ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 03 Oktober 2014

SUARA NGING/ BERDENGUNG DI TELINGA : SEBAGAI PERTANDA BAHWA ROSULULLOH SAW MENYEBUT ORANG YANG TELINGANYA BERBUNYI NGING/BERDENGUNG

=========
Suara Nging di Telinga
=============
Suara Nging di Telinga

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak ustad, saya mau menanyakan tentang suara “nging” di telinga. Banyak orang yang sering menafsirkan suara nging di telinga sebagai petanda buruk. Yang ingin saya ketahui, apakah betul seperti itu, atau bagaimana. Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. (Ayu/Jambi)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Di antara kita memang kadang mengalami dan merasakan suara “nging” di telinga. Kadang ada yang berlangung sebentar, tetapi ada yang tidak.  Fenomena suara “nging” di telinga juga sering kali ditafsirkan ke hal-hal negatif. Bahkan kadang acapkali membuat gelisah orang yang merasakannya.

Sepanjang yang kami ketahui bahwa suara “nging” di telinga tidak ada kaitannya dengan petanda buruk. Tetapi merupakan peringatan kepada orang yang mengalaminya untuk ingat kepada Rosululloh saw dan membaca sholawat kepadanya. Hal ini sebagaimana sabda Rosululloh saw sebagai berikut:
 إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ وَلْيَقُلْ ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ - رواه الحكيم وابن السني، الطبراني وابن عدي وابن عساكر
“Jika telinga salah seorang di antara kalian berdengung, maka hendaknya ia mengingatku (Rosululloh saw), membaca sholawat kepadaku, dan mengucapkan: dzakarallohu man dzakaroni bi khoirin (Semoga Alloh swt mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan)”. (H.R. al-Hakim, Ibn as-Sinni, at-Thobaroni)

Dalam mengomentari sabda di atas, az-Zaila’i menyatakan bahwa dalam hadits tersebut mengandung bahwa tidak hanya sekedar mengingat Rosululloh saw tetapi juga bershalawat kepadanya dan mengucapkan: dzakarallahu man dzakarani bi khairin.   
قَالَ الزَّيْلَعِيُّ فِيهِ عَدَمُ الْاِكْتِفَاءِ بِالذِّكْرِ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهِ (وَلْيَقُلْ ذَكَرَ اللهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ
“Az-Zaila’i berkata, dalam hadits ini tidak cukup (bagi orang yang telinganya berdengung, pent)  hanya dengan mengingat Rosululloh saw saja sehingga ia bersholawat kepadanya (dan hendaknya membaca: dzakarollohu man dzakarani bi khoirin)”. (Abdurrauf al-Munawi, Faidlul-Qadir, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz, 1, h. 511)

Masalah ini juga telah dibahas dalam Muktamar Nahdlotul Ulama' ke-11 di Banjarmasin pada tanggal 19 Rabiul Awwal 1355 H/9 Juni 1936. Dalam Muktamar tersebut dijelaskan bahwa suaran “nging” dalam telinga menunjukkan bahwa Rosululloh saw sedang menyebut orang tersebut dalam perkumpulan yang tertinggi (al-mala` al-a’la) agar ia ingat kepada beliau dan bersholawat kepadanya.

Pandangan Muktamirin tersebut didasarkan kepada pendapat AbdurRauf al-Munawi yang dikemukakan oleh ‘Ali al-‘Azizi dalam kitab as-Siroj al-Munir: 
قَالَ الْمُنَاوِيُّ فَإِنَّ اْلأُذُنَ إِنَّمَا تَطُنُّ لَمَّا وَرَدَ عَلَى الرُّوْحِ مِنَ الْخَبَرِ الْخَيْرِ وَهُوَ أَنَّ الْمُصْطَفَى قَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ اْلإِنْسَانَ بِخَيْرٍ فِي الْمَلاَءِ اْلأَعْلَى فِيْ عَالَمِ اْلأَرْوَاحِ
“Imam al-Munawi berkata,  sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika datang berita baik ke ruh, bahwa Rosululloh Saw. telah menyebutkan orang (pemilik telinga yang berdengung) tersebut dengan kebaikan di al-Mala’ al-A’la (majlis tertinggi) di alam ruh. (Lihat Akamul Fuqoha')

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfa'at. Dan jika telinga anda berdengung atau bersuara “nging” maka segeralah ingat Rosululloh saw, bersholawat, dan mengucapkan, dzakarollohu man dzakaroni bi khoirin


sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,59-id,54231-lang,id-c,bahtsul+masail-t,Suara+Nging+di+Telinga-.phpx