ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 29 Agustus 2013

SEJARAH TIMBULNYA SYI’IR ARAB

============
SEJARAH TIMBULNYA SYI’IR ARAB
===============
Syi’ir Arab bermula dari bentuk ungkapan kata yang besar (mursal) menuju sajak kemudian menuju syi’ir yang berbahar ramal, kemudian beralih ke syi’ir yang berbahar rajaz. Dari fase inilah syi’ir Arab dikatakan sempurna dan dalam kurun waktu yang lama syi’ir Arab berkembang menjadi susunan qashidah yang terikat dengan aturan wazan dan qafiyah.
Wazan atau bahar yang pertama kali diciptakan adalah bahar ramal. Orang yang pertama kali menumbuhkan benih syi’ir Arab adalah Mudlar bin Nizar meskipun bentuk bait dan iramanya masih sederhana. Sebagaimana kata yang ia ucapkan ketika tangannya patah akibat terjatuh dari unta, yaitu:
وايداه وايداه
Dalam kaidah ilmu ‘Arudh bentuk bait sederhana tersebut dinamakan bait manhuk, yaitu bait yang hilang dua pertiganya dan tinggal sepertiganya. Adapun yang bertama kali mengucapkan syi’ir dengan bahar rajaz adalah ‘Ady bin Rabi’ah atau termasyhur dengan sebutan “Al Muhalhil” yang hidup pada masa pertengahan abad ke-2 sebelum Hijriyah (491-531 M). Syi’ir yang ia ucapkan begitu halus perasaan yang ia tuangkan seperti dalam perkataannya:
لما توقل في الكراع شزيدهم هلهلت اثأر جابرا اوصنبلا
Selain mengucapkan syi’ir tersebut dengan bahar rajaz, ia juga mengucapkan dengan bahar waafir, basiith, khafif, dan bahar ramal. Kemudian pada awal abad ke-7 (600-630 M) muncullah seorang tokoh penyair Jahiliyah yang bernama Junduh bin Hajar al Kindy yang terkenal dengan sebutan “Imru al Qais”. Ia keturunan suku Bani Taghlib sama dengan al Muhalhil. Pada masanya, syi’ir Arab lebih diperindah lagi dengan khayalan atau ungkapan imajinasi yang terkandung di dalamnya seperti menyifati kebaikan teman, menangisi harta atau kekasih, menyerupakan seorang perempuan dengan seekor kijang, memperindah isti’arah dan membagi tasybih menjadi bermacam-macam.
Dari perkembangan tersebut muncullah para penyair Arab terkenal seperti Imru al Qais bin Hajar, ‘Amr bin Kultsum, Zuhair bin Abi Sulmaa, An Naabighah Adz Dzubyaany, Al A’syaa, Lubaid bin Rabi’ah Al ‘Amiry, Tharfah bin Al ‘Abdi, ‘Antarah bin Syaddaad, ‘Urwah bin Al Wardi, Duraid bin As Shammah, Al Muraqqisy Al Akbar, Al Haarits bin Hilzah Al Yasykry dan sebagainya.
Sumber: Drs. Mas’an Hamid, Ilmu Arudh dan Qawafi, 1995. Surabaya. Al Ikhlas.