ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 03 Juni 2017

Apa Benar Bila Nabi Mau Bunuh Diri? Apa Maksudnya??

INGIN BUNUH DIRI

Dikisahkan dalam Shohih Bukhori dan berbagai kitab tarikh, bahwa setelah wahyu pertama turun, terdapat jeda waktu sebelum turun wahyu berikutnya. Jeda waktu tersebut ada yg mengatakan 40 hari, 6 bulan, 2,5 tahun, bahkan ada yg mengatakan sampai 3 tahun.

Dalam jeda waktu tersebut, Rasulullah saw mengalami kesedihan yg begitu mendalam, sampai dikisahkan dlm Shohih Bukhori yg diriwayatkan imam Zuhri, dari siti 'Aisyah, demikian :

وَفَتَرَ الوَحْيُ فَتْرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِيمَا بَلَغَنَا، حُزْنًا غَدَا مِنْهُ مِرَارًا كَيْ يَتَرَدَّى مِنْ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الجِبَالِ، فَكُلَّمَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ لِكَيْ يُلْقِيَ مِنْهُ نَفْسَهُ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ حَقًّا، فَيَسْكُنُ لِذَلِكَ جَأْشُهُ، وَتَقِرُّ نَفْسُهُ، فَيَرْجِعُ، فَإِذَا طَالَتْ عَلَيْهِ فَتْرَةُ الوَحْيِ غَدَا لِمِثْلِ ذَلِكَ، فَإِذَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ.

"Lalu wahyu tidak kunjung turun kembali, sehingga Nabi saw bersedih -menurut informasi yg sampai kepada kami- dgn kesedihan yg menyebabkan beliau berulangkali ingin menjatuhkan diri dari puncak bukit. Setiap beliau sampai di puncak bukit untuk menjatuhkan dirinya, Jibril as menampakkan diri padanya, lantas berkata : 'Wahai Muhammad ! Sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah'. Maka, kegundahannya menjadi tenang, dan hatinya tentram, lalu beliau kembali. Ketika wahyu lama tidak kunjung turun lagi, maka beliau mengulangi perbuatan yg sama. Saat beliau berada di puncak bukit, maka Jibril as menampakkan diri kembali dan mengucapkan perkataan yg sama."

Bahasa imam Zuhri "menurut informasi yg sampai kepada kami" sempat dikaji oleh para pakar Hadits, apakah keterangan tersebut (Nabi saw ingin bunuh diri) masih masuk rangkaian Hadits riwayat 'Aisyah atau keterangan dari sumber lain yg belum jelas riwayatnya, sebagaimana kajian ini diterangkan oleh Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Bari.

Terlepas dari kajian di atas, kalau pun toh riwayat tersebut shohih, sebab banyak dikisahkan dlm banyak kitab tarikh, maka dalam memahaminya harus hati-hati. Jangan sampai kita memahami bahwa kanjeng Nabi saw benar-benar ingin bunuh diri, mengingat sifat ja'iz para Nabi yg berupa a'rodlul basyariyyah (sifat manusiawi, termasuk sedih) tidak akan menurunkan derajat luhur sebagai Nabi dan Rasul. Dalam mengkaji sejarah para Nabi harus berpegang pd sifat wajib, mustahil, ja'iznya para beliau, agar kefahaman tentang sejarah tersebut tidak menabrak tauhid yg kita yakini. Para Nabi adalah ma'shum (terjaga) dari melakukan hal-hal yg dilarang agama, seperti putus asa dalam kisah di atas.

Maulana Habib Luthfi menjelaskan, bahwa keinginan mati Kanjeng Nabi saw tersebut bukan sebetulnya. Namun saking tidak betahnya menjalani kehidupan dgn kondisi seakan "dicuweki" oleh Allah. Hal demikian juga lumrah dalam kehidupan kita.

Habib Luthfi mencontohkan, jika suatu daerah telah kehilangan para Kyainya satu-persatu, sehingga tidak tersisa lagi ulama' di daerah tersebut, maka ada orang yg sampai berkata : "Kalau kondisinya seperti ini, aku tidak betah hidup di daerah ini, aku tidak ingin hidup lagi". Orang tersebut bukannya benar-benar ingin mengakhiri hidupnya, namun perkataan tersebut hanya ekspresi kesedihannya ditinggal mati oleh para ulama'.

Jadi, dalam memahami sejarah para Nabi, jangan sampai kita menyematkan sifat-sifat yg mustahil pada diri beliau, karena para beliau telah di'ishmah (dijaga) dari melakukan hal yg dilarang agama, meskipun hanya perkara makruh. Para wali saja ada yg setiap gerak-geriknya telah bernilai ibadah, tidak lagi melakukan perkara yg mubah. Apalagi, para Nabi dan Rasul as.

Jangan sampai kita terjebak akan tekstual redaksi dalam Hadits atau kitab-kitab tarikh. Contoh redaksi yg juga rawan salah faham adalah pengakuan Nabi Yunus as berbuat dholim dalam ayat :

[سورة الأنبياء (٢١) : آية ٨٧]
لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Tiada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku telah masuk golongan orang-orang dholim"

Banyak orang memahami, bahwa Nabi Yunus as memang pernah dholim dengan meninggalkan kaumnya, tidak sabar mendakwahi kaumnya. Pemahaman yg demikian salah, sebab mustahil para Nabi as berbuat dholim, sebab dholim termasuk perbuatan dosa, sementara para beliau adalah ma'shum. Jangan sampai bahasa tegas ayat di atas "sesungguhnya aku telah masuk golongan orang-orang dholim" membuat kita memahami Nabi Yunus as benar-benar dholim. Ucapan tersebut hanyalah bentuk ketawadlu'an dan tadlorru' beliau belaka di hadapan Allah swt. Wallahu a'lam.

Habib Luthfi bin Yahya (bil ma'na), malam Kamis, 6 Romadlon 1438 H./ 31 Mei 2017 M.

Nantikan petikan pengajian beliau berikutnya. (Ini hasil copas dari kiriman KH.Ali Ridlo Hasyim di Group WA idaroh Syu'biyyah Jatman)