ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 14 Januari 2015

Logika Terbalik dalam Tasawuf (1) Tak Menyadari Luka Saat Dikejar Singa (BULETIN SIDOGIRI)

==========
Logika Terbalik dalam Tasawuf (1)
Tak Menyadari Luka Saat Dikejar Singa
================================
Karena salah satu misi utama tasawuf adalah memerangi hawa nafsu yang menjadi kecenderungan dasar manusia, tak pelak ada beberapa cara berpikir kalangan sufi yang kadangkala tampak unik, aneh, bahkan terbalik. Menurut kacamata orang kebanyakan, boleh jadi tasawuf tampak seperti sebuah kegilaan, karena keluar dari kecenderungan umum masyarakat di kanan kiri mereka.
Imam Hasan al-Bashri, pemuka sufi dari generasi Tabiin, pernah menyatakan:
أَدْرَكْنَا أَقْوَاماً لَوْ رَأَيْتُمُوْهُمْ لَقُلْتُمْ مَجَانِيْنُ، وَلَوْ رَأَوْكُمْ لَقَالُوْا شَيَاطِيْنُ
Aku pernah semasa dengan beberapa orang (Sahabat Nabi ). Seandainya kalian melihat (tingkah laku) mereka, maka niscaya kalian akan berkata, “Mereka itu orang-orang gila.” Namun, seandainya mereka melihat (tingkah laku) kalian, maka niscaya mereka akan berkata, “Mereka itu tak ubahnya setan.”
Orang-orang saleh, seringkali tampak sangat aneh di mata masyarakat, karena kecenderungan, kesenangan, cara berpikir, dan tujuan hidupnya memang tidak sejalan dengan kecenderungan masyarakat secara umum. Karena itulah, Imam al-Ghazali, khususnya dalam Ihyâ’ Ulumiddîn, cukup sering mengutip sabda Nabi Muhammad :
أَكْثَرُ أَهْلِ الجَنَّةِ البُلْهُ
Yang paling banyak menghuni surga adalah orang-orang dungu. (HR al-Bazzar dari Anas bin Malik).
Dungu yang dimaksud di sini jelas sekali bukan dungu dalam semua hal. Imam al-Ghazali menyatakan, yang dimaksud oleh Rasulullah adalah dungu (lugu) dalam urusan duniawi. Orang yang paling mudah masuk surga adalah orang yang tidak terlalu menghiraukan kepentingan-kepentingan duniawinya; tidak marah jika haknya diambil oleh orang lain; tidak sedih jika ada hak miliknya hilang; tidak risau jika dia menjual dengan murah atau membeli dengan mahal; dan lain sebagainya. Biasanya, orang yang bertipe seperti ini, dalam pandangan masyarakat secara umum, dianggap sebagai orang yang dungu. Padahal, sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki hutang kesalahan kepada sesama manusia (al-haqq al-adami), justru orang lain yang memiliki banyak hutang kesalahan kepada dia. Orang yang mendatangi Hari Pembangkitan dengan status tidak memiliki hutang kesalahan kepada orang lain, berarti dia telah menginjakkan satu kakinya di surga.
Nalar Teologis yang Terbalik
Salah satu bentuk keterbalikan nalar kaum sufi adalah proses mereka dalam ‘menemukan’ Tuhan. Dalam al-Hikam, Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari justru mengkritik nalar teologis yang lumrah dipakai dalam ilmu kalam dalam mengantar seseorang untuk meyakini keberadaan Allah. Menurut beliau, nalar tersebut menunjukkan kejauhan seseorang dari Tuhannya. Beliau menyatakan:
شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ ... وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الوُصُوْلِ إِلَيْهِ
Sangat jauh berbeda antara orang yang menjadikan Allah sebagai bukti petunjuk (untuk mengetahui makhluk), dan orang yang (menjadikan makhluk) sebagai bukti petunjuk untuk mengetahui Allah. Menjadikan makhluk sebagai petunjuk untuk mengetahui Allah merupakan tanda belum wushûl (makrifat) kepada-Nya.
Pernyataan ini menganut logika teologis yang terbalik. Sebab, hampir seluruh kitab-kitab teologi (ilmu kalam), menggunakan cara berpikir yang berlawanan dengannya, yakni menjadikan alam semesta sebagai bukti adanya Tuhan. Alur berpikir yang digunakan dalam ilmu kalam adalah: tidak mungkin ada sesuatu yang tercipta dan teratur dengan sendirinya, pasti ada pencipta dan pengaturnya; tidak mungkin ada sebab-musabab yang berputar (daur) atau sebab musabab yang tidak berujung (tasalsul). Pasti ada yang menjadi puncak dari segala sebab, yaitu Tuhan. Tidak ada yang menjadi sebab di atas Tuhan.
Inilah standar nalar akidah bagi umat Islam secara umum. Sebab, umat manusia memang tidak pernah melihat langsung keberadaan Tuhan dengan mata kepala mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka menjadikan hal-ihwal sesuatu yang terlihat sebagai bukti atas adanya Dzat Yang Tak Terlihat.
Namun demikian, menurut kalangan sufi standar nalar ini justru menunjukkan masih rendahnya pengetahuan seseorang mengenai Tuhan. Menurut tasawuf, Allah lebih jelas dari apapun, sehingga merupakan sebuah kesalahan jika sesuatu yang redup (alam semesta) dijadikan sebagai bukti dari sesuatu yang terang benderang (Tuhan).
Perhatikan pernyataan Ibnu Athaillah berikut ini:
كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أن يَحْجِبَهُ شيءٌ وَهُوَ الَّذِيْ ظَهَرَ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ؟... كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أن يَحْجِبَهُ شيءٌ وَهُوَ الوَاحِدُ الَّذِيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْء ؟ كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أن يَحْجِبَهُ شيءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ؟
Bagaimana mungkin ada sesuatu yang menghalangi Allah (dari penglihatan hatimu), padahal Allah tampak dalam setiap sesuatu... Bagaimana mungkin ada sesuatu yang menghalangi Allah, padahal tidak ada sesuatu apapun bersama wujud-Nya. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang menghalangi-Nya padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada apapun.
Dalam pernyataan tersebut, tampak sekali bahwa Allah bagi kalangan sufi jauh lebih terang dari apapun. Hal itu disebabkan karena fokus dan perhatian mereka memang selalu tertuju kepada Allah. Jadi, meskipun misalnya mereka tidak melihat Allah dengan indera-jasmani, namun mereka melihat Allah dengan hati-nurani. Maka, apapun yang mereka lihat dan rasakan, hanya Allah yang mereka sadari. Ketika mereka melihat gunung, bukan gunung itu yang masuk ke dalam pikiran dan perasaan, namun Tuhan Yang Menciptakan gunung. Oleh karena itu, mereka menyatakan bahwa tidak ada apapun bersama wujud-Nya, dan Allah lebih terang dari segalanya.
Ibarat seorang yang sedang jatuh cinta, maka kekasihnya yang tidak terlihat oleh mata, jauh lebih nyata daripada benda apapun yang ada di sekelilingnya. Sebab, pada dasarnya, tidak semua hal yang tertangkap oleh indera adalah sesuatu yang nyata dalam pandangan seseorang. Boleh jadi, mata kita melihat sesuatu, tapi sesuatu itu tidak nyata dalam pikiran kita. Boleh jadi, mata kita tidak melihat sesuatu, tapi sesuatu itu nyata dalam pikiran kita. Seseorang yang terluka bisa merasakan sakit, karena pikirannya tertuju kepada luka tersebut. Jika pikirannya tertuju kepada hal lain, maka dia tidak akan merasakannya. Pada saat seseorang berlari ketakutan karena dikejar singa, maka dia tidak akan merasakan sakit sedikitpun dari luka yang dia derita.
Itulah yang dialami kalangan sufi dalam memandang Tuhan dan makhluk. Mereka tidak merasakan keberadaan makhluk di kanan kirinya, karena mereka selalu melatih pikiran dan perasaannya untuk senantiasa terikat dengan Tuhan, bukan dengan yang lain. Mereka membangun nalar teologis melalui hati dan perasaan, bukan melalui akal dan pikiran. Prosesnya seperti terbalik, tapi hasilnya jauh lebih mantap dan meyakinkan.
=================================
Rubrik Khaniqah Sufi Buletin Sidogiri, Edisi 91, Jumadats-Tsaniyah 1435 H.