ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 03 Juli 2017

NARASI DAN KHUTBAH TEMU KELUARGA DZURRIYYAH AL-SYEIKH AHMAD AL-HAJAR AL-ISHAQY YANG KE-15 DI PON.PES QUEEN ZAMZAM PASREPAN PASURUAN

NARASI SILATURROHIM, HALAL BIHALAL DAN TEMU KELUARGA BESAR AL-SYEIKH AHMAD AL-HAJAR AL-ISHAQY YANG KE-15 PADA HARI RABU, 11 SYAWWAL 1438 HIJRIYYAH / 05 JULI 2017 MASEHI DI PON.PES.QUEEN ZAMZAM PASREPAN KABUPATEN PASURUAN:
=========
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْكَرِيْمِ الْمَنَانِ, ذِي الْفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ وَالرِّضْوَانِ, اَلَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِالْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالْإِحْسَانِ, فَجَعَلَنَا مِنْ أَتْبَاعِ رَسُوْلِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانِ, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْمُخْتَارِ, ذِي الشمائل والْأَنْوَارِ, وَعَلَى اَلِهِ وَصَحبِهِ الْأَخْيَارِ, مَا أَظْلَمَ لَيْلٌ وَأَشْرَقَ نَهَارٌ, أَمَّا بَعْدُ.

Yang kami Hormati......

Yang kami Hormati......

Yang kami Hormati......

Silaturrohim Di Hari Fithri:

Silaturrohim berasal dari bahasa Arab, gabungan dari kata: "shilah" yang berarti perhubungan & Persambungan dan kata: "al-rohim" yang mempunyai arti rahim (peranakan seorang wanita), bisa juga diartikan kerabat, keluarga, famili atau sanak saudara.

Kata: "Shilah" dapat dimaknai dari dua aspek:

Pertama, alat. Maknanya adalah

مَا يُوْصَلُ بِهِ الشَّيْئُ

“Sesuatu yang menghubungkan sesuatu.”

Kedua, aksi atau perbuatan. Maknanya adalah

فِعْلُ مَا يُعَدُّ بِهِ الإِنْسَانُ وَاصِلاً

“Membuat/melakukan sesuatu yang denganya manusia dianggap tetap berhubungan.”

Sedangkan secara istilah, kata Ibnu Hajar al-Haitami:

الصِّلَةُ إِيْصَالُ نَوْعٍ مِنَ الإِحْسَانِ

“As-Shilah adalah menghubungkan/menyampaikan suatu jenis kebaikan.” ( Lihat, al-Zawajir, II:65, al-Bahr ar-Raiq, VIII:508, Nihayah al-Muhtaj, V:419, Mughni al-Muhtaj, II:405).

Adapun kata: ar-Rahim, ar-Rahm, dan ar-Rihm mempunyai huruf penyusun yang sama (ra'-ha-mim). Secara hakikat bahasa memiliki arti yang sama, yaitu:

بَيْتُ مَنْبَتِ الْوَلَدِ وَوِعَاؤُهُ

“Rumah” dan “wadah” tempat pertumbuhan anak”

Dalam Kamus Fiqh (I:145) disebutkan bahwa secara fungsional ar-Rahim adalah tempat pembentukan janin. Dan secara fisikal (anatomi) tempatnya dekat perut.

Sedangkan secara majazi (arti kiasan) maknanya “kerabat”. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab , baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak”. (Lihat, Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, X:414)

Meskipun demikian, ketika dihubungkan dengan kata shilah, yang populer dalam bahasa Arab adalah shilaturrahim. Sedangkan di Indonesia silaturrahmi. Karena itu, penggunaan ungkapan silaturahmi tidak dapat dikatakan sebagai “kesalahkaprahan”, karena memiliki rujukan dalam bahasa Arab.

Dari berbagai keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Silaturrrohim, secara penggunaan bahasa sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Atsir adalah kinayah (kiasan) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka (Lihat, an-Nihayah fi Gharibil Hadits, V:425).

Dalam pengertian syari'at silaturrohim bermakna menyambung hubungan kekerabatan atau sanak saudara atau sanak famili. Sedangkan Kerabat atau sanak saudara itu cakupannya lebih luas dari pada mahrom.

Silaturrohim itu hukumnya wajib, sebab memutus silaturrohim termasuk dosa besar. Dalam Al-Quran Alloh SWT memerintahkan:

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
“Berikanlah kerabat itu haknya!”
Kemudian Alloh SWT memuji orang-orang yang gemar menyambung silaturrohim dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Alloh perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.“

Yang dimaksud apa-apa yang diperintahkan Alloh untuk disambung adalah al-arham, yakni sanak famili atau kerabat atau saudara.

Sementara dalil larangan memutuskan silaturrohim adalah ayat Al-Qur'an yang menyatakan:

وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الْلَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang membatalkan janji Alloh setelah mereka melakukan perjanjian dan memutuskan apa-apa yang diperintahkan Alloh untuk disambung dan merusak di bumi, maka mereka itu mendapatkan la'nat dan mereka itu akan mendapatkan tempat kembali yang jelek”

Karena itu Al-Imam Ali bin Al-Husein rodhiyallohu 'anhu  memberi wasiat kepada sebagian putranya: “Hati-hati kamu dari pertemanan orang-orang yang memutus hubungan dengan familinya. Karena orang-orang itu terla'nat dalam tiga tempat dari Al-Quran.”

Dalil-dalil itu sudah cukup bagi kita agar tidak coba-coba memutuskan silaturrohim. Kita musti berhati-hati menjaga silaturrohim itu karena menyia-nyiakannya dapat mengundang musibah di dunia dan akhirat.

Dalam kitab Nasho'ihud Diniyyah, karya Al-Habib Abdulloh bin 'Alawi al-Haddad Qoddasallohsirroh, Baginda Nabi Shollallohu alaih wa aalihi wasohbihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilancarkan atau diluaskan rejekinya, dan terhindar dari meninggal dalam keadaan su’il khotimah, maka hendaknya dia bertaqwa kepada Alloh SWT dan menyambung hubungan dengan sanak saudara.”

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang dikatakan benar-benar bersilaturrohim yaitu orang yang menyambung hubungan famili dengan orang-orang (sanak keluarga) yang telah memutuskan hubungan dengan dirinya.

Jadi, orang yang dikatakan serius menyambung hubungan famili itu bukan yang membalas silaturrohim familinya, tetapi justru orang yang menyambung hubungan dengan famili yang telah memutuskan tali kekerabatan. Yang perlu diingat dalam silaturrohim, jika kita memiliki kelebihan rejeki dianjurkan untuk memberikan sesuatu yang diperlukan saudara yang kita kunjungi. Terutama saudara-saudara kita yang faqir miskin dan membutuhkan.

Perlu kita pahami bahwa silaturrohim dapat menyempurnakan dan membersihkan dosa seusai berpuasa sebulan penuh, kita harus membersihkan dosa terhadap sesama manusia. Caranya dengan meminta ma'af kepada manusia yang telah kita salahi. Kesalahan terhadap sesama orang tidak bisa diampuni Alloh SWT jika orang yang telah disalahi itu tidak memaafkan. Itulah sebabnya, saat Idul Fitri terlihat begitu marak muslimin dan muslimat saling bersilaturrohim, saling berkunjung untuk saling memaafkan demi melebur dosa dan kesalahan kepada sesama manusia (Haqqul Adam), yang beda dengan Haqqulloh yang didasarkan kepada asas Toleran (Fa Haqqulloh Mabniyyun 'Ala Al-Musamahah) yg bisa langsung kita memohon ampun kepada Alloh, kecuali syirik kepada-Nya SWT.

Satu hal yang perlu kita tahu juga bahwa bersilaturrohim bisa juga dilakukan dengan telepon, pesan pendek dan Media Sosial seperti Facebook, WA, Telegram dll. Misalnya, bila ada diantara kita mau berkunjung ke rumah kerabat yang letaknya jauh tetapi kita tak ada ongkos transport, maka kita bisa komunikasi dengan semua media itu. Atau kita juga bisa titip salam kepada saudara lainnya yang tidak ada halangan berkunjung, dan bisa juga dibuat Perhimpunan Famili atau Bani atau Dzurriyyah atau keluarga besar untuk pertemuan keluarga besar sebagai wadah dan wahana Halal Bihalal dan silaturrohim sambil mengurus hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, bahkan hingga silsilah nasab leluhurnya agar diketahui oleh anak cucu dan dzurriyyahnya untuk ditiru ilmu, adad, akhlaq budi pekertinya, wirid-wirid dan amalan istiwomah para leluhurnya serta untuk bisa ditawassuli dan diberi kiriman hadiah do'a dan amalan sholihan untuk dipersembahkan kepada Para Leluhur.

Ada hadits Nabi SAW menyatakan: “Birru arhaamakum walau bis salaam” Artinya, berbaiklah kepada sanak kerabatmu walaupun hanya dengan salam.

Al-Syeikh Nawawy Al-Bantany Dalam Kitabnya: Qomi'ut_Thugyan menjelaskan  bahwa
Cabang iman Yang Ke-55 & 56 adalah  berbuat baik kepada kedua orang tua
Dan Silaturrohim.

Tentang Berbuat baik kepada kedua orang tua ini Al-Syeikh Nawawy Al-Bantany menjelaskan juga persembahan hadiah pahala kepada orang tua akan sampai pahalanya kepada yang kita kirimi tersebut dan sama sekali tidak akan mengurangi pahala kita sedikitpun, dan perbuatan itu termasuk berbuat baik kepada orang tua kita yang telah wafat.

Beliau menukil surat an-Nisa' ayat 36 Alloh swt berfirman:

وَاعْبُدُوْا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا ... الآية

Sembahlah Alloh dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (ibu-bapak) ...
Rosululloh saw bersabda:

بِرُّ الْوَالِدَيْنِ اَفْضَلُ مِنَ الصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ وَالْجِهَادِ فِى سَبِيْلِ اللهِ

Berbhakti kepada kedua orang tua adalah lebih utama dari pada sholat, sedekah, puasa, haji, umroh, dan berjuang membela agama Alloh.
Rosululloh saw bersabda:

مَا عَلَى اَحَدٍ اِذَا اَرَادَ اَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ اَنْ يَجْعَلَهَا لِوَالِدَيْهِ اِذَا كَانَ مُسْلِمَيْنِ فَيَكُوْنُ لِوَالِدَيْهِ اَجْرُهَا وَيَكُوْنُ لَهُ مِثْلُ اُجُوْرِهِمَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهِمَا شَيْءٌ

Tiada halangan pahala bagi seseorang yang bersedekah untuk kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya muslim, niscaya tersedia pahala bagi kedua orang tuanya dan bagi dirinya tanpa sedikitpun berbeda nilai pahalanya.
Rosululloh saw bersabda:

مَنْ حَجَّ عَنْ وَالِدِهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ كَتَبَ اللهُ لِوَالِدِهِ حَجَّةً وَكَتَبَ لَهُ بَرَآءَةً مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang melakukan ibadah haji untuk ayahnya setelah beliau meninggal dunia, niscaya Allah menulis bagi ayahnya satu ibadah haji dan Alloh menulis baginya pembebasan dari neraka.
Seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Khattab ra: "Saya mempunyai seorang ibu yang sudah tua. Ibu saya tidak dapat bergerak dan berbuat apapun jika saya tidak menggendongnya. Apakah aku harus menunaikan hak beliau?" Sayyidina Umar menjawab: "Tidak, karena sesungguhnya ibumu membuatmu demikian, sedangkan ibumu mengangan-angankan kelanggengan hidupmu, padahal engkau melakukan demikian dan mengangan-angankan perpisahan dengannya!".

Sedangkan tentang Silaturrohim , Al-Syeikh Nawawy Al-Bantany menjelaskan bahwa
Rosululloh saw bersabda:

مَنْ سَرَّهُ اَنْ يُمَدَّ لَهُ فِى عُمُرِهِ وَيُوْسَعَ لَهُ فِىْ رِزْقِهِ فَلْيَـتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang senang untuk dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya, hendaklah bertakwa kepada Alloh dan bersilaturrohim.
Rosululloh saw bersabda:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِى مَصَارِعَ السُّوْءِ . وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ جَلَّ وَعَلَى . وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيْدُ فِى الْعُمْرِ

Perbuatan baik dapat menghindarkan kematian yang buruk. Sedekah yang tidak ditonjolkan dapat memadamkan kemarahan Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Dan silaturrohim dapat menambah panjang umur.

Bahwa Rosulullah صلي الله عليه وسلم bersabda :

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ اْلعُقُوْبَةَ فىِ الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُهُ لَهُ فىِ اْلآخِرَةِ مِنَ اْلبَغْيِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan hukumannya oleh Alloh bagi pelakunya di samping apa yang akan didapatnya pada hari kiamat nanti dari pada perbuatan aniaya dan memutuskan silaturahim.”  (Al-Bukhori di dalam al-Adab al-Mufrad: 67, Abu Daud : 4902, At-Tirmidzi : 2511, Ibnu Majah: 4211, Ahmad: V/ 36, 38, dan Al-Hakim : 3410, 7371, 7372.)

Rosululloh صلي الله عليه وسلم bersabda :

لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahim”  (HR.Muslim).

Demikian pula seruan Rosululloh saw dalam haditsnya bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

Dari Abu Hurairoh, sesungguhnya Rosululloh saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia hubungkan silaturrohim. Barangsiapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” Muttafaq ‘Alaih, Shahih al-Bukhari, V:2376, No. 6111; Shahih Muslim, I:68, No. 47.

Dalam hadis lain diterangkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

Dari Abu Huraerah, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Pelajarilah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah kecintaan terhadap keluarga, penyebab banyak harta dan bertambahnya usia.” H.r. at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, IV:351, No. 1979; Ahmad, Musnad Ahmad, II:374, No. 8855; Al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, IV:178, No. 7284, dengan sedikit perbedaan redaksi, dan redaksi di atas riwayat at-Tirmidzi.

Kata at-Tirmidzi:

مَعْنَى قَوْلِهِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ يَعْنِي بِهِ الزِّيَادَةَ فِي الْعُمُرِ

“Sabdanya: ‘Mansa’ah fi al-Atsar bermakna bertambahnya usia.” (Lihat, Sunan at-Tirmidzi, IV:351).

Bahwa Al-Maghfur Lahu : Kyai Muhammad 'Ali Mukhtar Meriwayatkan SILSILAH EMAS NASAB  AL-SYEIKH AHMAD AL-HAJAR AL-ISHAQY sebagai berikut:

Bahwa SILSILAH EMAS NASAB  AL-SYEIKH AHMAD AL-HAJAR/ IBNU HAJAR/ AHMAD SYAJAR AL-ISHAQY adalah:
============

1. Nabi Muhammad SAW;

2. Fatimah Az-Zahra' Al-Batul;

3. Al-Imam Al-Husain putera Sayyidina 'Ali bin Abu Tholib dan Sayyidatina Fathimah Az-Zahra binti Muhammad;

4. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin;

5. Sayyidina Muhammad Al Baqir;

6. Sayyidina Ja’far As-Shodiq;

7. Sayyid Al-Imam 'Ali Al-'Uroidli;

8. Sayyid Muhammad An-Naqib;

9. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi;

10. Ahmad al-Muhajir;

11. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah;

12. Sayyid Alawi Al-Mubtakir (Awwal);

13. Sayyid Muhammad Sohibus Shouma’ah;

14. Sayyid 'Alawi Ats-Tsani;

15. Sayyid 'Ali Kholi’ Qosam;

16. Muhammad Shohib Mirbath (Hadhramaut);

17. Sayyid Alawi 'Ammil Faqih (Hadhramaut);

18. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India);

19. Sayyid Abdulloh 'Azmatkhan;

20. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin 'Azmatkhan;

21. Sayyid Syaikh Jumadil Kubro @ Jamaluddin Husein Al-Akbar 'Azmatkhan Trowulan Mojokerto;

22. Sayyid Maulana Ibrahim Zainal Akbar Asmoroqondi ;

23. Sayyid Maulana Ishaq (Nikah + Dewi Sekardadu Blambangan);

24. Sayyid Muhammad Ainul Yaqin / SUNAN GIRI ( Jaka Samudra ) Gresik;

25. Raden Prabu Tangkisari;

26. Syeikh Yusuf Abdulloh Munif /Bhuju' Nepa  Sampang Madura;

27. Abdulloh Muhammad Bhuju' Moreng Ranggeh;

28. Shonhaji;

29. Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar Al-Ishaqy, Yang Punya Anak:

1. Al-Syeikh Umar Al-Farouq;

2. Al-Syeikh Abdul Ghoffar;

3. Al-Syaikhoh Asfinah;

4. Al-Syeikh 'Umar Abdul Ghofur;

5. Al-Syeikh Anwar;

6. Al-Syeikh Yasir;

7. Shorrof (Wafat Di waktu umur Murohiq/ Remaja).

Dikisahkan oleh Kyai M.Ali Mukhtar  bahwa Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar Al-Ishaqy adalah adik Al-Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantany dengan tunggal Ibu, tapi Beda Bapak.

Istri Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar Al-Ishaqy berasal dari Madura dari Bhuju' Tengginah Batu Ampar Madura yang diberi nama oleh Kyai M. Ali Mukhtar dengan nama: Nyai Ahmad Al-Hajar, karena Kyai Ali M. Mukhtar mengaku lupa nama asli istri Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar Al-Ishaqy tersebut.

Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar Al-Ishaqy hidupnya berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lainnya, hijrah dari suatu kampunģ dan kampung lainnya, sehingga Beliau diberi gelar Al-Hajar yang artinya adalah hijrah atau pindah.

Nama Beliau adalah Ibnu Hajar atau Ahmad atau Ahmad Syajar.

Bahwa Beliau diberi gelar syajar, karena Beliau sering dan suka membaca dan muthola'ah kitab di bawah pohon, hal mana arti syajaroh adalah pohon.

Sedangkan gelar Al-Ishaqy adalah karena Beliau Dzurriyyah dari Mawlana Ishaq Ayah Kanjeng Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri, sehingga Al-Ishaqy tersebut dinisbatkan kepada leluhurnya yang bernama Mawlana Ishaq.

Beliau juga pernah tinggal di Madura, Ranggeh Pasuruan dan juga pernah tinggal di Cilegon Banten, hingga pada akhirnya Beliau pindah atau hijrah mengikuti kakaknya Al-Syeikh M.Nawawi Al-Bantany di Makkah Al-Mukartomah hingga wafatnya (Hatta Wafatihi) dan dikebumikan di Ma'la Suqullail Mekkah berdekatan dengan makam kakaknya  Al-Syeikh M.Nawawi Al-Bantany.

Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar/ Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar Al-Ishaqy, mempunyai 7 anak sebagai berikut:

1. Al-Syeikh Umar Al-Farouq;

2. Al-Syeikh Abdul Ghoffar;

3. Al-Syaikhoh Asfinah;

4. Al-Syeikh  Abdul Ghofur 'Umar ;

5. Al-Syeikh Anwar;

6. Al-Syeikh Yasir;

7. Shorrof (Wafat Di waktu umur Murohiq/ Remaja).
Sebagaimana nama para Dzurriyyahnya telah di tulis di pohon silisilah Beliau sebagai imla' dan dikte dari sanad Kyai M.Ali Mukhtar dari Al-Syeikh Anwar Paman beliau sendiri yang umurnya hingga mencapai 115 Tahun atau 125 Tahun yang dimakamkan di Desa Sekarputih kecamatan Gondang Wetan kabupaten Pasuruan.

Adapun wirid-wirid istiqomahnya diantaranya bahwa :

Al-Syeikh Umar Al-Farouq mengistiqomahkan: LA ILAHA ILLALLOH.

Al-Syeikh Abdul Ghoffar dan Putranya yang bernama KH. Irham mempunyai pondok pesantren di Ramggeh yang mengajar santri-santrinya.

Al-Syeikh Abdul Ghofur Umar hafal shohihain ( Bukhori-Muslim) dengan sanadnya dan menjadi wiridannya setiap malamnya.

Al-Syeikh Anwar mengistiqomahkan bacaan Al-Qur'an, Rotib Al-Haddad dan sholat berjama'ah tepat waktunya. Keistiqomahan sholat jama'ah ini misalnya Sholat jama'ah Sholat Ashar jam 16.00, maka tidak hanya istiqomah sholat jama'ahnya saja, tapi juga istiqomah jamnya tersebut tetap istiwomah jam 16.00 itu.

Sedangkan anak Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar yang lainnya, Kyai Ali M.Mukhtar tidak menceritakannya, hanya saja anak yang bernama Shorrof itu wafat waktu murohiq (remaja) dan tidak mempunyai keturunan.

Sumber: Riwayat dari Al-Maghfur Lahu: Kyai Muhammad 'Ali Mukhtar Gambir Kuning Kec.Kraton Kab.Pasuruan Bin Al-Syeikh Abdul Ghofur 'Umar Bin Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar (Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar) Al-Ishaqy Bin Syeikh Shonhaji Bin Bhuju' Moreng Pasuruan Bin Bhuju' Nepa Sampang Madura....AL-FATIHAH....

Bahwa berkaitan Al-Syeikh Ahmad Al-Hajar (Ibnu Hajar/ Ahmad Syajar) Al-Ishaqy tersebut adik Al-Syeikh M.Nawawi Al-Bantany dan mengikutinya di Mekkah Al-Mukartomah hingga wafatnya, maka tidaklah salah bila para Dzurriyyahnya mengikuti ajaran-ajaran yang dituliskan dalam buah karya Al-Syeikh M.Nawawi Al-Bantany.

Berikut ini Karya-karya besar Syaikh Nawawi yang gagasan pemikirannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi ke dalam tujuh kategorisasi bidang, yakni bidang fiqh, tauhid, tasawuf, tafsir, hadits, sejarah Nabi, serta bahasa. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya dalam satu kitab. Berdasarkan informasi, kitab-kitab karangannya (sekitar 115 judul kitab) ada di universitas al-Azhar Mesir, Belanda, dan di tempat-tempat lainnya. Bukan hanya itu, karya-karya beliau juga terdapat di perguruan tinggi Chicago.

Berikut daftar sebagian kitab karya beliau:

A. FiqhAl-‘Aqdal-Tsamîn,ulasanataskitabFatĥal-Mubîn,Kairo:Mathba‘atal-Wahbîyah, 1300.Fatĥal-Mujîb,ulasanataskitabManâsikal-‘Allâmahal-Khathîbkarya MuĥammadibnMuĥammad ibnal-Syirbînîal-Khathîb,Mesir: Bûlâq, 1276,1292;Kairo,1297,1298;Makkah:Mathba‘atat-TarâqîMajîdîyah, 1316,1328.Kâsyifatal-Sajâ,ulasanataskitabSafînatal-NajâkaryaSyaikhSâlimibn Samîral-Ĥadhramî,Kairo:Mathba‘atal-Mushthafâ,1292,1301,1302,1303,1305; Bûlâq, 1309; Indonesia: Maktabatal-‘Aydrûs, tt.MirqâtShu‘ûd al-Tashdîq,ulasanataskitabSullamal-TawfîqkaryaSayyid‘AbdAllâhibnĤusaynibnThâhiribnMuĥammadibnHâsyimBâ‘Alawî,Mesir,1292;Makkah:Mathba‘atal-Mirîyah,1304.Kitabinijuga memuat pembahasan tentang tauhid dan tasawuf.Nihâyatal-Zayn,ulasanataskitabQurratal-‘AynkaryaSyaikhZaynal-Dînal-Malîbârî,Mathba‘atal-Wahbîyah,th.1297;Bandung:Syarikatal-Ma‘ârif, tt.Qûtal-Ĥabîb,ulasanataskitabFatĥal-Qarîbal-MujîbkaryaIbnQâsim al-Ghazî, Kairo, 1301, 1305, 1310.Sullamal-Munâjâh,ulasanataskitabSafînatal-ShalâhkaryaSayyid‘Abd Allâh al-Ĥadhramî ibn ‘Umar, Mesir: Bûlâq, 1297 dan 1301; Mathba‘at al-Maymanah, 1300.Al-Tsimâral-Yâni‘ah,ulasanataskitabRiyâdhal-Badî‘ahkaryaSyaikh MuĥammadĤasbAllâh),Mesir:Mathba‘at al-Bahîyah,1299;Mesir: Mathba‘at Mushtafâ al-Babî al-Halabî, 1342.Uqûd al-Lujayn fî Ĥuquq al-Zawjayn, Mathba‘atal-Wahbîyah, 1316.TauhidBahjat al-Wasâ`il, Mesir: Bûlâq, 1292; dan Mathba‘atal-Maymanah, 1334.Dzarî‘at al-Yaqîn ‘Alâ Umm al-Barâhîn, Mathba‘at ‘Abdal-Razzâq,1303;danMakkah, 1317.Fatĥal-Majîd,ulasanataskitabDurrFarîd,Makkah:Mathba‘atal-Mirîyah, 1304, 1298. Selesai 7 Ramadan 1294 H/1877 M.Ĥilyatal-Shibyân,ulasanataskitabFatĥal-RaĥmânfîTajwîdal-Qur`ân, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1332.Nûral-Zhalâm,ulasanataskitab‘Aqîdatal-‘AwwâmkaryaSayyidAĥmad al-Marzûqial-Mâliki,Mathba‘at‘Abdal-Razzâq,1303;danMathba‘atal-Ijmâlîyah, 1329.Qâmi‘ al-Thughyân, Mathba‘atal-Wahbîyah, 1296.Qathral-Ghayts,ulasanataskitabMasâ`ilAbîal-LaytskaryaNashribn MuĥammadibnAĥmadibnIbrâhîmal-Ĥanafîal-Samarqandî,Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1321.Tîjânal-Darârî,ulasanataskitabRisâlatal-BâjûrîkaryaSyaikhIbrâhîm al-Bâjûrî, Mesir, 1301; Mathba‘atal-Maymanah,1309; danMakkah, 1309.Selesai 7 Rabî‘ al-Awwal 1297 H/1879 M.

TasawufFatĥal-Shamadal-‘Alîm,Mesir:Mathba‘atDâral-Kutub‘Arabîyahal-Kubrâ, 1328. Selesai pada awal Jûmâdî al-Awwal 1286 H/1869 M.Al-Futûĥâtal-MadanîyahfîSyu‘abal-Îmânîyah,Makkah:Mathba‘atal-Mirîyah, 1323.Al-Isti‘dâdliNashâ`iĥal-‘Ibâd,ulasanataskitabal-MunabbihâtliYawm al-Ma‘âd karyaSyaikhSyihâbal-DînAĥmadibnAĥmadal-‘Asqalâni, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, cet. 2, 1323. Selesai pada tanggal 21Shafar1311H/1893 M.Marâqî al-‘Ubûdîyah, ulasan atas kitab Bidâyat al-Hidâyah karya al-Ghazâli, Mesir: Bûlâq, 1293, 1309; dan Mesir, 1298, 1304. Selesai pada 13 Dzû al-Qa‘dah 1289 H/1872 M.Mishbâĥal-Zhalâm‘alâManhajal-AtammfîTabwîbal-Ĥikam,Makkah: Mathba‘atal-Mirîyah,1314.SelesaiJumâdîal-Awwal1305H/1887M, dan dicetak atas biaya saudara kandungbeliausendiri,yaitu‘AbdAllâhal-Bantanî.Salâlîm al-Fudhalâ`, ulasan atas kitab Hidâyat al-Adzkiyâ` karya Syaikh Zayn al-Dîn al-Malîbârî, Makkah, 1315.

MirâĥLabîdliKasyfMa‘nâQur`ânMajîd,dikenaljugadengansebutan

Tafsîral-MunîrliMa‘âlimal-Tanzîlal-Musfir‘anWujûhMaĥâsinal-Ta`wîl atau Tafsîr al-Nawâwî.

Hadits

Tanqîĥal-Qawlal-Ĥatsîts,ulasanataskitabLubabal-ĤadîtskaryaImam Jalâlal-Dîn al-Suyûthi, Mathba‘at Dâr Iĥyâ` al-Kutub al-‘Arabîyah, tt.

SejarahBughyatal-‘Awwâm,ulasanataskitabMawlidSayyidal-AnâmkaryaIbn al-Jawzî,Mesir:Mathba‘atal-Jadîdahal-‘Amîrah,1297.Selesai17Safar 1294H/1877 M.Al-Ibrîzal-DânîfîMawlidSayyidinâMuĥammadal-Sayyidal-‘Adnânî, Mesir: Hijr, 1299.Madârijal-Shu‘ûdilâIktisâ`al-Burûd,Mesir:Mathba‘atMushtafâal-Bâbî al-Halabî, 1327. Mulai ditulis 18 Rabî‘ al-Awwal 1293 H/1876 M.Targhîbal-Musytâqîn,Makkah:Mathba‘atal-Mirîyah,1311H.SelesaiJum‘at, 13 Jumâdî al-Akhîr 1284 H/1867 M.BahasaFatĥal-Ghâfiral-Khaththîyah‘alâal-Kawâkibal-JalîyahfîNazhmal-Âjurûmîyah, Mesir: Bûlâq, 1298.Al-Fushûshal-Yâqûtîyah,ulasanataskitabal-Rawdhahal-Bahîyahfîal-Abwâb al-Tashrîfîyah karya ‘Abd al-Mun‘im‘Iwadh al-Jirjâwî, Kairo: Mathba‘at al-Bahîyah, 1299.Kasyfal-Murûthîyah ‘anSitâral-Âjurûmîyah, ulasanataskitabal-ÂjurûmîyahkaryaAbû‘AbdAllâhMuĥammadibnMuĥammadibn Dâwûd al-Shanhâjî ibn al-Âjurûm, Kairo: Mathba‘atSyarf, 1308.Lubabal-Bayânfî‘Ilmal-Bayân,ulasanataskitabRisâlâtal-Isti‘ârât karyaSyaikhĤusaynal-Nawawîal-Mâlikî,Kairo:Mathba‘atMuĥammad Mushthafâ, 1301. Selesai tahun 1293.Al-Riyâdh al-Qawlîyah, Mesir, 1299.

Semoga kita semua memperoleh barokat, nafahat, rohamat, Asror, 'Ulum, Amdad, Da'awat Khoirot dan syafa'at Para Leluhur, sehingga kita dapat meniru, mencontoh dan mensuri-tauladani mereka dengan mendapat husnul khitam fi ridlollohi SWT Wa Rosulihi SAW, Amiin.

أَكْتَفِيْ كَلاَمِيْ فِي هَذِه المُنَاسَبَةِ, أَقُوْلُ شُكْرًا كَثِيْرًا عَلَى إِهْتِمَامِكُمْ وَإِنْ وَجَدْتُمْ مِنْ خُطْبَتِيْ خَطَّأًفَهُوَ مِنْ نَفْسِيْ وَإِنْ وَجَدْتُمْ مِنْ خُطْبَتِي صَوَابًا فَهُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ، وَأَخِيْرُ قَوْلِي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه