ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 02 Februari 2014

Menelusuri Sejarah Syeikh Washil Kediri

=============

Menelusuri Sejarah Syech Wasil Kediri


Menelusuri Sejarah Syech Wasil, Ulama Besar Abad Ke-12
SIAPAKAH Syech Sulaiman Al-Wasil Syamsudin alias Mbah Wasil? Pertanyaan ini mengemuka dalam dialog menelusuri ketokohan Mbah Wasil, di Kompleks Makam Setonogedong, Kota Kediri, Minggu (30/6). Hingga kini, siapa Mbah Wasil yang makamnya ada di Setonogedong, masih menjadi tanda tanya besar. Yang pasti, Syech Wasil adalah seorang ulama besar yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Jawa Timur (Jatim), sekitar abad ke-12.Itu terbukti dari banyaknya umat Islam yang berziarah ke makamnya, setiap Kamis malam. Tak hanya warga Kediri. Warga luar kota pun banyak yang datang ke makam Sulai-man Al-Wasil. Kesibukan pada malam Jumat itu dapat dijumpai dengan mudah di Kompleks Makam Setonogedong, di Desa Setonogedong, Kecamatan Kota, Kota Kediri.

Digelarnya dialog itu merupakan rangkaian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri dalam menelusuri sejumlah situs sejarah. Selain makam Mbah Wasil, dua situs yang tengah ditelusuri dan nantinya akan dilestarikan adalah situs penerbitan kuno Boekhandel Tan Khoen Swie, dan tokoh kejawen tempo dulu Pontjo Legowo.
Kesimpulan bahwa Syech Wasil adalah ulama atau imam besar pada sekitar abad ke-12 merupakan kesimpulan se-mentara Prof Dr Habib Mustopho, yang menjadi salah satu pembicara dalam dialog tersebut. Menurut Habib Mustopho yang juga Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang, kesimpulan sementara tentang Syech Wasil merupakan hasil penelitian berbasis data historis dan arkeologis. "Beliau imam atau ulama besar, yang berjasa mengajarkan agama Islam di Kediri," katanya.
Kesimpulan itu antara lain diperoleh dari adanya prasasti berhuruf Jawa Kuno-biasa juga disebut epigraf-yang terdapat di makam Mbah Wasil. Sayang sekali, bagian terakhir dari kalimat prasasti itu sudah terhapus oleh ulah tangan-tangan jahil. Akibatnya, kalimat pada sekian baris terakhir yang di antaranya menyebut tanggal dan tahun kematian, tak terbaca.
Namun, lanjut Habib, pembacaan prasasti penting itu dapat dilakukan melalui gaya bahasa Jawa Kuno dari kalimat di prasasti. "Dari penelitian yang saya lakukan, ini sesuai gaya abad ke-12. Sekaligus juga menunjukkan bahwa di Ke-diri pada saat itu sudah ada pe-nyebaran Islam," ujarnya.

***

KOMPLEKS Makam Setonogedong berada di sebuah gang yang merupakan salah satu cabang dari Jalan Dhoho, salah satu jalan tersibuk di Kota Kediri. Makam Mbah Wasil berada satu kompleks dengan puluhan makam lainnya. Hanya saja letaknya tersendiri, yakni di sudut baratlaut.
Siapa nama asli Mbah Wasil juga masih menjadi kajian. Nama Sulaiman Al-Wasil Syamsudin diduga merupakan nama panggilan yang berasal dari kesepakatan masyarakat.
Nama Al-Wasil yang berarti pengajar atau guru, diduga berasal dari sebutan masyarakat. Kata "Al-Wasil" terdapat dalam epigraf di makam tokoh tersebut. Sebutan-sebutan semacam ini juga banyak tertulis di makam-makam tokoh Islam zaman dulu, seperti makam Maulana Malik Ibrahim.
Nama Sulaiman, masih menurut Habib Mustopho, justru tidak ada dalam sejumlah referensi yang dia temukan. Sedangkan nama Syamsudin tercantum dalam sebuah sumber tertulis yang disimpan di Museum Pusat Jakarta.
Usai diterjemahkan, sumber tertulis itu menyatakan, "... raja pendeta dari Ngerum bernama Maulana Ali Syamsudin, datang ke Joyoboyo untuk membicarakan kitab musyarar.." Kitab musyarar adalah buku tentang ramalan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang.
Informasi menjadi makin menarik ketika dari teks itu juga diketahui bahwa Maulana Ali Syamsudin membahas kitab musyarar atas permintaan Joyoboyo. Setelah membahas kitab, Maulana mukswa, atau tiba-tiba hilang tanpa bekas.
Djauhari Luthfi dari Tim Penelusuran Sejarah Mbah Wasil menambahkan, teks tentang permintaan Joyoboyo terhadap Maulana Ali Syamsudin juga disinggung dalam buku Serat Parmonosidhi. Buku tersebut adalah salah satu buku terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie.

***

MAKAM Mbah Wasil berada di belakang Masjid Auliya. Tepat di belakang masjid itu terdapat sebuah pelataran luas sekitar 225 meter persegi. Pelataran seluas itu sampai sekarang masih jadi kontroversi. Sebagian orang menyebut itu bekas masjid, sebagian lainnya menyatakan itu candi.
Ciri-ciri candi antara lain terlihat dari banyaknya penemuan arca berbentuk Ganesha di sekitar pelataran, serta relief batu bergambar bunga teratai dan burung garuda. Bentuk-bentuk tersebut dikenal sebagai simbol-simbol penting agama Hindu.
Sementara ciri masjid, lanjut Djauhari, terlihat dari adanya tempat imam di sisi barat pelataran, dan sumur untuk pengadaan air wudu. Kontroversi ini juga belum berakhir, karena masih minimnya referensi yang ada.
Namun, terkait dengan masalah ini Habib Mustopho berkeyakinan bahwa pelataran itu dulunya memang candi. "Tetapi, ketika Islam ganti berkuasa, tempat ini diubah peruntukannya menjadi masjid. Perubah-an ini wajar seiring dengan perubahan zaman. Di luar negeri kan banyak masjid yang kini jadi gereja, dan yang dulu gereja sekarang jadi masjid," tambahnya.
Bangunan penting lain, tentunya makam Mbah Wasil yang panjangnya sekitar 4,5 meter. Sekarang makam tersebut sedang dalam perbaikan. Minggu siang itu tampak ratusan umat yang bergantian berziarah di makam yang ditutup kain putih tersebut.
Pemuliaan terhadap tokoh, terutama tokoh penyebar agama, rasanya wajar-wajar saja. Asalkan, tutur Habib, jangan sampai saking bersemangatnya memuliakan tokoh, justru merusak situs aslinya. Kasus hilangnya deret terakhir kalimat prasasti di makam Mbah Wasil patut menjadi pelajaran.
Kebiasaan para peziarah untuk datang berbondong-bondong dalam jumlah besar banyak menimbulkan dampak negatif. "Makin banyak orang yang menyentuh makam dan ornamen-ornamennya, kemungkinan rusaknya makam tentu bertambah besar," ujar Habib Mustopho.
Renovasi makam, seperti yang sedang dilakukan saat ini, jika tak hati-hati, juga bisa berdampak pada hilangnya ornamen penting. Maksudnya hendak memperbaiki, tetapi ternyata malah mengganti semua unsur lama dengan yang baru, sehingga menyesatkan generasi mendatang.
Oleh karena itu, tidak salah jika Indah Kristina dari Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur mengingatkan Pemkot Kediri yang tidak berkoordinasi saat akan merenovasi makam Syech Wasil. "Kami khawatir ciri penting makam diganti baru, sehingga menghilangkan data otentik situs," kata Indah.

sumber:http://adipatipanjer.blogspot.com/2012/06/menelusuri-sejarah-syech-wasil-kediri.html