ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 17 Februari 2014

SEJARAH MAKAM DAN PESAREHAN GUNUNG KAWI (BUKAN TEMPAT PESUGIHAN)

==========

SEJARAH PESAREHAN GUNUNG KAWI

Gunung Kawi
Kronologi sejarah wisata ritual Gunung Kawi dimulai pada tahun 1830, setelah Pangeran Diponegoro menyerah pada Belanda. Banyak pengikutnya dan pendukungnya yang melarikan diri ke arah bagian timur pulau Jawa yaitu Jawa Timur. Di antaranya selaku penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yang bernama Eyang Djoego atau Kyai Zakaria. Beliau pergi ke berbagai daerah di antaranya Pati, Begelen, Tuban, lalu pergi ke arah Timur Selatan (Tenggara) ke daerah Malang yaitu Kepanjen.

Pengambaranya mencapai daerah Kesamben Blitar, tepatnya di dusun Djoego, Desa Sanan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Diperkirakan beliau sampai di Dusun Djoego sekitar ± tahun 1840, beliau di dusun Djoego ditemani sesepuh Desa Sanan bernama Ki Tasiman. Setelah beliau berdiam di dusun Djoego Desa Sanan beberapa tahun antara dekade tahun 1840-1850 maka datanglah murid-muridnya yang juga putra angkat beliau yang bernama R.M. Jonet atau yang lebih dikenal dengan R.M. Iman Soedjono, beliau ini adalah salah satu dari para senopati Pangeran Diponegoro yang ikut melarikan diri ke daerah timur pulau jawa yaitu Jawa Timur, dalam pengembaraanya beliau telah menemukan seorang guru dan juga sebagai ayah angkat di daerah Kesamben, Kabupaten Blitar tepatnya didusun Djoego Desa Sanan, yaitu Panembahan Eyang Djoego atau Kyai Zakaria, kemudian R.M. Iman Soedjono berdiam di dusun Djoego untuk membantu Eyang Djoego dalam mengelola Padepokan Djoego.

Pada waktu itu Padepokan Djoego telah berkembang, banyak pengunjung menjadi murid Kanjeng Eyang Djoego. Beberapa tahun kemudian ± tahun 1850-1860, datanglah murid R.M. Iman Soedjono yang bernama Ki Moeridun dari Warungasem Pekalongan. Demikianlah setelah R.M.Iman Soedjono dan Ki Moeridun berdiam di Padepokan Djoego, beberapa waktu kemudian diperintahkan pergi ke Gunung Kawi di lereng sebelah selatan, untuk membuka hutan lereng selatan Gunung Kawi. Kanjeng Eyang Djoego berpesan bahwa di tempat pembukaan hutan itulah beliau ingin dikramatkan (dimakamkan), beliau juga berpesan bahwa di desa itulah kelak akan menjadi desa yang ramai dan menjadi tempat pengungsian (imigran).
Gapura Pesarean Gunung Kawi
Dengan demikian maka berangkatlah R.M. Iman Soedjono bersama Ki Moeridun disertai beberapa murid Eyang Djoego berjumlah ± 40 orang, di antaranya : Mbah Suro Wates, Mbah Kaji Dulsalam (Birowo), Mbah Saiupan (Nyawangan), Mbah Kaji Kasan Anwar (Mendit-Malang), Mbah Suryo Ngalam Tambak Segoro, Mbah Tugu Drono, Ki Kromorejo, Ki Kromosari, Ki Haji Mustofa, Ki Haji Mustoha, Mbah Dawud, Mbah Belo, Mbah Wonosari, Den Suryo, Mbah Tasiman, Mbah Tundonegoro, Mbah Bantinegoro, Mbah Sainem, Mbah Sipat / Tjan Thian (kebangsaan Cina), Mbah Cakar Buwono, Mbah Kijan / Tan Giok Tjwa (asal Ciang Ciu Hay Teng- RRC). Maka berangkatlah R.M. Iman Soedjono dengan Ki Moeridun dan dibekali dua buah pusaka “Kudi Caluk dan Kudi Pecok” dengan membawa bekal secukupnya beserta tokoh-tokoh yang telah disebutkan namanya ditambah 20 orang sebagai penderek (pengikut), dan sebagai orang yang dipercaya untuk memimpin rombongan dan pembukaan hutan dipercayakan pada Mbah Wonosari.

Setelah segala kebutuhan pembekalan lengkap maka, berangkatlah rombongan itu untuk babat hutan lereng sebelah selatan Gunung Kawi dengan pimpinan Mbah Wonosari. Setelah sampai dilereng selatan Gunung Kawi, rombongan beristirahat kemudian melanjutkan babat hutan dan bertemu dengan batu yang banyak dikerumuni semut sampai pertumpang-tumpang kemudian tempat itu dinamakan Tumpang Rejo. Setelah itu perjalanan diteruskan ke arah utara. Di sebuah jalan menanjak (jurang) dekat dengan pohon Lo (sebangsa pohon Gondang), mereka berhenti dan membuat Pawon (perapian). Lama-kelamaan menjadi menjadi sebuah dusun yang dinamakan Lopawon. Kemudian mereka melanjutkan babat hutan menuju arah utara sampai ke sebuah hutan dan bertemu sebuah Gendok (barang pecah belah untuk merebus jamu) yang terbuat dari tembaga, sehingga lama-kelamaan dinamakan dusun Gendogo. Setelah itu melenjutkan perjalanan ke arah barat dan beristirahat dengan memakan bekal bersama-sama kemudian melihat pohon Bulu (sebangsa pohon apak/beringin) tumbuh berjajar dengan pohon nangka. Kemudian hutan itu disebut dengan Buluangko dan sekarang disebut dengan hutan Blongko. Selesai makan bekal perjalanan dilanjutkan kearah barat sampai disebuah Gumuk (bukit kecil) yang puncaknya datar lalu dibabat untuk tempat darung (tempat untuk beristirahat dan menginap selama melakukan pekerjaan babat hutan, tempat istirahat sementara), kemudian tempat itu ditanami dua buah pohon kelapa. Anehnya pohon kelapa yang satu tumbuh bercabang dua dan yang satunya tumbuh doyong/tidak tegak ke atas, sehingga tempat itu dinamakan Klopopang (pohon kelapa yang bercabang dua). Kemudian, setelah mendapatkan tempat istirahat (darung) pembabatan hutan diteruskan ke arah selatan sampai di daerah tugu (sekarang merupakan tempat untuk menyadran yang dikenal dengan nama Mbah Tugu Drono) dan diteruskan ke timur sampai berbatasan dengan hutan Bulongko, kemudian naik keutara sampai sungai yang sekarang ini dinamakan Kali Gedong, lalu kebarat sampai dekat dengan sumbersari.
Selesai semuanya kemudian membuat rumah untuk menetap juga sebagai padepokan, di rumah itulah R.M. Iman Soedjono dengan Ki Moeridun beserta seluruh anggota rombongan berunding untuk memberi nama tanah babatan itu. Karena yang memimpin pembabatan hutan itu bernama Ki Wonosari, kemudian disepakati nama daerah babatan itu bernama dusun Wonosari. Karena pembabatan hutan dilereng selatan Gunung Kawi dianggap selesai, maka diutuslah salah satu pendereknya (pengikut) untuk pulang ke dusun Djoego, Desa Sanan Kesamben, untuk melapor kepada Eyang Djoego bahwa pembabatan hutan dilereng selatan Gunung Kawi telah selesai dilakukan. Setelah mendengar laporan dari utusan R.M. Iman Soedjono tersebut maka berangkatlah Kanjeng Eyang Djoego ke dusun Wonosari di lereng selatan Gunung Kawi yang baru selesai.
Makam Pesarean
Untuk memberikan petunjuk-petunjuk dan mengatur siapa saja yang harus menetap di dusun Wonosari dan siapa saja yang harus pulang ke Dusun Djoego dan juga beliau berpesan bahwa bila beliau wafat agar dimakamkan (kramatkan) di sebuah bukit kecil (Gumuk) yang diberi nama Gumuk Gajah Mungkur. Dengan adanya petunjuk itu lalu dibuatlah sebuah taman sari yang letaknya berada ditengah antara padepokan dan Gumuk Gajah Mungkur yang dulu terkenal dengan nama tamanan (sekarang tempat berdirinya masjid Agung Iman Soedjono). Tokoh-tokoh yang menetap di dusun Wonosari diantaranya ialah : Kanjeng Eyang R.M. Iman Soedjono, Ki Moeridun, Mbah Bantu Negoro, Mbah Tuhu Drono, Mbah Kromo Rejo, Mbah Kromo Sasi, Mbah Sainem, Kyai Haji Mustofa, Kyai Haji Muntoha, Mbah Belo, Mbah Sifat / TjanThian, Mbah Suryo Ngalam Tambak Segoro, Mbah Kijan / Tan Giok Tjwa.

Demikian di antaranya yang tinggal di Dusun Wonosari yang baru jadi, yang lain ikut Kanjeng Eyang Djoego ke Dusun Djoego, Desa Sanan, Kesamben, Blitar. Dengan demikian Kanjeng Eyang Djoego sering melakukan perjalanan bolak-balik dari dusun Djoego–Sanan–Kesamben ke Dusun Wonosari Gunung Kawi, untuk memberikan murid-muridnya wejangan dan petunjuknya yang berada di Wonosari Gunung Kawi.

Pada hari Senin Pahing tanggal Satu Selo Tahun 1817 M, Kanjeng Eyang Djoego wafat. Jenasahnya dibawa dari Dusun Djoego Kesamben ke dusun Wonosari Gunung Kawi, untuk dimakamkan sesuai permintaan beliau yaitu di gumuk (bukit) Gajah Mungkur di selatan Gunung Kawi, kemudian tiba di Gunung Kawi pada hari Rabu Wage malam, dan dikeramat (dimakamkan) pada hari Kamis Kliwon pagi.

Dengan wafatnya Kanjeng Eyang Djoego pada hari Senin Pahing, maka pada setiap hari Senin Pahing diadakan sesaji dan selamatan oleh Kanjeng Eyang R.M. Iman Soedjono. Apabila, hari Senin Pahing tepat pada bulan Selo (bulan Jawa ke sebelas), maka selamatan diikuti oleh seluruh penduduk Desa Wonosari yang dilakukan pada pagi harinya. Kegiatan ini sampai sekarang terkenal dengan nama Barikan.

Sejak meninggalnya Kanjeng Eyang Djoego, Dusun Wonosari menjadi banyak pengunjung, dan banyak pula para pendatang yang menetap di Dusun Wonosari. Dikala itulah datang serombongan pendatang untuk ikut babat hutan (membuka lahan di hutan). Oleh Eyang R.M. Iman Soedjono diarahkan ke barat Dusun Wonosari rombongan pendatang itu berasal dari babatan Kapurono yang dipimpin oleh : Mbah Kasan Sengut (daerah asal Bhangelan),Mbah Kasan Mubarot (tetap menetap di babatan Kapurono), Mbah Kasan Murdot (ikut Mbah Kasan Sengut),Mbah Kasan Munadi (ikut Mbah Kasan Sengut).
Rombongan itu juga diikuti temannya bernama Mbah Modin Boani yang berasal dari Bangkalan Madura, bersama temannya Mbah Dul Amat juga berasal dari Madura, juga diikuti Mbah Ngatijan dari Singosari beserta teman-temannya.

Dengan demikian Dusun Wonosari bertambah luas dan penduduknya bertambah banyak pula. Dengan bertambah luasnya dusun dan bertambah banyaknya jumlah penduduk, maka diadakan musyawarah untuk mengangkat seorang pamong yang bisa menjadi panutan masyarakat dalam mengelola dusunnya yang masih baru itu. Maka ditunjuklah salah seorang abdi Mbah Eyang R.M.Iman Soedjono yang bernama Mbah Warsiman sebagai bayan. Dengan demikian Mbah Warsiman merupakan pamong pertama dari Dusun Wonosari.

Pada masa Mbah Eyang R.M. Iman Soedjono antara tahun 1871-1876, datang seorang wanita berkebangsaan Belanda bernama Ny. Scuhuller (seorang putri Residen Kediri) datang ke Wonosari Gunung Kawi untuk berobat kepada Eyang R.M Iman Soedjono. Setelah sembuh Ny. Schuller tidak pulang ke Kediri melainkan menetap di Wonosari dan mengabdi pada Eyang R.M. Iman Soedjono sampai beliau wafat pada tahun 1876. Setelah sepeninggal Eyang R.M. Iman Soedjono, Ny Schuller kemudian pulang ke Kediri.

Pada tahun 1931 datang seorang Tiong Hwa yang bernama Ta Kie Yam (Pek Yam) untuk berziarah di Gunung Kawi. Pek Yam merasa tenang hidup di Gunung Kawi dan akhirnya dia menetap didusun Wonosari untuk ikut mengabdi kepada Kanjeng Eyang (Mbah Djoego dan R.M. Soedjono) dengan cara membangun jalan dari pesarehan sampai kebawah dekat stamplat. Pek Yam pada waktu itu dibantu oleh beberapa orang temannya dari Surabaya dan juga ada seorang dari Singapura. Setelah jalan itu jadi, kemudian dilengkapi dengan beberapa gapura, mulai dari stanplat sampai dengan sarehan. Pada hari Rabu Kliwon tahun 1876 Masehi, Kanjeng Eyang R.M. Iman Soedjono wafat, dan dimakamkan berjajar dengan makam Kanjeng Mbah Djoego di Gumuk Gajah Mungkur. Sejak meninggalnya Eyang R.M. Iman Soejono, Dusun Wonosari bertambah ramai.
==============

Para peziarah yang berkunjung ke Gunung Kawi itu sudah barang tentu tidak dapat dilepaskan dengan sejarah orang yang dimakamkan di daerah atau di tempat itu. Namun demikian ke­nyataannya menunjukkan bahwa banyak peziarah yang datang ke daerah itu tidak mengenal siapalah sebenarnya yang dimakam­kan di lereng Gunung Kawi itu. Mereka pada umumnya hanya tahu bahwa yang dimakamkan itu adalah Mbah Djoego dan R.M. Imam Soedjono, tetapi siapa sebenarnya mereka itu banyak yang tidak mengetahui. Menurut sejarahnya, riwayat hidup Mbah Djoego yang nama aslinya adalah Kyai Zakaria II dapat ditelusuri ber­dasar surat keterangan yang dikeluarkan oleh pangageng Kantor Tepas Daerah dalem Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor 55/ TD/1964 yang ditanda tangani oleh Kanjeng Tumenggung Donoe- hadiningrat pada tanggal 23 Juni 1964.
Dalam surat itu, silsilah Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego diterangkan sebagai berikut (RS. Soenyowodagdo, 1989 : 8). : Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I (Pangeran Puger) memerintah kraton Mataram pada tahun 1705 sampai 1719 berputera Bandono Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Pangeran ini mempunyai putera Kanjeng Kyai Zakaria I. Beliau adalah seorang ulama besar dilingkungan kraton Kartasura pada saat itu. Kemudian bangsawan ulama tenar ter­sebut berputera Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo. Nama terakhir ini semenjak masa mudanya sudah menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari hal-hal di bidang keagamaan (Islam). Setelah dewasa, karena kemampu­annya yang mumpuni dan ketekunannya dalam mempelajari hal- hal keagamaan atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, Raden Mas Soeryo Koesoemo mengubah namanya sesuai, “Pe- paring Dalem Asm o (pemberian nama oleh Susuhan), nunggak semi dengan ayahandanya, menjadi Kanjeng Kyai Zakaria II. Jadi, Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo itulah Kanjeng Kyai Zakaria II.
Dalam kisah sejarah diceritakan bahwa dalam pengembaraan­nya ke daerah Jawa Timur Kyai Zakaria II berganti nama dengan nama rakyat biasa. Hal ini mungkin dimaksudkan (juga dikenal dalam kisah pewayangan apabila ada satria yang sedang mengem­bara biasanya juga berganti/mengganti namanya) agar identitas­nya sebagai bangsawan kraton yang sudah terkenal itu, tidak di­ketahui oleh orang lain terutama oleh penjajah Belanda. Nama yang beliau pergunakan dan sangat populer hingga sekarang adalah “Mbah Sadjoego atau singkatnya Mbah Djoego. RS. Soeryowidag- do, 1989 : 9). Mengenai kisah pengembaraannya menurut sebuah sumber (Suwachman, dkk : 1993 : 42) dan telah menjadi ceritera yang memasyarakat sebagai berikut :
“Kyai Zakaria II dari Yogyakarta terus ke Sleman, Nganjuk, Bojonegoro, dan terakhir Blitar. Sampai di sini ia terkejut. Ter­nyata tempatnya berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasa­an Belanda. Kemudian ia minggir ke daerah Kesamben, sekitar 60 km dari kota Blitar. Kyai Zakaria II menetap di tepi sungai Brantas desa Sonan, Kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Di desa ini Kyai Zakaria II bertemu dengan Pak Tosiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia was-was jangan-jangan kehadirannya dike­tahui oleh Belanda. Maka ia menjawab secara diplomatis tanpa menyebut jati dirinya. “kulo niki sajugo ” (artinya saya sendirian). Menurut penangkapan Pak Tasiman yang salah pengertian dikira namanya “Pak Sayugo” yang kemudian dipanggilnya dengan pak Jogo. Akhirnya itu dibiarkan Kyai Zakaria II sehingga ia aman dari kejaran Belanda dan sejak itulah ia dikenal dengan nama Mbah Jugo.
Selanjutnya dikisahkan bahwa mbah Jugo makin lama makin terkenal, makin dihormati dan disegani oleh masyarakat karena kearifannya, kemampuannya di bidang ilmu agama, keampuhan ilmu yang dimilikinya dan juga pribadinya yang suka menolong sesama umat. Mengenai masalah ini ada suatu cerita yang menarik sebagai berikut : “Pada suatu ketika terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuh­an ilmu mbah Jugo* wabah penyakit tersebut berhasil dising­kirkan dan masyarakat semakin hormat pada mbah Jugo. Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsul­tasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanaam, berternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan”.
Sementara itu dalam kurun waktu selanjutnya pada tahun 1871 Raden Mas Iman Soedjono bersama-sama penduduk mem­buka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Ia kemudian mem­buka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu juga tepatnya 22 Ja­nuari 1871, Minggu Legi, malam Senin Pahing atau 1 Suro 1899 Mbah Jugo meninggal dunia di Kesamben Blitar. Sesuai wasiat­nya, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di lereng Gunung Kawi Wonosari, yang waktu itu sudah menjadi sebuah perkampungan. Sepeninggal mbah Jugo, padepokannya di Kesamben dirawat oleh Ki Tasiman, Ki Dawud dan lain-lain. Barang-barang peninggalan Mbah Jugo yang masih dapat kita saksikan yaitu berupa rumah Padepokan berikut masjid dan halamannya, juga, pusaka berben- tuk tombak, topi, alat-alat pertanian dan tiga buah guci tempat air minum yang dilengkapi dengan filter dari batu. Guci itu dinamakan “janjam” (guci ini oleh Raden Mas Iman Soedjono di­boyong ke Gunung Kawi).
Mengenai silsilah Raden Mas Iman Soedjono tercatat dalam dokumen yakni dalam Surat Kekancingan (Surat Bukti Silsilah) dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat yang dimiliki oleh Raden Asni Nitirejo, cucu Raden Mas Iman Soedjono. Surat tersebut ter­tulis dalam huruf Jawa bernomor 4753, dikeluarkan tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat tersebut diterangkan silsilah kelahiran Raden Mas Iman Soedjono sebagai berikut :
“Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sul­tan Hamengku Buwono I, memerintah Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sejak tahun 1755 – 1792. Pada waktu kecilnya ber­nama Bendara Raden Mas Soedjono. Dengan istrinya yang ber­nama Raden Ayu Doyo Amoro, berputera Bendara Pangeran Aryo Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Notodipo (lihat buku silsilah Paguyuban Trah Balitaran, terbitan tahun 1933 dengan huruf Jawa).
Raden Mas Iman Soedjono kemudian menikah dengan salah se­orang anggota laskar “Langen Kusumo”, Perajurit wanita dari laskar Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ayu Saminah dan biasa dipanggil Nyi Djuwul. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang puteri yang cantik bernama Raden Ayu Demes. Setelah dewasa Raden Ayu Demes dikawinkan dengan pengikut terdekat dan terpercaya Raden Mas Iman Soedjono yang bernama Tarikun Karyoredjo, dari Tuban. Pernikahan ini menurunkan dua orang anak laki-laki yakni Raden Asin Nitiredjo dan raden Yahmin Wi- hardjo. Keduanya sejak tahun 1946 hingga sekarang menjadi juru kunci Pasarean Gunung Kawi. Akhirnya Raden Asin Nitiredjo menurunkan tiga orang anak yakni Raden Nganten Tarsini, Raden Soepodoyono dan Raden Soelardi Soeryowidagdo Sedang Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki-laki bernama Raden Soepratikto (RS. Soeryowidagdo, 1989 : 9- 10).
Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon tanggal 12 Suro 1805 atau tanggal 8 Februari 1876. Jenazah Raden Mas Iman Soedjono dimakamkan dalam satu liang dengan Mbah Jugo. Hal ini dilakukan sesuai de­ngan wasiat mbah Jugo yang pernah menyatakan bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya dikuburkan- bersama dalam satu liang lahat. Mengapaa demikian? Hal ini rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehing­ga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa. Di samping itu terdapat beberapa alasan yang men­dasar keinginan itu, ialah :
  1. Keduanya adalah sejawat seperjuangan mulai dari titik awal dalam suasana duka maupun suka, semasa bersama-sama ber­gabung dalam laskar Diponegoro.
  2. Mbah Jugo tidak beristri apalagi berputra.
  3. Raden Mas Iman Soedjono sudah dinyatakan sebagai putera kinasih serta penerus kedudukan Mbah Jugo (RS. Soeryowi­dagdo, 1989 : 17).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BUDAYA SPIRITUAL DALAM SITUS KERAMAT DI GUNUNG KAWI JAWA TIMUR : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN, DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL, PROYEK PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA PUSAT, 1994/1995, hlm. 15 – 23