ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 30 Oktober 2013

RENTETAN SEJARAH HADIST GHODIR KHUM DARI ULAMA’ SALAFUS SHOLIHIN

===================

RENTETAN SEJARAH


HADIST GHODIR KHUM


DARI ULAMA’ SALAFUS SHOLIHIN


“Barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpin,maka ali adalah pemimpinya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, musuhilah orang yang memusuhinya,cintailah orang yang mencintainya, murkailah orang yang memurkainya, bantulah orang yang membantunya, hinakanlah orang yang menghinakannya dan edarkan kebenaran sekiranya dia beredar”.

(H.R. tirmidzi, nasai, ahmad –hadist hasan)

(lihat buletin syi’ah al-itrah “ghadir khum” hal.pertama/edisi perdana-th.2007)

muqoddimah

setelah semakin meluasnya pengertian hadist ghadir khum yang di klaim oleh ahlu bid’ah, syia’ah imamiyah khususnya bahwa sesungguhnya Ali ra adalah satu-satunya sahabat nabi saw dari ahlul bait yang mendapat pesan dan wasiat langsung dari beliau saw sebagai imam (pemimpin) dan paling berhak untuk menggantikan beliau saw. Syi;ah berkata:

“lebih dari itu, ada satu pesan dan perkara lain yang sebenarnya sudah sering beliau kemukakan lagi agar terungkap secara formal,tegas dan didengar umat.pesan yang juga berasal dari wahyu illahi itu tak lain adalah pesan dan wasiat tentang kepemimpinan ali bin abi thalib as sepeninggal beliau”.

(Lihat bulletin syi’ah al-itrah “ghadir khum” hal pertama / edisi perdana-th. 2007)

maka perlu kiranya kita kaji pengertian hadit tersebut dari ulama-ulama salafus sholeh ahlus sunnah wal jama’ah.

Pokok masalah :

Dalam kenyataan sejarah dunia, yaitu perjalanan kehidupan manusia (sunnahtullah), ternyata orang-orang yang menggantikan kholifatur rasul saw adalah bukan ali ra. Secara berurutan mereka adalah :sahabat abu bakar as-shiddiq ra, umar bin khottob ra dan ustman bin affan. Baru kemudian khilafah di pegang oleh ali ra.

Berbicara mengenahi sunnatullah (perjalanan kehidupan dunia dan seisinya), maka alangkah baiknya kita merenungkan firman allah yang terkandung dalam surat al-an’am ayat 59

“dan pada sisi Alloh lah kunci-kunci semua yang ghoib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan dilautan dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfudz)”.

Dari pengertian ini, allah menyatakan bahwa peredaran alam jagad raya dan seluruh peristiwa yang ter jadi di muka bumi ini adalah merupakan takdir dan qodar allah yang suadah tertulis di lauh-mahfudz. Apapun yang terjadi,baik,buruk. Perkara yang disukai atau tidak di sukai adalah hak mutlak kekuasaan dan kehendak allah ta’ala semata. Inilah salah satu rukun iman keenam agama islam . yaitu percaya akan qodo’ dan qodar allah, baik atau jahatnya semuanya dari allah semata. Barang siapa yang tidak mempercayainya, maka dia adalah kufur kepada allah ta’ala

Lain halnya sikap aliran syi’ah dalam menghadapi kenyataan yang terjadi. Mereka seakan-akan menggugat dan tidak ridhlo kepada allah ta’ala yang telah menetapkan dan mentaqdirkan para shahabat yang menggantikan nabi saw dan mendahului ali ra. Sebagai kholifah. Sehingga mereka berani mengatakan bahwa:

“kota madinah yang di binanya dengan pedoman dan ajaran islam dan tauhid saat itu (sepeninggal nabi saw-red) justru terancam serangan musuh (para shahabat-red),kaum pemdamba kenikmatan duniawi, dan kaum yang hatinya penuh gejolak dendam kesumat kepada islam dan pendirinya (Nabi Muhammad saw-red) sehingga mereka (para shahaba-red) ingin meluluh-lantakkan bangunan islam untuk kemudian mereka bangun kembali kebudayaan jahiliyyah yang sudah kehilangan daya pikatnya”.

(lihat buletin syi’ah al-itrah “ghadir khum” hal.pertama/edisi perdana-th.2007)

subhanallah! Inilagh salah satu bentuk keberanian aliaran syi’ah yang mengatasnamakan organisasi ke-islaman al-itrah di bangil yang baru muncul pada awal tahun 2007 dan mewakili organisasi-organisasi keislaman berbasis syi’ah.mereka berani dengan lantang mencaci-maki para shahabat sebagai musuh islam,hatinya penuh gejolak dendam kesumat kepada islam dan nabi saw,dll.lebih-lebih kepada abu bakar ra. Sebagai pengganti pertama kholifatur rasul dengan kata-kata yang tidak sepatutnya mereka lontarkan dari seorang yang mengaku muslim.

Subhanallah ! rasulullah saw pernah berkata kepada abu bakar ra didalam gua tsur ketika beliau menyertai nabi saw hijrah ke madinah. Begitu nabi saw melihat betapa besar cintanya abu bakar ra kepada nabi saw dan pengorbanannya, baik harta. Jiwa, dan keluarganya, semuanya beliau serahkan hanya untuk islam, sehingga nabi berkata:”demi dzat yang mengutus aku dengan benar sebagai nabi! Tidak akan masuk surga orang yang berani membencimu(hai abu abu bakar). Sekalipun amalnya mencapai 70 amalan nabi”.

Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana ulama ahlus sunnah salafu-shaleh mengantisipasi, menanggapi dan menjelaskan perkara hadist ghodir khum?

Pembahasan:

Walhasil marilah kita telaah perjalanan(asbabul-wurud) hadist ghodir khum, hadist ini sendiri terjadi setelah beliau saw usai melaksanakan haji wada’. Yaitu tepatnya pada tahun ke 10 hijriyyah. Haji wada’ ini juga dinamakan haji balagh dan haji islam sebab nabi saw mengucapkan salam perpisahan kepada seluruh manusia dan beliau tidak melaksanakan haji setelah haji wada’ ini. Dan beliau meneragkan kepada mereka apa yang halal dan yang haram. Beliau berangkat beserta jama’ah sebanyak 90.000 orang sahabat pada 5 hari sebelum masuk bulan dzulhijjah selepas sholat dhuhur bersama para sahabat bergerak dari kota madinah menuju kota mekkah.

Ibadah haji pun telah usai. Manasik demi manasik dengan berbagai cara terlakasana. Lalu nabi saw melaksanakan tawaf wada’ sebagai tanda perpisahan. Beliau berdiri di depan multazam, yaitu tempat  diantara hajar aswad dan pintu ka’bah,beliau saw berdo’a seraya menempelkan dada dan wajah beliau dengan multazam.

Setelah 10 hari masuk kota mekkah, tepatnya tanggal18 dzulhijjah, nabi saw keluar bersama para sahabat pulang menuju ke kota madinah. Ketika beliau sampai pada satu daerah yang dikenal denagn sebutan ghodir khum. Para sahabat berkumpul disana dan nabi mengutarakan khutbah dan tentang keutamaan ali ra dan bebasnya harga diri beliau dari daripada pendapatnya orang-orang yang menyertai beliau di yaman. Yaitu sesuatu yang timbul dari diri beliau soal peradilan, sebagian mereka mengatakan bahwa ali ra adalah seorang yang menyimpang  dan bakhil. Padahal kebenaran senantiasa menyertai beliau ra.

Dalam khotbahnya, nabi saw mengutamakan soal berpegang dengan teguh kepada kitabullah dan beliau saw berwasiat akan keutamaan keluarganya,seraya berkata:”sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian 2 perkara, yaitu kitabullah dan keluargaku, dan sekali-kali keduanya tidak akan berpisah sehingga sampai keduanya ke telaga(hari kiamat)”.(Al-hadits)

Dalam membela perkara haq Ali ra, nabi saw berkata lantang berulang kali ,”bukankah aku ini paling utamanya kalian dari pada diri kalian”, mereka menjawabnya dengan membenarkan dan pengakuan,lalu nabi saw mengangkat tangan ali ra menunjukkan kepada shahabat seraya berkata:

“Barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpin,maka ali adalah pemimpinya. Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, musuhilah orang yang memusuhinya,cintailah orang yang mencintainya, murkailah orang yang memurkainya, bantulah orang yang membantunya, hinakanlah orang yang menghinakannya dan edarkan kebenaran sekiranya dia beredar”.

Inilah paling kuatnya hadist yang dipegang oleh syi’ah bahwasannya ali ra adalah yang paling utamanya untuk mendapat mandate kepemimipinan dari pada sahabat lainnya. Mereka berpendapat bahwa hadist ini adalah merupakan nash(ketetapan) yang jelas atas kholifah ali ra. Yang mana pada waktu itu tidak kurang dari 30 orang sahabat mendengar lansung dan menyaksikannya,

Ulama salaf menolak pendapat syi’ah tentang hadist ghodir khum dalam beberapa sisi. Selain derajat hadist tersebut hanya hadist hasan, bukan shahih:

Pertama:

Orang syiah mufakat atas pengertian hadist tawarur. Yaitu dalam beberap hadist yang bisa mereka buat sebagai dalil atas imamah. Akan tetapi kenyataanya hadist ghodir khum ini adalah hadist tunggal, bahkan ada sebagian imam hadist mencelanya. Seperti imam abu dawud dan abu hatim ar rozi. Maka hal ini merupakan satu bentuk perlawanan dari mereka (imam hadist) akan ketawaturan hadist ini. Sehingga hanya dikategorikan sebagai hadist hasan.

Dari sini berkata ulama ahlusunnah”,subhanallah!, dari perkara orang-orang syi’ah yang mana apabila kita ahlu sunnah membuat dalil untuk membantah mereka dengan hadist-hadist shohih “. Maka mereka berkata,”ini adalah hadist tunggal yang tidak cukup dibuat sebagai dalil”. Dan apabila mereka membuat dalil akan satu pendapatnya, maka mereka mendatangkan hadist-hadist batil.yaitu hadist yang tidak sampai ketingkat derajat hadist dhoif”.

Kedua:

Sesungguhnya pengertian “mauliy” itu bisa dimutlakkan pada 20 makna. Yaitu satu diantaranya adalah yang bermakna : “sayyidiy” yang berarti Ali ra adalah seorang penghulu yang patut kiranya unutk dicintainya dan menghindar dari pada membencinya.

Sesungguhnya ada seorang shahabat bernama buraidah yang pernah menyertai baliau ra di yaman mengeluh soal kekasaran ali ra kepadanya, maka berubahlah wajah nabi saw(marah),lalu beliau saw berkata kepadanya:

“ya buraidah,jangan engkau mengumpat ali ra. Sesungguhnya dia adlah bagian dariku, dan aku bagian darinya, bukankah aku paling utama orang-orang mukmin dari diri mereka”.

Buraidah menjawab “benar, ya rasulullah saw”, maka nabi bersabda:…………..

Demikian ini diutarakan nabi saw hanya kepada buraidah, kemudian manakala nabi saw, sampai ke ghodirkhum beliau ingin mengatakannya kepada seluruh para sahabat, sebagaimana wajib atas mereka(para sahabat)mencintai nabi saw, maka sepantasnya wajib atas mereka mencintai ali ra.

Adapun pengertian dari ali ra paling utama sebagai imam(pemimpin) setelah nabi saw, maka sebenarnya yang dikehendaki adalah bisa terjadi diwaktu yang akan datng bukan pada waktu itu, apabila tidak demikian, maka sudah pasti dia(ali ra) menjadi imam pada waktu itu juga, sekalipun nabi saw masih hidup. Akan tetapi perkara ini tidak mungkin terjadi. Dan waktu yang akan dating tersebut tidak ditentukan secara pasti. Lantas dari sisi mana beliau ra bisa menjadi seorang imam setelah wafatnya nabi saw? Boleh jadi imamah terjadi setelah diikatnya bai’at atas ali ra(disumpah) dan menjadi khollifah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ali ra tidak pernah berdalih dengan hadist tersebut kecuali setelah sampainya khilafah kepada beliau ra sebagai bentuk penolakan atas orang yang menentang beliau dalam masalah khilafah tersebut.

Dan diamnya ali ra dari mengambil dalih hadist tersebut ebagai imam sampai datangnya hari-hari khilafah beliau ra adalah bisa jadi ketetapan bagi orang orang yang lebih rendah akal pikirannya, lebih-lebih orang yang mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada nash(ketetapan) dalam hadist ghodir khum tersebut atas imamahnya ali ra setelah wafat nabi saw

Ketiga:

Sudah menjadi khabar tawatur dari ali ra dan sahabat lainnya bahwasannya nabi saw tidak pernah menetapkan khilafah kepada seseorang ketika wafatnya beliau saw. Tidak kepada beliau (ali ra) dan tidak kepada lainnya maka dikatakan kepada beliau,…………………………

“engkau adalah yang bisa dipercaya dan engkau yang bisa memegang amanah atas perkara yang engkau dengar”. Maka beliau ra berkata,

“adapun urusan mandat dari rosulullah saw, maka demi allah tidak ada, seandainya aku orang yang pertama kali membenarkan denagn hadist ghodir khum ini, niscaya aku adalah orang yang pertama kali mendustakannya. Seandainya aku mempunyai perjanjian dengan nabi saw dalam perkara wasiat imamahku ini, maka aku tidak akan meninggalkan perlawanan untuk mendapatkan khilafahku tersebut. Sekalipun aku tidak mendapatkan kecuali selimut buluku ini”

dalam riwayat lain ali ra berkata:

“aku tidak akan membiarkan saudara dari bani tamim dan bani adiy”. Yaitu abu bakar ra dan umar ra. Yang mana merka berdua menggantikan mimbar nabi saw dan sungguh aku berperang melawan mereka berdua dengan kedua tanganku”.

Keempat:


Seandainya hadist ghodir khum itu merupakan sebuah nash atas imamahnya ali ra, maka sudah barang tentu ada keleluasan bagi ali ra untuk tidak mengikuti ajakan paman beliau abbas ra tatkala mengajak beliau kerumah nabi saw seraya berkata,”seandainya urusan imamah setelah nabi saw ini hak kita (ali ra dan anak turunnya sebagai ahlu bait nabi saw), maka kita pasti mengetahuinya”.

Dan juga seandainya hadist ghodir khum itu merupakan sebuah nash atas imamahnya ali ra, niscaya tidak akan ada ucapan dari kalangan anshor,……………

“dari  kami (golonagn anshor )ada pemimpinnya sendiri dan dari kalian ( golongan muhajirin) ada pemimpinnya sendiri”.

Lalu abu bakar mengambil dalil atas mereka(kaum anshor) dengan mengatakan bahwa imamah(pemimpin) itu adlah dari kaum qureisy(golongan mayoritas)

Kejadian hadist ghodir khum dan ucapan kaum anshor tersebut tidak kurqang dari 2 bulan, maka untuk mengartikan lupanya ali ra, abbas ra dan seluruh sahabat muhajirin dan anshor ra adalah bentuk kemustahilan yang sangat jauh. Dan seluruh sahabat terjaga oleh allah ta’ala dari pada berkumpul untuk menyesatkan umat dan tidak melaksanakan perintah allah dan rasulNya tentang apa yang mereka ketahui dari hadist tersebut. Yang berakibat fatal, yaitu batalnya syareat agama islam sebagaimana yang dilansir dari pendapatnya aliran syiah

Ketika di katakana kepada hasan al-mutsanna bin sibthi”sungguh hadist:………………….

Adalah nash tentang imamahnya ali ra,maka dia berkata

…………………………………………………………….

………………………

“ingatlah demi allah!seandainya nabi saw menghendaki dengan hadist ghodir khum dengan pemerintahan dan kekuasaan,pastilah nabi saw menerangkan maksudnya kepada mereka.dan pasti beliau berkata”wahai manusia!ali ra adalah penguasa setelah aku dan menjadi kepala pemerintahan atas kalian setelah. Maka taatilah dan patuhilah dia”.

Demi allah seandainya nabi saw telah memberi mandate kepada ali ra kemudian meninggalkannya.maka demikian ini adalah satu kesalahan yang sangat besar”.

Imam nawawi ditanya tentang hadist……………………….apa yang dapat diambil faedah darinya? Beliau menjawab dari ulama’ yang ahli dari perkara ini dan dari mereka bisa dibuat pegangan dalam menyatakan kebenaran hadist tersebut adalah bermakna :

………………………………………………………………………….

“barang siapa yang aku sebagai penolongnya,pengaturnya,yang mencintainya dan yang membersihkannya,maka ali ra adalah yang demikian ini”.

Pembahasan II

Untuk memperkuat makna dari hadist ghadir khum yang mengandung wasiat imamah ali sebagaimana pendapatnya orang syi’ah,maka mereka menghubung hubungkan dengan ayat.”hai rasul,sampaikan apa yang diturunkan kepadamudari tuhanmu.dan jika kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu),berarti kamu tidak menyampaikan amanat_Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)manusia sesungguhnya allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”(Al maaidah 67)

Coba kita baca bulletin syi’ah al-itrah:

“lebih dari itu,ada satu pesan dan perkara lain yang sebenarnya sudah sering beliau kemukakan kepada umat,namun saat ini harus beliau kemukakan lagi agar terungkap secara lebih formal,tegas,dan didengar umat.pesan yang juga berasal dari wahyu illahi itu tak lain adalah pesan dan wasiat tentang kepemimpinan ali bin abi thalib as sepeninggal beliau.”(lihat bulletin syiah al-itrah(ghadir khum” hal.pertama/edisi perdana-th.2007)

sebenarnya ayat diatas memang ada perbedaan bacaan. Sebagaiman yang diriwayatkan oleh ibnu mardawaihi,bahwasannya ibnu mas’ud membaca ayat diatas dengan tambahan:”hai rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhan mu.sesungguhnya ali adalah pemimpin orang-orang mukmin”.

Sehingga syi’ah dengan lantang mengumandangkan bahwa ayat tersebut adalah merupakan wahyu illahi yang mengandung pesan dan wasiat tentang kepemimipinan ali bin abi thalib sepeninggal beliau saw. Dan pesan ini terwujud dalam peristiwa hadist ghadir khum.

Padahal tambahan bacaan…………………sendiri tidak disebut bentuk bacaannya dalam khot al-qur’an mushaf “utsmani yang ada sekarang ini, dan tidak ditemukan keabsahan sanadnya.lebih-lebih mencapai derajat tawatur.karena sesungguhnya kitab hadistnya imam mardawaihi ini. Tidak ada satu ahli hadist pun yang mengatakan keshahihannya apa lagi mencapai tingkat tawatur.maka tidak boleh dijadikan tambahan sebagai al-qur’an dengan ijma’ ulama ushul,fuqoha’ dan qurro’ seantero dunia kecuali syi’ah.

Tambahan bacaan diatas ,sebenarnya banyak ditemukan dalam kitab tafsir seperti ayat”dan perempuan yng telah kamu nikmati/gauli diantara mereka (sampai pada waktu yang telah ditentukan, maka berikanlah upah-upah merka”.

Dengan ayat ini syi’ah berda;lih halalnya mut’ah. Padahal bacaan ini tidak mutawatir, bahkan bacaan ini dapt dihukumi sebagai khobar ahad(hadist tunggal)yaitu periwayatnya hanya 1 orang

Apabali perubahan bacaan al-qur’an ini terjadi maka tidak diragukan lagi bahwa bacaan diatas tidak kuat hukumnya apalagi dijadikan bacaan mashur, sehinggabisa menjadi sumber hokum tentang halalnya mut’ah karena masih adanya bacaan yang lebih mashur dan mutawatir yang bertentangan dengan bacaan diatas sebagaimana pendapat jumhur ulama’

Dan ini lah salah bentuk al quran versi yang kelak akan keluar sebelum datangnya kiamat,yang akan dibawa imam mahdi.

Pembahasan III

Menghadapi kenyataan yang terjadi setelah nabi saw meninggal, siapakah khalifah yang berhak menggantikan beliau saw? Dalam masalah ini ada perbedaan antara ahlu sunnah dan syi’ah yang tidak bisa dipadukan.maka hanya firman allah swt dan sabda rasul-Nya yang bisa dijadikan acuan untuk mengambil kebenaran.

Coba kita simak firman allah swt:

………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………

“hai orang-orang yang beriman,ta’atilah allah swt dan ta’atilah rasul(Nya),dan ulil amri diantara kamu.”

Dalam ayat ini jelas allah memerintah kepada orang yang beriman untuk patuh dan ta’at kepada allah swt,rasul-Nya saw dan kepada ulil amri.maka siapakah ulil tersebut ? ahli tafsir menerangkan ulil amri dengan bermacam-macam pandangan.akan tetapi paling utamanya pendapat yang mendekati kebenaran bahwa ulil amri itu adalah seorang penguasa atau kepala pemerintahan yang dibai’at oleh orang-orang islam.karena perintah nabi saw untuk menta’ati seorang penguasa atau kepala pemerintahan yang akan bisa membawa kemaslahatan bagi orang-orang islam.

Dalam perkara kholifah setelah nabi saw,beliau saw pernah menyatakan dalam sebuah hadist shahih yang diriwayat imam bukhori.rosulullah saw bersabda :

……………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………..

………………………………………………………..

……………………….

“Adalah bani isroil yang memerintah mereka itu adalah para nabi.apabila satu diantara mereka meninggal,maka satu nabi yang lain menggantikannya.dan bahwasannya tidak ada nabi setelah aku dan bakal ada banyak kholifah-kholifah penggantiku.para sahabat bertanya “ya rosulullah !apa yang engkau perintahkan kepada kami ? nabi saw berkata,”penuhilah pelantikan kholifah-kholifah secara berurutan.dan berikan kepada mereka akan hak-haknya(patuhi dan ta’ati mereka)sebab sesungguhnya allah swt akan meminta pertanggung jawaban tentang jalan pemerintahannya”.

Dari hadist tersebut jalas-jelas nabi saw memerintahkan untuk patuh dan ta’at kepada kholifah yang bakal menggantikan beliau secara berurutan.

Untuk lebih jelas,marilah kita lihat bagaimana sikap dan reaksi para sahabat dari kalangan ahlu bait nabi saw, kaum muhajirin dan anshor serta ijma’ ulama’ akan kholifatur rosul.lebih-lebih kepada kholifah yang pertama.yaitu abu bakar ra.

1.ahlu sunnah mempunyai banyak dalil tentang berhaknya abu bakar ra sebagai pengganti nabi saw.seandainya hal itu wajib ada dalilnya,mak cukuplah perintah nabi saw kepada beliau untuk menggantikan beliau saw memimpin manusia sholat.sebab ketika beliau ra dibai’at,tidak ada satu shahabat pun yang menentangnya.dan tidak mungkin mereka (ummat)mufakat dalam satu kesalahan atau kesesatan.

2.pada suatu hari abu juhaifah masuk kerumah ali bin abi thalib ra seraya berkata,”wahai sebaik-baik manusia setelah nabi saw”.maka ali ra berkata,”pelan-pelan,hai abu juhaifah !maukah engkau aku beritahu sebaik-baik manusia setelah nabi saw.sebaik-baik manusia setelah nabi saw adalah abu bakar dan umar ra”.

3.pada suatu hari abu sufyan bin harb menyindir tentang kepemimpinan abu bakar ra, ma kali ra berkata,”selagi engkau memusuhi islam dan orang-orang islam, hai abu sufyan !maka demikian tersebut tidak akan membahayakan islam.sungguh kami telah mendapatkan abu bakar ra ahli dalam kepemimpinan”

4.ketika nabi saw telah wafat,maka kaum anshor berkata,”dari kami (golongan anshor)ada pemimpinnya sendiri dan dari kalian (golongan muhajirin)ada pemimpinnya sendiri”.

Maka umar ra mendatangi mereka seraya berkata:”wahai kaum anshor!bukankah

kalian tahu bahwa rosulullah saw sungguh memerintah abu bakar ra untuk memimpin umat sholat,maka siapa diantara kalian yang hatinya rela untuk mendahului abu bakar ra”?

maka mereka para shahabat menjawab “kami minta perlindungan kepada allah swt dari pada mendahului abu bakar ra”.

5.ketika nabi saw meninggal, para shahabat berkumpul dirumah sa’ad bin ubadah,ada diantara mereka abu bakar ra dan umar bin khottob ra.maka berdirilah seorang anshor seraya menyampaikan khotbahnya:

“wahai kaum muhajirin!sesungguhnya rasulullah saw,apabila beliau memperkerjakan salah seorang dari kalian niscaya beliau menyertakan seorang dari kami.maka kami memandang bahwa ada dua orang yang harus mengurusi perkara ini (kholifah)yaitu dari kami dan dari kalian”.

Maka berdirilah zai bin tsabit seraya berkata:

“tahukah kalian sesungguhnya rosulullah saw adalah dari golongan muhajirin,maka sudah tentu kholifatur rosul adalah dari golongan muhajirin dan kami adalah golongan anshor(penolong)rosulullah saw,maka sudah tentu kami adalah anshor kholifatur rosul”.

Kemudian dia memegang tangan abu bakar dan berkata,”abu bakar ra ini adalah shahabat kalian,maka bai’atlah dia”,kemudian umar membai’at abu bakar ra, terus kaum muhajirin dan anshor membai’at juga “.

Setelah itu abu bakar naik ke mimbar sambil memandang wajah-wajah shahabat dan beliau ra tidak melihat ali ra ,maka beliau memenggil-manggil nama ali ra,kemudian datanglah ali ra sambil berkata :

“aku adalah anak paman Rasulullah saw dan suami dari putri beliau (Muhammad saw),aku tidak menghendaki terbelahnya tongkat(kepemimpinan) orang-orang islam.”

Kemudian ali ra berkata :”tidak ada cercaan bagimu wahai kholifatur rasul”,kemudian beliau juga membai’at Abu Bakar ra.

sumber:http://masjidsegaf.wordpress.com/sejarah-hadist-ghodir-khum/