ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 25 Oktober 2013

KH. Yahya C. Staquf: “Lewat Sholawat, Gus Kelik Ajak Kita untuk ‘Ndeder-Roso’ ”

=========

KH. Yahya C. Staquf: “Lewat Sholawat, Gus Kelik Ajak Kita untuk ‘Ndeder-Roso’ ”

Termasuk cara berbakti dengan orangtua adalah dengan cara dekat dengan siapapun yang dulu dekat deegan orangtuanya, meskipun orangtuanya telah tiada. Jadi kita itu masih bisa berbakti dengan orangtua yang telah tiada, dengan cara menjalin kedekatan dengan orang yang dulu dekat dengan orangtua kita, urai KH. Yahya C. Staquf dalam kesempatan beliau mengisi mauidhoh hasanah rutinan sholawat dibaiyyah malam kamis jamaa’ah bil-Mushtofa pimpinan Gus H. Rifqi Ali (Gus Kelik), rabu, 23/10/2013 di halaman Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta. Menyambut pada kesempatan itu, para pengasuh Pondok Krapyak, hadir pula rombongan Mayjen (purnawirawan) DR. Untung, Mantan Kapolda DIY.
“ Dulu saya sering dipanggil mbah Ali, waktu itu masih lulus SD. Seringnya dipanggil bukan karena di utus untuk melakukan sesuatu, tetapi karena disuruh duduk saja menemani Mbah Ali Maksum muthola’ah. “Kowe kudu parek karo aku, sebab aku mbiyen parek karo mbahmu. (kamu harus dekat denganku, sebab aku dulu dekat dengan kakekmu), begitu dawuh Mbah Ali” kisah keponakan KH. Musthofa Bisri yang memang tercatat sebagai alumnus pondok Krapyak.
Sholawat itu Cara Kita “Ndeder Roso”
Gus Yahya juga menuturkan pengalamannya di saat di Krapyak usai lulus SD, “Dulu saya di suruh mondok oleh Bapak (KH. Cholil Bisri, red.) kelas Satu SMP. Di bawa ke Krapyak, lalu ditinggal pulang. Bapak saya mengatakan, kamu kesini, biar ketularan Mbah Ali. Saya tidak di suruh untuk ngaji, tidak disuruh belajar, tidak. Pokoknya mondok disini biar ketularan Mbah Ali.”
Kenapa “ketularan Mbah Ali” menjadi tujuan utama? Sebab menurut Gus Yahya, itulah yang paling pokok, karena dekat dan bergaul dengan ulama merupakan sebuah kenikmatan yang besar.
Dasar Kyai yang doyan mbanyol, Gus Yahya bertutur, Dulu ada santri seangkatan Gus Yahya yang menjadi tukang pijit idola Mbah Ali. Karyono namanya (sudah wafat).Tak jarang agak sedikit bengkak tangannya karena Mbah Ali memang doyan dipijit keras. Hampir setiap hari pula nama Karyono menggema dari pengeras suara yang memang standby di kamar KH. Ali Maksum, Hingga santri tersebut oleh teman-temannya dikatakan dapat masuk surga.
“Kok iso (kok bisa), Kang?” tanya Karyono penasaran.
“Lha iya, sesok ben nek nang suargo Mbah Ali butuh tukang pijet piye (lha iya, besok nanti kalau di surga Mbah Ali butuh tukang pijit gimana)?”, disambut gelak tawa hadirin saat beliau bercerita.
Jadi, saya dan njenengan semua, ikut Gus Kelik, menghadiri jamaah sholawatan rutinan malam kamis ini tentu bukan dolanan tho? Mesipun saya belum pernah didawuhi Gus Kelik, tapi saya bisa mengira-ngira maksud beliau, Menurut saya, tujuan Gus kelik ngajak-ngajak kita untuk sholawatan tidaklain adalah untuk “ndeder roso” tugas Gus Yahya.
Strategi Sebarkan Islam ala Walisongo
Gus Yahya yang juga dikenal sebagai Jubir di era Presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini juga menjelaskan awal mula bagaimana Islam tumbuh dan berkembang di Indonesia.
“Njenengan itu sekarang enak. Orang Islam di tanah jawa, di seantero nusantara sudah Islam semua kan? Pernah tidak membayangkan Islam bibit-kawite (cikal-bakal) Islam datang ke tanah jawa itu bagaimana?” Tanyanya pada jamaah.
“Sebenarnya tidak begitu masuk akal. Njenengan itu orang jawa, pesek, hitam, kok bisa ikut kanjeng Nabi Muhammad SAW? Nabi di Arab, kita di Jawa, sekarang saja sampai Jeddah pakai pesawat paling tidak 10 jam. ” kelakar beliau diiringi tawa jamah.
“Tembung-tembunge Arab niku angele ora karuan. Sunan Kalijogo mawon, dikengken gurune, Sunan Bonan, diken wiridan ‘ya hayyu ya qoyyum’, metune ‘ya kayuku ya kayumu. Angel banget. Kulo mawon diken maos al-fatihah, sebulan mboten khatam” papar Gus Yahya.
“Bagaimana cara walisongo dulu mengislamkan tanah Jawa? niku cepet lho, Bu. Mboten ngantek sak generasi. Sunan Kalijogo dereng kapundut, niku sak tanah jawa pun Islam kabeh. Seng asale nyembah watu, nyembah wit, melu katut Islam kabeh. Niku nganggo coro nopo?”
Ya, Islam disebarkan oleh Walisongo dengan yang khas, lewat tembang dan nyanyian. Lebih jauh Kyai yang piawai berkisah dan menulis berbagai kisah dan anekdot pesantren dan dituangkan lewat media sosial bernama ‘teronggosong’ ini menuturkan bahwa Sunan Kalijaga tidak pernah ngajak sholawatan kala itu.
“Apalagi ngaji seperti Mbah Ali, ngaji alfiah, riyadhus sholihin, sama sekali tidak. Yang di ajar siapa? Wong iseh Hindu Buddha kabeh (orang masih Hindu-Budha semua). Yang terkenal, wali itu pakai cara yang enteng-enteng, ringan”.
Gus Yahya lalu memberikan contoh , Sunan Giri dulu membuat tembang dolanan Jawa yang sangat popular, semisal tembang turi-turi putih, lagulagu tersebut begitu populer dan di gemari masyarakat. Jauh lebih penting dari itu, ternyata lagu tersebut mengandung pesan ajaran kearifan, kesadaran akan kematian, akan amal setelah manusia meninggal. Bahkan, ujar Gus Yahya, lagu sluku-sluku bathok yang tak juga kalah popular, sejatinya berasal dari lahjah Arab yang sarat makna.
“syiiran Sluku-sluk bathok, bathuke ela-elo, niku asale tembunge, tembung Arab: usluk-usluk bathnak, bathnaka Laa Ilaaha IllALLAH. (nyanyian Sluku-sluk bathok, bathuke ela-elo, itu asalnya dari kalimat Arab: ‘jalankan, jalankah batinmu, batinmu mengucap LA Ilaha illALLAH )” ungkap Gus Yahya.
Malam itu, durasi waktu dua jam terasa singkat. KH. Yahya C. Staquf tidak hanya mampu mengajak jamaah larut dalam untaian-untaian nasehat dan kisah teladan Nabi, sahabat, dan ulama salafus-sholih, beliau juga ‘menyihir’ dan ‘mengupas’ makna di balik tembang-tembang jawa gubahan Para Wali. 

sumber:http://krapyak.org/2013/10/25/kh-yahya-c-staquf-lewat-sholawat-gus-kelik-ajak-kita-untuk-ndeder-roso/