ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Selasa, 26 Februari 2013

ALISSA WAHID:Meneruskan Cita-Cita dan Perjuangan Bersama Gusdurian

========================
ALISSA WAHID:Meneruskan Cita-Cita dan Perjuangan Bersama Gusdurian
==========================
Setelah Gus Dur wafat, muncul seminar-seminar dan diskusi yang digelar beragam forum dari banyak kalangan untuk “membaca” kembali gagasan dan pemikirannya.

Dari situ, tumbuh para pecinta, pelanjut pemikiran Ketua Umum PBNU 1984-1999 tersebut. Mereka menamakan diri Gusdurian.

Kini, menurut catatan Sekretaris Nasional  Gusdurian Alissa Wahid, kelompok yang menyatakan Gusdurian tersebut sekitar 90 forum. Mereka dibiarkan begerak sendiri dengan kecenderungan minat dan sesuai konteks dimana mereka berada.

Untuk lebih mengenal Gusdurian, asal-mula, dan nilai-nilai dasarnya, Abdullah Alawi dari NU Online, berhasil mewawancarai putri sulung KH Abdurrahman Wahid tersebut selepas acara Forum Jumat Pertama Gusdurian Jakarta di aula Wahid Institute, Matraman, Jakarta, pada Jumat malam, (04/01).
Bagaimana asal mula Gusdurian tercipta bagaimana ceritanya?

Gusdurian itu sebetulnya bukan kita yang memulai, bukan kita yang membentuk.
Muncul dengan sendirinya?
Iya. Jadi begini, setelah Gus Dur wafat, tiba-tiba di berbagai kota, muncul forum-forum yang menyelenggarakan seminar, diskusi mengenang Gus Dur, bagaimana melanjutkan perjuangan Gus Dur. Itulah intinya. Nah, kemudian kan orang-orang ini bertanya kepada keluarga Ciganjur. Bagaimana kita meneruskan perjuangan Gus Dur? Perjuangan Gus Dur harus dilanjutkan. Begitu ya. Sehingga akhirnya, keluarga Ciganjur pada bulan Februari (2010) berkumpul. Terus kita menyamakan persepsi apa yang dimaksud dengan melanjutkan perjuangan Gus Dur, mencoba memotret jejak-jejak Gus Dur seperti apa. Dan kita harus bagaimana. Nah, dari situ, itu seperti tumbu ketemu tutup dengan acara-acara yang dari berbagai kota itu. Sampai Manado, sampai Papua, waktu itu ada acara seperti itu. Terus akhirnya kita mulai ketemu dengan murid-murid Gus Dur yang senior dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, terutama sih pulau Jawa.

Ketemunya itu didatangi satu per satu atau dikumpulkan?
Awalnya nggak sengaja. Tapi akhirnya, ya sudahlah kita coba undang untuk kumpul-kumpul, brainstorming-lah. Dari situ, kemudian di Ciganjur, bulan Mei 2010. Banyak sekali orangnya. Ada yang dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, banyak deh. Mereka semuanya bilang bahwa sebaiknya jangan pakai organisasi formal.

Kenapa?
Karena akan jauh lebih sesuai dengan semangat teladan Gus Dur, dan juga dengan sebaran murid-murid Gus Dur itu kalau bentuknya jaringan. Jadi akhirnya kita sepakat, udah kita bentuk aja jaringan murid-murid Gus Dur.

Yang dibayangkan dengan jaringan itu bagaimana?

Betul-betul berfokus pada bagaimana menghubungkan para murid-murid Gus Dur yang  tersebar di berbagai tempat ini dan berbagai profesi, berbagai dimensi perjuangan. Ada yang perjuangannya di NU, ada yang perjugannya khusus di lintas iman, ada yang perjuangannya di ranah negara; demokrasi, HAM; ada yang bergeraknya di pemberdayaan masyarakat; comite organizer, banyak dan macam-macam dan tersebar. Mereka menyebut dirinya sebagai murid Gus Dur. Tapi kan untuk membuat satu organisasi, terus menjadi anggota, itu nggak tepat. Justru mereka ini sudah tersebar dimana-mana, akan sulit sekali dijadikan anggota. Jadi akhirnya kita memutuskan, udah, jadi jaringan aja. Jadi, nggak ada keanggotaan, nggak pakai kartu, nggak pakai markas atau semacam AD/ART, nggak ada pusat-cabang. Kita mempersilakan teman-teman kalau merasa perlu membuat forum lokal, ya silakan gitu. Kalau mau terlibat secara individu juga nggak apa-apa. Yang paling penting adalah gimana caranya supaya kita saling terhubung.

Tapi di Gusdurian kan Seknas (Sekretariat Nasional). Posisinya bagaimana?

Seknas itu ya hanya sekretariat. Jadi karena begini. Ini kan ada ribuan Gus Durian di berbagai tempat. Akhirnya kan di beberapa kota kemudian ada komunitas-komunitas Gusdurian lokal yang kita juga, sebetulnya Seknas nggak terlibat, Ciganjur nggak tahu asal-muasalnya gimana. Contohnya, gampangnya begini, di Kediri itu ada Gusdurian Kediri. Kita nggak tahu siapa, terus kemudian di Kendal ada tuh Gusdurian. Kita nggak tahu itu siapa. Untuk ngurusi itu semua, menjaga supaya tetap terhubung kahirnya lama-lama juga butuh tim khusus karena banyak. Nah, tim khusus ini fungsinya koordinasi, ya sekretariat. Kita nggak punya kantor pusat. Gunanya untuk saling menginformasikan setidaknya ada kotak-kontak mereka. Misalnya, malam hari ini, di Jombang, juga ada haul Gus Dur yang diadakan oleh Lakpesdam NU. Sementara kita di sini. Nah, itu kan menjaga komunikasi antara teman-teman yang di Jombang dengan kita yang di Jakarta, terus kemudian dan kemarin siang itu dia Malang gitu. Karena banyak, jadi perlu sekretariat.

Soal  saling terhubung diantara berbagai Gusdurian, di berbagai kota dengan berbagai orientasi itu bagiamana caranya?

Nah, itu yang kemudian kita coba satukan apa sih yang bisa mempersatukan murid-murid Gus Dur? Kan itu pertanyaannya. Apakah orang-orang yang ada di pesantren itu pasti mau memperjuangkan isu-isu negara? Belum tentu. Karena itu, apa yang mempersatukan? Akhirnya kita mengadakan beberapa kali diskusi dengan murid-murid senior Gus Dur, di surabaya, di Jawa Tengah, di Jakarta, di Bandung; beberapa kali saya tanya banyak orang bagaimana, dan akhirnya ditemukan, akhirnya ide kita adalah, kita cari nilai-nilai dasar Gus Dur karena itu yang lebih fundamental. Kalau ngerti nilai-nilai dasar, itu mau dikasih konteks apapun menjadi mudah menyelaraskan.

Nilai-nilai dasar itu apa?

Nah, itu akhirnya kita kemudian, Ciganjur waktu itu, menyelennggarakan pertemuan, mgengundang hampir 100 orang sahabat-sahabat Gus Dur yang senior dan sahabat-sahabat Gus Dur. Itu bulan November tahun 2011. Kita minta mereka mengeksplorasi sepak terjang Gus Dur di berbagai ranah. Dan kemudian menyimpulkan nilai-nilai apa yang betul-betul mendasari Gus Dur itu bertindak. Nah, ternyata yang paling mendasar kan itu misi Islam rahmatan lil-‘alamin. Itu nilai yang paling tinggi yang kita sebut sebagai nilai ketauhidan Gus Dur. Dari situ kemudian muncul niai-nilai yang lain yang kita sebagai 9 nilai dasar Gus Dur.

Bisa dirinci?

Nilai-nilai dasar itu ketauhidan. Implementasinya apa? Kemanusiaan; memanusiakan manusia, begitulah. Untuk bisa memanusiakan manusia, perlu nilai keadilan, kesetaraan, pembebasan dari segala bentuk penidasan, sama persaudaraan. Susah kalau memanusiakan manusia kalau memandang kita lebih tinggi daripada orang lain, atau kita nggak bisa berlaku adil. Itu susah sekali. Nah, terus ada tiga nilai yaitu kaitanya dengan karakter Gus Dur yaitu kesederhanaan. Ini tampak dari penampilan sampai pada cara berpikir Gus Dur yang subtansial; kesederhanaan, sikap ksatria dan yang terakhir kearifan lokal. Bagaimana, bahwa kita perlu bertumpu di atas kearifan lokal Indonesia walauppun kita merangkul modernitas. Kita lihat Gus Dur itu wayang misalnya itu betul-betul diperhatikan. Penghargaan Gus Dur terhadap kekayaan kearian lokal bagaimana beliau memperlakukan ritual-ritual. Dia nggak imperior terhadap perkembangan zaman sebagai orang NU apalagi mgambil sikap defensif. Dengan bangga menanamkan kakinya itu justru di dalam prinsip-prinsip Aswaja. Itu yang kita sebut dengan kearifan lokal.
 
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,5-id,41999-lang,id-c,halaqoh-t,Meneruskan+Cita+Cita+dan+Perjuangan+Bersama+Gusdurian-.phpx