ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 22 November 2017

MALAM MAULID NABI LEBIH UTAMA DARI PADA MALAM LAILATUL QADAR

"MALAM MAULID NABI LEBIH UTAMA DARI PADA MALAM LAILATUL QADAR"

Al Imam Alhafidz Ahmad bin Muhammad Al Qusthollaniy rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul → المَوَاهِبُ اللَّدُنِيَّةُ بِالمِنَحِ المُحَمَّدِيَّةِ ←
Al Mawaahib Al Laduniyyah bil Minah Al Muhammadiyah Juz 1/145-146 , cetakan Maktabah Al Islamiyyah berkata : " Kalau kamu bertanya, jika Nabi Muhammad ShallAllahu 'alaihi wasallam dilahirkan pada malam hari, manakah yang lebih utama, malam Lailatul qadar atau malam Maulid Nabi ShallAllahu 'alaihi wasallam ?"

Aku (Al Imam Ahmad bin Muhammad Al Qusthollaniy) menjawab bahwa malam Maulid Nabi lebih utama dari malam Lailatul qadar dari tiga segi :

1. Malam Maulid Nabi Muhammad shallAllahu alaihi wasallam adalah malam kemunculan Beliau, sedangkan malam Lailatul qadar adalah malam SallAllahu 'alaihi wasallam anugerah bagi Rasulillah shallAllahu 'alaihi wasallam. Dan apa yang dimuliakan dengan kemunculan dzat yang dimuliakan karena dzatnya tentu lebih mulia dari apa yang dimuliakan dengan sebab sesuatu yang dianugerahkan kepadanya.

2. Malam Lailatul qadar dimuliakan dengan turunnya para Malaikat padanya, sedang malam Maulid Nabi Muhammad shallAllahu 'alaihi wasallam dimuliakan dengan kemunculan Beliau ShallAllahu 'alaihi wasallam pada malam itu.  Dan Nabi Muhammad ShallAllahu 'alaihi wasallam yang dengan Beliau dimuliakan malam Maulidnya, lebih mulia dari para Malaikat yang dimuliakan dengan mereka malam lailatul qadar.

3. Anugerah malam Lailatul qadar diberikan hanya kepada umat Nabi ShallAllahu 'alaihi wasallam, sedangkan anugerah malam Maulid Nabi diperuntukkan kepada seluruh makhluk. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Tidaklah Aku mengutus engkau Wahai Muhammad ShallAllahu ala'hi wasallam, kecuali sebagai rahmat untuk sekalian alam.

Kalau kita fahami lebih dalam lagi tentang ayat ini, maka kita akan mengatakan bahwasannya ayat rahmatan lil 'alamin berarti seluruh makhluk yang ada di jagat semesta ini, manusia, jin, hewan, tumbuhan dan seluruh makhluk diatas muka bumi ini. Alangkah mulianya Nabi kita tercinta, Sayyidina Muhammad ShallAllahu 'alaihi wasallam.

Dan memang tiada yang lebih mulia dari kekasih nya Allah ta'ala, Muhammad Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wasallam.

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin bisirri asrari Al Fatihah....

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

إقرؤوا الصّلاة على النبيّ...

Mengapa Memperingati Maelid Nabi SAW

*As Sayyid Al Maliki: "Melarang Peringati Maulid Berarti Melarang Bergembira Lahirnya Rasulullah"*
Hari Maulid (kelahiran) Nabi S.A.W. adalah lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada dua Hari Raya. Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adlha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi S.A.W., mengingat baginda dan sirohnya, mesti berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Mengapa?
Karena Baginda-lah yang membawa ‘Ied (hari raya) dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena Baginda juga, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran Baginda, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzul Quran, Isra Mikraj, Hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Futuh Mekah, kerana semua itu terhubung langsung dengan Baginda dan kelahirannya, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan terbesar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia dan Beliau SAW menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama: Kita memperingati Maulid Nabi bukan hanya pada hari kelahirannya, tapi selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan, ketika kita mendapatkan kegembiraan, lebih-lebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran baginda, hari Senin.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang yang Islam, yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak memerlukan jawaban. Seandainya saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan Baginda, saya gembira dengan Baginda, sebab saya mencintainya, dan saya mencintainya sebab saya seorang mukmin”.
Kedua: Yang dimaksudkan dengan peringatan Maulid adalah, berkumpul untuk mendengarkan siroh Baginda dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri Baginda, juga memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan orang-orang fakir dan mereka yang memerlukan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai Baginda.
Ketiga: Kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu, yang dinyatakan oleh nas-nas syariat secara jelas, seperti sembahyang, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak macam itu.
Peringatan Maulid tidak seperti sembahyang, puasa, dan lain-lain. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian, terutama pada bulan Maulid.
Keempat: Berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah ajakan terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh diabaikan. Bahkan, para da’i dan ulama, wajib mengingatkan manusia tentang Nabinya, baik akhlaknya, hal ihwalnya, sirohnya, muamalahnya, maupun ibadahnya. Di samping itu menasehati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’aah, keburukan, dan fitnah.

Yang pertama merayakan Maulid Nabi adalah Sohibul Maulid sendiri, yaitu Nabi S.A.W., sebagaimana yang disebutkan dalam Hadis Sahih, yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa, ketika baginda ditanya mengapa berpuasa pada hari Senin, baginda menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nas yang paling jelas dan terang yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Banyak dalil yang boleh kita jadikan dasar, untuk diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.
1. Peringatan Maulid Nabi S.A.W. adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan baginda. Bahkan orang kafir pun mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu; Ketika Suwaibah, hamba Abu Lahab, paman Nabi S.A.W., menyampaikan berita gembira tentang kelahiran Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka gembira. Oleh kerana kegembiraan dan merayakan kelahiran baginda itu, di akhirat nanti siksa terhadap dirinya diringankan setiap hari Senin dan keluar air syurga dari celahan jarinya untuk minumannya.
Demikianlah rahmat Allah terhadap siapapun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafirpun Allah merahmatinya, sebab bergembira atas kelahiran Nabi-Nya, bagaimanakah anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?
2. Baginda sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah, pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
3. Gembira terhadap Rasulullah S.A.W. adalah perintah AI-Quran. Allah S.W.T. berfirman,
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” Surah Yunus: 58.
Jadi, Allah sendiri meminta kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi S.A.W. merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran,
“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” Al-Anbiya’: 107.
4. Nabi S.A.W. mengambil berat kaitan antara masa dan kejadian dalam Islam yang besar yang telah lalu. Apabila datang masanya hari peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
5. Memperingati Maulid Nabi S.A.W. mendorong kita untuk bershalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” Al-Ahzab: 56.
Apa-apa yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
6. Dalam Maulid, disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadinya. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk menirunya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya?! Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
7. Maulid Nabi juga merupakan ungkapan membalas jasa baginda dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepadanya dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaknya yang utama.
Dulu, di zaman Nabi S.A.W., para penyair datang kepada baginda menyampaikan qasidah-qasidah yang memujinya. Nabi ridla dan senang dengan apa yang mereka lakukan, dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan.
Jika baginda pun ridla dengan orang yang memujinya, bagaimana baginda tidak ridla dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang akhlaknya yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepadanya, yaitu dengan menarik kecintaannya dan keridlaannya.
8. Mengenal sikap dan pribadi baginda S.A.W., mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menambahkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, penampakan fisiknya maupun akhlaknya, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlak dan sikap Nabi S.A.W. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang bisa menambahkannya juga merupakan tuntutan agama.
9. Mengagungkan Nabi S.A.W. itu disyariatkan, bahagia dengan hari kelahirannya dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingatnya, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah bukti mengagungkannya, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
10. Dalam ucapan Nabi S.A.W. tentang keutamaan hari Jumaat, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan”.
Ini menunjukkan dimuliakannya waktu masa seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?
11. Maulid juga adalah perkara yang dipandang baik oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Sebab itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan kaedah yang diambil dari hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud,
“Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun baik di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
12. Dalam menyambut Maulid Nabi, di dalamnya berkumpulnya umat, zikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi S.A.W. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
13. Allah S.W.T. berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ Surah Hud: 120.
Dari ayat ini nyatalah bahawa hikmah dikisahkan tentang para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak dinafikan lagi di saat ini kita pun perlu untuk menguatkan hati kita dengan berita-berita tentang baginda, lebih dari keperluan baginda akan kisah para nabi sebelumnya.
14. Bukan berarti yang tidak pernah dilakukan Salafussoleh dulu dan tidak ada di awal Islam memberi arti bid’aah yang munkar dan buruk. Melainkan apa yang ‘baru’ itu (yang belum pernah dilakukan) mesti dinilai berdasarkan dalil-dalil syara’.
15. Tidak semua bid’aah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Zaid, Sayyidina Usman, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran.
Apakah haram ketika Sayyidina Umar mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan Shalat Tarawih, sedangkan beliau mengatakan, “Sebaik-baik bid’aah adalah ini.”?
Banyak lagi perbuatan baik yang sangat diperlukan umat Islam namun dikatakan bid’aah yang haram apabila semua bid’aah itu diharamkan.
16. Maulid Nabi S.A.W., meskipun tiada di zaman Rasulullah S.A.W., sehingga menjadi bid’ah; adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Ia termasuk di dalam dalil-dalil syara’ dan kaedah-kaedah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, Maulid Nabi itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan peranan-peranan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di zaman Nabi.
17. Semua yang tidak ada pada awal Islam dalam bentuknya, tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Sebab, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
18. Imam Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi S.A.W.) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
19. Setiap kebaikan yang terangkum dalam dalil-dalil syar’i, hal itu tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.
20. Maulid Nabi S.A.W. bererti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang kita lihat, sebagian besar amalan haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
21. Semua yang disebutkan di atas, tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi S.A.W., hanyalah pada amalan-amalan atau perbuatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang, (seperti tontonan pengumbar aurot, judi, mabuk, dll).

Sumber: 1. Kitab Dzikroyat Wa Munasabat; 2. Kitab Haul Al Ihtifal Bi Dzikro Maulid An Nabawi Asy Syarif; 3. Majelis Al Haramain.

“Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti”
(Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9).

Wallohu A'lam.

Diantara Kaifiyyah/ Tata Cara Bermimpi Nabi SAW:

Diantara Kaifiyyah/ Tata Cara Bermimpi Nabi SAW:
========
Telah berkata Sayyidina Jamaluddin Abu Al-Mawahib Asy-Syadzili ra, beliau termasuk dari orang-orang yang terpilih dan mulia :
.
"Aku telah bermimpi Rasulullah ﷺ dan Beliau ﷺ berkata kepadaku,
"Bacalah بسم الله الرحمن الرحيم ketika hendak tidur sebanyak 5 kali dan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم sebanyak 5 kali, kemudian bacalah do'a berikut :
.
"اَللَّهُمَّ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ أَرِنِيْ وَجْهَ مُحَمَّدٍ حَالاً وَ مَالاً"
.
Artinya : "Yaa Allah dengan berkat Muhammad  perlihatkanlah kepadaku wajah Muhammad saat ini ataupun pada saat yang akan datang nanti"
.
"Jika engkau melakukannya maka sungguh aku akan mendatangimu dan aku tidak akan meninggalkanmu sama sekali"
.
Kemudian beliau ﷺ kembali bersabda : "Bacaan ini merupakan paling baiknya rukyah dan bermakna bagi siapa saja yang mempercayainya, apalagi jika dalam membacanya kamu menambahkan bacaan shalawat kepadaku"
.
Penulis berkata : "Bahwa cara ini mujarab, alhamdulillah"
.
📝Dikutip dari : Buku "Meraih Anugerah Bermimpi Nabi ﷺ" oleh Habib Segaf Baharun.

اللهم صل على سيدنا محمد و على آله و صحبه و سلم

Selasa, 21 November 2017

Tatakrama/ Adab Menghadiri Mawlid Nabi SAW: “Petuah Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”

*Tatakrama/ Adab Menghadiri Mawlid Nabi SAW:*
*“Petuah Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”*

Tulisan berikut ini disarikan dari kitab an-Nur al-Mubin fi Mahabbat Sayyid al-Mursalin karya *Hadhratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari,* salah satu tokoh sentral dan pendiri *Nahdlatul Ulama*. Beliau termasuk salah seorang pakar hadits (muhaddits) terkemuka di masanya, yang menjadi rawi ke-24 dari rantai silsilah hadits Shahih Bukhari-Muslim dari gurunya asy-Syaikh Mahfudz at-Termasi, guru besar Masjidil Haram yang bermadzhab Syafi’i.

1.      Adab Para Salaf Shaleh sebelum Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi Saw.

Sebelum menghadiri acara Maulid Nabi Saw. terlebih dahulu para salaf shaleh melakukan hal-hal berikut ini:

·         Berwudhu dengan baik dan sempurna.
·         Dalam keadaan masih basah dengan air wudhu, ia membaca: “Shalallahu ‘alaa Muhammad” 33x tanpa diselingi berbicara dengan yang lain.
·         Lalu diusapkan ke wajahnya dan membaca doa sehabis wudhu.
·         Kemudian melakukan shalat sunnah 2 rakaat dengan niat shalat sunnah Wudhu. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas.
·         Setelah salam membaca dzikir Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar masing-masing 3x.
·         Lalu boleh ditambahkan shalat sunnah Hajat 2 rakaat. Rakaat pertama setelah al-Fatihah membaca surat al-Kafirun 3x, rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas 3x.
·         Setelah salam membaca istighfar 21x dan shalawat 3x.
·         Lalu berdoa membaca niat untuk hadir Maulid Nabi Saw. Contoh doa niat untuk hadir Maulid Nabi Saw.:

" Allahuma Yaa Allah, Nawaitu an ahdhural maulidsn biniyyati li ridhoi’llaah wa li ridhoi’ Rasulillah Muhammad Shalallaahu ‘alahi wa sallama, Wa Syafa’ati Rasulillaahi SAW fii diin wad dunyaa wal akhirah, wa ‘alaa niyyati ‘anallaaha yaqdhii hajaatinaa, wayaqbalu dawaatinaa, wa yasyrahu shuduuranaa, wa yuyassiru ‘umuuranaa wa umuuraal muslimiin fii diin wad dunyaa wal akhiirat wa yaj’alunaa min ‘ibaadihish shalihiin"

“Allahumma ya Allah, kami niat untuk hadir Maulid NabiMu Saw., dengan niat agar mendapat ridha Allah dan Rasulullah Saw. serta syafa’at Rasulullah di dalam agama, dunia dan akhirat. Serta dengan niat agar Allah memberikan semua hajat (kebutuhan) kami, mengabulkan doa-doa kami, melapangkan kesulitan kami, memudahkan semua urusan kami dan urusan kaum muslimin di dalam hal agama, dunia dan akhirat, dan jadikanlah kami hamba-Mu yang sholeh ”

atau bisa ditambah membaca niat sebagai berikut:

Nawaitu an ahdhural maulidan mitsla maanawaa aslafunaash-shalihuun wa biniyyati ta'zhiim syahrivwiladatin_Nabi shalallahu 'alaihi wa aalihiwassalam wa biniyyati ziyaadatil imaan wa ziyaadatil taqwaa wal mahabati wa qurb ilaa Allah wa ilaa Rasulillah shalallahu 'alaihi wa aalihi wassalam wa aslafinaash shalihiin wa biniyyati 'ittibaa'ir Rasulillah shalallahu 'alaihi wa aalihi wassalam zhahiran wa bathinan fii qawlin wal fi'lin wan niyyat. Wa biniyyati 'annaAllaha yuhassin akhlaqanaa wa adaabanaa wa annaallaha yarzuqunaa an-nazhar ilaa wajhi al-habib Sayyidina Muhammad shalallahu 'alaihi wa aalihi wa shahbihi wassalam yaqzhatan wa manaamaan fii dunya wal akhirah wa fiil barzakh wa huwa radhin annaa, wa alaa kulli niyyati shalihat fii khair wa luthfi wa 'afiyaat wa salaamat.....

Niat hadir maulud seperti niatnya para salafuna shalihin, dengan niat bertambahnya iman dan takwa, bertambahnya cinta serta mendekatkan diri kepada Allah, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa aalihi wassalam  dan Salafuna Shalihin. Dengan niat untuk mencontoh/meneladani/mengikuti Rasulullah shalallahu 'alaihi wa aalihi wassalam secara zhahir dan bathin, baik dalam perkataan, perbuatan dan niat. Dengan niat semoga Allah memperbaiki akhlak dan adab kita serta Allah memberi rizqi kepada kita untuk dapat memandang wajah kekasih kita Rasulullah SAW baik secara langsung ataupun mimpi di dunia maupun akhirat serta di alam barzah dalam keadaan beliau Rasulullah SAW ridho kepada kita dan kami berniat dengan semua niatan yang sholeh dalam kebaikan, kelembuta

n, 'afiyah (kebahagiaan) dan keselamatan.....

Hal itu semua di atas, seyogyanya dilakukan mulai berwudhu hingga shalat sunnah Wudhu sampai shalat sunnah Hajat, dilakukan tanpa diselingi perbuatan dan pembicaraan yang tidak berarti. Serta dilakukan dengan tertib pelaksanaannya dan berkesinambungan. Jika waktu tidak memungkinkan paling tidak shalat sunnah Wudhu lebih diutamakan.

2.      Adab Para Salaf Shaleh saat Hendak Hadir ke Tempat Acara Maulid Nabi Saw.

Setelah melakukan amal shaleh di atas, barulah para salaf shaleh berjalan menghadiri Maulid Nabi Saw. Dalam masa perjalanan itu, hal-hal yang mereka lakukan adalah:

·         Bertawakkal kepada Allah Swt.
·         Sangat mengharapkan limpahan berkah, rahmat dan maghfirah Allah tercurahkan kepadanya.
·         Berjalan penuh rasa tawadhu’ dan tadharru’ (menghadirkan perasaan khusyu’, seakan-akan hendak menemui Baginda Nabi Saw. bersama para sahabatnya dan para auliya’Nya, yang disaksikan oleh Allah Swt. serta para malaikatNya).

Menanamkan adab batin ini sungguh sangat utama di dalam menghadiri Maulid Nabi Saw. Karena Allah melihat dan menyaksikan hati para hambaNya. Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi: “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba terhadapKu.”

3.      Adab Para Salaf Shaleh saat Berlangsungnya Acara Maulid Nabi Saw.

Biasanya para salaf shalihin memperbanyak membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah Saw., baik selama perjalanan, saat dan selama Maulid Nabi Saw. berlangsung, baik dibaca secara sirr (dalam hati) ataupun jahr (diucapkan dengan lisan).

Momentum yang paling baik dan berkah dalam pembacaan Maulid Nabi Saw. adalah pada saat Mahallul Qiyam (saat berdiri), ketika melantunkan: “Yaa Nabi salam ‘alaika # Yaa Rasul salam ‘alaika.”

Di antara bait-bait tersebut adalah momentum yang terbaik kita berdoa memohon kepada Allah Swt. atas segala doa dan hajat kita. Doa disela-sela membaca shalawat: “Yaa Nabi salam ‘alaika # Yaa Rasul salam ‘alaika” secara bersama-sama. Jadi di antara bait-bait tersebut seyogyanya kita berdoa. Insya Allah Mustajabah.

Yang tidak kalah pentingnya juga adalah menghadirkan orang-orang yang kita cintai seperti sanak keluarga, sahabat dan kerabat yang kita kehendaki ketika itu. Hadirkan dengan perasaan kita, bahwa mereka ikut hadir (bil ghaib) dalam pelaksanaan Maulid Nabi Saw. Insya Allah rahmat, berkah dan syafaatNya akan meliputi kepada mereka semua, yang walaupun secara lahiriah mereka tidak turut serta hadir.

Itulah salah satu kebesaranNya dan kasih sayangNya kepada umat Baginda Nabi Saw. yang merupakan tetesan-tetesan air ar-Rahmah dari samudera rahmat Ilahi.

Di dalam pelaksanaan pembacaan Maulid Nabi Saw., seyogyanya kita mempertautkan hati kita dengan Baginda Nabi Saw. Bagi yang pernah berziarah ke makam beliau Saw. di Madinah al-Munawwarah, mungkin bisa kembali mengingat-ingatnya, seakan-akan membaca Maulid Risalah Baginda Nabi Saw. di hadapan makam beliau yang mulia Saw.

Bagi yang belum diberi rizki ziarah ke makam Nabi Saw., maka cukup membayangkan kehadiran Nabi Saw. Paling tidak merasa dilihat dan didengar oleh Baginda Nabi SAW. Sehingga nilai-kualitas dari Maulid Nabi Saw. Insya Allah dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan hanya sekedar hadir duduk, doa, amin, makan, lalu bubar, sedangkan hati sanubari masih tetap kotor penuh karat dengan penyakit-penyakit lahiriah dan batiniah.

4.      Maulid Nabi Saw. Sebagai Ajang Memperbaiki Diri

Maulid Nabi Saw. adalah salah satu ajang yang sangat sakral untuk mengembalikan jati diri kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Baginda Nabi Saw. Oleh karenanya seyogyanya kita bisa memperhatikan dengan seksama arti, makna atau terjemahan dari bacaan Maulid Nabi Saw. yang dibaca. Hal ini sungguh sangat bermanfaat guna meningkatkan kualitas hati kita menuju derajat ihsan di sisi Allah dan RasulNya.

Inilah salah satu sirr (rahasia) dari pelaksanaan Maulid Nabi Saw. Sehingga ketika kembali dari acara Maulid Nabi Saw. itu, hati semakin bercahaya, insya Allah. Hati sanubari merasuk menjalar ke seluruh relung anggota tubuh kita, mengikis habis segala karat penyakit-penyakit lahir maupun batin. Dan semakin bertambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya, sehingga buahnya menjadikan kita semakin ta'at akan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya....



*اللهم صلِ على سيدنا محمدن الحبيب المحبوب شافى العلل مفرج الكروب وعلى اله وصحبه وسلم*

Seorang YAHUDI Mimpi Berjumpa Rosululloh SAW:

*Seorang YAHUDI Mimpi Berjumpa Rosululloh SAW:*
========
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ-

Siapapun bisa mimpi berjumpa Rasulullah SAW, bahkan non muslim pun ada yang mimpi bertemu Rasul SAW, sebagaimana sebuah kisah nyata yang pernah terjadi di Mesir dan diriwayatkan dalam kitab Syaraful Anam.

Ada seorang wanita yahudi bertetangga dengan orang muslim yang suka merayakan maulid.

Orang muslim ini gemar sekali membaca riwayat-riwayat tentang Baginda Rasulullah SAW dan suka mengundang para tetangganya yang lain untuk merayakan maulid Nabi SAW di rumahnya serta menjamu mereka.

Tetangga si muslim yakni si wanita yahudi tadi kerap menyaksikan dari rumahnya, para muslimin berkumpul di rumah tetangganya dan melakukan perayaan maulid Nabinya.

Pada suatu malam, ia bermimpi hadir di acara itu dan melihat orang yang wajahnya terang benderang dan indah, ia lalu bertanya kepada orang disekitarnya,

 “Siapakah orang tampan itu?”

Lalu ada yang menjawab,
“Beliau adalah Nabi Muhammad SAW.”

 Si yahudi lalu bertanya lagi,
“Apakah jika saya menyapanya, ia mau membalas sapaan saya?”

Dijawab, “Beliau adalah manusia yang paling ramah dan selalu membalas sapaan orang lain.”

Tanya si yahudi kemudian,
 “Apakah jika saya bukan muslim ia mau menjawab sapaan saya?”

Dijawab lagi, “Beliau menjawab semua yang menyapanya.”

Maka yahudi itu berkata, “Wahai Muhammad…!”

Rasul SAW menjawab, “Labbaiki”

Wanita yahudi itu berkata,

“Kenapa engkau menjawab Labbaik padaku (Labbaik adalah jawaban penghormatan dari yang dipanggil), padahal kau tahu aku bukan muslim?”

Rasul SAW menjawab,
“Aku tidak mengucap Labbaik kecuali aku tahu bahwa kau akan mendapat hidayah.”

Wanita yahudi itu pun masuk islam di tangan Rasulullah SAW dalam mimpinya, dan ia berjanji akan membuat perayaan maulid untuk Nabi SAW.
Ini semua terjadi dalam mimpi si wanita.

Esok paginya ia bangun dari tidur, dan ia ingat bahwa ia sudah masuk islam semalam dan ia tetap ingin meneruskan imannya itu.

Ia menjadi lebih bingung karena sudah berniat membuat perayaan maulid, bagaimana dengan suaminya yang masih beragama yahudi?

Maka ia bangun di pagi itu.
Ia melihat suaminya sedang berkemas dan beres beres di rumahnya.

Di ruang depan ada banyak bahan makanan dan di halaman rumah ia lihat ada beberapa ekor kambing gemuk dalam keadaan terikat.

Sang istri bertanya dengan penuh keheranan,

“Suamiku, kau mau apa?
Kenapa banyak sekali bahan makanan di dalam?"

Suaminya menjawab, “Aku mau buat perayaan maulid.”

Sang istri terkejut, “Maulid?

Suamiku, apakah kau sudah masuk islam?”

Sang suami menjawab dengan tenang, “Aku masuk islam di tangan Rasul SAW semalam dalam mimpi sesudahmu.”

Subhanallah ..!
Seorang Yahudi saja bisa terketuk hatinya lalu bagaimana dengan kita yang mengaku muslim tapi memusuhi kaum muslimin yang memperingati maulid nabi Muhammad Saw




🍂Allohumma Sholli wa Sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Ali Sayyidina Muhammad🍂

Rosululloh SAW : Sirojan Muniron : الله عليه وسلم Alloh berfirman "سراجا منيرا"

Sayyidina Muhammad SAW :
 الله عليه وسلم Alloh berfirman "سراجا منيرا"
=============
حين وصف الله القمر  قال : (قمرا منيرا)
و حين وصف الشمس قال : (سراجا و هاجا)
و حين وصف الحبيب صلى الله عليه وسلم قال  : (سراجا منيرا)
Ketika Alloh mensifati bulan, maka Alloh berfirman "قمرا منيرا"
Dan ketika Allah mensifati matahari Allah berfirman "سراجا وهاجا"
Dan ketika Alloh mensifati الحبيب yaitu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Alloh berfirman "سراجا منيرا"

فجمع له بين الوصفين ليتكمل الجمال بالجلال و ليلتحم النور بالضياء فيشرق للعالم كله صلى الله عليه وسلم
Maka Alloh mengumpulkan antara 2 sifat yg ada di dalam matahari dan bulan dalam diri Rosululloh, sehingga keindahan dan kewibawaan tercampur menjadi satu dlm diri Rosululloh,begitu pula sinar menjadi satu dengan cahaya,
sehingga Cahaya Rosululloh menyinari alam semesta dgn sempurna

اللهم صلِّ وسلِّم على عبدِك ورسولِك خاتمِ النبيِّين، وأكرمِ الأولين والآخِرين، سيدِنا محمدٍ، وعلى آلِه وصحبِه والتابعين،
وفرِّج على المسلمين، ياقويُّ يامتين، واكْفِ شرَّ الظالمين.



Reward Alloh Kepada Abu Lahab Dengan Diringankan Adzab/ Siksa Untuk Abu Lahab, karena Gembira Dengan Mawlid Nabi SAW

*Abu Lahab Diringan 'Adzabnya/ Siksanya, karena Gembira Dengan Mawlid / Kelahiran Nabi SAW:*
=========
Minuman Segar buat Abu Lahab di Alam Kubur

قَالَ عُرْوَةُ : وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ (بِشَرِّ خَيْبَةٍ) قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ (لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ خَيْرًا غَيْرَ) أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

🌷‘Urwah berkata: “Tsuwaibah adalah seorang perempuan budak milik Abu Lahab yang dimerdekakan (dibebaskan dari statusnya sebagai budak), kemudian menyusui Nabi Muhammad saw. Ketika Abu Lahab mati, ada sebagian keluarganya yang bermimpi Abu Lahab dalam kondisi teramat murung (sedih). Dia bertanya, Apa yang kamu dapati (hai Abu Lahab)? Aku tidak mendapati kebaikan setelah (meninggalkan) kalian, selain sesungguhnya aku diberi minuman dari ini (lekuk jari tangan), sebab aku memerdeka-kan Tsuwaibah,- jawab Abu Lahab”. (dikutip dari Shahih al-Bukhari).

وَذَكَرَ السُّهَيْلِيُّ أَنَّ الْعَبَّاس قَالَ : لَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَب رَأَيْته فِي مَنَامِي بَعْد حَوْل فِي شَرّ حَال فَقَالَ : مَا لَقِيت بَعْدكُمْ رَاحَة ، إِلَّا أَنَّ الْعَذَاب يُخَفَّف عَنِّي كُلّ يَوْم اِثْنَيْنِ ، قَالَ : وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ يَوْم الِاثْنَيْنِ ، وَكَانَتْ ثُوَيْبَة بَشَّرَتْ أَبَا لَهَب بِمَوْلِدِهِ فَأَعْتَقَهَا .

🌷Al-Suhaili berkata, bahwa (Sayyid) ‘Abbas berkata: "Ketika Abu Lahab meninggal, aku bermimpi –setelah dapat satu tahun,  dia dalam kondisi terburuk. Dia bercerita: “Aku tidak mendapatkan kelapangan setelah (meninggalkan) kalian, kecuali sesungguhnya aku mendapatkan keringanan azab setiap hari Senin”.
"Hal itu, karena sesungguhnya Nabi Muhammad saw dilahirkan pada hari Senin. Tsuwaibah yang membawa kabar baik kepada Abu Lahab tentang kelahirannya, kemudian di-merdeka-kan" (dikutib dari Fath al-Bari).     

💗Dalam sejarah ditulis bahwa Tsuwaibah adalah orang pertama yang menyusui Rasulullah saw (sebelum beliau disusui Halimah as-Sa’diyah). Sebagai seorang budak, dia datang ke rumah tuan-nya, Abu Lahab, untuk memberi kabar baik, bahwa Aminah (istri Abdullah, saudara Abu Lahab) telah melahirkan seorang bayi dengan jenis klamin laki-laki. Mendengan kabar gembira, Abu Lahab merasa senang. Saking senangnya, Abu Lahab kemudian me-merdeka-kan Tsuwaibah, perempuan budak yang membawa kabar gembira.

💗Ternyata, kegembiraan Abu Lahab dengan kelahiran Rasulullah saw yang kemudian diwujudkan dalam bentuk memerdekakan budaknya, mendapatkan balasan dan reward, berupa minuman air dari lekuk jarinya di alam kubur dan keringanan azab setiap hari Senin.

💗Sungguh luar biasa, betapa seorang Abu Lahab, orang yang memusuhi Rasulullah dan dikutuk di dalam Al-Qur’an, masih mendapatkan reward dari Allah swt, karena senang dengan kelahiran Rasulullah. Sebagian Ahli berpendapat, ini termasuk keistimewaan Rasulullah saw. Padahal secara umum, amal  kebajikan orang kafir akan sia-sia bagai debu yang berterbangan.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا       

“Dan Kami datangi apa yang mereka lakukan dari suatu ‘amal perbuatan, maka Kami jadikan (bagai) debu yang berhamburan” (QS. Al-Furqan, 23). 

💗Subhanallah, Maha Suci Allah, Yang Maha Mencintai hamba-hamba-Nya. jika seorang Abu Lahab saja mendapatkan reward dari Allah, karena senang dengan kelahiran Rasulullah saw, bagaimana dengan umat Islam, pengikut Rasulullah saw. Jika kita senang dan cinta pada Rasulullah; meneladani sunnah-sunnahnya, banyak ber-shalawat kepadanya, merayakan hari kelahirannya, pasti –sangat yakin, Allah akan memberi reward yang luar biasa. in syaa Allah.

💗Salam Cinta Rasul

💗Semoga Kita mendapatkan syafa’atnya…. Amin….

PEMBACAAN QOSHIDAH SAYYIDINA ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB RA DIHADAPAN ROSULULLOH S.A.W.

*☆☆ PEMBACAAN QOSHIDAH SAYYIDINA ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB RA  DIHADAPAN ROSULULLOH S.A.W.☆☆*

○ Qosidah Pertama yang Mengungkapkan Pujian dan Maulid (Kelahiran) Nabi Saw di Ucapkan oleh Sayidina Abbas ra,
Paman Rasulullah Saw di Hadapan Beliau Saw.

○ Diceritakan bahwa Sayidina Abbas ra Meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk Memujinya,
Maka Nabi Saw pun Mempersilahkan Seraya berdoa agar Lisan dan Mulut Sayidina Abbas ra Senantiasa Terjaga dari segala Penyakit.
Lalu Sayidina Abbas pun membawakan Qasidahnya:

قَبْلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلالِ. ***  وَفِي مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ

ثُمَّ هَبَطْتَ الْبِلادَ لا بَشَر. ٌ***  أَنْتَ وَلا مُضْغَةٌ وَلا عَلَقُ

بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَّفِينَ وَقَد. ْ***  أَلْجَمَ نَسْرًا وَاهَلَهُ الْغَرَقُ

تُنْقَلُ مِنْ صَالِبٍ إِلَى رَحِمٍ. ***  إِذَا مَضَى عَالِمٌ بَدَا طَبَقُ

حَتَّى احْتَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِن. ُ***  مِنْ خَنْدَفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّطْقُ

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ الأَر. ***  ضُ وَضَاءَتْ بنورِكَ الأُفُقُ

فَنَحْنُ فِي الضِّيَاءِ وَفِي الن. ّ***  نُورِ وَسُبْلُ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Sebelum Turun ke Bumi, Engkau Hidup Nyaman di dalam Naungan (surga).
Dan dalam Tempat Terlindung (sulbi Adam) ketika daun-daun (surga) dipetik (oleh Nabi Adam dan Sayidatuna Hawa ketika pakaian keduanya terlepas,
Mereka memetik daun surga untuk menutupi aurat)

Lalu engkau Turun ke Bumi (dalam sulbi Nabi Adam), sedang Engkau Belum berwujud Manusia,
Bukan pula Janin mau pun `Alak (segumpal darah sebelum menjadi janin)

Tetapi adalah Nutfah. Engkau berada dalam Perahu (Nabi Nuh) ketika Nasr (berhala kaum Nuh) ditundukan dan para Penyembahnya tenggelam.

Engkau berpindah dari Sulbi menuju Rahim.
Dari suatu Generasi berlalu kepada Generasi yang lain.

Sampai dilingkup oleh Ke-Mulya-an Keluargamu yang Terjaga, Berasal dari Nasab Tertinggi di atas segala orang-orang Mulya

Dan ketika Engkau Dilahirkan, Bumi Bercahaya, Segala Penjuru ufuk Terang Benderang dengan Cahayamu.

Kami pun kini berada dalam Naungan Cahaya dan Sinar itu dan dalam jalan petunjuk kami berlalu.

—————

= Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak
- Juz: 3/327
- Halaman: 369-370

= Ath-Thabrani dalam "Al-Mu`jam Al-Kabir",

= Al-Imam Al Hafidh Ibnu Hajjar juga menuturkan bait-bait ini dalam kitab Al Ishabah dan Al-Amali,
Beliau mengatakan ini adalah Hadits Hasan.


Senin, 20 November 2017

DETIK-DETIK KELAHIRAN SAYYIDINA NABI MUHAMMAD SAW

⌚*Detik-detik Kelahiran Sayyidina Wa Mawlana Wa Syafi'ina Wa Habibina Junjungab Kita Nabi Muhammad SAW:*

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Robi'ul-Awwal) saat hari-hari kelahiran Nabi Muhammad saw sudah semakin dekat, Alloh swt semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Robiul-Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad saw.

Pada Malam Pertama (ke 1) :

Alloh swt melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam ke 2 :

Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad saw yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Alloh swt.

Pada malam ke 3 :

Datang seruan memanggil :
“Wahai Aminah … sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rosululloh saw yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Alloh swt.”

Pada malam ke 4 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam ke 5 :

Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Alloh Ibrohim as.

Pada malam ke 6 :

Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad saw memenuhi alam semesta.

Pada malam ke 7 :

Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam ke 8 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan :
“Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Alloh swt Pencipta Alam Semesta.”

Pada malam ke 9 :

Alloh swt semakin mencurahkan rohmat kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sakit, sedih, susah, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam ke 10 :

Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut akan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Pada malam ke 11 :

Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad saw.

Malam detik-detik kelahiran Nabi Muhammad saw, tepat tanggal 12 Robi’ul-Awwal di sepertiga malam. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad saw) sedang bermunajat kepada Alloh swt di sekitar Ka’bah. Sedangkan Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorang pun yang menemaninya.

Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat masing² sangat jelita, anggun dan cantik, diliputi dengan cahaya kemilau yang memancar serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang berkata :
”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad saw. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Alloh Adam as, ibunda seluruh ummat manusia, aku diperintahakan Alloh untuk menemanimu.”

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira :
“Aku adalah istri Nabi Alloh Ibrohim as  yang diperintahkan Alloh swt untuk menemanimu.”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh untuk menemanimu.”

Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa as datang untuk menyambut kehadiran putramu Muhammad Rosululloh.”

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad saw yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangannya dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Alloh swt dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa beterbangan yang sangat indah berkilau cahayanya.

Detik berikutnya Alloh swt memerintahk

an kepada Malaikat Ridhwan agar mengomandokan seluruh bidadari sorga agar berdandan cantik dan rapi, memakai kain sutra dan segala macam bentuk perhiasan dengan bermahkotan emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian sorga yang harum semerbak ke segala penjuru, lalu beribu ribu bidadari² itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridhwan, terlihat wajah bidadari² itu gembira.

Lalu Alloh swt memanggil :
“Yaa Jibril … serukanlah kepada seluruh arwah para Nabi, para Rosul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya Kekasih-Ku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril … perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridhwan untuk membuka pintu-pintu sorga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasih-Ku Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril… bawalah beribu ribu malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah Kekasih-Ku Muhammad saw telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan beribu ribu malaikat. Sayyidah Aminah melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya. Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih yang berkilau cahayanya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Nabi Muhammad Rosululloh saw dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad saw bersujud kepada Alloh seraya mengucapkan :
“Allohu Akbar ... Allkhu Akbar ... Wal-Hamdulillahi katsiro, wasubhanallohi bukrotan wa ashila...”

Kegembiraan memancar dari setiap sudut alam raya, gemuruh sholawat memenuhi semesta dengan bahasa yang berbeda beda dan dengan cara yang bermacam macam pula.

“Yaa Nabi Salam Alaika …                                                                                                                Yaa Rosul Salam Alaika …                                                                                                                     Yaa Habib Salam Alaika … Sholawatulloh Alaika ... ”

(Diriwayatkan dari Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i. Dalam kitabnya “Anni’matul-Kubro ’alal-alam).

Al-Fatihah...

Al-Sayyidah Aminah Rodliyallohu 'Anha Ibunda Nabi Muhammad SAW Sosok Pribadi Agung, Bersih, Mulia, Semerbak Harum Penuh Nur Cahaya:

*Al-Sayyidah Aminah Rodliyallohu 'Anha Ibunda Nabi Muhammad SAW Sosok Pribadi Agung, Bersih, Mulia, Semerbak Harum Penuh Nur Cahaya:*
==============
Nabi Muhammad saw bersabda tentang nasabnya:
“ALLOH telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”
Sabdanya lagi:
“ALLOH memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”
Aminah binti Wahab. Ibu dari Nabi Muhammad saw yang diutus Alloh sebagai rohmat seluruh alam. Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa Alloh saw memilihnya sebagai ibu seorang Rosul mulia dan Nabi yang terakhir. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, Rosul pembawa hidayah.
Dialah Aminah wanita pengukir sejarah. Kerana risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi umat manusia. Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Aminah : “Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”
Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy puteri dari pemimpin Bani Zuhroh. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui dengan jelas penampilannya atau gambaran fisikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.
Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah Bani Zuhroh dan menyebar ke segala penjuru Makkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.
Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad saw:
“Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat bangsawan yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”
Alloh swt memilih Aminah binti Wahab “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Abdulloh bin Abdul Mutholib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Banyak gadis yang meminang Abdulloh sebagai suaminya seperti Ruqoyyah binti Naufal, Fathimah binti Murro, Laila al-Adawiyah, dan masih banyak wanita lain yang telah meminang Abdulloh.
Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Mutholib yang membimbing tangan Abdulloh anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhroh –yang waktu itu sebagai pemimpin bani Zuhroh– untuk dinikahkan dengan Aminah.
Cahaya yang semula memancar di dahi Abdulloh kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdulloh. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdulloh pernah bertanya kepada Ruqoyyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya. jawab Ruqoyyah : “Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.”
Fathimah binti Murro yang ditanyai juga berkata, “Hai Abdulloh, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi aku melihat cahaya di wajahmu, kerana itu aku ingin memilikimu. Namun Alloh tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.”
Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila al-Adawiyah. “Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu kerana itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengawini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.”
Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdulloh kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan  Nabi Muhammad saw. Bagi Nabi Muhammad saw merupakan hasil dari do’a Nabi Ibrohim as bapaknya. Kelahirannya sebagai kabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam. Dari suara gaib ia mendengar: “Engkau sedang mengandung pemimpin ummat.”
Dan Alloh telah mengabulkan do’a Nabi Ibrohim as, yang diabadikan dalam al-Qur’an :
“Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang Rosul dari kalangan mereka.” (QS. Al-Baqoroh : 129).
Dan wujud kabar gembira dari Nabi Isa as:
“Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad).” (QS. As-Shof : 6).
Benar pulalah tentang ramalan mimpi Aminah tentang cahaya yang keluar dari dirinya serta menerangi istana-istana Syam itu.
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, ia berkata:
“Rosululloh saw memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian Rosululloh (berziarah) lalu mendekat kubur ibunya sambil menangis. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya.”
Betapa harumnya nama Aminah, dan betapa kekalnya namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung sebagai ibu Nabi Muhammad saw manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para Nabi, dan sebagai Rosul yang paling mulia. Aminah binti Wahab adalah ibu kandung pemimpin para Nabi dan Rosul yang mulia. Semoga Alloh memberkahinya.
Diriwayatkan dari Abdulloh bin Wahab, dari bibinya telah berkata:
“Sungguh ketika Aminan mengandung Rosululloh saw kami telah mendengar dia berkata:
“Aku tidak merasa akan kehamilanku dan aku tidak merasa (adanya beban) berat ataupun rasa sakit (karena kehamilanku) sebagaimana yang dirasakan oleh wanita-wanita (lain ketika mereka hamil), kecuali yang tidak aku akui (kalau aku masih bersuci untuk) mengangkat (hadats) haidl.
Dan telah datang kepadaku seorang laki-laki, sedangkan aku antara tidur dan jaga (dalam mimpi), lalu ia bertanya padaku:
“Apakah kamu merasa bahwa kamu hamil .?”
Lalu seolah-olah aku menjawab:
“Aku tidak tahu sama sekali.”
Lalu ia berkata (lagi):
“Sesungguhnya kamu telah mengandung (calon) pemimpin umat ini dan sebagai nabi mereka, yaitu (sang pemberi) petunjuk (sekaligus pembawa rohmat) bagi semesta alam (ini).”
Kejadian itu terjadi pada hari senin.
Aminah berkata:
“Kejadian itu adalah salah satu yang meyakinkan aku akan kehamilanku. Ketika dekat (waktu) persalinan, orang yang pernah datang itu datang lagi padaku seraya berkata: “Ucapkanlah olehmu  :
اعيذه بالواحد الصمد من شر كال ذى حسد
”Aku memohon perlindungan untuknya (anak ini) kepada (pemeliharaan) Dzat Yang Maha Esa, Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, dari kejahatan setiap (orang atau makhluk lainnya) yang memiliki (di hatinya ada) kedengkian (terhadapnya).”
Aminah berkata:
“Maka akupun mengucapkan (do’a) itu dan aku selalu mengulang-ulangnya.
Sebuah riwayat menyatakan:
“Ketika Alloh Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa hendak menampakkan sebaik-baik ciptaan-Nya yaitu Muhammad saw, Alloh memerintahkan Jibril untuk mengambil tanah dari tempat yang sangat mulia, maka iapun mengambilnya kemudian dibawa mengelilingi surga-surga an-Na’im dan dicelupkan dalam sungai-sungai sorga at-Tasnim, lalu dibawa menghadap kepada Alloh Yang Maha Tinggi lagi  Maha Agung. Dan (ketika berhadapan dengan Alloh) mengalirlah keringat dari (tanah) itu.
(pen: kata “thinah” kami artikan “tanah” menurut arti bahasanya, namun kami tidak tahu apa arti yang sebenarnya yang sesuai dengan kehendak pengarang kitab ini. Dan dalam riwayat lain diceritakan bahwa nur tersebut mengalirkan keringat karena gemetar dan sangat malu ketika berhadapan dengan Dzat Yang Maha Indah).
Maka Alloh menciptakan dari keringat itu nur semua Nabi yang mulia. (Jadi) Semua Nabi diciptakan (oleh Alloh) dari Nur Muhammad saw. Kemudian dititipkanlah tanah itu pada muka (wajah) Nabi Adam dan dimasukkan kedalamnya an-Nur yang telah terdahulu kemuliaannya dan terdepan, sebab itulah semua golongan malaikat al-muqarrobin sujud kepada Adam (alaihissalam). Kemudian Alloh membebankan kepada Adam perjanjian-perjanjian dan janji-janji yang harus ditepati saat (Alloh) menyuruh semua malaikat sujud kepadanya, (perjanjian itu yaitu:) Jangan sampai (Nabi Adam) menitipkan An-Nur itu, kecuali kepada ahlul karom wal jud (orang-orang mulia dan terpuji) yang suci dari kotoran dan kekufuran.
Maka berproseslah perpindahan An-Nur itu dari wajah orang-orang pilihan dan mulia kepada rahim-rahim wanita pilihan lagi mulia, sehingga sampailah pilihan dan kemulian ini kepada Abdulloh bin Abdul Mutholib bin Hasyim. Dan tibalah saatnya memenuhi perjanjian ini, akan terbit di jagad raya ini cahaya kebahagiaan yang akan menyebar ke seluruh penjuru alam semesta karena lahirnya penutup kenabian.
(Ketika Abdulloh mendapat titipan An-Nur di wajahnya) Terbukalah (terbelalak karena terpesona) semua mata (yang memandang) kepada Abdulloh, karena atasnya (darinya) telah terbit (pancaran) cahaya-cahaya (terindah, dan karena ia) dipakaikan (dihiasi dengan) pakaian terindah. (Kalau) ia berbicara (maka ia berbicara dengan gaya bahasa yang sangat indah) yaitu memenuhi kriteria (Ilmu) Bayan dan (Ilmu) Al Fashohah. Semua wanita mendambakannya dan berangan-angan sembari berkata: “Duhai Abdulloh, betapa beruntungnya wanita yang menerima titipan yang sangat berharga itu.”
Hanya rahim Aminah yang terpilih untuk menerima titipan tersebut yang terhindar serta suci  dari kotoran dan kekeruhan, dialah wanita terkemuka Bani Najjar.
Terkumpullah kesempurnaannya Abdulloh dengan kesempurnaannya Aminah, terhubunglah talinya dengan talinya, nampaklah kejernihan yakinnya Aminah, terhimpunlah rahim atas janinnya, bersinar terang harum dan wangilah Nur Nabi Muhammad saw di dahi dan keningnya Aminah.
Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bahwa ketika mengandung Nabi Muhammad saw disetiap bulan Aminah selalu dihadiri beberapa orang Nabi as, melalui mimpi dan menyampaikan salam serta kegembiraan atas anugerah Alloh atas akan hadirnya Nabi Agung penyelamat Manusia Al Musthofa saw.
–         Bulan pertama dari bulan-bulan kehamilannya telah datang dalam mimpinya Nabi Adam as dan memberitahukan bahwa ia mengandung (manusia) yang termulia di dunia.
–          Bulan kedua datang dalam mimpinya Nabi Idris as dan mengatakan akan kebesaran Nabi Muhammad saw dan eksistensinya yang sangat berharga.
–         Bulan ketiga datang dalam mimpinya Nabi Nuh as dan berkata padanya:
“Sesungguhnya engkau mengandung pemilik pertolongan dan kemenangan.”
–         Bulan keempat datang dalam mimpinya Nabi Ibrohim as yang mulia menyebutkan padanya keutamaan Nabi Muhammad saw dan kedudukannya yang sangat mulia.
–         Bulan kelima datang dalam mimpinya Nabi Isma’il as yang memberikan kabar gembira bahwa anaknya adalah pemilik kebesaran dan kemuliaan.
–         Bulan keenam datang dalam mimpinya Nabi Musa al-Kalim as dan memberitahukan kepadanya akan martabat Nabi Muhammad saw dan pangkat kehormatan kedudukannya yang sangat agung.
–         Bulan ketujuh datang dalam mimpinya Nabi Daud as yang memberitahukannya bahwa ia mengandung pemilik kedudukan yang terpuji, pemilik telaga surga (air yang mengalir dari tangan beliau saw, yang merupakan salah satu mu’jizatnya), pembawa panji aqidah kemulian dan kebaikan, dan mengabarkan bahwa anaknya adalah pemilik kedudukan yang terpuji.
–         Bulan kedelapan datang dalam mimpinya  Nabi Sulaiman as dan mengabarkan bahwa ia mengandung Nabi akhir zaman.
–         Bulan kesembilan datang dalam mimpinya Nabi Isa al-Masih as dan berkata padanya:
“Sesungguhnya engkau telah dikhususkan dengan (untuk melahirkan calon Rosul sebagai) penampakan agama yang benar (Islam) dan lisan yang fasih (al-Qur’an dan al-Hadits).
– Dan setiap Nabi as yang datang dalam mimpinya mengatakan kepadanya:
“Hai Aminah, apabila engkau telah melahirkan matahari kemenangan  dan cahaya petunjuk ini, maka namakanlah ia Muhammad.”
Ketika Aminah berusaha melepaskan persalinannya, tidak seorangpun dari manusia mengetahui apa yang terjadi padanya. Aminah tentunya sangat sedih atas keadaannya seorang diri yang tidak didampingi oleh orang-orang yang dicintainya, seperti suaminya yang sangat dicintainya yang telah meninggal di negri Syam karena sakit dalam rangka mencari sesuatu yang diinginkan Aminah waktu mengidam. Dan banyak lagi kesedihan-kesedihan dhohir dan bathin.
Pada saat itu ada banyak telapak tangan yang ditadahkan ke langit untuk (berdo’a) menyampaikan keluhan-keluhan Aminah
kepada Dzat Yang Maha Mengetahui rahasia dan kata-kata lirihnya yang diucapkan Aminah.
Telapak-telapak tangan itu adalah yang ditadahkan oleh Ibunda Hawa’ istri Nabi Adam as, Hajar istri Nabi Ibrohim as, Asiyah istri Fir’aun, Maryam putri Imron dan semua bidadari-bidadari cantik dari sorga firdaus yang telah menyinari tempat persalinan itu dengan kecantikan, keindahan dan keelokan mereka, sehingga sirnalah semua kesedihan  dan duka cita yang dialami oleh Aminah.
Malam yang dinantikan mahluk seluruh alam … pada detik detik kelahiran sucinya, Aminah tidak pernah merasa letih atau pun kepayahan. Malam yang menggembirakan bagi semesta telah tiba, inilah malam lahirnya Nabi Muhammad Paripurna yang kedatangannya dinantikan seluruh mahluk.
Seorang Ulama dalam kitab Maulid Ad-Diba’iy, Syaikh Abdurohman ad-Diba’iy mengisahkan:
“Sesungguhnya saat malam kelahiran Nabi Suci Muhammad saw, Arsy seketika bergetar hebat meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, Kursi Alloh swt bertambah kewibawaan dan keagungannya dan seluruh langit dipenuhi cahaya bersinar terang dan para malaikat seluruhnya bergemuruh mengucapkan pujian kepada Alloh swt.”
Aminah adalah wanita yang terpilih untuk melahirkan Nabi Muhammad saw yang pembawa risalah untuk umat manusia hingga akhir zaman. Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata:
“Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”
اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
“Ya, Alloh curahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah mencurahkan sholawat kepada Nabi Ibrohim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ya Alloh, curahkanlah barokah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah mencurahkan barokah kepada Nabi Ibrohim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
Al-Fatihah...

Kisah Masa Kehamilan Al-Sayyidah Aminah Rodliyallohu 'Anha Saat Mengandung Nabi Muhammad SAW Selama 9 Bulan Yang Ditemui 9 Nabi 'Alaihimus_Salam

*Kisah Masa Kehamilan Al-Sayyidah Aminah Rodliyallohu 'Anha Saat Mengandung Nabi Muhammad SAW Selama 9 Bulan Yang Ditemui 9 Nabi 'Alaihimus_Salam":*
 (Al-Syaikh Nawawi Al-Bantany:  Maulid Ibriz, hlm 17-19):
================
Bahwa Al-Sayyidah Aminah RA berkata, “Ketika aku mengandung “Kekasihku” Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, *di awal masa kehamilanku, yaitu bulan Rajab.*

Suatu malam, ketika aku dalam kenikmatan tidur, tiba tiba masuk seorang laki-laki yang sangat elok parasnya, wangi aromanya, dan tampak sekali pancaran cahayanya.

Dia berkata, “Marhaban bika Ya Muhammad (Selamat datang untukmu Wahai Muhammad)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab “Aku Adam, ayah sekalian manusia”
“Apa yang engkau inginkan?”
“Aku ingin membawa kabar gembira. Bahagialah engkau wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Sayidil Basyar” (Pemimpin Manusia)”

*Pada bulan kedua* datang seorang laki-laki, seraya berkata, “Assalamu’alaika Ya Rasulallah (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Tsits”
“Apa yang engkau inginkan”
“Aku ingin menggembirakanmu, bergembiralah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibut Ta’wil wal Hadits” (Pemilik Ta’wil dan Hadits)”

Pada bulan ketiga datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Nabiyallah (Salam untukmu wahai Nabi Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Idris”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyir Ro-iis” (Nabi Pemimpin)”.

*Pada bulan keempat* datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Habiballah (Salam untukmu wahai Kekasih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Nuh”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah wahai Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibun Nashri wal Futuh” (Pemilik Pertolongan dan Kemenangan)”.

*Pada bulan kelima* datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya shafwatallah (Salam untukmu wahai Sahabat Karib Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Hud”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bergembiralah wahai ibu Aminah, engkau sedang mengandung “Shohibusy Syafa’ah fil yawmil Masyhud” (Pemilik Syafaat di Hari persaksian/ Hari kiamat)”.

*Pada bulan keenam* datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rohmatallah (Salam untukmu wahai kasih sayang Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Ibrohim AlKholil”
“Apa yang engkau inginkan”
“Bahagialah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Jalil” (Nabi yang Agung)”.

*Pada bulan ketujuh* datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya manikhtaarohullah” (Salam untukmu wahai orang yang telah dipilih Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isma’il Adz-Dzabih (Yang disembelih)”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Malih” (Nabi yang Elok)”.

*Pada bulan kedelapan* datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Khirotallah” (Salam untukmu wahai pilihan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Musa putra Imran”
“Apa yang engkau inginkan”
“Kabar gembira Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Man Yunzalu ‘alaihil Qur’an” (Orang yang akan diuturunkan padanya Al-Qur’an)”.

*Pada bulan kesembilan*, yakni bulan Robi’ul Awwal, datang seorang laki-laki yang berkata, “Assalamu’alaika ya Rosulallah” (Salam untukmu wahai utusan Allah)”.
Aku bertanya, “Siapa engkau?”
Ia menjawab, “Aku Isa putra Maryam”
“Apa yang engkau inginkan”
“Gembiralah engkau Ya Aminah, engkau sedang mengandung “Nabiyil Mukarrom war_Rosulil mu’addzom” (Nabi yang dimuliakan dan Rasul yang diagungkan)”.

Sumber: *Al-Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantany RA, Maulid Ibriz, hlm 17-19.*
====================


*Leluhur Suci, Bersih Nan Mulia*
_*SAYYIDINA WA MAWLANA WA SYAFI'INA WA HABIBINA NABI MUHAMMAD SAW*_*Hingga Sayyidina 'Adnan Dari Jalur Ayah-Nya Al-Sayyid 'Abdulloh Rodliyallohu 'Anhu*: (Minal_Ashlabit_Thohiroh Ilal_Arham Al_Zakiyyah Al_Fakhiroh:*

هو

*مُحَمَّدُ* بْنُ *عَبْدِ اللَّهْ*

إبْنِ *عَبْدِ الْمُطَّلِبِ* بْنِ *هَاشِمْ*

إبْنِ *عَبْدِ مَنَافِ* بْنِ *قُصَي*

 بْنِ *كِلاَبِ* بْنِ *مُرَّةَ* بْنِ

 *كَعَبِ*بْنِ *لُؤَي* بْنِ *غَالِبْ*

إبْنِ *فِهْرِ* بْنِ *مَالِكْ*

إبْنِ *النُّضَرِ* بْنِ *كِنَانَةْ*

إبْنِ *خُزَيْمَةِ* بْنِ *مُدْرِكَةْ*

إبْنِ *إِلْيَاسِ* بْنِ *مُضَرِ*

بْنِ *نِزَارْ* إبْنِ *مَعِدِ* بْنِ

*عَدْنَانْ*

*يا دائم الفضل على البرية يا باسط اليدين بالعطية يا صاحب المواهب السنية صل على محمد و آله خير البرية واغفر لنا يا ذا العلى في هذه العشية*
AL-FATIHAH...

TAHLILAN Hari 3, 7, 25, 40, Setahun dan 1000 Bukan BID’AH, Dipraktekkan Sayyidiba 'UMAR dan Ulama' SALAF dan Pahalanya Sampai Kepada Mayyit

TAHLILAN Hari 3, 7, 25, 40, Setahun dan 1000 Bukan BID’AH, Dipraktekkan Sayyidiba 'UMAR dan Ulama' SALAF dan Pahalanya Sampai Kepada Mayyit:


Inilah Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, (setahun) & 1000 hari dari kitab Ahlusunnah Wal Jama’ah (bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI)

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓﻨﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”

Baca Juga :
Berakata Umar : “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan ???

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎﻡ، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan – hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib :

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya masing – masing dan makan.

Baca Juga :  Bahaya Ideologi WAHABI KHAWARIJ Yang Sesat dan Menyesatkan, Ini Dampaknya
Referensi : [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi :

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

Baca Juga :  BANTAHAN Terhadap FIRANDA ANDIRJA Atas Kritikan Kepada Ust. ABDUL SOMAD
ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ  اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

Baca Juga :  JOIN Channel TELEGRAM ASWAJA, Tinggalkan Media Wahabi & Syi'ah
“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Dalam al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞُ . ﻓَﺎْﻻِ ﺧْﺘِـﻴَﺎﺭُ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘُﻮْﻝَ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﺉُ ﺑَﻌْﺪَ ﻓِﺮَﺍﻏِﻪِ: ﺍَﻟﻠََّﻬُﻢَّ ﺍَﻭْﺻِﻞْ ﺛَـﻮَﺍﺏَ ﻣَﺎ ﻗَـﺮﺃْ ﺗـُﻪُ ﺍِﻟَﻰ ﻓُﻼَﻥٍ . ﻭَﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﻋْﻠَﻢُ

Artinya: Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’ dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut pendapat yang terpilih: “Hendaknya orang yang membaca al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya dengan do’a:

ﺍَﻟﻠََّﻬُﻢَّ ﺍَﻭْﺻِﻞْ ﺛَـﻮَﺍﺏَ ﻣَﺎ ﻗَـﺮﺃْ ﺗـُﻪُ ﺍِﻟَﻰ ﻓُﻼَﻥٍ

Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang telah aku baca kepada si fulan (mayit)”.

Referensi : (al-Adzkar al-Nawawi hal 150).

Minggu, 19 November 2017

ORANG YANG PERTAMA MENGADAKAN MAULID NABI SAW

ORANG YANG PERTAMA MENGADAKAN MAULID NABI SAW
__________________________________________
Al Hafizh As Suyuthi (wafat tahun 911H) berkata dalam kitab al Hawi Lil Fatawi:

وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ فِعْلَ ذَلِكَ صَاحِبُ إِرْبِلَ اَلْمَلِكُ اَلْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كُوْكُبُرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ عَلِيِّ بْنِ بُكْتِكِيْنَ أَحَدُ الْمُلُوْكِ الْأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ اَلْأَجْوَادَ وَكَانَ لَهُ آثارٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ

Orang yang pertama mengadakan hal yang demikian (Maulid Nabi) adalah penguasa Irbil, Raja Muzhaffar Abu Sa’id Kuukuburi bin Zainuddin Ali Ibnu Buktikin, salah seorang raja yang mulia, agung dan demawan.

Beliau memiliki peninggalan bagus dan beliau lah yang meneruskan pembangunan Masjid al- Mudhaffariy di kaki bukit Qasiyun”.

قَالَ ابْنُ كَثِيْرٍ فِيْ تَارِيْخِهِ: كَان يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ الشَّرِيْفَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ وَيَحْتَفِلُ بِهِ اِحْتِفَالًا هَائِلًا وَكَانَ شَهْمًا شُجَاعًا بَطَلًا عَاقِلًا عَالِمًا عَادِلًا رَحِمَهُ اللهُ وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ

Al Hafizh Ibnu Katsier berkata dalam tarikhnya (Al Bidayah wa Annihayah) :
Raja Mudzaffar mengadakan Maulid yang mulia pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya dengan perayaan yang sangat besar.

Raja Mudhaffar adalah raja yang berotak cemerlang, gagah pemberani, pintar akalnya, alim dan adil.

Rahimahullaah wa akrama Matswaah (semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya ditempat yang paling baik).

قَالَ وَقَدْ صَنَّفَ لَهُ الشَّيْخُ أَبُو الْخَطَّابِ بْنُ دِحْيَةَ مُجَلَّدًا فِي الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ سَمَّاهُ (اَلتَّنْوِيْرَ فِيْ مَوْلِدِ الْبَشِيْرِ النَّذِيْرِ) فَأَجَازَهُ عَلَى ذَلِكَ بِأَلْفِ دِيْنَارٍ، وَقَدْ طَالَتْ مُدَّتُهُ فِي الْمُلْكِ إِلَى أَنْ مَاتَ وَهُوَ مُحَاصِرٌ لِلْفِرنْجِ بِمَدِيْنَةِ عَكَّا سَنَةَ ثَلَاثِيْنَ وَسِتِّمِائَةٍ مَحْمُوْدُ السِّيْرَةِ وَالسَّرِيْرَةِ،

Al Hafizh melanjukan : Al Hafizh Syeikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah mengarang sebuah karangan tentang Maulid satu jilid yang diberi nama “At-Tanwir fii Maulidilbasyiirinnazhiir” maka raja Mudhaffar menghadiahi beliau dengan 1000 dinar.

Masa pemerintahan beliau lama, sampai dengan beliau wafat dalam keadaan beliau mengepung Ifrinj (orang Eropa) di kota Akkaa pada tahun 630 H.

 Beliau orang terpuji tingkah lakunya dan juga jiwanya.

وَقَالَ سِبْطُ ابْنِ الْجَوْزِيِّ فِيْ مِرْآةِ الزَّمَنِ: حَكَى بَعْضُ مَنْ حَضَرَ سِمَاطَ الْمُظَفَّرِ فِيْ بَعْضِ الْمَوَالِدِ أَنَّهُ عَدَّ فِيْ ذَلِكَ السِّمَاطِ خَمْسَةَ آلَافِ رَأْسِ غَنَمٍ شَوِيٍّ وَعَشْرَةَ آلَافِ دَجَاجَةٍ وَمِائَةَ فَرَسٍ وَمِائَةَ أَلْفِ زُبْدِيَّةٍ وَثَلَاثِيْنَ أَلْفَ صَحْنِ حَلْوَى

(Al Hafizh melanjukan) Cucu Imam Ibnul Jauzi berkata didalam Mir`aatuz Zaman :

“Sebagian orang yang pernah menghadiri perjamuan Raja Muzhaffar dalam beberapa Maulid, dia menghitung dalam perjamuan tersebut sebanyak 5.000 kepala kambing bakar, 10.000 ayam, seratus kuda, 100.000 roti mentega dan 30.000 piring kue.

[ Sumber Kitab : Al Haawi Lil Fataawi 1/272, maktabah syamilah ].

Dalam kitab Al Fat_hurrabbaani Min Fataawaa al Imam Asysyaukaani juz II halaman 1087 dikatakan:

وَأَجْمَعُوْا أَنَّ الْمُخْتَرِعَ لَهُ اَلسُّلْطَانُ اَلْكُرْدِيُّ اَلْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كُوْكُبُوْرِي بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ عَلِي سَبَكْتِيْنَ صَاحِبُ إِرْبِلَ

Mereka (para Ulama) sepakat sesungguhnya orang yang pertama mengadakan Maulid adalah Sultan Kurdi al Muzhaffar Abu Sa’id Kuukubuuri bin Zainuddin Ali Sabaktin, penguasa Irbil. Wallaahu A’lam.

*NIAT MENGHADIRI MAWLID NABI SAW:*" Menyambut Maulid🍃

بسم الله الرحمن الرحيم
*NIAT MENGHADIRI MAWLID NABI SAW:*"
Menyambut Maulid🍃
Diantara niat ketika hadir maulid:
🍀نَوَيْتُ أنْ أَحْضُرَ المـولِد مِثْلَ ما نَوى أسْلافُنا الصّالِحون

Niat menghadiri maulid seperti niatnya org" sholeh
🌺و بنيَّة تَعْظِيم شَهْر وِلادَةِ النَّبي صلى اللّه عليه و آله و سلّم

Dan niat mengagungkan bulan kelahiran Nabi SAW
🌿و بِنِيَّة زِيادةِ الإيمان و زِيادَةِ التَّقوَى و المَحبَّة و القُرب إلى اللّه وإلى الرَّسول صلى اللّه عليه و آله و سلّم و أسلافِنا الصّالحين

Dan niat menambah iman , taqwa, cinta & dekat kpd ALLAH n Rosulullah SAW n org" sholeh
🌴و بنيّة إتِّباعِ الرَّسول صلى الله عليه و آله و سلّم ظاهِرًا و باطِنًا في القَوْلِ و الفِعْلِ و النِّيَّة

Dan niat mengikuti Rosulullah SAW secara dhohir n bathin dlm perkataan, pekerjaan, n niat
🌼و بنيّة أنَّ اللّهَ يُحَسِّن أخْلاقَنا و آدابَنا

Dan niat memperbagus akhlak kita n adab" kita
💞و أَنَّ اللّه يَرْزُقنا النَّظَر إلى وَجهِ الحَبِيب سَيِّدِنا مُحمّدٍ صلّى اللّه عليه و آله و صحبِه و سلّم يَقْظَةً و مَنامًا في الدُّنْيا و الآخِرة و في البَرزَخ و هُوَ راضٍ عَنَّا 

Dan niat semoga Allah memberi  kita rizqi dapat melihat wajah Rosulullah SAW secara langsung ato mimpi di dunia & akherat, di barzakh dan beliau ridho kpd kita
🌿و علَى كُلِّ نِيَّةٍ صالِحة في خَيْرٍ و لُطْفٍ و عافِيَة و سَلامَة

Dan semua niat yang sholihah untuk kebaikan, kelembutan, kesehatan, dan kesalamatan.
         

                         💞  شهر مُبارك  💞
            Bulan yg diberkahi

Leluhur Suci, Bersih Nan Mulia* _*SAYYIDINA NABI MUHAMMAD SAW*_*Hingga Sayyidina 'Adnan*

*Leluhur Suci, Bersih Nan Mulia*
_*SAYYIDINA NABI MUHAMMAD SAW*_*Hingga Sayyidina 'Adnan*:

هو

*مُحَمَّدُ* بْنُ *عَبْدِ اللَّهْ*

إبْنِ *عَبْدِ الْمُطَّلِبِ* بْنِ *هَاشِمْ*

إبْنِ *عَبْدِ مَنَافِ* بْنِ *قُصَي*

 بْنِ *كِلاَبِ* بْنِ *مُرَّةَ* بْنِ

 *كَعَبِ*بْنِ *لُؤَي* بْنِ *غَالِبْ*

إبْنِ *فِهْرِ* بْنِ *مَالِكْ*

إبْنِ *النُّضَرِ* بْنِ *كِنَانَةْ*

إبْنِ *خُزَيْمَةِ* بْنِ *مُدْرِكَةْ*

إبْنِ *إِلْيَاسِ* بْنِ *مُضَرِ*

بْنِ *نِزَارْ* إبْنِ *مَعِدِ* بْنِ

*عَدْنَانْ*

*يا دائم الفضل على البرية يا باسط اليدين بالعطية يا صاحب المواهب السنية صل على محمد و آله خير البرية واغفر لنا يا ذا العلى في هذه العشية*
AL-FATIHAH...

Ucapan Selamat Menyambut Peringatan Mawlid Nabi SAW

*Tahni'ah Dzikro Mawlid Nabi SAW:*
================
🙏🏻 *Assalamu 'Alaikum warohmatullohi wabarokatuh.* 🙏🏻
🌹🌹🍂💐🍂🍃🌹🍃🍂,🌹🌹💐🍂🌹💐🍂
_*Semoga sepanjang tahun*
*Panjenengan / Kalian semua senantiasa dalam kebaikan*_
🌹🌹🌹
*Kami mengucapkan selamat kpd Panjenengan/ Kalian semuanya atas hadirnya bulan _Robi'ul Awwal_ dan peringatan Maulid Nabi Yang Mulia SAW, mari kita *perbanyak sholawat kepada-Nya dan menebar cinta, kasih sayang serta budayakan salam kedamaian* *kepada sesama.*
🌹🌹🍂💐🍂🍃🌹🍃🍂,🌹🌹💐🍂🌹💐🍂
*كل عام وأنتم بخير*
*نهنئكم جميعا بقدوم شهر ربيع الأول وذكر مولد النبي الكريم عليه أفضل الصلاة وأزكى التسليم هيا بنا نكثر فيه من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم ونشر المودة والرحمة فيما بيننا البين والسلا م*
🙏🏻 *Wassalamu 'Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh*🙏🏻
*Hormat Ta'dzim kami:*
                 Ttd,
_🙏🏻 *Abdul Hamid Mudjib Hamid SyAB SumberBulan.Abd.*_ 🙏🏻

🍂💐🍂🍃🌹🍃🍂,
*يا دائم الفضل على البرية يا باسط اليدين بالعطية يا صاحب المواهب السنية صل على محمد و آله خير البرية واغفر لنا يا ذا العلى في هذه العشية*
🍂💐🍂🍃🌹🍃🍂,

Gembira, Senang dan Bangga Dengan Kelahiran Sang Nabi SAW:* *Maghrib hari ini Masuk 1 Robi'ul Awwal 1439 H.

*Gembira, Senang dan Bangga Dengan Kelahiran Sang Nabi SAW:*
*Maghrib hari ini Masuk 1 Robi'ul Awwal 1439 H.*
===============
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Waktu Maghrib hari ini: Ahad 30 Shofar 1439 Hijriyyah Telah Berakhir Bulan ShofarbTahun ini, kita  memasuki bulan mulia, yaitu bulan Robi'ul Awwal atau bulan Maulid. Bulan dimana Rosululloh Sayyidina Kanjeng Nabi Muhammad SAW dilahirkan,
Hendaknya kita merasa senang dan gembira dengan kelahiran Junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan menyambut dan merayakan serta memperingati dan menghormati Bulan Mawlid/ kelahiran-Nya SAW.

Sebagai ibroh untuk kita bahwa Abu Lahab seorang paman Nabi yabg kafir, diringankan dari siksa/ 'Adzab setiap malam senin, karena dia senang dan gembiea debgan kelahiran Kanjeng Nabi SAW, hingga dia membebaskan Tsuwaibah budaknya sebagai wujud kegembiraab Abi Lahab dengan Kelahieab/ Mawlid Nabi SAW.

Imam para ahli Qira’at al-Hafizh Syamsuddin bin al-Jazari pernah berkata, seperti yang dinukil oleh al-Hafizh al-Suyuthi dalam kitab al-Hâwi lil-Fatâwa:
فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمه جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى اله عليه وسلم به، فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى الله عليه وسلم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلم لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم
“Jika Abu Lahab kafir yang disebutkan celanya dalam al-Qur’an, ia tetap diberi balasan, meskipun ia di dalam neraka, karena rasa senangnya pada malam maulid Nabi SAW. Maka bagaimanakah keadaan seorang muslim yang bertauhid dari umat Nabi Muhammad Saw yang senang dengan kelahirannya dan mengerahkan segenap kemampuannya dalam mencintai Rasululloh Saw. Sungguh, pastilah balasannya dari Alloh Swt: ia akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan karena fadlol/ karunia-Nya”.

Maka sepatutnya kita merasa gembira, berbangga dan berbahagia menyambut bulan Maulid ini Bulan Kelahieab Junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Mohon maaf atas seluruh kesalahan dan dosa kami beserta keluarga besar serta
Mohon doanya agar senantiasa dikaruniai *rasa eindy/ Syauqin dan cinta/ mahabbah kepada Junjungan kita Sayyidina Wa Mawlana Wa Syafi'ina Wa Habibina Nabi Muhammad Rosulillah Bin Abdillah SAW, mendapat syafa'at, barokat, rohamat, nafahat, fuyudlot, Da'awat khoirot Mustajabah, memperoleh ridlo-Nya dan ridlo Alloh SWT  serta khusnul khotimah*
Amiiin bihahi Al-Amiin SAW..Al-Fatihah..
🍃🍂💐🍂🍃🌹🍃🍂,
*يا دائم الفضل على البرية يا باسط اليدين بالعطية يا صاحب المواهب السنية صل على محمد و آله خير البرية واغفر لنا يا ذا العلى في هذه العشية*
Wassalamu 'Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Sabtu, 18 November 2017

Sholawat Dibaca Di Bulan Maulid/ Robi'ul Awwal Sebagai Pesan Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz BSA:

*Taushiyyah Al_'Alallamah Guru Mulia Al-Habib 'Umar Bin Hafidz Bin Syeikh Abu Bakar Bin Salim Tarim Yaman Di Bulan Rabi'ul Awwal 1439 H.:*
===========

Seperti apa yg telah kami kutip dari Media "Ahbari Tarim" hari ini, *Al_'Alallamah Guru Mulia Al-Habib 'Umar Bin Hafidz Bin Syeikh Abu Bakar Bin Salim Tarim Yaman Di Bulan Rabi'ul Awwal 1439 H.* *Tarim Yaman, Mudir "Darul Musthofa" menuturkan bahwa :*

*Dalam rangka menyambut datangnya bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu bulan Rabi'ul Awwal 1439 Hijriyyah dan untuk menjaga keselamatan kaum muslimin, beliau berpesan agar setiap hari dicbulan Rabi'ul Awwal ini, paling tidak membaca sholawat di bawah ini sebanyak 3000 kali, boleh kurang boleh lebih.*

*"Allohumma Sholli Wa Sallim 'Alaa 'Abdika Wa Rosulika khotamin_Nabiyyiin Wa Akromil_Awwaliin Wal_Aakhiriin Sayyidina Muhammadin Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wattaabi'in Wa Farrij 'Alal_Muslimiin, Ya Qowiyyu Ya Matiin Wakfi Syarrod_Dzoolimiin".*


Semoga bermanfaat.

أوصى  سيدي الحبيب عمر بن حفيظ

WASIAT DARI AL HABIB UMAR BIN HAFIDZ  BSA:

بهذه الصيغة لـشهر ربيـع الأول 1439 :

Untuk membaca kalimat ini dibulan Robiul Awal Tahun 1439H

*اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك خاتم النبيين وأكرم الأولين والآخرين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والتابعين وفرج على المسلمين ياقوي يامتين واكف شر الظالمين*

*ALLOHUMMA SHOLLI WA SALLIM 'ALA 'ABDIKA WA ROSULIKA KHOTAMIN NABIYYINAl WA AKROMIL AWWALIN WAL AKHIRIN SAYYIDINA MUHAMMAD WA 'ALA ALIHI WA SOHBIHI WAT TAA'BI'IN WA FARRIJ 'ALAL MUSLIMIN YA QOWIYYU YA MATIN WAKFI SYARRODDZOLIMIN*

ثلاثة آلاف مرة أو أكثر

Dibaca 3000 kali atau lebih..

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به وسلم

Nama-Nama Mawlana Wa Sayyidina Wa Syafi'ina Nabi Muhammad SAW:* أَسْماءُ سَيِّدِنَا وَمَوْلانَا مُحمَّدٍ ﷺ

*Nama-Nama Mawlana Wa Sayyidina Wa Syafi'ina Nabi Muhammad SAW:*
أَسْماءُ سَيِّدِنَا وَمَوْلانَا مُحمَّدٍ ﷺ
مائَتانِ وَوَاحِدٌ وَهِىَ هذِهِ
_____________
سَيِّدُنَا) مُحَمَّدٌ ﷺ أَحْمَدُ ﷺ حَامِدٌ ﷺ مَحْمُودٌ ﷺ أَحْيَدٌ ﷺ وَحِيدٌ ﷺ مَاحٍ ﷺ حاشِرٌ ﷺ عَاقِبٌ ﷺ طَهَ ﷺ يَس ﷺ طَاهِرٌ ﷺ مُطَهَّرٌ ﷺ طَيِّبٌ ﷺ سَيِّدٌ ﷺ رَسُولٌ ﷺ نَبِىٌّ ﷺ رَسُولُ الرَّحْمَة ﷺ قَيِّمٌ ﷺ جَامِعٌ ﷺ مُقْتَفٍ ﷺ مُقَفَّى ﷺ رَسُولُ المَلاَحِمِ ﷺ رَسُولُ الرَّاحَةِ ﷺ كَامِلٌ ﷺ إِكْلِيلٌ ﷺ مُدَّثِّرٌ ﷺ مُزَّمِّلٌ ﷺ عَبْدُ اللَّـهِ ﷺ حَبِيبُ اللهِ ﷺ صَفِىُّ اللهِ ﷺ نَجىُّ اللهِ ﷺ كَلِيمُ اللهِ ﷺ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ ﷺ خَاتَمُ الرُّسُلِ ﷺ مُحْيِيٍ ﷺ مُنْجي ﷺ مُذَكِّرٌ ﷺ نَاصِرٌ ﷺ مَنْصُورٌ ﷺ نَبِيُّ الرَّحْمَةِ ﷺ نَبِيُّ التَّوْبَةِ ﷺ (حَرِيصٌ عَلَيْكُم) {التوبة:128} ﷺ مَعْلُومٌ ﷺ شَهِيرٌ ﷺ شَاهِدٌ ﷺ شَهِيدٌ ﷺ مَشْهُودٌ ﷺ بَشِيرٌ ﷺ مُبَشِّرٌ ﷺ نَذِيرٌ ﷺ مُنْذِرٌ ﷺ نُورٌ ﷺ سِرَاجٌ ﷺ مِصْبَاحٌ ﷺ هُدَىً ﷺ مَهْدِيٌّ ﷺ مُنِيرٌ ﷺ دَاعٍ ﷺ مَدْعُوٌّ ﷺ مُجِيبٌ ﷺ مُجَابٌ ﷺ حَفِيُّ ﷺ عَفُوٌّ ﷺ وَلِيٌّ ﷺ حَقٌّ ﷺ قَوِيٌّ ﷺ أَمِينٌ ﷺ مَأْمُونٌ ﷺ كَرِيمٌ ﷺ مُكَرَّمٌ ﷺ مَكِينٌ ﷺ مَتِينٌ ﷺ مُبِينٌ ﷺ مُؤمِّلٌ ﷺ وَصُولٌ ﷺ ذُو قُوَّةٍ ﷺ ذُو حُرْمَةٍ ﷺ ذُو مَكَانَةٍ ﷺ ذُو عِـّزٍ ﷺ ذُو فَضْلٍ ﷺ مُطَاعٌ ﷺ مُطِيعٌ ﷺ قَدَمُ صِدْقٍ ﷺ رَحْمَةٌ ﷺ بُشْرَى ﷺ غَوْثٌ ﷺ غَيْثٌ ﷺ غِيَاثٌ ﷺ نِعْمَةُ اللَـهِ ﷺ هَدِيَّةُ اللَّـهِ ﷺ عُرْوَةٌ وُثْقَى ﷺ صِرَاطُ اللَّـهِ ﷺ صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ ﷺ ذِكْرُ اللَّـهِ ﷺ سَيْفُ اللَّـهِ ﷺ حِزْبُ اللَّـهِ ﷺ النَّجْمُ الثَّاقِبُ ﷺ مُصْطَفَى ﷺ مُجْتَبَى ﷺ مُنْتَقَى ﷺ أُمِّيٌّ ﷺ مُخْتَارٌ ﷺ أَجِيرٌ ﷺ جَبَّارٌ ﷺ أَبُو الْقَاسِمِ ﷺ أَبُو الطَّاهِرِ ﷺ أَبُو الطَّيِّبِ ﷺ أَبُو إِبْرَاهِيمَ ﷺ مُشَفَّعٌ ﷺ شَفِيعٌ ﷺ صَالِحٌ ﷺ مُصْلِحٌ ﷺ مُهَيْمِنٌ ﷺ صَادِقٌ ﷺ مُصَدِّقٌ ﷺ صِدْقٌ ﷺ سَيِّدُ الْـمُرْسَلِينَ ﷺ إِمَامُ المُتَّقِينَ ﷺ قَائِدُ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ ﷺ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ ﷺ بَرٌّ ﷺ مَبَرٌّ ﷺ وَجِيهٌ ﷺ نَصِيحٌ ﷺ نَاصِحٌ ﷺ وَكِيلٌ ﷺ مُتَوَكِّلٌ ﷺ كَفِيلٌ ﷺ شَفِيقٌ ﷺ مُقِيمُ السُّنَّةِ ﷺ مُقَدَّسٌ ﷺ رُوحُ الْقُدُسِ ﷺ رُوحُ الْـحَقِّ ﷺ رُوحُ الْقِسْطِ ﷺ كَافٍ ﷺ مُكْتَفٍ ﷺ بالِغٌ ﷺ مُبَلِّغٌ ﷺ شَافٍ ﷺ وَاصِلٌ ﷺ مَوْصُولٌ ﷺ سَابِقٌ ﷺ سَائِقُ ﷺ هَادٍ ﷺ مُهْدٍ ﷺ مُقَدَّمٌ ﷺ عَزِيزٌ ﷺ فَاضِلٌ ﷺ مُفَضَّلٌ ﷺ فَاتِحٌ ﷺ مِفْتَاحٌ ﷺ مِفْتَاحُ الرَّحْمَةِ ﷺ مِفْتَاحُ الْـجَنَّةِ ﷺ عَلَمُ الْإِيمَانِ ﷺ عَلَمُ الْيَقِينِ ﷺ دَلِيلُ الْـخَيْرَاتِ ﷺ مُصَحِّحُ الْـحَسَنَاتِ ﷺ مُقِيلُ الْعَثَرَاتِ ﷺ صَفُوحٌ عَنِ الزَّلَاتِ ﷺ صَاحِبُ الشَّفَاعَةِ ﷺ صَاحِبُ المَقَامِِ ﷺ صَاحِبُ الْقَدَمِ ﷺ مَخْصُوصٌ بالْعِزِّ ﷺ مَخْصُوصٌ بالْـْمَجْدِ ﷺ مَخْصُوصٌ بالشَّرَفِ ﷺ صَاحِبُ الْوَسِيلَةِ ﷺ صَاحِبُ السَّيْفِ ﷺ صَاحِبُ الْفَضِيلَةِ ﷺ صَاحِبُ الْإِزَارِ ﷺ صَاحِبُ الْـحُجَّةِ ﷺ صَاحِبُ السُّلْطَانِ ﷺ صَاحِبُ الرِّدَاءِ ﷺ صَاحِبُ الدَّرَجَةِ الرَّفِيعَةِ ﷺ صَاحِبُ التَّاجِ ﷺ صَاحِبُ الـْْمَغْفَرِ ﷺ صَاحِبُ اللِّوَاءِ ﷺ صَاحِبُ الْمِعْرَاجِ ﷺ صَاحِبُ الْقَضِيبِ ﷺ صَاحِبُ الْبُرَاقِ ﷺ صَاحِبُ الخَاتَمِ ﷺ صَاحِبُ الْعَلَامَةِ ﷺ صَاحِبُ الْبُرْهَانِ ﷺ صَاحِبُ الْبَيَانِ ﷺ فَصِيحُ اللَّسِانِ ﷺ مُطَهَّرُ الْـجَنَانِ ﷺ رَؤُوفٌ ﷺ رَحِيمٌ ﷺ أُذُنُ خَيْرٍ ﷺ صَحِيحُ الْإِسْلاَم ﷺ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ ﷺ عَيْنُ النَّعِيمِ ﷺ عَيْنُ الْغُرِّ ﷺ سَعْدُ اللَّـهِ ﷺ سَعْدُ الْـخَلْقِ ﷺ خَطِيبُ الْأُمَمِ ﷺ عَلَمُ الْهُدَى ﷺ كَاشِفُ الْكُرَبِ ﷺ رَافِعُ الرُّتَبِ ﷺ عِزُّ الْعَرَبِ ﷺ صَاحِبُ الْفَرَجِ ﷺ كَرِيمُ الْـمَخْرَجِ ﷺ صَلَّى اللَّـهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللهم يا رب بجاه نبيك المصطفى ورسولك المرتضى طهر قلوبنا من كل وصف يباعدنا عن مشاهدتك ومحبتك وأمتنا على السنة والجماعة والشوق إلى لقائك ياذا الجلال والإكرام ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما


Jumat, 17 November 2017

KISAH SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN

KISAH SUFI KAYA DAN SUFI MISKIN
============
Suatu ketika, seorang guru Sufi merekomendasikan kepada muridnya untuk berguru kepada seorang Sufi ternama. Setelah melewati perjalanan yang amat jauh, sang Murid akhirnya bisa berjumpa dengan Sufi yang dimaksud oleh gurunya.

Betapa kagetnya setelah ia mengatahui rumah Sufi tersebut yang sangat mewah bak istana raja. Ia lalu bertanya kepada para tetangganya, apakah benar bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi sebagaimana yang direkomendasikan oleh gurunya. Semuanya menjawab “Ya”.
Lebih kaget lagi setelah si pemilik istana itu datang dengan pakaian yang mewah dan kendaraan yang luar biasa bagusnya. Sang murid bertanya-tanya dalam hatinya, merasa ragu apakah benar ini sang Sufi ternama yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi karena telanjur sudah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, iapun menjumpai Sufi yang kaya raya tersebut. Setelah menyampaikan salam dari gurunya, ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya.

Betapa kagetnya sang murid setelah mendengar kata-kata yang keluar dari lisan Sufi yang kaya raya itu. Sang Sufi berkata, “Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia.”
Bak disambar petir di siang bolong. Bagaimana mungkin orang kaya raya itu memberi nasehat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bukankah yang lebih sibuk mengurus dunia adalah orang kaya tersebut !? Ia pamit pulang, tidak jadi berguru kepada orang yang direkomendasikan oleh gurunya.

Sesampai di padepokan gurunya, ia melaporkan semua kejadian yang dialaminya, termasuk nasihat orang kaya itu kepada gurunya. Sang murid lebih tidak mengerti lagi setelah sang guru yang sangat dihormati tersebut ternyata menangis dan membenarkan nasehat orang kaya raya tersebut.

Sang guru akhirnya menjelaskan bahwa orang kaya raya yang dijumpai oleh muridnya itu memang memiliki istana yang mewah, kendaraan yang bagus dan selalu berpakaian indah. Tanah perkebunannya luas serta memiliki pabrik yang mempekerjakan banyak karyawan. Namun demikian, harta yang melimpah itu tidak menyebabkannya lalai dan lupa kepada ALLAH ﷻ.
Hartanya tidak mengganggu dzikirnya kepada ALLAH ﷻ. Ia tidak sombong karena hartanya dan jika sewaktu-waktu hartanya diambil oleh pemiliknya, ALLAH ﷻ, ia pun tidak merasa terhina. Ia memandang harta biasa-biasa saja.

Sementara saya, kata sang Guru, biar tidak punya harta yang melimpah, tapi hari-hari masih disibukkan untuk memikirkan harta. Bahkan bisa jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dari pada si Sufi yang kaya raya tersebut.
.
Pesan nasehat untuk mereka yang diberi karunia rizki yang lebih oleh ALLAH ﷻ, hendaknya mereka dapat mengelola hartanya sebagai sarana untuk mendapatkan harta kekayaan yang lebih besar kelak di akhirat. Tak perlu bersikap kontra produktif dengan meninggalkan kehidupan dunia. Janganlah mengharamkan yang dihalalkan oleh ALLAH ﷻ.
Adapun terhadap orang-orang yang belum mendapatkan rizki lebih dari ALLAH ﷻ, hendaklah tetap menjalankan ketaatan kepada ALLAH ﷻ dengan tulus dan ikhlas. Nikmati kemiskinan dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada ALLAH ﷻ.
Akhirnya, tidak ada halangan bagi orang kaya untuk menjadi shalih dan dekat dengan ALLAH ﷻ. Demikian juga tidak ada alasan bagi orang miskin untuk tidak mendekat kepada ALLAH ﷻ karena kemiskinannya.
Orang kaya dan orang miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk dekat dengan ALLAH ﷻ.


🌹اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد🌹
Allahumma Sholli 'Ala Sayyidina Muhammad, Wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad...