Nabi SAW:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْنَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ (Barang siapa menulis sholawat kpdku dlm sebtah buku, maka para malaikat selalu memohonkan ampun kpd Alloh pd org itu selama namaku masih tertulis dlm buku itu). اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ
Selasa, 18 Maret 2014
Kamis, 06 Maret 2014
Wirid Mbah Mutamakkin
========
Wirid Mbah Mutamakkin
-----------------
Syaich Ahmad Mutamakkin (Mbah Mad--orang Kajen menyebut) merupakan
simpul dari jejaring ulama Nusantara abad XVII-XVIII. Beliau keturunan
Raja Muslim Jawa Jaka tingkir, cicit Raja Majapahit terahir Brawijaya
V. Ayah KH. Sheikh Ahmad Mutamakkin adalah Sumohadiwijaya adalah
pangeran Benowo II Raden Sumahadinegara bin pangeran Benawa I Raden
Hadiningrat bin Jaka Tingkir atau sultan
Hadiwijaya bin ki Ageng Pengging bin Ratu Pambayun binti Prabu
Brawijaya V Raja Majapahit terakhir. Ratu pambayun adalah saudara
perempuan Raden patah. Istri Jaka Tingkir adalah putri sultan Trenggono
bin Raden Patah Raja Demak.
Syaich Mutamakkin, kemudian
memiliki tiga keturunan: Mbah Hendrokusumo, Mbah Alfiyah dan Raden
Bagus. Mbah Hendro menurunkan keluarga Kajen Kulon Banon (termasuk Kyai
Salam, Kyai Abdullah Zen Salam, Kyai Mahfudh Salam, dan Kyai Sahal
Mahfudh). Sedangkan, Mbah Alfiyah menurunkan keluarga santri kawasan
Kajen wetan Banon. Silsilah Raden Bagus, tersebar di Jawa Timur, sampai
kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Meski untuk keturunan Raden
Bagus, masih harus melacak lagi peta jejaringnya di kawasan Jawa Timur.
Ingin mengaji tentang silsilah, pemikiran dan wirid Syaich Mutamakkin?
Simak buku 'Perlawanan Kultural Syaich Ahmad Mutamakkin', karya Zainul
Milal Bizawie, terbit Maret, 2014. Editor: Munawir Aziz. Penerbit: Pustaka Compass.
(terbit pertama oleh penerbit SAMHA n Yayasan Keris).
foto: Silsilah keturunan Syaich Ahmad Mutamakkin. Koleksi: Simah KH. Mawardi (Kajen Lor-Waturoyo, Margoyoso, Pati).
sumber:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202317166467828&set=a.1238823327996.2034177.1151660380&type=1&theater
Kamis, 20 Februari 2014
BIOGRAFI ABU HUROIROH RODLIYALLOHU 'ANHU
=========
Menurut pendapat mayoritas, nama beliau adalah 'Abdurrahman bin Shakhr ad Dausi. Pada masa jahiliyyah, beliau bernama Abdu Syams, dan ada pula yang berpendapat lain. Kunyah-nya Abu Hurairah (inilah yang masyhur) atau Abu Hir, karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya, dan beliau simpan di atas pohon pada malam harinya. Tersebut dalam Shahihul Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memanggilnya, “Wahai, Abu Hir”.
Ahli hadits telah sepakat, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy bin Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
Selain meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu 'anhu juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al Fadhl bin al Abbas, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al Ghifari, dan Ka’ab al Ahbar Radhiyallahu 'anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dan beliau Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti beliau yang paling utama di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Imam asy Syafi’i berkata,"Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).”
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar. Beliau Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah sebagai muhajir dan tinggal di Shuffah.
Amr bin Ali al Fallas mengatakan, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah pada tahun terjadinya perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ke-7 H.
Humaid al Himyari berkata,"Aku menemani seorang sahabat yang pernah menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.”
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendo’akan ibu Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, agar Allah memberinya hidayah untuk masuk Islam, dan do’a tersebut dikabulkan. Beliau Radhiyallahu 'anhu wafat pada tahun 57 H menurut pendapat yang terkuat.
1. Al Ishabah, 4/316-dst.
================
BIOGRAFI ABU HUROIROH RODLIYALLOHU 'ANHU [1]
Menurut pendapat mayoritas, nama beliau adalah 'Abdurrahman bin Shakhr ad Dausi. Pada masa jahiliyyah, beliau bernama Abdu Syams, dan ada pula yang berpendapat lain. Kunyah-nya Abu Hurairah (inilah yang masyhur) atau Abu Hir, karena memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari atau saat menggembalakan kambing-kambing milik keluarga dan kerabatnya, dan beliau simpan di atas pohon pada malam harinya. Tersebut dalam Shahihul Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memanggilnya, “Wahai, Abu Hir”.
Ahli hadits telah sepakat, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy bin Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
Selain meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu 'anhu juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al Fadhl bin al Abbas, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al Ghifari, dan Ka’ab al Ahbar Radhiyallahu 'anhum. Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dan beliau Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti beliau yang paling utama di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Imam asy Syafi’i berkata,"Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).”
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar. Beliau Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah sebagai muhajir dan tinggal di Shuffah.
Amr bin Ali al Fallas mengatakan, Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu datang ke Madinah pada tahun terjadinya perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ke-7 H.
Humaid al Himyari berkata,"Aku menemani seorang sahabat yang pernah menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.”
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendo’akan ibu Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, agar Allah memberinya hidayah untuk masuk Islam, dan do’a tersebut dikabulkan. Beliau Radhiyallahu 'anhu wafat pada tahun 57 H menurut pendapat yang terkuat.
============
1. Al Ishabah, 4/316-dst.
================
Abu Hurairah (wafat 57 H)
Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.
Abu
Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar,
Rasulullah sendirilah yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau
sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah
Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau
kepadanya.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.
Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, Abu Hurairah menjadi pegawai di Bahrain,
karena banyak meriwayatkan hadist Umar bin Khaththab pernah menetangnya
dan ketika Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu
alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk dijilat api neraka”. Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan menceritakan hadist.
Syu’bah
bin al-Hajjaj memperhatikan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Ka’ab
al-Akhbar dan meriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam, tetapi ia tidak membedakan antara dua riwayatnya tersebut.
Syu’bah pun menuduhnya melakukan tadlis, tetapi Bisyr bin Sa’id menolak
ucapan Syu’bah tentang Abu Hurairah. Dan dengan tegas berkata:
Bertakwalah kepada allah dan berhati hati terhadap hadist. Demi Allah,
aku telah melihat kita sering duduk di majelis Abu Hurairah. Ia
menceritakan hadist Rasulullah dan menceritakan pula kepada kita riwayat
dari Ka’ab al-Akhbar. Kemudian dia berdiri, lalu aku mendengan dari
sebagian orang yang ada bersama kita mempertukarkan hadist Rasulullah
dengan riwayat dari Ka’ab. Dan yang dari Ka’ab menjadi dari
Rasulullah.”. Jadi tadlis itu tidak bersumber dari Abu Hurairah sendiri,
melainkan dari orang yang meriwayatkan darinya.
Cukupkanlah
kiranya kita mendengar kan dari Imam Syafi’I :” Abu Hurairah adalah
orang yang paling hapal diantara periwayat hadist dimasanya”.
Marwan
bin al-Hakam pernah mengundang Abu Hurairah untuk menulis riwayat
darinya, lalu ia bertanya tentang apa yang ditulisnya, lalu Abu Hurairah
menjawab :” Tidak lebih dan tidak kurang dan susunannya urut”.
Abu
Hurairah meriwayatkan hadist dari /abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin
Ka’ab, Utsman bin Za’id, Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah
orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri dari para
sahabat dan tabi’in. diantara lain dari sahabat yang diriwayatkan adalah
Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin
Malik, sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain Sa’id bin
al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid dan Asy-Sya’bi.
Sanad paling shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibnu Shihab az-Zuhr, dari Sa’id bin al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah).
Adapun yang paling Dlaif adalah as-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah.
Ia wafat pada tahun 57 H di Aqiq.
Disalin dari Biografi Abu Hurairah dalam Al-Ishabah Ibn Hajar Asqalani No. 1179, Tahdzib al ‘asma: An-Nawawi 2/270
Selasa, 18 Februari 2014
Gaya Hidup Putri Rosululloh
===========
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,50177-lang,id-c,hikmah-t,Gaya+Hidup+Putri+Rasulullah-.phpx
Gaya Hidup Putri Rosululloh
=============
Jumat, 14/02/2014 15:01

Menjadi anak raja hampir selalu membawa takdir keberuntungan. Kekuasaan puncak
sang ayah tak hanya memungkinkan dia hidup serbakecukupan tapi juga
berlumuran kemewahan. Lantas, bagaimana dengan putri Nabi Muhammad SAW,
pemimpin tertinggi dan pelaksana risalah ilahi?
Suatu hari Sayyidah Fathimah, putri semata wayang Rasulullah, dihampiri Abdurrahman bin ‘Auf. Dia mengabarkan bahwa Rasulullah tengah menangis sedih selepas menerima wahyu dari Jibril. Abdurrahman datang dalam rangka mencari obat bagi susana hati Nabi yang kalut itu. Satu hal yang selalu membuat bahagia Rasulullah adalah melihat putrinya.
“Baik. Tolong menyingkirlah sejenak hingga aku selesai ganti pakaian.” Demikian diceritakan dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah melalui riwayat Umar bin Khattab.
Keduanya lalu berangkat ke tempat Rasulullah. Saat itu Fathimah menyelimuti tubuhnya dengan pakaian yang usang. Ada 12 jahitan dalam lembar kain tersebut. Serpihan dedaunan kurma juga tampak menempel di sela-selanya.
Sayidina Umar bin Khattab menepuk kepala ketika menyaksikan penampilan Fathimah. “Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja mengenakan sutra-sutra halus sementara Fathimah anak perempuan utusan Allah puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma.”
Sesampainya menghadap ayahandanya, Fathimah bertutur, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”
Fathimah menceritakan, keluarganya menggunakan kulit kambing tersebut hanya pada malam hari. Sementara siang kulit ini menjelma sebagai tempat makan untuk unta. Bantal mereka hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma.
“Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fathimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” sabda Nabi kepada sahabatnya itu.
Analogi kuda pacu merujuk pada pengertian keutamaan sikap Fathimah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya. “Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fathimah.
Dengan kedudukan dan kharisma ayahandanya yang luar biasa, Fathimah sesungguhnya bisa memperoleh apa saja yang ia kehendaki, lebih dari sekadar pakaian dan kasur yang bagus. Namun, kepribadian Rasulullah yang bersahaja tampaknya memang mewaris ke dalam dirinya. Fathimah tetap tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya.
Suatu hari Sayyidah Fathimah, putri semata wayang Rasulullah, dihampiri Abdurrahman bin ‘Auf. Dia mengabarkan bahwa Rasulullah tengah menangis sedih selepas menerima wahyu dari Jibril. Abdurrahman datang dalam rangka mencari obat bagi susana hati Nabi yang kalut itu. Satu hal yang selalu membuat bahagia Rasulullah adalah melihat putrinya.
“Baik. Tolong menyingkirlah sejenak hingga aku selesai ganti pakaian.” Demikian diceritakan dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah melalui riwayat Umar bin Khattab.
Keduanya lalu berangkat ke tempat Rasulullah. Saat itu Fathimah menyelimuti tubuhnya dengan pakaian yang usang. Ada 12 jahitan dalam lembar kain tersebut. Serpihan dedaunan kurma juga tampak menempel di sela-selanya.
Sayidina Umar bin Khattab menepuk kepala ketika menyaksikan penampilan Fathimah. “Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja mengenakan sutra-sutra halus sementara Fathimah anak perempuan utusan Allah puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma.”
Sesampainya menghadap ayahandanya, Fathimah bertutur, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”
Fathimah menceritakan, keluarganya menggunakan kulit kambing tersebut hanya pada malam hari. Sementara siang kulit ini menjelma sebagai tempat makan untuk unta. Bantal mereka hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma.
“Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fathimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” sabda Nabi kepada sahabatnya itu.
Analogi kuda pacu merujuk pada pengertian keutamaan sikap Fathimah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya. “Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fathimah.
Dengan kedudukan dan kharisma ayahandanya yang luar biasa, Fathimah sesungguhnya bisa memperoleh apa saja yang ia kehendaki, lebih dari sekadar pakaian dan kasur yang bagus. Namun, kepribadian Rasulullah yang bersahaja tampaknya memang mewaris ke dalam dirinya. Fathimah tetap tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,50177-lang,id-c,hikmah-t,Gaya+Hidup+Putri+Rasulullah-.phpx
Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah
===========
Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah
============
KH Muhammad
Manshur, adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa
Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kiai Manshur adalah
putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak.
Berdasarkan cerita yang berkembang. pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul “addah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Kiai Manshur datang, maka batu tersebut diangkatnya sendiri.
Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, 20 KM dari Jamsaren Surakarta.
Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan, Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya
Para santri dan sesepuh Dusun Popongan menceritakan bahwa kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda di ambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Manshur muda dinikahkan dengan Nyai Maryam (Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918. Karena Manshur merupakan alumni pondok pesantren, maka Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. Dari pernikahan itu melahirkan Masjfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, dan Muqarrabin, dan Irfan. Dari putrinya Nyai Masjfufah binti Manshur yang dinikah Haji Mukri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet keemimpinan pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah.
Sebelum didirikan pondok pesantren, Mbah Manshur mengajar ngaji masyarakat Popongan. Para santri awal Mbah Manshur sangat sedikit, dan hanya membentuk halaqah kecil. Setelah beberapa tahun kemudian santri yang dating mulai banyak dan dari berbagai daerah sehingga Haji Fadlil berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid.
Pembangunan pondok pesantren dan masjid dilakukan secara swasembada dan gotong royong. Batu fondasi diperoleh oleh para santri dari Sungai Jebol, sebuah sungai yang terletak di sebelah selatan Dusun Popongan. Adapun pasir diambil dari Sungai tegalgondo, sebelah utara Dusun Popongan.
Sebagai tokoh yang kaya, Haji Fadhil sendiri yang banyak menyumbang pendirian pesantren yang kelak diasuh oleh menantunya tersebut. Mbah Kiai Muslimin, menceritakan bahwa pembangunan pesantren dilakukan secara gotong royong, sebagian memang mengambil tukang profesional. Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan.
Pondok Pesantren Popongan, pada masa kepemimpinan cucunya, Kiai Salman Dahlawi, tanggal 21 Juni 1980, namanya diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Dusun Popongan kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, di samping menjadi pusat suluk Tarekat Naqsyabandiyah.
Jaringan Tarekat Mbah Manshur dikembangkan dari Mbah Hadi dengan silsilah sebagai berikut: Kiai Manshur, dari Syekh Muhammad Hadi Bin Muhammad Thohir, dari Syaikh Sulaiman Zuhdi, dari Syaikh Ismail Al Barusi, dari Syaikh Sulaiman Al Quraini, dari dari Syaikh Ad Dahlawi, dari Syaikh Habibullah, dari Syaikh Nur Muhammad Al Badwani, dari Syaikh Syaifudin, dari Syaikh Muhammad Ma’sum, dari Syaikh Ahmad Al Faruqi, dari Syaikh Ahmad Al Baqi’ Billah, dari Syaikh Muhammad Al Khawaliji, dari Syaikh Darwisy Muhammad, dari Syaikh Muhammad Az Zuhdi, dari Syaikh Ya’kub Al Jarkhi, dari Syaikh Muhammad Bin Alaudin Al Athour, dari Syaikh Muhammad Bahaudin An Naqsabandy, dari Syaikh Amir Khulal, dari Syaikh Muhammad Baba As-Syamsi, dari Syaikh Ali Ar Rumaitini, dari Syaikh Mahmud Al Injiri Faqhnawi, dari Syaikh Arif Riwikari, dari Syaikh Abdul kholiq al Ghajwani, dari Syaikh Yusuf Al Hamadani, dari Syaikh Abi Ali Fadhal, dari Syaikh Abu Hasan Al Kharwani, dari Syaikh Abu Yazid Thaifur Al Busthoni, dari Syaikh Ja’far Shodiq, dari Syaikh Qosim Muhammad, dari Syaikh Sayyid Salman al Farisi, dari Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi Muhammad
Mbah Hadi mengangkat Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.
Selain dikembangkan oleh para mursyid yang menjadi murid Mbah Manshur, Tarekat Naqsyabandiyah juga dikembangkan di Kauman Surakarta oleh seorang murid perempuan Mbah Manshur, yaitu Nyai Muharromah (Nyai Soelomo Resoatmodjo). Selain di Popongan, Mbah Manshur juga mendirikan pusat latihan spiritual Tarekat Naqsyabandiyah di Kauman Surakarta. Sejak Mbah Manshur memiliki rumah di Kauman Surakarta, maka tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang di kota santri tersebut. Rumah Mbah Manshur di Kauman tersebut dibangun oleh muridnya yang bernama Muslimin dan dibantu oleh Salman muda, cucu kesayangan Mbah Manshur. Mbah Muslimin inilah yang sejak awal sudah menjadi penderek (pengikut) Mbah Manshur, dan menjadi teman karib Kiai Salman, sejak kecil sampai meninggalnya.
Di Popongan sendiri, estafet kepemimpinan pondok pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah dipegang oleh Kiai Salman, cucunya Para putera-puteri Mbah Manshur tidak ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan tarekat, tetapi lebih suka menekuni dunia perdagangan, mengikuti jejak kakeknya, Mbah Haji Fadhil.
Dalam mengembangkan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah, Mbah Manshur dibantu oleh Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Semarang). Di Popongan, Mbah Manshur dibantu oleh banyak santri dan jama’ahnya dalam mengembangkan Islam dan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah.
Mbah Manshur termasuk Kiai sepuh yang disegani, bukan saja oleh para santri dan jama’ahnya, tetapi juga oleh masyarakat umum, bahkan oleh para sejawatnya dari kalangan Kiai. Setelah pondok pesantren berdiri, Mbah Manshur bukan saja kedatangan tamu yang mau mengaji saja, tetapi juga tamu-tamu umum yang bermaksud bersilaturrahmi dan ngalap berkah. Karisma Mbah Mansur pun semakin meningkat dan menjadi Kiai popular di kalangan masyarakat Klaten, Surakarta, Semarang, Jawa Tengah pada umumnya, dan Yogyakarta.
Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krayak Yogyakarta, adalah termasuk murid Mbah Manshur di Yogyakarta. Walaupun tidak menjadi mursyid tarekat, Kiai Munawwir menjadi bagian penting dalam perjuangan Mbah Manshur. Ketika Kiai Munawwir meninggal tahun 1942, Mbah Manshur menghadiri acara ta’ziyah dan menjadi imam shalat jenazah.
Mbah Manshur juga menjalin hubungan baik dengan Mbah Siroj, Panularan Surakarta, dan Mbah Ahmad Umar bin Abdul Mannan Mangkuyudan Surakarta. Kedekatan dengan Kiai Ahmad Umar ditunjukkan dengan pembertian nama Al-Muayyad oleh Mbah Manshur untuk nama pondok pesantren di Mangkuyudan yang dirintis Mbah Kiai Abdul Mannan pada tahun 1930. Al-Muayyad berarti yang dikuatkan, artinya bahwa pondok pesantren tersebut dikuatkan oleh kaum muslimin di Surakarta dan sekitarnya.
Mbah Manshur wafat tahun 1955. Setiap tahun Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan dan Baqni Manshur mengadakan acara haul yang dihadiri oleh ribuan orang. Pada tahun 2013 ini, haul Mbah Manshur sudah sampai yang ke 58. Setelah Mbah Manshur wafat, estafet kepemimpinan pesantren dan tarekat dipegang oleh cucunya, Kiai Salman, dan mulai tahun 2013, kepemimpinan dipegang oleh Gus Multazam bin Salman Dahlawi.
Menurut informasi dari banyak sumber, Mbah Manshur menyusun lafaz do’a bagi para santri sebelum membaca Al-Qur’an. Lafaz do’a itu dipasang di Madrasah (sebutan salah satu gedung pengajian di Pondok Pesantren Al-Manshur, tepat di depan Ndalem yang ditinggali Mbah Manshur). Lafaz doa tersebut menjadi kharakter khas bacaan bagi santri-santri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sampai deweasa ini.
Lafaz tersebut berbunyi:
Allahumma bil haqqi anzaltahu wa bil haqqi nazal
Allahumma Adzdzim rughbatii fiih
Waj’alhu nuuran li bashorii
Wasyifaa’an li shodrii
Wadzahaban lihammii wa huznii
Allahumma zayyin bihii lisaanii
Wajammil bihii wajhii
Waqawwi bihii jasadii Watsaqqil bihii miizaani
Waqawwinii ‘alaa thaa’atika wa athraafan nahaar
Setiap santri Al-Manshur Popongan mesti hafal do’a tersebut, karena doa karya Mbah Manshur itu selalu dibaca sebelum mengaji Al-Qur’an, baik pengajian AL-Qur’an setelah maghrib, setelah subuh, maupun setelah dhuhur.
Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Syi’ir Tanpo Waton yang dipopulerkan Gus Dur diambil dari Pondok Sepuh di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Tetapi dalam pengalaman penulis yang 3 tahun nyantri di Popongan, belum pernah mendengar puji-pujian syi’ir terserbut, khususnya lafaz yang berbahasa jawa Adapun lafaz dengan bahasa Arab merupakan lafaz yang popular dan banyak dipahami masyarakat di berbagai daerah.
Syamsul Bakri, Ketua Lakpesdam-NU Klaten, Pengasuh Pesantren Darul Afkar Klaten, dan Dosen IAIN Surakarta
Berdasarkan cerita yang berkembang. pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul “addah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Kiai Manshur datang, maka batu tersebut diangkatnya sendiri.
Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, 20 KM dari Jamsaren Surakarta.
Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan, Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya
Para santri dan sesepuh Dusun Popongan menceritakan bahwa kedatangan Mbah Manshur di Popongan bermula ketika Manshur muda di ambil menantu oleh seorang petani kaya di Popongan yang bernama Haji Fadlil. Manshur muda dinikahkan dengan Nyai Maryam (Nyai Kamilah) bintu Fadlil pada tahun 1918. Karena Manshur merupakan alumni pondok pesantren, maka Haji Fadhil memintanya mengajarkan agama di Popongan. Dari pernikahan itu melahirkan Masjfufah, Imro’ah, Muyassaroh, Muhibbin, dan Muqarrabin, dan Irfan. Dari putrinya Nyai Masjfufah binti Manshur yang dinikah Haji Mukri, lahirlah Salman Dahlawi, yang kelak meneruskan estafet keemimpinan pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah.
Sebelum didirikan pondok pesantren, Mbah Manshur mengajar ngaji masyarakat Popongan. Para santri awal Mbah Manshur sangat sedikit, dan hanya membentuk halaqah kecil. Setelah beberapa tahun kemudian santri yang dating mulai banyak dan dari berbagai daerah sehingga Haji Fadlil berinisiatif untuk mendirikan bangunan yang layak untuk pemondokan dan masjid.
Pembangunan pondok pesantren dan masjid dilakukan secara swasembada dan gotong royong. Batu fondasi diperoleh oleh para santri dari Sungai Jebol, sebuah sungai yang terletak di sebelah selatan Dusun Popongan. Adapun pasir diambil dari Sungai tegalgondo, sebelah utara Dusun Popongan.
Sebagai tokoh yang kaya, Haji Fadhil sendiri yang banyak menyumbang pendirian pesantren yang kelak diasuh oleh menantunya tersebut. Mbah Kiai Muslimin, menceritakan bahwa pembangunan pesantren dilakukan secara gotong royong, sebagian memang mengambil tukang profesional. Pondok Pesantren Popongan resmi didirikan oleh Mbah Manshur pada tahun 1926. Pada tahun yang sama, Mbah Manshur membangun Masjid Popongan.
Pondok Pesantren Popongan, pada masa kepemimpinan cucunya, Kiai Salman Dahlawi, tanggal 21 Juni 1980, namanya diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Dusun Popongan kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, di samping menjadi pusat suluk Tarekat Naqsyabandiyah.
Jaringan Tarekat Mbah Manshur dikembangkan dari Mbah Hadi dengan silsilah sebagai berikut: Kiai Manshur, dari Syekh Muhammad Hadi Bin Muhammad Thohir, dari Syaikh Sulaiman Zuhdi, dari Syaikh Ismail Al Barusi, dari Syaikh Sulaiman Al Quraini, dari dari Syaikh Ad Dahlawi, dari Syaikh Habibullah, dari Syaikh Nur Muhammad Al Badwani, dari Syaikh Syaifudin, dari Syaikh Muhammad Ma’sum, dari Syaikh Ahmad Al Faruqi, dari Syaikh Ahmad Al Baqi’ Billah, dari Syaikh Muhammad Al Khawaliji, dari Syaikh Darwisy Muhammad, dari Syaikh Muhammad Az Zuhdi, dari Syaikh Ya’kub Al Jarkhi, dari Syaikh Muhammad Bin Alaudin Al Athour, dari Syaikh Muhammad Bahaudin An Naqsabandy, dari Syaikh Amir Khulal, dari Syaikh Muhammad Baba As-Syamsi, dari Syaikh Ali Ar Rumaitini, dari Syaikh Mahmud Al Injiri Faqhnawi, dari Syaikh Arif Riwikari, dari Syaikh Abdul kholiq al Ghajwani, dari Syaikh Yusuf Al Hamadani, dari Syaikh Abi Ali Fadhal, dari Syaikh Abu Hasan Al Kharwani, dari Syaikh Abu Yazid Thaifur Al Busthoni, dari Syaikh Ja’far Shodiq, dari Syaikh Qosim Muhammad, dari Syaikh Sayyid Salman al Farisi, dari Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi Muhammad
Mbah Hadi mengangkat Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, dilanjutkan oleh Kiai Munif. Adapun Mbah Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, di antaranya ada yang sudah menjadi mursyid, yaitu Kiai Arwani (Kudus), Kiai Salman Popongan (Klaten) yang dilanjutkan oleh Gus Multazam, dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Demak) yang dilanjutkan oleh Kiai Khalil.
Selain dikembangkan oleh para mursyid yang menjadi murid Mbah Manshur, Tarekat Naqsyabandiyah juga dikembangkan di Kauman Surakarta oleh seorang murid perempuan Mbah Manshur, yaitu Nyai Muharromah (Nyai Soelomo Resoatmodjo). Selain di Popongan, Mbah Manshur juga mendirikan pusat latihan spiritual Tarekat Naqsyabandiyah di Kauman Surakarta. Sejak Mbah Manshur memiliki rumah di Kauman Surakarta, maka tarekat Naqsyabandiyah juga berkembang di kota santri tersebut. Rumah Mbah Manshur di Kauman tersebut dibangun oleh muridnya yang bernama Muslimin dan dibantu oleh Salman muda, cucu kesayangan Mbah Manshur. Mbah Muslimin inilah yang sejak awal sudah menjadi penderek (pengikut) Mbah Manshur, dan menjadi teman karib Kiai Salman, sejak kecil sampai meninggalnya.
Di Popongan sendiri, estafet kepemimpinan pondok pesantren dan Tarekat Naqsyabandiyah dipegang oleh Kiai Salman, cucunya Para putera-puteri Mbah Manshur tidak ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan tarekat, tetapi lebih suka menekuni dunia perdagangan, mengikuti jejak kakeknya, Mbah Haji Fadhil.
Dalam mengembangkan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah, Mbah Manshur dibantu oleh Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdul Mi’raj (Candisari Semarang). Di Popongan, Mbah Manshur dibantu oleh banyak santri dan jama’ahnya dalam mengembangkan Islam dan jaringan Tarekat Naqsyabandiyah.
Mbah Manshur termasuk Kiai sepuh yang disegani, bukan saja oleh para santri dan jama’ahnya, tetapi juga oleh masyarakat umum, bahkan oleh para sejawatnya dari kalangan Kiai. Setelah pondok pesantren berdiri, Mbah Manshur bukan saja kedatangan tamu yang mau mengaji saja, tetapi juga tamu-tamu umum yang bermaksud bersilaturrahmi dan ngalap berkah. Karisma Mbah Mansur pun semakin meningkat dan menjadi Kiai popular di kalangan masyarakat Klaten, Surakarta, Semarang, Jawa Tengah pada umumnya, dan Yogyakarta.
Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krayak Yogyakarta, adalah termasuk murid Mbah Manshur di Yogyakarta. Walaupun tidak menjadi mursyid tarekat, Kiai Munawwir menjadi bagian penting dalam perjuangan Mbah Manshur. Ketika Kiai Munawwir meninggal tahun 1942, Mbah Manshur menghadiri acara ta’ziyah dan menjadi imam shalat jenazah.
Mbah Manshur juga menjalin hubungan baik dengan Mbah Siroj, Panularan Surakarta, dan Mbah Ahmad Umar bin Abdul Mannan Mangkuyudan Surakarta. Kedekatan dengan Kiai Ahmad Umar ditunjukkan dengan pembertian nama Al-Muayyad oleh Mbah Manshur untuk nama pondok pesantren di Mangkuyudan yang dirintis Mbah Kiai Abdul Mannan pada tahun 1930. Al-Muayyad berarti yang dikuatkan, artinya bahwa pondok pesantren tersebut dikuatkan oleh kaum muslimin di Surakarta dan sekitarnya.
Mbah Manshur wafat tahun 1955. Setiap tahun Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan dan Baqni Manshur mengadakan acara haul yang dihadiri oleh ribuan orang. Pada tahun 2013 ini, haul Mbah Manshur sudah sampai yang ke 58. Setelah Mbah Manshur wafat, estafet kepemimpinan pesantren dan tarekat dipegang oleh cucunya, Kiai Salman, dan mulai tahun 2013, kepemimpinan dipegang oleh Gus Multazam bin Salman Dahlawi.
Menurut informasi dari banyak sumber, Mbah Manshur menyusun lafaz do’a bagi para santri sebelum membaca Al-Qur’an. Lafaz do’a itu dipasang di Madrasah (sebutan salah satu gedung pengajian di Pondok Pesantren Al-Manshur, tepat di depan Ndalem yang ditinggali Mbah Manshur). Lafaz doa tersebut menjadi kharakter khas bacaan bagi santri-santri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sampai deweasa ini.
Lafaz tersebut berbunyi:
Allahumma bil haqqi anzaltahu wa bil haqqi nazal
Allahumma Adzdzim rughbatii fiih
Waj’alhu nuuran li bashorii
Wasyifaa’an li shodrii
Wadzahaban lihammii wa huznii
Allahumma zayyin bihii lisaanii
Wajammil bihii wajhii
Waqawwi bihii jasadii Watsaqqil bihii miizaani
Waqawwinii ‘alaa thaa’atika wa athraafan nahaar
Setiap santri Al-Manshur Popongan mesti hafal do’a tersebut, karena doa karya Mbah Manshur itu selalu dibaca sebelum mengaji Al-Qur’an, baik pengajian AL-Qur’an setelah maghrib, setelah subuh, maupun setelah dhuhur.
Selain itu, beberapa sumber menyebutkan bahwa Syi’ir Tanpo Waton yang dipopulerkan Gus Dur diambil dari Pondok Sepuh di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan. Tetapi dalam pengalaman penulis yang 3 tahun nyantri di Popongan, belum pernah mendengar puji-pujian syi’ir terserbut, khususnya lafaz yang berbahasa jawa Adapun lafaz dengan bahasa Arab merupakan lafaz yang popular dan banyak dipahami masyarakat di berbagai daerah.
Syamsul Bakri, Ketua Lakpesdam-NU Klaten, Pengasuh Pesantren Darul Afkar Klaten, dan Dosen IAIN Surakarta
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,50192-lang,id-c,tokoh-t,Kiai+Manshur+Popongan++Mursyid+Tarekat+Naqsyabandiyah-.phpx
NU Lion Siap Lanjutkan Cita-cita Ekonomi Gus Dur
=============
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50223-lang,id-c,nasional-t,NU+Lion+Siap+Lanjutkan+Cita+cita+Ekonomi+Gus+Dur-.phpx
NU Lion Siap Lanjutkan Cita-cita Ekonomi Gus Dur
===================
Tangerang, NU Online
Sebuah lembaga pengembangan ekonomi masyarakat kerjasama PBNU dan Lion Group, pemilik maskapai penerbangan Lion Air, NU-Lion resmi dilaunching di Tangerang, Ahad siang (16/02). Lembaga yang diklaim bakal membackup kegiatan ekonomi kelas kecil menengah warga Nahdliyin ini sekaligus disiapkan untuk melanjutkan cita-cita ekonomi Gus Dur.
Peluncuran program kerjasama pemberdayaan ekonomi kerakyatan NU Lion diresmikan melalui penadatanganan nota kesepahaman antara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj MA dengan Direktur Utama Lion Group Rusdi Kirana di pesantren Nur Antika, Tigaraksa, Tangerang, Banten (16/02)..
Dalam prosesi MoU, nampak turut menyaksikan Mustasyar KH Ma’ruf Amin, KH Abd Ghofur, dan Menteri PDT Helmy Faishal Zaini.
Dirut Lion Group Rusdi Kirana mengatakan, program NU Lion merupakan wujud terima kasihnya kepada NU yang telah mengambil peran cukup penting dalam menjaga kebhinnekaan Indonesia. Menurut Rusdi, program ini bukan semata servis politik jelang pemilu 2014. “NU-Lion benar-benar saya persembahkan untuk NU dan Indonesia,” urainya.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengapresiasi realisasi program NU-Lion. Menurutnya, keputusan membangun kerjasama ekonomi dengan PBNU sudah tepat. Apalagi dengan niat tulus untuk membesarkan warga NU.
“Sudah pas kalau pak Rusdi gabung PKB dengan nawaitunya membesarkan warga Nahdliyin,” tandasnya.
Kiai Said juga menegaskan, NU memiliki modal sejarah cukup besar dan nyata dalam ikut membangun pondasi berdirinya NKRI. Karena itu NU tidak boleh dipinggir, NU tidak boleh jadi penonton. “NU sebagai owner sah harusnya menjadi pemilik negeri ini,”
“Hari ini insyaallah kita bisa menjawab tantangan bangsa kita dengan berbuat sesuatu lebih nyata lagi. Dari Nur Antika kebangkitan NU dimulai, dengan NU-Lion kita siap lanjutkan cita-cita ekonomi Gus Dur,” kata Menakertrans Muhaimin Iskandar dalam sambutan peluncuran NU Lion.
Cak Imin yang juga Menakertrans mengatakan, dulu ketika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, pemikiran untuk mengangkat perekonomian warga NU sebenarnya sudah dimulai. Gus Dur merintisnya dengan membuka kerjasama dengan Bang Summa. Kemudian berdirilah Bank-Bank Perkreditan Rakyat bernama NUSumma. Namun sayang, program kerjasama tersebut belum maksimal.
Sebuah lembaga pengembangan ekonomi masyarakat kerjasama PBNU dan Lion Group, pemilik maskapai penerbangan Lion Air, NU-Lion resmi dilaunching di Tangerang, Ahad siang (16/02). Lembaga yang diklaim bakal membackup kegiatan ekonomi kelas kecil menengah warga Nahdliyin ini sekaligus disiapkan untuk melanjutkan cita-cita ekonomi Gus Dur.
Peluncuran program kerjasama pemberdayaan ekonomi kerakyatan NU Lion diresmikan melalui penadatanganan nota kesepahaman antara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj MA dengan Direktur Utama Lion Group Rusdi Kirana di pesantren Nur Antika, Tigaraksa, Tangerang, Banten (16/02)..
Dalam prosesi MoU, nampak turut menyaksikan Mustasyar KH Ma’ruf Amin, KH Abd Ghofur, dan Menteri PDT Helmy Faishal Zaini.
Dirut Lion Group Rusdi Kirana mengatakan, program NU Lion merupakan wujud terima kasihnya kepada NU yang telah mengambil peran cukup penting dalam menjaga kebhinnekaan Indonesia. Menurut Rusdi, program ini bukan semata servis politik jelang pemilu 2014. “NU-Lion benar-benar saya persembahkan untuk NU dan Indonesia,” urainya.
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengapresiasi realisasi program NU-Lion. Menurutnya, keputusan membangun kerjasama ekonomi dengan PBNU sudah tepat. Apalagi dengan niat tulus untuk membesarkan warga NU.
“Sudah pas kalau pak Rusdi gabung PKB dengan nawaitunya membesarkan warga Nahdliyin,” tandasnya.
Kiai Said juga menegaskan, NU memiliki modal sejarah cukup besar dan nyata dalam ikut membangun pondasi berdirinya NKRI. Karena itu NU tidak boleh dipinggir, NU tidak boleh jadi penonton. “NU sebagai owner sah harusnya menjadi pemilik negeri ini,”
“Hari ini insyaallah kita bisa menjawab tantangan bangsa kita dengan berbuat sesuatu lebih nyata lagi. Dari Nur Antika kebangkitan NU dimulai, dengan NU-Lion kita siap lanjutkan cita-cita ekonomi Gus Dur,” kata Menakertrans Muhaimin Iskandar dalam sambutan peluncuran NU Lion.
Cak Imin yang juga Menakertrans mengatakan, dulu ketika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, pemikiran untuk mengangkat perekonomian warga NU sebenarnya sudah dimulai. Gus Dur merintisnya dengan membuka kerjasama dengan Bang Summa. Kemudian berdirilah Bank-Bank Perkreditan Rakyat bernama NUSumma. Namun sayang, program kerjasama tersebut belum maksimal.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50223-lang,id-c,nasional-t,NU+Lion+Siap+Lanjutkan+Cita+cita+Ekonomi+Gus+Dur-.phpx
Ketegasan Kiai Zainal 'Abidin Munawwir Krapyak Yogya
============
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,50245-lang,id-c,esai-t,Ketegasan+Kiai+Zainal-.phpx
Ketegasan Kiai Zainal
================
Saat mengaji di
Krapyak (1983-86), saya masih bocah berusia belasan. Gus Hilmi yang saat
ini sudah menjadi salah satu pemangku pesantren, adalah adik kelas
saya. Level saya adalah menamatkan bacaan Al-Quran bin nazhor kepada Kiai Zaini.
Saya belum masuk kelas Kiai Zainal yang terbilang tinggi. Namun, beruntung saya masih mendapatkan kesempatan sorogan setiap pagi (wajib bagi semua santri) kepada Kiai Ali Maksum yang saat itu masih menjadi Rais Aam PBNU.
Saat kelas 3 Mts, semua siswa dikumpulkan di asrama B bersebelahan dengan siswa kelas 3 MA. Nah, letak asarama B ini (waktu itu) persis di sebelah kediaman Kiai Zainal. Dengan demikian, sekalipun saya tidak sempat mengaji langsung, interaksi fisik dengan beliau hampir setiap hari. Tutur katanya yang santun, hidupnya yang bersahaja kemana-mana naik sepeda, dan membujang, tak luput dari amatan saya. Waktu itu ibundanya masih ada dan tinggal bersama beliau.
Konon, beliau baru akan menikah jika Sang Ibu sudah wafat karena tidak ingin istrinya kelak "bentrok", yang akan mengakibatkan ibunya sakit hati. Ingat kisah Uwais Al-Qarny, kan? Dan memang benar, setelah Sang Ibunda wafat, beliau menikah setelah "dijodohkan" oleh Kiai Ali. Hajatan besar saat itu dan kami semua ikut menyaksikannya.
Ada dua peristiwa yang masih kuat dalam ingatan saya tentang Kiai Zainal. Suatu hari, beliau meminta saya membelikan obat nyamuk ke warung. Satu hal yang paling membahagiakan santri adalah menjalankan dawuh kiai. Saya menerima uang 100 rupiah yang beliau berikan. Saya bergegas pergi ke warung terdekat dan segera mengantarkan pesanan bersama uang kembaliannya.
"Dzulkifli, kok kembaliannya lebih 25 rupiah? Tempo hari seingat saya harganya 100," Kiai Zainal "protes" dan meminta saya mengembalikan kelebihan uang itu.
Saya agak bingung. "Harganya memang 75 rupiah kok, Kiai."
"Ooh ya sudah, ini ambil buat kamu," ujar beliau sambil memberikan uang kembalian itu.
"Kelebihan" 25 perak saja ternyata beliau nggak mau.
Lain waktu, di mata saya yang masih bocah, terjadi peristiwa yang luar biasa di masjid Krapyak, pada suatu hari Jumat yang bertepatan dengan giliran Kiai Ali memberikan khutbah. Awalnya khutbah berjalan lancar dan Kiai Ali sudah sampai pada doa penutup khutbah kedua.
Sebelum beliau turun, Kiai Zainal berdiri dan menyampaikan sesuatu. Lalu Kiai Ali kembali pada posisi khatib dan mengulangi dua khutbah Jumat secara cepat. Rupanya, pada khutbah kedua yang awal tadi beliau kelewat membaca "ittaqullah" yang merupakan rukun khutbah.
Tentu saja "keberanian" Kiai Zainal mengingatkan Kiai Ali dengan cara yang santun itu sangat mengesankan bagi saya. Beliau benar-benar ahli fiqh yang menerapkan fiqh dalam kesehariannya yang dibarengi jalan hidup zuhud yang sangat langka dipraktikkan lagi.
Alhamdulillah ... saya berkesempatan berinteraksi dengan Kiai Zainal. Sekalipun dalam segala keterbatasa usia saya waktu itu, saya masih bisa mendapatkan hikmah dari kehidupan beliau. Lahul fatihah ...
IIP DZULKIFLI YAHYA, warga NU tinggal di Australia, pernah nyantri di Krapyak
Saya belum masuk kelas Kiai Zainal yang terbilang tinggi. Namun, beruntung saya masih mendapatkan kesempatan sorogan setiap pagi (wajib bagi semua santri) kepada Kiai Ali Maksum yang saat itu masih menjadi Rais Aam PBNU.
Saat kelas 3 Mts, semua siswa dikumpulkan di asrama B bersebelahan dengan siswa kelas 3 MA. Nah, letak asarama B ini (waktu itu) persis di sebelah kediaman Kiai Zainal. Dengan demikian, sekalipun saya tidak sempat mengaji langsung, interaksi fisik dengan beliau hampir setiap hari. Tutur katanya yang santun, hidupnya yang bersahaja kemana-mana naik sepeda, dan membujang, tak luput dari amatan saya. Waktu itu ibundanya masih ada dan tinggal bersama beliau.
Konon, beliau baru akan menikah jika Sang Ibu sudah wafat karena tidak ingin istrinya kelak "bentrok", yang akan mengakibatkan ibunya sakit hati. Ingat kisah Uwais Al-Qarny, kan? Dan memang benar, setelah Sang Ibunda wafat, beliau menikah setelah "dijodohkan" oleh Kiai Ali. Hajatan besar saat itu dan kami semua ikut menyaksikannya.
Ada dua peristiwa yang masih kuat dalam ingatan saya tentang Kiai Zainal. Suatu hari, beliau meminta saya membelikan obat nyamuk ke warung. Satu hal yang paling membahagiakan santri adalah menjalankan dawuh kiai. Saya menerima uang 100 rupiah yang beliau berikan. Saya bergegas pergi ke warung terdekat dan segera mengantarkan pesanan bersama uang kembaliannya.
"Dzulkifli, kok kembaliannya lebih 25 rupiah? Tempo hari seingat saya harganya 100," Kiai Zainal "protes" dan meminta saya mengembalikan kelebihan uang itu.
Saya agak bingung. "Harganya memang 75 rupiah kok, Kiai."
"Ooh ya sudah, ini ambil buat kamu," ujar beliau sambil memberikan uang kembalian itu.
"Kelebihan" 25 perak saja ternyata beliau nggak mau.
Lain waktu, di mata saya yang masih bocah, terjadi peristiwa yang luar biasa di masjid Krapyak, pada suatu hari Jumat yang bertepatan dengan giliran Kiai Ali memberikan khutbah. Awalnya khutbah berjalan lancar dan Kiai Ali sudah sampai pada doa penutup khutbah kedua.
Sebelum beliau turun, Kiai Zainal berdiri dan menyampaikan sesuatu. Lalu Kiai Ali kembali pada posisi khatib dan mengulangi dua khutbah Jumat secara cepat. Rupanya, pada khutbah kedua yang awal tadi beliau kelewat membaca "ittaqullah" yang merupakan rukun khutbah.
Tentu saja "keberanian" Kiai Zainal mengingatkan Kiai Ali dengan cara yang santun itu sangat mengesankan bagi saya. Beliau benar-benar ahli fiqh yang menerapkan fiqh dalam kesehariannya yang dibarengi jalan hidup zuhud yang sangat langka dipraktikkan lagi.
Alhamdulillah ... saya berkesempatan berinteraksi dengan Kiai Zainal. Sekalipun dalam segala keterbatasa usia saya waktu itu, saya masih bisa mendapatkan hikmah dari kehidupan beliau. Lahul fatihah ...
IIP DZULKIFLI YAHYA, warga NU tinggal di Australia, pernah nyantri di Krapyak
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,50245-lang,id-c,esai-t,Ketegasan+Kiai+Zainal-.phpx
Sembilan dari 10 Pintu Rezeki Ada di Perdagangan
===========
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50231-lang,id-c,nasional-t,Sembilan+dari+10+Pintu+Rezeki+Ada+di+Perdagangan-.phpx
Sembilan dari 10 Pintu Rezeki Ada di Perdagangan
==================
Purwokerto, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas’udi mengingatkan, sembilan dari 10 pintu rezeki terletak di dalam dunia perdagangan. Untuk itu ia mengimbau para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
“Teruslah berusaha banting tulang. Sebab Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah di perdagangan. Sisanya satu pintu direbutkan banyak profesi,” kata Masdar saat mengisi Banyumas Informasi Meeting di Gedung FKUB Purwokerto jalan A Yani Purwokerta, Ahad (16/2).
Di samping itu, lanjutnya, berdagang juga merupakan sunah Rasulullah SAW karena Beliau juga berprofesi sebagai pedagang. Ia berpesan agar HIPSI mampu merumuskan strategi bisnis kaum santri. Sehingga, tidak tergilas pengusaha lain dan mampu menjadi pelaku usaha yang berahlakul karimah.
Senada dengan Masdar, Ketua Umum HIPSI Moh Ghozali mengajak teman-teman pengurus HIPSI di daerah agar pandai-pandai membaca peluang bisnis. Di samping itu, mereka harus memiliki kemampuan merekrut pemangku kebijakan serta membuka jaringan kerja di daerahnya baik dengan perusahaan besar maupun mitra-mitra lainnya.
Sementara pengasuh pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog KH Sholahuddin Masruri yang juga Pembina HIPSI Jateng mengatakan, “Kita harus ingat bahwa lahirnya NU berawal dari kebangkitan ekonomi (Nahdlatut Tujar). Karena itu kita mempunyai kewajiban mengawal dengan cara meningkatkan perekonomian warga NU melalui HIPSI.”
KH Sufaat sebagai panitia penyelenggara menjelaskan, Banyumas Meeting digelar sebagai upaya merumuskan strategi bisnis selain ajang konsolidasi HIPSI se-Jateng.
Narasumber lain yang turut mengisi acara seorang budayawan KH Ahmad Tohari, akademisi Unsoed Dr Nurul Anwar, dan seorang pengusaha Agus Windiarto.
Ketua HIPSI Brebes H Moh Sodikin menuturkan, HIPSI Brebes akan menyelenggarakan pelatihan marketing dan marketing online kerja sama dengan Telkomsel sebagai tindak lanjut pertemuan ini. “Kami juga dalam waktu dekat akan membuka Restoran Cepat Saji “So Tasty Cickhen” di Bumiayu kerjasama dengan SO GOOD,” imbuhnya.
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas’udi mengingatkan, sembilan dari 10 pintu rezeki terletak di dalam dunia perdagangan. Untuk itu ia mengimbau para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) agar tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
“Teruslah berusaha banting tulang. Sebab Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah di perdagangan. Sisanya satu pintu direbutkan banyak profesi,” kata Masdar saat mengisi Banyumas Informasi Meeting di Gedung FKUB Purwokerto jalan A Yani Purwokerta, Ahad (16/2).
Di samping itu, lanjutnya, berdagang juga merupakan sunah Rasulullah SAW karena Beliau juga berprofesi sebagai pedagang. Ia berpesan agar HIPSI mampu merumuskan strategi bisnis kaum santri. Sehingga, tidak tergilas pengusaha lain dan mampu menjadi pelaku usaha yang berahlakul karimah.
Senada dengan Masdar, Ketua Umum HIPSI Moh Ghozali mengajak teman-teman pengurus HIPSI di daerah agar pandai-pandai membaca peluang bisnis. Di samping itu, mereka harus memiliki kemampuan merekrut pemangku kebijakan serta membuka jaringan kerja di daerahnya baik dengan perusahaan besar maupun mitra-mitra lainnya.
Sementara pengasuh pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog KH Sholahuddin Masruri yang juga Pembina HIPSI Jateng mengatakan, “Kita harus ingat bahwa lahirnya NU berawal dari kebangkitan ekonomi (Nahdlatut Tujar). Karena itu kita mempunyai kewajiban mengawal dengan cara meningkatkan perekonomian warga NU melalui HIPSI.”
KH Sufaat sebagai panitia penyelenggara menjelaskan, Banyumas Meeting digelar sebagai upaya merumuskan strategi bisnis selain ajang konsolidasi HIPSI se-Jateng.
Narasumber lain yang turut mengisi acara seorang budayawan KH Ahmad Tohari, akademisi Unsoed Dr Nurul Anwar, dan seorang pengusaha Agus Windiarto.
Ketua HIPSI Brebes H Moh Sodikin menuturkan, HIPSI Brebes akan menyelenggarakan pelatihan marketing dan marketing online kerja sama dengan Telkomsel sebagai tindak lanjut pertemuan ini. “Kami juga dalam waktu dekat akan membuka Restoran Cepat Saji “So Tasty Cickhen” di Bumiayu kerjasama dengan SO GOOD,” imbuhnya.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,50231-lang,id-c,nasional-t,Sembilan+dari+10+Pintu+Rezeki+Ada+di+Perdagangan-.phpx
Hukum Parfum Beralkohol
===========
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,50255-lang,id-c,syariah-t,Hukum+Parfum+Beralkohol-.phpx
Hukum Parfum Beralkohol
================
Bagi sebagian
kalangan, barang encer dalam botol minyak wangi bisa menaikkan tingkat
kepercayaan diri. Tetapi tidak sedikit mereka yang berjiwa besar tanpa
mengenal parfum. Di antara
keduanya, ada juga mereka yang mengenakan minyak wangi dalam tempo
tertentu sesuai kehendak hati. Yang jelas, setiap mereka mengantongi
alasan macam-macam.
Perdagangan cairan wangi asiri yang mudah menguap pada temperatur agak rendah ini bisa didapati di emper masjid, pasar tradisional, pasar swalayan, atau pasar-pasar malam dadakan.
Pedagang minyak wangi biasanya menerakan minyak wangi yang tidak mengandung alkohol. “Non alkohol,” dengan tulisan besar. Untuk yang beralkohol, biasanya tanpa keterangan apapun. Penggolongan keduanya bisa berasal dari pedagang, peracik, atau produsennya.
Penggolongan ini sekurangnya membelah sikap warga. Ada yang memilih non alkohol untuk menenangkan hati jika mereka bersembayang. Pasalnya, ia menganggap najis zat alkohol yang digolongkan ke dalam khamar. Sedangkan yang lain mengambil parfum beralkohol di samping ada juga mereka yang tidak mengambil peduli.
Sikap di atas bisa dijelaskan secara hukum antara lain; pertama zat alkohol termasuk ke dalam khamar. Artinya alkohol sebagaimana khamar juga haram dan najis. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, alkohol hanya haram dikonsumsi, tetapi tidak najis digunakan untuk kepentingan parfum misalnya.
“Alkohol tidak identik dengan khamar. Kekeliruan orang banyak mengidentikan keduanya. Padahal keduanya tidak selalu identik. Kalau alkohol diminum, ia baru disebut khamar. Tetapi sejauh digunakan untuk parfum, tidak menjadi apa,” kata Katib Aam PBNU KH Malik Madani di Gedung PBNU jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (13/2).
Sementara pendapat ketiga mengatakan, khamar itu tetap suci kendati tetap haram. Keterangan ini bisa didapat dari Syekh Abdul Wahab bin Ahmad Al-Ansori yang lazim dikenal As-Sya’roni dalam kitab Al-Mizanul Kubro berikut.
أجمع الأئمة علي نجاسة الخمر إلا ما حكي عن داود أنه قال بطهارتها مع تحريمها
“Para imam mujtahid sepakat atas najisnya khamar kecuali riwayat dari Imam Daud. Ia berpendapat, khamar itu suci meski haram untuk dikonsumsi.” Pendapat ini bisa berlaku bagi mereka yang mengidentikkan alkohol dan khamar. Wallahu A’lam.
Perdagangan cairan wangi asiri yang mudah menguap pada temperatur agak rendah ini bisa didapati di emper masjid, pasar tradisional, pasar swalayan, atau pasar-pasar malam dadakan.
Pedagang minyak wangi biasanya menerakan minyak wangi yang tidak mengandung alkohol. “Non alkohol,” dengan tulisan besar. Untuk yang beralkohol, biasanya tanpa keterangan apapun. Penggolongan keduanya bisa berasal dari pedagang, peracik, atau produsennya.
Penggolongan ini sekurangnya membelah sikap warga. Ada yang memilih non alkohol untuk menenangkan hati jika mereka bersembayang. Pasalnya, ia menganggap najis zat alkohol yang digolongkan ke dalam khamar. Sedangkan yang lain mengambil parfum beralkohol di samping ada juga mereka yang tidak mengambil peduli.
Sikap di atas bisa dijelaskan secara hukum antara lain; pertama zat alkohol termasuk ke dalam khamar. Artinya alkohol sebagaimana khamar juga haram dan najis. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, alkohol hanya haram dikonsumsi, tetapi tidak najis digunakan untuk kepentingan parfum misalnya.
“Alkohol tidak identik dengan khamar. Kekeliruan orang banyak mengidentikan keduanya. Padahal keduanya tidak selalu identik. Kalau alkohol diminum, ia baru disebut khamar. Tetapi sejauh digunakan untuk parfum, tidak menjadi apa,” kata Katib Aam PBNU KH Malik Madani di Gedung PBNU jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (13/2).
Sementara pendapat ketiga mengatakan, khamar itu tetap suci kendati tetap haram. Keterangan ini bisa didapat dari Syekh Abdul Wahab bin Ahmad Al-Ansori yang lazim dikenal As-Sya’roni dalam kitab Al-Mizanul Kubro berikut.
أجمع الأئمة علي نجاسة الخمر إلا ما حكي عن داود أنه قال بطهارتها مع تحريمها
“Para imam mujtahid sepakat atas najisnya khamar kecuali riwayat dari Imam Daud. Ia berpendapat, khamar itu suci meski haram untuk dikonsumsi.” Pendapat ini bisa berlaku bagi mereka yang mengidentikkan alkohol dan khamar. Wallahu A’lam.
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,50255-lang,id-c,syariah-t,Hukum+Parfum+Beralkohol-.phpx
Langganan:
Postingan (Atom)
