Kyai Badar membuka kitab-kitab mertuanya yang di penuhi dengan ta’liqat-ta’liqat berbahasa arab, diantaranya; kitab Tafsir Jalalain, al-Iqna’ dan Bujairimi ‘Ala al-Manhaj dan sebagian kitab-kitab tersebut masih tersimpan rapi di ndalem Hadratussyekh KH. Muhammad Subadar. Di era itu, kitab-kitab tersebut dibilang langka di Indonesia. Dari situlah beliau tahu bahwa mertuanya itu murid dari Ulama’ besar Syekh Abu Bakar Syatho pengarang kitab I’anatut Tholibin. Dan sampai sekarang kitab I’anatut Tholibin menjadi salah satu pelajaran pokok di pondok Besuk.
 5. Kyai Badar memenuhi panggilan Allah
Di masa Hadratussyeh KH. Mas Subadar mengasuh pondok Besuk, banyak perubahan dan kemajuan terukir di wajah pondok ini. Setapak demi setapak melangkah perlihatkan jatidiri dan kedewasaannya. Beliau disamping Faqih (ahli Fiqh) juga dikenal ahli dalam bidang ilmu falaq (astronomi) dan ilmu hisab (matematika). Dengan keahliannya itu roda ifadah wa-ta’lim (aktifitas dan studi) berputar lebih mantab, santri-santri berdatangan untuk menuntut dan memperdalam ilmu hisab dan ilmu falaq, mereka kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Jember. Walhasil tersebar luas ahli-ahli ilmu hisab dan astronomi di pelosok Jawa terutama Jawa Timur. al-Marhum kyai Manan Manggisan-Tanggul-Jember yang kemudian mempunyai murid kyai Abdul Mu’thi Bangil-Pasuruan, Syayid Muhammad dari Malaysia dan KH.Achmad Baidlowi Yokyakarta adalah diantara sekian banyak Alumni yang memperdalam ilmu hisab dan astronomi di pondok pesantren Besuk asuhan kyai Mas Subadar. Beliau telah menciptakan historika pondok Besuk selangkah lebih maju.
 Dua puluh satu tahun berlalu pondok Besuk dalam mata dan jiwanya. Langkah-langkah kemajuan telah diukir jelas dalam sejarahnya. Sampai penghujung tahun 1362 H / 1942 M, tepatnya pada usia 53 tahun, Al-Maghfurlah KH. Mas Subadar pergi untuk selamanya memenuhi panggilan Sang Pencipta. Inna lillahi Wa’inna Ilaihi Roji’un. Kepada Allah SWT jualah semuanya berpaling dan kembali.
Al-Fatihah..

Sumber:https://buletinalfikrah.wordpress.com/sirah/2/

JURUS SAKTI ASMAUL HAQ* (Gus Abidin bermimpi bertemu *Mbah KH. Abu Amar Chotib Pasuruan*).

*JURUS SAKTI ASMAUL HAQ*
(Gus Abidin bermimpi bertemu *Mbah KH. Abu Amar Chotib Pasuruan*).
==============
Keunikan Ponpes Karangsawo-Paciran
Santri Diajari Jurus Sakti Penarik Rejeki 
=============
Ponpes Karangsawo, yang berada di Paciran, Lamongan, tidak hanya mengajari para santri belajar ilmu agama. Namun, juga mengenalkan ilmu hikmah, yang salah satunya mempelajari 11 jurus yang salah satu fungsinya untuk pengobatan dan menarik rejeki. 
    ***
    Pondok Pesantren Karangsawo, yang berada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur,  terlihat masih cukup sederhana. Hanya ada dua bangunan terbuat dari kayu, satu berukuran besar dan satu lagi kecil,  yang terlihat masih baru. Sebuah pondasi masjid, terlihat berada di tengah-tengah kompleks.
    Meski belum lama berdiri, pesantren ini setidaknya sudah memiliki beberapa santri yang tinggal menetap. Sedangkan beberapa santri lain, yang berasal dari penduduk sekitar, hanya datang pada waktu-waktu pelajaran. 
    Ustad Minhajul Abidin,  Pengasuh Pondok Pesantren Karangsawo mengakui jika memang ponpesnya belum lama berdiri. Proses berdirinya dan pemilihan tempatnya pun, menurutnya bukan serta merta begitu saja. Namun, berdasarkan pada pesan gaib dan amanah dari seorang tokoh penyebar agama Islam di masa lalu di daerah tersebut. Yakni, Ki Darsono atau yang lebih dikenal dengan nama Tubagus Anom. Beliau ini menurut Ustad Abidin selama hidupnya usianya tidak terpaut jauh dengan Sunan Drajat, yang merupakan salah seorang walisongo yang makamnya selalu ramai diziarahi orang dari berbagai daerah.
    Sebelum memilih menetap di Paciran, Kiai muda berusia 41 tahun yang masih melajang ini pernah nyantri selama 20 tahun di Ponpes Ar-Roudloh Pasrepan Pasuruan dibawah asuhan KH. Abu Amar Khotib. Ketika mondok di sana beliau merasa telah digembleng lahir batin oleh gurunya. Tidak seperti santri lainnya, beliau juga menjadi khodim (pelayan) sang kiai beserta keluarganya. Sehingga beliau pernah melihat kejadian yang masih diingatnya hingga kini, yaitu keajaiban ketika cucu KH. Abu Amar Khotib yang masih balita tersiram air mendidih di dapur, tapi balita tersebut tidak cedera sama sekali. Dari situ beliau semakin ta’dzim (hormat) kepada gurunya. Beliau menganggap cucunya saja sakti seperti itu, apalagi sang kakek balita tersebut yang tak lain KH. Abu Amar Khotib.
    Sebagai khodim kiai, selain mengaji Abidin juga membantu sebagai juru masak ponpes dan menggarap lahan milik ponpes. Tak jarang bila logistik ponpes habis, ia  harus hutang logistik ke warung sebelah ponpes untuk memberi makan kepada para santri yang menuntut ilmu. Bahkan pada malam harinya, di tengah para santri lain sedang asyik tidur, ia malah bekerja membuat camilan berupa cilok untuk dijual oleh pedagang kaki lima di sekitar ponpes.
    Hasil jualan cilok ini digunakan untuk membeli logistik para santri. Pagi harinya  ia juga bekerja keras menggarap lahan milik gurunya. Bahkan ia pernah menjadi pemulung di ponpes. Semua itu dilakukan dengan tulus ikhlas demi pengabdian kepada sang kiai agar kelak mendapat barokah ilmu (tabarrukan) dari sang kiai.
    Beberapa hari sebelum KH. Abu Amar Khotib wafat, Ustad Abidin  menyampaikan dawuh kepada para santrinya bahwa yang akan diakuinya sebagai ‘santri dunia-akhirat’ hanya berjumlah 25 orang. Maka setelah mendengar dawuh sang kiai para santri menyibukkan diri dengan beribadah seperti sholat, puasa, wirid, dan khataman Al-qur’anl. Dengan maksud agar diakui oleh sang kiai.
    Namun hal itu tidak dilakukan Ustad Abidin yang terus menjalani rutinitas seperti biasa sebagai khodim sang kiai. Anehnya, pada suatu malam ia jsutru bermimpi bertemu KH. Abu Amar Khotib. Dalam mimpinya itu, sang kiai berpamitan karena akan pergi jauh dan beliau memberikan kenang-kenangan berupa sorban. Ternyata setelah itu, siang harinya KH. Abu Amar Khotib wafat.
    Mendapatkan mimpi itu, Ustad Abidin menyakini jika insya Allah, ia termasuk 25 santri yang mendapat pengakuan sebagai ‘santri dunia-akhirat’. Sehingga setiap tahunnya Kiai muda ini tidak pernah absen menghadiri haul gurunya itu.
    Sepulang mondok dari Pasuruan, Ustad Abidin lalu memberanikan diri untuk memugar makam keramat di desanya, makam itu sering ia ziarahi sejak remaja, yaitu makam seorang penyebar agama Islam yang bernama Ki Darsono atau Panembahan Tubagus Anom. Konon sebelum dipugar makam itu terkenal wingit atau angker, ibaratnya jalmo moro jalmo mati. Kini makam itu ramai dikunjungi penziarah.
    Setelah memugar makam orang sakti tersebut, bahkan Ustad Abidin mendapatkan wisik untuk mendirikan pondok pesantren yang lokasinya di Karangsawo. “Ibaratnya saya sekarang ini sedang meneruskan perjuangan Ki Darsono untuk menyebarkan agama seperti yang dulu pernah beliau lakukan,” ungkapnya.
    Karena itulah tak heran bila Ponpes Karangsawo Paciran ini konon masih dinaungi gaib Ki Darsono. Ceritanya, suatu saat pernah ada pasien perempuan yang tuna-rungu mau berobat ke Kiai Minhajul Abidin, ajaibnya pasien tersebut baru memasuki area ponpes pasien tersebut sudah dapat mendengar lagi. Selain itu ada tamu yang bermalam di Ponpes Karangsawo, pagi harinya ia terkejut bukan kepalang karena semua jimatnya keluar dompet dan tertata rapi di samping kepalanya, cincin akiknya juga juga ikut terlepas, padahal biasanya hanya bisa dilepas hanya menggunakan minyak goreng. Rupanya gaib yang menaungi Ponpes Karangsawo tidak berkenan terhadap tamu tersebut yang suka mengagung-agungkan jimatnya.
    Cerita lain, pernah suatu hari Ustad Abidin menolong istri seorang tukang becak yang lumpuh selama berbulan-bulan. Ia datang ke rumah pasien itu lalu melakukan pendeteksian secara gaib. Ternyata sebelum ditempati keluarga itu, tanah keluarga tersebut sangat angker karena dihuni seekor naga gaib.
    Setelah diadakan negoisasi dengan sosok naga gaib itu agar pergi atau mau dipindah namun ternyata ia menolak dipindahkan maka terjadilah pertarungan gaib, akhirnya dengan menggunakan ilmu asmaul haq sosok naga gaib itu dapat dikalahkan oleh Minhajul Abidin, dan pasien tersebut kemudian berangsur-angsur mulai bisa berjalan.
    Ponpes Karangsawo bisa dikatakan sebagai pesantren tradisional yang mirip pondok-pondok pada zaman dulu. Pelajaran yang diajarkan di pondok ini tak hanya melulu ilmu agama, tapi juga ilmu hikmah, kanuragan dan lain sebagainya. Ponpes tersebut juga menampung para dhuafa secara gratis. Bahkan, ada satu dua satrinya yang mantan preman dan pecandu narkoba, namun setelah ditangani Ustad Abidin, prilakunya menjadi baik dan merupakan salah seorang santri yang berprestasi dalam bidang olahraga, aduh gulat.
    Selain itu, Ustad Abidin juga sering dimintai pertolongan warga masyarakat sekitar yang terkena santet atau problem ekonomi. Untuk yang terakhir ini, konon Kiai Muda ini mempunyai tata cara untuk menderaskan rejeki atau membuka rejeki. Yakni, dengan ritual Kitmir atau yoga Islami, yang semasa Nabi Muhammad masih hidup sering melakukan hal ini.
    “Yoga ini berfungsi membuang energi negatif dan yang selanjutnya berganti  membuka pintu rejeki,” ungkapnya. Yoga ini menurut Ustad Abidin tidak lama dan hanya terdiri dari beberapa gerakan.
Makam Ki Darsono  Simpan Harta Karun:
    Makam Ki Darsono berada agak jauh dari kompleks Ponpes Karangsawo, tepatnya di Jalan Raya Dendles, jurusan Brondong-Paciran. Makam ini berada persis di tengah-tengah sebuah sekolahan. Dulu sebelum dipugar oleh Ustad Abidin, tempat ini tidak ada yang mau menziarahi. Makam tersebut pun kesannya tidak teramat dan angker. Konon, tidak ada yang berani mengusiknya, sebab pernah ada yang berani masuk ke makam, tapi kemudian kesurupan. 
    Menurut Ustad Abidin, di makam itu pernah heboh orang yang berniat berburu harta karun. Bahkan, ada yang berniat untuk mengambilnya, namun tidak berhasil meski sudah melakukan berbagai macam cara. “Memang di tempat itu ada harta karunnya. Tapi, menurut saya harta karun itu belum waktunya muncul. Ada yang memperkirakan pada 2014 harta karun yang berada di makam itu akan muncul dengan sendirinya,” ujarnya.
    Berbicara mengenai harta karun, orang terkadang selalu berpikir mengenai harta benda yang bisa membuat orang kaya raya. Padahal, harta karun bisa saja berupa peninggalan-peninggalan penting, semacam benda-benda kuno. Karena itu tidak baik jika seseorang selalu dibutakan harta karun itu.
    Mata batin (kasyaf) Ustad Abidin boleh dibilang cukup tajam, setiap kali beliau berziarah ke makam waliyullah, ia selalu dapat melihat dan berkomunikasi dengan ruh waliyullah. Termasuk saat mengunjungi makam Ki Darsono. Ia sering mendapat petuah dari waliyullah yang telah wafat tersebut.
    Ziarah kubur bagi Kyai Minhajul Abidin merupakan life style dan hobby. Karena kegemaran olah laku ritual di makam keramat, ia pernah berhasil mendapat mata akik berlafal Allah, keris, dan 5 batangan emas berlogo wajah Ir. Soekarno. Namun sayang batangan emas tersebut lalu berubah menjadi batangan tembaga atau kuningan.  Perihal harta karun di makam Ki Darsono, lagi-lagi Ustad Abidin mengatakan bahwa tidak perlu susah-susah menariknya, nanti jika sudah waktunya akan muncul dengan sendirinya. ##RUD 

Sumber: http://www.karangsawo.com/2013/07/?m=1

Sabtu, 28 Oktober 2017

BIOGRAFI BUNGA RAMPAI KISAH LELUHUR MBAH THOYYIB – SYARIFAH* *MANYARAN – BANYAKAN

*BIOGRAFI BUNGA RAMPAI KISAH LELUHUR MBAH THOYYIB – SYARIFAH*
*MANYARAN – BANYAKAN*
===============
Senyampang masih diingat oleh penulis tentang penggalan-penggalan kisah leluhur dimasa lalu seperti dituturkan oleh putra putrinya dan juga pihak lain kepada penulis disaat mereka masih hidup. Kisah itu disampaikan berulangkali dari narasumber yang berbeda dan saling melengkapi diantara mereka tentang leluhurnya. Bahkan kisah diantara mereka sendiri yang menurut penulis layak dipercaya/dijamin kebenarannya. Penuturannya tidak sistematis dan tidak dalam suasana khusus, berupa penggalan dan tidak menyeluruh/lengkap, sehingga tidak terdapat muatan kepentingan/tendensius.
Penulis memang banyak memiliki kesempatan bersama mereka sebagai sumber berita/cerita atau paling tidak ketika diajak menyertainya dalam suatu acara atau bepergian. Dimintanya untuk mendampingi mereka karena memang penulis ada kedekatan secara batiniyah (Jawa: digemateni/disayang). Suatu hal yang wajar, karena posisi penulis adalah cucu laki-laki tertua usianya di lingkungan keluarga/domisili di Manyaran, dan juga putra dari adik terkecil (ragil) sedangkan   suaminya adalah teman akrab ketika dipondok Klumpit Nganjuk. Kesempatan bersama para narasumber tersebut karena sedari kecil hingga dewasa tinggal dirumah atau banyak dilingkungan domisili leluhur (Manyaran): mengaji, sekolah, juga madrasah malam, dan terkadang diajak menghadiri undangan tetangga.
Perlu diketahui bahwa kisah ini jauh dari lengkap/seutuhnya tentang biografi leluhur, dan berharap kelengkapannya barangkali bisa diperoleh dari penuturan narasumber yang lain yang berkompeten dan memadai/kredibel.
Inilah penuturan kisah leluhur KH Toyib – Syarifah:           
I). Mbah Toyib kecil, bernama Djoremi atau Khoiron (diucapkan mbah Qodir: Kaeran) Beliau disebut juga oleh Mbah Wakid (Manyaran Kulon) bernama Badjuri, begitulah yang diingat oleh penulis. Tetapi Nama yang lebih dikenal adalah H. Toyib. Beliau putra dari ayah (Mbah Suryan) yang berdomisili di Desa Mrican (lokasinya sebelah Barat Pasar Mrican), yang didesanya diberi kepercayaan sebagai modin oleh masyarakat, suatu posisi yang mengindikasikan sebagai ahli di bidang agama (Kyai ndeso) Istri beliau berasal dari Desa Gayam Kec Mojoroto, (tdk diketahui namanya), sedang ayah Mbah Suryan bernama Mbah Kasan Tuwo, sang perintis/cikal bakalnya Dinasti Manyaran. (Wafat dan dikuburkan di belakang masjid). Kedatangan Mbah Toyib di Desa Manyaran (menetap), lantaran diambil anak angkat (dipupu) oleh kakak perempuan/mbakyu  ayahnya sendiri, yang dikenali dengan sebutan Mbah Menggik, yang saat  itu masih belum juga dikaruniai anak / momongan dalam pernikahannya (suaminya bernama Mbah Kasan Anom), padahal perkawinannya sudah cukup lama (mandul). Mbah Toyib dibawa ke Manyaran semenjak kecil / balita, dan amat disayang oleh suaminya, diajari mengaji, kemudian di pondokkan juga/pergi mengaji kepondok Kyai Jawahir di Desa Suruh Ngronggot.
Mbah Qodir melanjutkan kisahnya, seperti juga dituturkan mbah Yasin, bahwa mbah Kasan Anomlah yang merintis pengajian/pengajaran agama di Manyaran, yang kemudian mendirikan pondok sebagai tempat penginapan santri. Karena itulah Djoremi kelak diharapkan bisa mengaji dan membantu mengajar, kemudian melanjutkannya setelah beliau wafat nanti. Ketika berada dipondok ada peristiwa penting, bahwa suatu hari Djoremi bersama dengan teman-temannya bersantai sesudah sholat Jum’at sambil menikmati mengisap rokok buatan sendiri (ting we=nglinting dewe), tiba-tiba datang di tengah mereka gadis kecil putri kyainya, merengek memaksa untuk dibuatkan rokok seperti yang dihisap para santri tersebut, maka demi menyayangi putri kyainya itu, akhirnya dibuatkan juga oleh Djoremi (terpaksa), dinyalakan, diisapnya entah berapa kali menirukan gayanya santri, sesudah itu lalu pulang kerumah. Tidak disangkanya setelah beberapa lamanya terjadi kegemparan dirumah kyainya itu, karena gadis kecil tersebut jatuh sakit pusing kepalanya (jawa: mendem), lalu beramai-ramai diupayakan penyembuhannya. Peristiwa tragis tersebut membuat para santri ketakutan terutama Djoremi sang pembuat rokok tingwe tersebut.
Setelah melewati masa yang cukup lama/bertahun tahun dipondok tersebut, maka ibunya angkat (mbah Menggik) meminta agar Djoremi pulang/ boyong, untuk hidup bersama dirumah saja, sembari membantu mengurus pekerjaan dan mengajar ngaji. Tetapi Djoremi belum ingin pulang/boyong meninggalkan pondoknya. Dari sebab itulah maka mbah Menggik menyatakan kepada Djoremi bahwa seluruh harta kekayaannya diserahkan kepadanya dan dibuat segel/resmi diberikan (hibah), dengan syarat mau pulang dan mengajar ngaji/meneruskan pondok rintisan suaminya tersebut. Karena sampai akhir hayat suaminya tak juga dikaruniai putra seorangpun. (Tidak diceritakan meninggalnya mbah Kasan Anom). Selanjutnya setelah sekian lama dirumah, mbah Menggik menyuruhnya pergi haji dan sepulangnya berganti Nama Haji Toyib (Nama Mekkah) atau H Bajuri (Nama Madinah). Kemudian beliau juga mengurus pertanian dan lembu peliharaannya, bahkan memiliki cikar/pedati untuk digunakan mengangkut hasil panen. Diceritakan mbah Yasin bahwa mbah Menggik itu wanita yang murah hati dan janda kaya waktu itu, terbukti memiliki saw ah dan lahan pertanian, kebun yang luas sekali sebagaimana yang berada disekeliling rumah dengan tanaman beraneka ragam. Selanjutnya mbah Toyib berumah tangga dengan wanita bernama Syarifah, tidak lain adalah putri kyainya, yang waktu kecilnya pernah dibuatkan rokok tingwe dan mabuk / mendem (jawa). Istrinya dibawa/ikut dan tinggal di Manyaran. Masih penuturan mbah Qodir, bahwa waktu pergi menikah itu, beliau pergi sendirian tanpa pengiring/rombongan dan naik kereta api, turun distasiun Minggiran lalu menyeberang naik perahu gethek/nambang dan sampailah di desa Suruh tempat mertuanya, yang juga tempatnya mondok/nyantri dahulu.
Menurut penuturan mbah Wakid (Manyaran kulon) bahwa postur mbah Toyib itu agak pendek dan gempal, sedang istrinya tinggi, besar dan cantik. Mbah Bin menuturkan bahwa kecantikan mbah Syarifah itu didengar masyarakat desa Manyaran, sehingga banyak orang ingin menyaksikannya, termasuk mbok Sariyem (ibunya mbok Tukinah/pembantunya). Diceritakan bahwa ketika dia ingin menyaksikan kecantikannya itu, dia mengendap-endap bertandang disekitar rumah beliau, barangkali mbah Syarifah itu keluar rumah dan bisa melihatnya. Begitu cerita mbok Tukinah kepada mbah Bin dan diceritakan pula kepada penulis. Selain itu masyarakat Manyaran umumnya sangat menghormati kepada keluarga mbah Toyib, selain sebagai kyai, juga karena memang dari dulunya/leluhurnya juga kyai (mbah Kasan tuwo dan mbah Kasan Anom). Beliau juga dipandang sebagai orang sesepuh dan juga kaya yang pada umumnya disegani, apalagi dari kepribadiannya dipandang sebagai panutan. Dari pernikahan mbah Toyib dengan mbah Syarifah tersebut dikaruniai 7 orang anak (4 laki dan 3 perempuan) namun yang sulung meninggal muda/belum berumah tangga. Mbah Toyib pun meninggal dalam usianya relatif muda, sehingga anaknya masih kecil-kecil, bahkan anak bungsunya (Mbah Bin) masih didalam kandungan ibunya, dalam usia 3 bulan.
Menurut penuturan mbah Yasin, sewaktu jenazah mbah Toyib akan diberangkatkan kekuburan, mbah Syarifah tampil tegar ditengah para pelayat dan menyatakan bahwa dirinya sedang hamil/agar tidak menimbulkan prasangka buruk pihak lain sesudahnya. Dan setelah menjadi janda muda, kakak kandungnya (mbah kyai Ibrohim) sering mengunjungi, bahkan saking gematinya dengan adiknya itu, kalau sedang bermalam di Manyaran, apabila tidur malam bersama adiknya dan dikeloni (jawa), bahkan pernah disarankan supaya kembali pulang saja kerumah orang tua di Suruh, karena disini sepi/hanya ada satu rumah saja ditengah perkebunan nan luas, dinaungi  pepohonan nan rimbun (dikatakan layaknya seperti sudhung/rumahnya babi hutan), akan tetapi mbah Syarifah dengan santun  menolaknya, beliau katakan: bagaimanapun berada dirumah suaminya sendiri, dan siap untuk membesarkan anak-anaknya disini. Pernah terjadi suatu malam rumahnya didatangi maling/pencuri dengan cara melubangi tembok, tetapi sampai pagi -subuh- baru berlobang sebesar cawan (jawa: lepek) dan tidak bisa memasuki rumah. Dituturkan mbah Bin juga oleh mbah Yasin, bahwa setiap malam mbah Syarifah selalu terjaga semalaman sambil membaca doa-doa, wiridan, setelah solat malam sehingga selalu saja terdengar suara orang di dalam rumahnya (jawa: gremeng) dan penjahatpun tak berani melancarkan aksinya. Pernah juga tutur mbah Yasin, pencuri masuk dapur dan mengambil yang ditemukan, berupa nasi dan dimakan sekalian disitu. Masa demikian cukup lama sampai kemudian anak-anaknya tumbuh remaja, bersekolah/pergi mondok, dewasa, dan berumah tangga. Demikianlah riyadloh beliau semenjak ditinggal wafat su aminya dengan beban 6 orang anak masih keci- kecil.
II) Mbah Syarifah, adalah putra mbah kyai Jawahir bin Yusuf, yang tinggal di dsn. Suruh Desa Tanjungkalang Ngronggot. Nasab dari bapaknya bersambung dengan Keluarga besar Banjarmlati Kota Kediri. Saudaranya 6 orang, termasuk 2 orang yang berbeda ibu. Dalam kisahnya mbah Syarifah masa kecil memiliki watak pemberani, tidak ada rasa takut menghadapi apa dan siapa saja dan pandai berbicara/vocal . Rupanya ayahnya memahami watak putrinya tersebut dan membiarkan tumbuh dengan pembawaannya itu, dan tidak dikekang dengan ketat layaknya wanita. Mbah Bin dan yang lain bercerita sama, akan kepribadian mbah Syarifah, dimasa kecil hingga memasuki remaja bahkan ayahnya juga tidak terlalu menuntut soal mengaji, kecuali sholat. Dimasa kecil memiliki teman bermain yaitu saudaranya sendiri bernama mbah Abbas dan mbah Mahfudz (panggil Pul) dan kesukaannya bermain, pergi kemana-mana, nonton wayang, nonton keramaian, dan pernah bepergian ke kota dengan jalan kaki bertiga dari rumahnya di Suruh (jaraknya lebih 15 km), padahal masih terbilang anak-anak. Mbah Abbas (Mojoroto) dan mbah Pul (Manukan) masa kecilnya ikut tinggal dirumah mbah Jawahir karena mengungsi dan ditampung di Suruh bersama keluarganya. Dipilihnya Suruh, karena mbah Jawahir termasuk orang tua sabar, mampu menampung saudara yang kesusahan/ kesulitan kehidupan, dan seorang kyai juga.
Mbah Yasin juga berkisah bahwa mbah Syarifah itu tidak takut dengan sapi yang dibilang sapi galak, sehingga pernah ketika masih kecil mendekati sapi akan memegang kepalanya,tiba-tiba sapinya bereaksi memutar kepalanya (nggobik) dan tanduknya mengenai dahi mbah Syarifah sehingga luka dan bekasnya masih tampak sewaktu beliau tua. Belaiu tergolong wanita tomboy  (agak nekat/nakal) atau tidak begitu peduli apa kata orang atas apa yang dilakukan prilakunya (menyimpang kebiasaan tatanan hidup umunya wanita). Suatu hari tutur mbah Bin, ketika mbah Syarifah sudah remaja putri, ada saudaranya (wanita sudah setengah tua) yang biasa bekerja dan membantu dirumah ayahnya, menasehati: Katanya, “nduk kowe bocah ayu, nek lungo-lungo wae, piye engko nek di pek bojo londo, digowo nyang negarane kono, mbok ora seneng lungo-lungo/dolan”.  Rupanya nasehat itu masuk dihatinya, dan akibatnya merasa ketakutan bepergian, dan mulailah banyak dirumah lalu mulailah mau mengaji, sampai kemudian tiba waktunya untuk dinikahkan oleh orang tuanya. Maka kemudian ikut suami dan tinggallah di Manyaran bersama dengan mertuanya (mbah Menggik), dan memulai babak baru menjalani kehidupan berkeluarga hinga akhir hayatnya.
Sesudah sepuh mbah Syarifah mempunyai kebiasaan suka bersilaturrohim kepada sanak/saudara keluarga/dan juga kyai, karena para kyai di Kediri umunya masih punya hubungan kekerabatan dan merekapun mengetahui benar tentang mbah Syarifah. Beliau juga suka menjamu tamu/memberi makan, dan membantu kepada saudara yang mengalami kesulitan hidup (murah hati), beliau senantiasa berpesan agar menjaga harga diri termasuk tidak boleh toma’ (kalau bepergian makan dahulu agar tidak mengharap pemberian orang, tidak rakus, sekalipun diundang ketempat orang punya hajat.
Demikianlah yang bisa disajikan oleh penulis, tentang mbah Toyib dan mbah Syarifah, leluhur dari dinasti Manyaran, yang kini mengadakan halal bihalal/reuni dzurriyah Bani Toyib-Syarifah
Menyusul kisah para putra putrinya insyaAlloh, yang akan disusun dan sedang dihimpun oleh penulis, semoga terlaksana pada masa yang akan dating dalam momentum yang lainnya. Amin. Al-Fatihah...


Sumber:http://banitoyyibmanyaran.blogspot.co.id/2011/08/cerita-cinta-dari-manyaran-sejarah.html?m=1

Biografi Al Arif Billah KH. Musthofa Lekok

*Biografi Al Arif Billah KH. Musthofa Lekok*
===============
KH. Musthofa lahir pada Tahun 1930 M di Desa Tambakrejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Ia merupakan putra dari KH. Sholahuddin bin Adurrahman bin Maqbul bin Yusuf bin Yusuf Al Mulaqqob (Bujuk Song). Ayahanda KH. Musthofa adalah sosok kiai yang dikenal istiqomah dalam beribadah sekaligus juga dermawan.
Diceritakan putra dari KH. Musthofa yang juga bernama KH. Musthofa, bahwa Ayah KH. Musthofa memang sosok yang disiplin dan tegas. Sejak kecil, Kiai Musthofa dididik agar rajin beribadah, baik salat maupun mengaji. Bahkan, KH. Sholahuddin tak segan-segan menghukum KH. Mustofa jika kedapatan tidak mengaji.
“Pernah suatu ketika usai menghukum ayah saya, kakek (KH.Sholahuddin) bermimpi bertemu datuknya, yaitu Sayyid Yusuf bin Yusuf. Dalam mimpinya, kakek bertemu dengan Sayyid Yusuf sambil menggandeng tangan Kyai Mustofa seraya memperlihatkan dada dan punggung beliau yang penuh tulisan QS.Yasin. Tapi, meskipun telah mendapat isyaroh mimpi yang merupakan tanda-tanda kelak ayah saya akan jadi seorang yang alim dan mulia, namun kakek tetap memberikan pendidikan yang disiplin dan pengawasan penuh,” cerita KH.Musthofa bin Musthofa kepada Bangsaonline di kediamanya, Jumat (30/6).
Ia melanjutkan cerita, bahwa saat memasuki usia remaja, Kiai Musthofa dipondokkan kepada KH.Thoyib bin Abdussalam di Bugul Lor Kota Pasuruan. Setelah beberapa tahun di Bugul Lor dan mendapat banyak ilmu, Kiai Musthofa memutuskan untuk pindah ke PP.Sidogiri yang pada waktu itu diasuh oleh KH.Abdul Jalil bin Fadil, ayahanda dari KH.Nawawi Abdul Jalil pengasuh sekarang. Disamping itu, juga Kiai Musthofa menimba ilmu kepada masayikh lainya, salah satunya yaitu KH.Kholil Nawawi yang termasuk tokoh pencipta lambang Nahdlatul Ulama (NU).
“Setelah beberapa tahun memperoleh berbagai ilmu di Pondok tersebut, akhirnya beliau diangkat menjadi Ustadz untuk mengajar di PP.Sidogiri,” urainya.
Selang beberapa tahun mengajar di ponpes Sidogiri, ternyata Kiai Musthofa masih ingin kembali menyempurnakan ilmunya, sehingga ia kembali mengembara untuk menimba Ilmu ke daerah Jawa Tengah, tepatnya di PP.Al Islah Lasem yang saat waktu itu diasuh Syekh Masduqi bin Sulaiman Al-Hajj. Di sela-sela menimba ilmu di PP Al Islah, Kiai Musthofa juga menyempatkan diri menimba ilmu kepada KH.Baidlowi bin Abdul Aziz, KH.Ma’sum bin Ahmad dan KH.Fathurroman bin Zainuddin. Berbagai ilmu beliau dalami dari guru-gurunya.
“Setelah beberapa tahun di Lasem, beliau menemukan pandangan seorang wanita untuk dijadikan istri. Beliaupun memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita pilihannya yang bernama Marhamah binti Abdulloh Umar, adik KH. Abdul Hamid bin Abdulloh bin Umar, Pasuruan. Dan akhirnya beliau izin boyong sekaligus memohon restu kepada guru-gurunya,” cerita KH Musthofa.
“Setelah menikah beberapa tahun, beliau dikaruniai dua orang putri. Beliau kemudian membawa keluarganya meninggalkan Lasem untuk menetap di Lekok. Semula beliau tinggal satu rumah dengan kakek di desa Jatirejo kecamatan Lekok. Selama itu banyak hal yang diperbuat oleh beliau dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar”.
“Waktu demi waktu, nama beliau semakin dikenal masyarakat sehingga banyak orang dari luar daerah yang mempercayakan putra-putranya untuk mendapatkan pendidikan di pondok pesantren yang ia asuh. Kakek pun semakin mantap setelah melihat kemampuan dan kelebihan yang dimiliki putranya. Apalagi beberapa tahun sebelumnya, banyak isyaroh dan petunjuk yang diterimanya. Salah satunya dari Al Imam Al Habib Ja’far Bin Syaikhon Assegaf Pasuruan.”
Diceritakan, bahwa Habib Ja’far pernah berkata pada Kiai Sholahuddin,”La tasyka fiiman yushbahu wa yamsi wahuwa jalasa alal kursi”.
Intinya, bahwa Habib Ja’far melihat sebuah isyaroh kedudukan yang ada pada diri Kiai Musthofa. Mendapat petunjuk tersebut, akhirnya Kiai Sholahuddin membangunkan sebuah rumah dan pondok pesantren untuk anaknya. Pondok tersebut letaknya di Desa Tambak, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan yang dikenal saat ini dikenal dengan Nama PP.Roudlotul Mustofa.
Kiai Musthofa tak mudah untuk mengembangkan pondok tersebut, banyak cobaan yang dihadapi dan tantangan yang dialami. Namun berkat kesabaran, kematangan dan kemuliaan akhlaqnya semua dapat dilalui.
“Semisal, pernah beliau disakiti oleh orang sekitar yang hasud padanya, namun beliau tidak membalas perbuatan orang tersebut, melainkan membalas dengan kebaikan. Seringkali beliau membantu kesulitan orang yang telah menyakitinya. Suatu hari, adik kandung beliau Nyai Huzaimah, melihat langsung beliau mengantarkan uang dan beras kepada orang yang telah menyakiti beliau. Sepulang dari rumah tersebut, adiknya memanggil beliau untuk menyampaikan ketidakrelaannya. ‘Buat apa panjenengan berbuat baik kepada orang yang menyakiti panjenengan,’” cerita KH Musthofa menirukan kata-kata dari adik Kiai Musthofa.
“Beliau tersenyum lalu menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang selalu berbuat baik saat disakiti oleh umatnya. ‘Saya ingin mencontoh NABI Muhamad SAW karena saya sangat mencintainya,’. Setelah mendengar pejelasan beliau, adiknya menangis karena terharu oleh kemuliaan akhlak yang dimiliki beliau”.
Diceritakan, bahwa Kiai Musthofa juga sangat peduli kepeda kaum fakir miskin. Ia sering membantu mereka, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
“Beliau memang selalu mengedepankan kemaslahatan umat Islam, khususnya di Lekok, dan juga mengayomi mereka (fakir miskin). Bahkan beliau pernah menolong umat Islam di Lekok yang saat itu terjebak dalam peristiwa G30S/PKI, Pada zaman itu beliau tergolong ulama muda yang tegas.”
“Meskipun masih muda, kemampuan beliau berdakwah sangat matang dan istiqomah dalam berdzikir, melaksanakan sholat fardhu, berjama’ah, dan sholat sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau juga tergolong seorang ulama yang dijadikan rujukan seluruh umat islam, seperti yang diisyarohkan oleh Al Arif billah KH. Abdul Hamid bin Abdulloh bin Umar. Saat itu KH. Abdul Hamid mengumpamakan Pasuruan bagaikan Makkah dan Lekok bagaikan Madinah.”
Selain kuat dalam beribadah dan dermawan, diungkapkan oleh KH Musthofa, bahwa ayaknya juag memiliki banyak karomah.
Salah satunya disaksikan langsung oleh santri PP.Roudlotul Musthofa, yaitu KH. Abdulloh Hakam bin Abdul Kholiq bin Hasyim Asy’ari (cucu KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan Ponpes Tebuireng). Pernah pada suatu malam beliau mengajak KH Abdulloh Hakam jalan-jalan ke tepi laut sambil memberi wejangan. Di saat itu pula, beliau memperlihatkan karomahnya.
Kiai Musthofa saat itu bertepuk tiga kali, tiba-tiba ikan-ikan berloncatan menuju ke tepi. Selanjutnya Kiai Musthofa memberi isyarat dengan tangan menyuruh ikan-ikan tadi kembali lagi ke tengah laut. Hal ini diceritakan oleh Almarhum KH.Ishaq Latif (sahabat KH. Abdulloh Hakam sekaligus Masayikh Tebuireng) kepada Ahmad Fuad, wartawan Bangsaonline.com.
Pada tahun 1970 M, Kiai Musthofa akhirnya mendirikan madrasah di PP.Roudlotul Musthofa karena saat itu santrinya bertambah banyak. Kiai Musthofa juga semakin dicintai dan dikagumi oleh umat islam, sehingga banyak orang yang memohon nasihat serta doa barokahnya.
Namun, pada tahun itu pula Kiai Musthofa sering sakit. Di awal tahun 1971 M, sakitnya semakin parah. Satu hari menjelang wafat, beliau mengutarakan keinginannya bertemu dengan Al Arif billah KH. Mas’ud bin Said yang akrab dipanggil Gus Ud dari Pager Wojo, Buduran, Sidoarjo.
Bergegaslah adik kandung Kiyai Musthofa, yaitu KH.Nur Fadhlulloh (Kiai Fadol) untuk menjemput Gus Ud. Sesampainya di kediaman Gus Ud, Kiai Fadol langsung menemuinya dikamarnya. Entah apa yang menjadi perbincangan di antara mereka, hanya Alloh SWT yang tahu.
Namun akhirnya KH Musthofa berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu sore pukul 15.00 (Istiwa’), tepatnya tanggal 7 Dzulhijjah 1390 H atau 3 Februari 1971. KH Musthofa meninggal di usia 41 tahun meninggalkan seorang istri yang saat itu hamil 6 bulan, 2 putra dan 5 putri.
Sepeninggal KH Musthofa, KH.Aqib bin Yasin Rois membuat syair untuk mengenang wafatnya beliau, yang isinya:
Qiila wama mata syaqii Fil Arba’aa {**} Wa fiihi Labba Al-Musthofa Mawla da’aa
Ada yang mengatakan tidak akan celaka orang yang mati di hari Rabu, pada hari itu KH.Mustofa memenuhi panggilan ilahi
A’syiyata sab’a min Dzul Hijjah {**} Dzuhro khomis umma fil janazah
Tepatnya sore tanggal 7 Dzul Hijjah 1390 H, dikebumikan pada hari kamis siang hari beliau diiringi dalam keranda
Waqod dlofal liqo’a jammul ummati {**} fi daffani wa talqiini wal jamaati
Lautan manusia memadati suasana Lekok, untuk ikut menyemayamkan, menalkini, dan menyolatinya
Arikh wafata Al Musthofa birrojwati {**} Lirobbina ( Yabullu Khoiru nafhati )
Catatlah sebagai Sejarah wafatnya KH.Musthofa dengan harapan pada tuhan agar senatiasa melimpahkan sebaik-baik karunia-Nya
Tsumma sholatun nabiyi wasallimi {**} wal ali washohbi mushoobihi dzolami
Kemudian semoga sholawat salam tercurahkan pada baginda Nabi SAW serta keluarga dan sahabatnya yang menjadi lentera-lentera kegelapan
Alhamdulillahi aquulu fil khitaami {**} Nas’alu khusnahu idza khanal Khimaami
Saya ucapkan Alhamdulillah pada penutupan (Sya’ir), kami memohon semoga khusnul khotimah ketika waktu ajal tiba.
Begitulah kurang lebih cerita dari salah satu putra almarhum KH.Musthofa, sekaligus menutup kisah cerita yang disampaikan kepada Bangsaonline.com. Al-Fatihah....


Sumber: http://m.bangsaonline.com/berita/35267/biografi-al-arif-billah-kh-musthofa-lekok

Kyai Abdul Karim Bin KH. Muhammad Thoyyib Kramat, Kraton Pasuruan Pembawa Organisasi NU ke Pasuruan

Kyai Abdul Karim Bin KH. Muhammad Thoyyib Kramat, Kraton Pasuruan Pembawa Organisasi NU ke Pasuruan
============
Kyai abdul Karim Bin muhammad Toyib bin Qodli bin Khowarizmi adalah sosok kyai yang alim dilahirkan di Desa Bendungan kecamatan Kraton pada tahun 1303 H / 1885 M. Untuk tanggal dan hari kelahirannya banyak yang tidak tahu. Menurut penuturan Gus Hidayat keturunan kyai Abdul Karim beliau sejak kecil berguru kepada ayahnya. Pada usia 13 tahun menhafal kitab aqidatul awam kemudian di antarkan ayahnya untuk mondok di pondok pesantren Genthong di bawah asuhan kyai Abdul Ghofur, seorang kyai sepuh dengan seangkatan dengan kyai Kholil Bin Abdullatif Bangkalan.
Setelah mondok di pesantren genthong dia belajar dengan kyai ke pondok pesantren Kholil Bangkalan setelah selsai mondok di bangkalan dia melanjutkan belajar ke Khozin Panji Sidoarjo, kemudian melanjutkan ke Ponpes Di Tebu ireng Jombang menjadi santri KH. Hasyim Asy’ari bahkan dia di jadikan pengganti Kyai Hasyim Asy’ari ketika berhalangan mengajar.
Kyai Abdul karim tidak prnah puas dengan ilmu yang diperoleh dari para kyai besar namun dia memilih belajar keluar negeri yakni di mekah. Setelah selama 9 tahun belajar dimekah di suruh pulang untuk di jodohkan karena calon istrinya meninggal sehingga ia kembali ke mekaah lagi selama 3 tahun. Setelah belajar di mekah selama 12 tahun dia mempelajari kitab Ihya’ ulumudin karya imam Ghozali mendekati hafal diluar kepala.
Setelah pulang dinikahkan dengan gadis bernama Shofiyah Binti H. Abdul fattah dari Kota Pasuruan. Setelah berumah tangga belau tinggal di kota Pasuruan pada tahun 1336 H. Kemudian menggelar pengajian pengajian dari masjid ke masjid terutama di masjid jami’ Al Anwar Kota Pasuruan. Banyak jamaah yang ikut mengaji baik dari umum maupun kyai lain yang ikut mengaji. Singkat cerita kyai abdul karim bertemu bersama Habib Alwi Assegaf dari Hadramaut kemudian menjadi gurunya. Setelah berteman dan sekaligus menjadi gurunya Kyai Abdul Karim membangun rumah didaerah bendungan dan kemudian mendirikan Pondok pesantren Kramat .
Mengenai kealiman kyai Abdul Karim diakui oleh para ulama dan habaib dizamannya. Diantaranya di ceritakan oleh KH. Saifulloh Jufri saat pengajian setelah selasai ada sesi tanya jawab ada pertanyaan yang di kira tidak akan mampu menjawab soal perempuan sehingga dia mampu menjelaskan bahkan dengan gamblang yang penanya terkagum padahal tidak ada persiapan sebelumnya. Inilah keistimewaan kyai Abdul Karim.
Menurut cerita Habib Sholeh bn Abdul Karim Al Habsy bahwa kyai Abdul Karim semasa hidupnya terus berdakwah dari masjdi ke masjid dan memperagakan gerakan sholat diaatas panggung.ada sekitar 38 masjid yang didirikan di wilayah pasuruan, seperti daerah Tambaan kota pasuruan, Masjid Bukir, kebon agung, Desa selo tambak Kraton, desa Arjosari kraton, desa sungi kulon dan Pohjentrek.
Ketika KH. Hasyim Asy”ari mendirikan organisasi Nahdalatul Ulama (NU) Kyai Abdul Karim mendapatkan tugas langsung untuk mendirikan NU di Pasuruan. Dengan mengajak para kyai untuk membentuk ada diantara kyai yang tidak mau gabung dengan NU karena bukan murid kyai Hasyim Asy’ari. Sehingga NU bisa diterima oleh kyai dan akhirnya berkembang hingga sekarang. Kyai Abdul Karim juga salah satu kyai yang ikut perang kemerdekaan dan di tugasi mengembleng pasukn Hisbullah dan sabilillah dan ada beberapa kyai yang di tangkap oleh belanda tetapi tetap gigih dan jika belanda ingin menangkap selalu gagal.
Berikut putra putrinya Kyai Abdul Karim yang menikah dengan Hj. Shofiyah sebagai berikut
1 . KH. M. Thoyib pengasuh ponpes Kramat kraton pasuruan
2. M. Abdul Fatah wafat sebelum menikah
3. Nyai Hj. Marfu’ah istri Kyai Jufri
4. KH. Ahmad pendiri Ponpes Darul Ulum Pacar keling Kejayan
5. KH. M. As’ad Pengasuh Ponpes Kramat
6. M. Thoha wafat masih kecil
7. KH. M. Munif, pendiri ponpes Darul Karomah Gunung Jati Kramat
8. Nyai Hj. Mardiyah istri KH. Sufyan Kramat
9. Asyyatusoffa wafat masih kecil.
Kyai Abdul Karim tidak mau di foto saat ada photo grafer mencuri memotret fotonya tidak pernah jadi bagus dan memang tidak suka di foto katanya. Beliau wafat pada hari Senin tanggal 12 Dzul-Hijjah tahun 1369 Hijriyah bertepatan tanggal 25 setember tahun 1950 Masehi beliau di besar makamkan di komplek pemakaman keluarga Bani Thoyib di Bendungan Kraton Pasuruan jawa Timur. ( subari penulis cerita ini dari cerita gus dayat dan sebagaian diambil dari buku mutiara terpendam yang di terbitkan oleh Cipta pustaka Utama ]. Al-Fatihah....🙏🏻

Sumber: https://www.wartaonline.co.id/2017/04/kyai-abdul-karim-pembawa-organisasi-nu-ke-pasuruan/

MANAQIB MBAH KYAI GHOFUR SEPUH GENTONG, KOTA PASURUAN:

MANAQIB MBAH  KYAI GHOFUR SEPUH GENTONG, KOTA PASURUAN:
=============
Rasmudin nama kecil dari KH Abdul Ghofur merupakan putra dari hadratus Syaih Dawudiyah As Segaff dengan Syarifah Masyrifah, Rasmudin merupakan anak yatim menimbah ilmu ke KH Abdul Jalil di Desa Kebon Candi Gondang Wetan Pasuruan.
Sesampai di Kebon Candi Gondang Wetan Pasuruan Beliau tidak dapat menemui KH. Abdul Jalil karena telah pulang ke Rahmatulloh, tanpa putus asa beliau melanjutkan perjalanan ke Mbah Sakaruddin juga ada Gondang Wetan, dan ternyata Mbah Sakaruddin juga telah wafat,
Setelah dirasa cukup Rasmudin melanjutkan misi Belajar agamanya ke daerah Gentong Pasuruan dan di sana bertemu dengan Kyai.Surahmin (KH. Sihabuddin) Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Gentong yang didirikan pada hari Ahad tanggal 8 Rajab 1209 H. Pondok Pesantren ini juga terkenal dengan Langgar cangkruk.
Akhirnya Rasmudin menjadi santri di pondok Gentong. Karena memiliki bakat dan kepandaian diatas santri yang lain, maka pada saat Kyai Surahmin akan wafat beliau memanggil seluruh santrinya untuk diajak musyawarah siapa yang akan menjadi menantu Kyai Surahmin dan akan memegang amanat untuk meneruskan sebagai pemangku Pondok Pesantren Gentong, maka keseluruhan santri menunjuk Rasmudin untuk bisa menjadi mantu Kyai Surahmin. Akhirnya Rasmudin resmi menjadi menantu Kyai Surahmin yang memang hanya memiliki satu putri yang bernama Mas Soliha. Hingga akhirnya Rasmudin memegang amanat sebagai Pemangku Pondok Pesantren Gentong yang termasyhur dengan sebutan Kyai Abdul Ghofur/Kyai Sepuh.
Pembangunan Masjid Gentong:
Penggalian pondasi :
Pembangunan Pondasi dimulai pada tahun 1928 M. adapun beberapa kejadian yang luar biasa ialah Perintah Kyai Sepuh bahwa untuk membangun Pondasi harus selesai 1 hari dan pada saat pengerjaan dilakukan, ada masalah yakni ada akar tunjang pohon Nangka tepat disebelah utara pondasi yang akan dibangun, sehingga pekerja sangat kesulitan, Kyai Sepuh menyuruh Pekerja untuk makan (Sarapan) setelah selesai Ternyata Akar tersebut telah bergeser + 2 meter dari tempat semula.
Selain itu pada saat awal banyak para tamu yang datang untuk membantu memenuhi kebutuhan pembangunan Masjid, karomah Kyai Sepuh ternyata sangat bermanfaat kepada orang lain yang salah satunya ialah memberikan kesempatan kepada semua orang terutama yang miskin untuk bisa Sodaqoh walaupun dalam bentuk tenaga, Walaupun banyak bantuan bahan material datang pembangunan inipun tidak terlepas dengan kekurangan bahan dan ini Kyai Sepuh melalui karomahnya meminta bantuan kepada Allah dengan menggunakan Do’a bahasa Jawa dengan maksud agar dapat dimengerti oleh Para pekerja :Allahuma wedhi ndugi damel mbangun Masjid Gentong dan para pekerja bersama – sama menguacapAmiin setelah itu para pekerja berjalan ke depan jalan Gang masjid tidak begitu lama ada Cikar yang mengangkut Pasir untuk diserahkan ke Masjid Gentong.
Pemasangan usuk:
Usuk yang digunakan ada yang menggunakan bekas bongkaran dari langgar cangkruk yang ukurannya 5x7 m, sehingga pada saat dipasang di atas blandar kurang panjang, Kyai Sepuh memerintahkan kepada tukang sampai 3 kali usuk tersebut tetap dipasang, dan anehnya perintah yang ketiga Usuk tersebut ternyata lebih ukurannya dari blandar.
 Pemasangan talang Seng:
Setelah P. Tabri dan Nor Rohim tukang kayu Masjid memasang talang maka perlu dilakukan uji coba apakah talang yang telah dipatri(disoder) tidak bocor
maka para pekerja ramai – ramai membawa timba berisi air tetapi dicegah oleh Kyai Sepuh, dan Kyai Sepuh Berdo’a Allahuma Udan damel njajal talang Masjid Gentong  dan para PekerjaAmiin, tidak begitu lama langit yang sebelumnya cerah (karena Musim kemarau) berubah menjadi mendung dan turun hujan yang lebat  setelah dilihat talang tidak ada yang bocor seketika itu huja telah reda.
Pemasangan Atap:
Hampir sama kejadiaanya, didahului dengan informasi bahwa atap Masjid Kyai Abdurohman Bugul Legi bagus, maka Kyai sepuh berdo’aAllahuma piyan ndugi damel Masjid Gentong luwih sae saking piyan masjid KH. Abdurohman, tidak begitu lama datang 2 truck kiriman Atap dari H. Ali Surabaya. Pemasangan dilakukan pada tahun 1930 M.
Pembangunan Menara:
Banyak sekali kejadian yang luar biasa dan yang paling unik setiap tamu yang datang disuruh Kyai Sepuh untuk menaiki tangga menara sambil menghitung, jika menghitung tangga saat naik jumlahnya lebih banyak dengan pada saat menghitung tangga saat turun maka derajat dan hartanya akan meningkat dan sebaliknya.
Selain itu para tamu juga disuruh untuk melihat dari menara jika melihat ke utara nampak laut dan sebelah selatan nampak gunung Semeru maka orang tersebut Insya-Allah bisa menunaikan ibadah haji.dan sebaliknya.hal ini terjadi seringkali yang salah satunya dialami oleh H. Syamsuri dari Kali Sangit Kecamatan Rembang Pasuruan.
Selain dari kejadian dimasjid maupun menara sedikit kami coba ungkapkan dari sekian kejadian yang menyangkut karomah Kyai Sepuh ialah ;
Seorang Mantri Polisi di Winongan yang bernama Said Hidayat (tahun 1939) sowan untuk mintah do’a barokah dari Kyai Sepuh dan Kyai Sepuh mendo’akan agar Dia bisa menjadi Bupati (kanjeng) dan Said Hidayat kurang yakin karena memang pada saat itu untuk menjadi Bupati harus dari golongan Ningrat/Bangsawan,
tetapi Pada saat Indonesia Merdeka Said Hidayat terbukti menjadi Bupati Pasuruan.
Cerita yang lain KH. Siddiq Jember sering sowan ke Kyai Sepuh untuk minta barokah do’a dan suatu ketika KH Siddiq mengajak Abdul Chamid (KH Abdul Chamid – Kebonsari Pasuruan), sampai di Plebetan Kyai Sepuh, Lalu Kyai Sepuh berbicara sini kamu, Kyai Siddiq bertanya apa saya Kyai ? bukan yang kecil. Kamudian Abdul Chamid diajak masuk ke dalam lalu diambilkan sebuah bunga dan Kyai Sepuh bertanya kepada Abdul Chamid, apa ini ? Bunga Kyai jawab Abdul Chamid, lalu Kyai Sepuh bertanya kembali kamu tahu maksudnya bunga ? Tidak tahu Kyai Jawab Abdul Chamid. Dan Kyai Sepuh menjelaskan bahwa bunga itu harum baunya dan disenangi oleh orang dan Insya-Allah besok kamu akan disenangi orang dan nama mu harum seperti bunga, dan sampai sekarang walaupun telah Wafat KH Abdul Chamid masih didatangi orang (makamnya).
Selain mendapat sasmita/arahan dari Kyai Sepuh KH. Abdul Chamid juga mendapat Ijazah bacaan dari Kyai Sepuh  Robbana dholamna… sampai akhir ayat 11 x ketika mau tidur dan pada saat bangun tidur membaca Robbana atina fiddunya…… sampai akhir ayat 11 x.
Dan yang juga mengherankan ada orang dari Jember yang ingin mondok (belajar) di Gentong oleh Kyai Sepuh disuruh ke Kyai Siddiq Jember, sesampai orang itu di Kyai Siddiq mengutarakan bahwa dia ingin mondok Kyai Siddiq kaget, Kyai Siddiq dawuh lho saya ini orang pasaran tidak bisa apa – apa, lalu orang tersebut mengatakan saya dapat perintah dari Kyai Sepuh Gentong Pasuruan, akhirnya Kyai Siddiq menerima orang tersebut jadi santri pertama dan mulai saat itu Kyai Siddiq membuka Pondok Pesantren yang terkenal Pondok Talangsari Jember.
Kesemua karomah dari Kyai Sepuh merupakan pelajaran bagi kita, dan yang paling utama adalah Kyai Sepuh walaupun sudah memiliki Karomah tetapi masih tetap menjalankan syari’at Agama Allah. Al-Fatihah....


Sumber:http://kimgentongmaspaskot.blogspot.co.id/2015/03/manaqib-kyai-sepuh.html?m=1

Faedah Membaca Surat Yusuf Setiap Hari


*Faedah Membaca Surat Yusuf Setiap Hari:*
===================
من داوم على قراءة سورة يوسف كل يوم وليلة،سهل الله اموره فى الدنيا والآخرة،امين،كما قاله المرحوم كياهى الحاج محمد بدري مويو،وعن شيخه المرحوم الحاج كياهى عبد الغفور كنطوع كاديع الفاسروانى،لهما الفاتحة.
=======≠==========
Mbah KH.Badri Moyo, Pasrepan Pasrepan dhawoh dengan mendapat ijazah dari Gurunya : Mbah KH. Abdul Ghofur Sepuh Gentong, Gadingrejo Kota Pasuruan:
*"Barangsiapa Istiqomah Membaca Surat Yusuf Setiap Hari, Alloh Akan Mempermudah Semua Urusannya di Dunia dan Akhirat."*
==================
Al-Fatihah....







Kisah Mbah Ibrahim Brumbung Mranggen Menguji Para Muridnya:

Kisah Mbah Ibrahim Brumbung Mranggen Menguji Para Muridnya:
================
Beliau Simbah Kyai Ibrahim brumbung mranggen Demak salah satu Ulama besar dan guru mursyid Toriqoh Qodiriyah Wa naqsyabandiyah di nusantara salah satu muridnya adalah Simbah Kyai Abdurrohman Al maraqi(ayah Kyai Muslih mranggen). dalam suatu kisahnya Simbah Kyai Ibrahim akan menunjuk badal mursyid dari murid-muridnya. dalam suatu majlisan toriqohon di brumbung mranggen para murid di perintahkan solat sunah berjamaah di langgar pondok, ketika berlangsung khusu' solat sunah tiba-tiba ada ular cukup besar berjalan melintasi di depan barisan sof, para murid toriqoh yang semula khusu' mendengar suara jalannya dan desisan ular jadi buyar pada ketakutan bubar meninggalkan solat sunah jamaah tsb hanya Simbah Kyai Ibrahim dan satu muridnya saja  Kyai Abdurohman yang tetap menyelesaikan solat tsb. begitu solat selesai dan ular sudah pergi. Mbah Ibrahim memanggil para murid masuk langgar dan menjelaskan bahwa dari pendadaran(ujian) untuk penunjukan badal mursyid sudah ada yang.lulus yaitu Kyai Abdurrohman. inilah dari kesekian karomah Simbah Ibrahim dalam menunjuk badal mursyid toriqoh. wallahu a'lam. semoga kita dan para cucu santrinya serta para pecintanya wal muslimin mendapatkan barokah ilmunya. Aaamiin. AlFatihah...

(Copas Kang Agus Tiyanto klaten)

Jend. A.H Nasution diantar KH. Mahrus Ali (lirboyo) sowan ke mbah ud. Memang Kewalian Gus Ud ( KH.Ali Mas'ud ) Pagerwojo Sudah Tampak Sejak Kecil.

Jend. A.H Nasution diantar KH. Mahrus Ali (lirboyo) sowan ke mbah ud. Memang Kewalian Gus Ud ( KH.Ali Mas'ud ) Pagerwojo Sudah Tampak Sejak Kecil.
===============
Beliau wali majdzub sejak kecil.  Alkisah suatu hari Jend. A.H Nasution diantar KH. Mahrus Ali (lirboyo) sowan ke mbah ud. Sesampai disana diberi segelas air suwuk (air yang sudah didoakan oleh mbah ud) sambil berucap:  “ombehen lee, kowe ben selamet” (minumlah nak, kamu biar selamat).  Dan terbukti ketika meletus insiden G-30S PKI, Jend. A.H Nasution adalah satu-satunya target yang selamat.

Siapakah Sosok Waliyullah Mbah KH Ali Mas’ud ?
Ketika kita membicarakan sosok wali yang satu ini, kalangan Nahdiyin pasti banyak yang tau kisah-kisah tentang beliau. Beliau adalah seorang Waliyullah  yang luar biasa,  hingga tak ada satupun ulama atau para wali di tanah jawa ini yang tak mengenal sosok beliau. Beliau dimakamkan di desa Pagerwojo Sidoarjo. Makamnya banyak yang menziarahinya dan ketika wafat belum dikaruniai keturunan .

Menurut kisahnya yang lain, Mbah Ud mendapat derajat kewalian itu sejak masih kecil. Mbah Ud sangat nakal dan banyak tingkah hingga membuat ayahnya sering marah kepadanya. Sang ayah konon orang yang ‘alim dan mengajar ngaji di rumahnya. Setiap ayahnya mengajar sering terganggu oleh suara-suara teriakan Gus Ud kecil itu, hingga sang ayah memarahinya bahkan memukulnya dengan kayu kecil.

Nah.. dari situlah sang ayah melihat keanehan pada diri sang putra tersebut. Suatu saat ayanhnya menegur beliau sambil membentak ;” Kamu ini banyak tingkahnya, makanya gak bisa ngaji ! “ . Kemudian si kecil Gus Ud menimpali teguran ayahnya;”Ngajar ngajinya saya ganti ya ? “.  

Ayahnya heran dengan ucapan anaknya yang baru berusia 8 tahunan itu, Gus Ud langsung mengambil kitab kuning ayahnya tersebut dan langsung membacanya, meskipun kitab itu gundul ( tidak ada harokatnya ) Gus Ud kecil itu lancar membacanya berikut menjelaskan semua keterangan kitab itu.

Subhanallah !! ayahnya terheran-heran … Sejak itulah sang ayah membiarkan saja apa yang dilakukan putranya itu …
Dalam kisah yang lain saat itu musim haji. Gus Ud berangkat haji sama-sama dengan KH Mas Zubeir bin Harits. Ketika para jama’ah haji mau diberangkatkan, di dalam pesawat itu Gus Ud membaca marhabanan dengan suara keras dan tidak teratur sambil memukulkan sesuatu yang dipakai untuk musiknya.

Semua yang melihat tidak berani melarang, karena seluruh penumpang paham siapa itu Gus Ud . Hanya salah satu awak pesawat lelaki menegur Gus Ud dengan halus: “maaf pak .. pesawat mau berangkat ..tolong berhenti dulu “ katanya. Lalu Gus Ud berhenti mambaca marhabanan itu dengan hati yang dongkol, dan lalu apa yang terjadi ? Sampai beberapa jam mesin pesawat itu tidak mau hidup.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan ternyata tidak ada masalah, tetapi tetep saja tidak bisa hidup mesinnya. Akhirnya salah satu jama’ah haji ada yang menegur salah satu awak pesawat tadi agar minta maaf pada gus ‘Ud karena telah menegurnya untuk diam.

Maka anjurannya dituruti juga. ” Saya minta maaf ya pak atas kelancangan saya tadi, jika sekarang bapak mau baca marhabanan tadi , monggo ” .. Lalu Gus Ud menjawab :” iyo yo … “ .

Dengan rasa suka Gus Ud langsung membaca marhabanan seperti tadi dengan memukul – mukul sesuatu untuk menjadi musiknya. Dan mesin pesawat langsung bisa hidup dan berangkat ke saudi dengan selamat.
AlFatihah...