ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 14 November 2012

GAJI KHOLIFAH SAYYIDINA ABU BAKAR AL-SHIDDIQ RA TIDAK CUKUP UTK KEBUTUHAN KELUARGANYA SEHARI-SEHARI, SEHINGGA DISEMPATKAN BERJUALAN DI PASAR UNTUK PENUHI KEBUTUHAN ITU. JIKA TERBUKTI LEBIH UTK KEPERLUAN KELUARGANYA, MAKA GAJI ITU DIKEMBALIKAN KE BAITUL MAL

 -------------------------------------------------------
Kisah Gaji Pemimpin Teladan (Sayyiduna Abu Bakar Al-Shiddiq RA)
==================================
Setelah dilantik sebagai kholifah, tepatnya sehari sesudahnya, Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA terlihat menuju ke pasar dengan membawa barang dagangannya. Lalu Sayyidina Umar Bin Al-Khotthob RA kebetulan bertemu pada saat itu dengan Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA di jalan seraya mengingatkan bahwa di tangan Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA sekarang terpikul beban berat kenegaraan yang cukup besar dan berat. "Wahai Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA...!!!', “Mengapa Kau masih saja sempat pergi ke pasar untuk mengelola perniagaan? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus diselesaikan…” ujar Sayyidina Umar Bin Al-Khotthob RA.

Mendengar teguran itu, Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA hanya tersenyum sembari menjawab: “Untuk mempertahankan hidup keluarga,” ujarnya ringkas.  “maka untuk itu, aku wajib bekerja.”

Dengan adanya jawaban Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA atas kejadian tersebut, membuat Sayyidina Umar Bin Al-Khotthob RA berfikir cukup panjang dengan penuh keheranan. Maka akhirnya Sayyidina Umar Bin Al-Khotthob RA pun bersama para sahabat yang lain berbincang2, bersikusi, sharing dan menghitung keperluan/ kebutuhan rumah tangga Kholifah Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA untuk keperluan sehari-hari. Akhirnya sampai mencapai sebuah kesimpulan dan Keputusan bahwa mereka pun akhirnya menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham untuk Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA dan kemudian secara bertahap, ditingkatkan lagi menjadi 500 dirham sebulan.

Namun Meskipun gaji khalifah Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA sebanyak itu, Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA tidak pernah sekalipun mengambil seluruhnya untuk gajinya itu. Pada suatu hari, isteri Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA berkata kepada Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RAr, “Aku ingin membeli sedikit manisan” wahai suamiku???

Lalu Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA menyahutnya dengan menjawab: “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli manisan itu.”

Lalu Isterinya berkata lagi: “Jika Engkau izinkan kepadaku, aku akan mencuba untuk menyimpan uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku memungkinkan dapat membeli manisan itu.” Lalu Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA menyetujui usul istrinya itu.

Pada tahapan berikutnya, maka mulailah saat itu, isteri Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA menabung sedikit demi sedikit dari uang belanjanya setiap hari. Lalu hari demi hari menabung itu dilakukan oleh istrinya, maka kemudian, uang itu pun akhirnya terkumpul untuk membeli makanan berupa manisan yang diinginkan oleh isterinya itu. Namun setelah uang itu terkumpul, lalu  isterinya menyerahkan uang itu kepada suaminya yaitu Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA yang saat itu menjabat sebagai kholifah untuk dibelikan bahan makanan tersebut (manisan).

Bagaimana sikap Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA atas kejadin ini? Ternyata Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA berkata: “Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata telah terbukti bahwa uang gaji /biaya yang kita peroleh dari Baitul Mal itu, memang terbukti melebihi keperluan kita sehari-sehari.” Lalu Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh isterinya itu ke Baitul Mal.

Dan sejak hari itu juga, uang biaya/gaji beliau, langsung dikurangi sebanyak uang yang dapat disimpan oleh isterinya itu.

Maka mengetahui kejadian ini, meledaklah tangisan Sayyidina Umar bin Khattab RA, ketika saat wafatnya Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA, anaknya al-Sayyidah 'A'isyah RA  membawa harta peninggalan ayahnya untuk Baitul Maal, yaitu berupa unta yang biasa digunakan untuk mengambil air, sebuah ember tempat memerah susu dan pakaian resmi yang dipakai untuk menyambut tamu.

Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA telah menetapkan jalan yang luar biasa besar dan hebatnya, sehingga sulit dicapai dan ditiru oleh setiap kholifah yang datang sesudahnya. Maka Pantaslah jika Nabi SAW bersabda : ‘Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat di muka bumi ini, pasti lebih berat/lebih unggul keimanan Abu Bakar’. (HR. Al Baihaqi).

Sayyidina Umar bin Khattab RA pernah mengatakan, “Aku selalu saja tidak pernah mampu mengalahkan Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA dalam beramal sholeh.”

Keterangan yang lebih jelas lagi seperti yang difirmankan Alloh SWT sendiri di dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh ) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridloan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Q.s. Al-Lail: 17-21).
Ibnu Jauzi rah.a. berkata, “Para 'Ulama' sepakat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA. Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Harta seseorang tidak memberikan manfa'at bagiku sebanyak harta Abu Bakar RA.” Maka setelah mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA menangis dan berkata, “Wahai Rasululloh, apakah diri saya dan harta saya menjadi milik selain Engkau?” Sabda Nabi SAW ini banyak diriwayatkan dari beberapa sahabat dalam beberapa riwayat. Di dalam sebuah riwayat dari Sa’id bin Musayyab terdapat tambahan, “Rasululloh SAW menggunakan harta Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA  seperti ketika menggunakan hartanya sendiri.” Urwah r.a. berkata, “Ketika Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA masuk Islam, ia mempunyai uang sebanyak 40.000 dirham, semuanya dibelanjakan untuk Rasululloh SAW. (yakni dalam keridloan Rasululullah SAW.). Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ketika ia masuk Islam, ia mempunyai wang sebanyak 40.000 dirham. Dan pada waktu hijrah, yang tersisa hanya 5000 dirham. Harta itu digunakan untuk memerdekakan hamba-hamba sahaya (yang disiksa karena masuk Islam) dan untuk keperluan agama. (Tarikhul-Khulafa’)
Abdullah bin Zubair r.a. berkata bahwa Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA selalu membeli hamba sahaya yang lemah lalu memerdekakannya. Ayahnya, Abu Quhafah, berkata, “Jika kamu ingin memerdekakan hamba sahaya, merdekakanlah hamba sahaya yang kuat-kuat, karena dia akan mampu membantumu dan boleh berguna bagi kita. Lalu Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq RA menjawab, “Saya tidak memerdekakan budak untuk diri saya tetapi saya memerdekakannya untuk mencari keridloan Alloh SWT.” (Durul-Mantsur). Di sisi Alloh swt., pahala membantu orang-orang yang lemah lebih banyak daripada membantu orang-orang yang kuat.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahawa Rasululloh saw. bersabda, “Tidak seorang pun yang telah berbuat baik kepadaku dan aku belum membalas kebaikannya. Tetapi kebaikan Abu Bakar r.a. menjadi tanggung jawabku (beliau tidak mampu membalasnya). Alloh SWT sendirilah Yang akan membalas kebaikannya pada hari Kiamat. Harta seseorang tidak memberikan manfa'at bagiku sebanyak manfa'at yang di berikan oleh harta Abu Bakar RA” (Tarikhul-Khulafa’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar