ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Sabtu, 21 September 2013

Haji Abdul Karim dan Perlawanan Kaum Tarekat Melawan Belanda

============
Haji Abdul Karim dan Perlawanan Kaum tarekat
================================

Dalam sejarah Indonesia, tercatat bahwa pada abad ke-19 terjadi sekitar 400 kali perlawanan melawan Belanda yang kebanyakan dipimpin oleh ulama-ulama tarekat. Diantaranya yang cukup besar yakni di Cilegon tahun 1888 yang dipimpin KH Wasith, H Marjuki dan KH Tubagus Ismail, keduanya adalah murid Syaikh Abdul Karim dan Syeikh Nawawi Al-Bantani, mursyid Thariqah Qadiriyah wan Naqsabandiyah (TQN).
Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang, Pontang yang kegiatan sehari-harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya. Kegiatan pengajian Kiai ini semakin berkembang terutama setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1872.
Haji Abdul Karim mendirikan pesantren di Tanahara, yang dalam waktu singkat mendapat banyak murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi, seperti bupati, penghulu kepala di Serang serta Haji R.A. Prawiranegara, pensiunan patih Serang. Begitu besar pengaruhnya di kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai “Kiyai Agung”.
Dalam pada itu, antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan Anyer ditimpa dua malapetaka; kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak. Diperkirakan, hampir dua tahun hujan tidak turun, sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh dan air minum pun sulit didapat.
Rakyat Banten semakin menderita akibat ulah Pemerintah Hindia Belanda yang menerapkan kebijakan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel). Kebijakan itu membuat rakyat menderita, terjadi kemelaratan di daerah Banten, seperti yang tergambar dalam sebuah kisah Saijah dan Adinda dalam buku Max Havelaar karya Douwes Dekker (Multatuli).
Rakyat akhirnya marah dan berusaha untuk melakukan perlawanan. Hendri F Isnaeni dalam bukunya Doktrin Agama Syekh Abd Karim Al-Bantani Dalam Pemberontakan Petani Banten 1888, menggambarkan semangat perlawanan rakyat ketika itu yang juga diperkuat oleh kebencian religius mereka terhadap kekuasaan orang-orang kafir Belanda.
9 Juli 1888, rakyat yang dipmipin ulama menyerbu beberapa tempat di Cilegon. Serangan itu membuat mereka untuk sementara dapat mengalahkan Belanda dan dapat menguasai Cilegon. Namun bantuan serdadu Belanda yang dikirim beberapa waktu sesudahnya mampu memadamkan perlawanan rakyat ini.
Para tokohnya, Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung, sedangkan yang lainnya dihukum buang; Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke Banda, Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi, Haji Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan banyak lagi lainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Menado, Ambon, dan Saparua; semua pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang.
Pada akhirnya, meskipun mereka kalah secara fisik, terbukti semangat dan ketokohan para ulama mampu menggerakkan semangat rakyat untuk melawan penjajahan. Meskipun pada masa perjuangan mereka, belum tercapai kemerdekaan yang diinginkan. Namun, oleh murid-murid Syaikh Nawawi saat dia di Mekah, yakni generasi KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan para ulama lainnya, cita-cita kemerdekaan itu akhirnya dapat tercapai.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,46517-lang,id-c,fragmen-t,Haji+Abdul+Karim+dan+Perlawanan+Kaum+tarekat-.phpx