ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 15 Februari 2013

Relevansi Pancasila(bagi NU bahwa pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari'at agamanya)

=================
Relevansi Pancasila
==================

Bangsa Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa yang beragam baik dari segi suku, agama dan budaya. Perbedaan itu dipertentangkan secara tajam oleh Belanda sebagai sarana adu domba, agar tidak ada kekuatan pemersatu yang bisa mengancam penjajahan Belanda. Karena itu langkah awal gerakan kebangkitan nasional menjalin komunikasi berbagai golongan yang kemudian menyatu menjadi kekuatan nasional.

Pengalaman kebangsaan itulah saat menjelang kemerdekaan kemudian dirumuskan menjadi Pancasila, sebagai upaya untuk menyelesaikan dan mewadahi berbagai elemen bangsa yang berbeda dalam satu wadah bersama, dengan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan social. Dalam Pancasila ini bangsa Indonesia yang beragam agama, ideologi dan etnis menyatu dengan penuh kerukunan. Sehingga menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar baik secara geografis, secara demografis dan terutama secara politis.

Dari situ Indonesia menjadi pemimpin negara-negara yang baru merdeka, termasuk Palestina yang kembali bergolak akibat ulah Israel, selalu menjadi perhatian bangsa Indonesia, sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang tertuang damai Pancasila, dan sekaligus sebagai penerjemahan langsung dari Mukadimah UUD 1945 bahwa penjajahan tidak sesuai dengan peri kemanusiaan, karena itu harus dihapus dari permukaan bumi.

Saat kita sedang memperingati hari kelahiran Pancasila 1 Juni ini kita dikejutkan oleh kabar menyedihkan, tentara pendudukan Israel di jalur Gaza menyerang para sukarelawan dari seluruh dunia termasuk Indonesia yang membantu masyarakat Palestina di Jalur Gaza dari penderitaan akibat politik isolasi yang dilakukan Israel yang didukung oleh Negara-negara Barat. Kalau selama ini ada kode etik bahwa rumah ibadah, rumah sakit, petugas palang merah dan relawan kemanusiaan tidak boleh diserang. Semuanya itu tidak berlaku bagi pasukan Israel, semua bisa diserang, sehingga banyak masjid hancur, rumah sakit berantakan akibat serangan tentara Zionis.

Kalau sudah menyangkut penjajahan Israel, seluruh konfensi internasional tentang kemanusiaan tidak berguna, piagam perdamaian tidak ada artinya, hak asasi manusia hanya slogan, demokrasi hanya manipulasi, semua cara diperbolehkan khusus untuk Israel, yang bebas melakukan kekejaman tanpa ada sanksi dari PBB, juga tidak pernah mendapat protes ataupun sekadar kritik dari sekutunya di Barat. Ini merupakan tantangan berat bagi perwujudan gerakan kemanusiaan di masa depan karena sikap ambivalesi PBB d an Negara barat pada umumnya, yang justru sering menggunakan isu kemanusiaan untuk tujuan penguasaan.

Walaupun dunia telah mengabaikan kemanusiaan, sejauh Pancasila masih menegaskan kemanusiaan dan demikian juga agama mengukuhkannya, kita tidak boleh berhenti dan lelah membela kemanusiaan, karena ini tugas abadi kemanusiaan itu sendiri, yang merupakan tugas profetik yang dulu dirintis oleh para Nabi dan Rasul. Kita bersyukur memiliki sebuah wadah bersama yang memungkinkan hidup bersama walaupun berbeda, karena perbedaan memang sunnatullah, menerima perbedaan berarti ikhlas dengan kehendak Allah.

Dalam hal ini sangat tegas bagi NU bahwa pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia  untuk menjalankan syariat agamanya. Demikian dirumuskan oleh para ulama di Situbondo tahun1983 yang lalu yang masih relevan hingga saat ini, karena ini merupakan kunci bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Dan sekaligus ini merupakan pijakan kita dalam menjalankan kiprah kita di dunia internasional terutama dalam bidang perjuangan kemanusiaan.

Dengan terintegrasinya Pancasila dengan kehidupan beragama, maka tidak ada keraguan bagi umat Islam untuk mengamalkannya, karena mengamalkan Pancasila berarti mengamalkan ajaran agama, sehingga tidak terjadi dilema dalam menjalankan agama dan saat mengamalkan Pancasila sebagai dasar menjalin kehidupan bersama dalam masyarakat. Para ulama NU telah berhasil dengan cemerlang menempatkan hubungan Pancasila dengan agama, sehingga kaum beragama baik Muslim maupun Non Muslim bisa berpancasila dengan baik dan sekaligus bisa beragama dengan cara baik, ijtihad para ulama NU ini berhasil mengatasi dikhotomi agama dan Pancasila sehingga Pancasila diterima secara umum dengan penuh kesungguhan. Dengan segala risiko dan segenap tanggung jawab.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,3-id,23220-lang,id-c,analisa+berita-t,Relevansi+Pancasila-.phpx