ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 28 Maret 2012

Tujuan Tasawuf adalah Mengenal Allah

Sufi Road: Tujuan Tasawuf adalah Mengenal Allah

==============
Abdur Rauf Al Singkil
Sebagai seorang Salik, ia tidak menjauh dari kehidupan sosial-masyarakat dan menyepi di bukit-bukit. gunung-gunung, dan di hutan-hutan tapi meleburkan dlri dalam aktivitas sehari-hari bersama masyarakat.

Masih banyak masyarakat yang salah dan keliru dalam melihat tasawuf. Sehingga dalam benak mereka tasawuf itu lebih identik dengan keterbelakangan, kumuh. lusuh, miskin dan semacamnya. Itu karena tasawuf hanya dipahaminya sebatas dzikir, wiridan. puasa, 'uzlah, mistis, dan irrasional. Berbeda dengan pandangan tasawuf yang dikembangkan oleh Abd Rauf al-Sinkili, yang tidak hanya berupa dan berhubungan dengan hal-hal yang kumuh tersebut. Justru tasawuf yang benar adalah yang rasional, tidak kumuh, dan penuh optimisme dalam kehidupan.
Seorang sufi, kata Abd Rauf al-Sinkili, tidak harus menjauh dari kehidupan sosial-masyarakat dan menyepi di bukit-bukit gunung-gunung, dan di hutan-hutan, tapi seharusnya meleburkan diri dalam aktivitas sehari-hari bersama masyarakat. Mengatasi problema-problema yang dihadapi masyarakat baik yang bersifat sosial, politik, budaya, ekonomi maupun agama. Seorang sufi juga tidak hams lepas dari syari'at, tapi setiap gerak gerik dan perbuatan seorang salik harus sesuai dengan syari'at yang telah ditentukan dalam al-Qur'an dan hadis.

Nama lengkapnya adalah Abd Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili. la adalah seorang ulama besar Indonesia pada abad ke-17. Syaikh Abdul Rauf dilahirkan di Kabupaten Singkel, di wilayah pantai barat-laut Aceh. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tapi menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, yang mengutip dari Ringkes, setelah mengadakan kalkulasi ke masa lalu saat kembalinya Abd Rauf dari tanah Arab, Madinah, bahwa Abd Rauf al-Sinkili dilahirkan sekitar 1024 H/1615 M., lebih 100 tahun setelah kejatuhan Malaka dari tangan Portugis.

Al-Sinkili mendapatkan pendidikan pertama-nya langsung dari ayahnya, Syaikh Ali (al-Fansuri), seorang ulama yang mempunyai madrasah di Aceh. Di Serambi Makkah ini ia juga berguru kepada beberapa ulama besarseperti Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1040 H./1630 M.).
Sementara untuk memperluas wawasan keilmuan dan pengetahuannya, al-Sinkili meninggalkan Aceh menuju Arabia seperti Yaman, Jeddah, Mekkah dan Madinah, pada 1052 H./ 1642 M. Selama 19 tahun di Arabia, ia belajar berbagai disiplin ilmu seperti syari'at fiqih. hadis, ilmu kalam dan tasawuf, tidak kurang dari 19 guru dan 27 ulama lainnya ia berguru kepada mereka yang mempunyai kontak dan hubungan pribadi. Di antara gurunya yang paling penting adalah Ibrahim ibn Abd Allah ibn Jam'an (w. 1083 H./1672 M). Kepadanya al-Sinkili mempelajari apa yang dinamakan ilmu ai-zhahir ( pengetahuan eksoteris), seperti hadis dan fiqih dan subyek-subyek lain yang terkait di Yaman.

Setelah menyelesaikan belajar di Yaman, al-Sinkili melanjutkan perjalanannya ke Jeddah, yartu ke Makkah dan terakhir ke Madinah. Di Madinah-lah al-Sinkili mendapatkan ilmu-ilmu bathin (pengetahuan esoteris). Dan, guru utamanya yang sangat mempengaruhi perjalanan spiritualnya adalah Syaikh Ahmad al-Qusyasyi. Diakuinya. bahwa karena berkat gurunya itulah dia kemudian boleh berbuat khidmat kepada tapak wali Allah yang kamil (sempuma) lagi mukamal (menyem-purnakan) (Azra.1999). Bahkan al-Qusyasyi kemudian mempercayai al-Sinkili sebagai pimpinan {khalifah) Tarekat Syathariyyah dan Qadiriyyah.

Setelah 19 tahun berada di Arabia, ia lalu memutuskan kembali ke Aceh sekitar 1661 M., yaitu setahun setelah al-Qusyasyi meninggal, dan mengajar di madrasahnya di Aceh. Banyak orang dari seluruh nusantara yang datang untuk berguru kepadanya. Di antara murid-muridnya yang menjadi ulama terkenal ialah Syaikh Burhanuddin Wafan dari Minangkabau, Abd al-Muhyi dari jawa Barat, Dawud al-Jawi al-Fansuri dan Ismail Agha Mushthafa Agha 'Ali al-Rumi dari Turki.
Sebagai ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu keagamaan, Abd Rauf telah menghasilkan berbagai karyatulis (kitab) yang cukup besar di bidang agama, antara lain: fiqih, hadis, tasawuf, dan tafsir. Sedangkan di antara karya yang dihubungkan dengan al-Sinkili dalam bidang fiqih adalah Mir 'ah at-Tullab fi TashilMa 'rifah al-Ahkam asy-Syar 'iyyah Hal-Malikal-Wahhab (Cermin para Penuntut Ilmu, untuk Memudahkan Mengetahui Hukum-hukum Syari'at Tuhan) dalam bahasa Melayu. Karya ini ditulis atas permintaan Sultan Safiyyat al-Din, yang diselesaikan pada 1074 H./ 1663 M. Isi karya ini mengungkapkan tentang aspek muamalat, fiqih, termasuk sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan umat Islam.

Prestasi lain dari al-Sinkili sebagai ulama besar, ternyata bukan hanya menulis untuk kaum Muslim awam mengenai ilmu-ilmu zahir (ibadah sehari-hari), tetapi juga untuk kalangan elit (al-khawwash) mengenai topik-topik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu batin seperti kalam dan tasawuf. Dalam bidang terakhir inilah al-Sinkili lebih dikenal luas di kawasan Melayu.
Karya-karya al-Sinkili dalam bidang tasawuf adalah lebih banyak dibandingkan dengan karya-karya yang lain. Oman Fathurrahman mencatat sebanyak23 karya khusus dalam bidang tasawuf. Di antaranya adalah Umdah al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufarridin (Pijakan bagi Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf) dalam bahasa Melayu, Tanbih al-Masi afMansub ila Tariq al-Qusyasyiyy (Pedoman bagi Orang yang Menem¬puh Tarekat al-Qusyasyiyy) dalam bahasa Arab, dan Kifayat al-Muhtajin ila Masyrab al-Muwah-hidin al-Qa ilin bi Wahdat al-Wujud (Bekal bagi Orang-orang yang Membutuhkan Minuman Ahli Tauhid Penganut Wahdatuf Wujud), juga dalam bahasa Melayu.

Dalam kitab Kifayat al-Muhtajib ini, af-Sinkil banyak berkomentar dan menjelaskan mengenai konsep wahdat al wujud telah diperdebatkan oleh ulama-ulama sebelumnya. Dalam konteks ini al-Sinkili mempertahankan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya dan menolak pendapat Wujudiyyah yang menekankan imanensi Tuhan dalam ciptaan-Nya.
la berargumen, sebelum Tuhan menciptakan alam raya, Dia selalu memikirkan tentang diri-Nya sendiri, yang mengakibatkan terciptanya Nur Muhammad. Dan dari Nur Muhammad itulah Tuhan menciptakan pola-pofa dasar permanen (al-a'yun al-tsabitah), potensi alam raya. yang menjadi sumber pola-pola dasar (al-a’yubn-al-kharijiyyah), ciptaan dalam bentuk konkretnya. Al-Sinkili menyimpulkan, meskipun a'yun al-kharijiyyah merupakan pancaran-bayangan dari Wujud Mutlak, untuk masalah ini mereka berbeda dari Tuhan itu sendiri.


Wujud Yang Esa
Ajaran dan wajah tasawuf al-Sinkili berpijak pada konsep ke-Esa-an Tuhan atau Wahdat al-Wujud. Dalam pandangannyabahwasatu-satunya wujud adalah Allah {la ilaha ilia Allah), tidak ada wujud selain wujud Allah. Dengan kata lain, wujud dalam pengertian hakiki hanya al-Haq, segala sesuatu selain a/-Haqt\6ak memiliki wujud. Wujud selain al-Haq, yaitu alam raya dan isinya ini misalnya, hanyalah bayangan dari al-Haq, atau bayangan dari bayangan-Nya, bukan wujud-Nya.
Dengan demikian al-Sinkili menegaskan transendensi Tuhan atas makhluk-Nya. Transen-densi di sini menurutnya, bahwa alam -termasuk manusia di dalamnya - tidak memiliki wujud tersendiri, karena ia hanya merupakan bayangan Tuhan. Kehadiran bayangan itu tergantung pada ada dan tidak adanya bayangan. Oleh sebab itu, wujud hakiki yang sebenarnya adalah sumber bayangan tersebut berikut segala sifat yang melekat padanya. Menurut al-Sinkili yang juga mengutip perkataan Ibnu 'Arabi bahwa hakikat manusia adalah bayangan Allah, tidak lain dari itu (waa'yunina finafsial¬am ri dzilluhu la ghairuhu).

Dengan pandangannya bahwa alam adalah bayangan Allah, al-Sinkili menegas¬kan jika alam ini bukan benar-benar Dzat al-Haq, karena anggapan tersebut akan mem-batalkan status al-Haq sebagai Pencipta Alam Raya. Oleh sebab itu, al-Sinkili menyatakan sangat tidak mungkin jika Sang Pencipta menciptakan Dzat-Nya sendiri secara utuh.
Pandangan al-Sinkili bahwa alam merupakan bayangan Tuhan, secara implisit merupakan jawaban atas panda¬ngan kontroversial Hamzah Fansuri yang menganut konsep wujudiyyah. dan menekankan sisi persamaan dan penyatuan antara bayangan dengan benda aslinya. Menurut Hamzah Fansuri bahwa dirinya Itu, sungguh pun mendapatkan nama dan rupa, hakikat rupa dan namanya tidak ada. Seperti bayang-bayang dalam cermin, rupanya dan namanya ada, tapi hakikatnya tidak ada. Oleh karena itu, dirinya bersama-sama dengan Tuhannya, karena dirinya tidak terpisah dengan Tuhannya, dan Tuhan pun tidak terpisah dengan hamba-Nya.

Alasan al-Sinkili atas ketidaksetujuannya terhadap pandangan Hamzah Fansuri tersebut adalah berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an yang menjelaskan bahwa tidak sekali pun Allah menciptakan Dzat-Nya sendiri. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah berkata: Qui Allahu khaliqukullisya'in (Katakanlah Hai Muhammad! Allah itu Pencipta segala sesuatu). Allah tidak mengatakan, misalnya, Qui Allahu khaliqu 'ainihi (Katakanlah! Allah adalah Pencipta Dzat-Nya sendiri).
Kalaupun ada, menurut al-Sinkili, orangyang mengatakan bahwa alam dan segala sesuatu itu adalah Dzat al-Haq, hal itu hanya berlaku pada zaman azali. Pada zaman azali itu segala sesuatu dihubungkan dengan wujud Allah, sehingga ia dapat dikatakan sebagai wujud, tapi bukan wujud
hakiki. karenayang hakiki di zaman azali pun hanya wujud Allah, yang lain hanya berada pada tingkat imkan al-wujud. yaitu kemungkinan wujud. Dengan demikian jika manusia. yang notabene bagian dari alam, benar-benar merupakan sama dan menyatu dengan Dzat Allah, seharusnya ia dapat mewujudkan apa saja yang dikehendaki dan dapat dilakukan dalam sekejap. seperti yang Allah tegaskan dalam al-Qur'an, Idza arada sya'an an yaqula lahukun fayakun (Apabila Allah menghen daki sesuatu. hanya berkata kepadanya. jadilah! Maka jadilah itu). Tapi kenyataannya manusia tidak mampu melaksanakan hal tersebut, karena kehendaknya tidak selalu seiring dengan kehendak Allah. Hal ini menjadi bukti bahwaalam, manusia, atau makhluk tidak identik dengan Allah atau al-Haq secara mutlak.

Meski begitu sebagai wujud yang tidak berdiri sendiri dan diciptakan melalui proses pemancaran (emanasi) dari Dzat Allah, maka keberadaan alam tidak berbeda secara mutlak juga dengan-Nya, karena alam bukan wujud keduayang benar-benar terpisah dari-Nya.
Al-hasil, menurutal-Sinkil, bahwa wujud alam ini tidak benar-benar berdiri sendiri, melainkah terjadi melalui pancaran, dan yang dimaksud dengan memancar adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Dzat al-Haq - karena ia merupakan wujud baru, alam juga tidak benar-benar lain dari-Nya. Manusia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri di samping Allah. Alam juga bukan Dzat al-Haq secara mutlak, melainkan sekadar bayangan-Nya, atau bahkan bayangan dari bayangan-Nya, karena Tuhan adalah Dzat Yang Esa, tidak sesuatu yang menyertai-Nya, meskipun la menyertai segala sesuatu Menuju Yang Esa.

Cara untuk menuju kepada Sang Wujud sebagai satu-satunya Wujud, menurut al-Sinkili, adalah melalui jalan tarekat. Dalam konteks tasawuf, tarekat adalah jalan bagi orang yang melakukan jalan mistis (tasawuf), jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syari'at Karena antara syari'at dan hakikat ada keterkaitan yang sangat kuat. Syari'at adalah aturan atau hukum, sedangkan tarekat merupakan cara untuk melaksanakan aturan dan hukum Allah, tempat berpijak bagi setiap Muslim.

Sedangkan tujuan akhir bagi seorang sufi atau orang yang melakukan jalan mistis adalah mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya, memperoleh cita makrifat pada alam ghaib dan mendapatkan penghayatan langsung pada Dzat Allah. Jadi, makrifat merupakan tahap akhir bagi seorang salik setelah syari'at, tarekat, dan hakikat.
Tarekat yang dipraktikkan al-Sinkili dapat dikelompokkan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah penyucian hati. Penyucian hati, sebagai tahap pertama, menurutal-Sinkili, harus ditempuh melalui sepuluh martabat, yang dalam setiap martabatnya terdiri atas sepuluh martabat, sehingga seluruhnya berjumlah seratus martabat. Seluruh martabat dimaksud pada dasarnya mengandungajaran untuk mawasdiri, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu, membersihkan hati dari ikatan dan pengaruh duniawi, serta penyera-han diri secara total kepada Allah SWT.
Dalam tahap pertama ini, al-Sinkili menekankan agar mereka yang menempuh jalan mistis menjalankan seluruh martabat tersebut, mulai dari martabat pertama, al-yaqzan (bangun atau sadar) hingga martabat terakhir, yakni martabat tawhid (mengesakan Allah). Dalam pelaksanaannya, para pelaku mistis dianjurkan untuk selalu memohon kepada Allah agar mampu melewati jalan yang sangat berat tersebut. Dan yang paling penting adalah agar mereka tidak berpaling kepada selain Allah selama menjalaninya, karena hal tersebut akan menjadi penghalang (hijab) untuk mencapai tujuan akhir yaitu makrifat.

Tahap kedua jenjang tarekat adalah konsentrasi dalam dzikir, yaitu memusatkan seluruh kesadaran dan pikiran dalam merenungkan keindahan wajah Tuhan dengan penuh kerinduan. Menurut al-Sinkili, dzikir merupakan cara paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah, paling mudah dilakukan, dan paling baik di hadapan Allah. Dzikir dianggap sebagai pintu gerbang utama untuk mencapai penghayatan makrifat pada al-Haq. Untuk itu dalam ajaran tasawuf. terutama setelah munculnya berbagai tarekat. tata cara dzikir beserta aturan-aturan wiridnya memegang peranan sentral dan menjadi ciri pembeda antara satu tarekat dengan tarekat-tarekat yang lain.
Bacaan dzikiryangdianjurkan al-Sinkili selama menjalankan jalan mistis adalah bacaan tahlil, la ilaha ilia Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah. Bacaan ini agar diamalkan secara kontinyu dan menenggelamkan hati di dalamnya hingga merasakan manfaat dan buahnya yang tak terbatas.
Salah satu manfaat dari mengamalkan dzikir secara kontinyu, menurut al-Sinkili, adalah dapat membentuk akhlak atau moral yang baik dan menimbulkan kemuliaan. Dari manfaat yang pertama, akan lahir sifat zuhud, yakni hilangnya kecenderungan hati terhadap materi sebagai sesuatu yang bersifat nisbi, dan lenyapnya ketergantungan kepada selain Allah. Sedangkan manfaat yang kedua, akan diberkatinya berbagai kebutuhan, seperti makanan, pakaian dan lain sebagainya, sehingga yang sedikit dan sederhana pun akan selalu menjadi cukup dan penuh keberkahan dalam hidup ini.
Sedangkan tujuan tertinggi dari dzikir, menurut al-Sinkili, adalah dapat diperoleh keyakinan mutlak akan ke-Esaan Allah dan tenggelam dalam diri-Nya, sehingga wujud hamba menjadi hilang dan kembali menjadi tiada. Maka tibalah saatnya penghalang (hi/'ab) yang terbentang antara hamba dengan-Nya menjadi hilang.

Jika seorang hamba telah mampu mencapai tingkat ini, berarti ia telah sampai kepada akhir perjalanannya kepada Allah, karena berarti ia telah sampai kepada tawhid, Dzat yang merupakan tawhidtertlngg\ di antara em pat tingkatan tawhid, yaitu tawhid uluhiyyah (mengesakan ketuhanan Allah), tawhid af'aliyah (mengesakan perbuatan Allah), tawhidsifaX (mengesakan sifat-sifat Allah), dan tawhid Dzatiyah (mengesakan Dzat Allah).
Tahap yangterakhir dan merupakan tingkatan tarekat peleburan diri {fana) ke dalam Allah, yaitu proses terbentuknya tabir penyekat alam ghaib, atau proses mendapat penerangan dari yang ghaib sebagai hasil meditasi atau dzikir. Peleburan diri tersebut, menurut al-Sinkili, adalah terdiri atas beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi adalah ketika dzikir yang diucapkan telah menetap dalam hati, telah hilang dan samar, serta hamba yang mengucapkan dzikir pun tidak ingat lagi akan dzikirnya bahkan tidak ingat akan hatinya sendiri, maka itulah yang dinamakan fana'dalam arti sesungguhnya. Dalam tingkatan ini, seseorang telah benar-benar fana'dari dirinya, ia tidak merasakan lagi seluruh lahiriyah dan batiniyah panca inderanya, serta tidak merasakan segala sesuatu di sekelilingnya. la pergi menuju Tuhannya, dan kemudian berada di dalam-Nya.
Lebih jauh, al-Sinkili mengatakan bahwa fana' dalam arti sesungguhnya adalah kemampuan seorang hamba memandang bahwa Allah berada pada segala sesuatu. Fana' adalah martabat penggabungan yang tertinggi, di dalamnya tidak ada nama, tulisan, ungkapan maupun isyarat. Fana' adalah martabat orang yang mampu mendengardan memandang melalui al-Haq. Dan, fana 'tertinggi sekalipun hanya merupakan sarana dan langkah pertama menuju Allah SWT, karena setelah itu ada yang lebih diharapkan, yakni petunjuk-Nya.
Al-Sinkili meninggal dunia pada tahun 1693 di usia 73 tahun. Beliau dimakamkan di samping makam Teungku Ajong yang dianggap paling karamat di Aceh, dekat Kuala Sungai Aceh. Di Aceh ia dikenal dengan sebutan Teungku di Kuala. Berkat kemasyhurannya itu nama Abd Rauf al-Sinkili kemu-dian diabadikan menjadi sebuah nama perguruan tinggi di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala. Wallahu a'lam bi al-shawab

Q Humaidi AS: Cahaya Sufi