ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Kamis, 21 Februari 2013

Kontroversi Buku Nasab Al-Junied

================

Kontroversi Buku Nasab Al-Junied

Selama ini orang-orang yang mempunyai perhatian dalam masalah nasab di Indonesia hanya mengenal buku rujukan nasab yang umum digunakan hanya terdiri dari tiga buku yaitu buku nasab Syamsu Dzahirah dari Hadramaut karangan Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, buku nasab hasil sensus yang disusun oleh Habib Ali bin Jafar Assegaf dan buku induk nasab yang merupakan perpaduan antara buku Hadramaut dan buku Habib Ali bin Jafar Assegaf yang berjumlah 15 jilid. Di samping itu terdapat pula rujukan nasab yang disusun oleh masing-masing family Alawiyin baik dalam bentuk lauhah, buku, manuskrip dan lainnya.
Sejalan dengan timbulnya beberapa permasalahan nasab yang memerlukan kehati-hatian untuk menyelesaikannya, ternyata di samping buku-buku rujukan nasab tersebut, terdapat pula buku rujukan nasab lain yang konon katanya lebih “tua” dan berbeda dalam cara penulisannya dengan ketiga buku rujukan di atas. Sebut saja salah satu buku tersebut adalah buku yang dikenal dengan “buku nasab al-Junied” .
Beberapa pihak mengatakan bahwa buku nasab Al-Junied berasal dari Singapura, walaupun foto copinya sudah menyebar ke berbagai Negara seperti Indonesia dan Malaysia. Ketika mendengar  hal itu, kami langsung melakukan penelitian tentang kebenaran informasi yang mengatakan buku tersebut lebih tua dari buku nasab “Syamsu Dzahirah” karangan Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur yang disusun pada akhir abad 19.
Alhamdulillah, setelah kami teliti timbul beberapa pertanyaan berkaitan dengan kebenaran buku tersebut. Di antaranya adalah terdapat beberapa perbedaan urutan silsilah nasab pada buku nasab Al-Junied yang terdapat di Indonesia dan Malaysia. Di samping itu, buku tersebut tidak ada sedikitpun tertulis nama penyusunnya, apalagi nama family Al-Junied. Bahkan dibeberapa bagian terdapat tulisan yang hilang yang kemungkinan sengaja dihapus oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan untuk mempertahankan pendapatnya bahwa buku itu memang lebih tua dari kitab ‘Syamsu Dzahirah’ yang dimiliki Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah. Yang menimbulkan pertanyaan lagi adalah selintas tulisan yang menyatakan tahun penyusunan buku tersebut tidak sama dengan tulisan silsilah yang ada pada buku tersebut dan terkesan tulisan itu tulisan baru.
Setelah beberapa saat kami menelaah dan mengumpulkan informasi ternyata ada titik terang yang merupakan jawaban dari kontroversi buku tersebut. Menurut  beberapa sumber, dan dari beberapa dokumen yang kami teliti, ternyata family Al-Junied Singapura adalah Alawiyin pertama yang mempunyai prakarsa untuk menyusun buku Aljunied pada tahun 1960-an, beberapa tahun setelah  dijadikannya Singapura sebagai perwakilan dari Rabithah Alawiyah Jakarta. Kantor yang dijadikan tempat untuk mengumpulkan pendataan nasab baik dari Singapura  maupun Malaysia terletak di  Madrasah Al-Junied dan Masjid Ba’alawi. Orang yang mengkompilasi buku nasab tersebut bernama Sayid  Harun bin Hasan Al-Junied di bawah pengawasan Sayid Ahmad Faisal Al-Junied.
Ketika kedua orang tersebut wafat, pemeliharaan silsilah nasab dilanjutkan oleh Abdullah bin Umar As-Syatri dan diserahkan kepada Sayid Ibrahim Alkaf. Untuk melengkapi data-data yang semakin hari semakin bertambah, Sayid Ibrahim Alkaf meminjam buku nasab milik Rabithah Alawiyah yang dibuktikan dengan adanya perjanjian tertulis di antara kedua belah pihak. Setelah Sayid Ibrahim Alkaf meninggal, kelanjutan penulisan dan pemeliharaan buku tersebut dipegang oleh Sayid Abdullah Assyatri dan saat ini konon buku tersebut masih terpelihara baik di tangan anak sayid Abdullah Assyatri yang bernama Sayid Umar Asyatri yang tinggal di Subang Jaya Malaysia.
Lalu apa motif sebagian pihak yang mengatakan bahwa buku tersebut lebih tua dari buku “Syamsu Dzahirah”, apalagi beberapa urutan silsilah family Alawiyin tertentu berbeda antara kitab Syamsu Dzahirah dengan kitab yang disangkakan sebagai kitab Al-Junied.  Apakah terdapat motif-motif yang tidak baik dari pihak tersebut sehingga ingin menguatkan pendapatnya yang bertentangan dengan kitab ‘Syamsu Dzahirah’ dan kitab yang ditulis oleh Habib Ali bin Ja’far Assegaf , yang lebih mengkhawatirkan lagi pihak tersebut diduga telah salah dalam menentukan urutan silsilah nasab beberapa family Alawiyin.
Wallahu a’lam.

NB.
Berita terkini yang penulis dapatkan, mengatakan bahwa buku nasab Al-Junied ‘TIDAK ADA

sumber: http://benmashoor.wordpress.com/2011/03/27/kontroversi-buku-nasab-al-junied/