ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 16 Maret 2018

Thola'al Badru Alaina...ﻃﻠﻊ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺛﻨﻴﺎﺕ ﺍﻟﻮﺩﺍﻉ ﻭﺟﺐ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﺎ ﺩﻋﻰ ﻟﻠﻪ ﺩﺍﻉ

ﻃﻠﻊ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺛﻨﻴﺎﺕ ﺍﻟﻮﺩﺍﻉ

ﻭﺟﺐ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﺎ ﺩﻋﻰ ﻟﻠﻪ ﺩﺍﻉ

ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻤﺒﻌﻮﺙ ﻓﻴﻨﺎ ﺟﺌﺖ ﺑﺎﻷﻣﺮ ﺍﻟﻤﻄﺎﻉ

ﺟﺌﺖ ﺷﺮﻓﺖ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﺮﺣﺒﺎً ﻳﺎ ﺧﻴﺮ ﺩﺍﻉ

ﻃﻠﻊ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﻤﺒﻴﻦ ﻧﻮﺭ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ

ﻧﻮﺭ ﺃﻣﻦ ﻭﺳﻼﻡ ﻧﻮﺭ ﺣﻖ ﻭﻳﻘﻴﻦ

ﺳﺎﻗﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﺒﺮ ﺷﻌﺎﻉ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺤﺮ ﺷﻌﺎﻉ

ﻣﺮﺳﻞ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﺟﺎﺀ ﻧﻄﻘﻪ ﻭﺣﻲ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ

ﻗﻮﻟﻪ ﻗﻮﻝ ﻓﺼﻴﺢ ﻳﺘﺤﺪﻯ ﺍﻟﺒﻠﻐﺎﺀ

ﻓﻴﻪ ﻟﻠﺠﺴﻢ ﺷﻔﺎﺀ ﻓﻴﻪ ﻟﻠﺮﻭﺡ ﺩﻭﺍﺀ

ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻬﺎﺩﻱ ﺳﻼﻣﺎً ﻣﺎ ﻭﻋﻰ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻉ

ﺟﺎﺀﻧﺎ ﺍﻟﻬﺎﺩﻱ ﺍﻟﺒﺸﻴﺮ ﻣﻄﺮﻕ ﺍﻟﻌﺎﻧﻲ ﺍﻷﺳﻴﺮ

ﻣﺮﺷﺪ ﺍﻟﺴﺎﻋﻲ ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﺃﺧﻄﺄ ﺍﻟﺴﺎﻋﻲ ﺍﻟﻤﺴﻴﺮ

ﺩﻳﻨﻪ ﺣﻖ ﺻُﺮﺍﺡ ﺩﻳﻨﻪ ﻣﻠﻚ ﻛﺒﻴﺮ

ﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻧﻌﻴﻢ ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻷﺧﺮﻯ ﻣﺘﺎﻉ

ﻫﺎﺕ ﻫﺪﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺎﺕ ﻳﺎ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺍﺕ

ﻟﻴﺲ ﻟﻼﺕ ﻣﻜﺎﻥ ﻟﻴﺲ ﻟﻠﻌﺰﻯ ﺛﺒﺎﺕ

ﻭﺣّﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻭﺣﺪ ﺷﻤﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺸﺘﺎﺕ

ﺃﻧﺖ ﺃﻟﻔﺖ ﻗﻠﻮﺑﺎً ﺷﻔﻬﺎ ﻃﻮﻝ ﺍﻟﺼﺮﺍﻉ

ﻃﻠﻊ ﺍﻟﺒﺪﺭ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﻦ ﺛﻨﻴﺎﺕ ﺍﻟﻮﺩﺍﻉ

ﻭﺟﺐ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻣﺎ ﺩﻋﻰ ﻟﻠﻪ ﺩﺍﻉ

ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻤﺒﻌﻮﺙ ﻓﻴﻨﺎ ﺟﺌﺖ ﺑﺎﻷﻣﺮ ﺍﻟﻤﻄﺎﻉ

ﺟﺌﺖ ﺷﺮﻓﺖ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﺮﺣﺒﺎً ﻳﺎ ﺧﻴﺮ ﺩﺍﻉ

___

Kamis, 15 Maret 2018

Terbunuhnya Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib KRW: BUKTI DIBUNUHNYA IMAM HASAN DALAM RIWAYAT AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH..

Copas fb
Terbunuhnya Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib KRW:
BUKTI DIBUNUHNYA IMAM HASAN DALAM RIWAYAT AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH..
=======

I. Ibnu Sa’d menceritakan: ‘Mu’âwiyah meracuni Hasan berulang-ulang’.

Wâqidî berkata: ‘Mu’âwiyah meminumkan racun kepada Hasan, kemudian ia selamat, kemudian diminumkan racun lagi dan selamat, kemudian yang terakhir Hasan meninggal. Tatkala maut mendekat, dokter (thabib) yang menjenguknya berulang-ulang mengatakan bahwa Hasan diracun orang. Adiknya Husain berkata:

‘Ya ayah Muhammad, beritahukan saya, siapa yang meminumkan racun kepadamu?’. {Ibnu Katsîr, Târîkh, jilid 8, hlm. 43}

II. Mas’ûdî mengatakan: ‘Tatkala ia diberi minum racun, ia bangun menjenguk beberapa orang kemudian, setelah sampai di rumah, ia berkata: ‘Aku telah diracuni, berkali-kali tetapi belum pernah aku diberi minum sepertiini, aku sudah keluarkan racun itu sebagian, tetapi kemudian kembali biasa lagi’.

Husain berkata: ‘Wahai saudaraku, siapa yang meracunimu?’.

Hasan menjawab: ‘Dan apa yang hendak kau lakukan dengannya? Bila yang kuduga benar, maka Allâh-lah yang melakukan hisab terhadapnya. Bila bukan dia, aku tidak menghendaki orang membebaskan diriku. Dan dia berada dalam keadaan demikian sampai 3 hari sebelum ia ra. akhirnya meninggal. Dan yang meminumkan racun kepadanya adalah Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî, dan Mu’âwiyah yang memerintahkan kepadanya, dan bila ia berhasil membunuh Hasan ia akan dapat 100.000 dirham dan ‘ akan mengawinkannya dengan Yazîd’. Ialah yang mengirim racun kepada Ja’dah, istri Hasan. Dan tatkala Hasan meninggal, ia mengirim uang tersebut dengan surat:

‘Sesungguhnya kami mencintai nyawa Yazîd, kalau tidak maka tentu akan kami penuhi janji dan mengawinkan engkau dengannya’. {Mas’ûdî, Murûj adz-Dzahab, jilid 2, hlm. 50}

III.Abû’l-Faraj al-Ishfahânî menulis: ‘Hasan telah mengajukan syarat perdamaian kepada Mu’âwiyah: Mu’âwiyah bin Abî Sufyân tidak bolehmengangkat seseorang jadi khalîfah sesudahnya. Dan bila Mu’âwiyah akan mengangkat Yazîd, anaknya, jadi khalîfah, maka yang memberatkannya adalah Hasan bin ‘Alî dan Sa’d bin Abî Waqqâsh, maka Mu’âwiyah meracuni mereka berdua dan mereka meninggal.Ia mengirim racun kepada putri Asy’ats bin Qais: ‘Aku akan kawinkan kau dengan anakku Yazîd, bila kau racuni Hasan’, dan ia mengirim 100.000 dirham dan ia tidak mengawinkannya dengan Yazîd. {Al-Ishfahânî, Maqâtil ath-Thâlibiyîn, hlm. 29; Diriwayatkan Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm. 11, 17}

III.Abul Hasan al-Madâ’inî berkata: ‘Hasan meninggal tahun 49 H., 669 M,setelah sakit selama 40 hari pada umur 47 tahun. Ia diracuni Mu’âwiyah melalui tangan Ja’dah binti Asy’ats, istri Hasan dengan kata-kata:
‘Bila engkau membunuhnya dengan racun, maka engkau dapat 100.000 dan akan aku kawinkan kau dengan Yazîd, anakku’.
Dan tatkala Hasan meninggal, maka ia memberikan uang tersebut dan tidak mengawinkannya dengan Yazîd.
Ia berkata: ‘Aku takut kau akan lakukan terhadap anakku seperti yang engkau lakukan terhadap anak Rasûl Allâh saw’.

Hushain bin Mundzir ar-Raqasyi berkata: ‘Demi Allâh Mu’âwiyah tidak memenuhi sama sekali janjinya, ia membunuh Hujur dan teman-temannya, membaiat anaknya Yazîd dan meracuni Hasan. {Ibn Abîl-Hadîd, Syarh Nahju’l-Balâghah, jilid 4, hlm. 4. & hlm. 7.}

IV.Abû ‘Umar berkata dalam al-Istî’âb: ‘Qatâdah dan Abû Bakar bin Hafshah berkata: ‘Mu’âwiyah meracuni Hasan bin ‘Alî, melalui istri Hasan, yaitu putri Asy’ats bin Qais al-Kindî.

Sebagian orang berkata: ‘Mu’âwiyah memaksanya, dan tidak memberinya apa-apa, hanya Allâh yang tahu!’.

Kemudian ia menyebut sumbernya, yaitu Mas’ûdî. {Ibnu ‘Abd al-Barr, Kitâb al-Istî’âb, jilid 1, hlm. 141}

V.Ibnu al-Jauzî mengatakan dalam ‘at-Tadzkirah Khawâshsh’l-Ummah’: ‘Para ahli sejarah di antaranya ‘Abdul Barr meriwayatkan bahwa Al Hasan diracuni istrinya Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al-Kindî.

As-Sûdî berkata: Yang memerintahkannya adalah Yazîd bin Mu’âwiyah agar meracuni Hasan dan bahwa ia berjanji akan mengawininya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah mengirim surat kepada Yazîd menagih janjinya. Dan Yazîd berkata: ‘Hasan saja kamu bunuh, apalagi aku, demi Allâh, aku tidak rela’.

Asy-Sya’bî mengatakan: ‘Sesungguhnya yang melakukan tipu muslihat dalah Mu’âwiyah.

Ia berkata kepada istri Hasan: ‘Racunilah Hasan, maka akan aku kawinkan engkau dengan Yazîd dan memberimu 100.000 dirham. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menuntut janjinya. Mu’âwiyah lalu mengiriminya uang tersebut dan menambahkan : ‘Sesungguhnya aku mencintai Yazîd, dan mengharapkan agar ia tetap hidup, kalau tidak demikian tentu aku akan kawinkan engkau dengannya’.

Sya’bî berkata lagi: ‘Dan ini benar dengan berdasarkan saksi yang dapat dipercaya:

‘Sesungguhnya Hasan berkata tatkala akan mati dan telah sampai kepadanya apa yang dilakukan Mu’âwiyah:

‘Aku telah tahu minumannya dan kebohongannya, demi Allâh ia tidak memenuhi janjinya, dia tidak jujur dalam perkataannya’. Kemudian Sya’bî mengutip ath-Thabaqât dari Ibnu Sa’d: “Mu’âwiyah meracuninya berulang ulang.
{Ibnu al-Jauzî, ‘al-Tadzkirah’, hlm. 121}

VI.Ibnu ‘Asâkir berkata: ‘Ia diberi minum racun, berulang-ulang, banyak, mula-mula ia bisa pulih, lalu diberi minum lagi dan ia tidak bisa pulih dan dikatakan: Sesungguhnya Mu’âwiyah telah memperlakukan dengan ramah seorang pembantunya agar meracuninya dan ia lalu melakukannya dan berpengaruh sedikit demi sedikit, sampai ia memakai alat untuk bisa duduk dan ia bertahan sampai 40 kali. Muhammad bin al-Mirzubân meriwayatkan: ‘Ja’dah binti Asy’ats bin Qais adalah istri Hasan dan Yazîd melakukan tipu muslihat agar ia mau meracuni Hasan. ‘Dan saya akan mengawininya, dan Ja’dah melakukannya. Dan tatkala Hasan meninggal Ja’dah menanyakan janji Yazîd dan Yazîd berkata: ‘Sesungguhnya, demi Allâh, kalau Hasan saja kamu bunuh, apalagi kami’.
{Ibnu ‘Asâkir, Târîkh, jilid 4, hlm. 229.}

VII..Hasan bin ‘Alî sakit yang berakhir dengan kematiannya. Ia diracun istrinya, atas suruhan Mu’âwiyah dengan bayaran 100.000 dinar. Ia lalu memerintahkan Marwân bin Hakam yang diangkatnya jadi gubernur Madînah untuk terus mengamati Hasan dan menyuratinya. Tatkala datang berita bahwa Hasan telah meninggal seluruh penduduk Syam bertakbir. Seorang wanita, Fakhîtah binti Quraidhah bertanya kepada Mu’âwiyah: ‘Apakah kamu bertakbir bagi matinya putra Fâthimah? Ya aku bertakbir karena hatiku gembira..Ia sangat gembira dan bahagia dan bersujud, dan semua yang hadir ikut bersujud.

{Ibnu Qutaibah, al-Imâmah wa’s-Siyâsah, jilid 1, hlm. 144; Ibnu ‘Abdu Rabbih, al- ’Iqd al-Farîd, jilid 2, hlm. 298; ar-Raghib al-Ishfahânî, Al-Muhâdharât, jilid 2, hlm. 224 dll.}
Al-Fatihah....

KETURUNAN AL-IMAM HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB KRW:

Copas dari fb  سيد زمحشري رومي الحسيني
KETURUNAN AL-IMAM HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB KRW:
=========
Pada tanggal 28 Shafar 50 Hijriyah, Al-Imam Hasan bin Ali berpulang ke Rahmatullah dalam usia 47 tahun dan dimakamkan dipemakaman umum Baqi’. Dalam kitab Al-Ishaabah, Al-Waqidi bercerita: “ Pada hari (Penguburan Al-Imam Hasan Bin Ali) orang-orang yang menghadirinya sangat banyak. Sekiranya jarum dilemparkan di atas mereka, niscaya jarum tersebut akan jatuh diatas kepala mereka dan tidak akan menyentuh tanah.”

Mengenai kematian Al-Imam Hasan Bin Ali ini, para ahli sejarah mengatakan, bahwa beliau wafat karena diracun. Saudaranya yaitu Al-Imam Husain Bin Ali, tatkala mengetahui sang kakak telah diracuni, memaksanya agar memberi tahu siapa pelakunya, namun beliau (Al-Imam Hasan Bin Ali) menolak.

Abul Faraj Al-Ishfahani dalam bukunya Maqatiluth Thalibiyin menulis: “Mu’awiyah ingin mengambil bai’at untuk putranya, Yazid. Demi merealisasikan tujuannya ini ia tidak melihat penghalang yang besar melintang kecuali Al-Imam Hasan Bin Ali dan seorang sahabat ra Sa’d Abi Waqqash. Dengan demikian, ia membunuh mereka berdua secara diam-diam dengan racun.”

As Sibth bin Jauzi meriwayatkan dari Ibnu Sa’d dalam kitab At-Thabaqat dan ia meriwayatkan dari Al-Waqidi bahwa Sayyidina Hasan RA ketika sedang menghadapi sakratul maut pernah berwasiat: “Kuburkanlah aku di samping kakekku Rasulullah saw”. Akan tetapi, Bani Umaiyah Marwan bin Hakam dan Sa’d bin Al-‘Ash sebagai gubernur Madinah kala itu tidak mengizinkannya untuk dikuburkan sesuaui dengan wasiatnya. Akhirnya, jenazah Sayyidina Hasan RA diboyong menuju ke pekuburan Baqi’ dan dikuburkan disamping kuburan neneknya (Ibunda dari Sayyidina Ali bin abi Thalib RA), yaitu Fathimah binti Asad.

Dalam beberapa kisah Al-Imam Hasan Al-Mujtaba memiliki beberapa istri diantaranya:
1. Ummu Bashir,
2. Khaulah,
3. Ummu Ishaq,
4. Hafsah,
5. Hindun dan
6. Ja’dah

Anak-anak kandung Al-Imam Hasan Al-Mujtaba berjumlah 15 orang, diantaranya 8 laki-laki dan 7 lainnya perempuan.

UMMI BASHIR (Putri Ibnu Mas’ud ‘Aqabah bin Amru)

ZAID

UMMUL HASAN

UMMUL HUSAIN

KHAULAH BINTI MANDHUR FAZARI

HASAN BIN HASAN

Seorang Budak

AMRU

QOSIM

ABDULLAH

Seorang Budak

ABDURRAHMAN

UMMU ISHAK BINTI TALHAH BIN UBAIDILLAH TAIMI

HUSAIN

TALHAH

FATIMAH

ISTRI-ISTRI YANG BERBEDA [1]

UMMU ABDULLAH

FATIMAH

UMMU SALAMAH

Ruqayyah

Qasim bin Hasan (Bahasa Arab: قاسم بن الحسن ) salah seorang putera dari Imam Hasan al-Mujtaba As yang turut gugur sebagai syuhada di padang Karbala padaperistiwa Asyura 61 H.

Abdullah bin al-Imam al-Hasan As (Bahasa Arab:عبدالله بن الإمام الحسن علیه السلام) salah seorang putera Imam Hasan bin Ali As yang gugur syahid dalam Peristiwa Karbala akibat tebasan pedang musuh ketika hendak menyelamatkan pamannya, Imam Husain As. Ia menjadi perisai hidup ketika Imam Husain As hendak ditebas oleh pedang musuh.[2]

Dalam Riwayat lain, Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Tadzkirah Al-Khawas menukil dari Abu Sa’id dalam Thabaqat-nya menyebutkan putra putri Sayyidina Hasan RA adalah:
1. Muhammad Al- Ashghar,
2. Ja’far,
3. Hamzah,
4. Muhammad Al-Akbar,
5. Zaid, Hasan Al-Mutsanna, Fatimah, Ummul Hasan, Umul Khair, Ummu Abdurrahman, Ummu Salmah, Ummu Abdullah, Ismail, Ya’qub, Abubakar, Thalhah dan Abdullah.

Muhammad Ali Shabban dalam bukunya Teladan Suci Keluarga Nabi mengatakan keturunan Sayyidina Hasan RA yang sahih yang ada sekarang adalah Zaid dan Hasan Al-Mutsana. Zaid lebih tua dari saudaranya Hasan Al-Mutsana. Sesudah pamannya (Sayyidina Husain RA) meninggal, ia membai’at Abdullah bin Zubair sebagai khalifah. Menurut salah satu pendapat, Zaid hidup selama seratus tahun.

Sedangkan Hasan Al-Mutsanna, ikut pamannya (Sayyidina Husein RA) di Karbala dan mendapatkan luka-luka dalam perang melawan pasukan Yazid Muawiyyah. Ketika pihak musuh hendak mengambil kepalanya, mereka dapati ia masih bernafas, lalu Asma bin Kharijah Al-Fazzari berkata: “Biarkan dia kubawa!” Kemudian dibawanya ke Kufah dan diobati sampai sembuh. Setelah itu Hasan Al-Mutsanna kembali ke Madinah.

Dalam buku Keturunan Hasan wa Husain, Mesir, anak dari Zaid bin Hasan Al-Mujtaba diantaranya :

ZAID BIN HASAN AL-MUJTABA

Nafisah

AL-HASAN [. . .]

Abu Thohir
Abu Al-Hasan – Ishaq
Abu Muhammad – Abdullah
Abu Ishaq – Ibrahim
ALI
Abu Muhammad – Ismail
ABU MUHAMMAD – AL-QOSIM
ALI [Laqab Al-sadid]

Abdullah

Ahmad

Al-Qosim

Al-Husain

Al-Qosim

Abu Muhammd

Yahya [. . .]

Muhammad bin Al-Qosim

Musa

Ali

Ais

Hamzah [. . .]

Al-Husain [. . .]

Ali [. . .]

Al-Hasan

Daud

Al-Hasan

Muhammad

Hasan Al-Mutsanna bin Al-Imam Hasan dan Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husain merupakan Hidayah dan Taufiq dari Allah SWT yang hingga kini Keturunan-keturunannya tersebar diseluruh pelosok dunia. Dari mereka yang kemudian melanjutkan generasi-generasi Al-Hasan wal Husain.

Hasan Al-Mutsanna bin Al-Imam Hasan yang tercatat sebagai keturunan dari Al-Imam Hasan Bin Ali yang hidup melanjutkan pohon silsilah Bani Hasyim hingga kepada Sayyidah Fatimah Zahro binti Rasulullah SAW dan sampai saat ini keturunannya tersebar dibeberapa Negara, seperti Yaman, Mekkah, Mesir, Irak, Iran dan Indonesia.

———————————————————————-

CATATAN KAKI
1. Al-Mufid, al-Irsyad, jilid 2, hlm 16
2. Syaikh Mufid, jilid 2, hlm. 111


Dzurriyah Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib RA. :

Copas dari fb سيد محشر رومي الحسيني
Dzurriyah Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib RA. :

Imam Hasan adalah putra pertama pasangan Imam Ali Kw. dan Fathimah Az-Zahra. Beliau dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Ramadhan 2 atau 3 H. Setelah sang ayah syahid, beliau memegang tampuk pemerintahan Islam selama enam bulan. Beliau syahid pada tahun 50 H setelah meminum racun yang disuguhkan oleh istrinya sendiri, Ja’dah di usianya yang ke-48 tahun. Beliau dikuburkan di Perkuburan Baqi’

Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa` bercerita: “Imam Hasan a.s. dilahirkan pada tahun 3 H. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, Rasulullah SAWW menyembelih kambing untuk akikahnya dan ia mencukur rambutnya. Rambut itu kemudian ditimbang dan sesuai dengan kadar timbangannya Rasulullah SAW bersedekah perak. Beliau adalah salah satu ahli kisa`. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, aku sangat mencintainya, oleh karena itu, cintailah dia”. Pada kesempatan yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Hasan dan Husein adalah dua penghulu penghuni surga”.

Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari Hasan naik di atas pundak Rasulullah SAW. Salah seorang sahabat berkata: “Wahai anak muda, engkau memiliki tunggangan yang sangat bagus!”. “Tidak begitu, ia adalah penunggang yang terbaik”, jawab Rasulullah SAW menimpali. Beliau memiliki jiwa yang tenang, berwibawa, tegar, pemaaf dan sangat disukai masyarakat. Beliau sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Beliau sering membantu mereka melebihi kebutuhan mereka sehingga kehidupan mereka sedikit lebih makmur. Hal ini karena beliau tidak ingin seorang peminta datang beberapa kali kepadanya untuk meminta sesuatu yang akhirnya beliau merasa malu.

Sayidina Hasan Ra menikahi sembilan orang wanita

Ummu Farwa (ibu dari Qasim bin Hasan)
Khaulah binti Mansur al Fazariyah (ibu dari Hasan al Mutsanna)
Ummu Bashir
Saqfia
Ramlah (ibu dari Abu Bakar bin Hasan)
Ummul Hassan
Binti Umrul qais
Ju'dah binti Asy'ath bin Qays
UmmuIshaq binti Talhah (ibu dari Talhah bin Hasan)

Imam Hasan Assibt memiliki 3 putri dan 13 putra yaitu:

1.       Fatimah (  Ibunda dari Al Imam Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin)
2.       Soleha
3.       Rogayyah
4.       Hasan Al Mutsanna
5.     Hamzah
6.       Aqiel
7.       Umar
8.       Qasim
9.       Abdullah
10.   Abdurrahman
11.   Zaid  bergelar al-Ablaj yang menurunkan para Syarif Makkah dan Dinasti Hasyimiyah Yordania sampai sekarang
12.   Ahmad
13.   Ismail
14.   Abdullah Asghor
15.   Hasan
16.   Husin

 Imam Hasan Al Mutsanna ini mempunyai putra :

1.       Hasan Al Mutsalist
2.       Abdullah Al Mahdi Al Kamil
3.       Muhammad ( datuk dari Al Imam Abu Hasan As Syadzili Al Hasani) dalam satu riwayat dari garis Ibu.
4.       Ibrahim Al Qhomri (datuk dari keluarga Taba'-taba'i/sebagian keluarga ini memakai Al Hasani termasuk yang ada di Indonesia.

Al Imam Abdullah Al Mahdi Al Kamil ini mempunyai putra :

1.       Sulaiman
2.       Muhammad
3.       Yahya
4.       Ibrahim
5.       Musa   bergelar Al Juni (datuk dari Al Anggawie. Serta keluarga Somalangu Kebumen dari As Syech Al Imam Al Qutb Abdul Kadir Jailani)
6.       Idris al Akbar yang menurunkan Ulama Maghrib (Maroko) diantaranya Asyaikh Abu Abdillah Abdussalam Bin Misyisy Al Maghrib Al Idrisy Alhasany Asyaikh Abil Hasan Asyadzili Alhasany. Dan al faqir silsilah Nasab sampai sini.
serta datuk dari As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid yang akan al faqir ulas dibawah

KABILAH DARI KETURUNAN IMAM AL HASAN

Yusuf bin Abid

As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid ini adalah murid langsung dan utama dari As Syech Al Imam Al Qutb Fakhr Wujud Syech Abubakar bin Salim sehingga didalam tawassul, kita menjumpai nama Beliau selalu disebut setelah nama As Syech Abubakar bin Salim.

Susun galur nama beliau adalah sbb : As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid bin Muhammad bin Umar bin Ibrahim bin Umar bin Isa bin Abi Wakil Maimun bin Isa bin Musa bin Azuz bin Abdul Aziz bin 'Allal bin Jabir bin 'Iyad bin Gasim bin Ahmad bin Muhammad bin Idris As tsani bin Idris bin Abdullah bin Al Imam Hasan Al Mutsana bin Sayyidina Hasan r.a.

As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid mempunyai 4 orang putra yaitu :

1.       Abi Wakil
2.       Muhammad
3.       Abdullah
4.     Umar

Umar, mempunyai seorang putra yaitu Abdullah. Dari keturunan As Syech As Syarief Abdullah bin Umar inilah keturunan As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid berpangkal/bermula. Jadi semua keturunan dari As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid yang ada saat ini melewati jalur As Syech As Syarief Abdullah bin Umar ini.

As Syech Abdullah bin Umar ini mempunyai 2 putra yaitu:
1.    Syech
Syech berputra Ibrahim, Ibrahim berputra Syech, Syech berputra Abdullah.

Abdullah mempunyai  2 putra yaitu :

a.         Masyhur, mempunyai 2 putra yaitu :
1.       Muhammad
2.       Abdullah, keturunan dari As Syech As Syarief Abdullah ini ada di Manado.

b.         Muhammad, berputra Husin. As Syech As Syarief Husin ini berputra 24 orang yaitu :
1.       Ibrahim (Surabaya) keturunannya di India&Surabaya.
2.       Alwi, (Gorontalo).
3.       Muchsin, keturunannya ada di Sewon dan Maryamah.
4.       Muhammad, (Gresik) keturunannya ada di Gresik.
5.       Ubaidillah, (Gorontalo).
6.       Abdurrahman, (Bangil) keturunannya ada di Surabaya,Gorontalo.
7.       Muhdhor, keturunannya di Manado.
8.       Alwi.
9.       Abubakar, (Maryamah).
10.   Umar, (Gorontalo).
11.   Ali, (Gorontalo).
12.   Sagaf, (Gorontalo).
13.   Zain, (Gorontalo).
14.   Hamid, (Gorontalo).
15.   Ahmad, (Gorontalo) keturunannya ada di Gorontalo, Gresik.
16.   Idrus, (Gorontalo).
17.   Ja'far, (Gorontalo).
18.   Abdullah, keturunannya di Gresik.
19.   Hasan, (Gorontalo).
20.   Syech, keturunannya ada di Gorontalo, Surabaya, dan Menado.
21.   Yusuf, (Sidoarjo) keturunannya ada di Sewon dan Gorontalo.
22.   Salim, keturunannya ada di Gorontalo.
23.   Hud, keturunannya ada di Gorontalo.
24.   Abdul Kadir, keturunannya ada di Gorontalo.

2.    Yusuf berputra Ibrahim

As Syech As Syarief Ibrahim ini mempunyai 3 putra yaitu :

a.         Masyhur, mempunyai 2 orang anak yaitu :
1.       Alwi, keturunannya ada di Sewon, Manado, Pasuruan dan Gorontalo.
2.       Muhammad, keturunannya ada di Pekalongan, Gorontalo, Labuhan Haji (Sumbawa), Taliwang (Sumbawa).
Kelompok ini dikeluarga Al Hasani memakai gelar Al Masyhur Al Hasani.

b.         Syech, (wafat di Pekalongan) mempunyai 2 putra yaitu :
1.       Thoha, keturunannya ada di Sumenep,Telangu, Kalianget (Madura).
2.       Abdul Qadir, keturunannya ada di Lumajang, Bangil, Surabaya dan Pasuruan.

c.          Hasan, mempunyai 2 putra yaitu :
1.       Ali, keturunannya ada di Pekalongan dan Kali wungu.
2.       Muhammad, keturunannya ada di Kendal dan Pekalongan.

Keturunan Yusuf bin Abid ini, satu-satunya family al-Hasani yang tercatat di Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah, hal itu disebabkan kakek mereka Yusuf bin Abid yang berasal dari kota Fez-Maghrib mengembara untuk menuntut ilmu ke berbagai kota di antaranya Tilmisan, Miknas hingga Hadramaut. Karena beliau datang ke Hadramaut, maka keturunan al-Hasani dari Yusuf bin Abid ini tercatat dalam kitab-kitab nasab Alawiyin yang berasal dari Hadramaut.

 Abu Numai

Keluarga Abu Numai dinisbahkan kepada Syarif Abu Numai al-Awal, yaitu : Muhammad bin Abi Saad al-Hasan bin Ali bin Qatadah bin Idris al-Hasani. Selain sebutan Abu Numai mereka juga diberi gelar al-Namawi. Di antara keturunan mereka adalah famili al-Anggawi, al-Anani, al-Nu’ari, dan lainnya.

Sedangkan dari keturunan Abu Numai al-Tsani, yaitu : Muhammad bin Barakat bin Muhammad bin Barakat bin al-Hasan bin Ajlan bin Rumaitsah bin Abi Numai al-Awal Muhammad bin Abi Saad al-Hasan bin Ali bin Qatadah bin Idris al-Hasani, menurunkan family al-Jawadi, al-Barakati, al-Sanbari, al-Mun’ami, dan lainnya.

Di antara qabilah Abu Numai al-Hasani yaitu leluhur almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya almarhum raja Faisal (raja Iraq), serta qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.

Al-Anggawi

Gelar al-Anggawi diberikan kepada keturunan Angga al-Namwi al-Hasani bin Wabir bin Athif bin Abi Daij bin Amir Makkah Muhammad Abu Numai bin Abi Saadbin Ali bin Qatadah al-Hasani. Beliau lahir tahun 852 hijriyah di Makkah, seorang yang hafal al-qur’an dan ahli ibadah. Beliau juga sering mengadakan perjalanan ke beberapa negeri di antaranya ke Mesir. Family al-Anggawi hidup tersebar diberbagai penjuru, antara lain di Mekkah, Madinah dan Mesir.

Di Mekkah terdapat keturunan dari :

1.       Keluarga Al-Anggawi Mekkah Mukaromah yang disebut dengan Saadah al-Anggawi,  mereka adalah keturunan syarif Muhammad bin Usman bin Husin bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.

2.       Keluarga al-Manashir (tinggal di desa Abi Urwah di Wadi Fathimah), mereka adalah keturunan dari syarif Idris bin Jarullah bin Hasan bin Jarullah bin Hasan bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.

3.       Keluarga Ali al-Anggawi (tinggal di desa Abi Urwah di Wadi Fathimah), mereka adalah keturunan dari syarif Ali bin Bahit bin Abi Da’ij bin Ahmad bin Muhammad bin Angga.

Di Madinah terdapat keturunan dari :

1.       Keluarga Basri al-Anggawi, dimana pertama kali yang datang dari kota Qana ke Madinah ini adalah empat orang, yaitu :

a.       Syarif Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Basri.
b.      Syarif Muhammad bin Baz bin Mahmud (dikenal dengan keluarga bin Baz).
c.       Syarif Ahmad bin Husin bin Usman bin Hasan bin Muhammad bin Ali bin Basri.
d.      syarif Muhammad Dimroni bin Hamdan bin Muhammad al-Zayyad bin Ali bin Abdurrahim bin Muhammad bin Ali bin Basri (keturunannya terputus).

2.       Keluarga Murod al-Anggawi, mereka adalah syarif  Murod bin Abdul Muhsin bin Zhofir bin Mahdi bin Muhammad bin Angga (keturunanya juga disebut al-Muhsin al-Anggawi).

3.       Keluarga al-Madini al-Anggawi, mereka adalah Husin al-Madini bin Muhammad bin Husin bin Hasan Unaibah bin Hasan bin Musa bin Jadullah bin Barakat bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga.

Di Mesir terdapat keturunan dari :

1.       Keluarga Hasan bin Basat bin Angga :

a.       Syarif Mubarak bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (keluarga Mubarak & keluarga Syarifah)

b.      Syarif Basat bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga terdiri dari dua keluarga yaitu : pertama : keluarga Muhammad bin Basat (Keluarga Musaat, keluarga Mu’ajab dan keluarga) al-Jadawi) dan kedua : keluarga Ahmad bin Basat (keluarga al-Walid dan keluarga al-Dali).

c.       Syarif Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga, terdiri dari :

1)      keluarga Ismail sayidi bin Hamad bin Umar bin Muhammad bin Mubarak (al-mustofa sayidi, al-Ahmad sayidi, al-Abu Asba’ dan al-Katkat)

2)      keluarga Siraj bin Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (al-Sarkawi, al-Hifni, al-Dandarirawi dan al-Basat albaih).

3)      keluarga Barakat bin Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (keluarga Dakhilullah, al-Unaibah, al-Ghosimah)

4)      keluarga Ahmad bin Abibakar bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (al-Hasanain, al-Afandi, al-balbash, alu Syaikh)

5)      keluarga Basri bin Abubakar bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga, terdiri dari tiga keluarga :

(1) Ahmad bin Umar bin Basri (al-Kholawi, aal Mahmud basri, aal Ahmad Basri, aal Umar bin Ahmad Basri),

(2) Hamad bi Umar bin Basri (al-Ahmad, aal Abdul Kadir, aal Ahmad Umar Basri, al-La’abah, al-Aruj, al-Fawal, al-Abyadh),

(3) Ali bin Basri (al-Zayat, al-Angga, aal Abu Zaid, aal Mahmud Hasan Basri, aal Usman Hasan Basri, aal Umar Hasan Basri).

2.       keluarga Abdullah bin Hissan bin Muhammad bin Hissan bin Khonfar bin Wabir bin Muhammad bin Angga (al Kolali, al Abdullah, al balasy).

3.       keluarga Murod bin Abdul Muhsin bin Zhofir binMahdi bin Muhammad bin Angga aal Murod dan al Muhsin).

Ø Al-Qadiri

Keluarga al-Qadiri banyak tersebar di sebagian negeri-negeri Islam seperti Irak dan Syria. Begitu juga, mereka banyak terdapat di negeri-negeri Maghrib.

Penamaan al-Qadiri, dikarenakan mereka adalah keturunan dari al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin  Abdul Qadir Jailani bin Abi Soleh Musa bin Abdullah bi Yahya az-Zahid bin Muhammad bin daud bin Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan sibt Rasulillah saw.
Gelar al-Qadiri di ambil dari kata ‘Qadir’ yang merupakan salah satu asmaul husna yang mempunya arti “Yang Maha Kuat”.

 Al-Jailani

Penamaan al-Jailani, dikarenakan mereka adalah keturunan dari al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin  Abdul Qadir Jailani bin Abi Soleh Musa bin Abdullah bi Yahya az-Zahid bin Muhammad bin daud bin Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan sibt Rasulillah saw.

Gelar al-Jailani di ambil dari kata ‘Jailani’ yang merupakan tempat kelahiran Syekh Abdul Qadir jailani. Beliau lahir pada tahun 490/471 H dan wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.

 Al-Qudsi

Al-Qudsi adalah suatu keluarga yang berasal dari Hallab (Aleppo) Syria. Silsilah keturunan al-Qudsi menyambung kepada al-Quthub al-Jalil al- Syaikh Abi Abdillah al-Husein yang dikenal dengan al-Qudhoib alban al-Maushuli, di mana nasabnya bersambung kepada al-Ridha bin Musa al-Juun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsannan bin Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Di samping itu, keluarga al-Qudsi ada juga yang bersambung silsilahnya kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Salah satu keluarga al-Qudsi ini adalah Sayid Abdurrazak al-Qudsi, di mana silsilahnya bersambung kepada Musa al-Kadzim bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husein ra.

 Al-Maghribi

Keluarga al-Maghribi banyak ditemukan di kota Tarables. Silsilah keluarga al-Magribi menyambung kepada sayid Muhammad Darghust al-Hasani al-Idrisi yang tinggal di kota Darghust Tunis. Kakek mereka yang pertama syekh Ahmad al-Maghribi al-Hasani bin Muhammad (mufti Tunis) bin Umar bin Muhammad, di mana keturunannya banyak tinggal di Tarables Syria.

Di kota Beirut dapat ditemukan pula keluarga al-Maghribi yang silsilahya bersambung kepada Idris al-Tsani bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

 Az-Zawawi

Az-Zawawi adalah keluarga asyraaf al-Idrisiyah, nasabnya bersambung kepada Maula Idris bin Idris bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Keluarga ini berasal dari negeri Maghrib yang kemudian hijrah ke Makkah al-Mukarromah dan beberapa wilayah teluk Arab. Dalam catatan kecil yang kami miliki yang pertama kali disebut Az-Zawawi adalah Abdullah bin Hasan bin Sulaiman Az-Zawawi.

Di antara ulama mereka yang terenal adalah Abdullah bin Muhammad Soleh Az-Zawawi seorang mufti Syafiiyah di Mekkah. Guru-guru beliau adalah Syekh Muhammad Yusuf al-Khayyat. Adapun murid-murid beliau adalah sayid hasan Kutbi dan anaknya Abdurrahman Az-Zawawi, syekh Muhammad Turki seorang guru di Masjidil Haram. Aayid Abdullah bin Muhammad soleh Az-Zawwi banyak melakukan perjalanan ke India, Indonesia, Cina dan Jepang.

Ulama dari keluarga Az-zawawi yang lain adalah Soleh bin Abdurrahman bin Abubakar bin Abdurrahman bin Ahmad Az-Zawawi al-Hasani. Guru-guru beliau di antaranya sayid Muhammad Sanusi al-Maki, syekh Ahmad Dalhan al-Hanafi, syekh Muhammad bin Khidir al-Basri, syekh Muhammad bin Nasir al-Husaini al-Yamani al-Syafii, syekh Abdul Kadir bn Mustafa al-Asyraqi. Beliau juga banyak melakukan perjalanan ke Yaman. Di Makkah, beliau menjadi mufti Syafiiyah..

Demikian lah sedikit marga dari keturunan Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib. Walaupun begitu kebanyakan para Dzuriyah Sayidina Hasan menyembunyikan diri (mastur) dan tidak mengutamakan gelar serta Nasab. Kebanyakan hanya pakai satu gelar yaitu Alhasany dan ada yang dgn gelar lain di tambah Alhasany dibelakang nya.

Al-Fatihah....

Silsilah Emas Nasab Bhuju' Perreng (Saudara kiai Hasan Bhuju' Gledek):

Silsilah Emas Nasab Bhuju' Perreng (Saudara kiai Hasan Bhuju' Gledek):
==========
1 sunan giri
2 sunan kulon
3 sultan iskandar
4 kiai pesisir
5 kiai gumbhing nung
   gunung
6 kiai tokotoh
7 kiai tokang
8 kiai shobahul khoir juk
    perreng saudara kiai
    hasan juk gledek

Alias:
1 sunan giri
2 sunan kulon
3 tep mantoh
4 Abdullah Pgrn plakaran
5 Abdurrohman juk
    gumbing
6 Abdullah juk tokang
7 jakfar shodik juk
    tokotoh
8 shobahul khoir juk
    perreng saudara juk
     gledek kiai hasan

Sedang Juk perreng berputra 9:

1 juk yahya
2 bujuk syamsuddin
3 bujuk kekes
4 juk geruh
5 sayyid abbas
   jungkarang jrengik
6 juk tebbenah
7 juk qomaruddin
8 juk montor
9 nyai ummu salamah

Rabu, 14 Maret 2018

*SEJARAH SINGKAT WALI ZAINAB DI BAWEAN*

*SEJARAH SINGKAT WALI  ZAINAB DI BAWEAN*
Copas:
Pada masa kecilnya Waliyah Zainab bernama Dewi Wardah, putri Sunan Bungkul, salah seorang Pembesar Kota Surabaya keturunan Raja Majapahit. Dewi Wardah dinikahi oleh Raden Paku, tetapi Raden Paku sudah lebih dulu menikahi Dewi Murtasiyah puteri dari Sunan ampel. Karena Dewi Wardah tidak ingin di madu, maka beliau pergi berlayar ke arah utara dengan menaiki “ Sentong ” atau kelopak bunga kelapa. Maka sampailah beliau di sebuah pulau disebelah utara laut Jawa yang kita kenal dengan Pulau Bawean. Konon beliau mendarat tepat di pesisir pantai Desa Komalasa, dan kemudian beliau mengganti namanya dengan Siti Zainab. Kedatangan Siti Zainab di sambut dengan tidak sepenuh hati oleh masyarakat setempat. Karena beliau dianggap wanita yang bepergian seorang diri dan mengenakan pakaian compang - camping. Pada saat itu segenap masyarakat Komalasa sedang dilanda wabah penyakit kulit yang banyak menjangkit para masyarakat Komalasa. Kedatangan Waliyah Zainab di pesisir pantai Komalasa di ketahui sejumlah masyarakat setempat, melihat penampilah Siti Zainab yang compang - camping, masyarakat Komalasa beranggapan bahwa beliau lah yang membawa penyakit kulit tersebut.
Maka masyarakat Komalasa dengan ramai - ramai megusir beliau untuk pergi dari Komalasa, lalu Waliyah Zainab segera pergi dengan hati yang sedih ke atas pegunungan untuk bersembunyi, dengan hatinya yang sedih beliau pergi meninggalkan Desa Komalasa karena beliau merasa “ tak etangghek” oleh masyarakat Komalasa. Dengan menyusuri pegunungan, ngarai, sawah dan sungai akhirnya beliau beristirahat sejenak di dusun Pedalaman atau “ Padhelemman ” ( Lebak ). Waliyah Zainab terus berjalan kearah timur mencari air untuk di minum karena beliau sangat haus, tapi yang menyakitkan ketika beliau sampai di dusun Sungairaya beliau meminta air minum, namun tak ada yang sudi untuk memberinya. Karena beliau merasa marah, beliau berkata dalam hatinya “ mudah - mudahan orang Sungairaya juga kehausan ” dan mungkin itulah sebabnya pada sampai saat sekarang tidak ada sumber mata air. Walaupun beliau sudah dalam keadaan lunglai, tapi beliau tetap melanjutkan perjalanannya dengan membawa barang – barang pusakanya. Waliyah Zainab terus berjalan tak menentu kemana arah tujuanya, sawah, sungai, ladang, padang rumput, dan pegunungan pun juga beliau lalui, maka sampailah beliau di sebuah pesisir pantai di daerah Tambak Timur. Disana beliau menemukan sebuah rumah yang di huni sebuah keluarga sepuh suami istri. Karena Waliyah Zainab sudak tidak kuat lagi menahan rasa haus, maka beliau meminta air minum kepada salah seorang penghuninya yaitu Emba Buuk. Akhirnya Emba Buuk memberi air minum dan Emba Buuk juga menawari beliau untuk bermalam dan beristirahat di rumahnya. Akan tetapi Waliyah Zainab menolak penawaran Emba Buuk dan memilih melajutkan perjalanannya, konon setelah Emba Buuk di tinggal Waliyah Zainab, harta yang di miliki Emba Buuk semakin bertambah dan sehingga Emba Buuk terkenal sebagai orang yang sangat kaya di kalangan masyarakat Tambak. Waliyah Zainab melajutkan perjalanannya menuju kearah timur, Kini beliau sampai di sebuah tanjung desa Diponggo, beliau bingung sebab jika beliau meneruskan perjalanannya maka beliau harus mengarungi lautan lagi, maka akhirnya beliau memilih untuk mengadukan nasibnya di tanjung tersebut dengan menagis sejadi - jadinya, akhrirnya tanjung tersebut di namakan Tanjung Menagis. Pada suatu hari Waliyah Zainab bermaksud ingin mencari sesuap nasi ke perkampungan namun beliau tidak berani karena takut akan disambut dengan lebih menyakitkan hatinya, maka beliau hanya mondar - mandir di tumbuhan perdu.
Tiba - tiba disebuah lereng gunung Diponggo beliau bertemu dengan Embah Rambut (Dikatakan Embah Rambut karena rambutnya sangat panjang). Waliyah Zainab berkenalan dengan Embah Rambut, Embah Rambut menawarkan beliau untuk bermalam dan tinggal di rumahnya, Diponggo. Akhirnya Waliyah Zainab menerima permintaan Embah Rambut dengan senag hati, atas jasa Embah Rambut lah Waliyah Zainab mulai bergaul dengan masyarakat setempat. Ternyata Desa Diponggo benar - benar menjadi tempat terakhir sebagai persinggahan beliau.
Waliyah Zainab atau Dewi Wardah istri kedua Sunan Giri wafat dan di kubur di Desa Diponggo, bukan yang ada di Giri, Gresik. Dalam sebuah riwayat Waliyah Zainab atau Dewi Wardah yang masih tertulis di daun lontar yang berbahasa Arab – Pegon di Museum Sultan Hasanuddin, Baten, Jawa Barat. Pada daun lontar tersebut di ceritakan kehidupan Dewi Wardah yang akhirnya wafat dan di kuburkan di Desa Diponggo, Bawean, yang tidak lain adalah Waliyah Zainab yang kini makamnya terletak di belakang Masjid Diponggo. Wallahu a’ lam bissawaab !!! Al-Fatihah...

AMALAN/ DO'A AGAR DIANUGERAHI KASIH SAYANG/ KECINTAAN/ KEHARMONISAN DI RUMAH BESERTA KELUARGA & BERKECUKUPAN/ DILAPANGKAN RIZQINYA HINGGA KE TETANGGA-TETANGGANYA*

*AMALAN/ DO'A AGAR DIANUGERAHI KASIH SAYANG/ KECINTAAN/ KEHARMONISAN DI RUMAH BESERTA KELUARGA & BERKECUKUPAN/ DILAPANGKAN RIZQINYA HINGGA KE TETANGGA-TETANGGANYA*

قال الحبيب أحمد بن حسن العطاس رضي الله عنه :

ينبغي لكل من أراد الدخول إلى بيت أن يسلم فيقول :

السلام علينا من ربنا تحية من عند الله مباركة طيبة، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ثم يقرأ آية الكرسي وسورة الإخلاص

فإن من واظب على ذلك جعل الله له ألفة بينه وبين أهل ذلك البيت، ووسع الله عليه وعلى جيرانه.

تذكير الناس ١٤٠
============
Artinya:
Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthoos R.A telah Berkata/ Berpesan:

*Dianjurkan/ Seyogyanya bagi tiap orang yang ingin masuk ke dalam rumah untuk mengucapkan salam, kemudian membaca* :

_Assalaamu 'alainaa min robbinaa tahiyyatan min indillaah mubaarokatan thoyyibah_

_Assalaamu 'alaika ayyuhan_Nabiyyu wa rohmatulloohi wa barokaatuh_
_Assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahis shoolihin_

_Kemudian membaca Ayatul_Kursy dan surat Al-Ikhlaash (Qul huwalloohu ahad)_

*Maka sesungguhnya orang yang terus mengerjakan amalan tersebut, niscaya Alloh akan menjadikan kasih sayang/keharmonisan/kecintaan antara diri orang tersebut beserta keluarganya di rumah (yang dimasukinya) itu dan Alloh akan memperluas (rezekinya) atasnya dan juga (rezeki) atas tetangga-tetangganya.*

*Disadur dari kitab Tadzkirun Naas hal. 140*

Semoga Bermanfa'at..Mari kita hadiahkan Al-Fatihah dikhususkan kpd Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthoos R.A  Wa Ila Hadlrotin_Nabi SAW Wa Alihi Wa Shohbihi Wa Dzurriyyatihi Wa Atba'ihi Ila Yawmid_din..Al-Fatihah...

Diskusi Tentang Kanjeng Sunan Cendana

Diskusi Tentang Kanjeng Sunan Cendana:

~~oO(( MISTERI GELAR SUNAN CENDANA, PENAKLUKAN BLAMBABGAN DAN PERTEMUAN DENGAN RAJA MADURA BARAT ))Oo~~

Diskusi panjang tentang gelar Sunan Cendana sebagai senopati Mataram, Penaklukan Blambangan dan pertemuan dengan raja Madura Barat pembebasan pajak untuk anak cucunya penuh dengan misteri untuk dibahas.

Adapun bahan untuk diskusi adalah sebagai berikut:

[13/3 14.42] Musawwir Kwy: Kalau bebas pajak, bisa bisa kabupaten ini bangkalan ini bangkrut. Karna bani cendana ini jutaan jumlahnya. 😀😀😀😀😀😀😀
[13/3 14.51] Ra Hamid Pasuruan: 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻cocok sarah
[13/3 14.54] R Hannan Sendang: Hhhhh 🤦‍♂
[13/3 15.04] Ra Hamid Pasuruan: *Berlaku Sampai Qiyamat*
[13/3 15.08] Ra Hamid Pasuruan: DPR RI Dapil Bangkalan bisa angkat ini hingga mjd UU Khusus👌🏻👍🏻🙏🏻
[13/3 15.20] R Hannan Sendang: Nanti tak coba ke DPD RI...hhhhhh
[13/3 16.13] RB Farhan: Mungkin yg lbh tepat Cakraningrat, bukannya Cakraadiningrat.

Sebutan kakang itu perlu dipertanyakan, karena kalau Cakraningrat I dari pihak isterinya, mestinya manggil mbah..
[13/3 17.11] R Hannan Sendang: Tapi itu tertulis begitu adanya hee
[13/3 17.14] R Hannan Sendang: Dilembaran lain..disebutkan ...panembahan memanggil dg kakang senopati pranajaya...
Dan di dialog kadang kakang cendana...dan kakang syech cendana
[13/3 17.19] RB Farhan: Enggi... namun tulisan ini masuk sejarah fiksi. kecuali yg menulis tersebut menyaksikan langsung dialog tsb.. tulisan itu juga dimungkinkan tdk ditulis ahlinya, tahun 1044 itu jika dikonversi ke masehi masih di masa Cakraningrat I. keratonnya di Madegan. kalau tonjung sekar itu di masa CN II
[13/3 18.15] R Hannan Sendang: Menarik di bahas
[13/3 18.17] Ilzam Bindereh: Tahun 1634
[13/3 18.23] RB Farhan: bisa sebelumnya... intinya tetap di masa awal Cakraningrat I
[13/3 18.42] R Hannan Sendang: Menarik den bagus yudha...
Tapi disini...juga diceritakan....
Bertemu dg p kabu2 di surabaya...setelah itu...diangkat senopati...dari gelar sebelumnya pranapati mnjadi pranajaya...stelah menyelesaikan tugas....
Stelah itu...ke sampang ke pamannya p khotib...
Selang bbrp lama..memutuskan hijrah ke kwanyar.
Saat terdengar senopati ini hijrah ke kwanyar...p. cakraadiningrat segera mengunjungi....bersama putranya...
Hari itu hari jumat awal puasa....dst
[13/3 18.44] R Hannan Sendang: Tulisan ini salinan dari tulisan yg lebih tua...
Saya ambil yg ini...krn persis...dan yg tua..kertasnya..butuh kehati2hatian
[13/3 19.08] Faishol Baidowi: Sejarawan ada yg menyebutkan bhw Cakraningrat 1 dn 2 berkeraton di madegan, cakraningrat 3 di tonjung sekar, cakraningrat 4 di sembilangan
[13/3 19.13] Yahya Basafari: Yg saya dengar sejak kecil memang *pronojoyo* tapi di group ini kok selalu menyebut _purnojoyo_ yg benar yg mana?
[13/3 19.19] R Hannan Sendang: Di kami...pranajaya/pronojoyo
[13/3 19.21] Musawwir Kwy: pronojoyo / pronopati. Yang benar.

kalau purnojoyo takutnya di pelintir jadi PORNO JOYO.
[13/3 19.22] saiba albangkalani: Itu hanya perbedaan ejaan/ logat jawa dan madura. Cobtoh:
Sumenep: Salebbar Pamekasan Spg: Slebbher
Bkl: Lebbher
[13/3 19.26] Yahya Basafari: Pronojoyo: فراناجايا
Purnojoyo: فرناجايا
Yg mana tulisan di manuskrip yg benar?
[13/3 19.31] Musawwir Kwy: makanya yg betul Pronojoyo. 👍👍
[13/3 19.47] saiba albangkalani: Kata *"Purna/ Purno"*  berarti *"Selesai, penuh"*
Contoh:
Purnatugas
Purnawirawan

Merujuk pada pengertian selesai tugas, selesai bakti.

Dengan demikian purnajaya/ purnojoyo/ pronojoyo merujuk pada satu arti: *"Selesai tugas dengan sempurna/ jaya/ gemilang "*
[13/3 19.51] Ilzam Bindereh: kalo di catatan kanjeng zinal ditulis Purnojiwo
[13/3 19.51] saiba albangkalani: Purnomo tidak ditulis Pronomo

Purnawirawan tidak ditulis Pronowirawan

Purna Bakti tidak ditulis Prono Bakti

Purna Siswa tidak ditulis Prono Siswa

dst...
[13/3 19.54] saiba albangkalani: Purna itu kalau ejaan/ tulisan jawa adalah *"Purno"*
[13/3 19.55] saiba albangkalani: Saya agak kesulitan :
Coba tulis/ translate dalam bahasa jawa:

*"Dua Duanya Sakit"*
[13/3 19.59] saiba albangkalani: Dalam perspektif sejarah, Sunan Cendana menetap di Madura *"Setelah"* selesai mengemban tugas negara memadamkan pembrontakan. Maka wajar beliau itu dikenal dengan sebutan awalan  *"Purna/ Purno/ Prono"*menyelesaikan tugas dg sempurna

Dalam istilah militer dikenal dengan istilah Purnawirawan

Dalam istilah umum Purna Bakti
[13/3 20.05] RB Farhan: Sama saja. Pruna itu dibaca Purna.

Di Sampang, ejaan kuna menulis R. Adipati Pramono, tapi dibaca Permono.

Nama-nama gelar seperti Prawiro itu ketika dilafalkan menjadi Perwiro atau Perwira, atau Parbira kata lidah Madura
[13/3 20.07] R Hannan Sendang: Hiluk rame tantretan
[13/3 20.07] Faishol Baidowi: Kampanye terhadap Blambangan oleh sultan agung mataram dimulai thn 1636 dn kampanye tsb berhasil yakni blambangan dpt ditaklukkan pd tahun 1640 M....
[13/3 20.08] saiba albangkalani: Siapa yg menaklukkan...
[13/3 20.08] RB Farhan: Saya... Hi hi..
[13/3 20.09] Faishol Baidowi: Menaklukkan apa yek?
[13/3 20.11] Faishol Baidowi: Pimpinan ekspedisi pangeran Slaron putra R. Mas jolang dgn Ratu tulungayu
[13/3 20.11] saiba albangkalani: Posiai Juk Cendana...?
[13/3 20.12] RB Farhan: Tunggu, tak tanyakan dulu...
[13/3 20.15] Faishol Baidowi: Lha ya itu kak klo 1634 diceritakan sdh selesai ekspedisi ke blambangan itu bagaimana? Krn ekspedisi dimulai 1636 s/d 1640 M....sehingga perlu dianalisa
[13/3 22.38] ‪+62 877-5090-6054‬: Benar cakraningrat 1.2.di madegen 3 di tonjung 4.di dambilengan 5.6. Di tonjung 7.8. Di kota bangkalan
[14/3 05.04] Ilzam Bindereh: menurut analisa saya, Penugasan pemadaman pemberontakan di blambangan itu terjadi saat pemerintahan amangkurat I (1646 - 1977) krn ketidak puasan terhadap kepemimpinan amangkurat I.... pada tahun itu, di madura barat dipimpin oleh siapa ?
[14/3 07.09] Ilzam Bindereh: cakranibgrat II itu th 1670 an
[14/3 07.11] saiba albangkalani: Tahun pemerintahan/ tahta
[14/3 07.35] saiba albangkalani: Ini dialog saya dengan Dr. Masduki UTM, Pakar Bahasa dan penyusun kamus bhs jawa:

[13/3 20.03] saiba albangkalani: Tanya kak:
Penulisan *"Purna"**"Jaya/ Jiwa"*/  *"Purnajaya"* dalam bahasa jawa itu gimana?
Apa maknanya
[13/3 20.04] saiba albangkalani: Ini mana yang benar:
*"Purnojoyo"* atau *"Pronojoyo"*
[13/3 20.05] saiba albangkalani: Apa artinya...
[13/3 20.15] Masduki Dr UTM: Dalam bahasa jawa nulis nya Purnaraja tapi membaca nya Purnorojo
[13/3 20.15] Masduki Dr UTM: Artinya Raja yang paling akhir,  atau Raja yang betul betul sempurna,  selesai,  tuntas,  terakhir
[13/3 20.16] saiba albangkalani: Purno itu apa maknanya dlm bhs jawa..
[13/3 20.18] Masduki Dr UTM: Purno itu cara membaca nya Bos,  tapi tulisan yang bener Purna,  arti nya selesai,  tuntas,  rampung,
[13/3 20.19] Masduki Dr UTM: Kalau pronojoyo itu di Jawa adalah nama Pangeran,  yaitu Pangeran Pranajaya,
[13/3 20.19] Masduki Dr UTM: Tulisan nya Pranajaya,  membaca nya pronojoyo
[13/3 20.19] saiba albangkalani: Sakalangkong kak Doktor Kumis...
[13/3 20.20] Masduki Dr UTM: Kamus bahasa Jawa itu yang nulis aku 😀😀😀
[13/3 20.21] saiba albangkalani: Berarti yg benar:
*'Purnojoyo"*
atau
*"Pronojoyo"*
[13/3 20.22] Masduki Dr UTM: Kalau Pangeran,  ya Pangeran Pranajaya... Tapi kalau sekadar nama orang,  bisa saja namanya Purnajaya 😀😀 misal nya Syaiful Purnajaya
[13/3 20.30] Masduki Dr UTM: Iya Bos.. Senapati Mataram dengan sebutan Senapati Pamungkas,  dan itu artinya sama denga Pangeran Pranajaya  😀
[13/3 20.34] saiba albangkalani: Ooo gitu ya...
[13/3 20.34] saiba albangkalani: Sakalangkong yeh kak....
[14/3 08.16] Zacky Muhsen Tokolong: Penaklukan blambangan di lakukan pada masa mas rangsang
[14/3 08.19] saiba albangkalani: Sultan Agung..
[14/3 08.19] Ilzam Bindereh: kalo di layang toronan disebut kyai cendana bertemu kyai kabu3 dan kyai bungso yg ketiganya sepupuan dan bersama2 ke panarukan
[14/3 08.20] Ilzam Bindereh: penaklukannnya memanh saat zaman sultan agung... tp ketika amangkurat memimpin, kondisi sosial politik menjadi kacau dan terjadi pemberontakan dimana mana, termasuk di blambangan
[14/3 08.21] saiba albangkalani: Pembebasan Madura oleh sultan agung 1624
[14/3 08.21] R Hannan Sendang: Pertemuan itu di surabaya...
[14/3 08.22] Ilzam Bindereh: itu pembebasannya....setelah blambangan takluk, maka pada zaman amngkurat I, memberontak
[14/3 08.38] R Hannan Sendang: Buetul...
[14/3 08.39] R Hannan Sendang: Disini ada layang toronan juga ada layang piagam
[14/3 08.39] R Hannan Sendang: Dan layang wasiyat
[14/3 08.53] saiba albangkalani: ANALISA TAHUN HIDUP SENOPATI PRONOJOYO

- Sultan Agung nenaklukkan Blambangan, salah satu Senopatinya bernama *"Pronojoyo"*
- Setelah penaklukan Blambangan, Pronojoyo menemui pamannya Khotib Mantoh di Pamekasan selanjutnya madeg pandito di Kwanyar.
- Pembebasan Madura oleh Sultan Agung tahun 1624, berarti zaman Pangeran Tengah-P. Mas. Prasena/ CN I masih kecil dibawa ke Mataram diasuh Sultan Agung. Pemerintahan di Madura dilaksanakan Demang Mlaya (Ayah Trunojoyo)

- CN I dan Demang Mlaya gugur 1656 saat pemberontakan Pangeran Alit, keduanya dimakamkan di Imogiri

- Pemerintahan Madura beralih kepada CN II

KESIMPULAN:
1. Senopati Pronojoyo saat muda hidup di zaman STA
2. Senopati Pronojoyo hidup zaman Cakraningrat I usia sudah madeg pandito berdiam di Kwanyar
3. Kemungkinan Senopati Pronojoyo hidup zaman CN II tapi sudah sangat uzur atau bahkan sudah wafat

Kaator diskusi epon...
[14/3 08.55] Ilzam Bindereh: sunan cendana yg menjadi senopati bukan saat sultan agung menaklukkan blambangan, tapi saat terjadi pemberontakan di blambangan.... (beda antara perang penaklukan dengan perang memadamkan pemberontakan)
[14/3 08.57] ‪+62 877-5090-6054‬: Pemimpin perlawanan madura trunojoyo karna amenkurat 1 anteknya belanda
[14/3 09.00] Ilzam Bindereh: dalam manuskrip itu ditulis memadamkan kerusuhan atau pemberontakan blambangan.... bukan menaklukkan blambangan
[14/3 09.03] Zacky Muhsen Tokolong: Iya bujuk cendana di utus untuk memadamkan pemberontakan..
Klo penaklukan blambangan di zaman mas rangsang
[14/3 09.17] Ilzam Bindereh: berarti pemberontakan blambangan itu kisaran th 1646 - 1977... kira2 tahun itu di madura barat siapa rajanya ?
[14/3 09.19] Ilzam Bindereh: cakraningrat II memerintah th 1680 - 1707 M
[14/3 09.32] RB Farhan: Awal pemerintahan Cakraningrat II itu 1648. Bukan 1680
[14/3 09.33] Zacky Muhsen Tokolong: Yang jadi patokan adalah pertemuan sunan cendana terjadi pada tahun 1044 H ini baru di konversi ke masehi pada masa siapa?
[14/3 09.34] RB Farhan: Cek di penaklukan, tak ada nama Sunan Cendana sbg pemimpin pemadaman, jd jgn langsung menyimpulkan itu peristiwa pemadaman..
[14/3 09.35] Zacky Muhsen Tokolong: Pada saat penaklukan blambangan sunan cendana bukan senopati Mataram
[14/3 09.36] RB Farhan: Coba konversi secara pas, karena hanya perkiraan saja mengenai tahun 1634 itu. Bisa jadi kalau dikoversi secara benar itu sebelum 1634
[14/3 09.37] Zacky Muhsen Tokolong: Tapi pada saat pemberontakan blambangan sunan cendana senopati Mataram. Sejarah mencatat pemberontakan besar besaran terjadi pada masa amangkurat 1 raja Mataram pengganti mas rangsang
[14/3 09.37] RB Farhan: Kalau mau merujuk ke manuskrip itu jgn sepotong-sepotong, masalah pemadaman atau penaklukan itu bukan rujukan utama... Karena di situ dicantumkan tahun. Apa mesti dimentahkan salah satunya? Berarti kalau begitu ya main-main namanya
[14/3 09.38] Zacky Muhsen Tokolong: Kerajaan kerajaan yang pernah di Tak luk kan oleh mas rangsang banyak yang memberontak termasuk blambangan
[14/3 09.40] Nurkholis Wa Morombuh: 1044 H itu sdh pas 1634 M paling bergesernya satu tahun saja ke atas atau kebawah .
[14/3 09.40] RB Farhan: Ya gak pas namanya
[14/3 09.44] RB Farhan: Ini manuskrip siapa yg nulis ya? Dan tahun berapa?

Seperti yg pernah saya katakan Gelar Cakraadiningrat itu baru dipakai sejak Sidomukti dan setelahnya.

Sebelum itu sejak Prasena dan R. Jurit, gelarnya Cakraningrat. Jadi soal nama saja ada akar sejarahnya. Bukan sekadar ngutip.

Jadi kalau ada kesalahan penulisan seperti ini bisa jadi memang penulisnya kurang paham, dan ditulis di masa gelar Cakraadiningrat (pakai Adi) populer
[14/3 09.45] Nurkholis Wa Morombuh: Kl ingin pas banget cari kalender th 1044 M lihat th masehinya , mgkn cetakan menara kudus masih ada th itu. 😁
[14/3 09.46] RB Farhan: Ya, silakan cari sendiri
[14/3 09.48] RB Farhan: Kan jelas, CN I-IV itu, Cakraningrat

Baru Sidomukti ditambah Adi

Masa pemerintahan CN II itu juga jelas, sejak 1648, bukan 1680
[14/3 09.52] Zacky Muhsen Tokolong: Pertemuan sunan terjadi bulan romadhon tahun 1044
[14/3 09.54] Zacky Muhsen Tokolong: 1635 masehi
[14/3 09.54] Ilzam Bindereh: setiap 30 th, selisih 1 th antara hijriyah dan masehi
[14/3 09.54] Zacky Muhsen Tokolong: Ini masa pemerintahan siapa
[14/3 09.55] RB Farhan: Wadduh, tak paham-paham sampeyan bang... Hi hi..
[14/3 09.55] RB Farhan: Coba ini hafalkan dulu
[14/3 09.55] Ilzam Bindereh: kali 1635 itu msh masanya sultan agung...
[14/3 09.55] RB Farhan: Nah, coba hitung
[14/3 09.56] Zacky Muhsen Tokolong: Tangga 1 hari senin bulan romadhon tahun 1044 H.. Ini cocok pasar dengan digital falak
[14/3 09.56] Ilzam Bindereh: 👆falaq sidogiri sdh pas
[14/3 09.56] Zacky Muhsen Tokolong: Iya pas
[14/3 09.56] Zacky Muhsen Tokolong: Hari senin tanggal 1
[14/3 09.57] Nurkholis Wa Morombuh: Di Manuskripnya hari apa ?
[14/3 09.58] Zacky Muhsen Tokolong: Senin
[14/3 09.58] RB Farhan: Nah, kalau sdh pas, berarti tak cocok dg penaklukan yg di sejarah Mataram tahun 1640-an kejadiannya
[14/3 09.59] Zacky Muhsen Tokolong: Eeee malam jumat 😁😁😁
[14/3 09.59] RB Farhan: Nah, berarti tak pas
[14/3 09.59] Nurkholis Wa Morombuh: Le jeh berarti bennyak keng dungngeng manuskripnya 😁😁😁
[14/3 10.00] Ilzam Bindereh: manuskrip dgn tulisan arab itu populer tahun 1800 ke atas... sebelum itu msh huruf honocoroko....
[14/3 10.01] Ilzam Bindereh: perlu di cari data pembanding, bisa berupa manuskrip yg lbh kuna, yg mendekati tahun kehidupan buju' cendana
[14/3 10.01] Ilzam Bindereh: Gik enyareaginah ka leiden belanda....
[14/3 10.02] RB Farhan: Bang @Zacky Muhsen Tokolong , tolong 3 Rajab 1270 dikonversikan pakai yg Sidogiri itu masehinya ketemu th berapa?
[14/3 10.02] RB Farhan: Berarti memang ditulis bukan ahlinya... 👍👍👍
[14/3 10.09] R Hannan Sendang: Itu tulisan salinan eyang... menyalin dari kitab yg lebih tua...
[14/3 10.09] RB Farhan: Berarti tahunnya pas... Tapi tgl dan bulannya yg mungkin tak pas
[14/3 10.11] R Hannan Sendang: Saya cicit dari penyalin itu...saya beritahu apa adanya.... aslinya saya lebih condong ke cakraningrat.. tapi bukti itu juga tertulis di piagam....
Saya tdk kurangi juga tdk lebihkan
[14/3 10.11] RB Farhan: Maaf saya tak menyalahkan penyalinnya... 🙏
[14/3 10.12] RB Farhan: Penyalin dan penulis itu beda
[14/3 10.14] RB Farhan: Intinya, kita mengacu pada tahun saja, yaitu 1044 H. Jadi mengenai siapa penguasa Mataram dan Madura waktu itu sdh jelas, tanpa harus dibahas lagi
[14/3 10.15] Zacky Muhsen Tokolong: Iya essiippp
[14/3 10.15] RB Farhan: Konversi tahun masehinya jg sdh ketemu, 1635. Berarti sebelum penaklukan Blambangan tahun 1640-an
[14/3 10.18] R Hannan Sendang: Siiippp...itu jln tengah...
Bisa saja penulis yg sabqul qolam...bisa juga pihak sejarah keraton dan belanda yg salah
Bisa saja ada dua gelar cakraningrat dan cakraadiningrat...
Bisa cakraningrat semua..dan bisa saja cakraadiningrat semua
[14/3 10.20] R Hannan Sendang: Kalau tahun...saya kira tdk salah....klo nama...bisa beda2 heee
Saya aja kdg gus hannan,kyai hannan,kak hannan,kak bindereh...dan ada juga yg panggil "sayang....
[14/3 10.22] Zacky Muhsen Tokolong: Adddaaa kalimat terakhir ini kagak nahan 😁😁😁😁😁
[14/3 11.49] Zacky Muhsen Tokolong: Klo pertemuan sunan cendana terjadi pada tahun 1635.. Lantas taon berapa pemberontakan blambangan ini.

Dengan penguasa madureh se kemmah  sunan cendana mengadakan pertemuan
[14/3 11.49] Zacky Muhsen Tokolong: Monggo di analis
[14/3 11.49] Zacky Muhsen Tokolong: Analisis
[14/3 11.55] ‪+62 877-5090-6054‬: Blambangan sudah takluk ke demak zaman sultan trenggono lalu memerdekakan diri zaman  awal mataram
[14/3 13.53] saiba albangkalani: - Sultan Agung: 1613-1645
- Amangkurat I: 1645- 1677

- P. Tengah : ....-1621
- P. Mas: ..........-1624
- CN I:...............-1648
- CN II: .............- 1707

- Pertemuan Sunan Cendana dengan Raja Madura Barat 1635

- Ini berarti di masa CN I. Karena CN I masa tahta.......1648, atau masa Sultan Agung 1613-1645.
- Kalau ini benar, maka pertemuan itu terjadi saat  usia Sultan Agung sudah sepuh 10 tahun sebelum sultan agung wafat. Atau saat CN I masih muda/ masih menjadi menantu STA.

- 1624 pembebasan tahta Madura oleh STA, Prasena / CN I masih anak2 dibawa ke Mataram anggap saja umur 7 tahun, pemerintahan Madura dijalankan Demang Mlajah. Maka pada tahun 1635 Prasena/ CN I berusia 17 tahun, sangat muda sekali.
- Berdasar asumsi di atas, Prunojoyo sekitar umur 40-50an tahun ( usia wajar madeg pandito), sedang STA sekitar 60-70 tahun.

Kesimpulan (masih asumsi)
Kemungkinan pertemuan Sunan Cendana dengan Raja Madura barat adalah pada saat:
 - STA umur 60-70 tahun
- SC umur 40-50 an tahun
- CN I umur 17 an tahun

Pertemuan itu saat *" Pemerintaan CN I"* bukan saat *" CAN"*

FAEDAH MENCIUM DAN MENGUSAPKANNYA KEMATA SAAT ADZAN

FAEDAH MENCIUM DAN MENGUSAPKANNYA KEMATA SAAT ADZAN

Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman al-Maghrabi berkata:

وَرُوِيَ عَنْ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرْحَبًا بِحَبِيبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَبِّلُ إبْهَامَيْهِ ، وَيَجْعَلُهُمَا عَلَى عَيْنَيْهِ لَمْ يَعْمَ ، وَلَمْ يَرْمَدْ أَبَدًا (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل – ج 3 / ص 355)

Diriwayatkan dari Nabi Khidhir As. bahwa ia berkata: “Barangsiapa yang mendengar bacaan muadzin “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, lalu ia berdoa “Marhaban bihabibiy waqurrati ainiy Muhammadibni Abdillah Saw.”, lalu mengecup dua jari jempolnya dan diletakkan (diusapkan) ke kedua matanya, maka ia tidak akan mengalami buta dan sakit mata selamanya.” (Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtashar asy-Syaikh Khalil juz 3 halaman 355).

Bahkan dalam referensi ulama Malikiyah tidak sekedar dijelaskan ‘tata caranya’, namun juga faedahnya:

( فَائِدَةٌ ) قَالَ فِي الْمَسَائِلِ الْمَلْقُوطَةِ : حَدَّثَنَا الْفَقِيهُ الصَّدِيقُ الصَّدُوقُ الصَّالِحُ الْأَزْكَى الْعَالِمُ الْأَوْفَى الْمُجْتَهِدُ الْمُجَاوِرُ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الْمُتَجَرِّدُ الْأَرْضَى صَدْرُ الدِّينِ بْنُ سَيِّدِنَا الصَّالِحِ بَهَاءِ الدِّينِ عُثْمَانَ بْنِ عَلِيٍّ الْفَاسِيِّ حَفِظَهُ اللَّهُ تَعَالَى قَالَ : لَقِيتُ الشَّيْخَ الْعَالِمَ الْمُتَفَنِّنَ الْمُفَسِّرَ الْمُحَدِّثَ الْمَشْهُورَ الْفَضَائِلُ نُورَ الدِّينِ الْخُرَاسَانِيَّ بِمَدِينَةِ شِيرَازَ ، وَكُنْتُ عِنْدَهُ فِي وَقْتِ الْأَذَانِ فَلَمَّا سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَبَّلَ الشَّيْخُ نُورُ الدِّينِ إبْهَامَيْ يَدَيْهِ الْيُمْنَى وَالْيُسْرَى وَمَسَحَ بِالظُّفْرَيْنِ أَجْفَانَ عَيْنَيْهِ عِنْدَ كُلِّ تَشَهُّدٍ مَرَّةً بَدَأَ بِالْمُوقِ مِنْ نَاحِيَةِ الْأَنْفِ ، وَخَتَمَ بِاللَّحَاظِ مِنْ نَاحِيَةِ الصُّدْغِ ، قَالَ فَسَأَلَتْهُ عَنْ ذَلِكَ ، فَقَالَ : إنِّي كُنْتُ أَفْعَلُهُ مِنْ غَيْرِ رِوَايَةِ حَدِيثٍ ، ثُمَّ تَرَكْتُهُ فَمَرِضَتْ عَيْنَايَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ ، فَقَالَ لِي لِمَ تَرَكْتَ مَسْحَ عَيْنَيْكَ عِنْدَ ذِكْرِي فِي الْأَذَانِ إنْ أَرَدْتَ أَنْ تَبْرَأَ عَيْنَاكَ فَعُدْ إلَى الْمَسْحِ أَوْ كَمَا قَالَ فَاسْتَيْقَظْتَ وَمَسَحْتَ فَبَرِئَتْ عَيْنَايَ وَلَمْ يُعَاوِدْنِي مَرَضُهُمَا إلَى الْآنَ . (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل للشيخ ابي عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن المغربي - ج 3 / ص 354 وحاشية العدوي على شرح كفاية الطالب الرباني للشيخ علي ابي الحسن المالكي - ج 2 / ص 281)

“(Faedah) disebutkan dalam kitab al-Masail al-Malquthah, bahwa telah bercerita kepada kami ahli fiqh yang sangat terpercaya, yang hsaleh, bersih, berilmu sempurna, seorang mujtahid, bertetangga dengan Masjid al-Haram, menyendiri, Shadruddin bin Sayyidina Shaleh Bahauddin Utsman bin Ali al-Fasi, hafidzahullah, ia berkata: “Saya bertemu dengan seorang syaikh yang ahli di bidang banyak ilmu, ahli tafsir, ahli hadits, yang populer keutamaannya, Nuruddin al-Khurasan di Kota Syiraz. Saya berada di dekatnya saat adzan. Ketika ia mendengar ucapan muadzin “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maka Syaikh Nuruddin mengecup kedua jari jempolnya, kanan dan kiri, lalu mengusapkan dengan kedua kuku ke kelopak matanya setiap bacaan syahadat, dimulai dari ujung mata yang lurus dengan hidung lalu mengenyamping ke arah pelipis.

Saya (Shadruddin) bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ia menjawab: “Dulu saya melakukannya tanpa riwayat hadits, lalu saya meninggalkannya. Maka kedua mata saya sakit dan saya mimpi bertemu Rasulullah Saw. dan bersabda kepadaku: “Kenapa kamu tinggalkan mengusap kedua matamu ketika menyebutku dalam adzan. Jika kamu ingin kedua matamu sembuh maka ulangilah mengusap matamu.”

Lalu saya terbangun dan mengusap kedua mataku. Dan sampai sekarang tidak pernah sakit mata lagi.” (Mawahib al-Jalil juz 3 halaman 354 dan Hasyiyah al-Adawi juz 2 halaman 281).