Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Sabtu, 05 Januari 2019
Niat Menikah dari Para Wali Allah
Perhatikan Niat Menikah dari Para Wali Allah
Dalam kitab Tasbitul Fu’ad, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menyebutkan tentang adanya penyakit yang menimpa banyak anak kecil pada saat itu, sehingga banyak di antara mereka yang meninggal dunia.
Mengomentari hal tersebut, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan,”Mungkin berjatuhannya korban kematian mereka itu disebabkan beberapa perkara, seperti ketidakberesan yang terjadi dalam pernikahan orangtua mereka walaupun kita tidak mengatakn itu sebagai zina, atau mungkin juga disebabkan karena kurang peduli dengan kesucian ketika bersetubuh serta adab-adabnya, seperti dzikir dan sebagainya. Kenapa orang-orang zaman sekarang jauh dari niat-niat yang mulia dalam melaksanakan pernikahan? Mereka sangat lalai akan hal ini, bahkan dari niatan yang minimal sekalipun, yaitu untuk melaksanakan sunnah atau menjaga diri dari kemaksiatan atau menjaga mata dari yang haram. Kebanyakan diantara mereka niatnya sebatas melampiaskan syahwat. Hingga kalaupun mereka memperoleh anak, yang terlahir hanyalah keturunan yang membuat mereka lupa dan lalai kepada Allah.”
Niat memang memiliki posisi sangat istimewa dalam ajaran islam. Kali ini, kita membicarakan niat terkait dengan salah satu tahapan kehidupan yang selalu dilewati oleh setiap orang, yaitu pernikahan.
Dalam hal ini, para ulama menyarankan kepada setiap orang yang menikah agar meniatkannya dengan niat-niat sebagai berikut:
1. Saya menikah dengan niat untuk menjalankan sunnah Rasulullah SAW.
2. Saya menikah dengan niat untuk menjaga mata dari pandangan yang haram.
3. Saya menikah dengan niat untuk mendapatkan keturunan yang dapat memperbanyak jumlah umat islam.
4. Saya menikah dengan niat untuk meraih kecintaan Allah dengan berusaha mendapatkan keturunan yang bisa melanjutkan generasi umat manusia.
5. Saya menikah dengan niat untuk meraih kecintaan Nabi Muhammad SAW demi memperbanyak umatnya yang berkualitas hingga kelak di hari kiamat Rasulullah SAW bangga dengan hal tersebut. Dalam hadits disebutkan, “Menikahlah dan perbanyaklah keturunan! Sebab aku akan membanggakan kalian di hadapan umat-umat lain kelak di hari kiamat.”
6. Saya menikah dengan niat untuk memperoleh keberkahan dari doâ-doa yang dipanjatkan seorang anak shalih setelah saya wafat kelak,sekaligus berharap pertolongan dan syafa’at dari anak-anak tersebut jika mereka meninggal ketika masih kecil.
7. Saya menikah dengan niat untuk menjaga kehormatan istri dan memenuhi kebutuhannya, serta berniat untuk mencukupi nafkah istri dan anak-anak.
8. Saya menikah dengan niat untuk menjaga diri dari setan, menghilangkan kerinduan dan kecenderungan syahwat yang negatif, menjaga kemaluan dari perbuatan hina, menjaga pandangan, dan mengusir rasa was-was.
9. Saya menikah dengan niat untuk menyenangkan dan membahagiakan diri dengan cara duduk bersama pasangan atau memandang serta yang lainnya, agar bisa bertambah giat dan lebih tenang dalam beribadah.
10. Saya menikah dengan niat untuk mengurangi kesibukan hati dalam mengatur rumah, mengerjakan pekerjaan dapur, menyapu dan membersihkan perabotan, serta mendapatkan kemudahan hidup.
11. Saya menikah dengan niat untuk melatih diri dalam hal bertanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga, berusaha memenuhi kebutuhan istri, sabar atas kelakuan dan keburukan mereka, berusaha memperbaiki akhlaq mereka, membimbing mereka kepada kebaikan, mencari rizqi yang halal untuk mereka, serta menjalankan kewajiban dalam mendidik anak-anak dengan pertolongan Allah.
12. Saya menikah dengan niat pada semua niat tersebut dan niat lainnya dari semua yang saya curahkan, saya ucapkan, dan saya kerjakan, dalam urusan pernikahan ini, karena Allah SWT.
13. Saya menikah dengan niat seperti yang telah diniatkan oleh para hamba Allah yang shalih dan para ulama yang mengamalkan ilmunya. (Kemudian berdoâ) “Yaa Allah, berikan taufiq kepadaku seperti halnya Engkau memberi taufiq kepada mereka, dan tolonglah aku seperti halnya Engkau telah menolong mereka.”
Semoga Allah memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Amiin….
Temukan nasihat para ulama di ULAMA & KIAI Nusantara
MAKSIAT DAPAT MERUBAH PERILAKU PARA PENGHUNI RUMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيد المرسلين وإمام المتقين نبينا محمد وعلى جميع إخوانه من النبيين والمرسلين وعلى ءاله الطيبين
*MAKSIAT DAPAT MERUBAH PERILAKU PARA PENGHUNI RUMAH*
Al Imam Al Fudlail bin Iyadh رحمه الله تعالى berkata:
وَقَالَ: إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خلق حماري وخادمي وامرأتي وفأر بيتي .
(البداية والنهاية، ج:١٠ ص ٢٠٠)
*"Sungguh, aku bermaksiat kepada Allah, hingga aku mengetahui hal itu berakibat pada berubahnya perilaku keledai tungganganku, pembantuku, istriku, dan tikus di rumahku."*
[Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Bidayah Wan Nihayah Juz 10 : 200]
Semoga bermanfaat
والله أعلم بالصواب والخطاء
Jumat, 04 Januari 2019
Dzurriyah Sayyidina Al-Hasan bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib KRW:
Dzurriyah Sayyidina Al-Hasan bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib KRW:
=====================
Pernah kami tulis tentang Hadhromaut dan keturunan Sayidina Husain dan ingin alfaqir tuliskan sejarah Sayidina Hasan dan sebagian keturunan Beliau. Bukan untuk kesombongan... akan tetapi untuk pengetahuan bahwa tidak hanya Dzuriyah Sayidina Husain yg masih keturunan Baginda Nabi yang menyebar.
Imam Hasan adalah putra pertama pasangan Imam Ali Kw. dan Fathimah Az-Zahra. Beliau dilahirkan di Madinah pada tanggal 15 Ramadhan 2 atau 3 H. Setelah sang ayah syahid, beliau memegang tampuk pemerintahan Islam selama enam bulan. Beliau syahid pada tahun 50 H setelah meminum racun yang disuguhkan oleh istrinya sendiri, Ja’dah di usianya yang ke-48 tahun. Beliau dikuburkan di Perkuburan Baqi’
Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tarikhul Khulafa` bercerita: “Imam Hasan a.s. dilahirkan pada tahun 3 H. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW. Pada hari ketujuh dari kelahirannya, Rasulullah SAWW menyembelih kambing untuk akikahnya dan ia mencukur rambutnya. Rambut itu kemudian ditimbang dan sesuai dengan kadar timbangannya Rasulullah SAW bersedekah perak. Beliau adalah salah satu ahli kisa`. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, aku sangat mencintainya, oleh karena itu, cintailah dia”. Pada kesempatan yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Hasan dan Husein adalah dua penghulu penghuni surga”.
Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari Hasan naik di atas pundak Rasulullah SAW. Salah seorang sahabat berkata: “Wahai anak muda, engkau memiliki tunggangan yang sangat bagus!”. “Tidak begitu, ia adalah penunggang yang terbaik”, jawab Rasulullah SAW menimpali. Beliau memiliki jiwa yang tenang, berwibawa, tegar, pemaaf dan sangat disukai masyarakat. Beliau sangat peduli terhadap orang-orang miskin. Beliau sering membantu mereka melebihi kebutuhan mereka sehingga kehidupan mereka sedikit lebih makmur. Hal ini karena beliau tidak ingin seorang peminta datang beberapa kali kepadanya untuk meminta sesuatu yang akhirnya beliau merasa malu.
Sayidina Hasan Ra menikahi sembilan orang wanita
Ummu Farwa (ibu dari Qasim bin Hasan)
Khaulah binti Mansur al Fazariyah (ibu dari Hasan al Mutsanna)
Ummu Bashir
Saqfia
Ramlah (ibu dari Abu Bakar bin Hasan)
Ummul Hassan
Binti Umrul qais
Ju'dah binti Asy'ath bin Qays
UmmuIshaq binti Talhah (ibu dari Talhah bin Hasan)
Imam Hasan Assibt memiliki 3 putri dan 13 putra yaitu:
1. Fatimah ( Ibunda dari Al Imam Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin)
2. Soleha
3. Rogayyah
4. Hasan Al Mutsanna
5. Hamzah
6. Aqiel
7. Umar
8. Qasim
9. Abdullah
10. Abdurrahman
11. Zaid bergelar al-Ablaj yang menurunkan para Syarif Makkah dan Dinasti Hasyimiyah Yordania sampai sekarang
12. Ahmad
13. Ismail
14. Abdullah Asghor
15. Hasan
16. Husin
Imam Hasan Al Mutsanna ini mempunyai putra :
1. Hasan Al Mutsalist
2. Abdullah Al Mahdi Al Kamil
3. Muhammad ( datuk dari Al Imam Abu Hasan As Syadzili Al Hasani) dalam satu riwayat dari garis Ibu.
4. Ibrahim Al Qhomri (datuk dari keluarga Taba'-taba'i/sebagian keluarga ini memakai Al Hasani termasuk yang ada di Indonesia.
Al Imam Abdullah Al Mahdi Al Kamil ini mempunyai putra :
1. Sulaiman
2. Muhammad
3. Yahya
4. Ibrahim
5. Musa bergelar Al Juni (datuk dari Al Anggawie. Serta keluarga Somalangu Kebumen dari As Syech Al Imam Al Qutb Abdul Kadir Jailani)
6. Idris al Akbar yang menurunkan Ulama Maghrib (Maroko) diantaranya Asyaikh Abu Abdillah Abdussalam Bin Misyisy Al Maghrib Al Idrisy Alhasany Asyaikh Abil Hasan Asyadzili Alhasany. Dan al faqir silsilah Nasab sampai sini.
serta datuk dari As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid yang akan al faqir ulas dibawah
KABILAH DARI KETURUNAN IMAM AL HASAN
Yusuf bin Abid
As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid ini adalah murid langsung dan utama dari As Syech Al Imam Al Qutb Fakhr Wujud Syech Abubakar bin Salim sehingga didalam tawassul, kita menjumpai nama Beliau selalu disebut setelah nama As Syech Abubakar bin Salim.
Susun galur nama beliau adalah sbb : As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid bin Muhammad bin Umar bin Ibrahim bin Umar bin Isa bin Abi Wakil Maimun bin Isa bin Musa bin Azuz bin Abdul Aziz bin 'Allal bin Jabir bin 'Iyad bin Gasim bin Ahmad bin Muhammad bin Idris As tsani bin Idris bin Abdullah bin Al Imam Hasan Al Mutsana bin Sayyidina Hasan r.a.
As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid mempunyai 4 orang putra yaitu :
1. Abi Wakil
2. Muhammad
3. Abdullah
4. Umar
Umar, mempunyai seorang putra yaitu Abdullah. Dari keturunan As Syech As Syarief Abdullah bin Umar inilah keturunan As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid berpangkal/bermula. Jadi semua keturunan dari As Syech Al Imam As Syarief Yusuf bin Abid yang ada saat ini melewati jalur As Syech As Syarief Abdullah bin Umar ini.
As Syech Abdullah bin Umar ini mempunyai 2 putra yaitu:
1. Syech
Syech berputra Ibrahim, Ibrahim berputra Syech, Syech berputra Abdullah.
Abdullah mempunyai 2 putra yaitu :
a. Masyhur, mempunyai 2 putra yaitu :
1. Muhammad
2. Abdullah, keturunan dari As Syech As Syarief Abdullah ini ada di Manado.
b. Muhammad, berputra Husin. As Syech As Syarief Husin ini berputra 24 orang yaitu :
1. Ibrahim (Surabaya) keturunannya di India&Surabaya.
2. Alwi, (Gorontalo).
3. Muchsin, keturunannya ada di Sewon dan Maryamah.
4. Muhammad, (Gresik) keturunannya ada di Gresik.
5. Ubaidillah, (Gorontalo).
6. Abdurrahman, (Bangil) keturunannya ada di Surabaya,Gorontalo.
7. Muhdhor, keturunannya di Manado.
8. Alwi.
9. Abubakar, (Maryamah).
10. Umar, (Gorontalo).
11. Ali, (Gorontalo).
12. Sagaf, (Gorontalo).
13. Zain, (Gorontalo).
14. Hamid, (Gorontalo).
15. Ahmad, (Gorontalo) keturunannya ada di Gorontalo, Gresik.
16. Idrus, (Gorontalo).
17. Ja'far, (Gorontalo).
18. Abdullah, keturunannya di Gresik.
19. Hasan, (Gorontalo).
20. Syech, keturunannya ada di Gorontalo, Surabaya, dan Menado.
21. Yusuf, (Sidoarjo) keturunannya ada di Sewon dan Gorontalo.
22. Salim, keturunannya ada di Gorontalo.
23. Hud, keturunannya ada di Gorontalo.
24. Abdul Kadir, keturunannya ada di Gorontalo.
2. Yusuf berputra Ibrahim
As Syech As Syarief Ibrahim ini mempunyai 3 putra yaitu :
a. Masyhur, mempunyai 2 orang anak yaitu :
1. Alwi, keturunannya ada di Sewon, Manado, Pasuruan dan Gorontalo.
2. Muhammad, keturunannya ada di Pekalongan, Gorontalo, Labuhan Haji (Sumbawa), Taliwang (Sumbawa).
Kelompok ini dikeluarga Al Hasani memakai gelar Al Masyhur Al Hasani.
b. Syech, (wafat di Pekalongan) mempunyai 2 putra yaitu :
1. Thoha, keturunannya ada di Sumenep,Telangu, Kalianget (Madura).
2. Abdul Qadir, keturunannya ada di Lumajang, Bangil, Surabaya dan Pasuruan.
c. Hasan, mempunyai 2 putra yaitu :
1. Ali, keturunannya ada di Pekalongan dan Kali wungu.
2. Muhammad, keturunannya ada di Kendal dan Pekalongan.
Keturunan Yusuf bin Abid ini, satu-satunya family al-Hasani yang tercatat di Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah, hal itu disebabkan kakek mereka Yusuf bin Abid yang berasal dari kota Fez-Maghrib mengembara untuk menuntut ilmu ke berbagai kota di antaranya Tilmisan, Miknas hingga Hadramaut. Karena beliau datang ke Hadramaut, maka keturunan al-Hasani dari Yusuf bin Abid ini tercatat dalam kitab-kitab nasab Alawiyin yang berasal dari Hadramaut.
Abu Numai
Keluarga Abu Numai dinisbahkan kepada Syarif Abu Numai al-Awal, yaitu : Muhammad bin Abi Saad al-Hasan bin Ali bin Qatadah bin Idris al-Hasani. Selain sebutan Abu Numai mereka juga diberi gelar al-Namawi. Di antara keturunan mereka adalah famili al-Anggawi, al-Anani, al-Nu’ari, dan lainnya.
Sedangkan dari keturunan Abu Numai al-Tsani, yaitu : Muhammad bin Barakat bin Muhammad bin Barakat bin al-Hasan bin Ajlan bin Rumaitsah bin Abi Numai al-Awal Muhammad bin Abi Saad al-Hasan bin Ali bin Qatadah bin Idris al-Hasani, menurunkan family al-Jawadi, al-Barakati, al-Sanbari, al-Mun’ami, dan lainnya.
Di antara qabilah Abu Numai al-Hasani yaitu leluhur almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya almarhum raja Faisal (raja Iraq), serta qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.
Al-Anggawi
Gelar al-Anggawi diberikan kepada keturunan Angga al-Namwi al-Hasani bin Wabir bin Athif bin Abi Daij bin Amir Makkah Muhammad Abu Numai bin Abi Saadbin Ali bin Qatadah al-Hasani. Beliau lahir tahun 852 hijriyah di Makkah, seorang yang hafal al-qur’an dan ahli ibadah. Beliau juga sering mengadakan perjalanan ke beberapa negeri di antaranya ke Mesir. Family al-Anggawi hidup tersebar diberbagai penjuru, antara lain di Mekkah, Madinah dan Mesir.
Di Mekkah terdapat keturunan dari :
1. Keluarga Al-Anggawi Mekkah Mukaromah yang disebut dengan Saadah al-Anggawi, mereka adalah keturunan syarif Muhammad bin Usman bin Husin bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.
2. Keluarga al-Manashir (tinggal di desa Abi Urwah di Wadi Fathimah), mereka adalah keturunan dari syarif Idris bin Jarullah bin Hasan bin Jarullah bin Hasan bin Mansur bin Husin bin Mansur bin Jarullah bin Muhammad bin Angga.
3. Keluarga Ali al-Anggawi (tinggal di desa Abi Urwah di Wadi Fathimah), mereka adalah keturunan dari syarif Ali bin Bahit bin Abi Da’ij bin Ahmad bin Muhammad bin Angga.
Di Madinah terdapat keturunan dari :
1. Keluarga Basri al-Anggawi, dimana pertama kali yang datang dari kota Qana ke Madinah ini adalah empat orang, yaitu :
a. Syarif Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Basri.
b. Syarif Muhammad bin Baz bin Mahmud (dikenal dengan keluarga bin Baz).
c. Syarif Ahmad bin Husin bin Usman bin Hasan bin Muhammad bin Ali bin Basri.
d. syarif Muhammad Dimroni bin Hamdan bin Muhammad al-Zayyad bin Ali bin Abdurrahim bin Muhammad bin Ali bin Basri (keturunannya terputus).
2. Keluarga Murod al-Anggawi, mereka adalah syarif Murod bin Abdul Muhsin bin Zhofir bin Mahdi bin Muhammad bin Angga (keturunanya juga disebut al-Muhsin al-Anggawi).
3. Keluarga al-Madini al-Anggawi, mereka adalah Husin al-Madini bin Muhammad bin Husin bin Hasan Unaibah bin Hasan bin Musa bin Jadullah bin Barakat bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga.
Di Mesir terdapat keturunan dari :
1. Keluarga Hasan bin Basat bin Angga :
a. Syarif Mubarak bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (keluarga Mubarak & keluarga Syarifah)
b. Syarif Basat bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga terdiri dari dua keluarga yaitu : pertama : keluarga Muhammad bin Basat (Keluarga Musaat, keluarga Mu’ajab dan keluarga) al-Jadawi) dan kedua : keluarga Ahmad bin Basat (keluarga al-Walid dan keluarga al-Dali).
c. Syarif Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga, terdiri dari :
1) keluarga Ismail sayidi bin Hamad bin Umar bin Muhammad bin Mubarak (al-mustofa sayidi, al-Ahmad sayidi, al-Abu Asba’ dan al-Katkat)
2) keluarga Siraj bin Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (al-Sarkawi, al-Hifni, al-Dandarirawi dan al-Basat albaih).
3) keluarga Barakat bin Ali bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (keluarga Dakhilullah, al-Unaibah, al-Ghosimah)
4) keluarga Ahmad bin Abibakar bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga (al-Hasanain, al-Afandi, al-balbash, alu Syaikh)
5) keluarga Basri bin Abubakar bin Ahmad bin Hasan bin Basat bin Angga, terdiri dari tiga keluarga :
(1) Ahmad bin Umar bin Basri (al-Kholawi, aal Mahmud basri, aal Ahmad Basri, aal Umar bin Ahmad Basri),
(2) Hamad bi Umar bin Basri (al-Ahmad, aal Abdul Kadir, aal Ahmad Umar Basri, al-La’abah, al-Aruj, al-Fawal, al-Abyadh),
(3) Ali bin Basri (al-Zayat, al-Angga, aal Abu Zaid, aal Mahmud Hasan Basri, aal Usman Hasan Basri, aal Umar Hasan Basri).
2. keluarga Abdullah bin Hissan bin Muhammad bin Hissan bin Khonfar bin Wabir bin Muhammad bin Angga (al Kolali, al Abdullah, al balasy).
3. keluarga Murod bin Abdul Muhsin bin Zhofir binMahdi bin Muhammad bin Angga aal Murod dan al Muhsin).
Ø Al-Qadiri
Keluarga al-Qadiri banyak tersebar di sebagian negeri-negeri Islam seperti Irak dan Syria. Begitu juga, mereka banyak terdapat di negeri-negeri Maghrib.
Penamaan al-Qadiri, dikarenakan mereka adalah keturunan dari al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin Abdul Qadir Jailani bin Abi Soleh Musa bin Abdullah bi Yahya az-Zahid bin Muhammad bin daud bin Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan sibt Rasulillah saw.
Gelar al-Qadiri di ambil dari kata ‘Qadir’ yang merupakan salah satu asmaul husna yang mempunya arti “Yang Maha Kuat”.
Al-Jailani
Penamaan al-Jailani, dikarenakan mereka adalah keturunan dari al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin Abdul Qadir Jailani bin Abi Soleh Musa bin Abdullah bi Yahya az-Zahid bin Muhammad bin daud bin Musa al-Tsani bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan sibt Rasulillah saw.
Gelar al-Jailani di ambil dari kata ‘Jailani’ yang merupakan tempat kelahiran Syekh Abdul Qadir jailani. Beliau lahir pada tahun 490/471 H dan wafat pada hari Sabtu malam, setelah maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj.
Al-Qudsi
Al-Qudsi adalah suatu keluarga yang berasal dari Hallab (Aleppo) Syria. Silsilah keturunan al-Qudsi menyambung kepada al-Quthub al-Jalil al- Syaikh Abi Abdillah al-Husein yang dikenal dengan al-Qudhoib alban al-Maushuli, di mana nasabnya bersambung kepada al-Ridha bin Musa al-Juun bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsannan bin Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Di samping itu, keluarga al-Qudsi ada juga yang bersambung silsilahnya kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Salah satu keluarga al-Qudsi ini adalah Sayid Abdurrazak al-Qudsi, di mana silsilahnya bersambung kepada Musa al-Kadzim bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam Husein ra.
Al-Maghribi
Keluarga al-Maghribi banyak ditemukan di kota Tarables. Silsilah keluarga al-Magribi menyambung kepada sayid Muhammad Darghust al-Hasani al-Idrisi yang tinggal di kota Darghust Tunis. Kakek mereka yang pertama syekh Ahmad al-Maghribi al-Hasani bin Muhammad (mufti Tunis) bin Umar bin Muhammad, di mana keturunannya banyak tinggal di Tarables Syria.
Di kota Beirut dapat ditemukan pula keluarga al-Maghribi yang silsilahya bersambung kepada Idris al-Tsani bin Idris al-Akbar bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Az-Zawawi
Az-Zawawi adalah keluarga asyraaf al-Idrisiyah, nasabnya bersambung kepada Maula Idris bin Idris bin Abdullah al-Mahd bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Keluarga ini berasal dari negeri Maghrib yang kemudian hijrah ke Makkah al-Mukarromah dan beberapa wilayah teluk Arab. Dalam catatan kecil yang kami miliki yang pertama kali disebut Az-Zawawi adalah Abdullah bin Hasan bin Sulaiman Az-Zawawi.
Di antara ulama mereka yang terenal adalah Abdullah bin Muhammad Soleh Az-Zawawi seorang mufti Syafiiyah di Mekkah. Guru-guru beliau adalah Syekh Muhammad Yusuf al-Khayyat. Adapun murid-murid beliau adalah sayid hasan Kutbi dan anaknya Abdurrahman Az-Zawawi, syekh Muhammad Turki seorang guru di Masjidil Haram. Aayid Abdullah bin Muhammad soleh Az-Zawwi banyak melakukan perjalanan ke India, Indonesia, Cina dan Jepang.
Ulama dari keluarga Az-zawawi yang lain adalah Soleh bin Abdurrahman bin Abubakar bin Abdurrahman bin Ahmad Az-Zawawi al-Hasani. Guru-guru beliau di antaranya sayid Muhammad Sanusi al-Maki, syekh Ahmad Dalhan al-Hanafi, syekh Muhammad bin Khidir al-Basri, syekh Muhammad bin Nasir al-Husaini al-Yamani al-Syafii, syekh Abdul Kadir bn Mustafa al-Asyraqi. Beliau juga banyak melakukan perjalanan ke Yaman. Di Makkah, beliau menjadi mufti Syafiiyah..
Demikian lah sedikit marga dari keturunan Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib. Walaupun begitu kebanyakan para Dzuriyah Sayidina Hasan menyembunyikan diri (mastur) dan tidak mengutamakan gelar serta Nasab. Kebanyakan hanya pakai satu gelar yaitu Alhasany dan ada yang dgn gelar lain di tambah Alhasany dibelakang nya.
Al-Fatihah..
Sumber:
http://wiyonggoputih.blogspot.com/2015/02/dzuriyah-sayidina-hasan-bin-ali-bin-abi.html?m=1
Sayyidil imam Yahya al Mutawwij bil Anwar al Hasani:
[5/1 08.45] Mohsen Ra BaSyaiban: COPAS
==========
*Sayyidil imam Yahya al Mutawwij bil Anwar al Hasani:*
.=======================
Di antara keturunan Hababah Fathimah az Zahra RA yang paling masyhur adalah mereka yang berasal dari 2 orang imam agung. Yakni
1) Hasan al Mutsanna bin imam Hasan, dan
2) Ali Zainal Abidin bin imam Husein
Keduanya, baik Hasan al Mutsanna dan Ali Zainal Abidin sama-sama hadir di Karbala mengikuti imam Husein dan nyaris syahid. Namun pada akhirnya keduanya terselamatkan, terus hidup, dan bahkan meneruskan keturunan hingga sampai saat ini.
.
Namun sebenarnya masih ada, setidaknya satu orang cucu dari hababah Fathimah az Zahra yang juga meneruskan keturunannya. Yakni Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang berlaqab al Ablaj.
.
Imam Zaid al Ablaj bin al Hasan tidak ikut hadir di Karbala. Beliau tetap berada di Madinah.
Imam Zaid al Ablaj adalah abang (kakak) dari Hasan al Mutsanna.
Zaid al Ablaj dikaruniai usia yang cukup panjang dan hidup hingga zaman Abdullah bin Zubair mengangkat senjata melawan bani Umayyah.
Setelah syahdinya imam Husein, imam Zaid al Ablaj membaiat Ibnu Zubair.
.
Imam Zaid al Ablaj bin Hasan setidaknya memiliki 3 orang putra. Yakni : Hasan, Musa, dan Husein
.
Hasan bin Zaid al Ablaj bin al Hasan ini berlaqob al Anwar. Beliau hidup di zaman bani Abbasiyyah sezaman dengan imam Ja'far ash Shodiq. Imam Hasan al Anwar bin Zaid al Ablaj memilih bersikap lunak terhadap pemerintahan.
Karena sikap inilah, beliau yang 'alim kemudian oleh pihak kekhalifahan bani Abbas diangkat menjadi gubernur Madinah pada tahun 150 H.
.
Hasan al Anwar bin Zaid al Ablaj setidaknya memili 8 orang anak. Yakni :
1. Muhammad ( karena beliau, Hasan al Anwar berkunyah Abu Muhammad)
2. Yahya al Mutawwij bil Anwar
3. Abdullah
4. Ali
5. Ibrahim
6. Sayyidah Nafisah
7.Qosim
8. Isma'il
.
Salah satu putra Hasan al Anwar bernama Yahya al Mutawwij bil Anwar. Beliau adalah kakak dari sayyidah Nafisah. Beliau lahir di tahun 140 H.
Beliau tinggal bersama imam Hasan al Anwar Gubernur Madinah saat masih kecil, dan melazimi menziarahi baginda Nabi shallallahu'alaihi wa alihi wa sallam. Beliau bergelar al Mutawwij bil Anwar karena haibah dan berkah dari nur datuknya, baginda Nabi shallallahu'alaihi wa alihi wa sallam.
.
Pada tahun 194 H, imam Yahya al Mutawwij bil Anwar hijrah menuju Mesir.
Beliau tinggal di Keherah selama 10 tahun. Di Mesir, imam Yahya sempat bertemu dengan imam Syafi'i dan saling mengambil ilmu antar keduanya.
Di tahun 204 H, imam Syafi'i wafat, dan imam Yahya ikut menshalatkan sang imam.
.
Di masa-masa selanjutnya, imam Yahya al Mutawwij bil Anwar ikut bersama bani 'Alawi lainnya mengangkat senjata untuk melawan rezim bani Abbasiyah. Hingga akhirnya beliau syahid pada tahun 206 H dan dimakamkan di kampung Ghar Din.
.
.
.
Allãhumma shalli wa sallim wa bãrik 'alã nabiyyinã Muhammadin wa 'alã ãli nabiyyinã Muhammad.
[5/1 08.49] Mohsen Ra BaSyaiban: Imam Zaid yang menurunkan marga assiroji Sulawesi.
Al-Fatihah...
KEUTAMAAN WAKTU ANTARA MAGHRIB dan ISYA '
*KEUTAMAAN WAKTU ANTARA MAGHRIB dan ISYA '*
____________________________________
*Waktu ini sangat singkat.* Tapi penuh dengan kucuran rahmat Allah.
*Alhabib Abdullah bin Abu Bakar Alidrus* berkata
*الكنوز كل الكنوز فيما بين المغرب و العشاء*
Pusaka (hal yang paling berharga) dari segala pusaka ada pada waktu antara maghrib dan isya'. Dikisahkan bahwa ada seorang murid mengadu kepada gurunya. Dia berkata," _Wahai syekh, aku ini sangat ingin untuk beribadah puasa dipagi hari dan juga ingin menghidupkan waktu antara maghrib dan isya' dengan ibadah. Akan tetapi jika aku lakukan keduanya itu sangat susah.
Jika paginya aku berpuasa, tentu diwaktu maghrib aku akan sibuk untuk berbuka,masak, dll. Lalu bagaimana??_
Gurunya menjawab, " _Kau lakukan keduanya itulah yang afdhol...!! Pagi harinya berpuasa, dan ketika adzan magrib engkau berbuka sebentar kemudian langsung beribadah._"
Muridnya pun mengadu bahwa susah melakukan 2 hal itu. Lantas mana yang harus dipilih diantara 2 ibadah itu..? Puasa tapi waktu antara maghrib dan isya' sibuk dengan makanan,,, atau sebaliknya??...
Syekh tsb menjawab:
اذن احيي بين العشائين!!
. *Kalau begitu, hidupkan waktu antara maghrib dan isya*
Maka jangan lewatkan waktu yang mulia ini untuk hal yang sia-sia.
Gunakan untuk beribadah.
Setelah adzan maghrib langsung sholat berjama'ah,
kemudian sibukkan dengan mengaji, berdzikir, membaca rotib, dll hingga datang waktu isya'. *Yang lagi kerja stop dulu kerjaannya..*
*TV* dimatikan dulu, *HP* nya disimpan dulu kalau perlu di _silent_ kan *lagi sibuk sama Allah...*
Jangan ngrumpi, atau ngomongin orang diwaktu ini.
*Jangan juga bahas masalah DUNIA ..!!* .
```Sumber: 📚Risalah mu'awanah```
*_SEMOGA BERMANFAAT_*
Kamis, 03 Januari 2019
Baca Setelah Sholat Jum'at Sebanyak 5 kali: Ilahi Lastu Lil_Firdausi Ahlan, Wa La Aqwa Ala Naril Jahimi* *Fa Hab Ly Taubatan Wa_ghfir Dzunubi, Fa innaka Ghofirud_Danbil_'Adzimi
*Baca Setelah Sholat Jum'at Sebanyak 5 kali: Ilahi Lastu Lil_Firdausi Ahlan, Wa La Aqwa Ala Naril Jahimi*
*Fa Hab Ly Taubatan Wa_ghfir Dzunubi, Fa innaka Ghofirud_Danbil_'Adzimi:*
*Hikmah Sya'ir Abu Nuwas*
اِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً ☆ وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ
فَهَبْ لِي تَوْبَةًً ًوَاغْفِرْ ذُنُوْبِي☆ فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
ذُنُوْبِِي مِثْلُ اعَدَدِ الرِّمَال ☆ فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً ًيَا ذَا الْجَلاَل
وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ ☆ وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
اِلَهِي عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ ☆ مُقِرًّابِاالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
وَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ ☆ وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُوْ سِوَاك
Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga Firdaus☆Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka.
Maka terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku☆Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar.
Dosa-dosaku seperti jumlah pasir☆Maka berilah aku taubat Wahai Pemilik Keagungan.
Umurku berkurang setiap hari☆Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu☆Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu.
Jika Engkau mengampuni, memang Engkaulah Pemilik Ampunan☆Dan seandainya Engkau menolak taubatku,
Kepada siapa lagi aku berharap selain kepada-MU...
*ِImam Sayyid Bakri bin Sayyid*
*Muhammad Sayyid Syatho Al dimyathi menukil perkataan Syekh Abdul Wahhab Al Sya’roni "Barang siapa membiasakan dua bait ini (2 paling atas) setiap hari Jum’at, maka Alloh swt akan mengambil ruh pembacanya dalam keadaan Islam tanpa ragu sedikitpun".*
*Imam Sya'rani tidak menjelaskan berapa kali pembacaannya. Namun, Sayid Bakri mengutip pendapat sebagian ulama yang mengamalkan syair tersebut di baca 5 kali setelah melaksanakan shalat Jum‘at.*
*Semoga kita dapat mengamalkannya..Aaminn....*
Selasa, 01 Januari 2019
Sekilas Tentang Pangeran Diponegoro:
*Sekilas Tentang Pangeran Diponegoro:*
================================
Makam Paman Pangeran Diponegoro:
https://youtu.be/hmZ0j8IiLpA
=================================
Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sultan Jogya, Sultan HB III atau Sultan Raja dari seorang selir. Dengan demikian dia adalah cucu Sultan HB II (Sultan Sepuh) dan cicit Sultan HB I (Sultan Swargi).
Ibunya disebut-sebut bernama R.A. Mangkarawati yang menurut Peter Carey asal-usulnya masih kabur. Dikatakan putri itu berasal dari Majasta di daerah Pajang, dekat makam keramat Tembayat (Carey, 1991:2).
Dalam naskah lain Carrey mengatakan dia adalah keturunan Ki Ageng Prampelan dari Pajang (Carey, 1974:74). Sagimun MD. memberitakan bahwa dia berasal dari Pacitan, putri seorang Bupati yang konon masih berdarah Madura (Sagimun, 1986:36).
R. Tanojo dalam Sadjarah Pangeran Dipanagara Darah Madura mengatakan bahwa darah Madura yang mengalir pada Diponegoro bukan berasal dari pihak ibu tetapi justeru dari pihak ayah. Menurut silsilah, nenek Diponegoro, yakni Ratu Kedaton (permaisuri HB II) adalah generasi ke enam keturunan Pangeran Cakraningrat dari Tunjung Madura (Tanojo, t.t:4).
BERIKUT INI ADALAH SILSILAH PANGERAN DIPONEGORO SAMPAI NABI MUHAMMAD :
• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Imam Sayyidina Hussain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
• Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
• Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
• Sayyid Muhammad An-Naqib bin
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
• Ahmad al-Muhajir bin
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
• Sayyid Alawi Awwal bin
• Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
• Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
• Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
• Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
• Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi / Syech Samsu Tamres bin
• Adipati Andayaningrat / Kyai Ageng Penging Sepuh / Syarif Muhammad Kebungsuan II bin
• Raden Kebo Kenongo / Sultan Prabu Wijoyo I + Nyai Ageng Penging Binti Sunan Lawu
• Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir + Ratu Mas Cempo binti Sultan Trenggono Demak
• Pangeran Benowo / Sultan Prabu Adiwijaya I
• Pangeran Mas Putra Adipati Pajang ( terkenal dengan sebutan Mbah Sambu Lasem )
• Panembahan Raden Sinare ing Dalem Kajoran Klaten + Raden Ayu Panembahan Raden Kajoran
• Pangeran Harya Wiramenggala I ( Menantu Pangeran Kajoran ) sinare ing Dalem Kajoran Klaten
• Pangeran Puger bergelar KS. Paku Buwono I ing Surakarta Hadiningrat
• Kandjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Djawi ing Kartosuro @Susuhunan Prabu Amangkurat IV
• Sri Sultan Hamengku Buwono I @Pangeran Mangkubumi
• Sri Sultan Hamengku Buwono II
• Sri Sultan Hamengku Buwono III + Raden Ayu Mangkarawati Pacitan
• Pangeran Diponegoro @Raden Mas Sayyid Antawirya ( 11 Nopember 1785 )
Nama asli Diponegoro adalah Raden Mas Mustahar. Dia lahir di keraton Jogyakarta pada hari Jum'at Wage, tanggal 7 Muharram Tahun Be atau 11 Nopember 1785 Masehi sebagai putera sulung Sultan HB III (Carey, 1991:1). 1) Pada tahun 1805 Sultan HB II mengganti namanya menjadi Raden Mas Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta.
Sepanjang hidupnya, tercatat ada delapan wanita yang pernah dinikahi oleh Pangeran Diponegoro. Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta.
Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu Diponegoro masih berada di Tegalrejo.
Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, puteri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu isteri selir. Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun.
Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat Pangeran Diponegoro. Oleh Pangeran Diponegoro bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.
Isteri Keelima, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828.
Berikut adalah Keturunan Pangeran Diponegoro dari beberapa istrinya :
RM MADJID / DIPONEGORO ANOM,
RM. DIPOATMAJA / DIPOKUSUMA/PANGERAN ABDUL AZIS,
RM. SURYAATMAJA / DIPONINGRAT,
RM. SODEWO / SINGLON / PANGERAN ALIP
RM. DJONET DIPOMENGGOLO,
RM. ROUB/RM. RAAB,
RA. IMPUN / RA. BASAH,
RA. JOYOKUSUMO,
RA. SUPADMI / RA. RETNA KUSUMA,
RA. MUNTENG / RA. SITI FADILAH / RA. GUSTI
RA. HERJUMINTEN,
RA. HERJUMEROT,
RA. HANGRENI MANGUNJAYA,
RM. KINDAR,
RM. SARKUMA,
RM. MUNTAWARIDIN,
RA. PUTRI MUNADIMA,
RA. DULKABI,
RM. RAJAB,
RM. RAMAJI,
RA. MANGKUKUSUMO,
RA. PADMODIPURO,
RA. PONCOKUSUMO,
Wallohua'lam Bisshowab
Itulah Silsilah dan Garis Keturunan PANGERAN DIPONEGORO, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan.
Sumber: https://www.kuwaluhan.com/2018/05/silsilah-dan-garis-keturunan-pangeran.html?m=1
Sumber silsilah:
http://ranji.sarkub.com/sejarah-peteng-silsilah-nasab-pangeran-diponegoro-raden-mas-sayyid-antawiya-versi-keluarga-kajoran/
Copas:
Mbah Kyai Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Musyatahar Herucokro Senopati ing Ngalogo Sayidin Pranotogomo Amirul Mukminin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro bin Sinuhun Gusti Kanjeng Sultan Hamengkubuwono III
Lahir : Kaputren, Keraton Ngayogjakarta Hadiningrat
Saat kelahirannya, beliau dibawa kepada pendiri keraton Jogja yaitu Prabu Mangkubumi dan beliau seakan melihat masa depan di wajah Bayi kecil itu dengan mengatakan pada ibundanya "anak ini akan banyak membawa kehancuran lebih besar dari pada yang pernah aku lakukan pada Belanda di masa perang Giyanti, tapi penghabisannya wallaahu a'lam".
Pada usia 7 tahun beliau dibawa oleh eyang buyutnya, dalam sebuah gubug di tengah sawah, waktu itu kediaman di Tegalrejo belum didirikan, ini merupakan sesuatu yang luarbiasa, karena di lahirkan di lingkungan istana sebagai seorang anak sultan, namun menghabiskan masa kanak-kanaknya di desa dengan kehidupan yang tidak biasa, memasuki usia muda dididik sebagai seorang santri yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendalami ilmu agama, blusukan sana-sini dengan berjalan kaki, tidak pernah mengendarai kendaraan (kuda, andong, atau yang lain).
Riwayat Nyantri :
Sempat pula menimba ilmu Kitab kuning di tempatnya Kyai Tiftazani, Kertosuro. Kemudian sempat mendalami Tafsir Jalalain kepada Kyai Baidlowi, Bagelan, Purworejo. Dan satu lagi, beliau menyempatkan mengaji tentang ilmu hikmah kepada Kyai Nur Muhammad, Ngadiwongso, Salaman, Magelang
Riwayat Nyantri :
Konon, disini beliau pernah menghabiskan masa nyantri, di pesantren yang bernama Gebang tinatar, diasuh oleh Kyai Hasan Besari, disini pula beberapa tokoh besar pernah "ngangsu kaweruh" termasuk diantaranya seorang pujangga keraton Surakarta terkenal yaitu Raden Ngabehi Ronggowarsito.
Sempat pula menimba ilmu Kitab kuning di tempatnya Kyai Tiftazani, Kertosuro. Kemudian sempat mendalami Tafsir Jalalain kepada Kyai Baidlowi, Bagelan, Purworejo. Dan satu lagi, beliau menyempatkan mengaji tentang ilmu hikmah kepada Kyai Nur Muhammad, Ngadiwongso, Salaman, Magelang
Beliau seorang Pemimpin yang diasah memang sebagai seorang pemimpin beliau diasah dalam hal administrasi, keuangan, pengelolaan produk yang sebagian merupakan produk pertanian, yang setiap tahun di bawa diperdagangkan ke daerah pesisir, khusunya daerah Bima dimana kakek buyut beliau berasal.
Beliau juga melakukan ritual (menyepi/bersemedi/khalwat) di laut kidul, di parangkusumo tepatnya disana beliau mendapatkan sebuah wangsit/ilham yang menggambarkan suatu silsilah trah beliau beserta suatu ramalan takdir masa depan beliau, yang kemungkinan ditengarai dari seorang dalam wangsitnya itu adalah Sunan Kalijogo (menurut Peter Carey) yang sempat mengatakan kepada Diponegoro “wiwit rusaking tanah jawa ing mongso telung tahun” 3 tahun yang merupakan awal kerusakan tanah jawa, dan kamu Abdul Hamid akan disejajarkan dengan para leluhur tapi hanya sebentar.
Berdasarkan pada peninggalan yang ditemukan di Magelang, yaitu Qur’an, Tasbih dan Kitab Fiqih Taqrib matan Abu Syuja’ beliau adalah seorang islam bermadzhab syafii, dan seorang sufi penganut Thoriqoh yang menurut Habib Luthfi bin Yahya beliau merupakan mursyid Thoriqah Qadiriyah Naqsyabandiyah, disudut yang lain seorang pengamat sejarah barat Peter Carey menuturkan bahwa melihat salah satu tulisan (semacam) jimat/ruqyah yang pernah ditulis oleh Diponegoro mencirikan seorang penganut Thariqah Naqsyabandiyah – Syattariyah tentang jalan pengaturan nafas saat berdzikir.
Beliau di ibaratkan seperti seorang Karna dalam cerita Mahabharata, yang sebenarnya telah mengetahui bahwa dia tidak akan mendapatkan kemenangan dalam perang tapi dia tetap melaksanakan “Dharma” sebagai salah satu usaha/ikhtiar yang baik untuk dicatat sebagai tauladan bagi generasi mendatang.
-------
Silsilah nasab Pangeran Diponegoro, menurut catatan penelusuran Raden Ayu Linawati (ranji.sarkub.com), versi keluarga Kajoran, sbb :
... (sampai sini ada perbedaan versi, dibawah ini lanjutan versi keluarga Kajoran yang dimuat RA Linawati, di Ranji sarkub) ...
bin Pangeran Harya Wiramenggala I ( Menantu Pangeran Kajoran ) sinare ing Dalem Kajoran Klaten bin Panembahan Raden Sinare ing Dalem Kajoran Klaten (+ Raden Ayu Panembahan Raden Kajoran) bin Pangeran Mas Putra Adipati Pajang (terkenal dengan sebutan Mbah Sambu Lasem) bin Pangeran Benowo (Sultan Prabu Adiwijaya I) bin Sultan Hadiwijaya / Jaka Tingkir (+ Ratu Mas Cempo binti Sultan Trenggono Demak) bin Raden Kebo Kenongo / Sultan Prabu Wijoyo I (+ Nyai Ageng Penging Binti Sunan Lawu) bin Adipati Andayaningrat / Kyai Ageng Penging Sepuh / Syarif Muhammad Kebungsuan II bin Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi / Syech Samsu Tamres bin Sayyid Maulana Malik Ibrahim Asmoroqandi / Syech Samsu Tamres bin Sayyid Syaikh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Al-Khan) bin Sayyid Ahmad Shah Jalal (Ahmad Jalaludin Al-Khan) bin Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khanbin Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut) bin Sayyid Ali Kholi’ Qosam bin Sayyid Alawi Ats-Tsani bin Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin Sayyid Alawi Awwal bin Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillahbin Ahmad al-Muhajir bin Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin Sayyid Muhammad An-Naqibbin Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin Sayyidina Muhammad Al Baqir bin Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Imam Sayyidina Hussain bin Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW.
Langganan:
Postingan (Atom)















