Ringkasan Sejarah 25 Nabi Dan Rasul
Terlampir dibawah ini ringkasan sejarah 25 Nabi dan Rasul, yang insyallah sedikitnya bisa memberi gambaran singkat tentang mereka:
1- Adam
Diperkirakan hidup tahun 5872-4942 SM di sekitar wilayahIndia. Konon disitulah beliau pertama kali diturunkan Allah ke muka bumi setelah melanggar perintah Allah tidak boleh memakan buah terlarang. Lalu beliau berjalan ke wilayah yang kini disebut dengan Jazirah Arabia. Menurut beberapa riwayat beliau bertemu dengan istrinya, Hawwa di Arafah yang sekarang dijadikan tempat pertemuan ummat Islam dari seluruh dunia setahun sekali saat melakukan ibadah haji. Mereka lantas menetap di sekitar Ka’bah yang memang telah dibangun sebelumnya oleh para malaikat. Beliau wafat di jazirahArabia(tidak diketahui dimana kuburannya). Diriwayatkan bahwa beliau mempunyai 40 anak. Nama Adam disebut dalam Al-Qur’an: 25 kali.
2- Idris
Idris bin Yarid bin Mahlail dari keturunan Nabi Syits bin Adam as. Beliau dari anak keturunan Qabil yang tinggal di Babil diIraq. Diperkirakan hidup sekitar tahun 4533-4188 SM. Nama Idris disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 2 kali
3- Nuh
Nuh bin Lamik bin Mutuisyalkh dari keturunan Idris, lalu keturunan Nabi Syits bin Adam. Diperkirakan hidup pada tahun 3993-3043 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 3650 SM. Diperkirakan beliau tinggal di wilayah yang kini disebut sebagaiIraq.Paraahli sejarah banyak menyebutkan bahwa beliau wafat di Mekkah, dan memiliki 4 anak laki-laki. Nama Nuh disebutkan sebanyak 43 kali dalam Al-Qu’ran.
Nabi Nuh as mendapat julukan ulul ’azmi karena kesabarannya yang tinggi. Nuh as adalah rasul pertama yang diutus Allah untuk meluruskan akidah dan akhlak umat yang telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar. Nabi Nuh as digelari sebagai ulul ’azmi karena kesabarannya dalam berdakwah dan mendapat hinaan dari kaumnya. Nabi Nuh tanpa menyerah terus menerus mendakwahi keluarga, kerabat dan masyarakat umum, untuk kembali ke jalan yang lurus. Usianya hampir 1000 tahun dan jumlah umat yang mengikutinya tidak lebih dari 200 orang. Bahkan istri dan anaknya yang bernama Kan’an tidak mempercayai ajaran yang dibawanya dan menjadi musuhnya. Atas kehendak Allah umat nabi Nuh as yang membangkang ditenggelamkan dengan tsunami yang dahsyat dan semuanya mati, kecuali nabi Nuh as dan pengikutnya yang beriman.
4- Hud
Hud bin Abdullah bin Rabah bin Khulud dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 2450-2320 SM. Diutus untuk Kaum ‘Ad yang tinggal di Al-Ahqaf-Hadramut, Yaman. Beliau wafat di Hadramut sebelah timur, Yaman (kuburannya diziarahi sampai sekakarang). Nama beliau disebutkan sebanyak 7 kali dalam Al-Quran.
5- Shalih
Shalih bin Abid dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan beliau hidup pada tahun 2150-2080 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 2100 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Kaum Tsamud yang tinggal di Al-Hijir-Oman. Beliau wafat di Jaziratul Arab. Nama beliau disebutkan sebanyak 9 kali di dalam Al-Quran.
6- Ibrahim
Nabi Ibrahim bin Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Beliau diperkirakan hidup tahun 1997-1822 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Beliau tinggal diIraq. Beliau wafat di Al-Khalil,Hebron, Palestina. Nama beliau disebutkan sebanyak 69 kali dalam Al-Quran.
Nabi Ibrahim adalah nabi yang mendapat gelar ulil ’azmi karena kesabarannya yang tinggi. Dari mulai bayi nabi Ibrahim sudah diasingkan ke dalam gua disebabkan karena perintah Raja Namrudz untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir. Setelah dewasa, ia harus berhadapan dengan raja dan masyarakat penyembah berhala termasuk kedua orang tuanya yang pembuat berhala. Bahkan ia harus menerima siksaan yang pedih, yaitu dibakar hidup-hidup dan diusir dari kampung halamannya. Sudah hampir seratus tahun usia dan pernikahannya dengan Sarah, ia belum dikaruniai anak hingga istrinya meminta ia menikahi seorang budak berkulit hitam bernama Hajar untuk dijadikan istri. Akhirnya Hajar dapat melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk melepas istri dan anaknya yang baru lahir dan sangat dicintainya itu ke tanah gersang di Makkah. Karena kesabaran dan kepatuhannya, perintah itu dilaksanakan. Namun, perintah lebih berat diterima Ibrahim, yaitu harus mengorbankan Ismail yang baru meningkat remaja. Hal ini pun beliau laksanakan, tapi Allah akhirnya menggantikannya dengan seekor domba. selain itu ujian nabi Ibrahim as yang lain adalah membangun Ka’bah, dan menghadapi Raja Namrudz yang zalim.
7. Luth
Luth binHarandari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1950-1870 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Kaum Luth yang tinggal di negeri Sadum, Syam, Palestina. Beliau meninggal dunia di Desa Shafrah di Syam, Palestina dan meninggalkan 2 anak perempuan. Nama beliau disebutkan sebanyak 27 kali dalam Al-Quran.
8- Ismail
Nabi Ismail bin Ibrahim Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1911-1774 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1850 SM. Beliau tinggal di Makkah dengan kabilah Amaliq dari Yaman. Beliau meniggal dunia di Mekkah. Meninggalkan 12 anak. Nama beliau disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Quran
9- Ishaq
Ishaq Ibrahim Azar bin Nahur dari keturunan Sam bin Nuh. Diperkirakan hidup pada tahun 1897-1717 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1800 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Kan’anniyun di wilayah Al-Khalil Palestina. Beliau meninggal di Al-Khalil Hebron Palestina. Memiliki 2 anak. Nama beliau disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 17 kali
10.Ya’qub
Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1837-1690 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1750 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Syam. Beliau wafat di Alkhalil Hebron Palestina. Punya 12 anak. Nama beliau disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 16 kali.
11. Yusuf
Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1745-1635 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1715 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan Heksos di Mesir. Beliau wafat di Nablus Palestina. Punya dua anak laki laki dan satu perempuan. Nama beliau disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran
12. Syu’aib
Syu’aib dari keturunan Madyan bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1600-1490 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1550 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada ahli Madyan dan Penduduk Aikah Madyan. Beliau wafat di Madyan. Nama beliau disebutkan sebanyak 11 kali di dalam Al-Quran.
13. Ayyub
Ayyub dari keturunan Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1540-1420 SM. Dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1500 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Orang-orang Amoria di Huran, Syam, Palestina. Beliau wafat di Huran di Syam. Punya 26 anak. Disebutkan sebanyak 4 kali di dalam Al-Quran.
14. Zulkifli
Zulkifli dari keturunan Ishaq bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 1500-1425 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1460 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada orang-orang Amoria di Damaskus. Beliau wafat di Damaskus Syiria. Punya 2 anak. Disebutkan sebanyak 1 kali di dalam Al-Quran
15. Musa
Musa bin Imran dri keturunan Ya’qub bin Ishak. Diperkirakan hidup pada tahun 1527-1408 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1450 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Firaun Mesir dan Bani Israil di Mesir. Beliau wafat di Tanah Tih. Punya 2 anak.
Nabi Musa as adalah nabi yang paling banyak namanya disebutkan dalam al-Qur’an yaitu sebanyak 136 kali. Beliau termasuk nabi yang mendapat gelar ulul ’azmi karena kesabarannya yang tinggi dalam menghadapi dan berda’wah kepada Firaun. Selain itu, dia juga nabi yang sabar dalam memimpin kaumnya yang selalu membangkang. Ketika Musa as akan menerima wahyu di Bukit Sinai, pengikutnya yang dipimpin Samiri menyeleweng dengan menyembah berhala emas anak sapi. Harun as yang ditugasi mengganti tugas Musa as, tidak sanggup untuk menghalangi niat mereka, bahkan ia diancam hendak dibunuh. Dengan kesabaran nabi Musa yang hebat tapi beliau pernah tidak bersabar ketika berguru kepada nabi Khidir as .
16. Harun
Harun bin Imran dri keturunan Ya’qub bin Ishak. Diperkirakan hidup pada tahun 1531-1408 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1450 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Firaun Mesir dan Bani Israil Mesir. dan wafat di Tanah Tih. Disebutkan sebanyak 19 kali di dalam Al-Quran.
17. Daud
Daud dari keturunan Yahudza bin Ya’qub. Diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1010 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Punya 1 anak dan wafat di Baitul Maqdis, Palestina. Disebutkan sebanyak 16 kali di dalam Al-Quran.
18. Sulaiman
Sulaiman bin Daud dari keturunan Yahudza bin Ya’qub. Diperkirakan hidup pada tahun 989-931 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Beliau wafat di Rahbaam Baitul Maqdis, Palestina. Disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al-Quran.
19. Ilyas
Ilyas bin Yasin bin Fanhas dari keturunan Harun bin Imran. Diperkirakan hidup pada tahun 910-850 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 870 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Orang-orang Phiniq di Ba’labak di Syam. Beliau tidak wafat tapi diangkat ke sisi Allah. Disebutkan sebanyak 2 kali di dalam Al-Quran.
20. Ilyasa’
Ilyasa’ bin Akhtub dari keturunan Ya’qub. Diperkirakan hidup pada tahun 885-795 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 830 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan orang-orang Amoria di Panyas, Syam. Beliau wafat di Palestina. Disebutkan sebanyak 2 kali di dalam Al-Quran.
21. Yunus
Yunus bin Matta dari keturunan Bunyamin bin Ya’qub. Diperkirakan hidup pada tahun 820-750 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada orang Asyiria di Ninawa diIraq. Beliau wafat di Ninawa diIraq. Disebutkan sebanyak 6 kali di dalam Al-Quran.
22. Zakaria
Zakaria dari keturunan Sulaiman bin Daud. Diperkirakan hidup pada tahun 91-31 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 2 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestin. Beliau wafat di Syam. Punya satu orang anak. Disebutkan sebanyak 8 kali di dalam Al-Quran.
23. Yahya
Yahya bin Zakaria dari keturunan Sulaiman bin Daud. Diperkirakan hidup pada tahun 1SM – 31M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 28M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestin. Wafat di Damaskus Syiria. Disebut dalam alquran 3 kali
24. Isa
Isa bin Maryam binti Imran dari keturunan Sulaiman bin Daud. Diperkirakan hidup pada tahun 1SM-32M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 29M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestin. Beliau juga tidak wafat melainkan diangkat ke sisi Allah. Nabi Isa as Disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran.
Beliau adalah nabi yang mendapat julukan ulul ’azmi karena banyak memiliki kesabaran dan keteguhan dalam menyampaikan ajaran Allah. Terutama, ketika nabi Isa as sabar menerima cobaan sebagai seorang yang miskin, pengkhianatan muridnya, menghadapi fitnah, hendak diusir dan dibunuh oleh kaum Bani Israil. Kehidupan nabi Isa as menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam beribadah.
25.Muhammad
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib dari keturunan Ismail bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 571M-632M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 610M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada seluruh manusia dan alam semesta. Tinggal di Mekkah dan Madinah. Wafat di Madinah. Meninggalkan 7 orang anak. Rasulallah saw namanya disebutkan hanya 5 kali di dalam Al-Quran.
Beliau mendapat julukan ulul ’azmi karena sejak kecil sampai dewasa, Rasulallah saw selalu mengalami masa-masa sulit. Pada usia 6 tahun dia sudah menjadi yatim piatu. Setelah dewasa ia harus membantu meringankan beban paman yang merawatnya sejak kecil. Tantangan terberat yang dihadapi adalah setelah diangkatnya menjadi seorang rasul. Penentangan bukan saja dari orang lain, tetapi juga dari Abu Lahab, pamannya sendiri. Rasulallah saw juga harus ikut menderita tatkala Bani Hasyim diboikot (diasingkan) di sebuah lembah dikarenakan dakwahnya. Dan masih banyak lagi kesabaran dan masa masa sulit yang dihadapi beliau dari mulai lahir sampai beliau wafat.
Demikian ringkasan sejarah 25 nabi dan rasul (lihat Qashash al-Anbiya’ oleh ibnu Katsir, tahqiq Dr. as-Sayyid al-Jumaili dan kitab Atlas al-Quran oleh Syauqi Abu Khalil). Semoga bisa menjadi rujukan yang bermanfaat dan kebenaranya kita kembalikan kepada Allah.
Sumber: Akidah Menurut Ajaran Nabi
Oleh: Hasan Husen Assagaf
Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Senin, 06 Juni 2011
Hajar Aswad termasuk Batu Dari Surga
Hasan Husen AssagafSekurang kurangnya ada lima tempat yang paling dicari jamaah haji atau umrah usai tawaf di Ka’bah. Yakni Multazam, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, area antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, dan Hajar Aswad.
Hajar Aswad merupakan area sempit dan tempat permulaan thoaf. Sebelum thoaf kita harus memberi salam (disunahkan mengusap atau menciumnya), karena itu diperebutkan jutaan orang saat berhaji atau umrah hanya sekedar untuk menciumnya. Mencium atau mengusap Hajar Aswad di musim haji penuh perjuangan yang dahsyat. Kesombongan dan kekuatan sama sekali tak bisa diandalkan. Hanya pertolongan dan taufik dari Allah membuat seseorang dapat menikmati kemurahan Nya.

Sekarang, kenapa batu Hajar Aswad itu dibesar besarkan dan dicium sedangkan ia hanya sebuah batu?
Pertanyaan ini sebetulnya sudah pernah dilontarkan khalifah kedua Umar bin Khattab ra disaati mencium Hajar Aswad. Beliau berkata kepadanya “Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak mendatangkan bahaya dan memberi manfaat, kalaulah bukan karena aku pernah melihat Rasullah saw menciummu niscaya aku tidak akan memciummu” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Memuliakan Hajar Aswad bukan adat orang orang Jahiliyah. Hajar Aswad berada ribuan tahun sebelum orang orang Jahiliyah menduduki Makkah. Hajar Aswad berada di sudut Ka’bah seumur dengan umur Ka’bah itu sendiri. Disaat Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah tinggal satu bagian yang belum terpasang yaitu Hajar Aswad. Lalu nabi Ismail pergi mencari suatu. Nabi Ibrahim as berkata “Carilah sebuah batu seperti yang aku perintahkan”. Nabi Ismail mencarinya dan tidak mendapatkanya. Ia kemudian kembali ke Ka’bah, dan ia melihat di tempat tersebut telah terpasang Hajar Aswad. Maka ia berkata “Ayaku, siapa yang membawa batu ini kepadamu?’ Ibrahim berkata “yang membawanya kepadaku adalah Jibril dari langit (surga).
Sesungguhnya Hajar Aswad dan Maqam adalah dua buah batu diantara batu batu Yaqut (batu mulia) diambil dari surga, andaikan Allah tidak menghilangkan cahayanya niscaya sinarnya akan menerangi antara timur dan barat. (H.R. Ahmad )
Kita adalah umat nabi Muhammad saw yang mengikuti segala perintahnya tanpa pamrih. Apa yang dilakukan Nabi saw maka lakukanlah dan apa yang dilarang Nabi saw jauhkanlah. Mencium atau mengusap Hajar Aswad saat thoaf adalah anjuran Nabi saw karena beliau selalu menyentuhnya dengan tangannya yang lembut atau menciumnya dengan bibirnya yang mulia.
Demi Allah, Hajar Aswad akan dibangkitkan pada hari kiamat, Allah memberikanya mata dan lidah kepadanya agar dapat melihat dan berbicara dan memberikan persaksian terhadap orang yang menyentuhnya dengan benar dan ikhlas (Tirmidzi)
Itulah kemuliaan dan keluhuran Hajar Aswad disisi Allah dan Nabi Nya. Maka tidak heran jika Abdullah putra Umar bin Khattab ra selalu menyentuh Hajar Aswad kemudian mecium tanganya dan berkata “aku tak pernah meninggalkan perbuatan ini semenjak aku melihat Rasulallah saw menciumnya. (HR Muslim)
Jelasnya, ada beberapa ibadah yang kita tidak perlu mencari cari apa hikmahnya dari ibadah itu. Seperti apa hikmahnya thoaf? Apa hikmahnya sa’i? Apa hikmahnya melempar batu Jamarat? Apa hikmahnya wukuf di Arafah? Apa hikmahnya mencium Hajar Aswad? Apa hikmahnya itu dan apa hikmahnya ini. Ada beberapa ibadah yang kita tidak perlu tahu apa hikmahnya, karena disitu tersimpan rahasia Allah yang tidak bisa diketahu hambaNya. Maka apa yang diperintahkan Allah lakukanlah dengan baik dan apa yang dilarangnya jauhkanlah sejauh jauhnya.
Semoga Allah memberikan kepada kita jalan yang lurus dan memudahkan kita bisa sampai ke tempat yang mulia Makkah agar bisa mecium Hajar Aswad sebagaimana Rasulallah saw menciumya dengan bibirnya yang lembut. Amin
Wallahua’lam.
SEKEDAR INFO:
Ilmuwan Minta Sampel Batu Untuk Buktikan Hajar Aswad Dari Surga
Selasa, 18-11-2008 | 20:29:12 WIB
sumber:muslim daily
Ilmuwan Muslim asal Mesir, Prof. Dr. Zaghlul An-Najjar, meminta dunia Islam untuk mengambil sampel satu atau dua micro Hajar Aswad untuk penelitian dan pembuktian hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa batu Ka’bah itu tidak berasal dari bumi, tapi berasal dari surga.
Dalam seminar yang diselenggarakan Ikatan Wartawan, Senin (17/11), dengan tema Mukjizat Ilmiah dalam Haji itu, An-Najjar meyakinkan dunia Islam bahwa pengambilan sampel itu tak akan merusak Hajar Aswad.
Lebih jauh ilmuwan Mesir itu menegaskan, Hajar Aswad itu terdiri dari potongan-potongan kecil yang tertanam di dalam zat yang merekat. An-Najjar juga meginsyaratkan bahwa Lembaga Geografi Inggris pernah mengutus seorang perwira tinggi untuk mencermati Hajar Aswad.
Lalu sang perwira itu terkesan dengan perlakuan baik dari para jamaah haji yang mengantarkannya ke Masjid Rasulullah, kemudian ia pergi ke Makkah karena dirinya ditugasi untuk mencermati Hajar Asad. Sang perwira mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menyaksikan pemandangan dalam hidupnya yang begitu menggoncangkannya amat dalam kecuali pemandangan Ka’bah di kemuliaan kota Makkah.
An-Njjar juga berbicara tentang Makkah Mukarramah yang menurutnya merupakan lokasi paling mulia di muka bumi. Paslnya, sambung dia, sebagaimana Allah telah memberikan kelebihan kepada beberapa nabi dan rasul, Allah juga telah memberikan kelebihan atas bumi yaitu Makkah kemudian Madinah dan ketiganya Baitul Maqdis.
Terkait ibadah haji, profesor geologi itu memaparkan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah dalam haji di mana dijelaskan bahwa haji akan mengingatkan anak manusia kepada akhir ajalnya. Selain itu, Thawwaf juga menggambarkan keharmonisan gerakan bumi dengan pergerakan setiap planet di langit menuju satu arah.
Terkait bangunan Ka’bah, An-Najjar menjelaskan bahwa ketika Ka’bah dibangun, saat itu belum ada peralatan-peralatan pengukuran. “Siapakah yang secara detil dan tepat dalam menentukan (posisi Ka’bah) ini kecuali Allah,” ujar dia.
Adapun terkait Sumur Zamzam, An-Najjar menjelaskan bahwa sumur itu merupakan bebatuan panas yang bermetamorfosis yang tidak beracun. Zamzam juga sumur yang mengalirkan air selama lebih dari 4.000 tahun. Lamanya umur aliran air zamzam itu belum dapat diketahui kecuali setelah membuat terowongan di sekitar Makkah yang ketika itu ditemukan garis-garis seperti mie yang sangat detil, lalu mereka dapat mengetahui sumber air itu.
An-Najjar juga mengungkapkan dalil sumber air itu dari hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa “Itu merupakan lubang terowongan Jibril di Aqobah dan siraman Allah untuk Ismail”.
An-Najjar juga menjelaskan Kota Makkah sebagai Ummul Qura seperti tertera dalam surat Al-An’am ayat 92, di mana bukti-bukti ilmiah menyebutkan bahwa Makkah terletak di tengah-tengah bola dunia. (fkr/wn)
Apakah air Zam Zam bisa dijadikan obat?
Oleh: Hasan Husen AssagafAllah berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 30:
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”
SETELAH diciptakan Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuknya, Allah menciptakan anak cucunya dari setetes air yang terpancar keluar dari tulang sulbi yang jika ditimbang beratnya hanya beberapa gram. Di dalam air itu terkandung jutaan mahluk hidup (sperma), jika seandainya semuanya dengan seizin Allah menjadi manusia maka cukup dari setetes air bisa menjadi penduduk satu negara. Tapi dari kekusaaan Allah, yang jadi dari jutaan makhuk itu hanya satu yang paling unggul.
Zaman dulu, air merupakan sumber penghidupan yang sangat berharga dan mempunyai peran yang penting sekali. Di mana ada air disitu ada penghidupan. Tidak ada air berarti tidak ada penghidupan. Orang-orang Baduwi suka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena mencari air. Tak heran, kadang kadang terjadi peperangan besar antara dua kabilah hanya karena air.
Menurut Fatul Bari (Bab: kitab Al-Anbiya’), bahwa Kabilah Jurhun yang hidup di Jaziraul Arab senang sekali berhijrah. Tapi setelah melihat ada tanda wujudnya air Zam Zam di kota Makkah, mereka segera membuat perkampungan dan mendirikan kemah-kemah di sekitarnya. Tentu yang pertama kali menemukan Zam Zam adalah seorang wanita yang tak punya tempat bernaung, tak berdaya, namun penuh iman, ikhlas, dan ta’at, dangan harapan agar kelak menjadi symbol keimanan dimasa mendatang. Dialah siti Hajar, istri Ibrahim as, Disaat akan ditinggalkan suaminya, ia menyeret jubbahnya seraya berkata: “Kemanakah engkau hendak pergi?, dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada penghuni? Apakah Allah yang menyuruhmu?” Nabi Ibrahim as menjawab: “Ya”. Hajar berkata: “Jika demikian pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Setelah perbekalan Hajar habis ia tinggalkan anaknya di sebuah pohon yang rindang dan berusaha (sa’i) mencari air. Ia berusaha sekuat tenaga naik ke bukit Shofa. Di atas bukit ia melihat kekiri dan kekanan. Harapanya penuh melihat kafilah datang dan bisa membantunya. Kemudia ia berlari lagi ke bukit Marwah. Di sana ia melakukan sama seperti ia melakukannya di bukit Shafa. Demikian seterusnya tujuh kali ia berlari bulak balik dari Shofa ke Marwah.Ternyata ia tidak memperoleh air. Air kehidupan yang penuh dengan kenikmatan dan keberkahan itu justru muncrat deras dari pasir gersang yang dikorek-korek tumit si bayi. Maka keluarlah air Zam Zam.
Subhanallah, dari pasir gersang itu keluarlah air. Mulai saat itu Makkah yang dulu merupakan kota tandus, gersang, tak ada pepohonan yang tumbuh, dan tidak ada penghuni yang hidup, berkat nabi Ismail as, datok nabi kita Muhammad saw, menjadi kota yang subur, makmur dan terlimpah didalamnya aneka ragam dari keberkahan Allah. Semua ini karena air Zam zam yang keluar deras dari tumit nabi Ismail.

Mulut Sumur Zam Zam di tahun 1320H (1903M)
Maka, terjadilah setelah itu penghidupan di Makkah, kabilah Jurhum mulai berdatangan ke sana untuk menetap dan mendudukinya. Campur baur pun antara mereka dan keluarga nabi Ismalil tak bisa dielakan. Dari sana, terbentuklah masyarakat baru dan keluarlah di kemudian hari, bangsa Quraisy dan bani Hasyim. Itulah sebahagian dari keunggulan dan keistimewaan air Zam Zam.
Hari berganti hari dan zaman berganti zaman, sehingga datanglah hujan lebat dan banjir dahsyat yang membuat telaga Zam Zam lenyap dan tidak ada tanda-tanda untuk mengetahuinya lagi. Ini menurut riwayat Yaqut Al-Hamawi. Adapun menurut pendapat yang benar bahwa sumur Zam Zam ditimbun dan dihilangkan tanda-tandanya oleh kabilah Jurhum disaat mereka akan meninggalkan kota Makkah.Telaga Zam Zam terus lenyap dari permukaan bumi Makkah dan tidak diketahui tempatnya, hingga Abdul Muttalib, kakek Nabi Muhammad saw, memangku jabatan sebagai pemberi makan dan minum jama’ah haji. Dengan ru’ya shadiqah (impian yang benar) ia akhirnya ditunjukan Allah tempat sumur Zam Zam yang tidak pernah kering airnya dan tidak pernah surut. Sumur ini dinamakan Zam Zam karena airnya yang sangat banyak dan Zam Zam dalam bahasa Arab berarti banyak dan berkumpul. Seandainya siti Hajar disaat menemukannya tidak mengumpulkan pasir di sekitar tempat air memamcar dan tidak menciduknya maka air Zam Zam akan mengalir terus sehingga bisa menenggelamkan semuanya.
Hikmah dan astar:
1- Dari salah satu bukti yang menunjukan keutamaan Zam Zam adalah saat malaikat Jibril as membelah dada Rasulallah saw, ia membasuhnya hati beliau dengan Zam Zam. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Dhar Al-Ghifari bahwa Rasulallah saw bersabda: “ Atap rumahku dibuka saat aku berada di Makkah dan Jibril as turun dan membelah dadaku kemudian ia membasuhnya dengan Zam Zam. Lalu ia membawa bejana besar terbuat dari emas berisi hikmah dan keimanan dan menuangkannya ke dalam dadaku. Kemudian ia menutupnya. Lalu ia memegang tanganku dan membawaku ke langit”
2- Mujahid berkata: “Aku tidak pernah melihat Ibnu Abbas ra memberi makan seseorang kecuali ia juga memberikan air Zam Zam untuk diminum. Ia juga mengatakan setiap kali tamu datang berkunjung Ibnu Abbas akan menjamunya dengan air Zam Zam.
3- Diantara keistimewaan air Zam Zam adalah bahwa Rasulallah saw menjadikan siapa yang meminumnya sampai kenyang akan dibersihkan hatinya dari sifat munafik
4- Diriwayatkan dari Jabir ra bahwa Rasulallah saw meminta seember air Zam Zam, lalu beliau meminumnya dan memakainya untuk berwudhu’.
5- Dalam kitab Shahih diriwatkan; saat Abu Dzar telah memeluk Islam, ia berkata: “Ya Rasulallah saya berada di sini selama 30 hari”, beliau bersabda: “Siapa yang memberimu makan?”, ia berkata: “Aku tidak mempunyai makanan apapun jua hanya air Zam Zam, tapi berat badanku bertambah sehingga aku dapat merasakan lipatan lemak pada perutku, dan aku tidak merasa lapar sama sekali”. Lantas beliau bersabda: “Zam Zam diberkahi dan mengandung makanan bergizi”.
Ada puluhan kisah yang saya tidak bisa bawakan disini tentang hasiatnya air Zam Zam dan bagaimana orang yang menderita penyakit dimana dokter menyerah dan putus harapan terhadap kesembuhanya, tapi dengan seizin Allah mereka dapat diobati dengan air Zam Zam dan khasiyatnya yang tersembunyi. Sungguh Rasulallah saw telah bersabda “Didalamnya terdapat makanan bergizi dan dapat menyembuhkan penyakit”
Wallahua’alm
Hasan Husen Assagaf
Foto Dan Sejarah Ka’bah
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96.
Ka’bah adalah bangunan suci Muslimin yang terletak di kota Mekkah di dalam Masjidil Haram. ia merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah sholat bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.
Ka’bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter (Lihat foto berangka Ka’bah). Ka’bah disebut juga dengan nama Baitallah atau Baitul Atiq (rumah tua) yang dibangun dan dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah. Kalau kita membaca Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37 yang berbunyi “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”, kalau kita membaca ayat di atas, kita bisa mengetahui bawah Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim as menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka’bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim menginjakan kakinya di Makkah.
Ka’bah dari Dalam Kelambu Ka’bah
Pada masa Nabi saw berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali Hajar Aswad namun berkat hikmah Rasulallah perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Banjir di Ka’bah tahun 1941 Banjir di Ka’bah tahun 1941
Pada zaman Jahiliyyah sebelum diangkatnya Rasulallah saw menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, ka’bah penuh dikelilingi dengan patung patung yang merupakan Tuhan bangsa Arab padahal Nabi Ibrahim as yang merupakan nenek moyang bangsa Arab mengajarkan tidak boleh mempersekutukan Allah, tidak boleh menyembah Tuhan selain Allah yang Tunggal, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan diperanakkan. Setelah pembebasan kota Makkah, Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah.
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah (lihat foto kunci ka’bah) dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.
Konci Ka’bah berada di museum Istambul
Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as pondasi bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Rasulallah saw berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail (lihat foto) yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.
Pintu Ka’bah tahun 1941 Pmtu Ka’bah (Sekarang)
Rukun Yamani Batu fondasi Haram 852H
Karena agama islam masih baru dan baru saja dikenal, maka Nabi saw mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim”. Jadi kalau begitu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah. Makanya dalam bertoaf kita diharuskan mengelilingi Ka’bah dan Hijir Ismail. Hijir Ismail adalah tempat dimana Nabi Ismail as lahir dan diletakan di pangkuan ibunya Hajar.
Ketika masa Abdurahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan Ka’bah dibuat sebagaimana perkataan Nabi saw atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan pelontar (Manjaniq) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Rasulallah saw pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim as. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.
Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi saw. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan masalah khilafiyah oleh penguasa sesudah beliau dan bisa mengakibatkan bongkar pasang Ka’bah. Maka sampai sekarang ini bangunan Ka’bah tetap sesuai dengan renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang
Hajar Aswad
Hajar Aswad merupakan batu yang dalam agama Islam dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semangkin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Ka’bah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi saw. Karena beliau selalu menciumnya setiap saat bertoaf. Dan sunah ini diikuti para sahabat beliau dan Muslimin.
Hajar Aswad Hajar Aswad berikut kerangka
Pada awal tahun gajah, Abrahan Alasyram penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah atau Ethiopia, membangun gereja besar di Sana’a dan bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, memindahkan Hajar Asswad ke Sana’a agar mengikat bangsa Arab untuk melakukan Haji ke Sana’a. Abrahah kemudian mengeluarkan perintah ekspedisi penyerangan terhadap Mekkah, dipimpin olehnya dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Beberapa suku Arab menghadang pasukan Abrahah, tetapi pasukan gajah tidak dapat dikalahkan.
Begitu mereka berada di dekat Mekkah, Abrahah mengirim utusan yang mengatakan kepada penduduk kota Mekkah bahwa mereka tidak akan bertempur dengan mereka jika mereka tidak menghalangi penghancuran Ka’bah. Abdul Muthalib, kepala suku Quraisyi, mengatakan bahwa ia akan mempertahankan hak-hak miliknya, tetapi Allah akan mempertahankan rumah-Nya, Ka’bah, dan ia mundur ke luar kota dengan penduduk Mekkah lainnya. Hari berikutnya, ketika Abrahah bersiap untuk masuk ke dalam kota, terlihat burung-burung yang membawa batu-batu kecil dan melemparkannya ke pasukan Ethiopia; setiap orang yang terkena langsung terbunuh, mereka lari dengan panik dan Abrahah terbunuh dengan mengenaskan. Kejadian ini diabadikan Allah dalam surah Al-Fil
Makam Ibrahim
Makam Ibrahim Makam Ibrahim Hajar Aswad
Makam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana banyak orang berpendapat. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di saat beliau membangun Ka’bah bersama sama puteranya Nabi Ismail. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubbah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.
Multazam
Multazam
Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan. Maka disunahkan berdoa sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
Terakhir, saya sangat berharap semoga artikel “Ka’bah” ini bisa membawa mangfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah.
Walallahua’lam
Hasan Husen Assagaf
Rabu, 01 Juni 2011
Nur Muhammad oleh Imam al-Haddad yang masyhur dengan judul kitab"Sabilul Iddikar wal I'tibaar"

Posting kali ini aku hendak memperkenalkan ikhwah kepada karangan Imam al-Haddad yang masyhur dengan judul "Sabilul Iddikar wal I'tibaar". Satu karangan yang cukup bernilai. Karangan yang membicarakan dan memperjelaskan mengenai fasa-fasa kehidupan yang telah dan akan dilalui oleh seseorang insan bermula di alam arwah sejak dari penciptaan Nabi Adam a.s. hingga menuju kehidupan yang kekal abadi di Surga atau di neraka (moga-moga Allah jadikan kita sekalian dan ibu bapak kita dari kalangan ahli surga, aaaamiiin). Kitab ini telah diterjemahkan dalam Bahasa Melayu oleh almarhum Habib Ahmad Bin Semaith rhm. dengan judul "Peringatan Tentang Umur Insan" dalam edisi Rumi dan Jawi. Juga diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris oleh Dr. Mostafa al-Badawi (murid Habib Ahmad Masyhur al-Haddad rhm.) dengan judul "The Lives of Man". Semoga para ikhwah dapat membacanya,
serta mudah-mudahan ada manfaatnya untuk dapat menambah ilmu manfa'at, melembutkan hati dan memantapkan amalan. Kalau dapat carilah yang dalam bahasa asalnya dan mengajilah dengan guru-guru yang betul, kerana pada terjemahan Melayunya itu masih kedapatan sedikit kekeliruan atau kesilapan terjemah (mudah-mudahan Allah memberi ganjaran pahala setinggi-tingginya kepada almarhum Habib Ahmad BinSemait dan menghapuskan salah-silapnya dan menggantikannya dengan hasanah yang berlipat ganda), bagi terjemahan Inggeris aku tak berani nak komen sebab aku belum berkesempatan untuk mentelaahnya.
serta mudah-mudahan ada manfaatnya untuk dapat menambah ilmu manfa'at, melembutkan hati dan memantapkan amalan. Kalau dapat carilah yang dalam bahasa asalnya dan mengajilah dengan guru-guru yang betul, kerana pada terjemahan Melayunya itu masih kedapatan sedikit kekeliruan atau kesilapan terjemah (mudah-mudahan Allah memberi ganjaran pahala setinggi-tingginya kepada almarhum Habib Ahmad BinSemait dan menghapuskan salah-silapnya dan menggantikannya dengan hasanah yang berlipat ganda), bagi terjemahan Inggeris aku tak berani nak komen sebab aku belum berkesempatan untuk mentelaahnya.Di sini aku nak nukilkan sedikit tulisan Imam ini berhubung Nur Muhammad s.a.w., di mana dinyatakan pada halaman 16:-

Dan telah diriwayat bahawasanya Nabi Adam a.s. pernah mendengar Nur Junjungan Rasulullah s.a.w. bertasbih di tulang belakangnya (di sulbinya yakni pada ketika itu Nur Muhammad atau roh Junjungan Nabi s.a.w. berada dalam sulbi Nabi Adam a.s.) seperti bunyi kibasan burung. Maka tatkala Siti Hawa mengandungkan puteranya Nabi Syits alaihimas salam, nur itu berpindah kepada Siti Hawa, kemudian kepada Nabi Syits a.s. pula. Kemudian berterusan nur tersebut berpindah-pindah kepada sulbi-sulbi yang suci dan rahim-rahim yang cemerlang, sehingga lahir Junjungan Rasulullah s.a.w. daripada (pernikahan) kedua ibubapa baginda yang mulia. Tidaklah pernah terkena Junjungan Rasulullah s.a.w. akan sesuatu kekotoran jahiliyyah dan kekejiannya, walaupun ketika itu berlaku pada kalangan mereka (yakni kalangan umat-umat terdahulu) pernikahan-pernikahan yang dianggap batil, maka Allah telah mensucikan baginda daripadanya, sebagaimana disabdakan baginda 'alaihis sholatu was salam: "Aku dilahirkan dari pernikahan dan bukan dari perzinaan."
Sayyidina Ibnu 'Abbas r.'anhuma dalam mentafsirkan firman Allah ta`ala:
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَmenyatakan bahawa maksud ayat tersebut ialah berpindah-pindahnya (nur/ruh) Junjungan Nabi 'alaihis sholatu was salam daripada sulbi seorang nabi kepada nabi yang lain seperti Nabi Ismail, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Syits dan Nabi Adam 'alaihimus salam. Dalam hal ini (yakni dalam hal berpindah-pindahnya nur/roh Junjungan Nabi s.a.w. daripada sulbi seorang nabi kepada sulbi nabi yang lain) tidaklah ada khilaf padanya.
َ
Begitulah keterangan Imam al-Haddad rhm., untuk mengetahui dengan lebih lanjut berhubung kejadian, kewujudan dan kedudukan kita sewaktu bapa kita Nabi Adam a.s. dijadikan Allah, sila ikhwah telaah dan kaji akan karangan bermutu ini. Nescaya akan faham kalian bahawa hakikat kejadian kita bukanlah baru semalam diciptakan Allah dan bukanlah hanya terhenti di alam syahadah dunia ini semata-mata. Kehidupan duniawi dengan roh dan jasad ini adalah satu fasa kehidupan yang sedang kita jalani. Penghujung umur dunia ini adalah dengan memasuki gerbang barzakh atau alam kubur. Imam al-Haddad rhm. telah menyenaraikan fasa-fasa kehidupan atau fasa-fasa umur seseorang insan dengan jelas dan dalam bahasa yang mudah dimengertikan orang awam seperti kita, di mana beliau r.a. telah menyenaraikan 5 fasa umur manusia seperti berikut:-- kehidupan roh di alam arwah yang kesudahannya dengan dilahirkan ke alam dunia;
- kehidupan di dunia berkesudahan dengan memasuki alam barzakh;
- kehidupan di alam barzakh berkesudahan dengan dibangkitkan untuk hari Mahsyar;
- kehidupan Mahsyar berkesudahan dengan memasuki surga atau neraka;
- kehidupan akhirat yang kekal abadi, sama ada di surga atau di neraka.
اللهم صل و سلم على نور الأنوار
Dicatat oleh : Abu Muhammad
Cahaya Junjungan Kita Nabi Muhammad SAW
Hari Jum'at kita dianjurkan untuk memperbanyakkan sholawat dan salam kepada Junjungan Nabi s.a.w. Sholawat itu amalan yang amat penting dalam kehidupan seorang Muslim yang mengaku dirinya pengikut dan umat Rasul teragung ini. Para ulama dan shulaha` sentiasa memperingatkan kita untuk memperbanyak bersholawat kepada Rasululloh Junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Mereka yang memperbanyak sholawat akan memperoleh manfaat dan kelebihan yang besar dari Rabbul Jalil azza wa jalla. Sebuah nukilan tulisan Syaikh Zainuddin bin 'Abdul 'Aziz bin Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya "Irsyadul 'Ibaad ilaa Sabiilir Rasyaad". Syaikh Zainuddin ini adalah murid Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan beliau adalah ulama Syafi`i yang besar dan merupakan pengarang kitab "Fathul Mu`in" yang masyhur. Pada halaman 65 kitab tersebut beliau menulis:-
Dalam kitab "Syaraful Musthofa" bagi Abu Sa`id dinyatakan bahwa satu ketika Sayyidatina 'Aisyah r.'anha sedang menjahit di waktu sahur, jarumnya terjatuh dan lampu rumahnya padam. Kemudian Junjungan Nabi SAW masuk. kedalam rumahnya maka bercahayalah rumah tersebut dengan cahaya baginda s.a.w. sehingga Sayyidatina 'Aisyah r.'anha dapat mencari dan mendapatkan jarumnya yang jatuh tadi. Sayyidatina 'Aisyah r.'anha berkata: "Alangkah bersinarnya wajahmu, wahai Rasulallah." Junjungan Nabi s.a.w. bersabda: "Binasalah bagi siapa yang tidak dapat melihatku." Sayyidatina 'Aisyah r.'anha bertanya: "Siapa yang tidak dapat melihatmu?" Junjungan Nabi SAW menjawab: "Orang bakhil." Sayyidatina 'Aisyah r.'anha bertanya lagi: "Siapakah orang bakhil?" Junjungan Nabi s.a.w. menjawab: "Orang yang tidak bersholawat kepadaku apabila mendengar namaku."
Kisah yang serupa juga disebut oleh Kiyai Agung dalam "Nafahatul Miskiyyah" yang diterjemah oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi dengan judul "Hembusan Kasturi", di mana pada halaman 20 dinyatakan:-Telah diriwayatkan daripada Sitti 'Aishah bahwa ia telah berkata: "Sedang aku menjahit baju pada waktu sahur (suboh sebelum fajar) maka jatuhlah jarum dari tanganku tiba-tiba kebetulan lampu padam, lalu masuk Rasulullah s.a.w. kepadaku, maka aku telah dapat memungut jarum itu dari sinar cahaya wajahnya, lalu aku berkata: "Hai Rasulullah, alangkah bercahaya wajahmu," dan seterusnya aku bertanya: "Siapakah yang tidak akan melihatmu pada Hari Kiamat?" Jawab Rasulullah: "Orang yang bakhil ." Aku bertanya lagi: "Siapakah orang yang bakhil itu?" Jawab Rasulullah: "Alladzi dzukirtu 'indahu fa lam yushalli 'alayya" ertinya "Dialah orang yang ketika disebut namaku di sisinya, ia tidak mengucapkan sholawat kepadaku."
Maka sangatlah beruntung, bagi siapa saja yang memandang dan mengambil manfa'at dengan cahaya Junjungan Nabi s.a.w. Siti 'Aisyah sebagaimana segala sahabat semuanya memandang dan melihat cahaya nubuwwah pada diri Junjungan s.a.w. dan mereka mendapat manfaat bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi dalam mencapai ridlo Ilahi. Sedangkan Abu Lahab yang dahulunya setiap hari melihat dan memandang Junjungan s.a.w. telah gagal melihat dan memanfaatkan cahaya tersebut krn Abu Lahab hanya melihat Muhammad si anak yatim dan bukannya Muhammad Rasulullah s.a.w. Lalu bagaimana pandangan kita terhadap Junjungan Nabi s.a.w.? Mudah-mudahan kita memandang baginda sebagaimana para sahabat memandang Beliau SAW, amiin.
اللهم صل و سلم و بارك عليه و على آله
وَصَحْبِهِ
Allahumma sholli wa sallim 'alaihi wa 'ala alihi wa ashhabih.Sholawat gubahan al-Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad adalah satu sholawat yg menyebut penciptaan Junjungan Nabi SAW dari nur Alloh
Habib Ahmad Masyhur
Baqiyyatus Salaf wa Sayyidul Khalaf, Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad adalah seorang ulama, wali dan da`i dari keturunan Habib 'Umar bin 'Alawi al-Haddad yang merupakan adik bongsu kepada Habib Abdullah al-Haddad. Beliau dilahirkan sekitar tahun 1325H di Qaydun oleh seorang hababah sholehah lagi hafaz al-Quran iaitu Hababah Shofiyyah binti Thohir bin 'Umar al-Haddad.Habib Ahmad Masyhur telah mendapat didikan dan asuhan agama sedari kecil lagi. Beliau menimba ilmunya dari ibunya dan lain-lain ulama termasuklah belajar kepada pendiri Rubath Qaydun dua bersaudara iaitu Habib 'Abdullah bin Thohir al-Haddad dan saudaranya Habib 'Alwi bin Thohir al-Haddad. Di bawah dua ulama ini, Habib Ahmad mendalami lagi pengetahuan agamanya dalam bidang fiqh, tawhid, tasawwuf, tafsir dan hadis. Dalam usia muda, beliau telah hafal al-Quran dan menguasai berbagai lapangan ilmu agama sehingga diberi kepercayaan untuk mengajar pula di rubath tersebut. Habib Ahmad yang tidak pernah jemu menuntut ilmu turut menangguk ilmu di Rubath Tarim dengan para ulama yang mengajar di sana.
Tatkala berusia awal 20-an, Habib Ahmad telah dibawa oleh gurunya Habib 'Alwi bin Thohir al-Haddad ke Indonesia. Di sana selain berdakwah, beliau meneruskan pengajian dengan ramai lagi ulama di sana, antaranya dengan Habib 'Abdullah bin Muhsin al-'Aththas, Habib 'Alwi bin Muhammad al-Haddad dan Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar.
Sekitar tahun 1350H, Habib Ahmad berhijrah ke Afrika Timur untuk berdakwah dan menyebar risalah nendanya yang mulia, Junjungan Nabi s.a.w. Beliau menetap di Mombasa, Kenya, dan dari situlah beliau melancarkan dakwahnya ke seluruh pelosok benua Afrika. Pada tahun 1375H, beliau berhijrah pula ke Kampala, Uganda dan menetap di situ sekitar 13 tahun. Habib Ahmad dengan sungguh-sungguh dan gigih telah menghabiskan masanya untuk berdakwah menyeru umat kepada agama yang diredhai sehingga dikatakan sepanjang beliau berada di Afrika, puluhan ribu penduduk di sana, bahkan setengah mengatakan jumlah tersebut menjangkau ratusan ribu, yang memeluk agama Islam ditangannya. Di samping itu beliau turut mengorbankan harta bendanya untuk agama dengan membangunkan banyak masjid dan madrasah dalam rangka dakwahnya di sana.
Hari Rabu, 14 Rajab 1416H bersamaan 6 Disember 1995M, Habib Ahmad telah dipanggil kembali ke rahmatUllah di Jeddah. Setelah disembahyangkan di Jeddah dengan diimamkan oleh almarhum Habib Dr. Muhammad bin 'Alawi al-Maliki al-Hasani dengan kehadiran Habib 'Abdul Qadir as-Saqqaf, jenazahnya yang mulia telah dibawa ke Makkah dan disholatkan sekali lagi di hadapan Ka'bah al-Musyarrafah sebelum dimakamkan di Jannatul Ma'la. Selain meninggalkan ribuan murid, Habib Ahmad turut meninggalkan beberapa karangan antaranya:
- Miftahul Jannah;
- Majmu` Fatawa;
- Syarh Nadzam Sa`id bin Nabhan;
- ad-Durratun Nafi`ah; dan
- as-Sabhatuts Tsaminah.
Ya Alloh, Tuhan sumber cahaya alam semesta/langit bumi;Limpahkan sholawat kepada Junjungan yang Engkau cipta;
Dari nur milikMu ciptaan indah tiada tara;
Dan ampunilah daku serta sinarilah hatiku yang alpa;
Dengan makrifatMu terang bercahaya;
Juga dengan makrifatnya akan diriMu yang Maha Mulia ;
Kepada keluarga serta sahabat baginda limpahkanlah sebagaimana;
Limpahan sholawat dan salam sejahtera, Amiin
Penciptaan Agung
Imam 'Abdur Rahman bin 'Ali yang terkenal dengan nama Imam Ibnul Jawzi ulama besar bermazhab Hanbali yang dilahirkan pada tahun 509/510H di Baghdad. Beliau adalah pengarang dan daie yang terkenal yang banyak menyedarkan umat serta ramai yang memeluk Islam di tangannya. Beliau adalah guru kepada Ibnu Qudamah al-Maqdisy yang masyhur itu.Tersebutlah dalam karya beliau yang berjodol "al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w." akan kisah penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. yakni penciptaan benih asal jasad baginda s.a.w. Kisahnya adalah sebagai berikut:-عن كعب الأحبار قال: لما أراد الله تعالى أن يخلق محمداً صلى الله عليه وسلم أمر جبريل عليه السلام أن يأتيه فأتاه بالقبضة البيضاء التي هي موضع قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعجنت بماء التَّسْنيم، ثم غمست في أنهار الجنة، وطيف بها في السموات والأرض، فعرفت الملائكة محمداً وفَضْله قبل أن تعرف آدم، ثم كان نور محمد صلى الله عليه وسلم يُرى في غُرَّة جبهة آدم. وقيل له: يا آدم هذا سيد ولدك من الأنبياء والمرسلين.
فلما حملت حواء بشيت انتقل عن آدم إلى حواء، وكانت تلد في كل بطن ولدين إلا شيتاً، فإنها ولدته وحده، كرامة لمحمد صلى الله عليه وسلم. ثم لم يزل ينتقل من طاهر إلى طاهر إلى أن ولد صلى الله عليه وسلم.
Begitulah keistimewaan penciptaan Junjungan Nabi s.a.w., sama ada penciptaan roh baginda yang agung, juga penciptaan asal benih bagi jasad baginda yang mulia lagi suci. Patutlah peluh baginda merupakan wangian yang teristimewa lagi penuh keberkatan karena benih bagi jasad baginda telah diuli dan diadun serta dicelup dengan air Tasniim dan sungai-sungai syurga. Imam Muslim meriwayatkan bahawa Ummu Sulaim telah mengumpul titisan peluh Junjungan Nabi s.a.w. demi memperolehi keberkatan baginda s.a.w. Allahu .. Allah, mari kita banyakkan ucapan sholawat dan salam ke atas Junjungan Nabi s.a.w. kerana ucapan tersebut yang berhubung kait dengan Junjungan Nabi s.a.w. pun turut menghasilkan keberkatan dan keharuman yang istimewa yang boleh dihidu oleh sekalian makhluk selain jin dan manusia.Daripada Ka'ab al-Ahbar: " Tatkala Allah ta'ala berkehendak untuk menciptakan Nabi Muhammad s.a.w., Dia memerintahkan Jibril a.s. untuk membawakan segenggam tanah putih yang merupakan tanah tempat Junjungan Nabi s.a.w. dimakamkan nanti. Maka diulilah tanah tersebut dengan air Tasniim (air syurga) lalu dicelupkan ke dalam sungai-sungai surga. Setelah itu, dibawakan dia berkeliling ke serata langit dan bumi. Para malaikat pun mengenali Junjungan Nabi s.a.w. dan keutamaan baginda sebelum mereka mengenali Nabi Adam a.s. Ketika nur Junjungan Nabi s.a.w. kelihatan di kening dahi Nabi Adam a.s., dikatakan kepadanya: "Wahai Adam, inilah sayyid (penghulu) keturunanmu dari para anbiya' dan mursalin.
Tatkala Siti Hawa mengandungkan Nabi Syits berpindahlah Nur Muhammad tersebut kepada Siti Hawa. Siti Hawa yang biasanya melahirkan anak kembar setiap kali hamil, tetapi pada hamilnya ini dia hanya melahirkan seorang anak sahaja iaitu Nabi Syits kerana kemuliaan Junjungan Nabi s.a.w. Maka sentiasalah berpindah-pindah Nur Muhammad daripada seorang yang suci kepada orang suci yang lain sehingga baginda dilahirkan.
نور القلوب يزيد عند صلاتنا
للهاشمي فنوره لا ينجلي
فضياؤنا من ضوء نور محمد
صلوا على ذاك النبي الأفضل
للهاشمي فنوره لا ينجلي
فضياؤنا من ضوء نور محمد
صلوا على ذاك النبي الأفضل
Cahaya hati bertambah ia tatkala kita sholawatkan Nabi
Nabi keturunan Hasyim cahayanya tak akan sirna sekali-kali
Maka sinar cahaya kita adalah daripada sinar cahaya Nabi
Bersholawatlah atas nabi yang terutama itulah Junjungan Nabi
Nabi keturunan Hasyim cahayanya tak akan sirna sekali-kali
Maka sinar cahaya kita adalah daripada sinar cahaya Nabi
Bersholawatlah atas nabi yang terutama itulah Junjungan Nabi
اللهم صل على النبي الهاشمي سيدنا محمد
وعلى اله و صحبه و سلم تسليما
Nur Muhammad SAW
Hadits Jabir berhubung Nur Muhammad s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam 'Abdur Razzaq terus menjadi pertikaian. Sebahagian mentsabitkannya, manakala sebahagian lagi menolaknya dengan alasan ianya tidak dijumpai termaktub dalam Musannaf beliau. Sebahagian menjadikan ketakwujudan atau mungkin ketakjumpaan hadits tersebut dalam Musannaf sebagai alasan untuk menolak dan membid'ahsesatkan konsep Nur Muhammad. Manakala sebahagian lagi yang menolak tsabitnya hadits Jabir tersebut, tidak pula menolak konsep Nur Muhammad, cuma menolak pentsabitan hadits tersebut. Walau apa pun, wujudnya perbezaan pendapat ini jelas menunjukkan bahawa perkara ini termasuk dalam perkara khilafiyyah yang berlaku di kalangan ulama. Maka sewajarnya kita menjaga adab dalam perkara ini demi keutuhan ukhuwwah dan perpaduan umat sejagat.Majalah Dakwah Bulanan yang dibawah penyeliaan dan pimpinan Habib Taufiq as-Segaf, "Cahaya Nabawiy" edisi No. 63 Tahun VI Rajab 1429, turut memuatkan jawapan pengasuh ruangan Istifta'nya, Ustaz Muhibbul Aman Aly, berhubung hadits Nur Muhammad ini.
Beginilah kedudukan hadits Nur Muhammad yang diriwayatkan oleh Sayyidina Jabir r.a. Dalam penolakan sebahagian, sebahagian pula menerima dan mentsabitkannya. Apa yang jelas, para ulama daripada kalangan habaib Bani 'Alawi pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur "Simthud Durar" yang menyatakan sebagai berikut:-Hadits tentang Nur Nabi Muhammad SAW ini diriwayatkan oleh Imam Abdur Rozaq. Hadits ini disebutkan oleh beberapa ulama dengan riwayat dari Abdur Rozaq, diantaranya disebutkan oleh Syekh Sa'dud Din at-Taftazani dalam kitab "Syarh Burdatul Madikh", Syekh Sulayman al-Jamal dalam kitab "Syarh al-Syamail", Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami dalam kumpulan fatwa haditsnya, Syekh Ahmad al-Showi al-Maliki dalam kitab "Bulghotus Salik", Syekh Abdulloh al-Khifaji dalam kitab "al-Siroh al-Halabi" dan ulama-ulama lainnya. Ada sebahagian orang yang meragukan keberadaan hadits ini, karena redaksi hadits ini tidak ditemukan dalam kitab Musnad (kumpulan hadits) Abdur Rozaq yang beredar saat ini, tetapi alasan ini tidak kuat, karena terbukti para ulama dahulu banyak mengutip hadits ini dari riwayat Abdur Rozaq. Ini bererti redaksi hadits ini termuat dalam manuskrip kitab Musnad Abdur Rozaq yang beredar pada zaman dahulu, dan yang beredar saat ini bukan manuskrip yang lengkap sebagaimana yang diterima oleh para ulama pada masa dahulu.
Pada tahun 1428H / 2007M, Syekh 'Isa bin Abdulloh al-Khimyari, seorang ulama ahli hadits, mengaku telah menemukan manuskrip kuno kitab Musnad Abdur Rozaq yang didalamnya tertulis beberapa hadits yang tidak ditemukan dalam cetakan yang beredar saat ini. Termasuk di dalamnya hadits tentang Nur Muhammad SAW ini. Meskipun penemuan ini masih diragukan oleh sebahagian kalangan, yang jelas hadits ini telah banyak dinukil oleh para ulama terdahulu. Ini sudah cukup membuktikan keberadaannya. Terlepas dari perbedaan pendapat para ahli hadits tentang kesahihannya.
Langganan:
Postingan (Atom)


















