ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 13 Juli 2011

Manaqib Habib Neon (Al Habib Muhammad bin Husein Alaydrus) Surabaya


Al Habib Muhammad bin Husein Alaydrus (Habib Neon), Surabaya
============================================================
Dia salah seorang ulama yang
menjadi penerang umat di zamannya. Cahaya keilmuan dan ahlaqnya menjadi
teladan bagi mereka yang mengikuti jejak ulama salaf

Suatu malam, beberapa tahun lalu, ketika ribuan jamaah tengah
mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya, tiba-tiba listrik padam.
Tentu saja kontan mereka risau, heboh. Mereka satu persatu keluar,
apalagi malam itu bulan tengah purnama. Ketika itulah dari kejauhan
tampak seseorang berjalan menuju masjid. Ia mengenakan gamis dan sorban
putih, berselempang kain rida warna hijau. Dia adalah Habib Muhammad bin Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad Alaydrus yang ketika lahir ia diberi nama Muhammad Masyhur.

Begitu masuk ke dalam masjid, aneh bin ajaib, mendadak masjid terang benderang seolah ada lampu neon
yang menyala. Padahal, Habib Muhammad tidak membawa obor atau lampu.
Para jamaah terheran-heran. Apa yang terjadi? Setelah diperhatikan,
ternyata cahaya terang benderang itu keluar dari tubuh sang habib.
Bukan main! Maka, sejak itu sang habib mendapat julukan HabibNeon …

Habib Muhammad lahir di Tarim, Hadramaut, pada 1888 M. Meski dia
adalah seorang waliyullah, karamahnya tidak begitu nampak di kalangan orang awam. Hanya para ulama atau wali yang arif sajalah yang dapat mengetahui karamah Habib Neon.
Sejak kecil ia mendapat pendidikan agama dari ayahandanya, Habib Husein
bin Zainal Abidin Alaydrus. Menjelang dewasa ia merantau ke Singapura selama beberapa bulan kemudian hijrah ke ke Palembang, Sumatra
Selatan, berguru kepada pamannya, Habib Musthafa Alaydrus, kemudian
menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Musthafa Alaydrus. Dari
pernikahan itu ia dikaruniai Allah tiga anak lelaki dan seorang anak
perempuan.

Tak lama kemudian ia hijrah bersama keluarganya ke Pekalongan, Jawa Tengah, mendampingi dakwah Habib Ahmad
bin Tholib Al-Atthas. Beberapa waktu kemudian ia hijrah lagi, kali ini
ke Surabaya. Ketika itu Surabaya terkenal sebagai tempat berkumpulnya
para ulama dan awliya, seperti Habib Muhammad binAhmad al-Muhdhor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.

Selama mukim di Surabaya, Habib Muhammad suka berziarah, antara lain
ke makam para wali dan ulama di Kudus, Jawa Tengah, dan Tuban, Jawa
Timur. Dalam ziarah itulah, ia konon pernah bertemu secara ruhaniah
dengan seorang wali kharismatik, (Alm) Habib Abu Bakar bin Muhammad
Assegaf, Gresik.

Open House

Seperti halnya para wali yang lain, Habib Muhammad juga kuat dalam
beribadah. Setiap waktu ia selalu gunakan untuk berdzikir dan
bershalawat. Dan yang paling mengagumkan, ia tak pernah menolak untuk
menghadiri undangan dari kaum fakir miskin. Segala hal yang ia
bicarakan dan pikirkan selalu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
kebenaran agama, dan tak pernah berbicara mengenai masalah yang tak
berguna.

Ia juga sangat memperhatikan persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Itu sebabnya, setiap jam 10 pagi hingga waktu Dhuhur, ia selalu menggelar open house
untuk menmui dan menjamu para tamu dari segala penjuru, bahkan dari
mancanegara. Beberapa tamunya mengaku, berbincang-bincang dengan dia
sangat menyenangkan dan nyaman karena wajahnya senantiasa ceria dan
jernih.

Sedangkan waktu antara Maghrib sampai Isya ia perguankan untuk
menelaah kitab-kitab mengenai amal ibadah dan akhlaq kaum salaf. Dan
setiap Jumat ia mengelar pembacaan Burdah bersama jamaahnya.

Ia memang sering diminta nasihat oleh warga di sekitar rumahnya,
terutama dalam masalah kehidupan sehari-hari, masalah rumahtangga, dan
problem-problem masyarakat lainnya. Itu semua dia terima dengan senang
hati dan tangan terbuka. Dan konon, ia sudah tahu apa yang akan
dikemukakan, sehingga si tamu manggut-manggut, antara heran dan puas.
Apalagi jika kemudian mendapat jalan keluarnya. “Itu pula yang saya
ketahui secara langsung. Beliau adalah guru saya,” tutur Habib Mustafa bin Abdullah Alaydrus, kemenakan dan menantunya, yang juga pimpinan Majelis Taklim Syamsi Syumus, Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan.

Di antara laku mujahadah (tirakat) yang dilakukannya ialah berpuasa
selama tujuh tahun, dan hanya berbuka dan bersantap sahur dengan tujuh
butir korma. Bahkan pernah selama setahun ia berpuasa, dan hanya
berbuka dan sahur dengan gandum yang sangat sedikit. Untuk jatah buka
puasa dan sahur selama setahun itu ia hanya menyediakan gandum sebanyak
lima mud saja. Dan itulah pula yang dilakukan oleh Imam Gahazali. Satu
mud ialah 675 gram. ”Aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Ketika itu
aku juga menguji nafsuku dengan meniru ibadah kaum salaf yang
diceritakan dalam kitab-kitab salaf tersebut,” katanya.

Habib Neon wafat pada 30 Jumadil Awwal 1389 H / 22 Juni 1969 M dalam
usia 71 tahun, dan jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum
Pegirikan, Surabaya, di samping makam paman dan mertuanya, HabibMustafa
Alaydrus, sesuai dengan wasiatnya. Setelah ia wafat, aktivitas
dakwahnya dilanjutkan oleh putranya yang ketiga, Habib Syaikh bin
Muhammad Alaydrus dengan membuka Majelis Burdah di Ketapang Kecil,
Surabaya. Haul Habib Neon diselenggarakan setiap hari Kamis pada akhir bulan Jumadil Awal.

Pewaris Rahasia Imam Ali Zainal Abidin

Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus lahir di kota Tarim Hadramaut. Kewalian dan sir beliau tidak begitu tampak di kalangan orang
awam. Namun di kalangan kaum ‘arifin billah derajat dan karomah beliau
sudah bukan hal yang asing lagi, karena memang beliau sendiri lebih
sering bermuamalah dan berinteraksi dengan mereka.

Sejak kecil habib Muhammad dididik dan diasuh secara langsung oleh
ayah beliau sendiri al-’Arifbillah Habib Husein bin Zainal Abidin
al-Aydrus. Setelah usianya dianggap cukup matang oleh ayahnya, beliau
al-Habib Muhammad dengan keyakinan yang kuat kepada Allah SWT merantau
keSingapura.

Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? (Q.S an-Nisa’:97)

Setelah merantau ke Singapura, beliau pindah ke Palembang, Sumatera Selatan. Di kota ini beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Dari Palembang,
beliau melanjutkan perantauannya ke Pekalongan, Jawa Tengah, sebuah
kota yang menjadi saksi bisu pertemuan beliau untuk pertama kalinya
dengan al-Imam Quthb al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf, Gresik.
Di Pekalongan jugalah beliau seringkali mendampingi HabibAhmad bin Tholib al-Atthos.

Dari Pekalongan beliau pidah ke Surabaya tempat Habib Musthafa
al-Aydrus yang tidak lain adalah pamannya tinggal. Seorang penyair,
al-Hariri pernah mengatakan:

Cintailah negeri-negeri mana saja yang menyenangkan bagimu dan jadikanlah (negeri itu) tempat tinggalmu

Akhirnya beliau memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di
Surabaya, yang waktu itu terkenal di kalangan masyarakat Hadramaut
sebagai tempat berkumpulnya para auliaillah. Di antaranya adalah Habib
Muhammad binAhmad al-Muhdor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib
Abu Bakar bin Umar bin Yahya dan masih banyak lagi para habaib yang
mengharumkan nama kota Surabaya waktu itu. Selama menetap di Surabaya
pun Habib Muhammad al-Aydrus masih suka berziarah, terutama ke kota
Tuban dan Kudus selama 1-2 bulan.

Dikatakan bahwa para sayyid dari keluarga Zainal Abidin (keluarga
ayah Habib Muhammad) adalah para sayyid dari Bani ‘Alawy yang terpilih
dan terbaik karena mereka mewarisi asrar (rahasia-rahasia). Mulai dari
ayah, kakek sampai kakek-kakek buyut beliau tampak jelas bahwa mereka
mempunyai maqam di sisi Allah SWT. Mereka adalah pakar-pakar ilmu
tashawuf dan adab yang telah menyelami ilmu ma’rifatullah, sehingga
patut bagi kita untuk menjadikan beliau-beliau sebagai figur teladan.

Diriwayatkan dari sebuah kitab manaqib keluarga al-Habib Zainal
Abidin mempunyai beberapa karangan yang kandungan isinya mampu memenuhi
10 gudang kitab-kitab ilmu ma’qul/manqul sekaligus ilmu-ilmu furu’
(cabang) maupun ushul (inti) yang ditulis berdasarkan dalil-dalil jelas
yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana yang telah
diriwayatkan oleh para pakar dan ahli (para ashlafuna ash-sholihin).

Habib Muhammad al-Aydrus adalah tipe orang yang pendiam, sedikit makan dan tidur. Setiap orang
yang berziarah kepada beliau pasti merasa nyaman dan senang karena
memandang wajah beliau yang ceria dengan pancaran nur (cahaya). Setiap
waktu beliau gunakan untuk selalu berdzikir dan bersholawat kepada
datuk beliau Rasulullah SAW. Beliau juga gemar memenuhi undangan kaum
fakir miskin. Setiap pembicaraan yang keluar dari mulut beliau selalu
bernilai kebenaran-kebenaran sekalipun pahit akibatnya. Tak seorangpun
dari kaum muslimin yang beliau khianati, apalagi dianiaya.

Setiap hari jam 10 pagi hingga dzuhur beliau selalu menyempatkan
untuk openhouse menjamu para tamu yang datang dari segala penjuru kota,
bahkan ada sebagian dari mancanegara. Sedangkan waktu antara maghrib
sampai isya’ beliau pergunakan untuk menelaah kitab-kitab yang
menceritakan perjalanan kaum salaf. Setiap malam Jum’at beliau
mengadakan pembacaan Burdah bersama para jamaahnya.

Beliau al-Habib Muhammad al-Aydrus adalah pewaris karateristik Imam
Ali Zainal Abidin yang haliyah-nya agung dan sangat mulia. Beliau juga
memiliki maqam tinggi yang jarang diwariskan kepada generasi-generasi
penerusnya. Dalam hal ini al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad telah
menyifati mereka dalam untaian syairnya:

_Mereka tetap dalam jejak Nabi dan sahabat-sahabatnya

Juga para tabi’in. Maka tanyakan kepadanya dan ikutilah jejaknya_

_Mereka menelusuri jalan menuju kemulyaan dan ketinggian

Setapak demi setapak (mereka telusuri) dengan kegigihan dan kesungguhan_

Diantara mujahadah beliau r.a, selama 7 tahun berpuasa dan tidak
berbuka kecuali hanya dengan 7 butir kurma. Pernah juga beliau selama 1
tahun tidak makan kecuali 5 mud saja. Beliau pernah berkata, “Di masa
permulaan aku gemar menelaah kitab-kitab tasawuf. Aku juga senantiasa
menguji nafsuku ini dengan meniru perjuangan mereka (kaum salaf) yang
tersurat dalam kitab-kitab itu”.

sumber:http://www.pp-dalwa.org/index.php?prm=bio&cmd=detail&id=17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar