Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Kamis, 06 September 2018
SEJARAH & ARTI LOGO ح DARKAH YA AHLAL MADINAH YA TARIM WA AHLAHA دركاة يا أهل المدينة (Darkah Yaa Ahlil Madinah) يا تريم و أهلها (Ya Tarim wa Ahlaha) ۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
SEJARAH & ARTI LOGO ح DARKAH YA AHLAL MADINAH YA TARIM WA AHLAHA
دركاة يا أهل المدينة (Darkah Yaa Ahlil Madinah)
يا تريم و أهلها (Ya Tarim wa Ahlaha)
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Pernah melihat logo ism seperti diatas ? ? ?
Logo ism yang sering dijumpai di berbagai majelis-majelis ta’lim/maulid. Ada yang menggunakan logo ini di spanduk, umbul-umbul, bendera, jaket, dll. atau dalam bentuk stiker.
logo apa itu…?
Huruf ‘ح’ ditengah dengan ukuran yang cukup besar, kemudian di atasnya bertuliskan “Darakah Ya Ahlal Madinah”, di bawahnya bertuliskan “Ya Tarim Wa Ahlaha”, di samping kanannya bertuliskan lafzhul jalalah yang berbunyi يا فتاح”Ya Fattah” dan di samping kirinya يا رزاق “Ya Rozzaaq”. Di atas huruf ‘ha’ bertuliskan angka 1030 dan di tengah huruf ‘ha’ bertuliskan angka 110.
Mengenai ism seperti itu dan yang semacamnya maka hal itu merupakan tabarruk dan tawassul kepada hal yang mulia.
Sedangkan ism di atas sendiri adalah tabarruk dan tawassul kepada al Imam al Habib Abdullah bin al Haddad, seorang wali yang sangat masyhur, cucu Rosululloh ﷺ dari Sayyidina Husain bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali bin Abu Tholib, suami Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rosululloh Muhammad ﷺ.
Beliau adalah penyusun Ratib al Haddad, Wirdullatif yang banyak diamalkan oleh muslimin di berbagai penjuru dunia, juga Kitab Risalatul Muawanah, Nashoihud Diniyah, dll.
Dijelaskan oleh Habib Munzir al Musawa: sumber
⏩“Darkah ya ahlal madinah” maksudnya adalah bertawassul pada shohibul Madinah yaitu Rosul ﷺ.
⏩“Yaa Tarim wa ahlaha” adalah tawassul kepada para shalihin dan lebih dari 10 ribu wali yang dimakamkan di pemakaman Zanbal, Fureidh, dan Bakdar, yang pada pekuburan zanbal itu juga terdapat Ashabul Badr utusan Sayyidina Abubakar Asshiddiq r.a.yang wafat di sana.
⏩“110” melambangkan marga Ibn Syeikh Abubakar bin salim (dzuriyyah Rosululloh ﷺ).
⏩“1030” melambangkan marga Al Habsyi (dzuriyyah Rosululloh ﷺ).
Sesuai faham ahlussunnah wal jam’ah, azimat (Ruqyyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Alloh SWT.
Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada 📚Kitab Faidhulqadir Juz 3 hal 192, dan 📚Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata-mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat-ayat Al-Qur’an dan kalimat-kalimat mulia lainnya.
Namun tentunya manfaat dan kemuliaannya bukan pada tulisan dan stiker itu, tapi tergantung pada penggunannya, dan bila anda ingin menggunakannya maka boleh ditempel di pintu atau lainnya sebagai tabarruk dengan nama Imam Al Haddad Rohimahulloh.
Mengenai tawassul, Alloh swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Alloh swt.
Alloh swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ sebagai perantara pertama kita kepada Alloh swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh-puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, sholat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi ﷺ, sampailah kepada Alloh swt.
Alloh swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Alloh swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Alloh SWT dan berjuanglah di jalan Alloh swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).
SEJARAH TULISAN DARKAH
wawancara bersama Habib Abubakar bin Abdurrahman Alhaddad – Tanjung Gang 2 Kota Malang Jawa Timur.
Siapa sangka jika penyusun dari Lambang Darkah ini berasal dari kota Malang, beliau adalah 👳Al Habib Abu Bakar bin Abdurrahman AlHaddad, Lambang Huruf ‘ha’ di tengah dengan ukuran yang cukup besar, kemudian di atasnya bertuliskan “Darakaah Yaa Ahlal Madiinah”, di bawahnya bertuliskan “Yaa Tariim Wa Ahlahaa”, di samping kanannya bertuliskan lafdzul jalalah yang berbunyi “Yaa Fattaah” dan di samping kirinya “Yaa Rozzaaq”, sedangkan di atas huruf ‘ha’ bertuliskan angka 1030 dan di tengah huruf ‘ha’ bertuliskan angka 110 seperti keterangan gambar, merupakan hasil karya beliau yang terinspirasi dari beberapa kisah sohibul Maulid Simthuddhurror.
Beliau yang lulusan dari Pondok Pesantren Darut Tauhid ini berinisiatif membuat lambang Darkah berawal dari kisah Habib Ali Al Habsyi (Sohibul Maulud, pengarang Simtud Dhurar).
Pada awalnya beliau membuat tanda untuk setiap kiriman dengan memakai angka 110, disebabkan karena saat itu beliau, Habib Ali al-Habsyi (Sohibul Maulid-Seiwun), sering kali mendapatkan kiriman-kiriman dari luar negeri, dan kiriman tersebut seringkali tidak sampai kepada beliau, kemudian Petugas pengirim Surat (Pak Pos) nya diminta untuk membuat tanda, agar setiap ada kiriman barang/surat tidak hilang kirimannya, kemudian beliau membuat Ha’ disertai dengan huruf 110, 110 itu sendiri merupakan jumlah bobot nilai huruf hijaiyyah yang merangkai kata ‘ALI’ dalam 📚Kitab Aqidatul Awwam pada halaman terakhir ada rumusannya, sedangkan gabungan 110 dan Ha’ itu ada sekitar tahun 1980 an, atas inisiatif dari Habib Ali bin Muhammad Al-Haddad dan Habib Segaf bin Muhammad Ba’ Agil.
Adapun penulisan kalimat Darkah Yaa ahlal Madinah adalah inisiatif dari Habib Abu bakar Al-Haddad (Malang Jawa Timur) sendiri, yang diambil dari Qosidah Habib Muhammad bin Idrus, yang banyak berisi tentang tawasul-tawasul dengan Ahlul Madinah (Rosululloh ﷺ beserta keluarganya, sahabatnya), termasuk juga kalimat Yaa Tarim Wa Ahlaha, yang merupakan tawassul kepada para sholihin dan lebih dari 10 ribu wali yang dimakamkan di pemakaman Zanbal, Fureidh, dan Akdar, yang pada pekuburan Zanbal itu juga terdapat Ashhabul Badr utusan Sayyidina Abubakar ash-Shiddiq Ra.yang wafat di sana.
Kemudian penerapan Lambang Darkah ini pada awalnya dulu bukan berbentuk bulat dan bertuliskan kalimat tawasul tadi, melainkan hanya berupa lambang Ha’ dan huruf 110 dan 1030 saja, kemudian berkat saran dari paman beliau yang bernama Habib Abdul Qodir bin Husin Al Haddad, maka lambing tersembut ditambah lah dengan wiridannya dari abahnya Habib Husen, yaitu Yaa Fattah Yaa Rozak, dengan niatan supaya dapat fadlilah wiridannya Habib Husen bin Muhammad Alhaddad.
Siapa sangka bahwa Logo yang sudah dikenal di seluruh dunia di kalangan habaib maupun muhibbin ini sudah mencapai Negara Malaysia, Singapore, Abu Dabi, Kuwait.
Subhanalloh
دركاة يا أهل المدينة (Darkah Yaa Ahlil Madinah)
يا تريم و أهلها (Ya Tarim wa Ahlaha)
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
GALLERY PARA PECINTA HABAIB
https://www.facebook.com/groups/767066530129705/
MENEBAR MAHABBAH MERAIH SYAFA'AH
Setelah berjalan lama Lambang ini, sempat nyaris hilang, kemudian Lambang / ism yang sering dijumpai di berbagai majelis-majelis ta’lim/maulid. Ada yang menggunakan logo ini di spanduk, umbul-umbul, bendera, jaket, dll. atau dalam bentuk stiker, sampai mobil-mobil di kaca belakangnya ditempel stiker lambang ini.
Lambang yang sebenarnya adalah suatu Ajimat (Ruqyat) bukan Logo suatu organisasi tertentu ini, kalau di kaji di kitab-kitab, maka lambang ini tidak akan diketemukan dikitab manapun, karena lambang ini ada karena habib Abu bakar bin Abdurrahman al-Haddad (Malang) menyusunya digunakan untuk tafa’ul –an(mengharap berkah).
Adapun hitungan 1030 itu berasal dari hitungan kalimat amanatulloh wa rosuluh wal Abdullah alhaddad, yang ditujukan kepada kepada al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwiy al-Haddad (Shohiburrotib), dimana hitungan ism terssebut merupakan inisiatif dari para ulama’ kota Tarim Yaman.
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Sesuai faham Ahlussunnah wal Jama’ah, ‘azimat (Ruqyat) dengan huruf arab merupakan hal yang diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Alloh Swt. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada 📚Kitab Faidhul Qadir Juz 3 halaman 192, dan 📚Tafsir Imam Qurthubi Juz 10 halaman 316-317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut, karena itu semata-mata adalah bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat-ayat al-Qur’an dan kalimat-kalimat mulia lainnya.
(Tulisan ini telah di muat di Majalah Riyadlul Jannah dan dimuat juga di Tabloid Media ummat)
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Rabu, 05 September 2018
Kisah Keistimewaan Kucing dalam Sejarah Islam
Kisah Keistimewaan Kucing dalam Sejarah Islam
Kucing merupakan salah satu hewan pemeliharaan yang sangat populer di seluruh dunia, termasuk indonesia. Dalam sejarah islam, kucing memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa. Baginda Nabi berpesan kepada para sahabatnya untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.
Salah satu kucing yang dimiliki oleh nabi yaitu Mueeza, kucing ini sungguh sangat luar biasa karena Mueeza selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.
Pada abad 13, dalam dunia seni islam rupa kucing dijadikan mata uang sebagai bentuk manifestasi penghargaan masyarakat islam. Sedangkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa itu. Dan masih banyak lagi kisah-kisah kucing yang sangat luar biasa dalam beradapab islam. Untuk selengkapnya, silakan langsung saja simak kisah selengkapnya berikut ini :
Kisah Mueeza, Kucing Kesayangan Rasulullah SAW
Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.
Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong Mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.
Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyayangi keluarga sendiri.
Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.
Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.
Penghormatan Para Tokoh Islam Terhadap Kucing Pasca Wafatnya Nabi SAW
Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo dijelaskan pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya.
Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.
Pengaruh Kucing Dalam Seni Islam
Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.
Kisah Kucing Yang Memberi Inspirasi Bagi Para Sufi
Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh Hijriyah bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.
Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah.
Kisah Teladan dari Seekor Kucing
Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran.
Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu.
Tak lama kemudian, ia kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah membunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun.
Hukum Membunuh Kucing
Tahukah anda bahwa Nabi Muhammad saw juga membela kucing?
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW, bersabda:
Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah. (Shahih Muslim No.4160)
Dan dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah.
Manfaat Kucing di Dunia Ilmu Pengetahuan
Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini. Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.
Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat terselamatkan.
Kisah Kucing Palestina Yang Dipenjara di Sel Khusus Israel : Kucing "Muqawwamah"
Jika boleh iri, kaum muslimin mungkin harus iri kepada kucing Palestina. Pasalnya, ditengah ketidakmampuan kita ikut membela saudara-saudara kita di Palestina yang kini sedang berjuang mempertahankan Masjidil Aqsha dari ancaman israel, justru seekor kucing tampil sebagai pahlawan. Kucing itu dinilai zionis-israel dapat membangkitkan perlawanan (muqawwamah).
Sebagaimana dikutip dari votreesprit.wordpress.com, zionis-israel telah memenjarakan seekor kucing Palestina. Kucing ini dinilai menjadi penghubung di sel isolasi di kamp tahanan pejuang-pejuang Palestina di Negev. Menurut pejabat israel, kucing tersebut membantu para tahanan dengan membawa barang-barang ringan seperti surat, roti dan lainnya dari satu sel ke sel lain. Peran itu dimainkan si kucing selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya ketahuan.
Penjaga penjara Negev lalu menjebloskan kucing itu ke dalam sel khusus. Nah, siapa bersedia menjenguk kucing yang pintar ini? Adakah kira-kira pengacara dermawan yang akan membelanya
Selasa, 04 September 2018
Keutamaan Sholawat Nabi:
*Keutamaan Sholawat Nabi:
قال الشاعر:
أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ # فَقَبُوْلُهَا حَتْمٌ بِدُونِ تَرَدُّد
ٍِأَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّد
ِPujangga Arab berkata:
"Bacalah shalawat secara rutin, sebab shalawat pasti diterima tanpa ada keraguan. Adapun seluruh amal kita yang lain mungkin saja diterima dan mungkin ditolak, kecuali shalawat kepada Nabi Muhammad SAW".
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه
MEROKOK UNTUK BAKAR SETAN. ALHABIL AHMAD BAFAQIH TEMPEL
*MEROKOK UNTUK BAKAR SETAN.*
*ALHABIL AHMAD BAFAQIH TEMPEL*
kehidupan masa muda Al-Habib Ahmad Bafaqih tak semudah yang dibayangkan .
Cacian, hinaan dan makian dariorang-orang sekitar beliau, baik atas kekurangan fisik ataupun kemiskinan yang ada pada diri beliau, Habib Ahmad Bafaqih tak pernah membalas cacian itu. Bahkan beliau terima dengan sabar semua perlakuan itu. Di masa muda itu pula Habib Ahmad Bafaqih pernah berjualan kecil-kecilan seperti berjualan korek api walaupun hasilnya tidak menguntungkan .
Sesungguhnya Allah adalah Maha Berkehendak, sosok Habib Ahmad Bafaqih dikarenakan kesucian hatinya, kesabaran akhlaknya, telah dianugerahi oleh Allah SWT berupa Futuhal ‘Arifiin, kasyaf dan ilmu ladunni, padahal beliau diriwayatkan tidak menempuh pendidikan formal.
Habib Ahmad Bafaqih pernah menuturkan kepada abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil tentang asal mula kewaliannya ketika Abuya berkunjung ke rumah beliau .
“Siapakah guru anda ?”, tanya Abuya kepada beliau .
“Guruku Allah swt , malaikat Jibril , Rasulullah saw , jawab beliau , yang menandakan bahwa ia adalah seoranf majdzub yang mendapat kewalian tanpa bersuluk.
“Bagaimana asal muasalnya Habib “bisa sampai” kepada Allah “? Tanya Abuya selanjutnya.
“Karena kamu yang bertanya maka saya akan menjawabnya , kalau bukan kamu , saya tidak akan cerita.”
“Dulunya saya orang miskin. Ayah saya wafat dengan meninggalkan saudari -saudari perempuan saya yang banyak. Saya ini orang cacat yang tidak bisa bekerja.”
“Pada suatu hari saudari-saudari saya merasa kelaparan Di rumah saya tidak ada makanan sama sekali. Mereka meminta kepada saya untuk mencarikan makanan. Saya berpikir dari mana saya berusaha dapat makanan ?, mau usaha apa? Wong jalan saja saya harus tertatih-tatih sambil berpegangan di tembok. Badan saya cacat .”
“Terpaksa saya keluar rumah mencari makanan. Tidak ada orang yang kasihan kepada saya. Jangankan memberi sesuatu, menjawab salam saya saja mereka enggan karena melihat diri saya yang seperti ini. Saya terus berjalan dan berjalan sampai capek.”
“Saya istirahat duduk -duduk di Masjid Agung Jogjakarta sampai malam. Karena waktu sudah malam, penjaga masjid itu menyuruh saya keluar dari masjid. Kalau tidak , ia akan mengunci saya saya dari luar. Saya tidak mau keluar. Akhirnya saya dikunci di dalam masjid sendirian.”
“Saya menangis dan menangis di dalam masjid. Saya sudah putus asa dari manusia . Di tengah larut malam, saya bermunajat kepada Allah : “TIDAK ADA MANUSIA YANG MAU KEPADAKU , SIAPA LAGI YANG MAU MEMUNGUT DIRIKU SELAIN ENGKAU, YAA ALLAH . AKU MENGELUH KEPADAMU, AKU BERPASRAH DIRI PADAMU .” doaku kepada Allah.
“Di tengah saya bermunajat, saya mendengar suara salam .
“Assalamu ‘alaikum ”
“Wa ‘alaikumussalaam”. Jawabku
“Anda siapa ? ” tanyaku kepada seseorang yang tiba-tiba muncul dihadapanku.
.
“Aku kakekmu Muhammad Rasulullah saw “, jawab orang itu .
.
Baginda Rasulullah saw berkata kepadaku : “INNAA FATAHNAA LAKA FATHAN MUBIINAA ” nanti akan datang orang yang mengajar kamu .”
.
“Tidak lama kemudian muncul Nabi Khidhir memberi kabar bahwa mulai besok rezekiku akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahku .”
“Di pagi harinya saya pulang ke rumah dan saudari-saudariku masih kelaparan. Tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah.
.
Sedangkan Nabi Khidhir telah mengajari saya menulis azimat di sebuah kertas.”
“Semenjak saat itu rumah Habib Ahmad Bafaqih tidak pernah sepi dari tamu. Masyarakat umum, para pejabat sampai Wali seperti Sayyid Muhammad Maliki turut berkunjung kesana. Namun kewalian dan kekeramatan itu beliau dapatkan setelah mengalami bermacam penderitaan.
Habib Ahmad Tempel pernah berucap di masa kholwat beliau bahwa beliau tidak akan mau keluar dari kholwatnya terkecuali Habib Sholeh Tanggul yang mengeluarkan. (kisah dari Habib Muhdhor Al-Hamid yang ketika masih muda pernah diajak ayahnya -Habib Muhammad bin Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul sowan ke rumah Habib Ahmad Tempel ).
Sosok Habib Ahmad Bafaqih juga dikenal sosok yang sangat dekat dengan Nabi Khidir AS, bahkan sering bersama sahabat beliau, Syekh M.Abdul Malik Ilyas ( Purwokerto) / guru mursyidnya Abah habib Luthfi bin yahya Pekalongan berjumpa Nabi Khidir AS dan mengetahui “penyamaran” Nabi Khidir AS dengan mudah.
Di kalangan ulama, wali dan habaib di zamannya,kedudukan Habib Ahmad Tempel sangatlah dihormati.
Habib luthfi Bin Yahya Pekalongan pernah bercerita kepada habib Abdul Hadi Baragbah Tegal, bahwa Habib Ahmad Kemusuh pernah bilang kepada Habib Luthfi waktu itu masih muda: ” Bahwa habib Ahmad mimpi gendong -gendongan sama Habib Luthfi di ‘Arsy.”
Banyak pejabat negara serta artis yang tak ketinggalan turut mengambil keberkahan beliau . Diantaranya Wakil Presiden RI H.Adam Malik, yang kemudian membuat kubah makam Habib Ahmad tempel dan ayahnya .
Banyak orang yang berjumpa menemui Habib Ahmad Tempel di rumah beliau, melihat karamah beliau, seperti beliau tahu berita terbaru, padahal tak membaca koran, mendengarkan radio ataupun menonton televisi .
Beliau disebut hadir telihat berhaji di Mekkah, padahal beliau tak ada pergi kemana-mana .
Di ceritakan, pernah menantu beliau yakni habib Muhammad hamid Bafaqih dipesankan oleh Habib Ahmad Tempel agar menjaga ketat pintu kamar Habib Ahmad Tempel, tak boleh ada yang masuk. setelah Habib Ahmad tempel lama tak muncul, akhirnya Habib Muhammad hamid Bafaqih memberanikan diri membuka pintu kamar , ternyata Habib Ahmad Tempel, pergi menghilang entah kemana, Wallahu a’lam.
Banyak orang yang sakit, menjadi sembuh dengan izin ALLAH melalui karomah habib Ahmad tempel.
Pernah juga habib Ahmad bin Toha Al-Munawwar ( Toha Putra semarang ) lagi sakit dan akan diobati dengan cara dioperasi di rumah sakit, lalu meminta nasehat kepada Habib Ahmad Tempel apa hal yang terbaik, lalu oleh habib Ahmad Tempel cuma disuruh untuk membikin ES TEH yang LEGI ( manis ) dan kentel, dan diminum. Dan ternyata penyakit Habib Ahmad Toha Munawwar pun sembuh tanpa hjarus dioperasi.
ada pula satu pohon kayu, diolah papannya ,mampu menjadi beberapa rumah pondok, pada suatu pesantren melalui karomah habib Ahmad tempel.
Habib Ahmad tempel juga pernah berucap : “saya merokok ini, tujuannya adalah untuk membakar setan “.
Akan tetapi soal merokok beliau Habib Ahmad Bafaqih Tempel juga pernah berkata kepada abuya Habib Ahmad Husein assegaf Bangil yakni : ” Aku Rokok an cek gak bening “, kata beliau. Maksudnya untuk mengurangi kebeningan hati ( Kasyaf ) yang bisa melihat aib orang lain, Habib Ahmad Jogja terpaksa menggunakan Rokok.
Maka bayangkanlah dengan orang yang hatinya sudah gelap, tentu dengan merokok hatinya bertambah gelap.dikecualikan orang2 solih dan arifbillah yg sudah mengenal Allah tentulah rokok tak memperngaruhi keadaan bati maka dari itu wajiplah kita istiqomah tholabulbilmi karena ini muka2 kita bisa mengenal Allah.
Ketika Habib Ahmad tempel masih hidup, banyak orang yang meminta wafaq / rajah / azimat kepada beliau, salah satu wafaq yang sering beliau beri adalah wafaq ” SEGITIGA KHATAMUN NUBUWWAH ” ( Allahu wahdaHu Laa Syariika lahu , muhammadun ‘Abduhu wa Rasuluhu).
Habib Ahmad bafaqih tempel pernah berucap ketika berkunjung ke Guru Haji Seman Mulia, martapura, kalsel :
“bahwa aku hanya mencari teman, ( yakni) orang yang bersyukur dan tidak mau berteman dengan orang yang pusang ( gelisah/kecewa dalam hal duniawi ), karena orang pusang itu bukan hamba Allah tapi hamba iblis “.
Kini Dakwah Habib Ahmad Bafaqih tempel diteruskan diantaranya oleh putra beliau sendiri : Habib Umar bin Ahmad Bafaqih ( Sokaraja ), Habib Ali bin Ahmad Bafaqih ( Jogjakarta ), kemudian oleh Habib Muhammad hamid Bafaqih (menantu dan juru kunci makam ), Habib Husein bin Abdullah Assegaf ( Sedayu, jogja ) dan Habib Zein bin Ahmad assegaf Magelang.
Sedangkan di Kalsel, murid beliau yang terkenal adalah Guru haji. Asmuni ( Guru Danau).
Diantara ijazah wirid dari beliau habib Ahmad Tempel adalah : jika kita ada hajat khusus, hendaklah membaca – ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD sebanyak 124.000 kali ( seratus dua puluh empat ribu kali ), bisa dicicil Maksimal dalam jangka 40 hari .
.
Habib Umar Mutohhar ( Semarang ) pernah menceritakan pengalamannya bersama KH. Mufid Mas’ud ( PP Pandanaran Kali urang Jogjakarta ) saat berziarah ke makam Habib Ahmad Bafaqih Kemusuh Yogyakarta.
Ketika membaca akhir surah Yasin, “innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu KUN FAYAKUN … ” , makam itu terbuka dan keluarlah Habib Ahmad Bafaqih dari kuburnya.
Setelah itu pembacaan doa dipimpin oleh Habib Ahmad, diaminkan oleh Habib Umar Muthohar dan KH. Mufid Mas’ud. Kemudian Habib Ahmad masuk lagi ke kubur.
Peristiwa itu terjadi setelah 40 hari Habib Ahmad Bafaqih dimakamkan.
Habib Umar Mutohhar lalu melanjutkan ceritanya. Kata beliau: “setelah 7 hari dimakamkannya Habib Ahmad, saya bertemu beliau di alam mimpi. Beliau membai’at saya dengan syahadat (talqin dzikir)”.
Kalau dinalar logika sulit. Untungnya saya termasuk dari kelompok “alladzina yu’minuna bil ghoib”.
Habib Ahmad tempel sebenarnya wafatnya pada bulan sya’ban, sedangkan haul Ahad terakhir bulan syawwal adalah haulnya ayah beliau, yakni habib Ali bin Ahmad Bafaqih, karena haul ahad terakhir bulan syawwal sudah berlangsung sejak jaman habib Ahmad tempel hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh.
acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi ,
Malam ahad, ziarah kubro dan tahlil dan ceramah ulama.
Ahad Subuh, maulid Nabi Muhammad saw dan musik gambus serta khitanan massal.
semoga riwayat ringkas ini, menjadi sebab turunnya barokah atas kita, dan atas kekurangan serta kekeliruan mohon diluruskan dan dimaafkan.
( Disusun alfaqir – Shodiqur Rifqi )
Dari arah Kota Yogyakarta melintasi jalan Raya Magelang hingga sampai di jalan Turi km 1 perempatan rambu lalu lintas Sleman Yogyakarta, sebelah kanan jalan nampak papan nama SMK Ma’arif 2 Sleman, dari perempatan ini belok kiri untuk menuju desa Banyurejo hingga pertigaan dukuh/desa kemusuh -+ (7km), dari pertigaan ini belok kiri -+ (50m) akan nampak jembatan kecil, sebelum jembatan ini sebelah kiri jalan akan nampak qubah makam Habib Ahmad Tempel.
Alamat / Lokasi / Tempat Makam Beliau :
Dukuh. Kemusuh, Desa. Banyurejo, Kec. Tempel, Kab. Sleman – Yogjakarta 55552.
Moga manfaat dan bisa kita jadikan tauladan dari kisah beliau aamiin
AlFatihah..
Senin, 03 September 2018
Kyai Pucangan (Mbah Pucangan) Pasuruan
*Kyai Pucangan (Mbah Pucangan) Pasuruan;*
===========
Al-Kisah...
Di Pasuruan ada astah bhuju' Pucangan e, dimana oleh sebagian orang disana disebut Mbah Pucang.
Beliau itu berasal dari Madura.
Menurut salah satu catatan bahwa Mbah Pucangan adalah salah satu putra dari Kyai Betoh Kolong (Batu Kolong).
Menurut cerita bahwa Mbah Pucangan ini pada masa mudanya berhasil menyembuhkan Putri Penguasa di Pasuruan yang akhirnya beliau diambil menantu.
Kyai Pucangan berputra 5 :
1. Kyai Abu Ya'la Keboncandi;
2. Kyai Abu Mursyidin;
3. Kyai Baha'uddin Pucangan;
4. Mas Abdullah Sin Ssin
Konang Bangkalan;
5. Bhuju' Dzulqornain Bato
Belinger Desa Olor
Banyuates;
Al-Fatihah...
Minggu, 02 September 2018
KISAH HABIB JAKFAR AL KAFF MENYURUH MUHIBBINNYA MEMBELI MOBIL FORTUNER DENGAN UANG 400.000,-
Copas:
"KISAH HABIB JAKFAR AL KAFF MENYURUH MUHIBBINNYA MEMBELI MOBIL FORTUNER DENGAN UANG 400.000..."
Habib Jakfar Alkaff Kudus, terkenal memiliki kebiasaan jadzab (berbuat aneh). Meskipun jadzab, ternyata beliau sering juga mernahake (bahasa Salik nya adalah mentarbiyyah/membimbing) para muhibbin ( pecinta) beliau. Salah seorang muhibbinnya dipanggil beliau dan dikasih uang.
” Ji … ini duit buat kamu. Buat beli For tuner, ya? ” Kata Habib Ja’far.
” Njih, bib ” Kata Pak Kaji sambil menghitung jumlah uang pemberian Habib. Totalnya cuma 400 ribu rupiah.
Melihat uang pemberiannya dihitung, Habib Jakfar berkata ‘ jangan dihitung, Ji. Harus ikhlaaas, ”
Ini pelajaran pertama dari habib ja’far, bahwa pemberian Allah baik berupa uang ataupun harta yang lain tidak boleh dilihat materi / barangnya. Juga berapa jumlahnya. Tetapi lihatlah siapa gerangan Dzat yang memberinya. Yakni Allah Ta’ala . Saputangan harganya murah. Tetapi saputangan pemberian kekasih, tidak ternilai harganya.
Beberapa waktu kemudian, Habib Jakfar mengajak dia ke tepi laut. Beliau berkata, ” Jii ….ini duit dalam tas semua, ayoh dibuang ke lauuut. Diniati shadaqah Sir/rahasia, yaa? Diniati shadaqah Sir yaa? ”
Bersama salah satu khadim/pembantu, pak Kaji tersebut membuang lembaran – lembaran uang kelaut. Dia perkirakan tidak kurang dari 20 juta rupiah uang yang dibuang. Muhibbin itu berpikir keras apa makna perbuatan ini, serta apa konteknya dengan dirinya?
Ini pelajaran kedua untuk dirinya, bahwa bagi seorang Arif billah, antara uang dan tanah liat nilainya tidak ada bedanya . Yang membuat berbeda adalah kecintaan hati kepada salah satu dari keduanya. Jika tidak ada cinta, ( karena yang dicinta hanyalah Allah) emas, uang atau yang lain tidak lagi berharga sehingga tidak layak diuber-uber apalagi dicinta.
Perbuatan membuang uang kelaut, pernah menjadi sasaran kritik Ibnul Qayyim kepada kaum Sufiyyah yang melakukannya. Karena perbuaan tersebut secara fikih dhahir hukumnya haram disebabkan tadzyi’ul maal / mensia-siakan harta. Namun Ba’dhul Arifien Quddisa Sirruh, menjawabnya banyak .
Diantaranya :
”Kaum Sufiyyah membuang Harta ke laut, saat mereka mulai merasa hatinya tertambat dengan Harta tersebut. Dan bagi seorang Sufi haram hukumnya mencintai harta dunia, dan bahayanya cinta dunia itu lebih dahsyat dari dosanya mensia-siakan Harta. Jika ditanya, mengapa tidak disedekahkan saja? Dijawab bahwa, terhadap sosok Sufi seperti diri mereka sendiri saja, mereka tidak mempercayai untuk menyerahkan ‘dunia’, apalagi terhadap orang lain? Tuhmah ( kekhawatiran) tersebut membuat mereka terpaksa membuangnya ke laut. ”
Apa yang dilakukan Habib Ja’far juga selaras dengan hal diatas, dimana beliau ingin mengajari Muhibbinnya, supaya tidak cinta dunia. Dan beliau peraktekkan sendiri didepan matanya, membuang uang berjuta-juta ketengah laut, seperti berkata : ” Ji, jangan kedunyan (cinta dunia). Duit itu bagi seorang yang ‘ mengerti ‘ , tidak ada nilainya ”
Kemudian saat akan pulang, Habib memanggilnya kembali : ” Ji, kamu punya tanaman dalam pot di pojok Rumah? ”
Pak Kaji menjawab :” Bener, Bib ”
”Sampai rumah, Cabuten ae, ” kata beliau.
Pak Kaji langsung tercenung. Bukan heran, Habib Ja’far bisa tahu dia punya tanaman itu, karena hal-hal kasyaf model begitu sudah biasa dia jumpai dalam diri Habib Jakfar. Tetapi dia tercenung karena dia baru sadar , ini pelajaran penting untuk dirinya dari Habib, karena beberapa waktu belakangan ini dia sangat suka merawat tanaman tersebut.
Harganya mahal. Saya membelinya 7 juta rupiah ” Kata Pak Kaji.
Tampaknya, dia diajari oleh Habib ja’far:
” Ji, ji ….. Bebaskan hatimu dari ta’alluq condong dengan tanaman berharga jutaan. Bersihkan hatimu dari suka mobil Fortuner. Bersihkan hatimu dari kicauan Lovebird. Bersihkan hatimu dari akik Bacanmu . Bersihkan hatimu dari wajah Ayu istrimu dan gemesinnya anak-anakmu …bersihkan …bersihkan …bersihkan ....
Imam Nawawi dalam sehari bisa menghadiri 12 majelis untuk belajar dengan guru.
*Imam Nawawi dalam sehari bisa menghadiri 12 majelis untuk belajar dengan guru:*
=============
Ulama dahulu perlu menempuh perjalanan ratusan hingga ribuan kilometer, hanya untuk mendapatkan satu hadits saja. Lihat semangat yang luar biasa dari mereka.
Imam Nawawi dalam sehari bisa menghadiri 12 majelis untuk belajar dengan guru. Ini belum termasuk waktu menulis beliau. Karena beliau punya hasil karya tulis yang begitu banyak yang telah masyhur di tengah-tengah kita seperti kitab Riyadhus Sholihin, Hadits Arba’in An-Nawawiyah dan Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Imam Nawawi punya tulisan tentang hampir semua cabang ilmu dan agama.
#keepsholawat
Sholallahu 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'alaa alii Muhammad
Sumber : https://remajaislam.com/945-cara-sukses-belajar-menurut-imam-syafii.html
Sabtu, 01 September 2018
Kedudukan Ilmu Nasab Dalam Syariat Islam
Kedudukan Ilmu Nasab Dalam Syariat Islam
Oleh : Tubagus Zein AlBakri
Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an Al-Kariim :
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya kamu mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. (1)
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah saw bersabda :
"Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik (bin An-Nadhir) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ah bin Adnan." (2)
Diriwayatkan dari al-Hakim dari Saad :
"Ketika aku bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah aku ini ya Rasulullah? Beliau saw menjawab : Engkau adalah Saad bin Malik bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah. Siapa saja yang mengatakan selain dari pada itu, maka baginya laknat Allah." (3)
Diriwatkan oleh Khalifah bin Khayyat dari Amr bin Murrah al-Juhni :
"Pada suatu hari aku berada di sisi Rasulullah sawa kemudian beliau saw bersabda : Siapa yang berasal dari keturunan Maad hendaklah berdiri. Maka aku berdiri tetapi Rasulullah menyuruhku duduk hingga tiga kali. Lalu aku bertanya : Dari keturuna siapa kami ya Rasulullah ? Beliau saw menjawab : Engkau dari keturunan Qudha'ah bin Malik Humair bin Saba'."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, rasulullah saw bersabda :
"Pelajarilah silsilah nasab kalian agar kalian mengenali hubungan pertalian darah diantara kalian, sebab menyambung pertalian darah dapat menambah kasih sayang dalam keluarga, menambah rizqi, dan dapat menambah usia."
Berkata Umar bin Khattab :
"Pelajarilah silsilah nasab kalian, janganlah seperti kaum Nabat hitam yang jika salah satu di antara mereka ditanya dari mana asalnya, maka ia berkata dari desa ini."
Imam al-Halimi berkata :
"hadits-hadits tersebut menjelaskan tentang arti pertalian nasab seseorang sampai kepada leluhurnya, dan apa yang dikatakan Nabi Muhammad saw tentang nasab tersebut bukanlah suatu kesombongan atau kecongkakan, sebaliknya hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kedudukan dan martabat mereka."
Di lain riwayat dikatakan bahwa itu bukan suatu kesombongan akan tetapi hal itu merupakan isyarat kepada nikmat Allah swt, yaitu sebagai tahadduts bin ni'mah. Sedangkan Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa mempelajari ilmu nasab adalah Fardhu Kifayah.
Pengarang kitab al-Iqdu al-Farid, Abdul al-Rabbih berkata :
"Siapa yang tidak mengenal silsilah nasabnya berarti ia tidak mengenal manusia, maka siapa saja yang tidak mengenal manusia tidak pantas baginya kembali kepada manusia."
Dalam Mukaddimah al-Ansab, al-Sam'ani berkata :
" Dan ilmu silsilah nasab merupakan nikmat yang besar dar Allah swt, yang karena hal itu allah swt memberikan kemuliaan kepada hambanya. Karena dengan ilmu silsilah mempermudah untuk menyatukan nasab-nasab yang terpisah-pisah dalam bentuk qabilah-qabilah (kelompok-kelompok), sehingga dengan ilmu silsilah nasab menjadi sebab yang memudahkan penyatuan tersebut."
(1) Surat al-Hujurat ayat 13.
(2) Seggaf Ali alkaf, Satu Kajian Mengenai Nasab Bani Alawi, hal.41.
(3) Ibid, hal. 42.
(4) Ibid.
SEJARAH AWAL ISLAM DI MADURA
MELACAK SEJARAH AWAL ISLAM DI MADURA
Oleh:
Akhmad Rofii Damyati, MA
Bukan suatu hal yang berlebihan apabila seseorang mengatakan bahwa Islamisasi Madura berjalan sukses sehingga berhasil dan kini tak seorang pun penduduk Madura yang bukan Muslim. Kalau pun ada yang bukan Muslim, maka bisa dipastikan mereka itu pendatang baru. Namun, sejak kapan dan bagaimana semua itu bermula, amat sukar dirajut dengan sempurna. Ibarat benang kusut, sejarah proses Islamisasi Madura ini belum dan tidak terdokumentasi dengan rapi. Mitos dan legenda banyak mewarnai kisah-kisah seputar Islamisasi penduduk pulau garam ini. Beberapa kajian akademis yang hadir belakangan terlalu banyak yang mengangkat Madura dari segi budaya an sich, sehingga terkesan melupakan peran tokoh-tokoh ulama-ulama yang membawanya. Tulisan ini coba mengungkap sejarah Islamisasi Madura pada periode awal, yaitu masa peralihan agama primitif orang Madura kepada Islam.
Agama Primitif Madura
Terletak di seberang timur laut pulau Jawa, pulau Madura dikatakan mulanya hanya terdiri dari gundukan-gundukan tanah yang kadang tampak hijau dari kejauhan tatkala air laut surut namun ‘hilang’ dari pandangan bila air laut pasang. Sebab itulah orang Jawa menyebutnya “Lemah Dhuro” yakni tanah yang tidak sesungguhnya; kadang terlihat dan kadang raib. Bahkan sampai sekarang pun masih ada orang Jawa yang memanggil orang Madura itu “Wong Dhuro”.
Sejarah lisan (legenda) masyarakat Madura mengatakan bahwa nenek moyang penduduk Madura berasal dari pulau Jawa, yaitu Raden Segoro, putra seorang raja dari negara Medangkamulan di dekat gunung Semeru dan Bromo. Meski sukar untuk dipastikan historisitasnya, keberadaan tokoh Raden Segoro dan Kyai Poleng begitu kuat dipercaya oleh masyarakat turun-temurun. Maka tak mengherankan kalau sejarah Madura terkait erat dengan sejarah Jawa. Kerajaan-kerajaan Madura sejatinya merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa, mulai dari Kediri, Singasari, Majapahit dan Mataram. Oleh karena itu, pada zaman pra-Islam, penduduk Madura umumnya beragama Hindu-Buddha, sebagaimana masyarakat jawa pada umumnya.
Namun demikian, sejarawan mengakui sangat kesulitan untuk merekonstruksi masa pengaruh Hindu-Budha di Madura ini karena kelangkaan sumber sejarah. Hanya ada beberapa candi baik di Pamekasan dan Sumenep sebagai bukti bahwa agama Hindu-Budha pernah dianut masyarakat Madura. De Graaf mengakui, untuk merekonstruksi sejarah Jawa, termasuk Madura, terpaksa menggali dari sumber yang keruh. Diperkirakan pengaruh Hindu-Budha yaitu sejak abad ke 9, sejak berkembangnya cerita Raden Segoro, sampai sekitar abad ke 15, yakni setelah mulai berkembangnya masyarakat mengenal Islam lalu memeluknya. Pengaruh kuat Hindu-Budha juga diperkuat dengan adanya catatan bahwa di abad-abad itu secara berturut-turut Madura dibawah pengaruh Kediri (1050-1222), Singosari (1222-1292) dan Majapahit (1294-1572), yang kesemuanya beragama Hindu dan Budha. Sebab itu, istilah “Madura” tidak jarang disebut-sebut dalam tulisan-tulisan orang Hindu sebagaimana dalam Pararaton yang menyebut istilah “Madura Wetan”, Madura bagian timur, yakni Sumenep.
Sampai di sini agama primitif orang Madura bisa dipastikan tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa pra Islam, yaitu Hindu-Budha. Adapun agama selain itu adalah agama baru yang datang kemudian, termasuk Islam dan Kristen. Selanjutnya akan dijabarkan proses Islamisasi Madura.
Islamisasi Madura
Proses Islamisasi Madura boleh dibilang suatu proyek dakwah yang menuai hasil yang luar biasa. Proyek dakwah ini sebenarnya adalah kelanjutan dari mega proyek Islamisasi Nusantara yang sangat massif di antara abad ke-7 hingga abad ke-15 melalui tangan-tangan ikhlas para juru dakwah yang di Jawa dikenal dengan Wali Songo. Madura juga menjadi bagian agenda mega proyek ini.
Namun demikian, sepertinya perlu kerja keras untuk membangun sejarah Islamisasi Madura ini agar tersusun secara utuh. Hal ini karena fakta telah berbaur dengan legenda. Stories, myths and legends are to be foundin abundance, kata Lik Arifin Mansurnoor, dalam penelitiannya tentang peran ulama dalam Islamisasi Madura. Oleh karenanya, bukan suatu yang mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: sejak kapan Islamisasi Madura? Siapa yang pertama kali menyebarkan Islam di Madura? Melalui apa penyebarannya? Bagaimana cara konversi agama sebelumnya ke agama Islam? Setidaknya, ada dua jalur Islamisasi Madura yang bisa dielaborasi, yaitu jalur kerajaan dan jalur para da’i atau yang lebih dikenal para sunan.
Jalur Kerajaan
Jalur kerajaan adalah teori yang menggambarkan bahwa Islamisasi Madura itu melalui para pemimpin dan bangsawan kerajaan. Karena raja-rajanya Islam, maka keturunannya ikut Islam dan diikuti oleh penduduk di bawahnya yang juga memeluk Islam.
Ada beberapa pendapat tentang hal ini. Di bagian timur Madura, yaitu Sumenep menyebutkan Islam sudah masuk ke Sumenep sejak Panembahan Joharsari, penguasa Sumenep dari tahun 1319-1331 M. Panembahan Joharsari mempunyai putra bernama Raden Piturut yang bergelar Panembahan Mandaraka yang juga disinyalir beragama Islam. Bukti keislamannya adalah makamnya sudah berbentuk Islam yang terletak di desa Mandaraga, Keles, Ambunten. Panembahan Mandaraka yang berkuasa sampai 1339 M mempunyai dua putra yaitu Pangeran Natapraja bertahta di Bukabu dari thn 1339-1348 M dan Pangeran Nataningrat yang menggantikan kakaknya dengan karaton Baragung, Guluk-Guluk. Pangeran Nataningrat berputra Agung Rawit yang bergelar Pangeran Sekadiningrat I yang memerintah thn 1358-1366 M dengan keraton di Banasare. Kemudian ia diganti oleh putranya yaitu Temenggung Gajah Pramada yang bergelar Sekadiningrat II yang memerintah thn 1366-1386 M. setelah itu ia diganti oleh cucunya yang bernama Jokotole atau Aria Kudapanole yang bergelar sekadiningrat III.
Namun sepertinya masih terlalu lemah pembuktian keislaman penguasa-penguasa Sumenep di atas karena minimnya bukti empiris yang mendukung. Ditambah lagi, ada yang mengatakan, Jokotole atau Aria Kudapanole yang berkuasa sejak tahun 1415-1460 M baru masuk Islam kemudian melalui Juru Dakwah yang dikenal dengan Sunan Paddusan. Nama Asli sunan ini adalah R. Bindara Dwiryapada anak dari Haji Usman Sunan Manyuram Mandalika, penyebar agama Islam di Lombok. Sunan Paddusan kemudian diambil menantu oleh Jokotole.
Sementara itu, teori kerajaan lainnya adalah di Madura bagian Barat. Menurut beberapa sumber, Prabu Brawijaya ke V, yakni Prabu Kertabumi, yaitu Raja Majapahit yang memerintah antara tahun 1468–1478 M telah memeluk Islam. Dari permaisurinya yang bernama Ratu Dworowati dikarunia putra bernama Raden Ario Lembu Petteng. Ario Lembu Petteng kemudian menjadi Kamituo di Madegan Sampang. Sementara di lain cerita, putra Prabu Kertabumi lainnya bernama Ario Damar (menjadi adipati di Palembang) mempunyai putra Raden Ario Menak Senoyo. Ario Menak Senoyo kemudian meninggalkan Palembang dan menetap di Madura, tepatnya di Parupuh (sekarang Proppo). Kisah Madura bagian Barat ini bermula dari kisah mereka berdua. Mereka masih setia dengan agama primitifnya, yaitu Hindu. Sebagai bukti, di sana terdapat puing-puing candi yang gagal dibangun. Orang menyebutnya Candi Burung (“burung” dalam bahasa Madura bermakna gagal).
Ario Lembu Petteng sudah mulai tertarik dengan agama baru yang waktu demi waktu tambah ramai dianut orang, utamanya di lingkungan bangsawan Majapahit. Lalu kemudian ia memeluk Islam pada tahun 1478 M. setelah menjadi santri dari Sunan Ampel. Sebelumnya ia hanya mengutus bawahannya untuk belajar Islam ke Sunan Ampel. Namun ternyata anak buahnya itu sudah keduluan masuk Islam. Tidak mau ketinggalan, ia kemudian berangkat sendiri ke Ampel Delta dan nyantri kepada Sunan Ampel. Akhirnya ia memeluk Islam dan tidak sempat pulang lagi ke Sampang karena keburu meninggal dan dimakamkan di Ampel. Namun, menurut cerita lain, di masanya ia menetap di Sampang inilah Sunan Giri mengutus Syekh Syarif, yang juga dikenal dengan Khalifa Husein, untuk membantunya untuk merangkul para pengikut baru di pulau tersebut.
Lembu Petteng meninggalkan dua putra dan satu putri. Mereka adalah Raden Ario Manger, Raden Ario Mengo dan Retno Dewi. Lalu kemudian Raden Ario Manger menggantikan bapaknya sebagai Kamituo di Madegan Sampang. Ia mempunyai tiga orang putra, yaitu Kyai Ario Langgar, Kyai Ario Panengah, Kyai Ario Pratikel. Namun, tidak semua keturunan Lembu Petteng memeluk Islam. Tercatat Ario Mengo tetap menganut Budha dan oleh karenanya masyarakatnya masih kuat menganut agama ini. Ario Mengo lah yang membuka hutan di sebelah timur dari kerajaan bapaknya, yaitu di daerah Pamelingan (sekarang Pamekasan). Dialah yang memerintah pertama kali di sana dengan gelar Kyai Wonorono di mana tempat keratonnya berada di daerah Lawangan Daya sekarang.
Dua keturunan Prabu Kertabumi Barawijaya V ini kemudian menjadi satu kembali pada perkawinan antara Raden Ario Pojok dari garis keturunan Raden Ario Damar dengan Nyai Budho dari garis keturunan Raden Ario Lembu Petteng. Dari perkawinannya ini dikarunia lima anak yang salah satunya adalah bernama Kyai Demang yang kemudian memimpin Plakaran Arosbaya, Bangkalan. Kyai Demang kawin dengan Nyi Sumekar mendirikan Kraton di kota Anyar. Dari perkawinannya itu kemudian mereka dikarunia lima orang putra, yaitu: (1) Kyai Adipati Pramono di Madegan Sampang; (2) Kyai Pratolo disebut juga Pangeran Parambusan; (3) Kyai Pratali atau disebut juga Pangeran Pesapen; (4) Pangeran Paningkan disebut juga dengan nama Pangeran Suka Sudo; dan (5) Kyai Pragalba yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Plakaran karena bertahta di Plakaran.
Menurut catatan sejarah, penguasa Plakaran ini masih enggan memeluk Islam, walaupun Islam sudah menjadi buah bibir sebagian besar masyarakatnya, termasuk putranya sendiri Raden Pratanu. Namun demikian, ia tidak melarang putranya belajar ilmu Islam kepada Sunan Kudus. Oleh karena itu, agama Islam masih menemukan rintangan berkembang di Madura bagian Barat ini karena keengganan Raden Pragalbo untuk memeluk Islam. Di penghujung usianya, Raden Pratanu membujuk bapaknya agar mengucapkan dua kalimat syahadat. Saat itulah Raden Pragalbo wafat setelah Beberapa saat sebelumnya menganggukkan kepala tanda setuju dengan bimbingan anaknya. Mengangguk dalam bahasa Madura disebut onggu’. Sejak itulah, menurut legenda ini, Raden Pragalbo kemudian lebih dikenal dengan Pengeran Islam Onggu’.
Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Dhuwur ini adalah pendiri kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, sekitar 20 km dari kota Bangkalan ke arah utara. Diperkirakan, Panembahan Pratanu dinobatkan sebagai raja pada tahun 1531 setelah ayahnya, Raja Pragalbo, meninggal dunia. Sebagaimana disebutkan di atas, walaupun sang Bapak masih enggan masuk Islam, namun ketika Pratanu masih dalam masa mudanya ia pernah bermimpi didatangi orang yang memintanya agar memeluk agama Islam. Mimpinya disampaikannya kepada sang ayah, lalu sang ayah mengirim Patih Empu Bageno untuk mempelajari Islam di Kudus. Tidak tanggung-tanggung, sang Patih belajar Islam sungguh-sungguh sampai akhirnya memeluk agama ini dan kembali ke Arosbaya. Dari dialah Pratanu mengenal Islam dan iapun masuk Islam. Diperkirakan, setelah keislaman sang pangeran, ia bersama Empu Bageno kemudian menyebarkan agama baru itu ke seluruh warga Arosbaya. Dilihat dari masanya, di mana ia diperkirakan lahir tahun 1531 dan meninggal tahun 1592, Panembahan Pratanu termasuk raja pertama di Madura Barat ini yang masuk Islam dan menyebarkannya.
Di pamekasan, Raja yang tercatat sebagai penganut Islam pertama adalah Panembahan Ronggosukowati. Menurut catatan sejarah pamekasan, di masa muda Ronggosukowati pernah belajar kepada Sunan Giri atau Raden Paku. Oleh karena itu, bisa dipastikan Ronggosukowati muda ini sudah Muslim. Dialah yang kemudian menggantikan Bapaknya, yaitu Panembahan Bonorogo, karena usia yang sudah lanjut. Namun, kepulangan Ronggosukowati ke Pamekasan tidaklah sendirian. Konon Sunan Giri menyertakan muballigh bersamanya untuk menyiarkan Islam di Pamekasan yang bernama Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bil Faqih. Bersama muballigh itulah Ronggosukowati mengislamkan Pamekasan.
Sejauh penulis telusuri, pada periode awal, memang Madura berada di bawah kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Itu diperkirakan antara abad ke 10-15. Di antara masa-masa ini aroma dakwah Islam sudah masuk ke Jawa yang mengakibatkan beberapa orang masuk Islam, utamanya daerah-daerah pesisir pantai utara jawa. Akibatnya, Madura juga menjadi bagian terpenting dari proses Islamisasi ini melalui islamnya kalangan bangsawan di kala itu. Sehingga, sekitar abad ke 16 dan seterusnya, semua kerajaan dan begitu juga masyarakatnya sudah Islam, utamanya setelah penguasaan Mataram atas kerajaan-kerajaan Madura antara abad ke 16-17.
Peran Sunan-Sunan di Madura
Islamisasi Jawa oleh para Sunan sangat luas imbasnya, termasuk Madura menjadi obyek proyek besar mereka. Sunan yang kemudian dikenal dengan Walisongo memang tidak secara langsung menyebarkan Islam ke pulau ini. Namun demikian, pengaruh agama baru yang mereka bawa betul-betul dirasakan hingga ke pelosok-pelosok kampung di Madura. Islam betul-betul menjadi tren di masyarakat luas waktu itu.
Sapudi Kepulauan Islam Pertama di Sumenep
Tersebutlah sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumenep yang bernama Sapudi. Konon, kata ini, “Sapudi”, berasal dari kata-kata Sepuh Dhewe (bahasa Jawa) yang bermakna “yang paling tua sendiri”. Menurut kisah tutur madura, dikatakan tua sendiri karena dianggap Islam masuk ke tempat ini paling awal dibandingkan di tempat-tempat lain di Madura pada umumnya dan di Sumenep pada khususnya.
Perlu diketahui, bahwa Madura bagian Timur ini semarak lebih awal dari bagian Baratnya berkat kemajuan-kemajuan yang dicapai Aria Wiraraja setelah menjadi Adipati di sana pada abad ke 13. Sementara transportasi waktu itu sangat bergantung kepada transportasi laut. Oleh karena itu, minat para pedagang akan jatuh kepada lokasi-lokasi ramai di mana hal itu lebih memungkinkan mereka untuk berniaga. Jalur pesisir utara jawa adalah pilihan yang sudah biasa dilalui armada pedagang internasional hingga ke perairan Lombok. Tak terkecuali pedagang Arab yang juga sampai ke Madura bagian Timur ini. Sudah menjadi lumrah para penyeru dakwah menyertai perjalanan para peniaga dari Arab ini.
Berdasarkan survei penulis terhadap beberapa literatur, tercatatlah seorang penyeru dakwah bernama Sayyid Ali Murtadha yang menuju arah Timur dan mendarat di sebuah pulau yang dikenal sekarang dengan Sepudi. Di sanalah dia menyiarkan agama baru, Islam. Dialah Sunan Lembayung Fadal. Orang menyebutnya dengan Rato Pandita. Kuburannya saat ini disebut Asta Nyamplong.
Sunan Lembayung Fadal mempunyai empat keturunan. Pertama, bernama Haji Usman yang dikenal dengan Sunan Manyuram Mandalika. Ia menyiarkan Islam di Lombok dan mempunyai putra bernama Raden Bindara Dwiryapada yang sampai sekarang dikenal dengan nama Sunan Paddusan, menyebarkan Islam di Sumenep. Sunan Paddusan menjadi menantu Jokotole. Jokotole masuk Islam dari tangannya.
Kedua, Usman Haji yang dikenal dengan Sunan Ngudung (Sunan Andung). Beliau mempunyai dua anak, putra dan putri, yaitu: Syd. Jakfar shodik (Sunan Kudus) dan Siti Sujinah (istri Sunan Muria).
Ketiga, Tumenggung Pulangjiwa atau juga dikenal dengan Panembahan Blingi. Ia kemudian dikarunia dua anak, yaitu Adipoday dan Adirasa. Keempat, Nyai Ageng Tanda. Ia kemudian menjadi istri Khalifah Husain atau Sunan Kertayasa di Sampang.
Dikabarkan, Sunan Lembyung Fadal sezaman dengan Panembahan Joharsari yang berkuasa antara tahun 1319-1331 M di Sumenep. Dengan demikian, Sunan ini termasuk awal, lebih awal dari Walisongo yang memasifkan gerakan dakwahnya pada abad ke 15-16 M. Ini sangat dimungkinkan karena sebenarnya di Surabaya dan sekitarnya, sejak sebelum abad ke 11 diduga kuat sudah banyak komunitas Muslim. Sebagai salah satu buktinya adalah adanya makam seorang muslimah di Gresik yang bernama Fatimah binti Maimun yang wafat tahun 1082 M. Oleh karena itu, bisa diduga bahwa Sunan Lembayung Fadal ini hanyalah bagian kecil dari rombongan para penyiar yang sudah marak “berkeliaran” di Jawa dan sekitarnya untuk menyiarkan Islam.
Jika teori ini benar, maka isu bahwa legenda keislaman Adipoday (Wirakrama) yang disinyalir cucu dari Sunan Lembayung Fadal dan istrinya yang dalam legenda dikenal Potre Koneng semestinya juga Islam. Namun, susah membuktikan keislaman mereka karena sangat minimnya data pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab hampir semua kisah tentang Adipoday dan Potre Koneng diselimuti kabut fiktif yang amat sulit membuktikan historisitasnya. Justru, fakta yang lebih terang menyatakan bahwa anak dari pasangan Adipoday dan Potre Koneng yaitu Jokotole baru masuk Islam kemudian ketika Sunan Paddusan atau R. Bindara Dwiryapada yang menyiarkan Islam di Sumenep dan akhirnya diambil menantu oleh Jokotole. Oleh karena itu, bisa jadi kisah Adipoday dan Potre Koneng hanya disambung-sambungkan dengan kisah Sapudi sehingga seakan satu garis keturunan. Atau bisa saja kisah Sapudi itu juga terlalu dibumbu-bumbui sehingga terkesan Islamnya Raja Sumenep lebih awal masuknnya di bandingkan raja-raja Madura lainnya.
Sunan Ampel dan Cina Muslim di Sumenep
Dakwah yang disiarkan oleh Sunan Ampel sudah berpengaruh luas hingga ke pelosok Madura. Berita tentang adanya agama baru yang memberi harapan sudah sekian jauh menggema di sanubari masyarakat. Secara sukarela satu persatu masuk Islam. Tak terdapat suatu paksaan dalam konversi agama ini. Namun magnet Islam sudah terlalu kuat di hati orang-orang Hindu maupun Budha karena dalam Islam terdapat kekuatan cara pandang yang canggih dan baru bagi mereka.
Memang, jejak-jejak Sunan Ampel tidak terlalu terekam di Madura ini secara jelas. Namun dipastikan aroma dakwahnya senantiasa memancing keingintahuan. Salah satunya dalam kisah Aria Lembu Petteng yang merupakan putra dari Prabu Kertabumi, Raja Majapahit Brawijaya ke V, yang dikirim ke Sampang untuk menjadi Kamituo. Karena tidak tega mendengar rintihan batinnya, ia pun berangkat ke Ampel Delta belajar Islam dan menjadi Muslim kepada Sunan Ampel dan akhirnya meninggal di Ampel. Sayangnya tidak sempat kembali lagi ke Sampang untuk menyiarkan Islam di sana. Sehingga anak-anaknya masih juga dengan agama primitifnya yaitu Hindu. Baru pada masa cucu-cunya ketika kabar Islam sudah semakin santer di masyarakat sudah banyak yang berpindah agama.
Di Sumenep bagian utara, tepatnya di Kecamatan Pasongsongan, terdapat kisah menarik mengenai sebuah perkampungan yang didiami orang-orang Cina Muslim. Mereka mengklaim sebagai keturunan Cina yang masih termasuk santri Sunan Ampel di Ampel Surabaya. Konon mereka mendiami Madura sejak zaman maraknya penyebaran dakwah di jawa melalui tangan-tangan para sunan, utamanya Sunan Ampel di Surabaya. Tercatat, Sumenep sebagai lokasi paling timur Madura yang lebih awal mengalami kemajuan peradaban yang ternyata mempunyai jejak-jejak historis masyarakat Cina yang sudah beragama Islam.
Tercatat bahwa interaksi orang-orang Cina dengan Madura bagian timur ini diperkirakan sejak tentara Mongol dikalahkan Majapahit pada abad ke 13 dimana Aria Wiraraja punya andil besar dalam strategi perang Majapahit ketika itu. Konon, orang-orang Cina sisa-sisa prajurit Tartar itu terperangkap siasat yang dilancarkan oleh Aria Wiraraja sehingga mereka tidak bisa kembali lagi ke negara asalnya. Sumenep kembali berbenturan dengan pasukan Cina ketika terjadi perang dengan pasukan Jokotole pimpinan Dempo Awang di abad ke 15. Orang-orang Cina ini semakin banyak di Madura utamanya di Sumenep ketika VOC sudah mulai menembus perkampungan Madura sejak abad ke 17-19, dimana orang-orang Cina ikut serta meramaikan perhelatan ekonomi di pulau garam ini.
Di mana-mana, orang-orang Cina biasanya beragama Konghucu atau Budha. Namun, belakangan banyak ditemukan agama mereka yang sudah berpindah ke Katolik maupun protestan karena alasan-alasan strategis pragmatis, seperti keamanan dan ketenteraman, utamanya dalam berbisnis. Di mana-mana orang-orang Cina juga dimusuhi oleh penduduk setempat termasuk penduduk Islam di Madura karena perbedaan agama. Oleh karena itu, sangat wajar apabila sentra orang-orang Cina itu lebih memilih bertahan di perkotaan karena akan lebih aman dan lebih mudah melakukan aktivitas ekonomi. Dengan kegigihan dalam berniaga, hampir di seluruh perkotaan Madura orang-orang Cina menguasai ekonomi dan pasar strategis yang berpusat di kota.
Fakta itu setidaknya bisa dipahami secara jamak. Namun, suatu hal yang cukup unik, bahwa di masyarakat Cina di Kecamatan Pasongsongan ini sudah Muslim, hidup di perkampulan muslim, berbaur dengan masyarakat Muslim asli Madura. Sebuah pertanyaan mungkin akan muncul, mengapa orang-orang Cina bisa hidup di kampung yang jauh dari perkotaan? Lalu mengapa juga mereka beragama Islam, padahal pada umumnya orang-orang Cina beragama Konghucu?
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Moh. Ali Al-Humaidi menunjukkan bahwa orang-orang Cina memang selalu terdiskriminasi secara ras. Dengan begitu, secara pragmatis apabila ingin bertahan di daerah-daerah pedalaman, maka mau tidak mau harus menjalani akulturasi dengan budaya dan agama setempat. Sehingga bisa saja menjadi alasan perpindahan agama kepada Islam adalah karena alasan pragmatis. Namun demikian, hasil observasi Ali Al-Humaidi ini mencatat, bahwa orang-orang Cina di kampung ini sudah Muslim dari nenek moyang mereka.
Diceritakan, nenek moyang mereka masih bermarga King, sehingga nama depan mereka memakai “K”, merupakan santri dari Sunan Ampel. Ia bernama Kingpangkeng yang makamnya saat ini di Ampel Surabaya. Ia diambil menantu oleh kerajaan Sriwijaya yang kemudian mempunyai dua orang putri, yaitu Teisi dan Caul. Caul dinikahkan dengan sepupunya yang bernama Biangseng. Akhirnya Caul meninggal dan kemudian Biangseng dinikahkan dengan adiknya yaitu Teisi. Dari pasangan Biangseng dan Tiesi kemudian dikaruniai anak bernama Cabun. Setelah meninggal, Biangseng oleh Sriwijaya dikuburkan di Ampel dan diberi gelar Tumenggung Ongkowijoyo. Orang-orang Pasongsongan mengklaim bahwa Ongkowijoyo yang berguru langsung ke Sunan Ampel itu adalah nenek moyang mereka. Mereka menyebutnya dengan “Pujuk Ampel”.
Menurut hasil observasi ini, proses migrasi etnis Cina ke Sumenep diperkirakan pada abad ke 14. Sebagian keturunan Biangseng kemudian diambil menantu oleh kerjaan Sumenep di masanya Aria Wiraraja karena Biangseng sendiri adalah dari kalangan Bangsawan Cina sehingga mudah diterima oleh keluarga kerajaan Sumenep. Orang-orang Cina keturunan di kampung ini meyakinkan bahwa, nenek moyang mereka ini merupakan murid langsung dari Sunan Ampel di Surabaya. Tidak hanya itu, disebutkan juga bahwa ketika menetap di Pasongosngan, di sana juga terdapat Murid Sunan Ampel yang lain yang bernama Kyai Ali Akbar yang kemungkinan besar dikirim untuk menyebarkan dakwah Islam dan sesepuh Cina itu menambah ilmu keislamannya kepadanya. Bersama ulama ini Islam disebarkan di daerah Pesisir utara Madura.
Peran Sunan Kudus di Pamekasan
Pamelingan adalah nama kerajaan kecil sebelum nama Pamekasan. Kerajaan sebelah Barat Sumenep ini mempunyai Raja yang dikenal sangat bijak, negarawan dan ahli strategi. Ia dikenal dengan Panembahan Ronggosukowati. Keislamannya sejak ia masih remaja. Tercatat bahwa masa remajanya Ronggosukowati pernah Nyantri kepada Sunan Giri atau yang dikenal dengan Raden Paku. Setelah dewasa dan ilmu yang dia dapatkan terasa cukup maka segera kembali ke Pamelingan untuk menggantikan posisi ayahandanya yang sudah usia lanjut. Namun, sebagaimana disebutkan di atas, kepulangannya tidak sendirian. Sunan Giri berinisiatif mengirimkan juru dakwah yang nantinya akan mendampingi Ronggosukowati menyiarkan Islam kepada masyarakat Pamelingan. Juru dakwah itu kemudian dikenal dengan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bil Faqih.
Tentu saja Sunan Giri sangat mengerti proses Islamisasi di Pamekasan akan lebih maksimal jika dibantu oleh seorang “misionaris” (da’i) yang mempuni. Sayyid Abdurrahman sebagai utusan Sunan Giri memainkan peranan yang penting di sini. Tentu saja dengan kemahirannya rakyat Pamekasan dengan cepat menerima dakwah yang dikembangkannya. Maka wajar apabila keberpihakan Ronggosukowati terhadap dakwah itu sangat dibantu oleh Sayyid Abdurrahman. Sang juru dakwah ini akhirnya dikawinkan dengan keluarga kraton agar tidak meninggalkan Pamekasan nantinya.
Sebagai keturunan Arab, dialah yang memelopori pemukim Arab di Pamekasan ini. Kemudian keturunan-keturunannya banyak melakukan perkawinan dengan penduduk setempat sehingga mempercepat proses akulturasi dan mempermudah penyebaran Islam di kalangan penduduk. Bahkan, pembauran besar-besaran antara orang-orang Arab dengan masyarakat di Pamekasan khususnya dan di Madura pada umumnya terjadi pada abad-abad berikutnya, khususnya setelah terusan Suez mulai dibuka pada tahun 1869, di mana waktu itu para pemuka-pemuka Islam di Nusantara, termasuk Madura memperoleh kemudahan belajar langsung ke negara-negara Arab, khususnya di Mekkah al-Mukarramah. Demikian juga, waktu itu arus orang-orang Arab dari Hadramaut yang tentunya dengan para da’inya semakin banyak masuk ke Indonesia. Tidak terlupakan Madura menjadi salah satu tujuan mereka. Bahkan, pemuka-pemuka dari Arab itu menetap di Pamekasan dan menjadi penyiar agama Islam yang terkemuka.
Kesimpulan
Walaupun secara empiris bukti sejarah tidak terlalu terang dalam proses Islamisasi Madura periode awal ini, yaitu sebelum Madura ditaklukkan oleh Sultan Agung Mataram pada abad 16 ke atas, namun sejauh ini bisa disimpulkan bahwa orang-orang Madura bermigrasi dari agama primitif mereka, yaitu Hindu-Budha, kepada agama yang sama sekali baru dan mencerahkan, yaitu Islam, dengan cara yang damai tanpa pertumpahan darah setetes pun. Tentu saja itu karena daya magnet agama fitrah itu terlalu kuat. Itu menandakan ada kebutuhan sanubari yang mendalam yang belum tersalurkan sebelumnya.
Para penyiar Islam datang ke Madura pada waktu yang tepat. Yakni ketika kemapanan Majapahit dengan Hindu-Budanya sudah sedemikian lemah waktu itu, sehingga terasa perlu mencari alternatif-alternatif, dan keluarga-keluarga bangsawan kerajaan dibiarkan saja dan tidak dihalang-halangi bermigrasi ke agama lain. Seiring dengan itu, pesona agama Islam memang memikat semua orang tawaran worldview yang menakjubkan.
Hilir mudik para da’i dari Hadramaut maupun dari negara-negara Arab lainnya menandakan ada usaha Islamisasi yang serius dan terencana dari mereka. Prosesnya pun tergolong unik karena mereka datang bukan dengan pedang. Tapi mereka datang dengan agama dan peradaban yang mendamaikan dan menenteramkan.
Oleh karena itu, tak jarang para da’i diterima menjadi menantu oleh raja-raja. Proses seperti ini menjadi salah satu strategi penting dalam Islamisasi, termasuk di Madura, seperti kisah Sunan Paddusan yang menjadi menantu Jokotole di Sumenep dan kisah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bil Faqih yang menjadi akhirnya menjadi bagian dari keluarga Ronggosukowati di Pamekasan.
Dilihat dari pola penyebarannya, sangat layak diduga bahwa Islam disebarkan dengan pengiriman juru dakwah ke berbagai tempat, utamanya yang sudah ramai, dengan berbagai media dan cara, mulai dari media perniagaan, silang budaya, dan tentunya tebar pesona worldview Islam. Tentu agama baru yang disiarkan mesti mempunyai keunggulan-keunggulan lebih dari agama primitif masyarakat, mulai cara hidup, tingkah laku, pola interaksi, pola pikir, bahkan dari sisi kecanggihan teknologi. Semua itu agama baru yang mereka bawa ini ternyata memberikan harapan.
Namun demikian, Islamisasi periode awal ini masih menyisakan pertanyaan, apakah seratus persen penduduk Madura berhasil diislamkan? Tentu saja ini perlu kajian lebih detail dan mendalam lagi. Namun, patut diduga, bahwa periode awal ini tidak seluruhnya bermigrasi ke agama Islam. Oleh karena itu, sangat tepat Sultan Agung Mataram menginisiatif menguasai pulau Garam ini agar yang beragama primitif tak tersisa lagi. Namun sayangnya, sumber-sumber sejarah didominasi oleh rujukan penjajah Belanda, sehingga tergambarkan bahwa Mataram bengis dan brutal di Madura. Mataram datang dengan haus darah dan kekuasaan. Wallahua’lam, hanya Allah yang tahu semua itu. Namun yang pasti diketahui semuanya bahwa seratus persen orang Madura berislam sebagai hasil dari usaha gemilang Islamisasi oleh para da’i-da’i cemerlang.
Bibliografi
Abdurachman, Sejara Madura, selayang Pandang (Sumenep: tanpa penerbit, 1971).
Aminuddin Kasdi, Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003).
Aswab Mahasin, Ruh Islam dalam Budaya Bangsa (Jakarta, Yayasan Festival Istiqlal, 1996).
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1999).
Bambang Hartono Hs, Sejarah Pamekasan: Panembahan Ronggosukowati Raja Islam Pertama di Kota Pamekasan-Madura (Sumenep: Nur Cahaya Gusti, 2001).
Bernard H. M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2008).
H.J De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Espansi Sultan Agung (Jakarta: Pustaka Grafiti, 1990).
____________, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati (Jakarta Utara: Pustaka Grafitipers, 1987).
Huub de Jonge, Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, perkembangan Ekonomi, dan Islam, Suatu Studi Antropologi Ekonomi (Jakarta: Gramedia, 1989).
Lik Arifin Mansrnoor, Islam in an Indonesian World Ulama of Madura (Yogyakarta: Gadjah mada University Press, 1990).
Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera, 1999).
Muh. Ali Al-Humaidi, Cina Dalam Bingkai Islam Pesisir, (Pamekasan: STAIN Pamekasan, 2010).
Pamekasan dalam Sejarah (Pamekasan: Kantor Arsip Daerah Kabupaten Pamekasan, 2003).
Slamet Mestu, Pemakaman Raja-Raja Bangkalan: Makam Aer Mata (Bangkalan: Kasi Kesenian, Pengemb. Bahasa dan Budaya, Dinas P dan K, 2003).
Sejarah Sumenep (Sumenep: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumenep, 2003)
Sejarah Sumenep (Sumenep: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, 2003).
Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Syed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972).
Tiar Anwar Bachtiar, dkk. Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru, (Bogor: Aiems, 2002).
Thomas Stamford Raffles, The History of Java (Yogyakarta: Narasi, 2008).
Advertisements
Report this ad
Share this:
TwitterFacebook74
September 10, 2012Leave a Reply
Advertisements
Report this ad
« PreviousNext »
Advertisements
Report this ad
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Comment
Name*
Email*
Website
Notify me of new comments via email.
Advertisements
Report this ad
Advertisements
Report this ad
View Full Site
Create a free website or blog at WordPress.com.
Langganan:
Postingan (Atom)








