ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 27 Maret 2011

KISAH PECINTA SHOLAWAT NABI SAW

(Kisah Pecinta Shalawat Nabi saw.)

Salah satu pecinta salawat Nabi saw. Adalah Sayyid Ahmad bin Tsabit al-Maghriby. Beliau adalah salah satu ahli Tarekat dan gemar melakukan suluk yang pada akhirnya beliau memutuskan sebagai pengamal shalawat Nabi setelah merasakan kegembiraan luar biasa dan dan cahaya Rasul yang dilimpahkan Allah kedalam relung hatinya disebabkan cintanya pada Rasulullah saw.

Karya monumentalnya dalam bidang shalawat adalah al-Tafakkur wa al-I'tibar fi fadhli al-Shalat ala an-Nabiyy al-Mukhtar (180 halaman). Buku ini berisi hasil kontemplasinya terhadap unsur-unsur alam ini yang kemudian ia tuangkan dalam shalawat Nabi dengan harapan seperti dalam hadis Rasul saw: "Berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah satu tahun". Kemudian Sayyid Ahmad bin Tsabit bercerita dalam buku tersebut:

Pada satu malam aku bermimpi menyaksikan dua orang laki-laki bertengkar hingga saling cekik. Kemudian salah satunya berkata:
"ayo kita menghadap Rasulullah untuk mencari keputusan".
Merekapun berjalan dan aku membuntutinya dari belakang. Sampailah kami di sebuah tempat yang agak tinggi, lalu salah satunya berkata:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini menuduhku membakar rumahnya".
Maka Rasul saw bersabda: "Apakah kamu ingin melihat dirimu dibakar api neraka?" Lalu aku terbangun tanpa sempat berkata sepatah pun dalam mimpiku itu.

Aku kemudian berdoa pada Allah agar Ia memperlihatkan padaku kelanjutannya. Maka aku tertidur, tiba-tiba aku sudah berada di sebuah tanah lapang. Sayup-sayup terdengar suara:
"Wahai orang-orang yang ingin melihat Rasulullah, ayolah ikut kami".
Tiba-tiba ada rombongan orang yang mengikuti kami, mereka berpakaian serba putih, maka aku berkata kepada salah satu dari mereka:
"Hai kamu, aku minta padamu dengan nama Allah Yang Maha Agung dan dengan kemuliaan NabiNya yang mulia, agar kamu beritahukan kepadaku dimanakah Rasulullah saw?"
Ia menjawab bahwa Rasulullah berada di tempat seseorang.
Maka aku berdo'a kepada Allah dengan kemuliaan shalawat kepada NabiNya agar Allah menyampaikan diriku di hadapan Rasulullah sebelum sampainya rombongan itu, agar aku dapat berduaan dengan beliau dan mengutarakan keperluanku.
Tiba-tiba aku terangkat oleh sesuatu bagaikan kilat membawaku kehadapan Beliau, kudapati Beliau sedang menghadap kiblat sementara cahayanya memancar dari wajahnya. Aku pun mengucapkan salam.

"Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtra kepadamu wahai Rasulullah)"
Lalu Beliau menjawab : "Selamat datang bagimu".
Wajahku terlihat bimbang di dalam biliknya itu, lalu aku berkata
"Wahai Rasulullah, aku ingin engkau berwasiat padaku dengan satu nasihat yang Allah berikan manfaat bagiku". Maka beliau berkata :
"Tambahkan shalawatmu padaku".
Kemudian aku berkata: "Wahai Rasulullah, berilah jaminan padaku agar aku menjadi wali Allah".
"Sungguh aku menjaminmu mati dlm husnul khatimah". Jawab Nabi saw.
Aku berkata lagi :"Berilah jaminan agar aku menjadi wali Allah wahai Rasulullah".
Beliau bersabda :"Aku menjamin dirimu pasti mati dalam husnul khatimah".
Aku berkata lagi :"Wahai Rasulullah berilah garansi padaku agar menjadi salah satu wali Allah".
Maka Beliau bersabda :"Tidakkah kau tahu bahwa sesungguhnya seluruh wali Allah memohon kepada Allah agar mati husnul khatimah, dan aku benar-benar menjamin dirimu akan mati dalam husnul khatimah".
Kemudian aku berkata :"saya terima wahai Rasulullah dari dirimu".
Lalu muncullah dalam benakku agar Allah memperlihatkan padaku Nabi Khidir as, namun Rasulullah berkata sebelum aku meminta. "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku dan berkunjung kesebuah makam, maka apa yang kamu niatkan akan kami tunaikan bagimu".

Muncullah di hatiku rasa malu kepada Rasulullah karena aku berjumpa dan melihat pemimpin penduduk langit dan bumi ini sementara aku belum cukup dengan dirinya. Maka aku berkata:
"Wahai Raasulullah tidak satupun Nabi dan Rasul ataupun satu dari wali Allah dan juga Nabi Khidir as. Melainkan mereka terlahir dari cahayamu, dan dari samudramu mereka menimba, dan tatkala aku melihatmu maka seolah-olah aku melihat mereka semua. Alhamdulillah segala puji syukur bagi Allah".
Kemudian datanglah rombongan yang dibelakangku mereka semua mengucapkan serentak dengan meriah :
"Ashshalatu wassalamu alaika ya Rasulallah (salam sejahtera bagimu wahai Rasul Allah)".
Merekapun masuk ke dalam ruangan, sementara aku tetap duduk disamping Rasul saw. Maka beliau menyambutnya dengan gembira, kecuali terhadap satu orang yang beliau usir dengan sabdanya :
"Hai pergi jauhlah dariku, wahai tampang neraka".
Aku melihatnya, yang ternyata orang itu posturnya tidak seperti rombongan itu, sepertinya ia syetan. Ketika perbincangan Beliau dengan rombongan tersebut telah selesai, maka beliau berkata:
"Silahkan kembali semoga Allah memberkati kalian (barakallahu fikum), tinggalkan aku bersama kekasihku ini". Sambil beliau menunjuk diriku. Lalu aku berkata kepadanya;
"saya adalah seorang syarif wahai Rasulullah".
"Engkau seorang syarif", kata Rasulullah.
"Aku syarif dari keturunanmu wahai Rasulullah", ujarku.
"Engkau dari keturunanku", jawab Rasulullah.
Maka aku bersyukur kepada Allah atas hal itu. Kemudian "Berilah kepadaku nasihat yang berguna bagiku di sisi Allah".
Beliau menjawab: "Tambahkan shalawatmu kepadaku serta bersikap zuhudlah di dalam dunia dan hindarilah permainan atau senda gurau".

Lalu aku terbangun dari tidur sembari berkata dalam diriku "Aduh permainan apakah gerangan yang harus kutinggalkan?". Kuhabiskan waktuku untuk memikirkan hal itu tapi permainan tersebut tidak tampak bagiku, maka kuserahkan semua pada Allah seraya berkata dalam diriku, "Jika senda gurau ini menimpaku, maka kuucapkan tiada upaya menolak keburukan tiada daya mendatangkan kebaikan melainkan atas izin Allah dan tidak ada yang terpelihara dari urusan Allah melainkan orang yang dikasihi Allah ".

Semoga kita diberikan kekuatan agar tetap istiqamah dalam iman dan amal saleh serta tetap bergairah melantunkan shalawat Nabi saw. Serta meneladani beliau dalam kata, perbuatan, dalam gerak dan diam dan dalam kesucian hatinya. Shallu alannabiyy……

Sayyid Ahmad bin Tsabit al-Magribi, at-Tafakkur wal I'tibar fi Fadhli al-Shalah ala an-Nabi al-Mukhtar. Cet. Musthafa al-bab al-halabi wa awladuh, Mesir. 1349 H,. h. 11-12



Nabi saw. bersabda:"Barangsiapa melihat aku (dalam tidur), betul-betul ia melihat yang sebenarnya" HR.Bukhari, Muslim, Amad, Tirmidzi. (Allahumma Shalli ala Sayyidina Muhammadin daiman abadan)
sumber : http://www.facebook.com/profile.php?id=100000203173312&ref=profile#!/notes/bary-abu-rayyan/pengen-jadi-wali-allah/109262079117226