ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Selasa, 28 Agustus 2012

HAQIQAT NUR SAYYIIDINA WA HABIBINA WA NABIYYINA MUHAMMAD SAW

=============================================================================
HAQIQAT NUR SAYYIIDINA NABI MUHAMMAD SAW ----------------------------------------------------------------------------- إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيهاا لذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما لبيك اللهم ربي وسعديك صلوات الله البر الرحيم والملائكة المقربين والنبيين والصديقين والشهداء والصالحين وما سبح لك من شئ يا رب العالمين على سيدنا محمد بن عبد الله خاتم النبيين وسيد المرسلين وإمام المتقين ورسول رب العالمين الشاهد البشير الداعي إليك بإذنك السراج المنير وعليه السلام =============================================================================
Nur Nabi Muhammad SAW. --------------------- Tahun Gajah, 12 Rabi`ul Awwal, lahirlah Junjungan nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW, ke alam nyata. Kelahiran yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Alloh SWT menjadikan alam ini semata-mata karena hendak mendzohirkan rahmat-Nya ini bagi sekalian alam. Jika bukan karena Junjungan Sayyidina Muhammad SAW, niscaya alam ini tidak diciptakan Alloh SWT. Roh Junjungan Kita Sayyidina Muhammad SAW merupakan makhluk paling awwal (pertama kali) yang diciptakan Alloh SWT sebagaimana keterangan yang dijelaskan oleh Jumhur ‘Ulama’ dari kalangan pemuka Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Sebelum itu apa itu roh ? Ia-nya (Nur Muhammad SAW) adalah rahasia Alloh SWT, yang tiada siapapun yang tahu hakikatnya selain Alloh SWT semata. Bahwa Roh inilah yang diberi gelar, disebut dan dipanggil dengan berbagai nama kemuliaan seperti : "An-Nurul Muhammadiy", "Nur Muhammad", Haqiqotul Muhammadiyyah" dan lain sebagainya. Al-Amir 'Abdul Qodir al-Jazaa’iri dalam kitabnya: "al-Mawaqif" pada mawquf yang ke-89 telah menjelaskan banyak lagi gelar dan nama panggilan untuk tersebut. ‘Ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama`ah yang berpegang kepada konsep Nur Muhammad SAW ini telah memberikan tafsiran yang berdasarkan pada 'aqidah dan syari’ah Islam serta disandarkan kepada dalil-dalil yang boleh dipegangi. Secara ringkasnya mereka berpendapat bahwa: 1. Nur Muhammad SAW adalah makhluq yang diciptakan Alloh SWT yang paling awwal di alam arwah dan merupakan roh Junjungan Sayyidina Muhammad SAW; 2. Nur Muhammad SAW ini diciptakan dari nur yang juga diciptakan dan dimiliki Alloh SWT, yang mana hakikatnya tidak diketahui, karena Ia-nya merupakan ilmu Alloh SWT, sedangkan arti "nur" itu bukanlah berarti : cahaya atau sinar seperti cahaya matahari atau lampu yang merupakan lawan bagi kegelapan atau sesuatu yang boleh menerima kegelapan; 3. Nur Muhammad SAW inilah yang menjadi asal atau benih atau dengan kata lain menjadi sebab bagi wujudnya semua makhluq lainnya. Diantara ‘Ulama’ yang Masyhur dan mu’tabar yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah ialah Syaikhul Islam Ibrahim al-Baijuri/al-Bajuri rhm. Beliau adalah ‘Ulama’ besar yang menjadi Syaikhul Azhar, pengarang berbagai kitab rujukan, diantaranya yang masyhur adalah : Kitab "Hasyiah al-Bajuri 'ala Ibnil Qosim al-Ghozi" dalam fiqh Syafi`i. Adapun dalam kitab tauhidnya, adalah Kitab "Tuhfatul Murid 'ala Jawharotit Tauhid", menyatakan bahwa : "Dan yang pada haqiqatnya bahwa Junjungan Sayyidina Muhammad SAW diutus kepada seluruh para nabi dan umat-umat terdahulu, akan tetapi dii'tibarkan pada alam arwah karena sesungguhnya roh Baginda Sayyidina Muhammad SAW telah diciptakan sebelum segala arwah yang lain....". Jadi roh Junjungan Sayyidina Muhammad SAW adalah paling awwal diciptakan di alam arwah dan telah mencapai derajat rosul dan nabi dimana segala arwah lain dari semua para nabi dan umat-umatnya dikehendaki untuk mengakui dan menerima kerosulan dan kenabian Junjungan Sayyidina Muhammad SAW tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan firman-Nya SWT: "Dan tiadalah Kami mengutus-Mu (wahai Muhammad) melainkan untuk umat manusia seluruhnya...." (Surat Saba` : 28).
Nur Nabi Muhammad SAW. ======================= Dalam Syarah Mawlid al-Barzanji, Al-Imam Al-Syaikh Muhammad Nawawi Bin ‘Umar Bin ‘Aroby Al-Jawy al-Bantani rhm, ‘Ulama’ besar yang diberi gelar sebagai Sayyidu Ulama’ Hijaz, dalam "Madarijus Shu`ud" yang merupakan kitab syarahnya Mawlid al-Barzanji menulis: ....(Nur yang bersifat dengan terdahulu) atas segala makhluq (dan pertama-tama) yaitu kejadiannya yang pertama dinisbatkan kepada segala makhluq sebagaimana dinyatakan dalam hadits Jabir Ra yang menyatakan bahawa dia telah bertanya kepada Junjungan Rasululloh Sayyidina Muhammad SAW mengenai apa yang paling awwal diciptakan Alloh SWT, lalu dijawab oleh Baginda Sayyidina Muhammad SAW: "Bahawasanya Alloh SWT telah menciptakan Nur Nabimu, sebelum adanya segala sesuatu, maka dijadikan Nur tersebut beredar (berputar/berproses, Alloh SWT saja yang mengetahui haqiqatnya) dengan kekuasaan qudrah-Nya menurut yang dikehendaki Alloh. Dan pada waktu itu, masih belum ada Lauh Mahfudz, Qolam, Surga, Neraka, Malaikat, Manusia, Jin, Bumi, Langit, Matahari dan Bulan. Maka atas dasar inilah, dapat difahami bahwa Nur tersebut adalah satu jauhar dan bukannya 'arodl (sifat).....: Al-Imam Al-Syaikh Muhammad Nawawi Bin ‘Umar Bin ‘Aroby Al-Jawy al-Bantani rhm menyebutkan: "Dengan Haqiqat Muhammadiyyah dan Nur Muhammad SAW yang dimaksudkan adalah suatu haqiqat kejadian yang diciptakan oleh Alloh SWT dan dinamakan Nur dan arti nur itu bukanlah berarti sesuatu yang boleh menerima kegelapan atau menjadi lawan gelap, bahkan yang dikehendaki adalah suatu haqiqat yang tiada mengetahui kejadiannya selain Alloh SWT. Jadi Al-Imam Al-Syaikh Muhammad Nawawi Bin ‘Umar Bin ‘Aroby Al-Jawy al-Bantani rhm yang merupakan seorang ‘Ulama’ pengarang Kitab yang produktif dan menjadi Guru dan Sanad Mayoritas ‘Ulama’-‘Ulama’ kita, seperti Syaikhona Kholil Al-Bangkalani rhm, Hadlrotussyeikh KH. Hasyim Asy’ari, Kiyai Agung Muhammad as-Suhaimi Ba Syaiban dan ‘Ulama’ besar Lainnya, berpegang pada konsep Nur Muhammad SAW sebagai makhluq yang pertama diciptakan Alloh SWT. Dan beliau menjelaskan bahwa Nur Muhammad SAW ini adalah satu jauhar (yakni jauhar yang lathif/halus) dan bukannya satu ‘arodl atau sifat yang menumpang pada sesuatu jauhar atau jisim atau dzat. Justru Nur Muhammad SAW ini adalah satu makhluq ciptaan Alloh SWT, yang paling awwal diciptakan dan ia adalah ruhul a'dhzom, ruh Junjungan Sayyidina Muhammad SAW yang menjadi sebab bagi diwujudkannya oleh Alloh SWT semua makhluq lainnya. Maka haqiqat kejadian Nur Muhammad SAW ini tidaklah kita ketahui, hanya Alloh sajalah yang Maha Mengetahuinya seperti juga dengan roh yang merupakan jisim lathif kita. Nur Nabi Muhammad SAW. Menurut Syaikhul Islam Ibrahim al-Bajuri/al-Baijuri dalam "Haasyiah al-Bajuri 'ala Matnil Burdah" yang juga dikenali sebagai "Syarah al-Bajuri 'alal Burdah" berkenaan Qoshidah Burdah yang berkat. Dalam kitabnya ini beliau menyatakan, antara lain: Dan setiap mukjizat yang didatangkan oleh para rasul yang mulia kepada umat-umat mereka, tidak akan terhubung dengan mereka (yakni tidak sampai kepada mereka atau tidak berlaku atas mereka) melainkan berasal dari mukjizat Nabi Muhammad SAW, atau dari Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW, yang menjadi asal bagi segala sesuatu, maka langit dan bumi adalah berasal dari nur baginda SAW, surga dan neraka adalah daripada nur baginda SAW dan mukjizat para nabi adalah dari nur baginda SAW.......... dan yang dikehendaki dengan nur baginda SAW ialah mukjizat baginda SAW. Sedangkan Baginda SAW dan dinamakan sebagai Nur karena Dia SAW memimpin atau memberi petunjuk (ke arah hidayah). Bahwa boleh juga yang dimaksud dengan makna nur ini kepada an-Nurul Muhammadiy (Nur Muhammad SAW) yang merupakan asal segala makhluq ........ Jika dikatakan kenapa atau bagaimana bisa/ boleh berlaku mukjizat yang didatangkan oleh para rasul yang mulia kepada umat-umat mereka itu, adalah berasal dari Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW? Padahal para nabi tersebut adalah lebih dahulu adanya? Maka jawabannya adalah bahwa Baginda Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW adalah terlebih dahulu wujudnya atas semua para nabi tersebut dalam hal/ segi kejadian/ penciptaan an-Nur al- Muhammadiy tersebut (yakni Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW terlebih dahulu adanya sebelum adanya para nabi-nabi yang lain). Al-Syaikh Kholid al-Azhari rhm, dalam syarah Qoshidah Burdah yang dicetak dipinggir hasyiah Syaikhul Islam al-Bajuri tersebut pada menyatakan: Bahwa semua tanda-tanda kenabian (yakni segala mukjizat) yang didatangkan dengannya oleh para rasul sesungguhnya terhubung dengan mereka dari Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW. karena Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW telah diciptakan oleh Alloh SWT, terlebih dahulu daripada mereka. Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW adalah makhluq yang paling awwal diciptakan Alloh SWT dan menjadi asal atau sebab bagi wujudnya semua sesuatu, yang mana jika Alloh SWT tidak berkehendak untuk mewujudkan kekasih-Nya, yaitu Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW di alam nyata, maka sudah tentu bahwa semua makhluq tidak akan dijadikan oleh Alloh SWT. Alloh SWT berfirman dalam surat al-Anbiya`, ayat 107 yang maksudnya: "Tidak Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi sekalian alam." لِلْعَالَمِينَ رَحْمَةً إِلَّا أَرْسَلْنَاكَ وَمَا Berdasarkan ayat ini, dapat kita fahami bahwa Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW adalah rahmat, dan rahmat ini bagi sekalian alam. Oleh karena itu, demi untuk mewujudkan atau mendzohirkan rahmat ini, maka Alloh SWT menciptakan alam semesta ini.
Nur Nabi Muhammad SAW. ----------------------- Al-Imam Qodli 'Iyyadl al-Yahsubi dalam kitabnya: "asy-Syifa` bi ta'riifi huquuqil Musthofa" meriwayatkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina 'Abdullah bin 'Abbas r.anhuma bahwa Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW bersabda:" Adalah ruh Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW merupakan satu Nur di sisi dua tangan Alloh SWT (yakni di sisi qudroh dan irodah Alloh SWT) sebelum diciptakan Nabi Adam 2000 tahun, Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW tersebut bertasbih, dan bertasbih bersamanya semua malaikat. Maka ketika Alloh SWT menciptakan Nabi Adal As, disimpanlah Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW tersebut ke dalam sulbinya." Selanjutnya Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW bersabda: " Maka Alloh SWT telah menurunkan aku ke bumi dalam sulbi Nabi Adam As, dan dijadikan-Nya aku dalam sulbi Nabi Nuh As, dan diletakkan-Nya aku dalam sulbi Nabi Ibrahim As, kemudian Alloh SWT selalu memindah-mindahkan aku dari sulbi-sulbi yang mulia ke rahim-rahim yang suci sehingga Dia SWT mengeluarkan aku dari kedua ibu bapakku, sedangkan mereka sekali-kali tidaklah berbuat keji (yakni semua leluhur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW sama sekali tidak pernah melakukan zina, semuanya nikah secara sah). Selanjutnya Imam Qodli Iyadl menyatakan bahwa antara bukti untuk menguatkan kesohihan khobar ini adalah sya’ir al-‘Abbas yang masyhur, dengan memuji Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW. Sedangkan Al-Syeikh 'Ali al-Qari dalam syarah kitab "asy-Syifa`" tersebut menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abu 'Amr al-'Adni dalam musnadnya. Beliau juga menyatakan bahwa pada kebanyakkan riwayat lafadz "Inna Quraisyan (Bahawasanya seorang quraisy (yakni Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW)" yang digunakan. Hadits inilah yang dinukil oleh al-Syaikh Wajihuddin 'Abdur Rahman ad-Diba`ie, yang juga seorang ahli hadits, dalam mawlidnya yang terkenal itu. Al-Imam al-Haddad rhm juga menukil hadits ini dalam kitabnya : "Sabilul Iddikar.” Nur Nabi Muhammad SAW. Al-Habib ‘Utsman bin 'Abdullah bin 'Aqil Bin Yahya al-'Alawi al-Husaini asy-Syafi`i, Mufti Betawi yang terkenal menulis dalam kitabnya: "az-Zuhrul Baasim fi Athwaari Abil Qaasim SAW " menuliskan :....Maka sekalian Anbiya` 'alaihimus sholatu was salam, mereka itu dijadikan dari Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW dan Nur itu selalu membaca tasbih kepada Alloh SWT, maka semua malaikat mengucapkan tasbih juga kepada Alloh SWT dengan tasbihnya Nur itu di dalam masa 2000 (Dua ribu) tahun. Kemudian dari Nur itu, Alloh SWT menjadikan Nabi Adam A.s. (yakni jasadnya), dan Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW diletakkan padanya, maka semua malaikat diperintah oleh Alloh SWT untuk bersujud dengan penuh hormat ta’dzim kepada Nabi Adam A.s. Maka setelah itu, Nabi Adam a.s diambil perjanjian oleh Alloh SWT bahwa ia(Nabi Adam As) akan memelihara Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW itu turun - temurun. Maka dengan taqdir Alloh SWT, berpindah-pindahlah Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW itu pada anak cucu Nabi Adam As dari nabi-nabi dan wali-wali hingga pada Nabi Ibrahim A.s. dan anaknya Nabi Isma`il A.s. dan turun-temurun pula hingga pada 'Abdul Muthollib ibnu Hasyim yaitu kakek Rasululloh Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW yang masyhur di negeri Mekkah dan mempunyai pangkat yang agung/ besar lagi murah dua tangannya dalam memberi sedekah dan jamu-jamuan pada orang-orang hingga binatang-binatang di hutan-pun diberi makan olehnya. Dan pada masa dilahirkan Al-Sayyid 'Abdulloh Ra anaknya 'Abdul Muthallib Ra, maka berpindahlah Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW itu dari 'Abdul Muthollib Ra kepada anaknya Al-Sayyid 'Abdulloh Ra, yang merupakan Ayahanda Baginda Rasululloh Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW......... -------------------------------------------------------------------------------------
Al-Syaikh Ismail Haqqi rhm. pengarang kitab tafsir: "Ruhul Bayan" pada jilid 2, menyatakan pula bahwa: "....Dan Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW dinamakan sebagai Nur karena Dia SAW adalah sesuatu yang paling awwal didzohirkan/diwujudkan Alloh SWT dengan nur qudrohNya (yakni dengan kekuasaanNya) dari kegelapan 'adam (ketidakwujudan). Mengenai Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW sebagaimana dinyatakan dalam hadits: "Sesuatu yang paling awwal diciptakan Alloh SWT ialah nurku"....... Al-Imam al-FakhrurRazi dalam tafsirnya yang masyhur : "Mafaatihul Ghaib" juz 6, menyatakan bahwa sujudnya para malaikat sebagai tanda penuh hormat ta’dzim kepada Nabi Adam A.s. adalah dikarenakan Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW, yang berada di dahi Nabi Adam A.s. Sedangkan Al-Imam asy-Syahrastani dalam Kitab: 'Milal wan Nihal" juga menceritakan bahwa gajah-gajah Abrohah menyungkur sujud dan menundukkan kepadanya, kepada Abdul Mutollib karena Nur Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW yang ada di dahinya. Inilah diantara bukti kebesaran dan keagungan Nur Junjungan Nabi kita Sayyidina Muhammad SAW yang merupakan Nabi Panutan dan Junjungan kita. ------------------------------------------------------------------------------------- AL-Syaikh 'Abdul Wahhab asy-Sya'rooni dalam Kitab: "al-Yawaaqiit wal Jawaahir" menyebutkan:.... Maka sekiranya ditanya: Apakah yang terawal didzohirkan (diwujudkan) setelah dibelah/dipecah mega/ tabir ketidakwujudan (yakni selepas Alloh berkehendak untuk mewujudkan makhluq dengan menamatkan 'adamnya makhluq)? Jawapannya adalah sebagaimana perkataan al-Syaikh Taqiyuddin bin Abu Mansur rhm, bahwasanya makhluk paling awwal yang diwujudkan setelah dirobek mega ketidakwujudan adalah Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW, maka dengan demikian, berhaklah Junjungan Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW sebagai yang paling awwal dari segala yang awwal (dari semua makhluq), maka Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW lah sebagai Bapak bagi segala ruhaniyyah sebagaimana Adam A.s. menjadi Bapak bagi segala jisim jasmaniyyah. Nur Nabi Muhammad SAW. Quthbul Habib 'Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya "Simthud Duror" menuliskan, antara lain: ......Telah sampai kepada kami dalam hadits-hadits yang masyhur, bahwa sesuatu yang mula pertama kali diciptakan Alloh SWT ialah Nur yang tersimpan dalam pribadi ini (Junjungan Nabi Sayyidina Muhammad SAW). Maka nur insan tercinta inilah makhluq pertama kali ada/ muncul di alam semesta, lalu darinya SAW, menjadi bercabang-cabang seluruh wujud ini, ciptaan demi ciptaan, yang baru datangnya ataupun yang sebelumnya (yang terlebih dahulu datangnya dari yang kemudian). Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdur Rozzaaq dengan sanadnya sampai kepada Jaabir bin 'Abdullah al-Anshoori Rodliyallohu ‘Anhuma (semoga ridlo Alloh SWT senantiasa terlimpah kepada keduanya): "Bahawasanya ia pernah bertanya: "Demi ayah dan ibuku, ya Rasulalloh, Beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang diciptakan Alloh SWT sebelum segalanya yang lain (yakni sebelum segala makhluq yang lain). Jawab baginda SAW: "Wahai Jabir, sesungguhnya Alloh SWT telah menciptakan nur nabimu Muhammad SAW dari nurNya sebelum sesuatu yang lain." Bahwa jika dikatakan bahwa Alloh SWT menciptakan nur Muhammad SAW ini dari nurNya SWT, maka yang dimaksudkan di sini adalah nur yang menjadi milik Alloh SWT, bukan sebagian dari Dzat Alloh SWT Yang Maha Suci dan Maha Esa dari berjuz-juz dan berpisah-pisah. Maka Inilah yang dikatakan idlofah tasyrifiyyah, yaitu suatu sandaran untuk memuliakan sesuatu. Sama halnya seperti kita sandarkan bait (rumah) kepada Alloh SWT seperti Baitulloh (rumah Alloh) atau ka'baatulloh (ka'bah Alloh) dan sebagainya. Perlu menjadi perhatian bahwa Sebagian golongan yang tersesat punya anggapan bahwa nur Muhammad SAW ini asalnya adalah sebagian dari Dzat Alloh SWT, karena beranggapan bahwa nur itu adalah sebagian dari Dzat Alloh SWT(bahwa anggapan golongan yang tersesat ini) Jelaslah bukan pegangan/ I’tiqod kita sebagai Islam Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berpegang dan beri’tiqod bahwa Nur Muhammad SAW ini adalah makhluq yang diciptakan Alloh SWT sebagai Ahsanunnas Kholqon wa Khuluqon. ------------------------------------------------------------------------------------- Al-Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya'raawi dalam Kitab: "Anta tas-al wal Islam yajib" , cetakan Darul Muslim, Qahirah, tahun 1982 / 1402, juz 1, halaman: 41 telah ditanya terkait an-Nur al-Muhammadiy dan permulaan penciptaan. Sedangkan pertanyaannya kurang lebig demikian: Telah disebutkan dalam hadits: "Bahwa Jabir bin 'Abdullah r.a. telah bertanya kepada Junjungan Rasulullah SAW: "Apa yang pertama kali/ paling awal diciptakan Alloh SWT ?", lalu Junjungan Nabi SAW bersabda:"Nur nabimu, wahai Jabir." Bagaimana bila hal ini dihubungkan / dikomparasikan dengan bahwa keterangan makhluq/ manusia yang paling pertama/ awwal itu adalah Adam As dan dia diciptakan dari tanah? Maka Diantara jawaban al-Syaikh Mutawalli adalah :Daripada kesempurnaan yang mutlak dan dari segi tabi`iatnya, bahwa Alloh SWT memulakan/ mengawwali penciptaan dengan menciptakan makhluq yang tinggi, kemudian diambil darinya, akan yang rendah. Apakah hal ini logis/ masuk akal, bahwa diciptakan bahan baku materi / material / unsur tanah (al-maadah ath-thiniyyah) dahulu kemudian baru Dia SWT menciptakan dari unsur tanah tersebut Nur Muhammad SAW? Hal ini tentunya tidaklah logis, sebab sesungguhnya insan yang paling tinggi adalah para rasul, dan yang tertinggi dari mereka semua adalah Junjungan Kita Nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW bin 'Abdulloh. Oleh karena itu, tidak sah (bila dikatakan) bahwa diciptakan unsur materi kemudian diciptakan dari materi itu Nur Muhammad SAW. Bahwa yang benar adalah bahwa an-Nur al-Muhammadiy itulah yang wujud terlebih dahulu, dan dari an-Nur al-Muhammadiy itu, timbulnya segala sesuatu dan wujudlah segala sesuatu, sesuai dengan hadits Jabir itu. Maka dari jawaban tersebut, al-Syaikh Mutawalli asy-Sya'raawi termasuk ‘Ulama’ yang menerima kebenaran hadits Jabir r.a. Sebenarnya sandaran untuk konsep Nur Muhammad Saw ini bukanlah hanya pada hadits Jabir ini saja, akan tetapi ada lagi hadits-hadits lain yang dijadikan sandaran. Silakan tela’ah semua kitab karangan ‘Ulama’ kita. Bahkan, jika ada pun orang yang menolak hadits Jabir itu, maka hadits-hadts lain pun, tidak bermakna dan tidak akan berarti juga bagi mereka yang menolak konsep bahwa Nur Muhammad SAW ini sebagai Awwalul Kholqi Wujudan Wa Asyrofuhun Mauludan. Nur Nabi Muhammad SAW. Hadits Jabir terkait Nur Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam 'Abdur Razzaq terus menjadi silang pendapat/ khilafiyyah. Sebagian mereka ada yang mentsabitkannya, sedangkan sebagian lagi menolaknya, tapi dengan alasan klasik yang tidak ilmiyyah bahwa ia tidak menemukan bahwa hadits tersebut tidak termaktub dalam Musannaf/ susunannya. Bahkan Sebagian mereka karena tidak menemukan hadits Jabir tersebut dalam Musannaf-nya, akhirnya dijadikan sebagai alasan membabi buta untuk menolak dan mem-bid'ah-sesat-kan atau menuduh orang yang ber’I’tikad benar tentang konsep Nur Muhammad SAW, sebagai orang yang ahli bid’ag dlolalh. Ada juga sebagian yang lain lagi yang menolak tsabitnya hadits Jabir tersebut, tidak pula menolak konsep Nur Muhammad, hanya saja menolak pentsabitan hadits tersebut. Walaupun demikian, namun sewajarnya kita menjaga adab, sopan santun, akhlaq dalam perkara khilafiyyah ini demi keutuhan ukhuwwah islamiyyah dan persatuan ummat Islam sedunia. Dalm Majalah Dakwah Bulanan yang dibawah bimbingan dan pimpinan al-Habib Taufiq Bin Abdul qodir as-Segaf, "Cahaya Nabawiy" edisi No. 63 Tahun VI Rajab 1429, juga memuat dan menulis jawaban ini dari pengasuh ruangan Istifta'nya: Ustaz Muhibbul Aman Aly, terkait tentang hadits Nur Muhammad ini, bahwa Hadits tentang Nur Nabi Muhammad SAW ini diriwayatkan oleh Imam Abdur Rozaq. Hadits ini disebutkan oleh beberapa ‘Ulama’ dengan riwayat dari Abdur Rozaq, diantaranya disebutkan oleh Syekh Sa'dud Din at-Taftazani dalam kitab "Syarh Burdatul Madikh", Syekh Sulayman al-Jamal dalam kitab "Syarh al-Syamail", Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami dalam kumpulan fatwa haditsnya, Syekh Ahmad al-Showi al-Maliki dalam kitab "Bulghotus Salik", Syekh Abdulloh al-Khifaji dalam kitab "al-Siroh al-Halabi" dan ulama-ulama lainnya. Ada sebahagian orang yang meragukan keberadaan hadits ini, karena redaksi hadits ini tidak ditemukan dalam kitab Musnad (kumpulan hadits) Abdur Rozaq yang beredar saat ini, tetapi alasan ini tidak kuat, karena terbukti para ‘Ulama’ dahulu banyak mengutip hadits ini dari riwayat Abdur Rozaq. Ini bererti redaksi hadits ini termuat dalam manuskrip kitab Musnad Abdur Rozaq yang beredar pada zaman dahulu, dan yang beredar saat ini bukan manuskrip yang lengkap sebagaimana yang diterima oleh para ‘Ulama’ pada masa dahulu. Pada tahun 1428H / 2007M, Syekh 'Isa bin Abdulloh al-Khimyari, seorang ‘Ulama’ ahli hadits, mengaku telah menemukan manuskrip kuno kitab Musnad Abdur Rozaq yang didalamnya tertulis beberapa hadits yang tidak ditemukan dalam cetakan yang beredar saat ini. Termasuk di dalamnya hadits tentang Nur Muhammad SAW ini. Meskipun penemuan ini masih diragukan oleh sebagian kalangan, yang jelas hadits ini telah banyak dinukil oleh para ‘Ulama’ terdahulu. Ini sudah cukup membuktikan keberadaan hadits tersebut. Terlepas dari perbedaan pendapat para ahli hadits tentang kesohihannya. Beginilah kedudukan hadits Nur Muhammad yang diriwayatkan oleh Sayyidina Jabir r.a. Dalam penolakan sebahagian, sebagian pula menerima dan mentsabitkannya. Bahwa yang jelas, para ‘Ulama’ dari kalangan habaib Bani 'Alawi pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya al-Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur dengan "Simthud Duror". Nur Nabi Muhammad SAW. Sumber Informasi Diambil dari Beberapa Kitab Islam Lama, Penyusun : Maharasky Syah. Suatu hari Sayidina ‘Ali, karromallohu wajhahu (KRW), sepupu dan menantu Nabi Suci SAW bertanya: “Wahai Rasulalloh, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Alloh SWT sebelum semua makhluq dciptakan?” Berikut ini adalah jawaban nya yang indah : Sesungguhnya, sebelum Robb-mu(Tuhan-mu) menciptakan lainnya, Dia menciptakan dari Nur Nya nur Nabimu, dan Nur itu diistirahatkan haitsu Masya Alloh, dimana Alloh menghendakinya untuk istirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak lauh al-mahfoudz, tidak Sang Pena/ qolam, tidak pula Surga ataupun Neraka, tidak Malaikat Muqorrobin (Angelic Host), tidak pula langit ataupun dunia; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jinn atau manusia atau malaikat, belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur Muhammad ini. Kemudian Alloh SWT dengan iradat-Nya menghendaki adanya ciptaan. Dia SWT kemudian membagi Nur ini menjadi 4 (empat) bagian, yaitu: Dari bagian pertama: Dia menciptakan Pena/ Qolam,Kini telah diketahui bahwa ketika Alloh menciptakan lauh al-mahfoudz dan Pena/ Qolam, pada Pena itu terdapat 100 (seratus) simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Alloh kemudian memerintahkan Pena itu untuk menulis, dan Pena bertanya: “Ya Alloh, apa yang harus saya tulis?” Alloh berfirman:“Tulislah : La ilaha illalloh, Muhammadun Rasululloh.” Maka dengan tulisan itu, Pena tersebut berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang indah, agung Muhammad itu bahwa dia disebut bersama Asma’-Mu yang Suci, ya Alloh.” Alloh kemudian berfirman: “Wahai Pena, jagalah kelakuan-mu…!!! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nur-nya, Aku menciptakan Arasy dan Pena serta lauh al-mahfoudz. Kamu, juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun.” Ketika Alloh S.W.T. telah berfirman dengan kalimat tersebut, Pena itu terbelah dua, karena takutnya kepada Alloh SWT, dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup/terhalang, sehingga sampai dengan hari ini, ujung-nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiyyah yang agung. Maka, jangan seorang-pun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci SAW, atau menjadi lalai dalam mengikuti contoh dan suri tauladannya (Nabi SAW) yang cemerlang, atau membangkang/meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkana kepada kita. Kemudian Alloh SWT memerintahkan Pena itu untuk menulis. “Apa yang harus saya tulis, Ya Alloh?” tanya Pena itu. Kemudian Robbul ‘Alamin berfirman:“Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan…!” Lalu Pena Berkata: “Ya Alloh, apa yang harus saya mulai?” Alloh berfirman:“Kamu harus memulai dengan kata-kata ini : Bismillah al-Rohman al-Rohim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Pena bersiap-siap untuk menulis kata-kata itu pada Kitab (lauh al-mahfoudz), dan dia menyelesaikan tulisan itu selama dalam waktu 700 (Tujuh Ratus) tahun. Ketika Pena telah menulis kata-kata itu, Alloh S.W.T. berfirman: “Telah memakan 700 (Tujuh Ratus) tahun untuk kamu menulis 3 (tiga) Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh barokah ini, saya buat sebagai sebuah hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad SAW. Maka Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana abdi/ hamba manapun dari ummat ini menyebutkan kata Bismillah dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 (Tujuh Ratus) tahun pahala yang tak terhitung untuk abdi/ hamba tadi, dan 700 (Tujuh Ratus) tahun dosa akan Aku hapuskan. Dari bagian kedua lauh al-mahfoudz; Dari bagian ketiga Arasy; Sekarang (selanjutnya), bagian keempat dari Nur itu, Aku bagi lagi menjadi 4 (empat) bagian lagi : 1) Dari bagian pertama, Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-`Arasy); 2) Dari bagian kedua, Aku ciptakan Kursi, majelis Ilahiyyah (Langit atas penyangga Singgasana Ilahiyyah, `Arasy); 3) Dari bagian ketiga, Aku ciptakan seluruh malaikat (makhluq) langit lainnya; 4) Dan bagian ke-empat, Aku bagi lagi menjadi 4 (empat) bagian lagi: 1. dari bagian pertama, Aku membuat semua langit; 2. dari bagian kedua, Aku membuat bumi-bumi; 3. dari bagian ketiga, Aku membuat Jinn dan api; 4. Dan bagian keempat, Aku bagi lagi menjadi 4 (empat) bagian lagi : 1) dari bagian pertama, Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; 2) dari bagian kedua, Aku membuat cahaya di dalam jantung mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiyyah; 3) dari bagian ketiga, cahaya bagi lidah mereka yang berdzikir, yaitu: cahaya Tawhid (Hu Allohu Ahad); 4) dan dari bagian keempat, Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad SAW. Sedangkan Ruh yang cantik dan indah ini, diciptakan 360.000 (Tiga ratus enam puluh ribu) tahun sebelum penciptaan dunia ini, dan itu dibentuk sangat (paling) cantik atau paling indah dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan. Kepalanya, dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati, Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Alloh SWT), Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan, Pipinya dari cinta dan ke-hati-hati-an, Perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan, Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus, dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rohman. Ruh yang penuh kemuliaan ini, diajari dengan rohmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya dipasang. Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiyyah dipasangkan pada kepalanya yang penuh barokah, masyhur dan tinggi diatas semuanya, didekorasi dengan Ridlo Ilahiyyah dan diberi nama Habibulloh (Kekasih Alloh) yang murni dan suci. Duabelas Tabir { 12 Bulan, 12th Rabil Awwal, 12 suku, 12 Menunjukkan Penuntasan}. Sesudah ini Alloh S.W.T., menciptakan 12 (dua belas) tabir, yaitu: 1. Tabir Yang pertama dari itu adalah Tabir Kekuatan dimana Ruh Nabi SAW, mukim (tinggal) selama 12.000 (Dua Belas ribu) tahun, membaca: Subhana robbil-’ala (Maha Suci Rabb-ku, yang Maha Tinggi); 2. Tabir Yang kedua adalah Tabir Kebesaran dalam mana dia ditutupi selama 11.000 (Sebelas ribu) tahun, berkata: Subhanal ’Alim al-Hakim (Maha Suci Robb-ku, yang Maha Tahu, Maha Bijak); 3. Tabir ketiga: Dia dipingit selama 10.000 (Sepuluh Ribu) tahun dalam Tabir Kebaikan, mengucapkan: Subhana man huwa da’im, la yafna (Maha Suci Rabb-ku Yang Abadi, Yang Tidak Berakhir); 4. Tabir ke-empat adalah Tabir Rahman, disitulah, ruh mulia itu tinggal selama 9.000 (Sembilan Ribu) tahun, memuja Alloh, seraya berkata: Subhana-rafi’-al-`ala (Maha Suci Robb ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi); 5. Tabir kelima adalah Tabir Nikmat, dan di situlah Dia tinggal selama 8.000 (Delapan Ribu) tahun, mengagungkan Alloh dan berkata: Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Robb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur); 6. Tabir ke-enam adalah Tabir Kemurahan; dimana dia tinggal selama 7.000 (Tujuh Ribu) tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyyu la yafqoru (Maha Suci Robb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin). Kemudian diikuti; 7. Tabir ketujuh: Tabir Kedudukan. Disini ruh tercerahkan itu tinggal selama 6.000 (Enam Ribu) tahun, memuja Alloh dan berkata : Subhana man huwal Kholiq-an-Nur (Maha Suci Robb-ku Maha Pencipta, Maha Cahaya Light); Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan: 8. Tabir kedelapan: Tabir Petunjuk dimana dia tinggal selama 5.000 (Lima Ribu) tahun, memuja Alloh dan berkata: Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci Robb-ku Yang Keberadaan-Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah). Kemudian diikuti: 9. Tabir kesembilan, yaitu Tabir Kenabian dimana dia tinggal selama 4.000 (Empat Ribu) tahun, mengagungkan Alloh: “Subhana man taqorrab bil-qudrati wal-baqa’.” (Maha Suci Robb-ku yang Mengajak Dekat dengan Maha Kuat dan Maha Langgeng). Kemudian datang : 10. Tabir kesepuluh: Tabir Keunggulan, dimana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama 3.000 (Tiga Ribu) tahun, membaca pujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, seraya berkata: “Subhana dzil-’arsyi ‘amma yashifun.” (Maha Suci Robb-ku Pemilik Singgasana, Hal mana Dia jauh dari sifat-sifat / Semua Karakter Yang Dilekatkan Kepada-Nya oleh mereka yg mensekutukan Alloh SWT); 11. Tabir ke-sebelas adalah Tabir Cahaya. Disana dia tinggal selama 2.000 (Dua Ribu) tahun, seraya berdo’a: “Subhana dzil-Mulk wal-Malakut.” (Maha Suci Robb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi); 12. Tabir kedua belas adalah Tabir Intervensi (Syafa’at), dan disana dia tinggal selama 1.000 (Seribu) tahun, seraya berkata: “Subhana-robbil-’adzim” (Maha Suci Robb-ku, Maha Agung).
Penciptaan AHMAD Tercinta SAW. =============================== Setelah itu Alloh SWT menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian. Pohon ini memiliki 4 (empat) cabang. Dia SWT menempatkan ruh yang diberkahi tadi pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Alloh SWT untuk 40.000 (Empat Puluh Ribu) tahun, mengatakan, Allohu Dzul-Jalali wal-Ikrom. (Alloh, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan/ kemulyaan). Setelah dia memuja-Nya SWT, demikian itu dengan pepujian yang banyak dan beragam, Alloh S.W.T menciptakan sebuah cermin, dan Dia meletakannya demikian hingga menghadapi ruh Habibulloh SAW, dan memerintahkan ruh itu untuk memandangi cermin itu. Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling cantik/ bagus dan paling sempurna. Dia kemudian membaca 5 (lima) kali, Syukron lillahi Ta’ala (terima kasih kepada Alloh, Yang Maha Tinggi), dan tersungkur dalam posisi sujud dihadapan Robb-nya. Dia tetap bersujud seperti itu selama 100 (Seratus) tahun, mengatakan: Subhanal-‘aliyyul-‘adzim, wa la yajhalu. (Maha Suci Robbku, Yang Maha Tinggi dan Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladzi la yu’ajjalu. (Maha Suci Robb-ku Yang Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawwad alladzi la yabkholu. (Maha Suci Robb ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit). Karena itulah Penyebab (Adanya) Makhluq mewajibkan ummat Muhammad SAW, untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari– lima sholat dalam jangka waktu siang sampai malam ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi ummat Muhammad SAW dari Nur Muhammad SAW. Berikutnya Alloh SWT, menciptakan sebuah lampu zamrut hijau dari Cahaya, dan dilekatkan pada pohon itu melalui seuntai rantai cahaya. Kemudian Dia menempatkan ruh Muhammad SAW di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia SWT dengan NamaNya SWT Yang Paling Indah/ Baik (Al-Asma’ al-Husna). Itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1.000 (Seribu) tahun. Ketika dia sampai kepada Nama ar-Rohman (Maha Kasih), pandangan ar-Rohman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat karena kerendahan hatinya. Sedangkan Tetesan keringat jatuh dari padanya (ruh), sebanyak yang jatuh itu menjadi nabi dan rosul, setiap tetes keringat beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi. Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Alloh Azza wa Jala berfirman kepada Nabi Muhammad SAW: “Lihatlah ini, sejumlah besar nabi yang Aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.” Mematuhi perintah ini, dia memandangi mereka itu, dan ketika cahaya mata itu menyentuh menyinari objek itu, maka ruh para nabi itu sekonyong konyong tenggelam dalam Nur Muhammad SAW, dan mereka berteriak: “Ya Alloh, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?” Alloh SWT menjawab mereka: “Ini adalah Cahaya dari Muhammad Kekasih-Ku, dan kalau kamu akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, Aku akan menghadiahkan kepada kamu kehormatan berupa kenabian.” Dengan itu semua, ruh para nabi itu menyatakan iman mereka kepada kenabiannya, dan Alloh berfirman: “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran yang Suci: Dan ketika Alloh bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa Aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kamu akan membantunya; apa kamu setuju? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban-Ku kepadamu dengan syarat seperti itu. Mereka berkata: ‘Benar kami setuju.’ Alloh berfirman: ‘Bersaksilah demikian, dan Aku akan bersama kamu diantara para saksi.’ (Ali Imran, 3:81) Artinya: Dan (ingatlah), ketika Alloh mengambil perjanjian dari para nabi:` Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya `. Alloh berfirman:` Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? `Mereka menjawab:` Kami mengakui `. Alloh berfirman:` Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu `. (QS. 3:81). Kemudian ruh yang murni dan suci itu kembali melanjutkan bacaan al-Asma’ ul-Husna lagi. Ketika dia sampai kepada Nama al-Qohhar, kepalanya(ruh) mulai berkeringat sekali lagi karena intensitas dari al Qohhar itu. Dari butiran keringat itu, Alloh menciptakan ruh para malaikat yang diberkati. Dari keringat pada mukanya (ruh), Alloh SWT menciptakan Singgasana dan Hadlirat Ilahiyyah, Kitab Induk dan Pena, matahari, rembulan dan bintang -bintang. Dari keringat di dadanya (ruh), Dia SWT menciptakan para ‘Ulama’, para syuhada’ dan para muttaqin. Dari keringat pada punggungnya (ruh), dibuatlah Bayt-al-Ma’mur (rumah surgawi), Ka’batulloh (Ka’bah), dan al-Bayt-al-Muqoddas (Haram Jerusalem), dan Rauda-i-Mutohharo (kuburan Nabi Suci SAW di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini. Dari keringat pada alisnya (ruh), dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung bagian bawahnya (the coccyx) dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Dari keringat di kakinya (ruh). dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan semua apa-apa yang berada didalamnya. Dari setiap tetes keringatlah, ruh seorang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya Nabi Suci SAW disebut juga sebagai “Abu Arwah” (Ayah para Ruh). Semua ruh ini berkumpul mengelilingi ruh Junjungan Kita Sayyidina Nabi Muhammad SAW berputar mengelilinginya dengan pepujian dan pengagungannya selama 1.000 (Seribu) tahun; kemudian Alloh SWT memerintahkan para ruh itu untuk memandang ruh Sayyidina Nabi Muhammad SAW, dimana Para ruh itu-pun mematuhi. Siapa Memandang kepada Ruh Sayyidina Nabi Muhammad SAW??? Nah, di antara mereka yang pandangannya jatuh kepada kepalanya (ruh), ditakdirkan menjadi raja dan kepala negara di dunia ini. Mereka yang memandang kepada dahinya, menjadi pemimpin yang adil. Mereka yang memandang matanya, akan menjadi Hafidz Kalimat Alloh SWT (yaitu seorang yang memegangnya kedalam ingatannya). Mereka yang memandang alisnya, akan menjadi pelukis dan artist. Mereka yang memandang telinganya, akan menjadi mereka yang menerima peringatan dan nasehat. Mereka yang melihat pipinya yang penuh barokah, menjadi pelaksana karya yang bagus dan pantas. Mereka yang melihat mukanya, menjadi hakim dan pembuat wewangian; Dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh barokah, menjadi menteri. Barang siapa melihat mulutnya, akan menjadi mereka yang banyak berpuasa. Barangsiapa yang melihat giginya, akan menjadi kelihatan bagus/cantik; Dan siapa yang melihat lidahnya, akan menjadi utusan /duta raja-raja. Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh barokah akan menjadi khotib dan mu’addzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya, akan menjadi pejuang di jalan Alloh. Barang siapa memandang lengan atasnya, akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut; Dan barang siapa melihat lehernya, akan menjadi usahawan dan pedagang. Barang siapa yang melihat tangan kananya, akan menjadi seorang pemimpin, Barang siapa yang melihat tangan kirinya, akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur catur kebutuhan hidup). Siapa yang melihat telapak tangannya, menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya, akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya, menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya, akan menjadi seorang calligrapher; siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya, akan menjadi seorang pandai besi. Siapa yang melihat dadanya yang penuh baraokah akan menjadi seorang terpelajar, meninggalkan keduniaan (ascetic) dan berilmu. Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum Syari’at. Siapa yang melihat sisi badanya yang penuh barokah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas; siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi mereka yang melaksanakan ruku’ dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh barokah akan menjadi reorang pemburu. siapa yang melihat telapak kakinya, menjadi mereka yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya, akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute). Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa, akan menjadi kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali, akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Namrodz, Pharoah dan sejenisnya. Kini semua ruh itu diatur dalam 4 (empat) baris, yaitu: 1. Di baris pertama, berdiri ruh para nabi dan rosul, A.s.; 2. Di baris kedua, ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat Alloh; 3. Di baris ketiga, berdiri ruh kaum beriman, laki dan perempuan; 4. Di baris ke empat, berdiri ruh kaum tak-beriman. Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di hadlirat Alloh S.W.T. sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik. Tidak seorang pun tahu kecuali Alloh S.W.T. yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh barokah Nabi Muhammad SAW sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu. Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibra'il As: “Berapa lama sejak engkau diciptakan?” Malaikat itu menjawab, “Yaa Rasululloh, saya tidak tahu jumlah tahunnya, yang saya tahu bahwa setiap 70.000 (Tujuh Puluh Ribu) tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiyyah. sejak waktu saya diciptakan, cahaya ini muncul 12.000 (Dua Belas ribu) kali.” “Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” tanya Nabi Muhammad SAW. “Tidak, saya tidak tahu,” jawab malaikat itu. Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh,” jawab Nabi Suci SAW. Pertimbangkan kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70.000 (Tujuh Ribu) X (dikalikan) 12.000 (Dua Belas ribu) ????? Maka hasil perkalian itu adalah sama dengan : 840.000.000 (Delapan Ratus Empat Puluh Juta). Subhanalloh………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! SHOLAWAT ASSEGGAFIYYAH سيدي الولي الشهير والقطب الكبير عمدة المطلعين ورأس المكاشفين السيد عبد الله ابن السيد علي باحسين السقاف اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سُلَّمِ الأَسْرَارِ الإِلَهِيَّةِ الْمُنْطَوِيَةِ فِي الْحُرُوفِ الْقُرْآنِيَّةِ مَهْبَطِ الرَّقَائِقِ الرَّبَّانِيَّةِ النَّازِلَةِ فِي الْحَضْرَةِ الْعَلِيَّةِ الْمُفَصَّلَةِ فِي الأَنْوَارِ بِالْنُّورِ الْمُتَجَلِّيَّةِ فِي لُبَابِ بَوَاطِنِ الْحُرُوفِ الْقُرْآنِيَّةِ الصِّفَاتِيَّةِ فَهُوَ النَّبِيُّ الْعَظِيمُ مَرَكْزُ حَقَائِقِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ مُفِيضُ الأَنْوَارِ إِلَى حَضَرَاتِهِمْ مِنْ حَضْرَتِهِ الْمَخْصُوصَةِ الْخَتْمِيَّةِ شَارِبُ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ مِنْ بَاطِنِ بَاطِنِ الْكِبْرِيَاءِ مُوصِلُ الْخُصُوصِيَّاتِ الإِلِهِيَّاتِ إِلَى أَهْلِ الاصْطِفَاءِ مَرْكَزُ دَائِرَةِ الأنْبِيَاءِ وَالأَوْلِيَاءِ مُنَزِّلُ النُّورِ بِالنُّورِ الْمُشَاهِدُ بِالذَّاتِ الْمُكَاشِفُ بِالصِّفَاتِ الْعَارِفُ بِظُهُورِ تَجَلِّي الذَّاتِ فِي الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ الْعَارِفُ بِظُهُورِ الْقُرْآنِ الذَّاتِي فِي الْفُرْقَانِ الصِّفَاتِيِّ فَمِنْ هَهُنَا ظَهَرَتْ الْوَحْدَتَانِ الْمُتَعَاكِسَتَانِ الْحَاوِيَتَانِ عَلَى الطَّرَفَيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ اللَّطِيفَةِ الْقُدْسِيَّةِ الْمَكْسُوَّةِ بِالأَكْسِيَةِ النُّورَانِيَّةِ السَّارِيَةِ فِي الْمَرَاتِبِ الإِلَهِيَّةِ الْمُتَكَمِّلَةِ بِالأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ الأَزَلِيَّةِ وَالْمُفِيضَةِ أَنْوَارَهَا عَلَى الأَرْوَاحِ الْمَلَكُوتِيَّةِ الْمُتَوَجِّهَةِ فِي الْحَقَائِقِ الْحَقِيَّة النَّافِيَةِ لِظُلُمَاتِ الأَكْوَانِ الَعَدَمِيَّةِ الْمَعْنَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمِّدً الْكَاشِفِ عَنِ الْمُسَمَّى بِالْوَحْدَةِ الذَّاتِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ جَامِعِ الإِجْمَالِ الذَّاتِيِّ الْقُرْآنِيِّ حَاوِي التَّفْصِيلِ الصِّفَاتِيِّ الْفُرْقَانِيِّ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الصُّورَةِ الْمُقَدَّسَةِ الْمُنَزَّلَةِ مِنْ سَمَاءِ قُدْسِ غَيْبِ الْهُوَيَّةِ الْبَاطِنَةِ الْفَاتِحَةِ بِمِفْتَاحِهَا الإِلَهِي لأَِبْوَابِ الْوُجُودِ الْقَائِمِ بِهَا مِنْ مَطْلَعِ ظُهُورِهَا الْقَدِيمِ إِلَى اسْتِوَاءِ إِظْهَارِهَا لِلْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَقِيقَةِ الصَّلَوَاتِ وَرُوحِ الْكَلِمَاتِ قِوَامِ الْمَعَانِي الذَّاتِيَّاتِ وَحَقِيقَةِ الْحُرُوفِ الْقُدْسِيَّاتِ وَصُوَرِ الْحَقَائِقِ الْفُرْقَانِيَّةِ التَّفْصِيلِيَّاتِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْجَمْعِيَّةِ الْبَرْزَخِيَّةِ الْكَاشِفَةِ عَنِ الْعَالَمَيْنِ الْهَادِيَةِ بِهَا إِلَيْهَا هِدَايَةً قُدْسِيَّةً لِكُلِّ قَلْبِ مُنِيبٍ إِلَى صِرَاطِهَا الرَّبَّانِيِّ الْمُسْتَقِيمِ فِي الْحَضْرَةِ الإِلَهِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مُوَصِّلِ الأَرْوَاحِ بَعْدَ عَدَمِهَا إِلَى نِهَايَاتِ غَايَاتِ الْوُجُودِ وَالنُّورِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاسِطَةِ الأَرْوَاحِ الأَزَلِيَّةِ فِي الْمَدَارِجِ الْجَاذِبَةِ لِلأَرْوَاحِ الْمَعْنَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْحَسَنَاتِ الْوُجُودِيَّةِ الذَاهِبَةِ بِظُلُمَاتِ الطَّبَائِعِ الْحِسِيَّةِ وَالْمَعْنَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مُسْتَقَرِّ بُرُوزِ الْمَعَانِي الرَّحْمَانِيَّةِ مِنْهَا خَرَجَتِ الْخُلَّةُ الإِبْرَاهِيمِيَّةُ وَمِنْهَا حَصَلَ النِّدَاءُ بِالْمَعَانِي الْقُدْسِيَّةِ لِلْحَقِيقَةِ الْمُوسَوِيَّةِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي جَعَلْتَ وُجُودَكَ الْبَاقِي عِوَضاً عَنْ وُجُودِهِ الْفَانِي صَلَّى الله تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى أَصْحَابِهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. هكذا في الأصل بتقديم أَصحابه على آله