ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 02 Februari 2014

Sastra Perbandingan (Cerita Terjadinya Rawa Pening Dan Danau Ranu Grati )

===========


Perbandingan Cerita Terjadinya Rawa Pening dengan Terjadinya Danau Ranu Grati
A.    Ringkasan Cerita Terjadinya Rawa Pening
Pada zaman dahulu di desa Ngasem hidup seorang gadis bernama Endang Sawitri. Penduduk desa tidak seorangpun yang tahu kalau Endang Sawitri punya suami, namun ia bisa hamil. Tak lama kemudian ia melahirkan dan sangat mengejutkan penduduk karena yang dilahirkan bukan seorang bayi melainkan seekor naga. Anehnya naga itu bisa berbicara seperti halnya manusia. Naga itu diberi nama
Baru Klinting.
Di usia remaja, Baru Klinting bertanya kepada ibunya. “Bu, apakah saya ini juga mempunyai ayah? Siapa ayah saya sebenarnya?” Ibunya menjawab, “Ayahmu seorang raja yang saat ini sedang bertapa di gua di lereng gunung Telomoyo. Kamu sudah waktunya mencari dan menemui ayahmu. Saya ijinkan kamu ke sana dan bawalah klintingan ini sebagai bukti peninggalan ayahmu dulu”. Kemudian dengan senang hati Baru Klinting berangkat ke pertapaan ayahnya, Ki Hajar Salokantara.
Sampai di pertapaan, Baru Klinting masuk ke gua dengan hormat di depan Ki Hajar dan bertanya, “Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara?” Kemudian Ki Hajar menjawab, “Ya benar, saya Ki Hajar Salokantara”. Dengan sembah sujud di hadapan Ki Hajar, Baru Klinting mengatakan berarti Ki Hajar adalah orang tuanya yang sudah lama ia cari-cari. Baru Klinthing berkata “Aku anak dari Endang Sawitri dari desa Ngasem dan ini klintingan yang konon kata ibu peninggalan Ki Hajar”. Ki Hajar menjawab, “Ya benar, dengan bukti klintingan itu, kamu adalah anakku. Namun aku perlu bukti satu lagi. Kalau memang kamu benar anakku, coba kamu melingkari gunung Telomoyo ini. Kalau bisa, kamu benar-benar anakku”. Ternyata Baru Klinting bisa melingkarinya dan Ki Hajar mengakui kalau ia benar anaknya. Ki Hajar kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bertapa di dalam hutan di lereng gunung.
Suatu hari penduduk desa Pathok mau mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen usai. Mereka akan mengadakan pertunjukkan berbagai macam tarian. Untuk memeriahkan pesta itu, rakyat beramai-ramai mencari hewan buruan, namun tidak mendapatkan seekor hewan pun. Akhirnya mereka menemukan seekor naga besar yang sedang bertapa dan langsung dipotong-potong, dagingnya dibawa pulang untuk pesta.
Ditengah-tengah acara pesta, datanglah seorang anak jelmaan Baru Klinting yang ikut dalam keramaian itu dan ingin menikmati hidangan. Dengan sikap acuh dan sinis mereka mengusir anak itu dari pesta dengan paksa karena dianggap pengemis yang menjijikkan dan memalukan. Dengan sakit hati anak itu pergi meninggalkan pesta. Ia bertemu dengan seorang nenek janda tua yang baik hati. Diajaknya mampir ke rumahnya. Janda tua itu memperlakukan anak itu seperti tamu dihormati dan disiapkan hidangan. Di rumah janda tua itu ia berpesan, “Nek, kalau nanti nenek mendengar suara kentongan, nenek harus naik ke lesung agar selamat!”. Sang nenek menuruti saran anak itu.
Sesaat kemudian anak itu kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta yang diadakan oleh penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima anak itu, bahkan ditendang agar pergi dari tempat pesta itu. Dalam kemurkaannya, ia menancapkan sebatang lidi ke tanah dengan kekuatannya. Ia bersumpah, bahwa tidak ada seorangpun yang sanggup mencabut batang lidi tersebut selain dirinya. Penasaran akan perkataannya tersebut, anak-anak pun berlomba-lomba mencabut lidi tersebut. Satu persatu anak-anak mencobanya, namun tiada seorang pun yang berhasil mencabut lidi itu. Ketika anak-anak menyerah, giliran orang dewasa yang mencoba. Banyak orang dewasa yang bertubuh besar dan kuat mencoba mencabutnya, namun lidi tersebut tidak bisa dicabut sama sekali.
Dalam keputusasaannya, orang-orang desa menantang Baru Klinting untuk mencabut lidi tersebut. Ternyata Baru Klinting dapat dengan mudah mencabut lidi tersebut. Namun, dari bekas lubang tancapan lidi tersebut, keluarlah air yang pertama-tama kecil namun lama kelamaan menjadi besar dan deras. Pendudukpun panik dan berlarian menyelamatkan diri. Kentunganpun dibunyikan sebagai tanda datangnya bahaya. Sang nenek yang saat itu sedang menumbuk padi di atas lesung mendengar bunyi kentungan. Sang nenek pun segera naik ke atas lesung. Air bah tersebut segera merendam seluruh desa dan penduduknya yang sombong. Tiada yang selamat selain sang nenek dari desa tersebut. Semua desa menjadi rawa-rawa. Karena airnya sangat bening, maka diberi nama Rawa Pening.
B.     Ringkasan Cerita Terjadinya Danau Ranu Grati.
Desa Ranu Grati adalah desa yang aman, tentram dan sejahtera. Tetapi setelah desa itu dipimpin oleh Demang Klindungan, suasana desa berubah menjadi ketakutan, kemiskinan, dan kesengsaraan, karena Demang Klindungan adalah seorang lelaki yang sangat kejam dan bertindak semena-mena terhadap rakyatnya. Selain itu, ia juga mendirikan tempat-tempat maksiat seperti kedai minuman keras, tempat perjudian dan pelacuran. Wargapun semakin resah.
Suatu hari, desa tersebut kedatangan pemuda yang sakti mandraguna bernama Umbaran. Di desa tersebut, dia tinggal di salah satu rumah warga yang bernama Pak Wangsa. Dia diangkat sebagai anak angkat oleh Pak Wangsa. Umbaran merasa prihatin melihat keadaan desa Ranu Grati. Dia meminta ijin kepada Pak Wangsa untuk memperbaiki keadaan desa tersebut. Pak Wangsa pun mengijinkan.
Untuk melawan demang Klindungan, dibutuhkan keberanian dan pasukan yang besar. Umbaran menyarankan kepada masyarakat Ranu Grati agar hijrah dari desa tersebut. Satu persatu masyarakat desa tersebut pindah ke tempat desa yang baru secara diam-diam, sehingga demang Klindungan tidak tahu kalau rakyatnya telah pergi. Hingga pada suatu saat, anak buah dari Demang Klindungan melapor kepadanya bahwa saat akan memungut upeti dari para warga, rumah-rumah warga sudah banyak yang tidak berpenghuni lagi. Demang Klindungan sangat marah, karena akibat tidak bisa memungut upeti dari warga, demang Klindungan menjadi merugi seratus pikulan padi.
Sementara itu, para warga desa Ranu Grati memberi nama desa baru mereka dengan nama desa  Ranu Anyar. Pak Wangsa diangkat sebagai kepala desa Ranu Anyar. Kehidupan rakyat desa Ranu Anyar menjadi aman, tenteram dan sejahtera. Suatu hari, Umbaran berniat untuk melanjutkan pengembaraannya menuju bukit Grati. Di bukit ini, Umbaran bertemu dengan pemuda tampan, namun kulitnya bersisik yang bernama Jaka Baru. Jaka Baru mengajak Umbaran ke tempat tinggalnya yang berada di lereng bukit. Jaka Baru sebenarnya adalah anak dari Lurah Desa Ranu Grati yag diusir oleh Demang Klindungan dan teman-temannya. Suatu hari, Jaka Baru mimpi bertemu dengan seorang kakek yang mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah jelmaan dari seekor naga sakti. Ia harus tinggal di Bukit Grati dan melenyapkan angkara murka di sana.
Karena Jaka Baru akan berubah menjadi naga, ia mewariskan seluruh ilmunya kepada Umbaran. Dalam waktu sepekan, seluruh ilmu Jaka Baru telah diwariskan kepada Umbaran. Jaka Baru menyuruh Umbaran agar kembali ke Desa Ranu Grati untuk mengajak seluruh penduduk desa tersebut agar pindah ke desa Ranu Anyar karena akan terjadi bencana di desa Ranu Grati dalam waktu empat puluh hari lagi.
Dalam waktu dua minggu, seluruh penduduk Ranu Grati telah benar-benar pindah ke desa Ranu Anyar. Ki Demang Klindungan menjadi tambah gelisah. Apalagi saat ini tengah mempersiapkan pesta pernikahan untuk putrinya. Ia membutuhkan banyak daging dari hewan ternak. Kemudian Ki demang menyuruh anak buahnya untuk mencari hewan buruan di hutan Ranu Grati. Namun di hutan ini pun anak buah ki demang tidak menemukan hewan buruan karena hutanpun seakan mati akibat sering diburu oleh manusia. Di hutan ini anak buah ki demang kelelahan, kemudian mereka beristirahat di bawah pohon yang sangat besar. Salah satu anak buah ki demang menancapkan pisaunya di batang pohon tersebut. Tiba-tiba batang pohon tersebut berdarah. Ternyata batang pohon yang mereka sandari tersebut adalah tubuh seekor ular naga yang sangat besar.
Demang Klindungan mendapatkan ide. Ia menyuruh anak buahnya agar memotong-motong daging ular naga tersebut untuk dijadikan sebagai pengganti daging ternak yang mereka butuhkan. Ternyata daging ular tersebut sangat banyak sehingga mereka harus menggunakan pedati untuk membawanya pulang.
Tibalah saatnya pesta pernikahan yang meriah itu. Ki demang mengundang para pejabat dan orang-orang kaya untuk menghadiri pestanya. Tiba-tiba ditengah keramaian pesta, muncul seorang pemuda tak dikenal. Ia datang untuk meminta daging, tetapi tidak ada yang mau memberinya. Akhirnya pemuda itu mengambil paksa daging yang telah dimasak. Dimasukkannya daging-daging tersebut kedalam karung dan dibawa menggunakan pedati. Para pengawal ki Demang segera mengejarnya sampai mereka pergi ke batas desa. Pemuda yang mereka kejar adalah Jaka Baru.
Para pengawal meminta kembali daging dari pemuda itu, tetapi Jaka Baru menolak. Kemudian Jaka Baru menancapkan sebatang tongkat ke dinding sebuah batu besar. Jaka Baru menantang, jika para pengawal mampu mencabut tongkat tersebut, maka ia akan menyerahkan kembali daging yang ia curi. Tetapi jika para pengawal tidak bisa mencabutnya, mereka harus menambah jumlah daging yang ada di pedatinya.
Ki Demang dan para pengawalnya tidak ada yang mampu mencabut tongkat tersebut. Tibalah saatnya Jaka Baru untuk mencabut tongkat tersebut. Dia dapat mencabut tongkat tersebut dengan mudah. Kemudian dari lubang bekas tongkat tersebut menancap, muncullah air yang semakin lama semakin deras membajiri desa tersebut. Ki Demang dan para pegikutnya tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya mereka tenggelam. Genangan air itupun berubah menjadi telaga yang diberi nama Telaga Ranu Grati.
C.    Kajian Perbandingan Kedua Cerita Di Atas.
a.       Analisis kedua cerita.
Analisis kedua cerita diatas menggunakan teori polygenesis disebabkan adanya penemuan-penemuan sendiri (independent invention) atau sejajar (parallel invention) dari motif-motif cerita yang sama, di tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan maupun bersamaan. Selain itu, kedua cerita di atas merupakan local culture dari masing-masing daerah, yaitu cerita Rawa Pening dari daerah Jawa Tengah dan cerita Danau Ranu Grati dari daerah Jawa Timur.
b.      Pemeriksaan segi tematik teks.
Dilihat dari segi tema, kedua cerita di atas mempunyai tema yang hampir sama yaitu tentang perjuangan hidup seseorang. Persamaan motif dari kedua cerita diatas adalah bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan, namun untuk mendapatkan semua itu diperlukan usaha dan pengorbanan. Selain itu, kedua cerita di atas sama-sama menceritakan tentang asal-usul terjadinya suatu daerah.
c.       Pemeriksaan asal usul teks.
Kedua cerita diatas berasal dari dua daerah yang berbeda. Cerita Terjadinya Rawa Pening berasal dari daerah Ambarawa, Jawa Tengah. Reproduksi cerita ini adalah lisan à tulis à lisan à tulis. Cerita ini adalah legenda/mitos masyarakat setempat, sehingga tidak diketahui dengan pasti siapa yang pertama kali mengarang cerita ini (anonim), karena hanya merupakan legenda/mitos masyarakat setempat.
Cerita Terjadinya Danau Ranu Grati berasal dari daerah Pasuruan, Jawa Timur. Dilihat dari segi reproduksi teks, cerita ini hampir sama dengan legenda Rawa Pening yaitu lisan à tulis à lisan à tulis. Pengarang cerita ini juga tidak diketahui secara pasti. Waktu terjadinya kedua cerita ini pun tidak diketahui secara pasti, karena hanya merupakan legenda/mitos masyarakat setempat.
d.      Pemeriksaan Generik Teks.
Ditinjau dari segi jenisnya, kedua cerita ini berjenis cerita legenda. Hal ini dapat dilihat dari jalan ceritanya yang mengisahkan tentang terjadinya suatu tempat. Kedua cerita ini juga sangat dekat persamaan ceritanya yaitu pada bagian adanya ular besar yang menjelma menjadi manusia, masyarakat desa yang berpesta dengan daging ular, dan ending yang sama-sama menancapkan lidi/tongkat, kemudian mencabutnya. Dari lubang bekas tongkat/lidi tersebut keluar air yang tidak henti-hentinya sehingga menimbulkan genangan sehingga terciptalah sebuah telaga/rawa.
e.       Pemeriksaan Segi Kesejajaran Teks.
Kesejajaran kedua cerita di atas dapat dilihat dari struktur obyektifnya, diantaranya judul kedua cerita diatas yang hampir sama yaitu Terjadinya Rawa Pening dan Terjadinya Danau Ranu Grati. Tema kedua cerita diatas juga hampir sama yaitu tentang perjuangan hidup seseorang. Kedua cerita di atas sama-sama menggunakan alur maju. Untuk tokoh, kedua cerita menggunakan tokoh protagonis dan antagonis. Untuk perwatakan, tokoh protagonis mempunyai watak penyabar, sedangkan untuk tokoh antagonisnya bersifat sombong, egois, dan serakah. Sudut pandang kedua cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Untuk settingnya sama-sama di sebuah pedesaan, yang satu di Jawa Tengah dan yang satunya lagi di Jawa Timur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel pemeriksaan segi kesejajaran teks:
No.
Struktur Obyektif
Cerita Terjadinya Rawa Pening
Cerita Terjadinya Danau Ranu Grati
1.
Judul
Terjadinya Rawa Pening
Terjadinya Danau Ranu Grati
2.
Tema
Perjuangan hidup seseorang
Perjuangan hidup seseorang
3.
Alur
Maju
Maju
4.
Tokoh:
-Baru Klinthing, Endang Sawitri, Ki Hajar Salokantara.
-Jaka Baru, Umbaran, Pak Wangsa.
-protagonis
-antagonis
Penduduk desa Pathok.
-Ki Demang Klindugan dan anak buahnya.
5.
Perwatakan
-penyabar.
-sombong, serakah.
-penyabar, pandai.
- sombong, serakah.
-protagonis
-antagonis
6.
Setting
-sebuah pedesaan di Jawa Tengah (Desa Ngasem).
-sebuah pedesaan di Jawa Timur (Desa Ranu Grati).
7.
Sudut Pandang
Orang pertama pelaku utama.
Orang pertama pelaku utama.
D.    Kesimpulan.
Dari urain diatas, maka dapat disimpulkan bahwa antara cerita Terjadinya Rawa Pening dengan cerita Terjadinya Danau Ranu Grati terdapat banyak persamaan. Persamaan tersebut antara lain terdapat pada tema, alur dan setting. Kedua cerita di atas juga menceritakan tentang legenda terjadinya sebuah tempat. Sehingga layak untuk diperbandingkan.
Daftar Pustaka
Soekardi, yuliadi dkk. 2007. Ikhtisar Legenda Nusantara (Cerita Rakyat Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali). Bandung: CV. Pustaka Setia.
Wijayanti, Daru. 2010. Cerita Rakyat Indonesia Super Lengkap 33 Propinsi. Jakarta: New Diglosia.
 
sumber:http://jawaampuh.blogspot.com/2012/01/sastra-perbandingan-2.html