ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 22 Mei 2017

Silsilah Emas Nasab Syaikhona Muhammad Kholil Bin Abdul Lathif Al-Bangkalany


SILSILAH EMAS NASAB Kyai Kholil Bangkalan

Syekh Kholil adalah titisan beberapa wali yang tergabung dalam Walisongo, Yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus, yang mana mereka bermarga “Azmatkhan” dan bersambung pada Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Beliau juga bernasab pada keluarga Basyaiban yang bersambung pada Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbat Al-Alawi Al-Husaini.
Berikut ini adalah silsilah nasab Syekh Syekh Kholil, terlebih dahulu saya tulis silsilah jalur laki-laki yang bersambung pada Suanan Kudus, untuk menunjukkan hak beliau dalam menggunakan nama belakang (marga/fam) “Azmatkhan Al-Alawi Al-Husaini”, sesuai dengan adat dan istilah pernasaban bangsa Arab.
Jalur Sunan Kudus
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4. Kiai Abdul Karim[1].
5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan[2].
6. Kiai Abdul Azhim[3]. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7. Kiai Sulasi. Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
8. Kiai Martalaksana. Dimakamkan di Banyu Buni, Gelis, Bangkalan.
9. Kiai Badrul Budur. Dimakamkan di Rabesan, Dhuwwek Buter, Kuayar, Bangkalan.
10. Kiai Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
11. Kiai Khatib. Ada yang menulisnya “Ratib”. Dimakamkan di Pranggan, Sumenep.
12. Sayyid Ahmad Baidhawi (Pangeran Ketandar Bangkal). Dimakamkan di Sumenep.
13. Sayyid Shaleh (Panembahan Pakaos). Dimakamkan di Ampel Surabaya[4].
14. Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)[5]. Dimakamkan di Kudus.
15. Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung)[6]. Dimakamkan di Kudus.
16. Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri /Raja Pandita). Dimakamkan di Gresik.
17. Sayyid Ibrahim (Asmoro). Dimakamkan di Tuban[7].
18. Sayyid Husain Jamaluddin[8]. Dimakamkan di Bugis.
19. Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin. Dimakamkan di Naseradab, India.
20. Sayyid Abdullah[9]. Dimakamkan di Naserabad, India.
21. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Dimakamkan di Naserabad, India.
22. Sayyid Alawi ‘Ammil Faqih. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
23. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath. Dimakamkan di Zhifar, Hadramaut, Yaman.
24. Sayyid Ali Khali’ Qasam. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.
25. Sayyid Alawi. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
26. Sayyid Muhammad. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.
27. Sayyid Alawi. Dimakamkan di Sahal, Yaman.
28. Sayyid Abdullah/Ubaidillah. Dimakamkan di Hadramaut, Yaman.
29. Al-Imam Ahmad Al-Muhajir . Dimakamkan di Al-Husayyisah, Hadramaut, Yaman.
30. Sayyid Isa An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
31. Sayyid Muhammad An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.
32. Al-mam Ali Al-Uradhi. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
33. Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
34. Al-Imam Muhammad Al-Baqir. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
35. Al-Imam Ali Zainal Abidin. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.
36. Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dimakamkan di Karbala, Iraq.
37. Sayyidatina Fathimah Az-Zahra’ binti Sayyidina Muhammad Rasulillah SAW.
Dimakamkan di Madinah Al-Munawwarah
Maka, dari jalur Sunan Kudus, Syekh Kholil adalah generasi ke-37 dari Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Ampel
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4. Kiai Abdul Karim.
5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
10. Sayyid Muhammad Khathib (Raden Bandardayo)[10]. Dimakamkan di Sedayu Gresik.
11. Sayyid Musa (Sunan Pakuan). Dimakamkan di Dekat Gunung Muria Kudus. Dalam
sebagian catatan nama Musa ini tidak tertulis.
12. Sayyid Qasim[11] (Sunan Drajat). Dimakamkan di Drajat, Paciran Lamongan.
13. Sayyid Ahmad Rahmatullah[12] (Sunan Ampel). Dimakamkan di Ampel, Surabaya.
14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Sulasi dan Kiai Sulasi bertemu.
Maka, melalui jalur Sunan Ampel, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Giri
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.
4. Kiai Abdul Karim.
5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.
6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.
7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.
8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.
10. Nyai Gede Kedaton (istri Sayyid Muhammad Khathib). Dimakamkan di Giri, Gresik.
11. Panembahan Kulon. Dimakamkan di Giri, Gresik.
12. Sayyid Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri). Dimakamkan di Giri, Gresik.
13. Maulana Ishaq. Dimakamkan di Pasai.
14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Gede Kedaton dan Sayyid Muhammad
Khathib bertemu.
Maka, melalui jalur Sunan Giri, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.
Jalur Sunan Gunung Jati
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim[13]). Dimakamkan di Bangkalan.
4. Kiai Asror Karomah.
5. Sayyid Abdullah.
6. Sayyid Ali Al-Akbar[14].
7. Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.
8. Syarifah Khadijah.
9. Maulana Hasanuddin[15]. Dimakamkan di Banten.
10. Syarif Hidayatullah[16] (Sunan Gunung Jati). Dimakamkan di Cirebon.
11. Sayyid Abdullah Umdatuddin.
12. Sayyid Ali Nuruddin/Nurul Alam.
13. Sayyid Husain Jamaluddin Bugis. Disini nasab Nyai Khadijah dan Kiai Hamim Kholil bertemu.
Maka, melalui jalur Sunan Gunung Jati, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.
Jalur Basyaiban
1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.
2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.
3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.
4. Kiai Asror Karomah.
5. Sayyid Abdullah.
6. Sayyid Ali Al-Akbar.
7. Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.
8. Sayyid Abdurrahman (Suami Syarifah Khadijah binti Hasanuddin).
9. Sayyid Umar.
10. Sayyid Muhammad.
11. Sayyid Abdul Wahhab.
12. Sayyid Abu Bakar Basyaiban.
13. Sayyid Muhammad.
14. Sayyid Hasan At-Turabi.
15. Sayyid Ali.
16. Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam.
17. Saayid Ali.
18. Sayyid Muhammad Shahib Mirbat. Disini nasab keluarga Azmatkhan dan Basyaiban bertemu.
Maka, melalui jalur Sayyid Abdurrahman Basyaiban, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.
Demikianlah nasab Syekh Kholil dengan berbagai jalur yang saya dapatkan sampai saat ini, bisa jadi suatu hari nanti kita menemukan nama-nama baru daripada istri-istri jalur laki-laki yang ada itu.
Dalam hal pencatatan nasab, ada satu hal yang cukup membanggakan bagi Kiai-kiai Jawa dan Madura. Berkat gabungan antara adat Arab dalam menjaga silsilah dan adat Jawa/Madura yang tidak membeda-bedakan garis laki-laki dan perempuan, akhirnya Kiai-Kiai Jawa/Madura banyak yang memliki silsilah lengkap dari berbagai jalur. Saya pernah menunjukkan sebuah silsilah seperti ini pada seorang Syekh dari Yaman, beliau merasa kagum karena banyak jalur perempuan yang juga dicatat dalam silsilah itu selain jalur laki-laki, karena pada umumnya, orang Arab tidak tahu nama-nama kakek-buyutnya yang dari jalur ibu atau jalur nenek, mereka hanya mengenal yang jalur ayah keatas dengan garis laki-laki. [*]

[1] Diambil dari catatan Syekh Kholil sendiri pada akhir terjemah beliau atas kitab “Alfiyah Ibnu Malik” pada tahun 1294 H. Beliau menulis nama beliau dengan: “Muhammad Kholil bin Hamim bin Abdul Karim bin Muharrom”. Lihat lampiran “d” Banyak orang yang tidak mencatat nama “Abdul Karim” dan “Muharrom” dalam silsilah Syekh Kholil. Padahal sudah jelas tertera pada kitab tulisan tangan Syekh Kholil. Nasab ini juga diperkuat oleh penuturan Kiai Faqih Konang (Loamer Bangkalan). Kiai Faqih meninggal pada tahun 2006 dalam usia lebih dari 120 tahun. Setahun sebelum meninggal, saya bertemu dengan beliau untuk mengambil riwayat tentang kiai-kiai keturunan Sunan Cendana Kuanyar. Kamipun berbincang-bincang selama kurang lebih empat jam dalam dua kali pertemuan, sampai membuat tamu-tamu yang lain mengantri lama di luar. Beliau sangat gembira dengan kedatagan saya, apalagi dalam rangka mengumpulkan riwayat Kiai-kiai sepuh, sehingga beliaupun memaksa untuk berbicara banyak walapun kondisi tubuh beliau sangat lemah, biasanya beliau menerima tamu hanya sekitar lima menit. Waktu itu saya ditemani oleh Kiai Khozin Bungkak. Sebagian perbincangan itu sempat saya rekam dan saya tulis. Diantara yang beliau sebutkan adalah bahwa Nyai Sulasi (cucu Sunan Cendana) dengan Kiai Sulasi memiliki putra bernama Kiai Abdul Fattah, Kiai Abdul Fattah mempunyai beberapa putra diantaranya bernama Kiai Abdul Azhim, dan diantara putra Kiai Abdul Azhim adalah Kiai Muharrom yang menurunkan Syekh Kholil Bangkalan. Sampai saat ini saya belum menemukan catatan yang mencantumkan nama “Abdul Fattah”, maka dari itu dalam silsilah ini saya tidak memasukkanya, karena saya lebih menguatkan yang ada catatannya. Malah saya punya perkiraan bahwa “Abdul Fattah” itu adalah nama asli Kiai Sulasi, barangkali saja Kiai Faqih salah dengar atau salah ucap. “Sulasi” itu bukan nama orang, melainkan nama tempat yang asalnya adalah “Selase”. Dijuluki Kiai Sulasi karena tinggal di Selase itu. Nah, mungkin saja “Abdul Fattah” adalah nama asli beliau sehingga riwayat Kiai Faqih menjadi rancu antara “Kiai Sulasi” dan “Kiai Abdul Fattah”. Riwayat Kiai Faqih tentang Kiai Muharrom ini lebih menguatkan catatan yang ada dalam kitab Syekh Kholil. 
[2] Berdasarkan riwayat Kiai Faqih.
[3] Nama-nama mulai dari Kiai Abdul Azhim sampai ke Raden Santri saya dapatkan dari Kiai Fauzi Lomaer. Beliau mendapatkan dari catatan keluarga Bani Muqiman bin Hamim.
[4] Menurut catatan Kiai Fauzi, beliau inilah yang terkenal dengan julukan “Mbah Sholeh” murid Sunan Ampel.
[5] Ada yang menulis Sunan Kudus sebagai putra Sunan Ampel, terasuk Sayyid Dhiya’ Syihab dalam ta’liq kitab “Syams Azh-Zhahirah”. Namun yang saya lihat dalam banyak catatan silsilah yang dipegang Kiai-kiai di berbagai tempat adalah bahwa ibu Sunan Kudus bernama Nyai Anom Manyuran binti Nayi Ageng Manyuran binti Sunan Ampel. Sampai saat ini banyak kalangan tertentu yang terlalu fanatik dengan kitab “Syams Azh-Zhahirah” dan ta’liqnya, sehingga ada semacam pemahaman bahwa kalau tidak ada dalam kitab tersebut atau bertentangan dengan kitab tersebut berarti tidak sah. Padahal, saya lihat kitab itu banyak kelemahan riwayatnya ketika berbicara tentang Walisongo yang dari keluarga Azmatkhan. Hal itu sebenarnya dapat dimaklumi, karena kitab tersebut dutulis tidak berdasarkan kumpulan riwayat yang tersebar di berbagai tempat. penulis ta’liq kitab tersebut hanya menulis berdasarkan riwayat beberapa orang yang sempat beliau temui, karena beliau tidak banyak waktu untuk mengunjungi semua Kiai dan menanyai silsilah mereka. Namun begitu, beliau telah melakukan hal yang besar dengan memperkenalkan “Sunan-sunan” keluarga Azmatkhan pada Alawiyyin di Arab. Hanya saja, sangat disayangkan karena kemudian tidak ada dari kalangan mereka yang menindaklanjuti langkah beliau dengan menulusuri keturunan Sunan-sunan itu. Hal ini kemudian menimbulkan suatu asumsi yang tidak ilmiyah di kalangan awam mereka, yaitu dengan menganggap bahwa yang tidak tercatat dalam ta’liq “Syams Azh-Zhahirah” berarti tidak sah. Apalagi sering terdengar komentar sinis dari kalangan awam itu bahwa Sunan-sunan tidak punya keturunan laki-laki, karena anak-anak mereka yang laki-laki meninggal sebelum punya anak. Padahal, Sayyid Dhiya’ Syihab dalam ta’liq “Syams Azh-Zhahirah” jelas menulis nama-nama Kiai yang beliau ambil riwayatnya dengan mengatakan bahwa mereka masih keturunan Sunan. Demikian pula dengan Sayyid HMH Al-Hamid, dalam buku “Pembahasan Tuntas Tetang Khilafiah”, beliau juga menyatakan bahwa banyak sekali Kiai-kiai yang bernasab pada Sunan-sunan Azmatkhan dengan garis laki-laki.
[6] Dalam Taliq “Syams Azh-Zhahirah”, Sunan Ngudung ditulis sebagai putra Ali Nuruddin bin Husain Jamaluddin. Berarti Sunan Ngudung adalah saudara kandung ayah Sunan Gunung Jati. Sementara keraton Cirebon tidak mengenal nama Sunan Ngudung sebagai kerabat dekat. Seandainya Sunan Ngudung adalah paman kandung Sunan Gunung Jati, maka tentu bangsawa Cirebon akan mencatat nama beliau sebagaimana nama Falatehan yang menjadi menantu Sunan Gunung Jati. Ditambah lagi dengan riwayat masyhur dalam catatan silsilah Kiai-kiai yang menyatakan bahwa Sunan Ngudung adalah mantu cucu Sunan Ampel. Selain itu, Sunan Ngudung populer di zaman Kesultanan Demak sepeninggal Sunan Ampel, maka hitungan tahunnya lebih layak kalau Sunan Ngudung menjadi keponakan Sunan Ampel daripada menjadi paman Sunan Gunung Jati. Mengingat Ta’liq “Syams Azh-Zhahirah” tidak menyebut referensinya, maka saya lebih menguatkan silsilah yang menyebut “Sunan Ngudung bin Raden Santri”, karena silsilah ini ditulis dengan jelas dalam banyak catatan Kiai-Kiai. Mungkin saja, yang membuat rancu referensi “Syams Azh-Zhahirah” adalah nama “Ali”, karena nama Raden santri dan kakek Sunan Gunung Jati sama-sama ada “Ali”nya. Kalau Raden Santri bernama asli “Fadhal Ali Al-Murtadha” sedangkan kakek Sunan Gunung Jati bernama “Ali Nuruddin” atau yang oleh sebagian orang ditulis “Ali Nurul Alam”.
[7] Nama ini sering dibuat rancu oleh banyak orang. Mereka menganggap bahwa Ibrahim ini adalah Maulana Malik Ibrahim. Adapun Maulana Malik Ibrahim adalah putra Barakat Zainul Alam bin Husain Jamaluddin.
[8] Banyak orang menyebutnya Syekh Jumadil Kubro. Dan ada banyak makam yang dinisbatkan pada Syekh Jumadil Kubro. Maka boleh jadi “Syekh Jumadil Kubro” itu adalah tahrif (salah ucap) dari beberapa nama. Adapun yang paling shahih adalah makam yang di Bugis, karena di sekitar makam itu terdapat banyak keluarga bangsawan yang bernasab pada beliau.
[9] Banyak yang menulisnya “Abdullah Khan”. Ini adalah suatu kesalahan. Marga “Khan” itu bukan marga Sayyid, melainkan marga bangsawan Pakistan yang mengadopsi dari nama belakang penguasa-penguasa Mongol. Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India. Ketika Sayyid Abdul Malik (ayah Sayyid Abdullah) menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang. Tentang sejarah keluarga Azmatkhan mulai dari leluhur Sayyid Abdul Malik hingga Sunan-sunan Walisongo, saya telah menulisnya dengan panjang lebar dalam buku “Dari Kanjeng Nabi Sampai Kanjeng Sunan”.
[10] Di Madura banyak silsilah dengan nama “Khathib”, termasuk ayah Sunan Cendana ini. Ketika orang-orang menemukan nama Khathib dan belum dapat “bin siapa”nya, mereka cenderung mencari-cari nama Khathib dalam silsilah lain. Hal ini mengakibatkan adanya banyak kerancuan silsilah keatas seorang “Khathib”, termasuk Khathib ayah Sunan Cendana ini. Saya menguatkan nasab Sunan Cendana dengan silsilah Khathib bin Musa bin Qasim (Sunan Drajat), karena silsilah yang ini dipegang oleh banyak keluarga dari bani Sunan Cendana. Setahu saya, ada dua “Khathib” yang pernah terselip pada silsilah Sunan Cendana selain yang dipegang juru kunci, yaitu Khathib bin Sya’ban bin Sunan Ampel dan Khathib Panjang bin Panembahan Kidul bin Sunan Giri.
Kemudian ada satu hal yang perlu saya bicarakan mengenai silsilah antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat. Ada seorang Arab yang dikenal ahli nasab dan kemudian mengusik nasab Sunan Cendana. Hal ini saya anggap perlu dibahas agar pembaca mengerti persoalannya kalau-kalau suatu saat mendengar “omongan miring” itu. Awalanya begini, suatu ketika saya menunjukkan nasab seseorang yang bersambung pada Sunan Cendana. Iapun merasa keberatan melihat catatan silsilah itu menunjukkan bahwa pemiliknya adalah keturunan ke-35 dari Rasulullah SAW. Sementara dia sendiri (si ahli nasab) yang lebih tua dari pemilik silsilah itu adalah keturunan ke-40. Kemudian si ahli nasab itu mengatakan bahwa silsilah itu meragukan sehingga sulit untuk menembus pengesahan Rabithah Alawiyah (Persatuan Alawiyyin keturuan Al-Hasan dan Al-Husain), karena saksi-saksi yang mengetahui langsung hubungan anak-beranak dari nama-nama dalam silsilah itu sudah meninggal semua. Tidak beberapa lama kemudian saya bertemu dengan Kiai Hannan (juru kunci makam Sunan Cendana). Ketika berbincang-bincang tentang nasab Sunan Cendana, Kiai Hannan berkata bahwa beberapa bulan yang lalu beliau berbincang-bincang dengan si ahli nasab itu, dia bilang bahwa antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat itu ada sekitar empat nama yang hilang, mestinya bukan Sunan Cendana bin Khathib bin Sunan Drajat, melainkan setidaknya Sunan Cendana bin Khathib bin fulan bin fulan bin fulan bin fulan bin Sunan Drajat. Dengan cerita Kiai Hannan itu, saya baru paham mengapa si ahli nasab itu keberatan dengan silsilah keturunan Sunan Cendana, yaitu karena nasab keturunan Sunan Cendana kebanyakan sangat tinggi dibanding si ahli nasab, nampaknya ia keberatan untuk kalah tinggi dengan keturunan Sunan Cendana, sehingga iapun berani berbohong meyakini ada sedikitnya empat nama yang hilang. Untuk itu saya kemukakan beberapa hal berikut:
1. Megenai saksi-saksi yang diminta itu, saya rasa itu adalah sangat berlebihan. Itsbat (membenarkan) nasab itu tidak harus ada saksi yang tahu langsung hubungan anak-beranak antara seseorang dengan ayahnya. Jangankan untuk orang lain, untuk kakek saya sendiri saja saya tidak bisa mendatangkan saksi yang tahu langsung bahwa kakek adalah putra buyut saya, saksi yang tahu langsung sudah meninggal semua, saya tahu itu dari ayah dan keluarga saya lainnya yang pernah bertemu kakek, sebagaimana mereka tahu tentang buyut mereka dari kakek. Itsbat itu cukup dengan riwayat, bahwa apabila ada riwayat tentang sebuah nasab yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah (bisa dipercaya) secara turun temurun, apalagi sampai ada catatannya, maka hal itu sudah sangat cukup untuk itsbat nasab. Sedangkan catatan silsilah atas-bawah Sunan Cendana tersebar pada ratusan keluarga keturunan beliau yang rata-rata keluarga ulama besar. Apakah kita masih menyangsikan catatan yang dipegang oleh semisal keluarga Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Syamsuddin Ombhul (Sampang), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Asembagus), Kiai Hasan Genggong (Probolinggo), Kiai Abdur Rahim Sarang (Rembang Jawa Tengah) dan yang lain-lain? Mereka semua adalah ulama-ulama besar. Mereka adalah keturunan Sunan Cendana dan masing-masing memegang silsilah yang diterima turun temurun.
2. Kesimpulannya, silsilah antara keturunan Sunan Cendana yang sekarang hingga Sunan Cendana sama sekali tidak ada masalah. Maka masalahnya tinggal antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat. Tadi disebutkan bahwa si ahli nasab menuduh ada sekitar empat nama yang hilang antara Sunan Cendana dan Sunan Derajat. Coba kita perhatikan berikut ini: Sejarah mencatat bahwa Sunan Derajat lahir sekitar tahun 1470 M. (+ 930 H.) Sedangkan menurut catatan turun temurun, Sunan Cendana hidup pada zaman Cakraningrat I Bangkalan, kira-kira tahun 1625. Berarti jarak antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat sekitar 155 tahun. Nah, jarak itu sangat layak untuk diisi empat generasi, yaitu Sayyid Musa, Sayyid Muhammad Khathib, Sayyid Zainal Abidin dan putra-putra beliau, karena beliau berusia panjang. Dari pernyataan dan kesimpulan itu, saya kemudian menarik kesimpulan bahwa keberatan yang dikemukakan oleh si ahli nasab itu hanya karena keberatan untuk dianggap nasabnya kalah tinggi dengan keturunan Sunan Cendana. Iapun beruasaha untuk menciptakan kesangsian terhadap silsilah keluarga Sunan Cendana. Mengingat dari Sunan Cendana kebawah tidak ada celah untuk dituduh “kurang nama”, karena kebanyakan keturunan Sunan Cendana telah menjaga silaturrahim, maka iapun melemparkan tuduhan itu pada antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat. Sayangnya, ia tidak memperhatikan tahun kelahiran mereka, sehingga tuduhan itupun berbalik menjadi hal yang memalukan bagi dirinya.
Hendaknya dipahami, bahwa ketaqwaan itu lebih mendekatkan seseorang pada leluhurnya yang shaleh, bukan hitungan nasabnya. Cucu Siti Fathimah yang ke-33 tidak lebih mulia daripada cucu yang ke-40. Apabila lebih bertaqwa dan lebih berprestasi, maka cucu ke-40 akan lebih dekat dengan Siti Fathimah daripada cucu ke-33. Kesalahpahaan mengenai hal ini cenderung membuat orang merasa gengsi untuk mengakui kedekatan nasab orang lain, apalagi ketika yang bernasab lebih dekat itu lebih muda atau dianggap “orang biasa”.
[11] Ada yang menulisnya “Hasyim”, seperti Ta’liq “Syams Azh-Zhahirah”. Saya menguatkan “Qasim” karena nama itu yang saya temukan dalam semua catatan yang saya temui di tangan Kiai-kiai keturunan Sunan Drajat.
[12] Ada yang menulisnya “Ali Rahmatullah”, seperti Ta’liq “Syams Azh-Zhahirah”. Saya menguatkan “Ahmad Rahmatullah” karena nama itu yang saya temukan dalam semua catatan yang saya temui di tangan Kiai-kiai keturunan Sunan Ampel.
[13] Kiai Hamim adalah menantu Kiai Asror. Sebagian silsilah mencatat “Hamim bin Asror”. Kerancuan itu sebenarnya berawal dari kalimat “Syekh Kholil putra Kiai Hamim dan cucu Kiai Asror”. Orang yang tidak tahu persis menjadi salah paham. Adapun lebih menisbatkan Syekh Kholil sebagai cucu Kiai Asror daripada sebagai cucu Kiai Abdul Karim (ayah Kiai Hamim) itu berawal dari adat orang Jawa dan Madura yang tidak membeda-bedakan garis laki-laki dan perempuan, sehingga ketika memilih kakek, mereka akan memilih kakek yang paling keramat walaupun dari garis ibu. Syekh Kholil dinisbatkan sebagai cucu Kiai Asror karena Kiai Asror lebih terkenal daripada Kiai Abdul Karim. Akibat Syekh Kholil lebih dikenal sebagai cucu Kiai Asror, maka beliaupun lebih dikenal sebagai cucu Sunan Gunung Jati, padahal Kiai Asror juga cucu Sunan Gunung Jati dari garis perempuan. Sebelum ini, jarang orang yang tahu bahwa nasab Syekh Kholil yang garis laki-laki bersambung pada Sunan Kudus, sedangkan beberapa jalur perempuan beliau juga bersambung pada Sunan Ampel dan Sunan Giri.
[14] Banyak catatan yang saya temukan kehilangan nama ini. Padahal nama ini sudah masyhur di kalangan keluarga Basyaiban dan telah disahkan Robithoh Alawiyah.
[15] Sebagian silsilah yang tidak mencatat nama ini. Mungkin “kelewatan” itu berangkat dari kalimat “Sayyid Sulaiman adalah keturunan Sunan Gunung Jati dari pihak ibu”. Keturunan bisa cucu dan bisa cicit. Ketika kalimat itu dimaksudkan cicit, maka yang mendengar mengira cucu, sehingga langsung saja ia menyimpulkan “Sulaiman bin putri Sunan Gunung Jati”. Wallahu a’lam.
[16] Ada yang menulis bahwa Hidayatullah adalah nama lain dari Fatahillah yang berasal dari aceh, termasuk HAMKA yang kemudian dinukil oleh kitab “Syams Azh-Zhahirah”. Adapun yang benar adalah bahwa Hidayatullah dan Fatahillah itu dua orang yang berbeda. Adapun Fatahillah adalah putra Sayyid Ibrahim bin Abdul Ghafur bin Barakat bin Husain Jamaluddin. Fatahillah dikenal dengan panggilan “Falatehan”, pernah menjadi Panglima Perang Kerajaan Demak, kemudian menjadi Panglima Perang Kesultanan Cirebon di masa Sunan Gunung Jati dan menaklukkan Sunda Kelapa. Setelah itu beliau menikah dengan putri Sunan Gunung Jati.

Jumat, 19 Mei 2017

Walisongo* *تاريخ الأولياء التسعة* تاريخ والي ساغا تأليف العلامة بشري مصطفى الرمباني

Kitab yang Menjelaskan Kisah dan Silsilah Walisongo*

*تاريخ الأولياء التسعة*
تاريخ والي ساغا
تأليف العلامة بشري مصطفى الرمباني
https://archive.org/details/TarikhulAuliyaKHBisriMusthofa.compressed

https://archive.org/details/TarikhulAuliyaKHBisriMusthofa.compressed

Kenapa Rizqi Kita Sempit???

KENAPA RIZQI KITA SEMPIT???
======<<<
Sayyidina Ali bin Abi Thalib menjelaskan "mengapa rizki kita sempit"*
ﺟﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻋﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻳﺸﻜﻮ ﻟﻪ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻭﻗﻠﺔ ﺍﻟﺮﺯﻕ
Datang seseorang kepada Sayyidina Ali mengeluhkan kemiskinan dan kekurangan rezeki
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﺘﻜﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻼﺀ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ
Maka beliau berkata kepada orang tersebut :
"Mungkin kamu suka berbicara saat di kamar mandi?"
Dia mengatakan :
"Tidak wahai Amirol mu'minin"
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﻘﻠﻢ ﺍﻇﻔﺎﺭﻙ ﺑﺎﺳﻨﺎﻧﻚ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu suka menggigit kukumu?"
"Tidak ".
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﺴﻤﻲ ﺃﺑﻮﻳﻚ ﺑﺎﺳﻤﻴﻬﻤﺎ ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu memanggil atau menyebut kedua orang-tuamu dengan nama mereka?"
"Tidak ".
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﺘﺮﻙ ﺍﻟﻘﻤﺎﻣﺔ ﻟﻴﻼ ﻓﻰ ﺩﺍﺭﻙ ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu membiarkan sampah bermalam dalam rumah?
"Tidak "
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﻨﺎﻡ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻭﺿﻮﺀ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu sering tidur tanpa wudhu ?
"Tidak "
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﺘﻘﺪﻡ ﺃﺑﻮﻳﻚ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺸﻲ ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu suka berjalan mendahului jalannya orang-tuamu ke depan ?
"Tidak "
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﻜﻨﺲ ﺩﺍﺭﻙ ﻟﻴﻼ ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu sering menyapu rumah di malam hari?"
"Tidak "
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﻘﻠﻢ ﺍﻇﻔﺎﺭﻙ ﻳﻮﻡ ﺍﻻﺣﺪ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu memotong kuku di hari minggu?"
"Tidak ".
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﺪﻳﻢ ﺍﻟﻠﻌﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻨﺎﺋﻚ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ
"Apakah kamu sering mengutuk anak²mu?"
"Tidak ".
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﻠﻘﻲ ﺑﺎﻟﺒﺼﺎﻕ ﻓﻰ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﺨﻼﺀ ؟ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu sering membuang ludah ke kamar mandi?"
"Tidak "
ﻗﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﺗﺘﺮﻙ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ؟ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻓﻰ ﺁﺧﺮﻩ ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻻﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ
"Mungkin kamu tidak baca bismillah sebelum makan ataupun Alhamdulillah setelahnya?"
"Tidak ".
ﻓﻘﺎﻝ :
ﻟﻌﻠﻚ ﻻﺗﺪﻋﻮ ﻻﺑﻮﻳﻚ ﻓﻰ ﺍﻟﺼﻼﺓ ؟
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺟﻞ :
ﻧﻌﻢ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻫﻮ ﺫﻟﻚ .
"Mungkin kamu tidak mendoakan kedua orang-tuamu saat shalat ?"
"Iya benar wahai Amirol Mu'miniin. itulah kekurangan saya ".
ﺭﺑﻲ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﻭﻟﻮﺍﻟﺪﻱّ ﻭﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﻮﻡ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﺁﻣﻴﻦ .
Copas: Dari kitab Salinan
Al-Habib Salim As-Syatiriy _nafa'anallohu bi 'uluumihi fid daroyn_..Aaamiin🙏🏻

Kamis, 18 Mei 2017

أحلى المسامرة في حكاية الأولياء العشرة

أحلى المسامرة في حكاية الأولياء العشرة

أحلى المسامرة في حكاية الأولياء العشرة
للشيخ العلامة أبي الفضل بن عبد الشكور السنوري الجاوي

Rabu, 17 Mei 2017

Referensi kitab tentang Wali Songo

*Referensi Kitab-Kitab yang Menjelaskan Kisah dan Silsilah Walisongo*

*تاريخ الأولياء التسعة*
تاريخ والي ساغا
تأليف العلامة بشري مصطفى الرمباني
https://archive.org/details/TarikhulAuliyaKHBisriMusthofa.compressed

https://archive.org/details/TarikhulAuliyaKHBisriMusthofa.compressed

*Syamsudz Dzahiroh*
https://archive.org/details/chams-addahira

*احلى المسامرة في حكاية اولياء العشرة*
http://maktabahtahmil.blogspot.co.id/2015/11/blog-post_584.html?m=1

*الامام المهاجر*
https://archive.org/details/maktabahtahmilkutub_yopmail_201602

Silsilah Emas Nasab Ketum PBNU: Prof.DR KH. Said Aqil Siraj

Sillsilah Emas Nasab Ketum PBNU (Prof. DR. Al-Habib Al-Sayyid KH.Said Aqil Siraj 'Azmatkhan) :
==========

• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Imam Sayyidina Husain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir
• Sayyidina Ja’far As-Shodiq
• Sayyid Al-Imam Ali Uraidhi
• Sayyid Muhammad An-Naqib
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi
• Ahmad al-Muhajir
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah
• Sayyid Alawi Awwal
• Sayyid Muhammad Sohibus Sauma'ah
• Sayyid Alawi Ats-Tsani
• Sayyid Ali Kholi’ Qosam
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut)
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India)
• Sayyid Abdullah Azhomatkhan
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Azmatkhan
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Azmatkhan
• Sayyid ‘Ali Nuruddin Azmatkhan @ ‘Ali Nurul ‘Alam
• Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Azmatkhan
• Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Azmatkhan
• Pangeran Pasarean @ Pangeran Muhammad Tajul Arifin
• Pangeran Dipati Anom @ Pangeran Suwarga @ Pangeran Dalem Arya Cirebon
• Pangeran Wirasutajaya ( Adik Kadung Panembahan Ratu )
• Pangeran Sutajaya Sedo Ing Demung
• Pangeran Nata Manggala
• Pangeran Dalem Anom @ Pangeran Sutajaya ingkang Sedo ing Tambak
• Pangeran Kebon Agung @ Pangeran Sutajaya V
• Pangeran Senopati @ Pangeran Bagus
• Pangeran Punjul @ Raden Bagus @ Pangeran Penghulu Kasepuhan
• Raden Ali
• Raden Muriddin
• KH Raden Nuruddin
• KH Murtasim ( Kakak dari KH Muta’ad Benda Kerep )
• KH Said ( Pendiri Gedongan )
• KH Siraj
• KH Aqil
• Prof. DR. Al-Habib Al-Sayyid KH. Said Aqil Siraj 'Azmatkhan ( Ketua Umum PBNU )

Al-Fatihah....

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Selasa, 16 Mei 2017

Ekspresi orang tua di alam kubur saat diziyarohi anaknya di makamnya

EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR KETIKA DIZIARAHI ATAU DIDO'AKAN ANAKNYA
.
Dalam penjelasan kitab al-Ruh, karya Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah,  Apa yang terjadi kepada orang tua ketika Anda berziarah ke makam mereka atau ketika Anda mendoakan mereka?
.
Syaikh Muhammad al-Syanqithi, berkata: “Semoga Alloh mengampuni keluarga kita yang telah meninggal dunia dan kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Aku tidak mampu menahan tangis melihat betapa perlunya ahli kubur kepada kita. Aku terkesan dan aku ingin semuanya mengetahui hal ini.
Utsman bin Sawad, ulama salaf, bercerita tentang ibunya, seorang wanita yang ahli ibadah. Ketika ibunya akan meninggal dunia, ia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata: “Wahai tabunganku, wahai simpananku, wahai Tuhan yang selalu menjadi sandaranku alam hidupku dan setelah kematiaku, jangan Engkau abaikan diriku ketika mati, jangan biarkan aku kesepian dalam kuburku.” Kemudian ia meninggal dunia.
.
Aku selalu berziarah ke makamnya setiap hari Jum’at. Aku berdoa untuknya, dan memohonkan ampun baginya dan semua ahli kubur di situ. Pada suatu malam aku bermimpi berjumpa dengan ibuku.
.
Aku berkata: “Wahai ibuku, bagaimana keadanmu?”
.
Ia menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya kematian itu adalah kesusahan yang dahsyat. Aku alhamdulillah ada di alam barzakh yang terpuji. Ranjangnya harum, dan bantalnya terdiri tenunan kain sutera.”
.
Aku berkata: “Apakah Ibu ada keperluan kepadaku?”
.
Ia menjawab: “Iya. Jangan kamu tinggalkan ziarah yang kamu lakukan kepada kami. Sungguh aku sangat senang dengan kedatanganmu pada hari Jum’at ketika berangkat dari keluargamu. Orang-orang akan berkata kepadaku: “Ini anakmu sudah datang.” Lalu aku merasa senang, dan orang-orang mati yang ada di sekitarku juga senang.”
.
Basysyar bin Ghalib, ulama salaf pula, berkata: “ Aku bermimpi Robiah al-Adawiyah dalam tidurku. Aku memang selalu mendoakannya. Dalam mimpi itu ia berkata kepadaku: “Wahai Basysyar, hadiah-hadiahmu selalu sampai kepada kami di atas piring dari cahaya, ditutupi dengan sapu tangan sutera.”
.
Aku berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
.
Ia menjawab: “Begitulah doa orang-orang yang masih hidup. Apabila mereka mendoakan orang-orang yang sudah mati dan doa itu dikabulkan, maka doa itu diletakkan di atas piring dari cahaya dan ditutupi dengan sapu tangan sutera. Lalu hadiah itu diberikan kepada orang mati yang didoakan itu. Lalu dikatakan kepadanya: “Terimalah, ini hadiah si anu kepadamu.”
.
Seberapa sering kita berziarah ke makam orang tua, keluarga dan guru kita yang telah meninggal dunia?
.
Seberapa banyak kita mendoakan mereka dalam waktu-waktu kita beribadah??
.
Ziarah kita dan doa kita sangat penting bagi mereka.
Semoga bermanfaat.
.
رب اجعلنی مقيم الصلاة ومن ذريتی ربنا وتقبل دعاء ربنا اغفرلی ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب
.

( Fanspage resmi Alhabib hud Al-attas )
.





🌹Allohumma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa sallim
.🌹

Senin, 15 Mei 2017

Serat Centhini Jilid 2

Serat Centhini Jilid 2:
=========
Ulah Asmara Dalam Membuka Dan Mempercepat Orgasme Perempuan Dalam Serat Centhini Jilid 2 Pupuh 107 Asmadana.
=============
Dalam masyarakat Jawa adab dan tatacara sebelum melakukan hubungan asmaragama juga diajarkan sebagai contoh; ritualisasi seksual juga diungkapkan dalam Serat Centhini, termasuk soal tata krama dalam melakukan hubungan seksual antar-suami-istri. Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan. Maksudnya, mengetahui situasi, tempat, dan keadaan, tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.

Selain mendasarkan diri pada tata krama menurut budaya Jawa, tata krama ini juga mendasarkan diri pada hadits Nabi Muhammad SAW. Misalnya, sebelum melakukan hubungan seksual, seyogianya mandi terlebih dahulu. Setelah itu berdandan dan memakai wewangian. Sebelum mulai, berdoa lebih dulu dengan mengucapkan syahadat.

Selain itu masyarakat Jawa juga mengenal kalender seksual. “Ini berkaitan dengan masalah rasa perempuan, yang berhubungan dengan organ genital seksualnya. Satu asumsi bahwa setiap hari organ genital seksual yang sensitif pada perempuan, selalu berpindah tempat, sesuai dengan tinggi rendahnya bulan. Ini berdasar pada kalender Jawa. “Dengan mendasarkan pada kalender seksual, pasangan dapat mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama,”

Dalam Serat Centhini Jilid 2 Pupuh 107 Asmaradana pada 1 – 28 terdapat pemberlajaran diuraikan secara gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi. Selain diungkap mengenai tata cara, etika, dan ritualisasi, dalam Pupuh Asamaradana tersebut juga diulas pula bentuk-bentuk serta pose hubungan seksual yang seharusnya dilakukan. Semua itu dimaksudkan agar pasangan dapat mencapai kepuasan bersama-sama. “Hubungan seksual tidak hanya sekadar pemuasan nafsu lelaki maupun perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan cinta kasih, proses prokreasi, dan seks sekaligus sebagai wahana ibadah,” berikut suntingan teks dan terjemahannya :
ASMARADANA

Wusnya wanci lingsir ratri | Ki Saloka Kartipala | Palakarti katigane | samya aso mring modinan | de para waranggana | mantuk maring têngganipun | sadhiya lamun kampiran ||

Sudah waktunya menjelang malam, mereka bertiga Ki Saloka Kartipala Palakarti pulang beristirahat di tempatnya masing-masing dengan para waranggana (penyanyi, penari) dan bersedia apabila mereka datang kerumahnya.

Kang kantun anèng pandhapi | gunême tan ana kêmba | gupruk gar-gêr sru gujênge | Mas Cêbolang lon lingira | Kiyai Amongtrustha | paranta darunanipun | pra apsari asih trêsna ||

Dan yang masih ada di pandapa, saling bercakap-cakap dan saling sendau gurau, sedangkan Mas Cebolang bertanya dengan nada yang pelan kepada Kyai Amongtrusha, bagaimana asal muasalnya para apsari (waranggana) mempunyai rasa kasih dan sayang.

Niku anak wontên kalih | saking isarat myang tingkah | kang kalêbêt tyasing wadon | kasiyat saking pandhita | Lukmanulyakin nama | bab kêmate apulang-hyun | dununge rasèng wanita ||

Yaitu ada dua hal : syarat-syarat tertentu (jamu), tingkah laku (tata krama) dan juga termasuk perasaan/hatinya wanita, merupakan sebuah ajaran dari Pandhita yang bernama Lukmanulyakin, sedangkan bab nikmatnya berulah asmara berada pada rahasia rasa wanita.

Ing dalêm saari-ratri | awit suruping Hyang Arka | tumêkèng pêndhak surupe | rahsa angalih panggonan | anut lampahing tanggal | sapisan nêmbêlas gathuk | têkèng tanggal tigangdasa ||

Di dalam sehari semalam mulai terbenamnya matahari sampai dengan terbenamnya lagi, rasa itu akan berpindah tempatnya mengikuti berububahnya tanggal satu sampai dengan tanggal enam belas selasai dan selanjutnya sampai tanggal tiga puluh.

Lamun ayun pulang rêsmi | anuju tanggal sapisan | awit arasên bathuke | tanggal pindho awit ngaras | pupusêr tanggal tiga | wiwit mijêt wêntisipun | kanan kering karo pisan ||

Apabila hendak berulah asmara pada tanggal satu di daerah kening harus dilakukan cumbuan dengan mencium atau menjilat, tanggal dua di daerah puser, tanggal tiga di daerah betis kanan dan kiri.

Ping pat mijêt lêngên kalih | kaping lima awit ngaras | ing prêmbayun kalih cêcêg | Ki Têngara Mas Cêbolang | Nurwitri sami latah | de tanggal kaping nêmipun | kawit ngaras slaning imba ||

Yang keempat di daerah lengan kira dan kanan , kelima disekitar panyudara, telinga kanan dan kiri, dan Ki tengara, Mas Cebolang serta Nurwitri sama-sama latahnya, sedangkan pada tanggal keenam berpindah di daerah diantara alis.

Tanggal kaping pitu awit | ngaras slaning payudara | ping wolu ngaras lathine | ing nginggil lawan ing ngandhap | tanggale kaping sanga | mijêt pupu kalihipun | sarta angusap walikat ||

Sedangkan tanggal ketujuh di terletak diantara sela-selanya payudara kanan kiri, kedelapan terdapat pada bibir atas dan bawah, dan pada tanggal sembilan berpindah di betis kanan dan kiri serta di sekitar pundak (belikat).

Tanggal ping sadasa awit | garapên wêtênge ika | ping sawlas ngaras granane | ping rolas ngusap walikat | tanggal ping tigawêlas | wiwit angaras prêmbayun | jumbuh lan tanggal ping lima ||

Tanggal sepuluh beralih di daerah perut, kesebelas terdapat hidungnya, keduabelas di daerah pundak (belikat), tanggal tiga belas terletak didaerah payudara, sama pada saat tanggal ke lima belas.

Kaping kawanwêlas wiwit | ngaras lathi ngusap suryan | ping gangsalwêlas wus pantog | wiwit ngaras kalih imba | puniku yèn linakyan | kalangkung utamanipun | awit punika wanita ||

Yang keempat belas mulai mencium bibir dan mengusap wajah, yang kelima belas selesai dan mulai di mulai lagi pada kedua alisnya, itu yang harus diperlakukan dan alangkah mulianya sebagai seorang wanita.

Pakolèh rahsa kang luwih | nikmat kalawan manpangat | de kapêndêng panggonane | dèn ungsir têmah glis mêdal | katarik gunging trêsna | pun wadon mring kakungipun | tan darbe cipta liyanya ||

Akan mendapat rasa nikmat yang lebih dan bermanfaat apabila dilakukan pada tempatnya, agar supaya cepat keluar karena tertarik dengan besarnya rasa cinta seorang wanita terhadap pasangannya serta tidak mempunyai perasaan lainnya kecuali terhadap pasangannya.

Trênyuh tyas mung ciptèng laki | tamat kang saking prêtingkah | wontên malih saking êmèl | bilih nuju among raras | punika kang winaca | Alahuma jannibinus | saetan mara jattana ||

Belas kasihnya hannya pada pasangannya, selesai sudah pelajaran tersebut, dan ada lagi rapal atau doa bila sedang ulah asmara dan ini yang wajib dibaca Alahuma jannibinus syaetan mara jattana.

Yèn badhe bêtah kêpati | ron lêgundhi ron widurya | myang babakan trênggulune | pinipisa ingkang lêmbat | ginalintir inguntal | lah punika èsmunipun | winaca ping kalih wêlas ||

Apabila mengingingkan bertahan lama dalam berulah asmara; inilah ramuannya daun legundi, daun widuri dan babakan pule, ditumbuh halus lalu di buat seperti pil dan dikeringkan, dan sebelum berulah asmara (bermain cinta) diminum dan selanjutnya dengan membaca rapal atau doa sebanyak dua belas kali.

Kumala sahaheka di | kun payakun ilaika | datuka muka natane | -ka Allahuma yamuka | nunujra rumnya ala | huyamuka datbiramu | ika sangkrama rakiman ||

Kumala sahaheka di kun payakun ilaika datuka muka nataneka Allahuma yamuka nunujra rumnya ala huyamuka datbiramu ika sangkrama rakiman.

Yêkti kuwat dakarnèki | sartane tan nuntên mêdal | wontên mèl pangampêt manèh | kaol saking tiyang sabrang | bilih ayun sahuwat | winacaa kaping têlu | yêkti dangu wêdalira ||

Pastilah kuwat zakarnya serta tidak akan cepat keluar (orgasme) dan ada lagi rapal atau doa untuk menahannya, kaol dari orang manca nagara bila hendak berhubungan agar rapal atau doa tersebut dibaca tiga kali pasti akan bertahan lama keluarnya (orgasme).

Ari panas rênggang bumi | ari hujan rapêt kisma | utawi dènusapake | marang darbèking wanita | rapêt kadi parawan | yèn arsa miyoskên gupuh | mung winalik êmèlira ||

“Ari panas rênggang bumi, ari hujan rapêt kisma” (cuaca yang panas membuat bumi pecah-pecah dan saat cuaca hujan tanah akan merapat kembali) apabila rapal tersebut diusap-usapkan pada kemaluan wanita akan menjadi rapet (kencang) kembali seperti masih perawan, dan apabila berkeinginkan cepat mengahiri permainan ulah asmara hannya dengan membalik rapal atau doannya.

Pami botên akaronsih | nanging sagêd trusing rahsa | amung gêmriming mundrine | pinidih niki mèlira | kunta ngalai mukadas | brai mung punika sampun | yêkti kumyus marawayan ||

Apabila tidak menginginkan bercinta tetapi ingin mendapatkan rasa yang nikmat (wanita) hannya dengan memilin/mengusap puting susunya, inilah rapal atau doanya “kunta ngalai mukadas brai” cukup sudah pasti akan terasa bergetar dan melambung diawang-awang.

Utamine sahuwati | lawan wadone priyangga | aywa raosan salire | tuwin ywa angalêmbana | sakawit amaosa | tangawud sawuse putus | lajêng maos Bissêmilah ||

Yang terbaik saat melakukan ulah asmara (bercinta) dengan pasangannya janganlah membicarakan semua hal jangan memuja, lebih baik membaca istifar dan setelah selesai dilanjutkan dengan membaca bismillah.

Hirakêmanirakimin | nuntên amaos rabana | rabini rabi inni-ne | wêdaling kang punang rahsa | (m)bun-bunan tiniyupa | ywa ambêkan kaping têlu | ing batin maos punika ||

Hirrahmanirrahim, selanjutnya membaca rabana rabini rabiinni-ne, pada saat keluarnya rasa cinta, tiyuplah ubun-ubunnya tiga kali dengan menahan nafas, dan dalam batinnya sambil mengucapkan doa berikut ini :

Bismilah rahmanir rahkim | macan putih ana (n)dhadha | umêtu banyu uripe | ing urip sajroning toya | lailaha ilolahu | Mukhamad Rasulolahu | wontên malih sarat-sarat ||

“Bismillahirrahmanirrahim macan putih ana dhadha umetu banyu uripe, ing urip sajroning toya laillaha ilallahu Muhammad Rasulullahu” dan masih ada lagi syarat-syarat yang lain.

Mawi lapal sinêrat ing | dhaharan ron dalancang | punika anak wêrdine | parimbonira binuka | sadaya samya miyat | katrinya anurun guyup | winantu sukaning driya ||

Dengan lapal yang tertulis di makanan yang bungkus dengan daun dalancang, yang mengandung maksud; agar membuka primbonnya, semuanya tampak dan ketiga mematuhi dengan rasa gembira tanpa ada paksaan.

Mas Cêbolang tanya malih | èstri mrih saekapraya | kadiparan ing sarate | Amongtrustha mèsêm lingnya | anak pratingkah kasar | ing sawusira pulang hyun | têka kèndêlna kewala ||

Mas Cebolang bertanya kembali, bagaimana agar wanita menuruti segala kemauan? Apa syaratnya? Amongtrustha tersenyum, apabila ada prilaku yang kasar setelah melakukan ulah asmara (bercinta) diamkanlah saja.

Aywa nganggo dènbêrsihi | nulya kagêm rambah-rambah | marang wong wadon sanèse | sadaya ingkang kaambah | adat kang wus kalakyan | nadyan nganti èstri wolu | sadaya anunggal karsa ||

Jangan sampai dibersihkan, selanjutnya dapat digunakan berungkali dengan perempuan lainnya, semua yang pernah dilakukan dan kebiasaan yang sudah terjadi meskipun mempunyai istri sampai delapan tetapi semuanya satu kehendak (saling bisa menerima/memahami).

wontên ingkang alus malih | pangèdhêpan pangasiyan | miwah saeka kaptine | ananging punika sarat | kêdah mangsuk ing angga | sadhengaha tingkahipun | watone klêbêt dhadharan ||

Ada lagi cara yang lebih halus lagi yaitu lewat kedhipan mata atau pengasihan agar menurut seia sekata tetapi ada syarat yang harus dilakukan yaitu merasuk di badan dan bagaimanapun caranya agar syarat tersebut dapat dimasukkan kedalam makanan.

Kumpule kêrokan dhiri | wontên kalihwlas pangenan| pasung myang kalamênjinge | kukulung ati kalawan | kêkèlèk kalihira | tuwin têkukaning sikut | ingkang têngên miwah kiwa ||

Ada empat belas tempat di badan yang harus digosok, mulai dari muka dan leher, uluhati dan kedua ketiak serta lipatan lengan kanan dan kiri (siku).

Têkukan gêl-ugêl kalih | èpèk-èpèk kalih pisan | slaning jêmpol asta karo | kalawan kalih walakang | têkukan dhêngkul samya | tungkak kalih myang slanipun | jêmpolan suku kalihnya ||

Pergelangan tangan kanan kiri, kedua telapak tangan, diantara ibu jari kanan kiri serta di kedua pangkal paha, kedua lipatan lutut serta dua tumit dan diantara dua jempol kaki.

Jangkêp kalihwêlas warni | nulya winoran kalawan | ing rahsane pribadine | wus kumpul dadya satunggal | tinrap pèk-èpèk kiwa | asta kanan ngudhêg gupuh | maos Ya Allah Mukhamad ||

Lengkap sudah kedua belas macam, selanjutnya disatukan dengan rasa pribadinya, setalah terkumpul jadi satu, ditaruh di telapak tangan kiri sedangkan tangan kanan mengaduk-aduk dengan membaca Ya Allah Muhammad.

La makbuda ilolahi | la nujudda ilolaha | ping tiga nulya winorke | dhaharan myang (n)juk-unjukan | ingasungakên marang | pun êndi kang dadya kalbu | Insa Allah asih trêsna ||

La makbuda ilallahi la nujudda ilallaha tiga kali selanjutnya dicampur dengan makanan dan minuman, serta harus menyakinkan diri apa yang telah diniatkan Insya Allah rasa cinta dan kasih sayang akan didapatkan.

Taksih kathah ingkang warni | nanging punika wus cêkap | winantu lawan bêgjane | sadaya nuwun turira | wus wanci gagat enjang | Amongtrustha lingira rum | prayoga sami bibaran ||

Masih banyak macamnya tetapi ini sudah cukup, dan semua kembali pada keberuntungannya, semua mengucapkan trimakasih dan waktu telah memasuki pagi hari Amongtrusha berucap sambil tersenyum dan sebaiknya sama-sama membubarkan diri.

Demikianlah sedikit uraian tentang ulah asmara dalam membuka dan mempecepat orgasme pada wanita, yang saya sadur dari Serat Centhini jilid 2 pupuh 107 yang terangkum dalam metrum macapat sekar Asmaradana, mudah-mudahan dengan sekelumit cerita masalah seks sebagaimana pandangan masyarakat Jawa yang selama ini kita terima dapat menambah wawasan dan kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya, padahal selama ini penggambaran wanita Jawa yang selalu digambarkan bersifat pasrah, dan nrima kepada lelaki bahkan cenderung pemalu dan tertutup.

Dan mohon maaf bila ada terjemahan yang kurang cocok, serta mohon perkenannya bagi para pembaca yang budiman untuk mengoreksi dan membetulkan bila ada kesalahan dalam mengalihkan kedalam bahasa Indonesia.

Serat Centhini Jilid 1

Sunan Giri Story in Centhini.


Centhini Jilid I, Pupuh 2. Kinanthi, 33 bait
1. Ing Giri apan wus tundhuk | kang ibu grahe ngranuhi | rinubung sakèh juragan | rawuhe Jêng Sunan Giri | karamating waliyolah | kang ibu dipunpêraki ||
Di Giri , sudah menjelang saat akhir hidup sang Ibu Angkat S.Giri ( Ni Samboja ). Dikelilingi oleh banyak Juragan. Datangnya Kanjeng Sunan Giri, Orang Suci , Wali Allah , lalu Sunan mendekati ibunya.
2. Kagyat wungu nulya ngrangkul | kinuswa-kuswa kang siwi | waspa adrês marawayan | sasambatnya mêlas-asih | dhuh lae atmajaningwang | kang dadya têlênging ati ||
Lalu ibunya terbangun dan segera memeluk anaknya, anak  yang dinanti-nantikan . Diciumnya berulang-ulang, sampai air matanya deras mengalir. Peluh kesahnya menjadi-jadi karena cintanya  kepada anaknya “ Dhuh lae, ohh Anakku yang menjadi isi hatiku “
3. Kurang sathithik katrucut | kulup tan mênangi mami | nyawa dene têka lawas | (ng)gonira pruhita ngaji | lae-lae ora nyana | yèn bisa katêmu maning ||
“ terlambat sedikit saja engkau pasti tidak akan menjumpaiku bernyawa lagi. Sudah lama engkau belajar tentang Agama, lae lae tak mengira bias bertemu engkau lagi”
4. Mangkya guwayamu mancur | wênês mancorong nêlahi | baya olèh kanugrahan | jêng sunan turira aris | ibu pangèstu paduka | wus katur sasolahnèki ||
Sekarang sinar wajahmu sudah memancar, bersih wajahmu menjauhkan dari bahaya, dan selalu memperoleh anugrah. Kanjeng Sunan berkata dengan perlahan “ Karena restumu saja ibu, aku bias seperti ini”
5. Kang ibu suka kalangkung | kulup sampurnakna mami | umanjing agama Islam | nulya sinadatkên aglis | kalimah loro winêjang | kang ibu padhang nampani ||
Ibundanya sangat senang dan berkata “ anakku sempurnakanlah ilmu agama Islam , segeralah ucapkan dua  kalimat Syahadat itu, supaya terang jalanku “
6. Kulup wus padhang tyasingsun | datan sumêlang ing ati | sira kariya raharja | têtêpa (ng)gonmu mêngkoni | batihmu para sudagar | isining asramèng Giri ||
“ anakku sudah terang hatiku, tak khawatir dalam hatiku, kamu giatlah bekerja, kuatkanlah dalam mengolah dan mengembangkan isi Asrama Giri dan Jalinan dagang dengan para Saudagar.
7. Têmbe ing sapungkuringsun | sakèhe dunyarta mami | sidhêkahna kang warata | pêkir miskin anak yatim| lawan tukokna amanat | kaji mring Mêkah nagari ||
“ akhirnya, setelah aku pergi. Semua hartaku sedekahkan merata kepada fakir miski, anak yatim dan belikan amanat untuk yang berangkat Haji ke Negari Mekah.
8. Poma kulup wêkasingsun | Ni Samboja nulya lalis | sawusira binêrsiyan | layon kinubur tinunggil | lan raka Kyai Samboja | ing mangkya titiyang Giri ||
“ Anakku itu petuah amanah terakhirku” setelah itu Ni Samboja kemudian wafat, setelah dibersihan lalu jasad dikuburkan menjadi satu dengan makam Kyai Samboja. Saat sekarang orang Giri,
9. Lastantun pamundhinipun | ing gusti Jêng Sunan Giri | samya kapanjingan iman | nglampahi sarengat Nabi | ngibadah andarus Kur’an | kathah kang iyasa masjid ||
Sejahtera dalam kepemimpinan Gusti Kanjeng Sunan Giri, semua memegang teguh iman, menjalankan syariat Nabi, beribadah Tadarus Al-Qur’an , banyak yang membangun masjid.
10. Gêmah arjane kalangkung | tan ana kang laku juti | samya cêkap nyandhang mangan | adoh ingkang dadya miskin | têntrêm ciptane raharja | wong ngamanca kathah prapti ||
Subur dan semarak berkelanjutan, tidak ada yang berbuat jahat, semua berkecukupan sandhang dan pangan. Jauh dari kemiskinan. Tentram hati dan tentram di Jiwa. Orang Manca Negara banyak yang singgah.
11. Kabanjur tan arsa mantuk | kalajêng wisma ing Giri | raja pandhita Sètmata | jujuluk Susunan Giri | Gajah Kadhaton minulya | kawêntar ing liya nagri ||
Terlanjur tak ingin pulang, dan menetap di Giri . Raja Pandita Setmata yang bergelar Susunan Giri Gajah Kedaton  yang termasyur di Negara lain.
12. Miwah wus pinundhut mantu | ing Suhunan Ngampèlgadhing | dhinaupkên lan putrinya | Nyai Agêng Ratu nami | atut dènnya palakrama | lêstantun ngantya sisiwi ||
Juga sudah diambil sebagai pengantin Laki-laki oleh Susuhunan Ngampelgadhing, dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Ageng Ratu , bahagia pernikahan itu, lestari sampai mempunyai anak
13. Wowolu èstri myang jalu | Nyi Agêng angrumiyini | kondur maring rahmatolah | layon sumare anunggil | marasêpuh èstri priya | garwa putra gung prihatin ||
Delapan anak, putra maupun putrid. Nyai Ageng  mendahului wafat, jasadnya dimakamkan jadi satu dengan Makam Ki an Ni Samboja, Sunan Giri merasa sedih
14. Sigêg gantya kang winuwus | Brawijaya Narapati | mirêng pawartos sanyata | ing mangkya Susunan Giri | linulutan sakèh janma | nungkul tan kalawan jurit ||
Setelah itu cerita beralih . Raja Brawijaya mendengar berita itu , pada saat sekarang Susunan Giri sudah banyak pengikutnya. Agar tetap  tunduk dan tak ada peperangan
15. Sang prabu utusan gupuh | Gajahmada kyana patih | kinèn lumampah priyangga | mukul prang Giri Garêsik | tan cinatur lampahira | wus prapta jajahan Giri ||
Sang Raja mengirim utusan, yaitu utusan dibawah  Patih Gajah Mada, utusan disuruh berjalan , bersiap untuk Perang Giri Gresik, tak banyak bicara dalam perjalanan , maka sampailah di negeri Giri
16. Gègère kadya pinusus | kang katrajang samya ngili | minggah kadhaton Prawata | Jêng Sunan Giri marêngi | anyêrat manêdhak Kur’an | kagyat mirêng suwaraning ||
Karena Sunan Giri menolak , terjadilah peperangan yang dahsyat. Sampai masuk dalam kerajaan Giri, saat itu Sunan Giri sedang menyalin naskah Al –Qur’an terkejut mendengar suara itu
17. Tiyang alok mungsuh rawuh | sumêdya ngrisak ing Giri | kalam ingkang kagêm nyêrat | anulya binucal aglis | andodonga ing Pangeran | sinêmbadan ing sakapti ||
Seseorang berkata bahwa musuh sedang dating, bertekad untuk merusak Giri, pena yang digunakan untuk menulis itu segera dilemparkan , sembari berdoa maka terwujudlah apa yang dikehendaki Sunan Giri
18. Kalam lajêng dadya dhuwung | cumlorot ngamuk pribadi | pra wadya ing Majalêngka | kathah ingkang angêmasi | sakantune kang palastra | pra samya lumayu (ng)gêndring ||
Pena kemudian menjadi Keris yang mengkilat berkecamuk sendiri, semua pasukan Majapahit banyak yang kabur, beberapa juga gugur, semuanya berlari sekencang-kencangnya
19. Mantuk marang Majalangu | sawusira mêngsah gusis | dhuwung wus wangsul pribadya | sumèlèh ing ngarsanèki | panyêratan sang pandhita | sarta akukuthah gêtih ||
Kembali ke Majapahit. Setelah musuh terkalahkan, Keri situ kemudian kembali sendiri dan tergeletak di depan buka yang digunakan untuk menyalin Al-Quran tadi, keris itu berlumuran darah
20. Kagyat risang amanênkung | miyat dhuwung kuthah gêtih | dahat panalangsanira | dyan dodonga mring Hyang Widdhi | mugi Allah ngapuntêna | solah amba ingkang sisip ||
Beliau terkejut melihat keris yang berlumuran darah itu, sedih hatinya, lalu ia berdoa kepada Hyang Widhi  “ semoga Allah mengampuni tindakanku yang salah”
21. Sang pandhita ngandika rum | marang ing wadyanirèki | kabèh padha piyarsakna | myang anêksènana sami | katgèki sun wèhi aran | si Kalammunyêng prayogi ||
Sang Pandita berkata bijak kepada semua pengikutnya “ semua dengarkanlah, lihatlah dengan saksama, Keris ini aku beri nama Kyai Kala Munyeng “
22. Sakèh wadya saur manuk | wus samya kalilan mulih | mring wismane sowang-sowang | lêstantun asramèng Giri | jumênêngnya Jêng Susunan | Prabu Sètmata linuwih ||
Semua pengikutnya bersorak-sorai , semuannya lalu kembali kerumahnya masing-masing . Lestarilah Pesantren Giri, terpujilah Kanjeng Susunan Prabu Setmata.
23. Gêmah arjane kalangkung | saya wêwah wadyanèki | tan ana kang kasangsaya | nahan wus antara lami | Sunan Giri nandhang gêrah | kaparêng praptaning takdir ||
Subur dan makmur , semakain banyak pengikutnya, tidak ada yang tersia-sia disana. Tak seberapa lama  Sunan Giri kemudia sakit, karena sudah takdir
24. Kundur mring rahmatolahu | gumêr tangis ing jro puri | wandu wandawa sungkawa | layon sawusing barêsih | sinarèkkên nora têbah | sangking padalêmanèki ||
Berpulang ke Rahmatullah, gemuruh tangis ada dalam istana. Semuanya ikut berdukacita , jasad dibersihkan lalu dimakamkan tidak jauh dari istananya.
25. Sedanira tilar sunu | sadasa kakung lan putri | kang kalih sangking ampeyan | Pangran Pasirbata nênggih | kalawan Siti Rohbayat | wowolu sangking padêmi ||
Sepeninggalnya meninggalkan sepuluh kakung dan putri, yang dua dari istri selir, Pangeran Pasir Bata dan Siti Rohbayat. Delapan dari permaisuri.
26. Kasêbut Nyai Gêng Ratu | putra sêpuh sinung nami | Ratu Gêdhe ing Kukusan | nulya Sunan Dalêm nênggih | katrinira apanêngran | Susuhunan Têgalwangi ||
Putra-putri Nyai Ageng Ratu yaitu,  anak tertua bernama Ratu Gedhe di Kukusan  juga Sunan Dalem, adiknya lagi bernama Susuhunan Tegalwangi
27. Catur Nyi Gêng Saluluhur | panca Sunan Kidul nênggih | Ratu Gêdhe Saworasa | Sunan Kulon kang sumêndhi | Sunan Waruju ragilnya | wau ta ingkang winardi ||
Keempat Nyi Ageng Saluluhur, kelima Sunan Kidul, lalu Ratu Gedhe Saworasa, lalu Sunan Kulon, dan yang bungsu adalah Sunan Waruju. Begitulah disebutkan.
28. Sasampunira pangubur | kumpul para wadya Giri | angrêmbag ingkang gumantya | mandhirèng Susunan Giri | pra wadya wus golong rêmbag | Sunan Dalêm kang gumanti ||
Setelah pemakaman , maka berkumpullah semua pengikut Sunan Giri, dan bermusyawarah tentang pengganti sepeninggal Sunan Giri, semua pengikut sudah sepakat bahwa Sunan Dalem yang menggantikan.
29. Gya ingangkat ajujuluk | Sunan Giri kaping kalih | Susunan Giri Kadhatyan | garwa kakalih padêmi | tan mashur ing panjênêngan | Jêng Sunan wus praptèng jangji ||
Lalu diangkat dengan nama Sunan Giri IIm bergelar Sunan Giri Kedhaton, Permaisurinya dua, yang termasyur . Kangjeng Sunan Giri II sudah berjanji.
30. Kundur mring rahmatolahu | ugi sumare ing Giri | atilar putra sadasa | (m)bajêng Sunan Sedamargi | panênggaknya apêparab | Sunan Giri Prapèn Adi ||
Lalu Sunan Giri Kedhaton wafat dan dimakamkan juga di Giri, meninggalkan sepuluh putra. Yang Sulung adalah Sunan Sedamargi, yang kedua adalah Sunan Giri Prapen Adi.
31. Tri Nyi Gêng Kuruganngurun | Nyi Gêng Ngulakan kang sukci | Pangran Lor Pangran Dhêkêt sad | Pangran Bongkok nulya Nyai | Agêng Waru arinira | Pangeran Bulu sumêndhi ||
Ketiga Nyi Ageng Kurunganngurun , Nyi Ageng Ngulakan kang Suci, Pangeran Lor, yang ke enam Pangeran Dheket, Pangeran Bongkok juga Nyai Ageng Waru, lalu adiknya Pangeran Bulu.
32. Wragil Pangran Sedalaut | paripurna kang wus swargi | rêmbag kang yoga gumantya | kêmpal sakèhe kang dasih | Sunan Parapèn ingangkat | linuwih lir eyang swargi ||
Yang bungsu adalah Pangeran Sedalalu, selesailah yang sudah meninggal. Kemudian musyawarah dilakukan untuk penggantian Sunan Giri Kedhaton, Dicapai kesepakatan maka Sunan Parapenlah yang diangkat, yang besar seperti Eyangnya dulu.
33. Mandhirèng Giri Kadhatun | jujuluk maksih lêstari | Sunan Giri Prapèn dibya | suyut kang wadya gung alit | kawêntar ing liyan praja | tan pêgat kadya ing nguni ||
Sepeninggal Giri Kadhatun yang  masih termasyur namanya, Sunan Giri Prapen dimuliakan, bersujudlah semua pengikutnya besar maupun kecil, di Negara lain juga  termasyur, tak ada habisnya yang memuji kebesarannya.