ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 28 Februari 2013

Kemuliaan(“Hanya bagi Alloh-lah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nya serta bagi sekalian orang-orang yang beriman.”)

=============

Kemuliaan

www.sufinews.com

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily


Sulthanul Auliya’ al-Syeikh Abul Hasan Ali asy-Syadzily mengatakan: Alloh Swt. berfirman: “Hanya bagi Alloh-lah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nya serta bagi sekalian orang-orang yang beriman.”

Kemuliaan orang yang beriman adalah pencegahan Allah terhadap dirinya untuk menghamba kepada hawa nafsu, syetan dan dunia atau segala yang ada di jagad ini baik yang ghaib maupun yang tampak, baik itu dunia maupun akhirat.

Sedangkan orang munafik tidak mengerti keagungan kecuali melalui kausalitas (sebab akibat) serta penyembahan terhadap tuhan-tuhan yang banyak.
“Adakah Tuhan (yang lain) disamping Allah? Maha Luhur Allah dari apa yang mereka sekutukan. Apakah mereka menyekutukan melalui (tuhan-tuhan) yang tak bisa mencipta sesuatu pun, sedangkan mereka itu diciptakan, dan mereka (tuhan-tuhan) tidak mampu menolong mereka, juga menolong diri mereka sendiri. Apabila engkau mengajak mereka kepada petunjuk, mereka tidak akan mengikutimu, baik mereka engkau ajak atau engkau diam saja.”

Sebagian Sufi berkata, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan dunia akhirat maka masuklah dalam mazhab kami ini dalam dua hari.”

Ada seseorang bertanya, “Bagaimana caranya untukku?”.

Dijawab, “Pisahkan berhala-berhala dari hatimu, dan ringankanlah tubuhmu dari kepentingan duniawi, baru kemudian jadilah dirimu semaumu. Sebab Allah tak akan meninggalkanmu. Apabila setelah itu ada sesuatu dari dunia yang datang kepadamu, jangan engkau pan¬dang dengan mata hasrat kesenangan, jangan pula Anda menyertai dunia itu dengan gembira. Jangan pula Anda duduk bersamanya kecuali dengan kewajiban ilmu dalam mendistribusikan dan menahan¬nya.

Apabila suatu hari Anda masih mencari duniawi, maka saksi kanlah bahwa Allah telah mencarimu dalam pencarianmu pada dunia itu. Dan engkau sebenarnya dicari melalui pencarian. Kalau engkau keluar menuju upaya pencarian dunia melalui jalan ridha, maka masuklah jalan itu. Hati Anda jangan bergantung padanya, dengan tetap bergantung pada Allah, dan memang harus begitu. Sebab engkau tidak tahu apakah engkau akan mendapatkannya atau tidak?

Kalau engkau telah mendapatkannya, engkau tidak tahu apakah itu milik Anda atau milik orang lain? Kalau itu milik Anda engkau tidak tahu apakah di dalamnya mengandung unsur kebaikan atau keburukan? Kalau itu bukan milik Anda, maka Anda tidak berhak mengetahuinya, apakah itu untuk kekasihmu atau musuhmu?

Kesimpulannya: Bagaimana hati bisa tenang manakala masih singgah kepada seuatu yang membingungkan yang terilustrasikan dari semua ini, bahkan lebih banyak lagi? Karena itu carilah dunia itu, tetapi Anda tetap bergantung kepada-Nya dan memandang-Nya.

Bersyukurlah manakala Anda berhasil, dan bersabar serta ridhalah jika belum berhasil. Bahkan memuji kepada Allah itu lebih layak indahnya. Sebab Allah tidak menghalangimu dari sukses duniawi itu, karena Allah bakhil. Tidak demikian! Tetapi Allah menghalangimu karena Dia memandang kepadamu. Artinya, apabila Allah menghalangimu dari sukses itu, Allah sebenarnya telah memberi anugerah kepadamu. Namun pemberian anugerah dalam ketidaksuksesan itu hanya dipahami oleh orang-orang shiddiqun.

Sebaliknya, apabila Anda mendapatkan jalan keluar usaha dari Allah melalui jalan kebencian, yang mengganti pengetahuan (yang benar) atau yang mendekatinya, maka cepat-cepatlah kembali kepada Allah, larilah kepada-Nya hingga Dia sendiri yang member sihkan Anda, dan (Allah bertindak sebagaimana kehendak-Nya -- sedangkan akibat baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa).”