ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 14 Mei 2014

NILAI FILOSOFI BATIK. Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”

============
Konon ada nilai Filosofi Batik...???
=============
Pada tanggal 2 Oktober 2013 mendatang, kekayaan batik nusantara Indonesia memasuki usia 4 tahun atas pengakuan resmi dari UNESCO sebagai bagian dari Intagible Cultural Heritage of Humanity. Selama empat tahun itu pulalah batik menjadi lebih mendunia dan banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai aktivitasnya.

Kata Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”> BATIK. Batik tradisional mempunyai motif yang beraneka ragam dan motif-motif ini masih lestari sampai sekarang : Bledak Sidoluhur Latar Putih, Cakar Ayam, Cuwiri, Grageh Waluh, Grompol, Harjuno Manah, Jalu Mampang, Jawah Liris Seling Sawat Gurdo, Kasatrian, Kawung Picis, Kembang Temu Latar Putih, Klitik, Latar Putih Cantel Sawat Gurdo, Lerek Parang Centung, Lung Kangkung, Nitik, Nitik Ketongkeng, Nogo Gini, Nogosari, Parang Barong, Parang Bligon, Ceplok Nitik Kembang Randu, Parang Curigo, Ceplok Kepet, Parang Grompol, Parang Kusumo Ceplok Mangkoro, Parang Nitik, Parang Tuding, Peksi Kurung, Prabu Anom/Parang Tuding, Sapit Urang, Sekar Asem, Sekar Keben, Sekar Manggis, Sekar Polo, Semen Gurdo, Semen Kuncoro, Semen Mentul, Semen Romo Sawat Gurdo, Semen Romo Sawat Gurdo Cantel, Sido Asih, Sido Asih Kemoda Sungging, Sido Asih Sungut, Sido Mukti Luhur, Sido Mukti Ukel Lembat, Slobog, Soko Rini, Tambal Kanoman, Tirta Teja, Tritik Jumputan, Truntum Sri Kuncoro, Udan Liris, Wahyu Tumurun, dan  Wahyu Tumurun Cantel
===================
Pengertian Batik
Kata Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Tradisi falsafah Jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui praktek-praktek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja sebagai pengejawantahan Yang Maha Kuasa di dunia.
Motif kain adat dapat dilihat sebagai salah satu sarana komunikasi tradisional yang memuat lambang-lambang atau simbol-simbol budaya tertentu. Simbol-simbol adat sesungguhnya dapat berlaku sebagai pranata karena dengan makna dibalik simbol itu, setiap penerima simbol akan menyadari sesuatu yang harus dan tidak harus dijalankannya. Sehingga motif batik tradisional merupakan pesan nonverbal.
Pola, motif dan warna dalam batik, dulu mempunyai arti simbolik. Ini disebabkan batik dulu merupakan pakaian upacara ( kain panjang, sarung, selendang, dodot, kemben, ikat kepala ), oleh karena itu harus dapat mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis. Karena itu diciptakanlah berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa mendukung atau menambah suasana religius dan magis dari upacara itu.
 Makna Simbolik Motif Batik Tradisional
Berdasarkan observasi dan serangkaian wawancara yang penulis lakukan dalam penelitian, ternyata batik tradisional mempunyai motif yang beraneka ragam dan motif-motif ini masih lestari sampai sekarang :
Bledak Sidoluhur Latar Putih
Kegunaan : Upacara Mitoni ( Upacara Masa 7 Bulan bagi Pengantin Putri saat hamil pertama kali)
Filosofi : Yang menggunakan selalu dalam keadaan gembira.
Cakar Ayam
Kegunaan : Upacara Mitoni, Untuk Orang Tua Pengantin pada saat Upacara Tarub, siraman.
Filosofi : Cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri.
Cuwiri
Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi
Filosofi : Cuwiri= bersifat kecil-kecil, Pemakai kelihatan pantas/ harmonis.
Grageh Waluh
Kegunaan : Harian (bebas)
Filosofi : Orang yang memakai akan selalu mempunyai cita-cita atau tujuan tentang sesuatu.
Grompol
Kegunaan : Dipakai oleh Ibu mempelai puteri pada saat siraman
Filosofi : Grompol, berarti berkumpul atau bersatu, dengan memakai kain ini diharapkan berkumpulnya segala sesuatu yang baik-baik, seperti rezeki, keturunan, kebahagiaan hidup, dll.
Harjuno Manah
Kegunaan : Upacara Pisowanan / Menghadap Raja bagi kalangan Kraton
Filosofi : Orang yang memakai apabila mempunyai keinginan akan dapat tercapai.
Jalu Mampang
Kegunaan : Untuk menghadiri Upacara Pernikahan
Filosofi : Memberikan dorongan semangat kehidupan serta memberikan restu bagi pengantin.
Jawah Liris Seling Sawat Gurdo
Kegunaan : Berbusana
Filosofi : Jawah liris=gerimis
Kasatrian
Kegunaan : Dipakai pengiring waktu upacara kirab pengantin
Filosofi : Si pemakai agar kelihatan gagah dan memiliki sifat ksatria.
Kawung Picis
Kegunaan : Dikenakan di kalangan kerajaan
Filosofi : Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya, juga melambangkan empat penjuru ( pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali kea rah perbuatan baik). Juga melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu-nafsu yang ada pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia.
Kembang Temu Latar Putih
Kegunaan : Bepergian, pesta
Filosofi : Kembang temu = temuwa. Orang yang memakai memiliki sikap dewasa (temuwa).
Klitik
Kegunaan : Busana Daerah
Filosofi : Orang yang memakai menunjukkan kewibawaan.
Latar Putih Cantel Sawat Gurdo
Kegunaan : Busana Daerah
Filosofi : Bila dipakai menjadikan wibawa.
Lerek Parang Centung
Kegunaan : Mitoni, dipakai pesta
Filosofi : Parang centung = wis ceta macak, kalau dipakai kelihatan cantik (macak).
Lung Kangkung
Kegunaan : Pakaian harian
Filosofi : Lung (Pulung), aslinya dengan memakai kain tersebut akan mendatangkan pulung (rezeki)
Nitik
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Orang yang memakai adalah bijaksana, dapat menilai orang lain.
Nitik Ketongkeng
Kegunaan : Bebas
Filosofi : Biasanya dipakai oleh orang tua sehingga menjadikan banyak rejeki dan luwes pantes.
Nogo Gini
Kegunaan : Upacara temanten Jawa (Gandeng temanten)
Filosofi : Apabila memakai kain tersebut kepada pengantin akan mendapatkan barokah (rezeki).
Nogosari
Kegunaan : Untuk upacara mitoni
Filosofi : Nogosari nama sejenis pohon, motif batik ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran.
Parang Barong
Kegunaan : Dipakai oleh Sultan/Raja.
Filosofi : Bermakna kekuasaan serta kewibawaan seorang Raja.
Parang Bligon, Ceplok Nitik Kembang Randu
Kegunaan : Menghadiri Pesta
Filosofi : Parang Bligo = bentuk bulat berarti kemantapan hati.
Kembang Randu = melambangkan uang si pemakai memiliki kemantapan dalam hidup dan banyak rejeki.
Parang Curigo, Ceplok Kepet
Kegunaan : Berbusana, menghadiri pesta
Filosofi : Curigo = keris, kepet = isis
Si pemakai memiliki kecerdasan, kewibawaan serta ketenangan.
Parang Grompol
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Orang yang memakai akan mempunyai rezeki yang banyak.
Parang Kusumo Ceplok Mangkoro
Kegunaan : Berbusana pria dan wanita
Filosofi : Parang Kusumo = Bangsawan
Mangkoro = Mahkota
Pemakai mendapatkan kedudukan, keluhuran dan dijauhkan dari marabahaya.
Parang Nitik
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Orang yang memakai menjadi luwes dan pantes.
Parang Tuding
Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi
Filosofi : Parang = batu karang, Tuding = ngarani = menunjuk, menunjukkan hal-hal yang baik dan menimbulkan kebaikan.
Peksi Kurung
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Orang yang memakai menjadikan gagah/berwibawa dan mempunyai kepribadian yang kuat
Prabu Anom/Parang Tuding
Kegunaan : Upacara mitoni
Filosofi : Agar si pemakai mendapatkan kedudukan yang baik, awet muda dan simpatik.
Sapit Urang
Kegunaan : Koleksi lingkungan Kraton
Filosofi : Orang yang memakai mempunyai kepribadian yang baik dan hidupnya tidak sembrono.
Sekar Asem
Kegunaan : Pakaian upacara adat Jawa
Filosofi : Asem (mesem : senyum)
Orang yang memakai akan selalu hidup bahagia dan bersikap ramah.
Sekar Keben
Kegunaan : Pakain harian kalangan abdi dalem Kraton
Filosofi : Orang yang memakai akan memiliki pandangan yang luas dan selalu ingin maju.
Sekar Manggis
Kegunaan : Upacara tradisional Jawa
(misal : mitoni)
Filosofi : Dengan memakai kain motif tersebut, akan memberikan kesan luwes/ manis bagi si pemakai.
Sekar Polo
Kegunaan : Dipakai untuk sehari-harian.
Filosofi : Orang yang memakai akan dapat memberikan dorongan/pengaruh kepada orang lain.
Semen Gurdo
Kegunaan : Untuk pesta, busana daerah
Filosofi : Agar si pemakai mendapatkan berkah dan kelihatan berwibawa.
Semen Kuncoro
Kegunaan : Pakaian harian Kraton
Filosofi : Kencono (bahasa Jawa: muncar)
Orang yang memakai akan memancarkan kebahagiaan.
Semen Mentul
Kegunaan : Dipakai untuk harian
Filosofi : Orang yang memakai umumnya tidak mempunyai keinginan yang pasti.

Semen Romo Sawat Gurdo
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Dipakai menjadikan macak (menarik)
Semen Romo Sawat Gurdo Cantel
Kegunaan : mitoni, dipakai pesta
Filosofi : Agar selalu mendapatkan berkah Tuhan.
Sido Asih
Kegunaan : Bebas
Filosofi : Pemakai akan disenangi (Jawa: ditresnani) oleh banyak orang.
Sido Asih Kemoda Sungging
Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi
Filosofi : Sido = Jadi, Asih = sayang. Agar disayangi setiap orang.

Sido Asih Sungut
Kegunaan : Temanten panggih
Filosofi : Sido berarti jadi, asih berarti sayang, ragam hias ini mempunyai makna agar hidup berumah tangga selalu penuh kasih sayang.
Sido Mukti Luhur
Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi
Filosofi : Sido Mukti, berarti gembira, kebahagiaan untuk mengendong bayi sehingga bayi merasakan ketenangan, kegembiraan,dll.
Sido Mukti Ukel Lembat
Kegunaan : Temanten panggih
Filosofi : Orang yangmemakai akan menjadi mukti.
Slobog
Kegunaan : Dipakai pada upacara kematian, dipakai pada upacara pelantikan para pejabat pemerintahan.
Filosofi : -Melambangkan harapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditingalkan juga diberi kesabaran dalam menerima cobaan kehilangan salah satu keluarganya.
- Melambangkan harapan agar selalu diberi petunjuk dan kelancaran dalam menjalankan semua tugas-tugas yang menjadi tangung jawabnya.
Soko Rini
Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi
Filosofi : Soko = orang, Rini = senang, Pemakai mendapatkan kesenangan kukuh dan abadi.
Tambal Kanoman
Kegunaan : Dipakai orang muda, terutama untuk tingalan tahun (ulang tahun)
Filosofi : Si pemakai akan kelihatan pantas/luwes dan banyak rejeki.

Tirta Teja
Kegunaan : Berbusana
Filosofi : Tirta = air, teja = cahaya. Si pemakai “gandes luwes” dan bercahaya.
Tritik Jumputan
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Orang yang memakai menjadi luwes dan pantes.
Truntum Sri Kuncoro
Kegunaan : Untuk orang tua pengantin pada waktu upacara panggih.
Filosofi : Truntum berarti menuntun, sebagai orang tua berkewajiban menuntun kedua mempelai memasuki hidup baru atau berumah tangga yang banyak liku-likunya.
Udan Liris
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi ; Orang yang memakai bisa menghindari hal-hal yang kurang baik.
Wahyu Tumurun
Kegunaan : Busana daerah
Filosofi : Agar si pemakai mendapatkan wahyu (anugerah).
Wahyu Tumurun Cantel
Kegunaan : Dipakai Pengantin pada waktu panggih
Filosofi : Wahyu berarti anugerah, temurun berarti turun, dengan menggunakan kain ini kedua pengantin mendapatkan anugerah dari yang Maha Kuasa berupa kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta mendapat petunjukNya.
***
Sampai sekarang masyarakat nusantara masih mempunyai kepercayaan terhadap “batik tradisional” yang bermotif tertentu. Adapun kepercayaan ini antara lain tercermin seperti pada upacara adat pernikahan Jawa, upacara mitoni, upacara kematian dsb. dimana mereka memiliki kepercayaan bahwa batik sebagai salah satu alat perlengkapan pernikahan adat dianggap mempunyai kekuatan magis, dan yang menurut aturan-aturan tertentu yang tidak boleh dilangggar begitu saja.
Namun demikian, arti dari pemakaian kain-kain batik tradisional, bagaimanapun juga sangat tergantung dari persepsi masing-masing pemakainya mengenai pandangan mereka terhadap batik-batik itu sendiri. Kenyataan bahwa berubahnya persepsi masyarakat yang disebabkan oleh pola-pola berpikir yang lebih rasionil, di samping pembuatan batik secara besar-besaran dengan alat-alat teknologi modern, serta pengenaan atau penggunaan kain-kain batik yang bermotif tradisional tidak pada tempatnya, menyebabkan lunturnya makna magis yang terkandung di dalam batik-batik tradisional itu. Hal-hal demikian ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap pemakaian batik tradisional dalam upacara pernikahan adat, sehingga pelaksanaannya dewasa ini lebih merupakan tradisi yang hanya semata-mata untuk dilaksanakan, tanpa penghayatan batiniah dan tidak lagi memiliki arti yang bersifat sakral.