ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 26 April 2017

Pentingnya Berthoriqoh / Tarekat

Pentingnya BerThoriqoh/ Tarekat:
==========
Dalam kitab Mizan Al Kubro yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rony ada hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثمائة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الاّ نجا .( ميزان الكبرى للامام الشعرني, جز:1/30)

“Sesungguhnya syari'atku datang dengan membawa 360 thoriqoh (metoda pendekatan pada Alloh), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Kubro: Juz. 1 hlm. 30).

Dalam riwayat hadits yang lain dinyatakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني)

“Sesungguhnya syari'atku datang membawa 313 thoriqoh (metode pendekatan pada Alloh), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani).

Semoga Bermanfa'at...👍🏻

Senin, 24 April 2017

Silsilah Emas Nasab Gus Dur (KH. Abdul Rachman Wahid)

Rangkuman Berbagai Sumber :
#SILSILAH NASAB EMAS GUS DUR (KH.Abdurahman Wahid)
Nasab Beliau:

*14. AL-SAYYID JUMADIL KUBRO.
*13. PRABU SRI MAKURUNG HANDAYANINGRAT/ MUHAMMAD (KI AGENG PENGGING I/BRE PAJANG)
*12. PANGERAN KEBO KENONGO(KI AGENG PENGGING II)
*11. SULTAN HADIWIJAYA PAJANG(JOKO TINGKIR)
*10. PANGERAN BENOWO I(ADIPATI PAJANG I)
*9. PANEMBAHAN MAS ADIPATI ING PAJANG II
*8. PANGERAN SAMHUD BAGDA/MBAH SAMBU LASEM
*7. PANGERAN ABDUL HALIM
*6. PANGERAN ABDUL WAHID
*5. RADEN KYAI ABU SARWAN
"4. RADEN KH. ASY'ARI
*3. RADEN KH. HASYIM ASY'ARI (PENDIRI NU)
*2. RADEN KH. ABDUL WAHID HASYIM
*1. RADEN GUS DUR (KH.ABDURAHMAN WAHID).
================
Versi wangsa :
#GUSDUR (KH.Abdurahman wahid)
Nasab Beliau ;
*RADEN SOTOR(BRE TUMAPEL)
*PRABU WIKRAMAWARDANA(BRE MATARAM)
*PRABU BRAWIJAYA II(KERTAWIJAYA/BRE TUMAPEL)
*PRABU BRAWIJAYA III(PURWAWISESA/BRE TUMAPEL) BELIAU AYAH MERTUA DARI SAYYID HAMZAH/PANGERAN TUMAPEL BIN SUNAN AMPEL.
*PRABU SRI MAKURUNG HANDAYANINGRAT(KI AGENG PENGGING I/BRE PAJANG)
*PANGERAN KEBO KENONGO(KI AGENG PENGGING II)
*SULTAN HADIWIJAYA PAJANG(JOKO TINGKIR)
*PANGERAN BENOWO I(ADIPATI PAJANG I)
*PANEMBAHAN MAS ADIPATI ING PAJANG II
*PANGERAN SAMHUD BAGDA/MBAH SAMBU LASEM
*PANGERAN ABDUL HALIM
*PANGERAN ABDUL WAHID
*RADEN KYAI ABU SARWAN
"RADEN KH. ASY'ARI
*RADEN KH. HASYIM ASY'ARI (PENDIRI NU)
*RADEN KH. ABDUL WAHID HASYIM
*RADEN GUS DUR (KH.ABDURAHMAN WAHID)
==============
Versi Gus Ishomuddin ttg silsilah Kakeknya sendiri HadlrotusSyeikh KH.Hasyim Asy'ary:
Abdul Rohman (Gus Dur) bin Abdul Wahid Bin M.Hasyim Bin Asy'ary Bin Abdul Wahid Bin Abdul Halim Pangeran Benowo Bin Abdul Rohman Joko Tingkir Sultan Hadiwijaya Bin Abdulloh Bin Abdul Aziz Bin Abdul Fattah Bin Mawlana Ishaq

=====
Versi yg lainnya:

Bahwa Kalo Mbah Sambu (Abdul Rohman) bin M.Hasyim bin Abdul Rohman Bin Abdulloh Bin Umar Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Abu Bakar BaSyaiban Bin M.Asadulloh Bin Hasan Al Turoby dst..

Silsilan Emas Nasab Sunan Kudus

SUNAN KUDUS

Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Sholehah yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti P wirabraja lasem + Nyai Ageng Malakah binti Sunan Ampel.

Nasab Sunan Kudus

Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim asmoro(Ibrahim Zainuddin Al-Akbar) bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah

Sunan Kudus mempunyai 2 istri.Salah satu istrinya yang kemudian menurunkan seorang putra bernama Amir Hasan adalah putri Sunan Bonang yang bernama Dewi Ruhil. Sementara yang istri kedua adalah anak dari Pecattandha Terung Majapahit,

 Dari istri kedua ini, Sunan Kudus mendapatkan 8 orang anak. Delapan anak itu bernama Ratu Pakojo, Nyi Ageng Pembayun, Panembahan Karimun, Panembahan Kodhi, Panembahan Mekaos Honggokusumo, Panembahan Karimun, Panembahan Joko, dan Ratu Prodobinabar.

Sabtu, 22 April 2017

SERIBU TAHUN SEBELUM LAHIR NABI SAW, HAMBA ALLOH INI SUDAH BERIMAN

Oleh: Al-Fadhil Ustaz Nazrul Nasir Al-Azhari حفظه الله (Syaikhul Ruwaq Jawi, Mesir).

KISAH CINTA TERHADAP NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم  1000 TAHUN SEBELUM KELAHIRANNYA

Satu kisah di zaman dahulu yakni ada seorang Raja yang berasal daripada Yaman... Gelaran bagi Raja Pertama Yaman pada zaman dahulu disebut Tubba'... Pada suatu hari, Tubba' ini keluar di dalam satu perjalanan untuk bermusafir... Di dalam perjalanannya, beliau telah singgah di beberapa buah kampung & di setiap kampung itu, beliau akan pilih 10 orang Ulama' untuk bersama-samanya di dalam perjalanan beliau... Sehinggalah beliau mengumpulkan hampir 4 ribu orang Ulama' bersama dengan bala tenteranya yang sangat ramai... Lebih kurang 113 ribu orang tentera pejalan kaki & 133 ribu orang bala tentera yang berkuda... Setelah sampai di setiap negeri, kesemua negeri itu akan menyambut Tubba' dengan penuh kemeriahan & penuh takzim ketika menyambut kedatangan Tubba'... Tetapi apabila Tubba' sampai di Kota Mekah, ahli² Mekah langsung tidak menyambut kedatangan Tubba'... Penduduk di Mekah buat tak tau saja kepada Tubba', maka Tubba' menjadi marah lalu berkata, "Kenapakah dengan penduduk disini? Apa yang tidak kena dengan mereka? Semua negeri yang lain menyambut beta, tetapi negeri ini langsung tidak menyambut kedatangan beta... Siapakah yang duduk dalam negeri ini?"

Maka akhirnya, menteri kepada Tubba' ini masuk ke dalam Mekah, kemudian dia datang kembali untuk melaporkan kepada Tubba', dia kata, "Wahai Tuanku, penduduk yang ada di dalam negeri ini adalah orang² Arab yang mana mereka ini adalah 'Ummi yakni tidak pandai membaca & tidak pandai menulis tetapi mereka ada sebuah bangunan yang sangat mereka agungkan yang bernama Ka'abah... Dan mereka ini menyembah berhala..." Tubba' pada waktu itu berniat di dalam hatinya tanpa diketahui oleh para menterinya, para tenteranya & para Ulama' yang mengikutinya... Apa yang Tubba' ini niatkan? Dia berniat di dalam hatinya untuk meruntuhkan Ka'abah, dia ingin membunuh penduduk Mekah & dia akan tangkap wanita² dan kanak² di Mekah untuk dijadikan hamba... Dengan niat sebegitu rupa yang diniatkan di dalam hatinya, Allah Ta'ala memberi satu penyakit yakni sakit kepala yang amat teruk kepadanya sehinggakan keluar darah & nanah yang sangat busuk baunya daripada hidungnya, matanya & telinganya... Hatta para Tabib @ Doktor yang sangat handal kepakarannya yang ikut bersamanya pun tak mampu nak mengubatinya... Maka para Tabib berkata kepada Tubba' ini, "Wahai Tuanku, kami ini hanya mampu mengubati urusan dunia, urusan kami ini adalah urusan dunia, namun musibah yang Tuanku kena ini adalah urusan yang diturunkan daripada Tuhan, maka kami tak mampu untuk buat apa²..."

Setelah itu, Tubba' pun duduk bersendirian & kemudiannya datanglah salah seorang Ulama' dari kalangan 4 ribu orang Ulama' yang bersamanya... Ada seorang Ulama' ini mengetahui akan ubat bagi penyakit Tubba' ini & datanglah Ulama' ini menghadap Tubba' lalu berkata, "Wahai Tuanku, saya mahu Tuanku memberitahu kepada saya bagaimana Tuanku boleh kena penyakit ini & apakah yang Tuanku telah niatkan di dalam hati Tuanku sewaktu Tuanku berada di Mekah?" Tubba' ini menjawab, "Beta tidak niatkan apa² pun, penyakit ini datang dengan sendirinya..." Ulama' ini berkata lagi, "Tidak Tuanku, penyakit sebegini tidak akan datang kepada Tuanku melainkan Tuanku telah niatkan sesuatu yang buruk & tidak kena dalam hati Tuanku kepada negeri yang pernah disinggahi oleh Tuanku sebelum ini..." Akhirnya Tubba' ini membuka cerita, "Ya benar, beta ada niatkan sesuatu yang tidak elok, setelah mana beta melihat ahli² Mekah tidak menyambut beta, maka beta berniat untuk membunuh ahli² Mekah, berniat untuk meruntuhkan Ka'abah, maka dengan sebab niat beta itulah, Tuhan menimpakan penyakit ini terhadap beta..."

Maka kata Ulama' ini, "Wahai Tuanku, Tuanku kena bertaubat, dengan taubat itulah yang mampu menyembuhkan penyakit Tuanku ini, itulah sahaja pengubatnya..." Lalu Tubba' ini terus bertaubat pada waktu itu juga hatta sebelum Ulama' itu keluar daripada kamar Tubba', Allah Ta'ala menyembuhkan penyakit Tubba' ini... MasyaAllah, maka sembuhlah penyakitnya itu dalam sekelip mata hanya dengan Tubba' ini bertaubat pada waktu tersebut... Ketika meneruskan perjalanan, mereka sampai pada satu tempat yang bernama Yathrib... Yathrib inilah tempat dimana sekarang ini iaitulah Madinah Al-Munawwarah, tempat bersemadinya jasad yang mulia yakni Sayyiduna Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم... Setelah mana sampai di Yathrib, waktu ketika mana Tubba' & bala tenteranya ingin meneruskan perjalanan, ada 400 orang Ulama' daripada kalangan 4 ribu orang Ulama' tadi ini, mereka tidak mahu meneruskan perjalanan... Lalu Tubba' menghantar menterinya untuk bertanya kepada para Ulama' yang tak mahu teruskan perjalanan itu...

Setelah ditanya oleh menteri, kenapakah mereka tidak mahu keluar daripada Yathrib, apakah rahsianya & hikmahnya yang menyebabkan para Ulama' ini tidak mahu keluar daripada Yathrib ini, maka jawab para Ulama' ini, "Kami tidak mahu keluar daripada bumi Yathrib ini kerana untuk pengetahuan Tuan, Ka'abah yang dimuliakan oleh ahli² Mekah itu adalah kerana tempat itu akan keluarnya Nabi akhir zaman yang bernama Muhammad pada masa akan datang, jadi kami ingin menunggu untuk bertemu dengan Nabi akhir zaman ini..." Disebutnya nama Sayyiduna Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang mulia oleh para Ulama' ini... Setelah dilaporkan kepada Tubba', maka Tubba' pun berasa ingin turut sama menunggu Nabi akhir zaman yang disebutkan itu... Maka tunggulah Tubba' itu di Yathrib selama setahun sekiranya Nabi akhir zaman keluar pada waktu tersebut... Hatta, Tubba' ini membina 400 buah rumah untuk 400 orang Ulama' yang ingin menunggu di Yathrib bahkan dibelinya 400 orang hamba & dibebaskannya 400 orang hamba yang dibelinya itu untuk dinikahkan kepada 400 orang Ulama' itu...

Setelah cukup setahun Tubba' ini menunggu tetapi tidak keluarnya Nabi akhir zaman yang disebutkan pada waktu tersebut, Tubba' & bala tenteranya meneruskan perjalanan, meninggalkan 400 orang Ulama' di Yathrib untuk menunggu Sayyiduna Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم... Setelah sampai di satu tempat berdekatan dengan India, Tubba' ini menghembuskan nafasnya yang terakhir... Tarikh meninggalnya Tubba' ini dengan tarikh lahirnya Sayyiduna Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, tempoh jaraknya adalah seribu tahun, tidak berkurang & tidak bertambah walau sedikit pun, seribu tahun tepat²... Kisah yang saya kongsikan ini bukan kisah yang baru berlaku, kisah ini adalah kisah seribu tahun sebelum lahirnya Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Sebelum Tubba' keluar daripada Yathrib, beliau ada menulis sepucuk surat yang ditujukan khas kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Apakah kandungan surat yang ditulis oleh Tubba' ini?

Setelah Tubba' menulis puji & syukur, kemudian beliau mengatakan, "Wahai Muhammad, selawat Allah Ta'ala keatas kamu... Sesungguhnya saya beriman dengan kamu & saya juga beriman dengan kitab yang akan diturunkan oleh Tuhan kepada kamu... Dan saya diatas agama & sunnah mu... Dan saya beriman dengan Tuhan kamu & Tuhan segala sesuatu... Dan saya beriman dengan seluruh syari'at agama yang datang kepada kamu & saya terima segala perkara tersebut... Sekiranya saya dapat berjumpa dengan kamu, itu nikmat yang besar kepada saya... Jikalau saya tidak dapat berjumpa dengan kamu, berilah syafa'at mu kepada saya di hari kiamat nanti... Jangan lupakan saya kerana saya dikalangan umat mu yang pertama... Dan saya berbai'ah dengan kamu sebelum kamu datang, sebelum Allah Ta'ala mengutuskan kamu, saya telah beriman dengan kamu... Dan saya diatas agama mu & saya diatas agama Bapa mu, Nabi Ibrahim عليه سلم..." Kemudiannya, Tubba' ini menutup surat ini dengan cop daripada emas & dia menulis di penghujung surat ini, "Kepada Muhammad bin Abdullah, Penutup Segala Nabi... Ini adalah amanah daripada Allah سبحانه وتعالى kepada sesiapa yang memegang surat ini, sampaikanlah ia kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم..."

Maka surat Tubba' ini beralih-alih tangan, dari satu generasi ke satu generasi yang lain... Siapakah yang memegang surat ini? Surat ini dipegang oleh cucu cicit kepada 400 orang Ulama' yang tinggal di Yathrib yakni Madinah yang menunggu Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Setelah mana Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم diutuskan, waktu itu ahli² Madinah sudah menunggunya pada waktu tersebut... Kemudian, dipilihnya daripada kalangan cucu cicit daripada keturunan 400 orang Ulama' tadi, diminta kepada Saidina Abdur Rahman bin 'Auf رضى الله عنه untuk memilih siapakah dikalangan mereka ini untuk pergi menghantar surat Tubba' yang berusia seribu tahun itu kepada Sayyiduna Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم... Kemudiannya dipilihnya salah seorang daripada sahabat yang bernama Abu Laila oleh Saidina Abdur Rahman bin 'Auf رضى الله عنه... Abu Laila yang telah dipilih untuk menyampaikan surat tersebut kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم...

Waktu itu, Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم belum lagi berhijrah ke Madinah, ketika mana Abu Laila sampai di Mekah daripada Madinah, Abu Laila membawa surat itu & diletakkan di dalam poket jubahnya... Sesampainya Abu Laila dihadapan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, Baginda memandang kepada Abu Laila... Baginda berkata, "Datanglah ke mari, kamu ini Abu Laila?" Sedangkan Nabi belum pernah lagi berjumpa dengan Abu Laila... Kemudian kata Abu Laila, "Ya, saya adalah Abu Laila..." Baginda bertanya lagi, "Adakah kamu membawa surat daripada Tubba'?" Sedangkan surat Tubba' itu masih berada di dalam poket jubah Abu Laila hatta Abu Laila tak pernah menyebut langsung tentang surat tersebut kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم bahkan sesiapa pun tak tahu menahu mengenai surat itu... MasyaAllah... Lalu kata Abu Laila yang agak terkejut ketika itu, "Saya lihat, wajah Tuan bukan wajah tukang sihir..." Baginda berkata, "Ya, saya bukan tukang sihir, saya Rasulullah... Berikanlah surat Tubba' yang ingin disampaikan kepada saya..." Maka dikeluarkanlah surat Tubba' itu oleh Abu Laila daripada poket jubahnya & diberi kepada Sayyiduna Rasulullah صلى الله عليه وسلم... Sambil Baginda membaca surat itu, Sayyiduna Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata, "Selamat datang wahai saudaraku yang soleh... Selamat datang wahai saudaraku yang soleh... Selamat datang wahai saudaraku yang soleh..." Seolah-olah Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم menyambut kedatangan Tubba' pada waktu tersebut... MasyaAllah...

Tuan², Tubba' ini sudah beriman kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, seribu tahun sebelum Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم dilahirkan... Moga Allah Ta'ala mengurniakan kegembiraan kepadanya di akhirat nanti... Beliau akan bersama-sama dengan Sayyiduna Rasulullah صلى الله عليه وسلم... Diantara 400 buah rumah yang telah dibina oleh Tubba' kepada 400 orang Ulama' itu, ada sebuah rumah yang Tubba' bina khusus untuk Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Rumah itu dibina khas untuk Nabi akhir zaman... Dalam sirah, rumah pertama yang Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم singgah ketika berhijrah ke Madinah, Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم berada diatas untanya, ketika mana para sahabat berebut-rebut menarik unta Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم untuk ke rumah mereka, maka kata Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, "Biarkanlah, unta ini telah diarahkan oleh Allah Ta'ala tempat dimana yang akan ia berhenti..." Dimanakah unta ini berhenti? Unta ini berhenti di rumah Tubba' yang telah membina rumah tersebut khas untuk Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Dan rumah itulah yang dimiliki oleh Saidina Abu Ayyub Al-Ansari رضى الله عنه, beliau merupakan salah seorang cucu kepada 400 orang Ulama' yang menunggu Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم di Madinah Al-Munawwarah...

Walaupun ada dikalangan kita yang kali pertama mendengar kisah ini, kita dapat mempelajari bahawa dengan adab kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, menyebabkan seseorang itu berjaya di dunia & di akhirat... Pengajaran yang kita boleh ambil daripada kisah Tubba' ini adalah, seseorang itu akan berada dekat dengan Allah Ta'ala kerana adabnya yang baik terhadap Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Tubba' sudah beradab dengan Nabi sebelum beliau kenal dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Tubba' sudah mengasihi Nabi sedangkan beliau tak pernah bertemu dengan orang yang pernah bertemu dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Tapi kita semua ini sudah pernah mendengar daripada orang yang mendengar daripada orang yang pernah mendengar & daripada orang yang pernah mendengar sehinggalah sampai kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Jikalau Tubba' yang tak pernah mendengar & tak pernah bertemu dengan Nabi tapi sudah beriman & sudah kasih kepada Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, seribu tahun lagi sebelum Nabi dilahirkan, takkanlah kita yang pernah mendengar tentang Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, tak mahu langsung beradab & tak mahu langsung mencintai Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم?

Al-Imam Hassan Al-Basri رحمه الله تعالى mengatakan bahawa, pokok kurma yang menjadi tempat Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم bersandar ketika menyampaikan khutbah, menangis ketika mana Nabi berpisah dengannya walau hanya 3 meter sahaja... Kalaulah kita yang dah berpisah dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم hampir ribuan tahun tapi langsung takdak ada rasa rindu dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, maka kita lebih "berat" daripada pokok tersebut... Bahkan Bukit Uhud yang bergerak daripada paksinya yang asal, kerana ingin mengikut Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Kalau kita tengok kedudukan Bukit Uhud sekarang ini, tempatnya itu bukanlah tempatnya yang asal... Ia telah bergerak sedikit daripada tapaknya yang asal... Kenapa? Kerana ingin mengikuti Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم balik ke Madinah... Sehinggakan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepada bukit itu supaya duduk tinggal disitu... Maka Bukit Uhud tidak bergerak lagi pada waktu tersebut kerana mematuhi arahan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Jika Nabi tidak mengarahkannya, maka Bukit Uhud akan berada di Madinah, dekat Masjid Nabawi, bukannya berada di Uhud yang kita tengok sekarang ini... Dan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم kata, "Uhud ini Bukit..."

Kata Guru kami yang mulia, Sayyid Muhammad bin Ibrahim Abdul Ba'ith Al-Kittani حفظه الله تعالى, "Baginda tidak mengungkapkan "Jabal Uhud" @ "Bukit Uhud" tapi Baginda mengungkapkan "Uhud ini Bukit"..." Kalaulah bukit yang merupakan batu yang keras sekalipun mengasihi Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, takkanlah hati kita yang lembut ini tak mahu mengasihi Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم? Cuba "check" balik bagaimana hati kita dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Kita nak darjat yang tinggi disisi Allah سبحانه وتعالى, kita nak kekal dalam syurga Allah Ta'ala & kita nak bersama dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, maka lihatlah bagaimana adab kita dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم...

Tuan² ambil lah contoh daripada 400 orang Ulama' yang menunggu Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم di Madinah selama seribu tahun, bagaimana cara mereka mendidik & mengajar anak cucu mereka tentang Sayyiduna Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sehinggakan setiap generasi mereka beradab & setia menunggu Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Kerana itulah Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم sangat kasih dengan ahli² Madinah kerana ketika ahli² Mekah menolak & menentangnya, namun ahli² Madinah mengalu-alukan kedatangannya & beradab dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Dengan adab, mereka sangat dekat dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Siapakah yang mengajar mereka? Yang mengajar mereka adalah Datuk & Nenek Moyang mereka... Tuan², kita semua kena jadi Datuk & Nenek Moyang seperti itu, kita semua kena jadi Ayah & Ibu yang mengajar serta mendidik anak² kita supaya kasih & beradab dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Hatta didik anak² kita supaya mereka beradab & kasih kepada para 'Alim Ulama'... Akhir zaman ini kita sudah takdak masa lagi untuk kita bersendirian & takdak dah jalan lain untuk selamatkan diri kita kecuali dengan kita berdamping, bergabung & mengasihi orang² yang soleh yakni para 'Alim Ulama'... Apabila kita dekat dengan para Ulama' yang solihin, maka kita akan dekat dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم... Apabila kita dekat dengan Sayyiduna Nabi صلى الله عليه وسلم, maka secara automatik kita akan dekat dengan Allah سبحانه وتعالى..."

Wallahu'alam... Moga² bermanfaat...

Sollu 'alan Nabiy.

Rabu, 19 April 2017

Amalan Dibaca pd jum'at Terakhir Bulan Rojab

*Amalan bulan Rojab, jumat terahir,  semoga bermanfaat*
( احمدُ رسول الله محمدٌ رسول الله)
(AHMAD ROSULULLOH MUHAMMAD ROSULULLOH)
==☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dikutip dari sebagian Dhawoh/ Pesan yg berguna/berfaedah yang disampaikan oleh Al-Syaikh 'Ali Al-Ajhuri :
Barang siapa pada hari Jum'at terakhir di bulan Rojab, pada saat Khotib berada di atas mimbar, membaca :
احمدُ رسول الله محمدٌ رسول الله
(AHMAD ROSULULLOH MUHAMMAD ROSULULLOH) Dibaca Sebanyak 35 kali, maka pada tahun itu tangannya tidak akan pernah terputus dari dirham-dirham.

Sa'adatut Daraini hlm. 653.

Semoga Bermanfa'at...!!!

(Abdul Hamid Mudjib Hamid Al-Ishaqy 'Azmatkhan)
=============

ومن فوائد الشيخ الأجهوري المالكي : أن من قرأ في آخر جمعة من شهر رجب والخطيب على المنبر "احمدُ رسول الله محمدٌ رسول الله خمسا وثلاثين مرة، لا تنقطع الدراهم من يده تلك السنة.
سعادة الدارين ص ٦٥٣

Senin, 17 April 2017

SILSILAH EMAS NASAB RADEN PRABU TANGKISARI, BHUJU' NEPAH, BHUJU' MORENG, BHUJU' SUMBER BULAN DAN AL-SYEIKH AHMAD AL-HAJAR/ IBNU HAJAR/ AHMAD SYAJAR:

SILSILAH EMAS NASAB RADEN PRABU TANGKISARI, BHUJU' NEPAH & BHUJU' SUMBER BULAN DHOMPO KRATON PASURUAN:
===============
1. Nabi Muhammad SAW;
2. Fatimah Az-Zahra' Al-Batul;
3. Al-Imam Al-Husain putera Sayyidina 'Ali bin Abu Tholib dan Sayyidatina Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW;
4. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin;
5. Sayyidina Muhammad Al Baqir;
6. Sayyidina Ja’far As-Shodiq;
7. Sayyid Al-Imam 'Ali Al-'Uroidli;
8. Sayyid Muhammad An-Naqib;
9. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi;
10. Ahmad al-Muhajir;
11. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah;
12. Sayyid Alawi Al-Mubtakir (Awwal);
13. Sayyid Muhammad Sohibus Shouma’ah;
14. Sayyid 'Alawi Ats-Tsani;
15. Sayyid 'Ali Kholi’ Qosam;
16. Muhammad Shohib Mirbath (Hadhramaut);
17. Sayyid Alawi 'Ammil Faqih (Hadhramaut);
18. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India);
19. Sayyid Abdulloh 'Azmatkhan;
20. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin 'Azmatkhan;
21. Sayyid Syaikh Jumadil Kubro @ Jamaluddin Husein Al-Akbar 'Azmatkhan Trowulan Mojokerto;
22. Sayyid Maulana Ibrahim Zainal Akbar Asmoroqondi;
23. Sayyid Maulana Ishaq Tuban  (nikah + Dewi Sekardadu Blambangan);
24. Sayyid Muhammad Ainul Yaqin / SUNAN GIRI ( Jaka Samudra ) Gresik;
25. Raden Prabu Tangkisari Singaraja Bali;
26. Syeikh Yusuf Abdulloh Munif Sampang Madura;
27. Sumber Bulan Desa Dhompo Kec. Kraton Kab. Pasuruan.

======================



SILSILAH EMAS NASAB RADEN PRABU TANGKISARI, BHUJU' NEPAH, BHUJU' MORENG DAN AL-SYEIKH AHMAD AL-HAJAR/ IBNU HAJAR/ AHMAD SYAJAR:
============
1. Nabi Muhammad SAW;
2. Fatimah Az-Zahra' Al-Batul;
3. Al-Imam Al-Husain putera Sayyidina 'Ali bin Abu Tholib dan Sayyidatina Fathimah Az-Zahra binti Muhammad;
4. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin;
5. Sayyidina Muhammad Al Baqir;
6. Sayyidina Ja’far As-Shodiq;
7. Sayyid Al-Imam 'Ali Al-'Uroidli;
8. Sayyid Muhammad An-Naqib;
9. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi;
10. Ahmad al-Muhajir;
11. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah;
12. Sayyid Alawi Al-Mubtakir (Awwal);
13. Sayyid Muhammad Sohibus Shouma’ah;
14. Sayyid 'Alawi Ats-Tsani;
15. Sayyid 'Ali Kholi’ Qosam;
16. Muhammad Shohib Mirbath (Hadhramaut);
17. Sayyid Alawi 'Ammil Faqih (Hadhramaut);
18. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India);
19. Sayyid Abdulloh 'Azmatkhan;
20. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin 'Azmatkhan;
21. Sayyid Syaikh Jumadil Kubro @ Jamaluddin Husein Al-Akbar 'Azmatkhan Trowulan Mojokerto;
22. Sayyid Maulana Ibrahim Zainal Akbar Asmoroqondi ;
23. Sayyid Maulana Ishaq Tuban (Nikah + Dewi Sekardadu Blambangan);
24. Sayyid Muhammad Ainul Yaqin / SUNAN GIRI ( Jaka Samudra ) Gresik;
25. Raden Prabu Tangkisari Singaraja Bali;
26. Syeikh Yusuf Abdulloh Munif Sampang Madura;
27. Abdulloh Muhammad Bhuju' Moreng Ranggeh;
28. Shonhaji;
29. Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar, Yang Punya Anak:
1.Syeikh Umar Al-Farouq;
2. Syeikh Abdul Ghoffar;
3. Syaikhoh Asfinah;
4. Syeikh Umar Abdul Ghofur;
5. Syeikh Anwar;
6. Syeikh Yasir;
7. Shorrof (Wafat Di waktu umur Murohiq).

Rabu, 22 Maret 2017

Ayah Ibu dan Leluhur Nabi SAW Islam Hingga Nabi Adam Wa Hawwa' AlaihusSalam

Benarkah Abdul Muthalib, Abu Thalib, Abdullah dan Aminah kafir ?

Kaum wahabi tidak akan berhenti untuk menjelekkan keluarga Rasulullah, sebenarnya mereka malakukan penghinaan kepada keluarga Rasulullah dengan tujuan untuk mengurangi kehormatan Rasulullah dan pengaruh Beliau.

Mereka mencari semua dalil yang bisa memperkuat usaha mereka dalam menjelekkan Rasulullah dan keluarganya (Kakek, paman, ayah dan ibu Rasulullah).
Sehingga terjadi adu dalil antara kaum Wahabi dan kaum yang santun.

Mempermasalahkan status kemimanan 
Kakek, paman (Abu Thalib), ayah dan ibu Rasulullah sebnarnya merupakan prilaku yang tidak sopan.

Niat saya dalam menulis masalah ini hanya 
untuk mengajak berprilaku sopan dan menggunakan dugaan yang baik terhadap keluarga Rasulullah. Sedangkan yang mengetahui kepastian keimanan mereka adalah Allah, dan saya juga berharap agar kita tidak mudah
menuduh kafir pada mereka,...

Kebiasaan mudah menuduh kafir pada orang lain, membuat mereka berprilaku kelewat batas hingga dengan mudah menuduh kafir pada k
akek, paman (Abu Thalib), ayah dan ibu Rasulullah.
Mari kita bahas satu persatu

Abdul Muthalib

Pada saat Abdul Muthalib (Kakek Rasulullah) menjadi pemimpin bangsa Quraisy, terjadi peristiwa besar yang diabadikan Allah dalam Alquran, yaitu: peristiwa pasukan bergajah.

Pada saat itu pula, ada seorang raja yang bernama Abrahah, berkebangsaan Habasyah yang memerintah negeri Yaman.
Dia membangun sebuah gereja, diberi nama al-Qulais. Dia ingin agar bangsa Arab berpaling dari Ka’bah dan menuju ke gerejanya untuk melaksanakan haji,
Tentu saja bangsa Arab menjadi marah karena hal tersebut.

Seorang laki-laki dari Suku Kinanah sengaja membuang hajat di dalam gereja  Abrahah. Ketika Abrahah mengetahui hal itu, Dia kemudian marah dan bersumpah akan memimpin seluruh bala tentaranya untuk menghancurkan Ka’bah.
Kemudian dia memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap, maka berangkatlah pasukan ini dan Abrahah menunggang gajah.

Ketika Abrahah singgah di al-Mughamas, dia mengirim pasukan yang dipimpin oleh seorang  al-Aswad bin Maqshud, Dia berangkat dengan menunggangi kuda, setelah sampai ke Mekah. Dia berhasil merampas harta penduduks diantara harta yang dirampas tersebut adalah 200 ekor onta milik Abdul Muthalib bin Hasyim.
Sebenarnya bangsa Quraisy, Kinanah, Huzail, dan seluruh penduduk Mekah berkeinginan untuk membalas menyerang Abrahah. tapi mereka menyadari bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Abrahah, akhirnya mereka mengurungkan niatnya.

Kemudian Abrahah memerintahkan pada Hunathah al-Himyari dengan pesan : “Carilah pemimpin penduduk negeri Mekah dan pemukanya, kemudian katakan kepadanya: Sesungguhnya sang Raja berpesan kepadamu, “Sesungguhnya kami datang bukanlah untuk memerangi kalian, kami datang namya untuk menghancurkan tempat ibadah kalian, maka jika kalian tidak menghalangi niat kami, kami tidak perlu menumpahkan darah kalian. Jika pemimpin tersebut tidak berniat menghalangi niatku hendaklah ia mendatangiku.”
Ketika Hunathah sampai di Mekah, Dia menanyakan tentang siapakah pemuka bangsa dan tokoh orang Quraisy  ?Akhirnya mendapat jawaban, pemimpinnya adalah Abdul Muthalib bin Hasyim.
Kemudian Hunathah mendatangi Abdul Muthalib dan menyampaikan pesan Abrahah kepadanya.
Abdul Muthalib berkata: “Demi Allah, kami tidak akan memeranginya karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk memeranginya, ini adalah rumah Allah yang mulia dan rumah Kekasih-Nya Ibrahim, jika Dia (Allah) menghalanginya, maka ini adalah rumah dan tanah haram-Nya. Dan jika Dia (Allah) membiarkan Abrahah menghancurkan Ka’bah, maka demi Allah kami tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.”

Kemudian Hunathah berkata : “Berangkatlah bersamaku menuju pemimpin kami, karena sesungguhnya dia memerintahkanku untuk membawamu kepadanya.”

Disamping menjadi pemimpin Abdul Muthalib juga orang yang tampan dan berwibawa.

Ketika Abrahah telah berjumpa dengan Abdul Muthalib, dia pun menghargainya.
Karena Abrahah tidak ingin ada orang Habasyah melihat Abdul Muthalib duduk di atas singgasana kerajaannya. Maka Abrahah yang turun dari singgasananya dan duduk di permadani dan memerintahkan Abdul Muthalib duduk di sampingnya.

Kemudian Abrahah berkata kepada juru bicaranya, “Katakan kepadanya, apa yang ia perlukan?” Lalu juru bicara memberitahukan kepada Abrahah, perkataan Abdul Muthalib, “Keperluanku hanya agar raja mengembalikan 200 ekor onta yang dirampas”

Abrahah berkata kepadanya, “Katakan kepadanya, ‘Awalnya di saat aku melihatmu aku kagum kepadamu, selanjutnya aku jadi merendahkanmu ketika engkau menyampaikan keperluanmu, kenapa engkau berbicara kepada ku tentang 200 ekor onta yang kurampas darimu? dan engkau membiarkan rumah ibadahmu, milik agamamu dan agama nenek moyangmu yang akan kuhancurkan, mengapa engkau tidak menyampaikan tentang hal ini?”

Abdul Muthalib menjawab, “Bahwasanya aku adalah pemilik onta-onta tersebut, sedangkan tempat ibadah itu ada pemiliknya (Allah) yang akan melindunginya.”
Kemudian Abrahah berkata, “Dia tidak akan menghalangiku.”

Abdul Muthalib menjawab, “Hal itu terserah padamu.”

Akhirnya Abrahah mengembalikan onta-ontanya dan ia dipersilahkan kembali ke Quraisy.

Abrahah pun memerintahkan penduduk Quraisy untuk keluar dari Mekah dan mencari tempat perlindungan di atas perbukitan atau dilembah, Abrahah khawatir jika mereka terkena imbas kekuatan pasukannya.
Ketika menjelang serangan datang, Abdul Muthalib berdiri dan memegang pintu Ka’bah yang dibantu oleh beberapa orang Quraisy. Mereka berdoa kepada Allah agar menurunkan pertolongan-Nya untuk menghalangi Abrahah dan pasukannya.

Abdul Muthalib sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdo'a:
“Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi kendaraannya, maka lindungilah rumahmu. Jangan engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatanmua esok hari.”

Di pagi harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki Mekah, ia menyiapkan gajah-gajahnya dan memimpin tentaranya.
Gajahnya bernama Mahmud dan Abrahah telah bertekad untuk menghancurkan Ka’bah, gan setelah berhasil dia akan segera kembali lagi ke Yaman.

Setelah mendekati Mekah, mereka mengarahkan gajahnya menuju ke Mekah, gajah mereka menderum, lalu mereka memukul gajah-gajah mereka, tetapi gajah tetap tidak mau berdiri.
Kemudian mereka mencoba mengarahkan gajah-gajahnya ke arah Yaman, gajahnya mau berdiri dan berlari.
Kemudian mereka arahkan ke Syam, gajah pun melakukan hal yang sama, mereka arahkan ke arah timur, gajah pun melakukan hal yang sama.

Kemudian mereka arahkan ke Mekah lagi, gajahnya pun menderum,

Pada saat itu Allah mengirim kepada mereka (pasukan Abrahah) beberapa burung Ababil. Setiap ekor burung membawa 3 buah batu: 1 butir diparuhnya dan 2 butir dikakinya, kerikil itu sebesar kacang Arab atau kacang Adas.

Setiap yang terkenan kerikil tersebut tubuhnya hancur.  Akhirnya mereka keluar meninggalkan Mekah, sedangkan daging mereka tercecer di sepanjang jalan dan mereka binasa.


Abrahah terkena sebuah batu di tubuhnya, lalu mereka membawanya ke Yaman sedangkan jari jemarinya mulai terputus satu per satu, hingga mereka membawanya ke Shan’a dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar seekor anak burung, dan akhirnya mati di sana.

Do'a Abdul Muthalib tebukti dikabulkan Allah,..
Peristiwa itu juga diabadikan dalam Al Qur'an.

Menemukan kembali sumber air Zam-zam yang pernah hilang,
Pada suatu malam, Abdul Muthalib, bermimpi didatangi suara gaib yang menyuruhnya untuk menggali sumur zam-zam kembali.
Paginya, Abdul Muthalib menggali sumur tersebut dan mengalirlah air zam-zam itu kembali. 

Air Zam-zam pernah hilang ketika Masjidil Haram dicemari oleh satu kabilah bernama Jurhum dengan melakukan kesyirikan, sumur air zam-zam itu mengering secara perlahan akhirnya sumber mata airnya tertutup.
Sejak saat itu, Sumur zamzam hilang untuk beberapawaktu  lamanya.

Hingga ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib (Kakek Rasulullah).

Dari kisah diatas diatas, menunjukkan bahwa Abdul Muthallib adalah pengikut agama Nabi Ibrahi AS yang saleh.
Tidak sopan jika kita menuduh Abdul Muthalib itu kafir, mengingat ada beberapa ayat Al Qur'an yang menerangkan :
Bapak dan Ibu Rasulullah

Demikian juga ucapan Nabi SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di peperangan Uhud ketika beliau SAW melihat seorang kafir membakar seorang muslim,maka Rasulullah SAW bersabda kepada Sa’ad,”Panahlah dia,jaminan keselamatanmu adalah Ayah dan ibuku!’, maka Sa’ad berkata dengan gembira,’Rasulullah SAW mengumpulkan aku dengan nama ayah dan ibunya!’ “(HR Bukhori,Bab. Manaqib Zubair bin Awam no.3442,hadis no.3446, Bab.Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqosh Al-Zuhri.)

Rasulullah pernah bersabda,
”Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang yang suci kedalam rahim-rahim wanita yang suci pula”

(Dinukil oleh Al Hamid Al Husaini, dalam bukunya Pembahasan Tuntas Perihal  Khilafiyyah, hal.600-601)


Abu Thalib
Dalam QS.Al Qoshosh 56,yang artinya:”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”

Asbabul nuzul ayat ini menurut Ibn Katsir, yang dinukil dari shohihain (Bukhori dan Muslim) terkait dengan detik-detik wafatnya paman Rasulullah saw.

Dari Sa’id bin Musayyab ra.,dari bapaknya katanya ”Ketika Abu Tholib hampir meninggal dunia Rasulullah saw datang mengunjunginya, didapati beliau disana telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mighiroh. Kemudian Rasullah saw bersabda, ”wahai paman ,ucapkanlah La ila ha ilaallah, yaitu sebuah kalimat yang aku akan menjadi saksi bagi paman nanti dihadapan Allah”.Kemudian Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata; ”Hai abu Tholib! Bencikah anda kepada agama Abdul Mutholib”.Rasulullah terus menerus mengulang-ulang ucapannya itu, tetapi akhirnya Abu Tholib mengatakan ”Dia tetap memegang agama Abdul Mutholib dan enggan mengucapkan la ila ha illallah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:”Demi Allah! Akan kumohonkan ampun bagi paman,selama aku tidak dilarang melakukannya”.Kemudian turun QS.al Qoshos 56.

(Bukhori dan Muslim,Mukhtashor Ibnu Katsir,juz 3,hal.19 oleh DR.Ali Ashobunny)

’Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik – baik. Makanlah (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagi kamu dan makananmu juga halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan – perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan – perempuan yang beriman dan perempuan – perempan yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia – sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang – orang yang rugi.’
(Q.S. Al-Maidah, 5)
=============

Peristiwa Pasukan Bergajah

Apakah kami tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (QS. Al-Fiil: 1-5)

Runtuhnya Ka’bah di Akhir Zaman

Banyak riwayat yang menguatkan tentang akan runtuhnya Ka’bah di akhir zaman. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ka’bah akan diruntuhkan oleh seorang yang berkaki bengkok berkebangsaan Habasyah.”
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Perbanyaklah melakukan thawaf di Baitullah semampu kalian sebelum kalian dihalangi untuk melakukannya, seolah-olah aku melihatnya sedang melakukan hal tersebut. Tanda-tandanya: berkepala dan bertelinga kecil, dia menghancurkan Ka’bah dengan beliungnya.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tandanya orang tersebut berkulit hitam, kakinya bengkok (seperti letter O), dia meruntuhkan batu dinding Ka’bah satu persatu.”
Diriwayatkan dari Sa’id bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bercerita kepada Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Seorang laki-laki (Imam Mahdi) akan dibai’at di antara sudut (tempat Hajar Aswad) dan Maqam Ibrahim, dan Ka’bah tidak akan dirusak kehormatannya melainkan oleh orang Arab sendiri, dan bila mereka telah merusak kehormatan Ka’bah,maka itulah saatnya kehancuran bangsa Arab, kemudian datang orang-orang Habasyah meruntuhkan Ka’bah yang setelah itu tak pernah dibangun kembali selama-lamanya, dan merekalah yang menggali harta yang terpendam di dalamnya.”
Hadis di atas tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sebuah pasukan hendak menyerang Ka’bah, hingga ketika mereka berada di sebuah padang pasir, semua pasukan ditenggelamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam bumi.”
Ibnu Hajar dalam bukunya “Fath al-Bari” dalam bab: runtuhnya Ka’bah, berkata: “Hadis-hadis di atas menjelaskan akan terjadinya penyerangan terhadap Ka’bah. Penyerang pertama dimusnahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum mereka sampai ke Ka’bah, dan penyerangan kedua dibiarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sepertinya penyerang yang dimusnahkan terjadi lebih awal.”
=============


Nabi Muhammad SAW adalah penghuni bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak. Nasab beliau dari segi kemuliaan berada di puncaknya. Musuh-musuh beliau memberi pengakuan untuknya atas hal tersebut. Diantara musuh beliau yang memberikan pengakuan akan indahnya nasab beliau adalah Abu Sufyan(sebelum masuk islam), yang dikala itu berhadapan denga penguasa Romawi. Kaum yang paling mulia adalah kaumnya,kabilah yang paling mulia adalah kabilahnya dan marga yang paling mulia adalah marganya.
(Ibnu Qoyyim al Jauziyah,Zaadul Ma’ad,I/32)

Rasulullah pernah bersabda,
”Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang yang suci kedalam rahim-rahim wanita yang suci pula”

(Dinukil oleh Al Hamid Al Husaini, dalam bukunya Pembahasan Tuntas Perihal  Khilafiyyah, hal.600-601)

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi saw adalah manusia tersuci yang telah disiapkan kelahirannya dengan membuatnya keluar dari rahim yang suci pula,yaitu Aminah ra.

Dinukil oleh Ibnul Jauzi,dalam kitab Al Wafa’ (terjemahan), hal.74 : Abdurrahman bin ‘Auf berkata,”Ketika Rasulullah saw dilahirkan, ada jin yang berbicara di bukit Abu Qubais di daerah ‘Ujun- yang pada mulanya tempat itu adalah sebuah kuburan dan orang-orang Quraisy merusakkan pakaian mereka di daerah itu-.Jin itu berkata dengan syair berikut :

“Aku bersumpah tidak seorang pun dari golongan manusia yang telah melahirkan Muhammad selain ia (Aminah).

Seorang wanita dari suku Zuhrah yang memiliki sifat-sifat terpuji dan selamat dari kecelaan para suku-suku, bahkan mereka memujinya.

Wanita itu telah melahirkan manusia terbaik yaitu Ahmad.

Orang yang terbaik itu dimuliakan

Serta orangtuanya pun dimuliakan juga”…

Bahkan Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa nasabnya adalah suci (ayah-ayahnya adalah keturunan manusia yang suci),

”Saya Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthollib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar. Tidaklah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali saya berada diantara yang terbaik dari keduanya. Maka saya lahir dari ayah – ibuku dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyyah dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah).Tidaklah saya dilahirkan dari orang yang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka saya adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian dan sebaik-baik nasab (dari pihak) ayah”

(Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra.)

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2,hal.404 dan juga oleh Imam Ath Thobari dalam tafsirnya juz 11, hal. 76.




Juga sabda Nabi SAW,”Saya adalah Nabi yang tidak berdusta, Saya adalah putra Abdul Mutholib.”(HR.Bukhori no.2709,2719,2772,Shahih Muslim no.1776)



Lihatlah dari hadis-hadis diatas,nampak jelas sekali bahwa tidak mungkin orang tua Nabi adalah orang-orang kafir atau musyrik. Sedangkan Nabi SAW telah membanggakan kedua orang tuanya sebagai nasab yang terbaik.Bagaimana mungkin ada manusia yang tega mengatakan orang tua,bapak atau ibu Nabi saw lagi disiksa di neraka?Sungguh itu sama halnya menyakiti hati Nabi saw.



Demikian juga ucapan Nabi SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di peperangan Uhud ketika beliau SAW melihat seorang kafir membakar seorang muslim,maka Rasulullah SAW bersabda kepada Sa’ad,”Panahlah dia,jaminan keselamatanmu adalah Ayah dan ibuku!’, maka Sa’ad berkata dengan gembira,’Rasulullah SAW mengumpulkan aku dengan nama ayah dan ibunya!’ “(HR Bukhori,Bab. Manaqib Zubair bin Awam no.3442,hadis no.3446, Bab.Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqosh Al-Zuhri.)

Bagaimana mungkin Sa’ad berbahagia disatukan dengan orang tua Rasulullah,jika keduanya orang-orang musyrik??

Maka apa kata dunia? Jika nabinya ummat Islam lahir dari rahim perempuan musyrik? Padahal Isa as. Lahir dari rahim perempuan yang suci!!.Apa kata dunia jika Nabinya ummat islam lahir dari rahim perempuan kafir?Padahal banyak perempuan yang beriman melahirkan anak-anak yang tidak memiliki keistimewaan,sedangkan Rasul keistimewaannya diakui di dunia langit maupun bumi lahir dari perempuan musrik?. Sungguh tidak logis!!

Sungguh harus dipertimbangkan pendapat tentang kemusyrikan orang tua Nabi !

Ahlul Fatrah

Adalah suatu masa dimana terjadi kekosongan nubuwwah dan risalah. Seperti orang-orang jahiliyyah yang belum datang kepada mereka risalah kenabian,maka mereka masuk kategori ahlu fatrah,yang mereka termasuk ahli surga juga. (Prof.DR.Wahbah Zuhaili,tafsir Al Munir,juz 8, hal.42)

Hal itu berdasarkan firman Alloh QS. Al Isro’ 15 yang artinya,”Kami tidaklah mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus (kepada mereka) seorang rasul”

Dari ayat itu, maka orang-orang yang hidup sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, mereka adalah Ahlu fatrah yang tidak diadzab atas perbuatannya. Karena sebagai bentuk keadilan Alloh adalah mengadzab suatu kaum setelah jelas risalah datang kepada mereka namun tidak diindahkannya.

Dan dari ayat itu pula,dapat dipahami bahwa keluarga nabi saw sebelum dirinya diangkat menjadi Nabi dan Rasul,adalah termasuk ahlu fatrah.Dan karena itu mereka tidak diadzab dan tidak digolongkan kepada orang-orang musrik atau kafir.

Bagaimana dengan riwayat bahwa Nabi saw menangis dipusara ibunya?. Dan hadis tersebut dikaitkan sebagai asbabun nuzul ayat 113 dari QS .At Taubah; “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun[kepada Alloh] bagi orang-orang musyrik,walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya),sesudah jelas bagi mereka,bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam”.??

Beberapa ulama’ (salah satunya Ibn Katsir, Mukhtashor li Ali as Shobuni,juz 2, hal.173), menyebutkan sebuah riwayat,bahwa rasulullah saw. Suatu ketika berziarah ke kuburan dan menangis tersedu-sedu. Sayidina Umar bertanya tentang sebab tangis beliau. 

Beliau menjawab,”Aku menangis di kubur ibuku,Aminah. Aku memohon kepada Alloh kiranya beliau diampuni,tetapi alloh tidak memperkenankan dan turun kepadaku firmanNya (At Taubah 113-114). Aku sedih dan kasihan kepada ibuku, dan itulah yang menjadikan aku menangis”(HR.Ibn Hibbah,Abi Alatim dan Al Hakim melalui Ibn Mas’ud). Riwayat ini dinilai dhoif oleh pakar hadis Adz Dzahabi,karena dalam renteten perawinya terdapat nama Ayyub yang berstatus lemah (Prof.DR.Quraish Shihab,Al Misbah ,jilid 5,hal.735).Dan pakar tafsir lainnya seperti DR.Wahbah Zuhaily mengomentari ulama yang menyatakan hadis tersebut sebagai sebab turunnya ayat 113,QS at Taubah,dengan komentar bahwa itu jauh dari fakta sebab orang tua Rasul hidup di masa fatrah,sehingga tidak tepat hadis tentang tangisan nabi saw dipusara ibunya sebagai sebab turunnya ayat tersebut.[lihat tafsir Al Munir ,juz 6,hal 64]

Dan banyak lagi hadis yang senada dengan itu,namun dengan redaksi yang berbeda,seperti yang diriwayatakan,Ahmad,Muslim, Abu Dawud dari jalur Abu Hurairoh. Dan jika kita terima kesahihan hadis tangisan Nabi diatas kuburan ibunya tersebut,maka ada beberapa hal harus dipertimbangkan untuk membatalkan hadis tersebut sebagai dalil kemusyrikan Ibu nabi SAW,sebagai berikut:

1. 1. Hadis tersebut secara manthuq (tekstual) tidak menyebut kekafiran atau kemusyrikan ibu Nabi secara tegas dan jelas.Sehingga agak ceroboh kalau dengan ketidak jelasan manthuq hadis tersebut langsung menyatakan kemusrikan ibunda Nabi saw.

2. 2. Hadis-hadis tersebut yang menyatakan bahwa kejadian rasulullah menangis di kuburan ibunya di kota Mekkah,menurut ibnu Sa’ad berita itu salah,sebab makam ibu Nabi itu bukan di Mekkah tapi di ‘Abwa (suatu wilayah yang masih masuk kota Madinah). (Al Wafa’,ibn Al Jauzi,terjemahan hal.96, Lihat juga Zaadul Ma’ad jilid I,hal.36 terkait dalil tempat wafatnya ibunda Nabi saw).

3. 3. Hadis-hadis tersebut termasuk hadis ‘Inna Abiy wa abaaka finnar (Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” (HR.Muslim) dibatalkan (mansukh) oleh QS.Al Isra’ 15.”Dan Kami tidak mengadzab (suatu kaum) hingga kami mengutus(kepada mereka) seorang rasul”(rujuklah pada Masaalikul Hunafa Fii Hayaati Abawayyil Musthofa,karya Imam As Suyuthi,hal.68).Alasan pembatalannya adalah mereka ayah dan ibunda Nabi saw hidup sebelum ada risalah nubuwwah,karena itu mereka termasuk ahlu fatrah yang terbebas dari syari’at Rasululloh saw.


Khusus hadis riwayat Muslim, Inna Abiy wa Abaaka fin Nar/Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka,adalah bahwa yang dimaksud Abi di hadis tersebut adalah paman.Karena kebiasaan Alloh didalam al Quran,sering ketika ada kata-kata Abun,maka yang dimaksud adalah bukan orang tua kandung.Alloh berfirman dalam QS.Al Baqoroh 133,yang artinya ; “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub mau meninggal,ketika Ia berkata kepada anak-anaknya;Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab;’Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu,Ibrahim,Isma’il dan Ishaq,yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.” Padahal Ayah Ya’qub adalah Ishaq bukan Ibrahim atau Ismail.Namun Alloh menyebutkan Ibrahim dan Ismail sebagai Aaba’(ayah-ayah) dari Ya’qub,maksudnya adalah kakek atau paman dari Ya’qub.Dan untuk penyebutan orang tua kandung,biasanya Al quran menggunakan kata Waalid.Sebagaimana Alloh berfirman; “Robbanagh Fir Li Wa Li Waliidayya…/Ya Tuhan Kami Ampunilah aku dan ibu bapakku…”.QS.Ibrahim 41

5. 5. Hadis-hadis tersebut bertentangan dengan nash hadis lain seperti yang kami tulis diatas,bahwa nabi lahir dari nasab yang suci.

6. 6. Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan orang tua Nabi saw di neraka, mereka di laknat oleh Allah swt, sebagaimana FirmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan disiapkan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tidak ada hal yang lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya atau orang tuanya berada di neraka, dan Nabi saw bersabda : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ Fii Hayaati Abawayyil Musthofa, hal. 75 lil Imam Suyuthi)

Demikian pendapat ulama bahwa orang tua Nabi SAW bukan orang-orang musyrik, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah dan menjadi ahli fatrah, dan tak ada pula nash yang menjelaskan mereka sebagai menyembah berhala. Diantara Ulama yang berpendapat bahwa orang tua Nabi bukan musyrik menurut Al Habib Munzhir bin Fuad Al Musawa adalah :
Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam At thabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy dan masih banyak lagi yang lainnya.

Abu Tholib
Dalam QS.Al Qoshosh 56,yang artinya:”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya dan 
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”

Asbabul nuzul ayat ini menurut Ibn Katsir, yang dinukil dari shohihan (Bukhori dan Muslim) terkait dengan detik-detik wafatnya pamanda Rasulullah saw.

Dari Sa’id bin Musayyab ra.,dari bapaknya katanya ”Ketika Abu Tholib hampir meninggal dunia Rasulullah saw datang mengunjunginya, didapati beliau disana telah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mighiroh. Kemudian Rasullah saw bersabda, ”wahai paman ,ucapkanlah La ila ha ilaallah, yaitu sebuah kalimat yang aku akan menjadi saksi bagi paman nanti dihadapan Allah”.Kemudian Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata; ”Hai abu Tholib! Bencikah anda kepada agama Abdul Mutholib”.Rasulullah terus menerus mengulang-ulang ucapannya itu, tetapi akhirnya Abu Tholib mengatakan ”Dia tetap memegang agama Abdul Mutholib dan enggan mengucapkan la ila ha illallah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:”Demi Allah! Akan kumohonkan ampun bagi paman,selama aku tidak dilarang melakukannya”.Kemudian turun QS.al Qoshos 56.(Bukhori dan Muslim,Mukhtashor Ibnu Katsir,juz 3,hal.19 oleh DR.Ali Ashobunny)

Dan ada pula anggapan bahwa hadis tersebut sebagai sebab turunnya QS.at Taubah 113,namun hal ini dibantah,karena QS.at Taubah 113 tersebut termasuk madaniyyah (Ayat yang turun di Madinah), sedangkan Abu Tholib meninggal di Mekkah sebelum hijrah, jadi tidak cocok dengan fakta sejarah.(lihat,Tafsir Al Munir,li Wahbah,juz 6,hal.61).

Dari hadis ini ada anggapan bahwa Abu Tholib mati dalam kondisi kafir, Tentu anggapan tersebut belum tentu benar karena argumentasi sebagai berikut:

1. Hadis tersebut dan nash lain tidak menyebut secara manthuq (tekstual) yang jelas tentang kekufuran Abu Tholib, sehingga masih ada peluang bagi kita untuk berkhusnudzon dengan beliau. Dan itu jauh lebih selamat dan aman bagi kita.

2. Justru ada hadis dengan redaksi yang lain yang memperkuat argument pertama tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,Tirmidzi dan Al Baihaqi dari Abu Huroiroh bahwa Rasulullah bersabda kepada pamannya’”Wahai pamanku,ucapkanlah la ilaa ha illallah,niscaya aku akan bersaksi untukmu disisi Alloh pada hari Kiamat”Abu tholib menjawab,”Seandainya kaum Quraisy tidak mencelaku dengan berkata,’Tidak ada yang mendorongnya mengucapkannya kecuali karena kesedihannya menghadapi maut,niscaya aku mengucapkannya untukmu”.Maka turunlah firman 
Allah QS.Al Qoshosh 56 itu (DR.Wahbah Zuhaily,juz 10,hal.498 dan Tafsir Ibnu Kastir,Mukhtashor,Ali ash shobuni,juz 3,hal 19)

Perhatikanlah! Abu Tholib enggan mengucapkan kalimat syahadat bukan karena tidak beriman dengan kalimat tersebut, namun karena taqqiyah (strategi membela diri dengan menyembunyikan keimanannya) agar terhindar dari celaan orang Quraisy yang menganggapnya masuk Islam karena mau mati saja. Padahal hakekatnya dibatin beliau telah menerima keimanan kepada 
Allah dan Rasul-Nya. Ini dibuktikan dalam tarikh/sejarah ketika Abu Tholib mengajak Nabi pada saat umur 9 tahun ke Syam dan bertemu pendeta/ rahib Bahira yang melihat tanda kenabiannya dan hal itu disampaikan ke Abu Tholib agar berhati-hati karena orang-orang yahudi tidak menyukai hal itu (Zaadul Maa’ad,juz 1,hal.37). Sejak itu pasti beliau menerima kenabian yang dibawa rasul saw (keponakannya sendiri) , Karena bagaimana mungkin beliau dianggap kafir atau musrik padahal beliau merahasiakan kenabian Muhammad dari musuh-musuhnya?? Mungkin ada yang menjawab; ‘Dirahasiakannya karena dia menyayangi keponakannya itu’, namun itu dapat dibantah dengan Abu Lahab yang juga pamannya dan juga menyanginya, kenapa menentangnya? Renungkan wahai manusia yang beriman !!

Dan telah berkata al Zajjaj ; “Telah sepakat ummat islam bahwa ayat 56 dari al Qoshosh itu turun terkait pada Abu Tholib.Yang ketika itu beliau berkata disaat jelang kematiannya (kepada orang-orang Quraish) : ‘Wahai masyarakat bani abdi Manaf,ta’atlah kalian dan benarkan (shoddiquuhu) oleh kalian ajaran Muhammad!, maka kalian akan sukses dan mendapatkan petunjuk’.Maka bersabda Nabi saw : “Wahai pamanku,engkau menasehati mereka dan engkau meninggalkan dirimu? ”.Berkata abu Tholib :’Maka apa yang kamu inginkan wahai keponakanku?’.
Bersabda Nabi saw: “saya menginginkan darimu hanya satu kalimat saja agar di akhir hidupmu ini di dunia hendaknya dengan berkata ‘la ilaaha illallah’,dan dengan kalimat itu saya akan bersaksi di sisi Alloh swt {kelak dikemudian hari}”.Berkata Abu Tholib:’Wahai keponakanku,sungguh saya tahu kalau [ajaran]mu benar,namun saya enggan dikatakan[kalau mengucapkan kalimat tersebut,] sebagai kesedihan saja dalam menghadapi kematian. Kalau sendainya [setelah mengucapkan kalimat tersebut] tidak terjadi pada dirimu dan bani ayahmu penghinaan dan celaan paska kematianku, sungguh aku akan mengatakan itu dihadapanmu ketika aku berpisah[mati],ketika aku lihat besarnya rasa cintamu dan nasehatmu.Namun sepertinya saya akan mati di atas agama abdul Muthollib, Hasim dan abdu Manaf.[Tafsir Al Munir,Wahbah juz 10 ,hal 499-500].

Tidak sulit untuk dibayangkan,seumpama ketika itu Abu Tholib memeluk islam dengan cara seperti yang dilakukan Oleh Hamzah,Abu Bakar,Umar dan Usman radliyallohu ‘anhum,tentu ia tidak akan dapat memberi perlindungan dan pembelaan kepada Rasululloh saw.Karena kaum musyrikin quraish pasti memandangnya sebagai musuh, bukan sebagai pemimpin masyarakat Mekkah yang harus dihormati dan disegani. Jika demikian tentu ia tidak mempunyai lagi kewibawaan untuk menumpulkan atau menekan perlawanan mereka terhadap Rasulullah saw,dan juga tidak dapat membentengi dakwah beliau.Memang benar ,pada lahirnya Abu Tholib nampak seagama dengan mereka, tetapi apa yang ada di dalam batinnya tentu hanya Allahh yang tahu. Karena itu jangan ceroboh menuduhnya musyrik.

3. Bagaimana mungkin beliau dikatakan seorang yang kafir,padahal beliaulah yang membela dakwah Nabi saw dengan jiwa dan hartanya. Dan bagaimana pula beliau disamakan dengan orang kafir quraish yang selalu menentang dan mengintimidasi Nabi saw, padahal Abu Tholib melakukan sebaliknya.

4. Adapun QS Al Qoshosh 56,itu terkait bahwa nabi saw tidak dapat memaksakan kehendak berhidayahnya seseorang sekalipun kepada yang dicintai.Karena kewenangan memberikan hidayah taufiq hanya Alloh swt.Seolah ayat tersebut menginfokan kepada Nabi saw bahwa hidayah pamannya itu adalah berada dalam urusan Allah. Dan tidak ada dari dhohirnya ayat tersebut yang menunjukkan kepada kufurnya Abu Tholib.

5. Perkara ini adalah khilafiyah atau terjadi perbedaan pendapat dikalangan ahlus sunnah sendiri. Maka seyogjanya kita mengambil pendapat yang tidak berefek madhorrot bagi aqidah kita atau minimal mengambil pendapat yang efek madhorrotnya paling ringan.Dan pendapat yang paling ringan adalah menganggap Abu Tholib seorang paman Nabi yang tidak masuk kafir,karena minimal itu dapat menjadi sikap husnuzhon kita atas beliau.Namun jika kita mengatakan beliau kafir,dan seandainya disisi Alloh beliau ternyata mukmin maka kita sudah terkena dosa fitnah atas tuduhan kekufuran kepadanya dan itu madhorrot yang besar dalam aqidah kita.Oleh karena itu lebih baik bagi kita adalah berhusnuzhon saja karena tidak ada gunanya bagi kita untuk mengkafirkan beliau.

Di sisi lain,kalaupun-seandainya- tidak ada perbedaan pendapat ulama menyangkut keislaman Abu Thalib dan semua sepakat menyatakan keengganannya beriman,namun karena hal tersebut pasti menyedihkan Nabi Muhammad saw,maka demi menjaga perasaan beliauserta mengingat jasa-jasa Abu Thalib kepada Nabi saw,maka hendaknya persoalan itu tidak dibahas secara panjang lebar,apalagi ayat diatas(at taubah 113 dan al Qoshosh 56) berbicara secara umum.dan dapat mencakup siapapun dan kapanpun.

Sayyid Muhammad Rasyid dalam Tafsir Al Manar menguraikan pendapat sementara ulama tentang hadis Nabi saw. Yang menyatakan :”Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri,niscaya pasti kupotong tangannya”(HR.Bukhari dan Muslim melalui ‘Aisyah ra).Menurutnya ada ulama yang enggan menyebut Fathimah dalam riwayat ini,dan menggantinya dengan kata Fulanah (si A) atas pertimbangan bahwa perasaan Nabi akan tersinggung bila orang lain menyebut nama putri beliau sebagai contoh untuk sesuatu yang buruk. Demikian kesimpulan dari pesan bijak DR.Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah.

Dan ada kata bijak lainnya yang patut direnungkan ; “Menuduh orang kafir sebagai mukmin tidaklah berdosa,namun menuduh orang mukmin sebagai orang yang kafir dan musyrik adalah dosa besar.”


Sanggahan Orang Tua Nabi Kafir

Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh  :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “
Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.
Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.
Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :

لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?
Kemudian turun ayat yang berbunyi :

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka. 
Jawaban :
Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab,  yaitu :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

sampai ayat 129 :

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).
Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.
Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :
  • Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Sebagian ulama’  mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.
Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.
  • Hadits Nabi SAW :

قال رسول الله  (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

“ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”
Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”
  • Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.
Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.

Rabu, 27 Januari 2016

YAYASAN MA'HAD NURUL HUDA SEDODOL, KRATON, PASURUAN

YAYASAN MA'HAD NURUL HUDA SEDODOL, KRATON, PASURUAN :
================
https://twitter.com/#!/YMNH_Pasuruan
No.Rek.YAYASAN: 6475-01-008904-53-4
YAYASAN MA'HAD (Lembaga Pendidikan) NURUL HUDA SEDODOL, KRATON, PASURUAN, JAWA TIMUR, INDONESIA
================
NPWP: 03.058.174.8-624.000
=================
Maksud & Tujuan Dalam Bidang: SOSIAL, KEMANUSIAAN dan KEAGAMAAN
==============
Organ YAYASAN MA'HAD NURUL HUDA PASURUAN: Pembina, Pengurus dan Pengawas
=============
MOTTO DAN SEMBOYAN NABAWIY UTK YAYASAN MA'HAD NURUL HUDA SEDODOL :
Nabi Muhammad SAW bersabda:
 "Carilah ilmu mulai dari buaian ibu (Minal Mahdi) hingga ke Liang Lahad (Ilallahdi)"
-----------------------------------
“orang yang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”
------------------------------
"Manusia Paling The Best adalah Mereka Yg Paling Banyak Memberi Manfa'at Kepada sesama"
--------------------------------
“Barang siapa yang Alloh kehendaki menjadi manusia terbaik, Dia SWT akan memahamkannya dalam urusan agama”
----------------------------------
“ Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaqnya “
-----------------------------------
“ Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya, baik amalnya “
------------------------------------
“ Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang tidak meninggalkan akhiratnya untuk dunianya dan tidak meninggalkan dunianya untuk akhiratnya serta tidak menjadi beban bagi orang lain “
---------------------------------
“ Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku (Nabi) paling baik terhadap keluargaku “ (HR.Ibnu Asakir)
------------------------------------
“ Orang Muslim adalah Orang Muslim Lainnya (Kaum Muslimin) dapat selamat dari lisan dan tangannya “