ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 06 Juni 2011

Nabi Menaklukan Makkah

Nabi Menaklukan Makkah



Kemenangan demi kemenangan telah diraih oleh Rasulallah selama beliau berada di Madinah. Akhirnya beliau mengumumkan bahwa beliau hendak berangkat ke Mekkah dan memerintahkan kaum muslimin dengan serius untuk bersiap-siap. Beliau berdoa, ‘Ya Allah, rahasiakan informasi ini dari orang-orang Quraisy Makkah, agar kami bisa menyerang mereka dengan tiba-tiba di negeri mereka sendiri”. Lalu kaum muslimin pun bersiap-siap.
Ketika Rasulullah memutuskan berangkat ke Mekkah, Hathib bin Abu Balta’ah mengirim surat kepada orang-orang Quraisy Makkah. Dalam surat-nya, Hathib bin Abu Balta’ah menjelaskan tentang keputusan Rasulullah untuk berangkat ke tempat mereka. Surat tersebut dititipkan Hathib kepada seorang wanita bayaran bernama Muzainah agar mengantarkan suratnya kepada orang-orang Quraisy. Wanita tersebut meletakkan surat Hathib bin Abu Balta’ah di kepalanya, memintalnya dengan gelungan rambut, kemudian ia berangkat ke Mekkah.
Lalu Rasululullah saw menerima wahyu dari langit tentang perbuatan Hathib bin Abu Balta’ah tersebut, kemudian beliau mengutus Ali bin Abu Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam. Beliau bersabda kepada keduanya, ”Kejarlah wanita yang membawa surat Hathib bin Abu Balta’ah yang berisi penjelasan kepada orang-orang Quraisy tentang rencana kita terhadap mereka”.
Ali bin Abu Thalib ra dan Az-Zubair bin Al-Awwam ra berangkat dan berhasil menangkap wanita tersebut disalah satu tempat. Keduanya menyuruh wanita tersebut turun dari unta dan membongkar semua barang bawaannya, namun tidak menemukan apa-apa.
Ali bin Abu Thalib ra berkata kepada wanita tersebut, ”Demi Allah aku bersumpah bahwa Rasulullah tidak berdusta dan kami tidak mendustakannya. Serahkan surat yang engkau bawa kepada kami. Kalau tidak, kami akan menelanjangimu”.
Saat melihat keseriusan Ali bin Abu Thalib ra, wanita itu ketakutan lalu berkata: ”Berpalinglah dariku”. Ali bin Abu Thalib ra berpaling, kemudian wanita tersebut membuka gelungan rambutnya dan mengeluarkan surat tersebut. Lalu diserahkannya kepada Ali bin Abu Thalib ra, kemudian Ali bin Abu Thalib membawa surat kepada Rasulallah saw.
Rasulullah memanggil Hathib bin Abu Balta’ah dan berkata kepadanya: ”Ya Hathib, apa maksudmu melakukan hal ini?”. Hathib menjawab, ”Wahai Rasulullah, demi Allah, aku beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Aku tidak berubah dan tidak berganti agama. Hanya saja, aku ini orang yang tidak mempunyai keluarga, sedangkan anak dan istriku berada sekarang di tempat mereka. Aku bermaksud agar mereka memberi perlindungan untuk keluargaku”. Umar bin Khaththab ra yang berada disamping Nabi saw berkata, ”Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang ini, karena ia munafik”. Rasulullah bersabda, ”Hai Umar, engkau tidak tahu bahwa Allah melihat mujahidin Badar di Perang Badar, kemudian berfirman, ‘Kerjakan apa saja yang kalian inginkan, karena Aku telah mengampuni kalian”.

Rasulullah berangkat ke menunjuk Aburahman Al-Ghifari sebagai amir sementara di Madinah. Itu terjadi pada tanggal sepuluh Ramadhan, jadi, beliau berpuasa begitu juga kaum muslimin. Ketika beliau tiba di Al-Kudaid, tempat antara Usfan dengan Araj, beliau membatalkan puasanya.
Rasulullah terus berjalan bersama sepuluh ribu kaum muslimin. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ikut bersama Rasulullah sedang orang-orang Quraisy tidak mendengar informasi seputar beliau dan apa yang akan beliau lakukan. Di sisi lain, pada malam tersebut, keluarlah Abu Sofyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa’ guna mencari informasi dan melihat-lihat siapa tahu mereka mendapatkan informasi atau mendengarnya.
 
Al-Abbas bertemu dengan Abu Sofyan bin Al-Harits bin Abdul Muththalib dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah dan menyarankanya untuk bertemu dengan Rasulullah saw untuk meminta perlindungan. Mereka bertemu dengan beliau di Niqul Uqab, daerah di antara Makkah dengan Madinah. Abu Sofyan bin Al-Harits menyatakan ke-Islamannya dan permohonan maafnya akan dosa-dosa masa silamnya, Para ulama mengatakan bahwa ketika Abu Sofyan bin Al-Harits masuk islam, ia melantunkan bait syair kepada Rasulullah, ”Orang yang pernah aku usir bersama Allah telah mendapatkanku, beliau menepuk dadanya, kemudian bersabda, ”Engkaulah orang yang pernah mengusirku?’”
Abu Sofyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang benar dan masuk Islam. Lalu Al-Abbas ra berkata, ‘Wahai Rasulullah, Abu Sofyan bin Harb adalah orang yang senang dengan kedudukan, oleh karena itu, berikan sesuatu kepadanya”. Rasulullah bersabda, ”Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sofyan bin Harb, ia akan aman. Barangsiapa menutup pintu rumah-nya, ia akan aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia akan aman”.
Tidak lama kemudian, berbagai kabilah berjalan menuju Makkah dengan membawa bendera masing-masing, hingga akhirnya Rasulullah lewat dengan pasukannya yang berwarna hijau. Pasukan Rasulullah dikatakan hijau karena baju besinya berwarna hijau lebih mewarnai pasukan ini. Dalam pasukan tersebut terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka semua mengenakan baju besi. Itulah Rasulullah saw bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Tidak ada satu pun orang yang mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka di Makkah.
 
Ketika Rasulullah tiba di suatu tempat yang bernama Dzi Thuwa yang terletak di daerah Jarwal yang sekarang penuh dihuni oleh penduduk Makkah, beliau berdiri di atas hewan kendaraannya, bersorban dengan separoh burdah dari Yaman yang berjahit dan berwarna merah. Beliau menundukkan wajah karena tawadhu’ dan tunduk kepada Allah SWT ketika melihat penaklukan yang diberikan Allah kepada beliau, hingga jenggotnya nyaris menyentuh bagian tengah pelananya.

sumber:http://hasansagaf.wordpress.com/2010/06/15/nabi-menaklukan-makkah/?preview=true&preview_id=51&preview_nonce=c602768e10

Gelar Kota Makkah

Gelar Kota Makkah 
 
Makkah memiliki gelar yang banyak sekali, seperti Al-Haram, Al-Amin, Al-Balad, Al-Qaryah, Al-Hathimah, Shalah dan masih banyak lagi yang sulit disebut satu persatu. Akan tetapi ada beberapa gelar yang paling populer bagi masyarakat muslim dari zaman Nabi saw sampai sekarang. Gelar itu disebut dalam Al-Quran dan ada 4 gelar yaitu; Makkah, Umul Qura’, Bakkah, dan Al-Balad.
Biasanya, bila satu nama diabadikan dalam Al-Qur’an berarti nama itu memiliki kedudukan yang mulia dan luhur. Apalagi jika nama itu disebut berkali kali, bahkan dengan julukan yang berlainan, sudah pasti Allah menaruh perhatian yang besar terhadap nama itu. Begitulah Makkah memiliki julukan yang disebut berulang kali dalam Al-Qur’an, bahkan dari kemuliaan kota Makkah Allah telah mempatenkan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Al-Quran, yaitu surat Al-Balad (Makkah).
Sekarang, mari kita bersama sama melihat 4 julukan nama terbeken yang diberikan Allah kepada kota kesayangaNya…Makkah:
Pertama, kota itu dijuluki Makkah sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Fath ayat 24 :
وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُم بِبَطْنِ مَكَّةَ مِن بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرا

” Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”
Kedua, kota Makkah digelari juga dalam Al-Qur’an dengan nama Umul Qura’ yang dalam bahasa Arab artinya ibu kota, sesuai dengan firmanNya dalam surat Al-An’aam ayat 92 yang berbunyi:

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

” Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umulqura’ (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya”
Ketiga, kota Makkah dijuluki juga dengan nama Bakkah, sesuai dengan firmanNya dalam surat Al’imran ayat 96 yang berbunyi:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

” Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Keempat, kota Makkah dijuluki juga dengan nama Al-Balad yang artinya dalam bahasa Arab kota, sesuai dengan firmanNya dalam surat Al-Balad ayat 1 yang berbunyi
لاَ أُقْسِمُ بِهَـذَا الْبَلَدِ

”Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah)”
Itulah Makkah, itulah Itulah Umul Qura’, itulah Bakkah, itulah Balad semuanya berarti kota Makkah yang memiliki keberkahan, kemulian dan keluhuran di sisi Allah dan RasulNya. Keberkahanya tidak pernah punah, kemulianya tidak pernah hilang, dan keluhuranya tidak bisa dikalahkan oleh kota manapun di muka bumi sampai hari kiamat.

sumber:http://hasansagaf.wordpress.com/2010/06/15/gelar-kota-makkah/?preview=true&preview_id=47&preview_nonce=8afefdae5d

Makkah Kota Kecintaan Nabi

Makkah Kota Kecintaan Nabi

 
Itulah Makkah kota suci yang dicintai Allah dan rasul Nya. Nabi saw tidak akan keluar dari kota itu jika tidak diusir oleh kaumnya. Dan pengusiran Nabi saw dari kota Makkah merupakan hikmah ilahiyah yang pada saat itu tidak bisa diketahui keculai oleh Allah. Disaat Rasulallah saw keluar dari kota Makkah menuju Madinah beliau menangis dan beberapa kali menengok ke belakang ke arah Ka’bah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kota kelahiranya yang dicintainya seraya bersabda yang diriwatkan oleh Thirmizi dari Abdullah bin ’Adi Alhamra; ”Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang paling baik dan bumi yang paling dicintai Nya, seandainya aku tidak diusir oleh kaumku, maka aku tidak akan keluar dari negeri itu”.
   
Jelasnya, Makkah disebut tanah haram semenjak diciptakan langit dan bumi, bukan hal yang baru tapi sebelum terbitnya fajar Islam ia telah disebut tanah haram. Pernah setelah Allah memberi kemenangan kepada Rasulallah saw dengan menaklukan kota Makkah, Rasulallah saw berdiri di hadapan masyarakat Makkah, kemudian beliau mengucapkan puji syukur kepada Allah lalu bersabda: ”Sesunguhnya dulu Allah telah melarang tentara gajah masuk ke kota Makkah dan Dia telah membinasakan mereka, dan sekarang Allah telah menaklukan kota Makkah untuk Rasul Nya dan orang orang yang beriman kepadaNya. Sesungguhnya diharamkan bagi orang sebelumku untuk menyerbu kota Makkah, hanya dihalalkan satu saat saja yaitu khusus untukku pada hari ini, dan sesungguhnya haram bagi siapapun yang ingin merebut kota Makkah setelahku. Maka dilarang mengusir hewan buruannya, dilarang memotong pohonya dan dilarang memungut barang barang yang tercecer kecuali dengan niat ingin mengembalikanya kepada pemiliknya…”.
Lalu sayyidina Abbas ra  yang berdiri di hadapan Nabi saw berkata: ”Kecuali pohon Izkhir (pohon yang beraruma wangi) wahai Rasulallah? Sesungguhnya kami mencabutnya untuk ditanam di kuburan dan rumah kami”, lalu Nabi saw besabda: ”Kecuali pohon Izkhir”. Hadisth ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Itulah kelebihan dan keistimewaan kota Makkah sehingga disebut kota suci Haram atau disebut juga Al-Haramul Makki.

sumber: http://hasansagaf.wordpress.com/2010/06/13/makkah-kota-kecintaan-nabi/?preview=true&preview_id=42&preview_nonce=6e346bb1c7

Makkah Kota Ibadah

Makkah Kota Ibadah


 
Makkah adalah kota suci karena memiliki keutamaan dari kota lainya diantaranya sholat satu raka’at di Makkah sama pahalanya dengan 100 ribu raka’at di tempat lainya. Kalau Allah memberikan kelebihan bagi hambaNya dalam beribadah pada waktu malam malam terakhir (Lailatul Qadar) di bulan Ramadhan, pahalanya dilipatgandakan dengan 1000 bulan dibanding dengan beribadah di bulan lainya, begitu pula Allah telah memberikan keutamaan beribadah di tempat kota Makkah sama dengan 100 ribu kali lipat ganda pahalanya jika beribadah di tempat lainya. Cukup itu sebagai bukti yang menunjukan bahwa kota Makkah merupakan kota suci yang dicintai Allah dan Rasulnya.
Imam besar Bukhari meriwayatkan dalam hadistnya dari Jabir bin Abdullah ra sesungguhnya Rasulallah saw bersabda: ” Satu Sholat di masjidku lebih utama dari 1000 sholat di masjid lainnya kecuali di Masjidil haram, satu sholat di masjidil Haram lebih utama dari 100.000 shalat di masjid lainnya.”
 
Sekarang, mari kita kalkulasi berdasarkan hadisth di atas. Jika satu shalat di masjidil Haram mempunyai kedukudukan lebih baik dari 100.000 shalat di masjid lainya, ini berarti satu shalat di Makkah pahalanya melebihi dari 55 tahun sholat di masjid lainya. Jika kita shalat lima waktu sehari semalam di Makkah pahalanya melebihi dari 277 tahun shalat di masjid lainya. Coba bayangkan betapa mulianya masjid tersebut dan siapa gerangan diantara kita yang tidak tergiur untuk shalat lima waktu sehari semalam apalagi kalau shalat itu dilakukan secara berjama’ah?. Bayangkan berapa pahala yang kita dapatkan hanya sekedar shalat lima waktu sehari semalam berjama’ah di masjiduil Haram?
Dari uraian di atas kita bisa mengambil istimbath atau kesimpulan, bahwa bukan hanya sholat saja yang dilipat-gandakan pahalanya menjadi 100.000 kali, tapi para ulama telah mengkiyaskan bahwa semua amalan lainnya juga bisa dilipat-gandakan menjadi 100 ribu kali, seperti puasa, shodakah, dan semua amalan baik lainnya bisa memberikan isyarat adanya kelipatan pahala, hal ini dikiyaskan dengan shalat.
Jelasnya, dari hadits di atas para ulama banyak yang mengupas bahwa berpuasa sehari di Makkah sama pahalanya dengan berpuasa 100.000 kali di tempat lainya, bershodakah satu dirham di Makkah sama pahalanya dengan bershodakah 100.000 dirham di tempat lainya, dan semua kebajikan yang dilakukan di Makkah bisa dilipat-gandakan pahalanya dengan 100.000 kali.
Tapi tunggu dulu, bukan kebaikan saja yang dilipat-gandakan menjadi 100 ribu kebaikan tapi sebaliknya setiap satu dosa yang dilakukan di Makkah juga dilipat-gandakan menjadi 100.000 dosa. Maka dari itu kita harus waspada agar tidak melakukan amalan buruk yang tidak diridhoi Allah dan menghidari diri dari perbuatan maksiat di Makkah. Hal ini dikiyaskan oleh para ulama dengan shalat.
Pernah sekali Imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang dosa yang jika dilakukan seseorang akan ditulis berlipat-ganda. Beliau menjawab ”Tidak ada, kecuali jika dosa itu dilakukan di Makkah, karena kesucian kota ini”. Dan masih banyak lagi para ulama yang mengatakan hal yang sama. Dan ada hadith yang diriwayatkan imam Ahmad dari Ibnu Masud ra berkata ”Jika seseorang berkehendak ingin membunuh seseorang yang bermukim di Haram dan si pembunuh masih berada di Aden, maka Allah akan mengirimkan kepada si pembunuh mala petaka dan azab yang pedih”

sumber:http://hasansagaf.wordpress.com/2010/06/13/makkah-kota-ibadah/?preview=true&preview_id=37&preview_nonce=b05422c565

Makkah Kota Aman

Makkah Kota Aman

Setiap kita menyebut Makkah pasti ada embelanya atau julukanya yaitu Mukarramah. Dalam bahasa Arab Mukkaram artinya mulia, luhur atau tinggi. Yang dimaksud mulia, luhur atau tinggi di sini ialah derajatnya. Sekarang kenapa kota ini bisa mulia dan luhur derajatnya di sisi Allah dan RasulNya? Karena Allah telah memilihnya sebagai kota yang aman semenjak diciptakan langit dan Bumi. Maksudnya bila seseorang merasa ketakutan atau gelisah, kemudian ia memasukinya, maka ia akan merasa aman dan tentram dari segala keburukan dan ganguan fitnah.
Kalau kita memasuki kota kesayangan Nabi, Makkah, baik untuk Umrah atau Haji, kita akan merasakan aman, tentram dan thuma’ninah. Allah berfirman dalam surat al-’imrah: 97
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

”Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia”
Yang dimaksudkan dengan aman disini bukan aman bagi manusia saja, tapi bagi hewannya seperti burung burung, pepohonan dan tumbuh tumbuhan yang tumbuh di Makkah akan merasakan yang sama karena Allah melarang untuk membunuh atau mengusir hewannya dan memotong pepohonannya.

Ada kisah menarik yang berkaitan dengan ayat di atas. Tafsir ibnu Kastir mengisahkan bahwa pernah terjadi pada zaman Jahiliyah atau zaman sebelum datangnya Islam, seorang laki laki membunuh seseorang, lalu ia lari dan memasuki kota Makkah. Keluarga yang dibunuh menyarinya sampai ia menemukanya di kota Haram. Dari kemuliaan kota itu si pembunuh tidak diganggu atau dituntut sama sekali sehingga ia keluar dari kota Haram. Itu dari salah satu kemuliaan kota Makkah.
Di lain fihak telah disepakati oleh para ulama bahwa siapa yang berbuat suatu keburukan di tanah haram baik membunuh seseorang atau menganiyayanya, maka ia tidak akan mendapatkan rasa aman karena ia telah merusak kehormatan tanah haram. Adapun bila seseorang berbuat suatu keburukan di luar Makkah kemudian ia lari ke tanah Haram untuk berlindung maka bagi setiap orang yang bermukim di Makkah harus membekotnya atau mengusirnya sehingga si pelaku keluar dari tanah Haram lalu dilaksanakan hukum yang setimpal baginya.
Ibnu Abbas ra telah meriwayatkan bahwa barang siapa melakukan suatu kejahatan kemudian ia lari ke Haram untuk berlindung maka dia akan aman dan tidak dibenarkan untuk dihukum, sehingga ia keluar dari tanah Haram dan pada saat itu dibolehkan untuk dihukum (Ibnu Aljauzi).

sumber:http://hasansagaf.wordpress.com/2010/06/13/makkah-kota-aman/?preview=true&preview_id=29&preview_nonce=9e4e20ebf4

Kenapa Makkah Disebut Kota Suci?

Kenapa Makkah Disebut Kota Suci?

 
 
Kalau menyebut Al-Haram atau kota suci bagi umat Islam kita lazim menisbatkan kepada tiga kota suci di dunia yaitu Mekah, Madinah dan al-Qudus. Umat Islam apapun madzhabnya, apapun golongan dan tharikatnya mengakui kesucian ketiga kota tersebut.
Sekarang, Mengapa tiga kota itu disebut kota-kota suci? Sudah pasti jawaban yang pas untuk pertanyaan di atas adalah karena di Mekah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjid Nabawi, dan di Yerusalem ada Masjid al-Aqsha. Jadi kesucian ketiga kota tersebut adalah karena adanya masjid-masjid itu.
Kalau pertanyaannya kita lanjutkan lagi, mengapa dengan adanya masjid-masjid itu kota-kota tersebut menjadi suci? Jawaban yang tepat adalah karena ketiga masjid tersebut terkait erat dengan perjuangan dan dakwah seorang manusia suci dalam menyebarkan agama yang suci. Siapa gerangan manausia suci itu? Dia adalah Muhammad putera Abdullah dan Aminah. Dia adalah Rasulallah saw. Adapun agama suci yang dibawanya adalah Islam.
Jelasnya, tanpa diakitkan dengan Rasulullah saw, manusia tersuci itu, mustahil masjid-masjid itu dikenal sebagai masjid suci, dan mustahil pula ketiga kota itu menjadi kota-kota suci yang menjadi tempat tujuan ziarah kaum Muslimin dari seluruh jagat dunia.
Pertama mari kita menelusuri kota tersuci yang yang dicitai Allah dan Nabi-Nya, Makkah. Kenapa bisa demikian? Karena Makkah merupakan kiblat muslimin, tidak sah sholat seorang muslim jika tidak menghadap ke arahnya. Di sana ada Ka’bah yang didirikan oleh nabi Ibrahim as bersama puteranya Ismail as. Ka’bah telah dikukuhkan sebagai tempat suci haram yang dimuliakan. Ia dimulaikan bukan dari sejak didirikanya tapi sejak langit dan bumi diciptakan ia telah menjadi tempat pertama ibadah bagi manusia di muka bumi.

sumber: http://hasansagaf.wordpress.com/2010/06/13/19/?preview=true&preview_id=19&preview_nonce=7acee0159a

Gua Ashhabul Kahfi

goa-ashabul-kahfi-dr-dalam 

SIAPA gerangan yang tidak tahu kisah Ashabul Kahfi? Kisah ini sangat terkenal baik bagi penganut agama Islam atau Kristen. Ashabul Kahfi dalam Islam yaitu kisah yang menceritakan 7 pemuda yang mendapat petunjuk dan beriman kepada Allah tertidur lelap dalam gua selama 309 tahun. Mereka melarikan diri dari kekejaman raja Dikyanus.

Lokasi Gua : Banyak terjadi perselisihan faham tentang lokasi gua. Ada yang mengatakan berada di Suriah, ada pula yang mengatakan di Turkia, akan tetapi banyak yang berpendapat lokasi gua terdapat di Yordania di perkampungan Al-Rajib atau dalam Al-Quran di sebut Al-Raqim, yang berjarak 1.5 km dari kota Abu A’landa dekat kota Amman- Yordania. Info terakhir yang didapatkan bahwa Raja Abdullah ke 2 (Raja Yordania) telah meresmikan untuk mendirikan di muka gua Ashhabul Kahfi masjid dan ma’had yang diberi nama “Masjid Gua Ahlul Kahfi” dan Ma’had Da’wah dan Dai’.

Nama nama Ashhabul Kahfi: Maksalmina, Martinus, Kastunus, Bairunu, Danimus, Yathbunus dan Thamlika adapun anjingnya bernama Kithmir.

Sebab turun kisah ini dalam Al-Quran: Kisah dimulai dari seorang kafir datang kepada seorang Yahudi di Madinah. Dia memceritakan kepadanya bahwa Muhammad mengaku dirinya sebagai Nabi dan dia meminta nasehat kepadanya bagaimana caranya untuk membantahnya. Yahudi tadi berkata “Tanya kepada Muhammad tentang kisah Ashhabul Kahfi, jika dia mengetahunya maka ia benar sebagai Nabi”. Lalu orang kafir tadi bertanya kapada Rasulallah saw tantang kisah tersebut. Mereka menyangka beliau tidak mengetahuinya sehingga mereka bisa mengalahkan dan membantah beliau. Tapi apa yang terjadi. Allah perintahkan Jibril as agar segera turun dari langit menceritakan kepada Rasulallah saw kisah trb sebagaiman tertera dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Kahfi.

18:9. Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?
18:10. (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
18:11. Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,
18:12. kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).
18:13. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;
18:14. dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.
18:15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
18:16. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
18:17. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
18:18. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
18:19. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun.
18:20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.
18:21. Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.
18:22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka.

Banyak terjadi perselisihan faham tentang lokasi gua. Ada yang mengatakan berada di Suriah, ada pula yang mengatakan di Turkia, akan tetapi banyak yang berpendapat lokasi gua terdapat di Yordania di perkampungan Al-Rajib atau dalam Al-Quran di sebut Al-Raqim, yang berjarak 1.5 km dari kota Abu A’landa dekat kota Amman- Yordania. Info terakhir yang didapatkan bahwa Raja Abdullah ke 2 (Raja Yordania) telah meresmikan untuk mendirikan di muka gua Ashhabul Kahfi masjid dan ma’had yang diberi nama “Masjid Gua Ahlul Kahfi” dan “Ma’had Da’wah dan Dai’ “.
Lihat Foto Foto Gua
Raja Abdullah ke 2 meresikan Masjid Gua Kahfi

Masjid Gua Kahfi yang lama

      

Wallahua’lam
Hasan Husen Assagaf

Baitul Maqdis Di Era Umar ra

245px-jerusalem_from_mt_olives1Baitul Maqdis
Dengan gigih khalifah Umar bin Khattab dan penngikutnya akhirnya bisa membebaskan kembali Baitul Maqdis dari cengraman musuh. Disaat memasukinya beliau berwasiat kepada pasukanya agar tidak menebang pohon, mengotori sungai, mencemari mata air, membunuh anak anak, wanita, orang tua, dan orang orang lemah. Selain itu beliau beliau berwasiat dengan tegas kepada pasukanya agar tidak menghacurkan gereja dan sinagog. Itulah pesan Umar ra kepada pasukannya saat saat memasuki Baitul Maqdis (Palestina).
 
Saat memasuki Baitul Maqdis, Sayyidina Umar ra dan pasukannya disambut hangat oleh penduduk setempat. Tua muda, besar kecil, laki perempuan di bawah pimpinan pendeta Nasrani semua keluar menyambut beliau. Keduanya kemudian berjalan keliling kota. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana tentara islam menghormati dan menjaga rumah rumah ibadah yang ada di tempat itu. Tidak ada satupun gereja atau sinagog rusak atau dihancurkan. Semuanya terpelihara sesuai dengan wasiat sayyidina Umar ra.
 
280px-holy_sepulchre_exteriorGereja Al-Qiyamah

Setibanya di gereja Al-Qiyamah tibalah waktu sholat. Lalu Sayyidina Umar berkata kepada pendeta “Maaf, saya ingin melaksakan sholat”. Sang pendeta terharu dan menjawab “Silahkan tuan shalat di tempat mana saja tuan inginkan. Kebetulan pada saat itu beliau berada di dalam gereja. Demi untuk menjaga kesalahfahaman di antara kaum muslimin, maka beliau meminta izin keluar dari gereja lalu sholat di dekat pintu masuk gereja. Hal ini beliau lakukan agar umat islam tidak menyalahgunakan gereja sebagai masjid.
 
Pada saat keberadaan sayyidina Umar ra di Baitul Maqdis, beliau tidak menyiakan waktunya. Beliau mencari tempat untuk mendirikan masjid yang tidak berjauhan dengan masjid Al-Aqsha’. Masjid itu diberi nama Al-Shakhrah dan memerintahkan umat islam untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid itu. Kamu Nasrani di Palestina pun diberikan perlindungan dan jaminan kebebasan beragama. Sayyidina Umar ra menyadari bahwa baitul Maqdis merupakan kota “tiga agama”.
 
Kisah diatas patut dijadikan renungan, bahwa Islam adalah agama penuh toleransi, agama teladan dan qudwah. Dan toleransi ini bisa diterapkan karena adanya keteladanan dari pemimpin yang bijak, terbuka dan rendah hati. Meskipun dalam posisi kuat dan menang tapi Sayyidina Umar ra dan tentaranya tidak bertindak berutal, melampaui batas, dan semena mena. Hal ini beliau lakukan sedemikian rupa agar tidak terjadi pertumpahan darah antara kaum muslimin dan penduduk setempat. contoh semacam inilah yang patut ditiru agar kita senantiasa bermuamalat baik, mendewasakan sikap dan suluk dengan penganut agama lain apalagi dengan sesame muslim, bukan menampilkan ego, merasa benar sendiri, gampang disundut dan cepat emosi.
 
Wallahualam
Hasan Husen Assagaf

Silsilah 25 Nabi Dan Rasul




 

Silsilah 25 Nabi dan Rasul
Telah disebut dalam sunah Nabi saw, bahwa bilangan para Rasul yang diutus oleh Allah ada 124.000 Rasul, adapun yang disebut dalam al Quran hanya 25 sesuai dengan firman Allah “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” al-Ghafir, 78. Karena sedikitnya bilangan mereka yang diketahui dan banyak diantara kita yang tidak mengetahui silsilah mereka, maka terlampir di bawah ini silsilah 25 Nabi dan Rasul yang diutus Allah. Semoga bermanfa'at.