ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Selasa, 18 Februari 2014

Ketegasan Kiai Zainal 'Abidin Munawwir Krapyak Yogya

============
Ketegasan Kiai Zainal
================

Saat mengaji di Krapyak (1983-86), saya masih bocah berusia belasan. Gus Hilmi yang saat ini sudah menjadi salah satu pemangku pesantren, adalah adik kelas saya. Level saya adalah menamatkan bacaan Al-Quran bin nazhor kepada Kiai Zaini.

Saya belum masuk kelas Kiai Zainal yang terbilang tinggi. Namun, beruntung saya masih mendapatkan kesempatan sorogan setiap pagi (wajib bagi semua santri) kepada Kiai Ali Maksum yang saat itu masih menjadi Rais Aam PBNU.

Saat kelas 3 Mts, semua siswa dikumpulkan di asrama B bersebelahan dengan siswa kelas 3 MA. Nah, letak asarama B ini (waktu itu) persis di sebelah kediaman Kiai Zainal. Dengan demikian, sekalipun saya tidak sempat mengaji langsung, interaksi fisik dengan beliau hampir setiap hari. Tutur katanya yang santun, hidupnya yang bersahaja kemana-mana naik sepeda, dan membujang, tak luput dari amatan saya. Waktu itu ibundanya masih ada dan tinggal bersama beliau.

Konon, beliau baru akan menikah jika Sang Ibu sudah wafat karena tidak ingin istrinya kelak "bentrok", yang akan mengakibatkan ibunya sakit hati. Ingat kisah Uwais Al-Qarny, kan? Dan memang benar, setelah Sang Ibunda wafat, beliau menikah setelah "dijodohkan" oleh Kiai Ali. Hajatan besar saat itu dan kami semua ikut menyaksikannya.

Ada dua peristiwa yang masih kuat dalam ingatan saya tentang Kiai Zainal. Suatu hari, beliau meminta saya membelikan obat nyamuk ke warung. Satu hal yang paling membahagiakan santri adalah menjalankan dawuh kiai. Saya menerima uang 100 rupiah yang beliau berikan. Saya bergegas pergi ke warung terdekat dan segera mengantarkan pesanan bersama uang kembaliannya.

"Dzulkifli, kok kembaliannya lebih 25 rupiah? Tempo hari seingat saya harganya 100," Kiai Zainal "protes" dan meminta saya mengembalikan kelebihan uang itu.

Saya agak bingung. "Harganya memang 75 rupiah kok, Kiai."

"Ooh ya sudah, ini ambil buat kamu," ujar beliau sambil memberikan uang kembalian itu.

"Kelebihan" 25 perak saja ternyata beliau nggak mau.

Lain waktu, di mata saya yang masih bocah, terjadi peristiwa yang luar biasa di masjid Krapyak, pada suatu hari Jumat yang bertepatan dengan giliran Kiai Ali memberikan khutbah. Awalnya khutbah berjalan lancar dan Kiai Ali sudah sampai pada doa penutup khutbah kedua.

Sebelum beliau turun, Kiai Zainal berdiri dan menyampaikan sesuatu. Lalu Kiai Ali kembali pada posisi khatib dan mengulangi dua khutbah Jumat secara cepat. Rupanya, pada khutbah kedua yang awal tadi beliau kelewat membaca "ittaqullah" yang merupakan rukun khutbah.

Tentu saja "keberanian" Kiai Zainal mengingatkan Kiai Ali dengan cara yang santun itu sangat mengesankan bagi saya. Beliau benar-benar ahli fiqh yang menerapkan fiqh dalam kesehariannya yang dibarengi jalan hidup zuhud yang sangat langka dipraktikkan lagi.

Alhamdulillah ... saya berkesempatan berinteraksi dengan Kiai Zainal. Sekalipun dalam segala keterbatasa usia saya waktu itu, saya masih bisa mendapatkan hikmah dari kehidupan beliau. Lahul fatihah ...


IIP DZULKIFLI YAHYA, warga NU tinggal di Australia, pernah nyantri di Krapyak 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,50245-lang,id-c,esai-t,Ketegasan+Kiai+Zainal-.phpx