==========
SEJARAH PESAREHAN GUNUNG KAWI
Kronologi
sejarah wisata ritual Gunung Kawi dimulai pada tahun 1830, setelah
Pangeran Diponegoro menyerah pada Belanda. Banyak pengikutnya dan
pendukungnya yang melarikan diri ke arah bagian timur pulau Jawa yaitu
Jawa Timur. Di antaranya selaku penasehat spiritual Pangeran Diponegoro
yang bernama Eyang Djoego atau Kyai Zakaria. Beliau pergi ke berbagai
daerah di antaranya Pati, Begelen, Tuban, lalu pergi ke arah Timur
Selatan (Tenggara) ke daerah Malang yaitu Kepanjen.
Pengambaranya mencapai daerah Kesamben Blitar, tepatnya di dusun
Djoego, Desa Sanan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Diperkirakan
beliau sampai di Dusun Djoego sekitar ± tahun 1840, beliau di dusun
Djoego ditemani sesepuh Desa Sanan bernama Ki Tasiman. Setelah beliau
berdiam di dusun Djoego Desa Sanan beberapa tahun antara dekade tahun
1840-1850 maka datanglah murid-muridnya yang juga putra angkat beliau
yang bernama R.M. Jonet atau yang lebih dikenal dengan R.M. Iman
Soedjono, beliau ini adalah salah satu dari para senopati Pangeran
Diponegoro yang ikut melarikan diri ke daerah timur pulau jawa yaitu
Jawa Timur, dalam pengembaraanya beliau telah menemukan seorang guru
dan juga sebagai ayah angkat di daerah Kesamben, Kabupaten Blitar
tepatnya didusun Djoego Desa Sanan, yaitu Panembahan Eyang Djoego atau
Kyai Zakaria, kemudian R.M. Iman Soedjono berdiam di dusun Djoego untuk
membantu Eyang Djoego dalam mengelola Padepokan Djoego.
Pada
waktu itu Padepokan Djoego telah berkembang, banyak pengunjung menjadi
murid Kanjeng Eyang Djoego. Beberapa tahun kemudian ± tahun 1850-1860,
datanglah murid R.M. Iman Soedjono yang bernama Ki Moeridun dari
Warungasem Pekalongan. Demikianlah setelah R.M.Iman Soedjono dan Ki
Moeridun berdiam di Padepokan Djoego, beberapa waktu kemudian
diperintahkan pergi ke Gunung Kawi di lereng sebelah selatan, untuk
membuka hutan lereng selatan Gunung Kawi. Kanjeng Eyang Djoego berpesan
bahwa di tempat pembukaan hutan itulah beliau ingin dikramatkan
(dimakamkan), beliau juga berpesan bahwa di desa itulah kelak akan
menjadi desa yang ramai dan menjadi tempat pengungsian (imigran).

Dengan
demikian maka berangkatlah R.M. Iman Soedjono bersama Ki Moeridun
disertai beberapa murid Eyang Djoego berjumlah ± 40 orang, di antaranya
: Mbah Suro Wates, Mbah Kaji Dulsalam (Birowo), Mbah Saiupan
(Nyawangan), Mbah Kaji Kasan Anwar (Mendit-Malang), Mbah Suryo Ngalam
Tambak Segoro, Mbah Tugu Drono, Ki Kromorejo, Ki Kromosari, Ki Haji
Mustofa, Ki Haji Mustoha, Mbah Dawud, Mbah Belo, Mbah Wonosari, Den
Suryo, Mbah Tasiman, Mbah Tundonegoro, Mbah Bantinegoro, Mbah Sainem,
Mbah Sipat / Tjan Thian (kebangsaan Cina), Mbah Cakar Buwono, Mbah
Kijan / Tan Giok Tjwa (asal Ciang Ciu Hay Teng- RRC). Maka berangkatlah
R.M. Iman Soedjono dengan Ki Moeridun dan dibekali dua buah pusaka
“Kudi Caluk dan Kudi Pecok” dengan membawa bekal secukupnya beserta
tokoh-tokoh yang telah disebutkan namanya ditambah 20 orang sebagai
penderek (pengikut), dan sebagai orang yang dipercaya untuk memimpin
rombongan dan pembukaan hutan dipercayakan pada Mbah Wonosari.
Setelah
segala kebutuhan pembekalan lengkap maka, berangkatlah rombongan itu
untuk babat hutan lereng sebelah selatan Gunung Kawi dengan pimpinan
Mbah Wonosari. Setelah sampai dilereng selatan Gunung Kawi, rombongan
beristirahat kemudian melanjutkan babat hutan dan bertemu dengan batu
yang banyak dikerumuni semut sampai pertumpang-tumpang kemudian tempat
itu dinamakan Tumpang Rejo. Setelah itu perjalanan diteruskan ke arah
utara. Di sebuah jalan menanjak (jurang) dekat dengan pohon Lo
(sebangsa pohon Gondang), mereka berhenti dan membuat Pawon (perapian).
Lama-kelamaan menjadi menjadi sebuah dusun yang dinamakan Lopawon.
Kemudian mereka melanjutkan babat hutan menuju arah utara sampai ke
sebuah hutan dan bertemu sebuah Gendok (barang pecah belah untuk
merebus jamu) yang terbuat dari tembaga, sehingga lama-kelamaan
dinamakan dusun Gendogo. Setelah itu melenjutkan perjalanan ke arah
barat dan beristirahat dengan memakan bekal bersama-sama kemudian
melihat pohon Bulu (sebangsa pohon apak/beringin) tumbuh berjajar
dengan pohon nangka. Kemudian hutan itu disebut dengan Buluangko dan
sekarang disebut dengan hutan Blongko. Selesai makan bekal perjalanan
dilanjutkan kearah barat sampai disebuah Gumuk (bukit kecil) yang
puncaknya datar lalu dibabat untuk tempat darung (tempat untuk
beristirahat dan menginap selama melakukan pekerjaan babat hutan,
tempat istirahat sementara), kemudian tempat itu ditanami dua buah
pohon kelapa. Anehnya pohon kelapa yang satu tumbuh bercabang dua dan
yang satunya tumbuh doyong/tidak tegak ke atas, sehingga tempat itu
dinamakan Klopopang (pohon kelapa yang bercabang dua). Kemudian,
setelah mendapatkan tempat istirahat (darung) pembabatan hutan
diteruskan ke arah selatan sampai di daerah tugu (sekarang merupakan
tempat untuk menyadran yang dikenal dengan nama Mbah Tugu Drono) dan
diteruskan ke timur sampai berbatasan dengan hutan Bulongko, kemudian
naik keutara sampai sungai yang sekarang ini dinamakan Kali Gedong,
lalu kebarat sampai dekat dengan sumbersari.
Selesai
semuanya kemudian membuat rumah untuk menetap juga sebagai padepokan,
di rumah itulah R.M. Iman Soedjono dengan Ki Moeridun beserta seluruh
anggota rombongan berunding untuk memberi nama tanah babatan itu.
Karena yang memimpin pembabatan hutan itu bernama Ki Wonosari, kemudian
disepakati nama daerah babatan itu bernama dusun Wonosari. Karena
pembabatan hutan dilereng selatan Gunung Kawi dianggap selesai, maka
diutuslah salah satu pendereknya (pengikut) untuk pulang ke dusun
Djoego, Desa Sanan Kesamben, untuk melapor kepada Eyang Djoego bahwa
pembabatan hutan dilereng selatan Gunung Kawi telah selesai dilakukan.
Setelah mendengar laporan dari utusan R.M. Iman Soedjono tersebut maka
berangkatlah Kanjeng Eyang Djoego ke dusun Wonosari di lereng selatan
Gunung Kawi yang baru selesai.

Untuk
memberikan petunjuk-petunjuk dan mengatur siapa saja yang harus menetap
di dusun Wonosari dan siapa saja yang harus pulang ke Dusun Djoego dan
juga beliau berpesan bahwa bila beliau wafat agar dimakamkan
(kramatkan) di sebuah bukit kecil (Gumuk) yang diberi nama Gumuk Gajah
Mungkur. Dengan adanya petunjuk itu lalu dibuatlah sebuah taman sari
yang letaknya berada ditengah antara padepokan dan Gumuk Gajah Mungkur
yang dulu terkenal dengan nama tamanan (sekarang tempat berdirinya
masjid Agung Iman Soedjono). Tokoh-tokoh yang menetap di dusun Wonosari
diantaranya ialah : Kanjeng Eyang R.M. Iman Soedjono, Ki Moeridun, Mbah
Bantu Negoro, Mbah Tuhu Drono, Mbah Kromo Rejo, Mbah Kromo Sasi, Mbah
Sainem, Kyai Haji Mustofa, Kyai Haji Muntoha, Mbah Belo, Mbah Sifat /
TjanThian, Mbah Suryo Ngalam Tambak Segoro, Mbah Kijan / Tan Giok Tjwa.
Demikian
di antaranya yang tinggal di Dusun Wonosari yang baru jadi, yang lain
ikut Kanjeng Eyang Djoego ke Dusun Djoego, Desa Sanan, Kesamben,
Blitar. Dengan demikian Kanjeng Eyang Djoego sering melakukan
perjalanan bolak-balik dari dusun Djoego–Sanan–Kesamben ke Dusun
Wonosari Gunung Kawi, untuk memberikan murid-muridnya wejangan dan
petunjuknya yang berada di Wonosari Gunung Kawi.
Pada
hari Senin Pahing tanggal Satu Selo Tahun 1817 M, Kanjeng Eyang Djoego
wafat. Jenasahnya dibawa dari Dusun Djoego Kesamben ke dusun Wonosari
Gunung Kawi, untuk dimakamkan sesuai permintaan beliau yaitu di gumuk
(bukit) Gajah Mungkur di selatan Gunung Kawi, kemudian tiba di Gunung
Kawi pada hari Rabu Wage malam, dan dikeramat (dimakamkan) pada hari
Kamis Kliwon pagi.
Dengan wafatnya Kanjeng Eyang
Djoego pada hari Senin Pahing, maka pada setiap hari Senin Pahing
diadakan sesaji dan selamatan oleh Kanjeng Eyang R.M. Iman Soedjono.
Apabila, hari Senin Pahing tepat pada bulan Selo (bulan Jawa ke
sebelas), maka selamatan diikuti oleh seluruh penduduk Desa Wonosari
yang dilakukan pada pagi harinya. Kegiatan ini sampai sekarang terkenal
dengan nama Barikan.
Sejak
meninggalnya Kanjeng Eyang Djoego, Dusun Wonosari menjadi banyak
pengunjung, dan banyak pula para pendatang yang menetap di Dusun
Wonosari. Dikala itulah datang serombongan pendatang untuk ikut babat
hutan (membuka lahan di hutan). Oleh Eyang R.M. Iman Soedjono diarahkan
ke barat Dusun Wonosari rombongan pendatang itu berasal dari babatan
Kapurono yang dipimpin oleh : Mbah Kasan Sengut (daerah asal
Bhangelan),Mbah Kasan Mubarot (tetap menetap di babatan Kapurono), Mbah
Kasan Murdot (ikut Mbah Kasan Sengut),Mbah Kasan Munadi (ikut Mbah
Kasan Sengut).
Rombongan
itu juga diikuti temannya bernama Mbah Modin Boani yang berasal dari
Bangkalan Madura, bersama temannya Mbah Dul Amat juga berasal dari
Madura, juga diikuti Mbah Ngatijan dari Singosari beserta
teman-temannya.
Dengan
demikian Dusun Wonosari bertambah luas dan penduduknya bertambah banyak
pula. Dengan bertambah luasnya dusun dan bertambah banyaknya jumlah
penduduk, maka diadakan musyawarah untuk mengangkat seorang pamong yang
bisa menjadi panutan masyarakat dalam mengelola dusunnya yang masih
baru itu. Maka ditunjuklah salah seorang abdi Mbah Eyang R.M.Iman
Soedjono yang bernama Mbah Warsiman sebagai bayan. Dengan demikian Mbah
Warsiman merupakan pamong pertama dari Dusun Wonosari.
Pada
masa Mbah Eyang R.M. Iman Soedjono antara tahun 1871-1876, datang
seorang wanita berkebangsaan Belanda bernama Ny. Scuhuller (seorang
putri Residen Kediri) datang ke Wonosari Gunung Kawi untuk berobat
kepada Eyang R.M Iman Soedjono. Setelah sembuh Ny. Schuller tidak
pulang ke Kediri melainkan menetap di Wonosari dan mengabdi pada Eyang
R.M. Iman Soedjono sampai beliau wafat pada tahun 1876. Setelah
sepeninggal Eyang R.M. Iman Soedjono, Ny Schuller kemudian pulang ke
Kediri.
Pada
tahun 1931 datang seorang Tiong Hwa yang bernama Ta Kie Yam (Pek Yam)
untuk berziarah di Gunung Kawi. Pek Yam merasa tenang hidup di Gunung
Kawi dan akhirnya dia menetap didusun Wonosari untuk ikut mengabdi
kepada Kanjeng Eyang (Mbah Djoego dan R.M. Soedjono) dengan cara
membangun jalan dari pesarehan sampai kebawah dekat stamplat. Pek Yam
pada waktu itu dibantu oleh beberapa orang temannya dari Surabaya dan
juga ada seorang dari Singapura. Setelah jalan itu jadi, kemudian
dilengkapi dengan beberapa gapura, mulai dari stanplat sampai dengan
sarehan. Pada
hari Rabu Kliwon tahun 1876 Masehi, Kanjeng Eyang R.M. Iman Soedjono
wafat, dan dimakamkan berjajar dengan makam Kanjeng Mbah Djoego di
Gumuk Gajah Mungkur. Sejak meninggalnya Eyang R.M. Iman Soejono, Dusun
Wonosari bertambah ramai.
==============
Para peziarah yang berkunjung ke Gunung Kawi itu sudah barang tentu
tidak dapat dilepaskan dengan sejarah orang yang dimakamkan di daerah
atau di tempat itu. Namun demikian kenyataannya menunjukkan bahwa
banyak peziarah yang datang ke daerah itu tidak mengenal siapalah
sebenarnya yang dimakamkan di lereng Gunung Kawi itu. Mereka pada
umumnya hanya tahu bahwa yang dimakamkan itu adalah Mbah Djoego dan R.M.
Imam Soedjono, tetapi siapa sebenarnya mereka itu banyak yang tidak
mengetahui. Menurut sejarahnya, riwayat hidup Mbah Djoego yang nama
aslinya adalah Kyai Zakaria II dapat ditelusuri berdasar surat
keterangan yang dikeluarkan oleh pangageng Kantor Tepas Daerah dalem
Kraton Yogyakarta Hadiningrat nomor 55/ TD/1964 yang ditanda tangani
oleh Kanjeng Tumenggung Donoe- hadiningrat pada tanggal 23 Juni 1964.
Dalam surat itu, silsilah Kyai Zakaria II atau Mbah Djoego
diterangkan sebagai berikut (RS. Soenyowodagdo, 1989 : 8). : Sampeyan
Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I (Pangeran Puger)
memerintah kraton Mataram pada tahun 1705 sampai 1719 berputera Bandono
Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Pangeran ini mempunyai putera Kanjeng
Kyai Zakaria I. Beliau adalah seorang ulama besar dilingkungan kraton
Kartasura pada saat itu. Kemudian bangsawan ulama tenar tersebut
berputera Raden Mas Soeryokoesoemo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo. Nama
terakhir ini semenjak masa mudanya sudah menunjukkan minat yang besar
untuk mempelajari hal-hal di bidang keagamaan (Islam). Setelah dewasa,
karena kemampuannya yang mumpuni dan ketekunannya dalam mempelajari
hal- hal keagamaan atas perkenan Kanjeng Susuhunan Paku Buwana II, Raden
Mas Soeryo Koesoemo mengubah namanya sesuai, “Pe- paring Dalem Asm o
(pemberian nama oleh Susuhan), nunggak semi dengan ayahandanya, menjadi
Kanjeng Kyai Zakaria II. Jadi, Raden Mas Soeryo Koesoemo atau Raden Mas
Soeryodiatmodjo itulah Kanjeng Kyai Zakaria II.
Dalam kisah sejarah diceritakan bahwa dalam pengembaraannya ke
daerah Jawa Timur Kyai Zakaria II berganti nama dengan nama rakyat
biasa. Hal ini mungkin dimaksudkan (juga dikenal dalam kisah pewayangan
apabila ada satria yang sedang mengembara biasanya juga
berganti/mengganti namanya) agar identitasnya sebagai bangsawan kraton
yang sudah terkenal itu, tidak diketahui oleh orang lain terutama oleh
penjajah Belanda. Nama yang beliau pergunakan dan sangat populer hingga
sekarang adalah “Mbah Sadjoego atau singkatnya Mbah Djoego. RS.
Soeryowidag- do, 1989 : 9). Mengenai kisah pengembaraannya menurut
sebuah sumber (Suwachman, dkk : 1993 : 42) dan telah menjadi ceritera
yang memasyarakat sebagai berikut :
“Kyai Zakaria II dari Yogyakarta terus ke Sleman, Nganjuk,
Bojonegoro, dan terakhir Blitar. Sampai di sini ia terkejut. Ternyata
tempatnya berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasaan Belanda.
Kemudian ia minggir ke daerah Kesamben, sekitar 60 km dari kota Blitar.
Kyai Zakaria II menetap di tepi sungai Brantas desa Sonan, Kecamatan
Kesamben kabupaten Blitar. Di desa ini Kyai Zakaria II bertemu dengan
Pak Tosiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia was-was jangan-jangan
kehadirannya diketahui oleh Belanda. Maka ia menjawab secara diplomatis
tanpa menyebut jati dirinya. “kulo niki sajugo ” (artinya saya
sendirian). Menurut penangkapan Pak Tasiman yang salah pengertian dikira
namanya “Pak Sayugo” yang kemudian dipanggilnya dengan pak Jogo.
Akhirnya itu dibiarkan Kyai Zakaria II sehingga ia aman dari kejaran
Belanda dan sejak itulah ia dikenal dengan nama Mbah Jugo.
Selanjutnya dikisahkan bahwa mbah Jugo makin lama makin terkenal,
makin dihormati dan disegani oleh masyarakat karena kearifannya,
kemampuannya di bidang ilmu agama, keampuhan ilmu yang dimilikinya dan
juga pribadinya yang suka menolong sesama umat. Mengenai masalah ini ada
suatu cerita yang menarik sebagai berikut : “Pada suatu ketika terjadi
wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik
karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan
keampuhan ilmu mbah Jugo* wabah penyakit tersebut berhasil
disingkirkan dan masyarakat semakin hormat pada mbah Jugo. Namanya
semakin kondang dan ia melayani berbagai konsultasi dari masyarakat.
Dari soal jodoh, bertanaam, berternak, bahkan sampai soal dagang yang
menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan”.
Sementara itu dalam kurun waktu selanjutnya pada tahun 1871 Raden Mas
Iman Soedjono bersama-sama penduduk membuka hutan di daerah Gunung
Kawi, Malang. Ia kemudian membuka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu
juga tepatnya 22 Januari 1871, Minggu Legi, malam Senin Pahing atau 1
Suro 1899 Mbah Jugo meninggal dunia di Kesamben Blitar. Sesuai
wasiatnya, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di lereng Gunung Kawi Wonosari,
yang waktu itu sudah menjadi sebuah perkampungan. Sepeninggal mbah
Jugo, padepokannya di Kesamben dirawat oleh Ki Tasiman, Ki Dawud dan
lain-lain. Barang-barang peninggalan Mbah Jugo yang masih dapat kita
saksikan yaitu berupa rumah Padepokan berikut masjid dan halamannya,
juga, pusaka berben- tuk tombak, topi, alat-alat pertanian dan tiga buah
guci tempat air minum yang dilengkapi dengan filter dari batu. Guci itu
dinamakan “janjam” (guci ini oleh Raden Mas Iman Soedjono diboyong ke
Gunung Kawi).
Mengenai silsilah Raden Mas Iman Soedjono tercatat dalam dokumen
yakni dalam Surat Kekancingan (Surat Bukti Silsilah) dari Kraton
Ngayogyokarto Hadiningrat yang dimiliki oleh Raden Asni Nitirejo, cucu
Raden Mas Iman Soedjono. Surat tersebut tertulis dalam huruf Jawa
bernomor 4753, dikeluarkan tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat tersebut
diterangkan silsilah kelahiran Raden Mas Iman Soedjono sebagai berikut :
“Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku
Buwono I, memerintah Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sejak tahun 1755 –
1792. Pada waktu kecilnya bernama Bendara Raden Mas Soedjono. Dengan
istrinya yang bernama Raden Ayu Doyo Amoro, berputera Bendara Pangeran
Aryo Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Notodipo (lihat buku silsilah
Paguyuban Trah Balitaran, terbitan tahun 1933 dengan huruf Jawa).
Raden Mas Iman Soedjono kemudian menikah dengan salah seorang
anggota laskar “Langen Kusumo”, Perajurit wanita dari laskar Pangeran
Diponegoro yang bernama Raden Ayu Saminah dan biasa dipanggil Nyi
Djuwul. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang puteri yang cantik
bernama Raden Ayu Demes. Setelah dewasa Raden Ayu Demes dikawinkan
dengan pengikut terdekat dan terpercaya Raden Mas Iman Soedjono yang
bernama Tarikun Karyoredjo, dari Tuban. Pernikahan ini menurunkan dua
orang anak laki-laki yakni Raden Asin Nitiredjo dan raden Yahmin Wi-
hardjo. Keduanya sejak tahun 1946 hingga sekarang menjadi juru kunci
Pasarean Gunung Kawi. Akhirnya Raden Asin Nitiredjo menurunkan tiga
orang anak yakni Raden Nganten Tarsini, Raden Soepodoyono dan Raden
Soelardi Soeryowidagdo Sedang Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang
anak laki-laki bernama Raden Soepratikto (RS. Soeryowidagdo, 1989 : 9-
10).
Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia pada hari Selasa Wage malam
Rabu Kliwon tanggal 12 Suro 1805 atau tanggal 8 Februari 1876. Jenazah
Raden Mas Iman Soedjono dimakamkan dalam satu liang dengan Mbah Jugo.
Hal ini dilakukan sesuai dengan wasiat mbah Jugo yang pernah menyatakan
bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya
dikuburkan- bersama dalam satu liang lahat. Mengapaa demikian? Hal ini
rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib
sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehingga mereka
selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa. Di
samping itu terdapat beberapa alasan yang mendasar keinginan itu, ialah
:
- Keduanya adalah sejawat seperjuangan mulai dari titik awal dalam
suasana duka maupun suka, semasa bersama-sama bergabung dalam laskar
Diponegoro.
- Mbah Jugo tidak beristri apalagi berputra.
- Raden Mas Iman Soedjono sudah dinyatakan sebagai putera kinasih
serta penerus kedudukan Mbah Jugo (RS. Soeryowidagdo, 1989 : 17).
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BUDAYA SPIRITUAL DALAM SITUS KERAMAT DI GUNUNG KAWI JAWA TIMUR :
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN,
DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL, PROYEK PENGKAJIAN DAN
PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA PUSAT, 1994/1995, hlm. 15 – 23