ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Senin, 18 Februari 2013

Dzikrul Ghofilin: Warisan Nusantara yang Membumi

=============
Dzikrul Ghofilin: Warisan Nusantara yang Membumi
===============================
Tidak dapat dipungkiri bahwasannya obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan jiwa yang galau adalah dengan membaca Al Qur’an. Hal ini juga dibenarkan oleh beberapa pakar keislaman yang menyebutkan bahwasannya Al Qur’an merupakan obat penawar yang sangat mujarab. Namun, anehnya Dari sekian orang yang banyak membaca Al Qur’an, hanya beberapa orang saja yang menekuni teradap Al Qur’an, sampai sampai ada sebuah majelis khusus yang sudah mulai dahulu dijadikan bahan rujukan dari pesantren-pesantren di Indonesia, yakni Majelis Sema’an Al Qur’an. Kalau ditelusuri lebih mendalam, bagaimana sema’an Al Qur’an bisa terjadi, apa pengertian dari kegiatan tersebut? Hal ini patut ditelusuri lebih radikal dan patut dijadikan warisan nusantara bahkan warisan dunia sekalipun.

Secara umum Sema’an Al Qur’an mempunyai arti yaitu tradisi membaca dan mendengarkan pembacaan Al Qur’an di kalangan masyarakat NU dan pesantren umumnya. Kata ‘Sema’an’ berasal dari bahasa Arab Sami’a-Yasma’u, yang artinya mendengar. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Simaan” atau “Simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “Sema’an”. Dalam penggunaanya, kata ini tidak diterapkan secara umum sesuai asal maknanya, tetapi digunakan secara khusus kepada suatu aktivitas tertentu para santri atau masyarakat umum yang membaca dan mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an. Lebih lanjut, Sema’an tersbut merupakan suatu majelis yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang didalamnya diisi dengan membaca dan menyima’ terhadap bacaannya.

Pendengar sangat bermanfaat dalam metode hafalan ini, sebab ia/mereka bisa melakukan koreksi atau membenarkan jika pelantun Al Qur’an itu membacanya salah. Ada pula pengertian bahwa Sema’an adalah kegiatan membaca dan mendengarkan Al Qur’an berjama’ah atau bersama-sama, di mana dalam Sema’an itu juga selain mendengarkan Al Qur’an, yang hadir (sami’in) juga bersama-sama melakukan ibadah sholat wajib secara berjama’ah juga sholat-sholat sunnah yang lain, dari ba’da subuh hingga khatamnya Al Qur’an.

Dilihat dari sejarahnya, kegiatan Sema’an ini tidak lepas dari tokoh sentralnya yakni KH Hamim Djazuli atau lebih dikenal dengan nama Gus Miek yang berasal dari PP Al-Falah Ploso Kediri. Beliau merupakan Mursyid Tunggal Jam’iyyah Dzikrul Ghofilin. Gus Miek adalah tokoh sentral Sema’an Al Qur’an yang pengikutnya ribuan orang. Gus Miek memimpin Majelis Sema’an, yang mula-mula didirikan di kampung Burengan Kediri sekitar tahun 1986. Mula-mula pengikutnya hanya 10-15 orang, tetapi terus berkembang menjadi ribuan. Tempatnya pun tidak hanya di masjid atau dari rumah ke rumah, tetapi sudah memasuki wilayah pendopo kabupaten, Kodam bahkan sampai ke Keraton Yogyakarta.

Gus Miek yang mempunyai “kebiasaan” berkelana ke beberapa daerah, timbullah gagasan Sema’an Al Qur’an. Ungkapan Gus Miek yang terkenal, “Saya ingin benar dan tidak terlalu banyak salah, maka saya ambil langkah silang dengan menganjurkan pada para santri untuk berkumpul sebulan sekali, mengobrol, guyonan santai, diiringi hiburan.

Syukur-syukur jika hiburan itu berbau ibadah yang menyentuh rahmat dan nikmat Allah. Kebetulan saya menemukan pakem bahwa pertemuan seperti itu jika dibarengi membaca dan mendengarkan Al Qur’an, syukur-syukur bisa dari awal sampai khatam, Allah akan memberikan rahmat dan nikmat-Nya”. Jadi menurut Gus Miek, secara batiniah Sema’an Al Qur’an adalah hiburan yang baik (hasanah). Selain itu juga merupakan upaya pendekatan diri kepada Allah, dan sebagai tabungan di hari akhir.

Dari akar sejarah yang telah dipaparkan diatas, tentunya bisa dianalisa bahwasannya kegiatan Sema’an sangat berarti dan sangat sentral. Tak salah jika dijadikan warisan nusantara dan bahkan dijadikan warisan dunia. Hal ini tidak bisa dipungkiri alasannya karena sangat sentral fungsinya, telah banyak majelis-majelis yang mendirikan kegiatan Sema’an seperti ini.

Bisa dilihat perjuangan Gus Miek dalam membangun jaringan Sema’an di seluruh nusantara, beliau sangat mencintai Al Qur’an dan sangat bangga dengan kegiatan tersebut. Bahkan Gus Miek Menjanjikan penawaran yang menggiurkan jika mengikuti Sema’an Al Qur’an, mengapa demikian? karena inilah pentingnya Sema’an Al Qur’an, betapa mulianya majelis Al Qur’an.

Selanjutnya, seyogyanyalah kegiatan ini harus dilestarikan dengan kontinuitas, secara istiqomah dan keberlanjutan. Dalam kehidupan sehari-hari pastinya setiap manusia tidak akan bekerja terus menerus, pastinya akan ada waktu kosong untuk sekedar beristirahat. Dalam waktu istirahat itulah hendaknya dijadikan hiburan dengan mengikuti Sema’an Al Qur’an yang telah ada di daerahnya masing-masing. Jika dilihat dari akar sejarahnya, banyak fungsi dari kegiatan ini, disamping menumbuhkan silaturrahim, kegiatan ini juga ditafsiri oleh Pendiri Sema’an dzikrul ghofilin sebagai tempat mengadukan permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain.

Itu yang harus benar-benar diyakini oleh jema’ah sema’an Al Qur’an. Orang yang mendengarkan dan membaca Al Qur’an mendapat pahala yang sama. Malah dalam sebuah ulasan seorang ulama dikatakan bahwa orang yang mendengarkan bacaan Al Qur’an pahalanya lebih besar daripada yang membacanya, sebab pendengar lebih bisa menata hati, pikiran dan telinga serta lebih fokus pada pendekatan diri kepada Allah. Satu-satunya upaya untuk mengutarakan sesuatu kepada Allah menurut beliau ialah lewat Majelis sema’an Al Qur’an ini. Karena berdasarkan sebuah hadis, ”barang siapa ingin berkomunikasi dengan Allah, maka beradalah ditengah-tengah suatu majelis yang didalamnya mengalun Al Qur’an.”

Hal inilah mengapa Sema’an sampai sekarang masih berdiri kokoh, karena jamaah dari kegiatan ini sangat banyak dan sangat menekuni terhadap kegiatan ini. hal ini juga sangat patut dilestarikan. Cobalah ditengok semua pesantren yang ada di Indonesia, terutama pesantren yang mempunyai basic menghafal Al Qur’an, disana kegiatan Sema’an sudah menjadi bahan kewajiban santri karena itu menjadi cirri khas yang sangat kental dan itu juga sudah menjadi budaya yang harus dilestarikan bahkan sudah menjadi warisan nusantara yang patut dijaga dengan baik.

Sangat disayangkan apabila warisan dunia ini tidak berjalan dengan baik. Namun, itu sudah menjadi kewajiban manusia bersama, yakni harus dengan sepenuh tai melestarikan kegiatan ini, bagaimana cara membudayakan dan melestarikan kegiatan ini agar menjadi lebih maju dan baik? Tentunya harus dengan niat yang luhur dalam mengembangkan kegiatan ini, disamping itu juga harus mempunyai wasilah yang baik degan pendiri Sema’an ini di Indonesia.

Disamping itu juga harus ada tindak lanjut dari pelaksana kegiatan ini dengan cara selalu mengadakan kegiatan rutin yang berkelanjutan guna membumikan Sema’an ini agar menjadi kegiatan hiburan yang berenergi positif dalam kehidupan masyarakat.

Akhirnya, dalam membaca arah kesejarahan dalam kegiatan ini, tentunya yang banyak diharapkan adalah bagaimana kegiatan Sema’an ini terus berlanjut dan tidak ada kata henti yang stagnan, selain itu juga sudah selayaknyalah atau bahkan sudah menjadi sebuah warisan nusantara dan bahkan dunia kegiatan Sema’an Al Qur’an ini, tantunya itulah yang diharapan oleh pendiri jam’iyyah dzikrul ghofilin sekaligus pencetus Sema’an Al Qur’an di nusantara. Semoga Allah bisa merealisasikan dengan baik.


* (MAHRUS SHOLEH)Penulis adalah pengagum Gus Miek & Peneliti di Pusat Kajian Tafsir & Hadis Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya 

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,41765-lang,id-c,kolom-t,Dzikrul+Ghofilin++Warisan+Nusantara+yang+Membumi-.phpx