ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 27 Oktober 2013

kitab Thoriqotul Husul(yang ditulis oleh Rais Am PBNU KH Sahal Mahfudh) ini menjadi bahan kajian di Universitas Al-Azhar Mesir

============
Pesantren Masih Segan Mengaji Karya Ulama' Sendiri
========================
Banyak sekali kitab kiai pesantren yang sudah diterbitkan dan beredar luas. Namun kalangan pesantren sepertinya masih segan memasukkan karya ulama sendiri sebagai bahan kajian. Karya kiai hanya beredar di kalangan terbatas, itu pun lebih sering hanya menjadi koleksi pribadi.
Kamis (24/10) kemarin NU Online kembali memulai Kajian Kitab Kuning di ruang redaksi kantor PBNU, Jakarta Pusat. Insyaallah kajian akan berlangsung setiap Kamis sore. Redaksi siap menerima masukan dari warga baik berupa kesediaan menjadi narasumber untuk tema-tema tertentu atau mengirim tulisan terkait khazanah pesantren yang akan dimuat dalam sub titel “Seri Kajian Kitab Kuning.”
NU Online telah mengoleksi banyak karya kiai pesantren, baik yang berbahasa Arab atau pun bahasa daerah: Sunda, Jawa dan Madura. Sebagian koleksi dipamerkan dalam rangkaian peringatan Harlah ke-10 NU Online beberapa waktu lalu.
Seri kajian Kamis (24/10) NU Online kemarin baru mulai mengaji karya kiai pesantren yang ditulis dalam bahasa Arab. Ini merupakan kelanjutan dari kajian kitab Manahijul Imdad, karya Kiai Ihsan Jampes Kediri di bidang fiqih yang ditulis pada tahun 1940-an dan baru diterbitkan pada 2005. Salinan manuskripnya ada di Perpustakaan PBNU.
Kali ini NU Online membuka kitab yang ditulis oleh Rais Am PBNU KH Sahal Mahfudh bertajuk “Thoriqotul Husul.” Kitab ini menarik bukan saja karena ditulis oleh Rais Aam, tetapi mengaji satu disiplin ilmu ushul fiqih yang mulai jarang dikaji di pesantren.
Thoriqotul Husul adalah khasyiyah atau penjelasan dari kitab Ghoyatul Wusul, karya Syekh Abu Zakariya Al-Anshori, salah seorang ulama Syafi’iyyah yang hidup di abad ke-9 Hijriyah. Kitab yang cukup tebal, lebih dari 500 halaman ini diterbitkan terbatas, namun sudah beredar luas di kalangan para pengaji ushul fiqih di dunia muslim.
NU Online pernah menurunkan berita, kitab Thoriqotul Husul ini menjadi bahan kajian di Universitas Al-Azhar Mesir, namun malah belum banyak dikenal di pasca sarjana perguruan tinggi Islam di Indonesia. NU Online bahkan mendapatkan file kitab Thoriqatul Husul ini justru dari salah satu “perpustakaan online” Mesir.
Bagaimana dengan peredaran kitab Thoriqotul Husul ini di pesantren-pesantren? Penelusuran NU Online, selain di lingkungan Pesantren Kiai Sahal sendiri, Maslakul Huda, Kajen Pati, kitab Thoriqotul Husul ini bukan saja tidak dikaji, tetapi hampir tidak dikenal oleh para santri di berbagai pondok pesantren. (Silakan pembaca menambahkan informasi mengenai peredaran kitab ini di pondok pesantren: Red)
Dalam pengantar Thoriqotul Husul disebutkan ada tujuh lagi karya Kiai Sahal yang ditulis dalam bahasa Arab, yakni Al-Bayanul Mulamma’ (ushul fiqih), Faidhul Hija (fiqih), Faraidhul ‘Ajibah (nahwu), Fawaidun Najibah (nahwu), Lum’atul Himmah (hadits), Tsamratul Hajiniyyah (fiqih), dan Intifakhul Wadjaini (fiqih). Tidak menariknya, kitab-kitab karya kiai sekaliber Kiai Sahal, Rais Aam PBNU tiga periode, tidak dikenal, apalagi dikaji oleh pesantren-pesantren.
Bukan saja karya Kiai Sahal, karya Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari juga tidak banyak dikenal dan dikaji di pesantren-pesantren. Untungnya karya Mbah Hasyim telah dikumpulkan oleh sang cucu KH Muhammad Ishomuddin Hadzik (Gus Ishom alm.) dalam satu kitab bertajuk Irsyadus Syari yang berisi sedikitnya 15 karya Mbah Hasyim.
Mengapa karya ulama Indonesia tidak banyak beredar dan dikaji di pesantren-pesantren? Mungkin butuh waktu beberapa hari untuk menjawab pertanyaan ini

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,47816-lang,id-c,nasional-t,Pesantren+Masih+Segan+Mengaji+Karya+Ulama+Sendiri-.phpx