ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 15 Februari 2014

Pulang Ke Rohmatulloh: Sang Maha Guru KH. Zainal 'Abidin Bin KH.Munawwir (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta)


=========

(اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ)Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, KH. Zainal Abidin Munawwir, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, wafat pada maghrib sekitar pukul 18.30, Sabtu (15/2).
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sang Guru KH. Zainal Abidin Krapyak Yogya, wafat. Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu." tulis akun twitter KH. Mustofa Bisri (@gusmusgusmu).

Hal serupa juga dilaporkan NU Online, menginformasikan kepergian KH. Zainal Abidin.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama kehilangan kiainya. Telah wafat "songgone langit" Simbah KH Zainal Abidin Munawwir pada maghrib sekitar pukul 18.30, Sabtu (15/2)." Tulis NU Online.
Almarhum insya Allah akan dikebumikan Pemakaman Sorowajan (Selatan Krapyak), Yogyakarta, Ahad (16/2) siang sekitar pukul 14.00.

Sementara itu KH Hafidz Abdul Qodir Munawwir, salah satu pengasuh PP Al-Munawwir, menjelaskan, mbah Kiai Zainal menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Sebelumnya sempat dirawat di RSUP Dr Sardjito sekitar 10 hari.
"Segenap umat Islam, khususnya para alumni Krapyak di mana saja, dimohon doanya untuk mbah Kiai," lanjut Gus Hafidh.
Kiai Zainal  merupakan putra pendiri PP Al-Munawwir, KHM Moenawwir. Almarhum meninggalkan seorang istri, Hj Ida Fatimah, dan tiga putra, yakni Muhammad Munawwir, Muhammad Khoiruzzad, dan Khumairoh.

Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin. Lahul Fatihah. (NU Online/KR/RMI NU, Media Pesantren)

=========

H Zainal Abidin Munawwir, Pengasuh pondok pesantran Al Munawwir Krapyak selama ini dikenal sebagai salah satu kyai besar yang disegani di kalangan NU. Selama ini ia dikenal sebagai pengajar di Pondok Pesanten Al-Munawwir Krapyak dengan jumlah santri mencapai 4.000 orang.

Paman dari mertua ?Anas Urbaningrum ini dikenal sebagai seorang tasawuf yang istikomah dalam mengajar santri-santrinya. Sejumlah nama yang pernah belajar ilmu dari beliau antara lain KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Said Agil Siroj, Masdar Farid hingga KH Ashari Abta.

Semasa hidup beliau pernah menjadi anggota DPRD DIY tahun 70an. Pernah juga menjadi anggota pengurus pusat NU, penasehat Perkumpulan Tariqah Indonesia, serta organisasi keagaman lainnya,
"Selama masih sehat beliau tidak pernah absen menjadi imam sholat lima waktu. Pasti selalu mengimami. Beliau juga merupakan pendidik yang selalu disiplin dalam mengajar. Gak banyak bicara. Istikomah bahkan satu orang murid saja tetap diajar. Kitab karya karya beliau terhitung sudah belasan," ujar cucu ponakan almarhum, Kyai Afif Muhammad Hasbullah.

KH Zainal Abidin Munawir sendiri meninggal dunia di kediaman beliau kompleks pondok pesantren Krapyak sekitar pukul 18.30 WIB sore tadi. Almarhum meninggal di usia 85 tahun setelah mengalami sakit tua sejak lama dan sebelumnya sempat dirawat di RS Sardjito Yogyakarta.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak. Rencananya almarhum akan dimakamkan di kompleka pemakaman Sorowajan, Krapyak, Minggu (16/02/2014) pukul 14.00 WIB.
=============
 Mendengar kiainya wafat pada hari Sabtu (15/2) ba’da magrib, para santri Krapyak dan sekitarnya khususnya yang berdomisili di Yogyakarta berbondong-bondong untuk datang melaksanakan shalat jenazah.

Komplek Pesantren Krapyak, dipenuhi para santri dan masyarakat yang ingin melaksanakan shalat jenazah untuk KH. Zainal Abidin Munawwir. Shalat jenazah dilaksanakan mulai sekitar pukul 20:30 WIB.

Seraya ditemani dengan bacaan Surat Al-Ikhlas, para santri silih berganti memasuki ndalem untuk melaksanakan shalat jenazah. Petugas yang mengatur jalannya shalat jenazah pun kewalahan, karena saking banyaknya santri dan masyarakat yang ingin melaksanakan shalat jenazah.

Mengantisipasi antrian panjang para santri yang ingin shalat jenazah, tepat pada jam 22:00 WIB, jasad KH. Zainal Abidin Munawwir dipindahkan ke Masjid Pesantren Krapyak. Usai dipindahkan ke masjid, para santri yang belum melaksanakan shalat jenazah, kini dapat menjalankannya dengan jumlah jamaah yang lebih banyak.

KH. Zainal Abidin Munawwir merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya, Amien.

Jumat, 07 Februari 2014

Ingatlah, Surga Ada di Rumahmu

==========
Ingatlah, Surga Ada di Rumahmu
================

Kadangkala seseorang yang ingin meraih surga melakukan pengembaraan yang jauh. Padahal, pintu surga ada di sekitarnya, bahkan berada di dalam rumahnya sendiri. Kalaupun ada yang tahu, mereka tidak mempraktikannya.

Menurut Ustadz Ahmad Al Habsy kunci untuk meraih surga dari dalam rumah sendiri adalah dengan cara menghormati kedua orang tua, memuliakan kedua orang tua.

“Mengapa mengejar surga yang jauh sementara surga yang dekat ditinggalkan?” kata da’i ibu kota saat berceramah pada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriyah di halaman Mapolres Brebes, Jawa Tebgah, Kamis (6/2) malam.

Kata Ahmad, demikian panggilan akrabnya, menyarankan agar membahagiakan dulu orang terdekat. Juga jangan pelit dengan kedua orang tua maupun saudara-saudara dekat kita. Kadang kita terlalu memberi kebahagiaan kepada orang-orang di luar dengan mengharapkan pujian, sementara orang tua kita dan saudara-saudara kita terlupakan. “Jangan sampai, kelihatan mulia di luar sementara di mata orang tua kita justru sangat hina,” ungkit ustadz Ahmad.

Dia mengingatkan, kalau doa orang tua untuk anaknya sama dasyatnya dengan doa Nabi kepada umatnya. Bahkan sumpah orang tua saja sangat kramat apalagi doanya. “Jadi, ketika Ibu-ibu menyumpahi anaknya, sumpahilah yang baik-baik. Jangan sampai keluar kata sumpah serapah yang menyesatkan. Karena sumpah Ibu sangat keramat,” ujar Ahmad mengingatkan.

Kenapa orang tua kita sejak di kandungan mempertahankan antara hidup dan mati untuk kelahiran kita. Tetapi hanya sedikit sekali dari kita yang siap mati untuk kemuliaan orang tua kita. “Jihadmu, Ibu untuk melahirkanku. Tetapi aku lupa ketika dewasa bahkan cenderung durhaka,” kata Ahmad dalam pengakuan doa penutupnya.

Dalam kesempatan tersebut, artis sinetron Yulia Rachman menampilkan monolog ‘Kemuliaan Nabi’. Yulia tampil dengan mempesona memakai hijab merah muda yang membalut tubuhnya. Parasnya yang cantik membuat para remaja putra maupun putri terkesima dibuatnya. Yulia memberikan testimonial tentang keteguhannya memakai hijab hingga hidupnya terarah dan selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Kapolres Brebes AKBP Ferdy Sambo SH SIk MHum mengatakan, digelarnya kegiatan Maulud Nabi untuk memberikan sumbangsih peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Trutama  kepada para anggota Polri maupun masyarakat pada umumnya. Menurutnya, Brebes harus diciptakan kondisi yang aman agar masyarakatnya bisa khusuk beribadah.

Kapolres juga memberikan santunan kepada ratusan anak yatim piatu yang diserahkan secara simbolis kepada dua anak yatim piatu. Sementara Ustadz Ahmad Al Habsy membagi-bagikan buku kepada pengunjung yang dengan konsentrasi mengikuti ceramahnya. Sebanyak ratusan buku diberikan kepada pengunjung dan tamu undangan khusus.

Tampak hadir Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE, Wakil Bupati Brebes Narjo beserta pejabat terkait lainnya.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50021-lang,id-c,nasional-t,Ingatlah++Surga+Ada+di+Rumahmu-.phpx

Enam Penyakit Akibat Terlalu Kenyang ( pangkal segala penyakit adalah terlalu kenyang dan pangkal segala obat adalah lapar )

==========
Enam Penyakit Akibat Terlalu Kenyang
=============
Awas jangan terlalu kenyang…! begitulah kira-kira pesan Rasulullah saw bila dibahasakan dalam bentuk lperingatan. sayangnya hadits itu hanya bersifat informatif belaka bahwa “pangkal segala penyakit adalah terlalu kenyang dan pangkal segala obat adalah lapar
أصل كل داء البردة وأصل كل دواء الازمة يعنى الجوع
Iashlu kulli da-in albardatu wa ashlu kulli dawa-in al-azmatu ya’ni al-ju’u
Dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, al-Ghazali menjabarkan bahwa ada enam macam penyakit yang diakibatkan kondisi terlalu kenyang. Sebagian merupakan penyakit fisik dan lainnya adalah penyakit batin. Keenam penyakit itu adalah;
Pertama melunturkan rasa takut kepada Allah swt. orang yang terbiasa dalam kondisi kenyang akan selalu merasa kecukupan dan akan terbersit dalam hatinya bahwa ia tidak membutuhkan orang lain lagi, bahkan secara perlahan juga menyingkirkan Allah swt sebagai Yang Maha Pemberi Rzki. Karena seseungguhnya ia mengira bahwa makanan itu merupakan hasil keringatnya.
Penyakit Kedua merupakan lanjutan dari proses penyakit pertama. Ketika rasa takut kepada-Nya telah tiada, maka seseorang akan bermalas-malasan untuk beribadah.
Penyakit ketiga adalah lenyapnya rasa kasihan terhadap sesama, karena dia mengira semua orang telah kenyang sepertinya. Hatinya begitu dangkal untuk sekedar ikut memahami dan merasakan kondisi orang lain.
Penyakit keempat adalah tertutupnya hati dan telinga dari berbagai macam hikmah dan kebijakan yang datang kepadanya. Sehingga mereka yang dalam kondisi kenyang sangat susah menerima nasehat dan petuah akan kebaikan.
Begitupun sebaliknya, (penyakit kelima) ketika seseorang yang dalam kondisi kenyang memberikan nasehat maupun petuah pastilah nasehat itu akan terbang dibawa angin dan tidak akan berkesan di hati pendengarnya.
Dan penyakit keenam bahwasannya kondisi kenyang akan mengundang penyakit. Mengenai hal ini fenomena merebaknya penyakit diabets, kolesterol, hipertensi dan lain sebagainya adalah bukti nyata dari hadits Rasulullah saw di atas.
Oleh karena itulah, hendaknya manusia mewaspadai kondisi terlalu kenyang. Hal ini yang sedari dulu diajarkan oleh para kyai di pesantren, bahwa berhentilah makan sebelum kenyang.
Karena kondisi kenyang gampang mengundang setan. Rasulullah saw bersabda
إن الشيطان يجرى من ابن أدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع
Innas syaithana yajri min ibni adam majrad dammi, fadhayyiqu majariyahu bilju’i
Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah. Maka persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut. 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,49758-lang,id-c,ubudiyah-t,Enam+Penyakit+Akibat+Terlalu+Kenyang-.phpx

Berpolitik Sambil Memegang Tasbih

==========
Berpolitik Sambil Memegang Tasbih
==============
Keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1952 bukan saja karena tidak mendapatkan jatah kursi dalam Kabinet Wilopo, terutama Menteri Agama yang selama ini menjadi andalan NU. Ada hal lain yang lebih menyakitkan dari itu.
Kira-kira dua tahun sebelumnya, dalam Kongres Masyumi tahun 1949 di Yogyakarta, Muhammad Saleh, Wali Kota Gudeg yang juga tokoh Mayumi menyindir para kiai dengan mengatakan bahwa urusan politik tidak bisa dibicarakan sambil memegang-megang tasbih. Katanya, masalah politik lebih luas dari pada sekeliling pondok pesantren.
Ucapan itu ditanggapi serius oleh para tokoh NU. Bahkan Delegasi NU pada saat itu sontak mengajukan protes dan mendesak ucapan itu ditarik kembali. Karena Muhammad Saleh berkelit, 30-an anggota delegasi NU pun keluar dari ruang Kongres.
Pelecehan terhadap ulama yang mewakili NU pada jabatan politik memang menyakitkan. Para lawan politik NU meremehkan para kiai dan santri yang berpolitik lantaran tidak mengenyam pendidikan formal warisan Belanda. Memang setelah diberlakukan Politik Etis dimana pemerintah kolonial “berpura-pura” memperhatikan pendidikan kaum pribumi, para kiai dan kaum pesantren tetap memerankan diri sebagai pihak oposisi dan lebih memilih jalur pendidikan pesantren.
Puncaknya pada tahun 1952 itu, KH Idham Chalid mengungkapkan kekesalannya atas seseorang berlatarbelakang pendidikan MULO (SLTP) Belanda. Orang tersebut mengataakan, seorang lulusan HIS (SD Belanda) masih unggul ketimbang lulusan Tsanawiyah (setara SLTP).
Di Masyumi sendiri dalam perkembangannya, setelah tahun 1949, kedudukan Majelis Syuro yang diisi oleh para kiai tadinya merupakan badan legislatif partai diubah menjadi sekedar penasihat saja. H Zainul Arifin yang dalam Muktamar NU di Palembang 1 Mei 1952 sebagai terpilih sebagai anggota Dewan Presedium PBNU dan kemudian memimpin Delegasi NU keluar dari Masyumi geram mengatakan: “Majelis syuro yang didominasi ulama NU ibarat cincin permata bagi Masyumi, yang hanya dikenakan jika pergi pesta, dan ketika tidak digunakan pasti disimpan lagi di laci terkunci.”
Orang-orang lulusan sekolah Belanda, termasuk kelompok Islam modernis melecehkan kemampuan para lulusan pesantren. Kelompok Natsir terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya dengan gaya tradisional dari para kiai dengan menyebut kiai “tidak sejalan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.”
Ketika resmi keluar dari Masyumi tahun 1952 itu dan menyiapkan “gerbong politik sendiri” para elit Masyumi gamang. Berbagai propaganda dilontarkan. NU dikatakan sebagai kelompok ekstrim kanan dan memecah-belah persatuan umat Islam.
Namun pada Pemilu 1955 NU tampil percaya diri sebagai perwakilan kelompok muslim tradisional, dan nyatanya suara NU sangat lumayan. NU menjadi salah satu pemenang Pemilu.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,49992-lang,id-c,fragmen-t,Berpolitik+Sambil+Memegang+Tasbih-.phpx

Kata Habib Syech, Tirulah Mbah Ti ( Yang selalu Bersholawat dan ia sering mengisahkan perjumpaannya dengan Rosululloh serta para kekasih Alloh lewat mimpi)

===========
Kata Habib Syech, Tirulah Mbah Ti...!
=====================

Solo, NU Online
Dalam penutupan safari estafet Jamuri yang digelar di Masjid Tegalsari Laweyan, Solo, Kamis (6/2), Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf berpesan kepada jama’ah agar meniru Mbah Ti. “Tirulah Mbah Ti karena beliau adalah seorang yang sangat cinta Rasulullah dan selalu bershalawat” seru Habib Syech.

Mbah Ti adalah nama panggilan kesayangan almarhumah Mbah Nyai Hj. Shofiyah Umar, sesepuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang wafat di Bulan Januari tahun 2009.

“Mbah Ti adalah salah satu penyemangat saya dalam bershalawat, beliau memang sangat luar biasa. Pasti beliau sangat bahagia melihat kita bershalawat seperti saat ini, dan sekali lagi saya berpesan tirulah Mbah Ti,” terang Habib Syech.

Sementara Hidayatul, salah satu santri yang dulu sering sowan kepadanya menuturkan, Mbah Ti memang tak henti melantunkan shalawat dan ia sering mengisahkan perjumpaannya dengan Rasulullah serta para kekasih Allah lewat mimpi dalam tidurnya.

“Sungguh cerita-cerita yang disampaikannya dengan penuh binar kegembiraan itu terasa sangat hidup” terang Hidayatul.
 
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,50023-lang,id-c,daerah-t,Kata+Habib+Syech++Tirulah+Mbah+Ti+-.phpx

Minggu, 02 Februari 2014

URAIAN SINGKAT SEJARAH UMBULAN DAN PDAM KOTA PASURUAN

==============
I. URAIAN SINGKAT SEJARAH UMBULAN

Sumber airUmbulan” baru terungkapkan pada tahun 1915-an, semula tanah dan mata air (sumber) Umbulan dikuasai desa yang menurut hukum pada waktu itu adalah tanah Negara. Oleh karena itu pada tahun-tahun tersebut darah Umbulan cq. Sumbe air dan sekitarnya dikelola oleh “Inlado-Water Bedrijf”. Daerah sumber air terletak di desa Kedung Waru dan Umbulan di Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Dengan luar areal 48.961 m². Sedang debit air sumber berkapasitas lebih dari 5.000 liter / detik. Jarak antara Daerah mata air Umbulan dengan Kota Pasuruan kurang lebih 22 km. Pada tahun 1916-an Pemerintahan di Pasuruan mengusahakan pengelolaan air tawar dari Umbulan tersebut bagi warganya yang banyak pula terdiri orang-orang Europa cq. Belanda.
Berkat usahanya yang maksimal akhirnya di dapat prioritas dari Pemerintah waktu itu untuk menguasai dan mengelola air Umbulan dan mendapatkan hak guna tanah Umbulan. Dan pada akhirnya tahun 1917 didirikan rumah pompa air dengan perlengkapan selanjutnya yang berfungsi memompa air sampai ke Kota Pasuruan dan sekitarnya.
Daerah sumber air Umbulan diserahkan dan akhirnya di kuasai Stang / Gameenli Van Off Pasoeroean, sebab sebagai kota Bandar yang statusnya pelabuhan pada tahun 1926 dengan stb No. 521 tahun 1936 adalah kota penting untuk perdagangan perindustrian apalagi dengan kenyataannya Pasuruan adalah kota Karisidenan pada waktu itu meliputi daerah-daerah Kabupaten Pasuruan, Malang, Probolinggo, sedang Kota Pasuruan pejabatnya cukup dan banyak dari golongan orang-orang Belanda yang berdomisili di Pasuruan.
Kota Pasuruan sendiri diresmikan sebagai Stade/Gemeente Van Pasoeroean pada tanggal 1 Juli 1918 (stbl. 1918 No. 320). Mengapa daerah sumber air Umbulan tersebut diatas diserahkan dan akhirnaya dikuasai Stads/Gmeeente van Pasoeroean adalah karena Pemerintah Belanda pada waktu itu berpendpaat bahwa Kota Pasuruan sebagai kota bandar yang status pelabuhannya ditetapkan pada tahun 1926 dengan stbl 521 tahun 1926 adalah kota yang penting untung perdagangan, perindustrian (bahan-bahan baku antara lain : gula) apalagi dengan adanya kenyataan bahwa Pasuruan adalah Kota Karisidenan yang pada waktu itu meliputi daerah-daerah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Kraksaan.
Karena dalam kota Pasuruan pejabat-pejabatnya cukup banyak terdapat pejabat-pejabat golongan orang-orang Belanda. Oleh karena itu walaupun lokasi sumber air tersebut terletak di desa Kedungwaru dan Umbulan Kecamatan Winongan di daerah Kabupaten Pasuruan, maka akhirnya diserahkannyalah pengelolaan atas pemanfaatan tanah dan sarana air itu kepada Gemeente Van Pasoeroean yang direalisir pada tahun 1940.
Tetapi karena suatu Pemerintahan pada akhirnya memerlukan income, dan dipandang debit air serta penggunaannya masih memungkinkan untuk menggali income, maka selnjutnya Pemerintah Kota (Stads-Gemeente) pada wakti itu menetapkan pendirian Perusaaan Saluran Air Minum (SAM). Dengan demikian pada hakikatnya sumber air di Umbulan dimanfaatkan untuk kepentingan masayarakat Kota Pasuruan dan sekitarnya.
Tujuan memanfaatkan air dari Umbulan untuk masyarakat, pertama-tama ditujukan pada daerah pinggiran utara atau daerah pantai Pasuruan. Karena di daerah itu sukar didapatkan air tawar, air bersih yang sehat. Pemerintah Belanda berpendapat, bahwa dengan demikian akan menjaga kesehatan orang-orang pribumi, dan dengan sehatnya pribumi akan berarti suatu tindakan preventif untuk kesehatan dan kesejahteraan “Europeanen” atau orang-orang Belanda yang berdomisili di Kota Pasuruan, yang bekerja di pabrik-pabrik Industri gula disekitar Kota Pasuruan, di kantor-kantor dan terutama dengan adanya Balai Penyelidikan Gula yang dulu disebut “Proef Station” Cort Java yang terkenal di dunia dan terletak pula di Kota Pasuruan.
Kembali pada usaha Pemerintah Pusat Belanda cq. Gouvermeent Nederlandee Indie pad Pemerintah Daerah Belanda (Stads/Gemeente Pasoeroean) dijelasakan bahwa pengoperan atau pemindahan hak atas tanah dan sumber air di Umbulan itu Pemerintah Kota Pasuruan wakti itu diwajibkan mengganti rugi sebesar 178.600 (seratus tujuh puluh delapan ribu enam ratus golden). Kemudian pada jaman Pemerintahan Jepang dimana waktu itu adalah masa perat darurat, administrasi diabaikan, maka pada akhirnya arsip dan data-data autentik penguasaan tanah Umbulan serta sumber airnya menjadi “gelap”/ kabur. Untuk ini bagi Pemerintah Jepang kurang penting, yang penting bagi Jepang adalah ushaa menang untuk perang asia timur raya. Administrasi soal yang sekunder.
Setelah Pemerintahan Jepang jatuh pada tahun 1945, penguasaan Umbulan dan mata air-nya beralih kepada Pemerintah Daerah Darurat berdasarkan UU Nomor 22/48, kemudian pada tahun 1952 diambil alih Pemerintah Kota Pasuruandi bawah supervisi Kabupaten Pasuruan. Dengan adanya penetapan Kota Pasuruan sebagai Kota yang berdiri sendiri dan waktu itu Pemerintah Kota Pasuruan dipegang oleh Walikota yang dibantu oleh suatu pelaksana yang disebut Dewan Pemerintah Daerah Sementara / DPDS, yang bertanggung jawab secara kolektif, maka pada tahun 1955 dengan lembaran kota nomor 43/1955 tertanggal 15 Oktober 1955 DPDS mengajukan masalah usul kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara Kota Pasuruan agar DPDS diberikan kuasa untuk mengurus Hak atas tanah di komplek Perusahaan Saluran Air Minum (SAM) di desa Umbulan dan desa Kedungwaru Kecamatan Winongan Kabuapaten Pasuruan, agar jelas statusnya dan kedudukan hukumnya, karena sejak Pemerintah Jepang masalah itu tidak jelas lagi, malah sudah hilang.
Kemudian setelah itu Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Kota Pasuruan dalam sidang plenonya telah mengambil keputusan memberikan kuasa kepada Dewan Pemerintah Daerah Sementara Kota Pasuruan (mengajukan permohonan) untuk hak kuasa yang berwajib atas sebidang tanah negara (kompleks tanah Perusahaan Saluran Air Minum Kota Pasuruan) luas 48.961 m², terletak di desa Umbulan dan desa Kedungwaru Kecamatan Winongan Kawedanan Keboncandi di daerah Kabupaten Pasuruan.
Sekian kali dan sekian lama Pemerintah Daerah Pasuruan mengusahakan dan mendesak kepada pihak yang berwenang untuk penjernihan status tanah komplek Perusahaan Saluran Air Minum tersebut ternyata sampai tahun 1968, tanah tersebut berubah dan dikuasai kembali oleh Pemerintah Pusat, terbukti dengan diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur tertanggal 31 Desember 1968 No. Pem/64 yang menetapkan pembayaran retribusi pemakaian air dari Umbulan kepada Dinas Pengairan Propinsi Jawa Timur.
Dalam hal mengusahakan penjernihan masalah status tanah Umbulan dan sumber airnya ini, terutama karena terkandung hajat untuk kepentingan masyarakat, yang lebih dari 40% berdomisili di pesisir utara (pinggiran kota sebelah utara) yang sangat memerlukan air bersih air tawar yang sehat., karena air dari sumber daerah itu asin, maka Pemerintah Kotamadya Pasuruan pada tahun 1972 dengan surat Walikota Kepala Daerah Kotamadya Pasuruan tanggal 11 Maret 1972 No. A.780/16/AA mendesak kepada Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur untuk mendapatkan hak pakai atas tanah SAM di desa Kedungwaru dan Umbulan tersebut. Dan dengan Surat Keputusan tertanggal 28 September 1972 No. DA./02/SK/M1/Peng/72 usaha Pemerintah Daerah dikabulkan oleh Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur. Sehingga sejak tanggal 28 September 1972 tanah dengan sumber air yang berlokasi di desa Umbulan dan Kedungwaru hak pakainya berada pada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Pasuruan.

II. SEJARAH SINGKAT PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA PASURUAN.
Dengan berkembangnya tata kehidupan masyarakat, meningkat pula kebutuhan yang harus dipenuhi, demikian juga untuk wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan ini kebutuhan adanya air bersih semakin meningkat, sehingga pengadaan air yang selama ini ditangani oleh Unit Saluran Air Minum Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan perlu untuk ditingkatkan baik kemampuan produksi maupun sistem distribusinya, dan selain itu perlu adanya penambahan modal yang tidak sedikit, dan juga perlu adanya suatu sistem organisasi dan tata kerja yang sesuai dengan kebutuhan saat itu, sehingga Unit Saluran Air Minum Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan dapat berkembang sendiri tidak tergantung pada APBD saja, maka diterbitkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan Nomor 2 tahun 1982 tentang Perusahaan Daerah Air Minum Kotamadya Daerah Daerah Tingkat II Pasuruan. Dengan Peraturan Daerah ini didirikan suatu Perusahaan Daerah Air Minum Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan yang selanjutnya di sebut Perusahaan Daerah. Dengan pembetukan perusahaan daerah ini, semua perlengkapan dan kekayaan Unit Saluran Air Minum (SAM) Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan beralih menjadi menjadi kekayaan Perusahaan Daerah.
Bahwa perubahan kondisi perekonomian dan dengan perkembangan jaman/ pelaksanaan otonomi di daerah, Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan Nomor 2 tahun 1982 tentang Pendirian Perusahaan Daerah Air Minum Kotamadya Daerah Tingkat II Pasuruan tidak sesuai dan sejalan lagi dengan keadaan sekarang, khususnya menyangkut masalah-masalah Direksi dan Badan Pengawas maka diterbitkannya Peraturan Daerah Kota Pasuruan Nomor 16 Tahun 2003 tentang Perusahaan Daerah Air Minum.

sumber:http://pdampasuruan.com/profil/sejarah/

Sastra Perbandingan (Cerita Terjadinya Rawa Pening Dan Danau Ranu Grati )

===========


Perbandingan Cerita Terjadinya Rawa Pening dengan Terjadinya Danau Ranu Grati
A.    Ringkasan Cerita Terjadinya Rawa Pening
Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis bernama Endang Sawitri. Penduduk desa tidak seorangpun yang tahu kalau Endang Sawitri punya suami, namun ia bisa hamil. Tak lama kemudian ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk karena yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor naga. Anehnya naga itu bisa berbicara seperti halnya manusia. Naga itu diberi nama
Baru Klinting.
Di usia remaja, Baru Klinting bertanya kepada ibunya. “Bu, apakah saya ini juga mempunyai ayah? Siapa ayah saya sebenarnya?” Ibunya menjawab, “Ayahmu seorang raja yang saat ini sedang bertapa di gua di lereng gunung Telomoyo. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui ayahmu. Saya ijinkan kamu ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu”. Kemudian dengan senang hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan ayahnya, Ki Hajar Salokantara.
Sampai di pertapaan, Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya benar, saya Ki Hajar Salokantara”. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuanya yang sudah lama ia cari-cari. Baru Klinthing berkata “Aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar”. Ki Hajar menjawab, “Ya benar, dengan bukti klintingan itu, kamu adalah anakku. Namun aku perlu bukti satu lagi. Kalau memang kamu benar anakku, coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini. Kalau bisa, kamu benar-benar anakku”. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan di lereng gunung.
Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu, rakyat beramai-ramai mencari hewan buruan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor naga besar yang sedang bertapa dan langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta.
Ditengah-tengah acara pesta, datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting yang ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak itu seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua itu ia berpesan, “Nek, kalau nanti nenek mendengar suara kentongan, nenek harus naik ke lesung agar selamat!”. Sang nenek menuruti saran anak itu.
Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dalam kemurkaannya, ia menancapkan sebatang lidi ke tanah dengan kekuatannya. Ia bersumpah, bahwa tidak ada seorangpun yang sanggup mencabut batang lidi tersebut selain dirinya. Penasaran akan perkataannya tersebut, anak-anak pun berlomba-lomba mencabut lidi tersebut. Satu persatu anak-anak mencobanya, namun tiada seorang pun yang berhasil mencabut lidi itu. Ketika anak-anak menyerah, giliran orang dewasa yang mencoba. Banyak orang dewasa yang bertubuh besar dan kuat mencoba mencabutnya, namun lidi tersebut tidak bisa dicabut sama sekali.
Dalam keputusasaannya, orang-orang desa menantang Baru Klinting untuk mencabut lidi tersebut. Ternyata Baru Klinting dapat dengan mudah mencabut lidi tersebut. Namun, dari bekas lubang tancapan lidi tersebut, keluarlah air yang pertama-tama kecil namun lama kelamaan menjadi besar dan deras. Pendudukpun panik dan berlarian menyelamatkan diri. Kentunganpun dibunyikan sebagai tanda datangnya bahaya. Sang nenek yang saat itu sedang menumbuk padi di atas lesung mendengar bunyi kentungan. Sang nenek pun segera naik ke atas lesung. Air bah tersebut segera merendam seluruh desa dan penduduknya yang sombong. Tiada yang selamat selain sang nenek dari desa tersebut. Semua desa menjadi rawa-rawa. Karena airnya sangat bening, maka diberi nama Rawa Pening.
B.     Ringkasan Cerita Terjadinya Danau Ranu Grati.
Desa Ranu Grati adalah desa yang aman, tentram dan sejahtera. Tetapi setelah desa itu dipimpin oleh Demang Klindungan, suasana desa berubah menjadi ketakutan, kemiskinan, dan kesengsaraan, karena Demang Klindungan adalah seorang lelaki yang sangat kejam dan bertindak semena-mena terhadap rakyatnya. Selain itu, ia juga mendirikan tempat-tempat maksiat seperti kedai minuman keras, tempat perjudian dan pelacuran. Wargapun semakin resah.
Suatu hari, desa tersebut kedatangan pemuda yang sakti mandraguna bernama Umbaran. Di desa tersebut, dia tinggal di salah satu rumah warga yang bernama Pak Wangsa. Dia diangkat sebagai anak angkat oleh Pak Wangsa. Umbaran merasa prihatin melihat keadaan desa Ranu Grati. Dia meminta ijin kepada Pak Wangsa untuk memperbaiki keadaan desa tersebut. Pak Wangsa pun mengijinkan.
Untuk melawan demang Klindungan, dibutuhkan keberanian dan pasukan yang besar. Umbaran menyarankan kepada masyarakat Ranu Grati agar hijrah dari desa tersebut. Satu persatu masyarakat desa tersebut pindah ke tempat desa yang baru secara diam-diam, sehingga demang Klindungan tidak tahu kalau rakyatnya telah pergi. Hingga pada suatu saat, anak buah dari Demang Klindungan melapor kepadanya bahwa saat akan memungut upeti dari para warga, rumah-rumah warga sudah banyak yang tidak berpenghuni lagi. Demang Klindungan sangat marah, karena akibat tidak bisa memungut upeti dari warga, demang Klindungan menjadi merugi seratus pikulan padi.
Sementara itu, para warga desa Ranu Grati memberi nama desa baru mereka dengan nama desa  Ranu Anyar. Pak Wangsa diangkat sebagai kepala desa Ranu Anyar. Kehidupan rakyat desa Ranu Anyar menjadi aman, tenteram dan sejahtera. Suatu hari, Umbaran berniat untuk melanjutkan pengembaraannya menuju bukit Grati. Di bukit ini, Umbaran bertemu dengan pemuda tampan, namun kulitnya bersisik yang bernama Jaka Baru. Jaka Baru mengajak Umbaran ke tempat tinggalnya yang berada di lereng bukit. Jaka Baru sebenarnya adalah anak dari Lurah Desa Ranu Grati yag diusir oleh Demang Klindungan dan teman-temannya. Suatu hari, Jaka Baru mimpi bertemu dengan seorang kakek yang mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah jelmaan dari seekor naga sakti. Ia harus tinggal di Bukit Grati dan melenyapkan angkara murka di sana.
Karena Jaka Baru akan berubah menjadi naga, ia mewariskan seluruh ilmunya kepada Umbaran. Dalam waktu sepekan, seluruh ilmu Jaka Baru telah diwariskan kepada Umbaran. Jaka Baru menyuruh Umbaran agar kembali ke Desa Ranu Grati untuk mengajak seluruh penduduk desa tersebut agar pindah ke desa Ranu Anyar karena akan terjadi bencana di desa Ranu Grati dalam waktu empat puluh hari lagi.
Dalam waktu dua minggu, seluruh penduduk Ranu Grati telah benar-benar pindah ke desa Ranu Anyar. Ki Demang Klindungan menjadi tambah gelisah. Apalagi saat ini tengah mempersiapkan pesta pernikahan untuk putrinya. Ia membutuhkan banyak daging dari hewan ternak. Kemudian Ki demang menyuruh anak buahnya untuk mencari hewan buruan di hutan Ranu Grati. Namun di hutan ini pun anak buah ki demang tidak menemukan hewan buruan karena hutanpun seakan mati akibat sering diburu oleh manusia. Di hutan ini anak buah ki demang kelelahan, kemudian mereka beristirahat di bawah pohon yang sangat besar. Salah satu anak buah ki demang menancapkan pisaunya di batang pohon tersebut. Tiba-tiba batang pohon tersebut berdarah. Ternyata batang pohon yang mereka sandari tersebut adalah tubuh seekor ular naga yang sangat besar.
Demang Klindungan mendapatkan ide. Ia menyuruh anak buahnya agar memotong-motong daging ular naga tersebut untuk dijadikan sebagai pengganti daging ternak yang mereka butuhkan. Ternyata daging ular tersebut sangat banyak sehingga mereka harus menggunakan pedati untuk membawanya pulang.
Tibalah saatnya pesta pernikahan yang meriah itu. Ki demang mengundang para pejabat dan orang-orang kaya untuk menghadiri pestanya. Tiba-tiba ditengah keramaian pesta, muncul seorang pemuda tak dikenal. Ia datang untuk meminta daging, tetapi tidak ada yang mau memberinya. Akhirnya pemuda itu mengambil paksa daging yang telah dimasak. Dimasukkannya daging-daging tersebut kedalam karung dan dibawa menggunakan pedati. Para pengawal ki Demang segera mengejarnya sampai mereka pergi ke batas desa. Pemuda yang mereka kejar adalah Jaka Baru.
Para pengawal meminta kembali daging dari pemuda itu, tetapi Jaka Baru menolak. Kemudian Jaka Baru menancapkan sebatang tongkat ke dinding sebuah batu besar. Jaka Baru menantang, jika para pengawal mampu mencabut tongkat tersebut, maka ia akan menyerahkan kembali daging yang ia curi. Tetapi jika para pengawal tidak bisa mencabutnya, mereka harus menambah jumlah daging yang ada di pedatinya.
Ki Demang dan para pengawalnya tidak ada yang mampu mencabut tongkat tersebut. Tibalah saatnya Jaka Baru untuk mencabut tongkat tersebut. Dia dapat mencabut tongkat tersebut dengan mudah. Kemudian dari lubang bekas tongkat tersebut menancap, muncullah air yang semakin lama semakin deras membajiri desa tersebut. Ki Demang dan para pegikutnya tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya mereka tenggelam. Genangan air itupun berubah menjadi telaga yang diberi nama Telaga Ranu Grati.
C.    Kajian Perbandingan Kedua Cerita Di Atas.
a.       Analisis kedua cerita.
Analisis kedua cerita diatas menggunakan teori polygenesis disebabkan adanya penemuan-penemuan sendiri (independent invention) atau sejajar (parallel invention) dari motif-motif cerita yang sama, di tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan maupun bersamaan. Selain itu, kedua cerita di atas merupakan local culture dari masing-masing daerah, yaitu cerita Rawa Pening dari daerah Jawa Tengah dan cerita Danau Ranu Grati dari daerah Jawa Timur.
b.      Pemeriksaan segi tematik teks.
Dilihat dari segi tema, kedua cerita di atas mempunyai tema yang hampir sama yaitu tentang perjuangan hidup seseorang. Persamaan motif dari kedua cerita diatas adalah bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan, namun untuk mendapatkan semua itu diperlukan usaha dan pengorbanan. Selain itu, kedua cerita di atas sama-sama menceritakan tentang asal-usul terjadinya suatu daerah.
c.       Pemeriksaan asal usul teks.
Kedua cerita diatas berasal dari dua daerah yang berbeda. Cerita Terjadinya Rawa Pening berasal dari daerah Ambarawa, Jawa Tengah. Reproduksi cerita ini adalah lisan à tulis à lisan à tulis. Cerita ini adalah legenda/mitos masyarakat setempat, sehingga tidak diketahui dengan pasti siapa yang pertama kali mengarang cerita ini (anonim), karena hanya merupakan legenda/mitos masyarakat setempat.
Cerita Terjadinya Danau Ranu Grati berasal dari daerah Pasuruan, Jawa Timur. Dilihat dari segi reproduksi teks, cerita ini hampir sama dengan legenda Rawa Pening yaitu lisan à tulis à lisan à tulis. Pengarang cerita ini juga tidak diketahui secara pasti. Waktu terjadinya kedua cerita ini pun tidak diketahui secara pasti, karena hanya merupakan legenda/mitos masyarakat setempat.
d.      Pemeriksaan Generik Teks.
Ditinjau dari segi jenisnya, kedua cerita ini berjenis cerita legenda. Hal ini dapat dilihat dari jalan ceritanya yang mengisahkan tentang terjadinya suatu tempat. Kedua cerita ini juga sangat dekat persamaan ceritanya yaitu pada bagian adanya ular besar yang menjelma menjadi manusia, masyarakat desa yang berpesta dengan daging ular, dan ending yang sama-sama menancapkan lidi/tongkat, kemudian mencabutnya. Dari lubang bekas tongkat/lidi tersebut keluar air yang tidak henti-hentinya sehingga menimbulkan genangan sehingga terciptalah sebuah telaga/rawa.
e.       Pemeriksaan Segi Kesejajaran Teks.
Kesejajaran kedua cerita di atas dapat dilihat dari struktur obyektifnya, diantaranya judul kedua cerita diatas yang hampir sama yaitu Terjadinya Rawa Pening dan Terjadinya Danau Ranu Grati. Tema kedua cerita diatas juga hampir sama yaitu tentang perjuangan hidup seseorang. Kedua cerita di atas sama-sama menggunakan alur maju. Untuk tokoh, kedua cerita menggunakan tokoh protagonis dan antagonis. Untuk perwatakan, tokoh protagonis mempunyai watak penyabar, sedangkan untuk tokoh antagonisnya bersifat sombong, egois, dan serakah. Sudut pandang kedua cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Untuk settingnya sama-sama di sebuah pedesaan, yang satu di Jawa Tengah dan yang satunya lagi di Jawa Timur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel pemeriksaan segi kesejajaran teks:
No.
Struktur Obyektif
Cerita Terjadinya Rawa Pening
Cerita Terjadinya Danau Ranu Grati
1.
Judul
Terjadinya Rawa Pening
Terjadinya Danau Ranu Grati
2.
Tema
Perjuangan hidup seseorang
Perjuangan hidup seseorang
3.
Alur
Maju
Maju
4.
Tokoh:
-Baru Klinthing, Endang Sawitri, Ki Hajar Salokantara.
-Jaka Baru, Umbaran, Pak Wangsa.
-protagonis
-antagonis
Penduduk desa Pathok.
-Ki Demang Klindugan dan anak buahnya.
5.
Perwatakan
-penyabar.
-sombong, serakah.
-penyabar, pandai.
- sombong, serakah.
-protagonis
-antagonis
6.
Setting
-sebuah pedesaan di Jawa Tengah (Desa Ngasem).
-sebuah pedesaan di Jawa Timur (Desa Ranu Grati).
7.
Sudut Pandang
Orang pertama pelaku utama.
Orang pertama pelaku utama.
D.    Kesimpulan.
Dari urain diatas, maka dapat disimpulkan bahwa antara cerita Terjadinya Rawa Pening dengan cerita Terjadinya Danau Ranu Grati terdapat banyak persamaan. Persamaan tersebut antara lain terdapat pada tema, alur dan setting. Kedua cerita di atas juga menceritakan tentang legenda terjadinya sebuah tempat. Sehingga layak untuk diperbandingkan.
Daftar Pustaka
Soekardi, yuliadi dkk. 2007. Ikhtisar Legenda Nusantara (Cerita Rakyat Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali). Bandung: CV. Pustaka Setia.
Wijayanti, Daru. 2010. Cerita Rakyat Indonesia Super Lengkap 33 Propinsi. Jakarta: New Diglosia.
 
sumber:http://jawaampuh.blogspot.com/2012/01/sastra-perbandingan-2.html