ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Minggu, 28 April 2013

Al-Hamdu Lillahi Robbil 'Alamin(Putraku Tercinta Sudah Hafal NADZOM AL-FIYYAH IBNI MALIK, Mohon do'a dari semuanya semoga bermanfa'at, penuh barokah fi kulli waqtin wa hinin Ilalla Munahiyyah dalam segala multidimensial kehidupannya da fiddin waddun-ya wal-akhiroh, Amiin Ya Robbal 'alamin Wa Ya Arhamar Rohimin Wal Hamdu Lillah Robbil 'Alamin.)





===========
Al-Hamdu Lillahi Robbil 'Alamin Fi Kulli Waqtin Wa Hinin 'Adada Ma Fi Ma Fi Al-Fiyah Ibni Malik Wa 'Adada Ma Fi 'Ilmillah Wa Ma Wasi'ahu 'ilmulloh Wa 'Adada Ma Kholaqolloh:

Putraku tercinta Al-Habib Al-Mahbub (Muhammad Raja Dzi Raja Wa 'Abqory 'Alsya Bin Abdul Hamid Mudjib Hamid Al-Ishaqy 'Azmatkhan Kh) sudah Hafal NADZOM AL-FIYYAH IBNI MALIK, Mohon do'anya dari semuanya, semoga bermanfa'at, penuh barokah fi kulli waqtin wa hinin illala munahiyyah dalam segala multidimensial kehidupannya  fiddin waddun-ya wal-akhiroh, Amiin Ya Robbal 'alamin Wa Ya Arhamar Rohimin Wal Hamdu Lillah Robbil 'Alamin. 

Hal ini saya tulis juga sebagai Tahadduts binni'mah dari ayat ((Wa Amma Bini'mati Robbika Fahaddits>QS. Ad-Dluha : 11>
93:11
But as for the favor of your Lord, report [it].
))
==================

{وأمَّا بنعمةِ ربك فحدِّث} بشكرها وإشاعتها وإظهار آثارها ، يرد ما أفاضه الله تعالى عليه من فنون النعم ، التي من جملتها المعدودة والموعودة ، والنبوة التي آتاه الله تأتي على جميع النِعم ، ويَدخل في النِعم تعلُّم العلم والقرآن ، وفي الحديث عنه صلى الله عليه وسلم : " التحدُّث بالنِعَم شكر " ولذلك كان بعض السلف يقول : لقد أعطاني الله كذا ، ولقد صلَّيتُ البارحة كذا ، وهذا إنما يجوز إذا ذكره على وجه الشكر ، أو ليُقتدى به ، فأمّا على وجه الفخر والرياء فلا يجوز. هـ
.

(“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-n
yebutnya” QS. 93:11)
Dengan mensyukurinya, mensiarkannya dan menampakkan hasilnya dengan menjalankan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Alloh kepadanya, dan tergolong dalam nikmat Alloh adalah belajar ilmu dan al-Quran... ...

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda "Menyebut-menyebut nikmat adalah syukur", oleh karenanya sebagian ulama' Salaf berkata :
"Alloh memberiku begini, kemarin aku telah menjalankan sholat sekian"

Yang demikian itu diperbolehkan bila bertujuan untuk bersyukur atau agar dapat dianut oleh orang lain sedang bila bertujuan riya', sombong dan pamer, maka tidak boleh.
Al-Bahr al-Madiid VIII/489


{وَأَمَّا بِنِعْمَةِ
رَبِّكَ فَحَدِّثْ} أنه يجوز للإنسان أن يفتخر بطاعاته ومحاسن أخلاقه إذا كان يظن أن غيره يقتدي به، فثبت أن مطلق التكاثر ليس بمذموم، بل التكاثر في العلم والطاعة والأخلاق الحميدة، هو المحمود، وهو أصل الخيرات

(“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” QS. 93:11)
Sesungguhnya diperbolehkan bagi seseorang menyebut-nyebut kataatannya, kebaikan-kebaikan perilakunya bila ia menduga bahwa orang lain akan meneladaninya, dengan demikian tidak setiap bermegah-megahan itu tercela, bermegah-megahan dibidang ilmu, ketaatan dan perilaku-perilaku yang baik sangat terpuji karena ia adalah sumber dari segala kebaikan...
Tafsiir Fakhr ar-Rozi 32/227

Dalam Tafsiir al-Maraghi lebih diperjelas bahwa menyebut nikmat duniawi dengan memberikannya pada orang lain,...

(وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ) أي أوسع فى البذل على الفقراء بمالك ، وأفض من نعمه الأخرى على طالبيها ، وليس المراد مجرد ذكر الثروة والإفاضة فى حديثها ، فإن ذلك ليس من كرم الأخلاق فى شىء.

(“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” QS. 93:11)
Artinya perbanyak memberi pada orang fakirdengan hartamu, limpahkan nikmat-nikmat ukhrawi pada penuntutnya, bukan yang dimaksud hanya sekedar menyebut-nyebut kekayaan dan anugerah dalam pembicaraannya karena yang demikian bukanlah tergolong suatu akhlak yang mulia.
Tafsiir al-Maraaghi 30/187

{وَأَمَّا بِنِعْمَةِ
رَبِّكَ فَحَدِّثْ} والكتمان كفران النعمة ، وقد ذم الله عز وجل من كتم ما آتاه الله عز وجل وقرنه بالبخل فقال تعالى: {ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَآ ءَاتَـﯩـٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦۗ} وقال صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً أَحَبَّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَيْهِ»، وأعطى رجل بعض الصالحين شيئاً في السر فرفع به يده وقال: هذا من الدنيا والعلانية فيها أفضل والسر في أمور الآخرة أفضل. ولذلك قال بعضهم: إذا أعطيت في الملأ فخذ ثم اردد في السر والشكر فيه محثوث عليه. قال صلى الله عليه وسلم: «مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ»

(“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” QS. 93:11)
Menyembunyikan artinya menkufuri nikmat, Allah sangat mencela orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah berikan dan menghubungkannya dengan kata kikir, Allah berfirman :
“ (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka.” *QS. 4:37)

Nabi SAW bersabda :
“Saat Alloh memberi nikmat pada seorang hamba, Dia lebih suka bila nikmat tersebut dilihat dari-Nya”.

Sebagian Ulama' Sholihin diberikan sesuatu oleh orang, dia mengangkat tangannya seraya berkata “Yang ini bagian dari duniawi maka menampakkannya lebih utama, sedang menyembunyikan urusan-urusan akhirat lebih utama”.
Karenya sebagian Ulama' berkata “Bila engkau diberikan sesuatu dalam sebuah perkumpulan maka ambillah kemudian kembalikanlah saat dalam kondisi sendirian, dan mensyukurinya sangat dianjurkan”.
==================

Ceritakanlah Nikmat Tuhanmu…!!!!


Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil yang belang, botak dan buta. Allah bermaksud untuk menguji mereka, maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat itu datang kepada si Belang dan bertanya, ‘Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?’ Si Belang menjawab, ‘Saya menginginkan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku.’
Maka Malaikat itu lantas mengusap si Belang dan seketika hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu serta ia di beri paras yang tampan dan kulit yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi, ‘Harta apakah yang paling kau senangi?’ Si Belang menjawab, ‘Unta,’ (atau ia mengatakan, ‘Sapi.’ Perawi ragu-ragu antara unta dan sapi, sebab orang yang belang dan botak, satunya minta unta, yang lainnya minta sapi). Kemudian ia diberi unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan malaikat tadi berkata, ‘Semoga Allah memberi berkah dan rahmat atas apa yang kau terima.’
Kemudian Malaikat itu datang kepada Si Botak dan bertanya, ‘Apakah sesuatu yang paling kau inginkan?’ Si Botak menjawab, ‘Rambut yang rapi dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini.’ Malaikat lantas mengusap Si Botak dan seketika hilanglah penyakitnya serta tumbuh rambut yang rapi sebagai gantinya. Malaikat itu bertanya lagi, ‘Harta apakah yang paling kau senangi?’ Si Botak menjawab, ‘Sapi.’ Kemudian ia diberi sapi yang sedang bunting, dan malaikat tadi berkata, ‘Semoga Allah memberi berkah dan rahmat atas apa yang kau terima.’
Kemudian Malaikat itu datang kepada Si Buta dan bertanya, ‘Apakah sesuatu yang paling kau inginkan?’ Si Buta menjawab, ‘Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.’ Malaikat lantas mengusap si Buta dan Allah mengembalikan penglihatannya kepada si Buta. Malaikat itu bertanya lagi, ‘Harta apakah yang paling kau senangi?.’ Si Buta menjawab, ‘Kambing.’ Kemudian ia diberi kambing yang sedang bunting.
Lama kelamaan unta, sapi dan kambing berkembang biak dan unta tersebut memenuhi satu lapangan, begitu pula sapi dan kambing, masing-masing memenuhi satu lapangan.
Pada suatu waktu malaikat datang kepada si Belang dan menyamar sebagai orang yang berpenyakit belang seperti keadaannya semula sambil berkata, ‘Saya adalah seorang miskin dan telah kehabisan bekal di tengah perjalanan ini dan sampai hari ini tidak ada harapanku kecuali kepada Allah azza wajalla kemudian kepadamu. Saya benar-benar meminta pertolongan kepadamu dengan menyebut Dzat yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus serta harta kekayaan. Saya meminta kepadamu seekor unta untuk bekal melanjutkan perjalanan saya.’ Si Belang berkata, ‘Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak (saya tidak bisa membekali apa-apa).’
Malaikat itu berkata, ‘Kalau tidak salah saya pernah kenal denganmu, bukankah kamu dulu orang yang mempunyai sakit belang dan orang-orang jijik kepadamu, dan bukanlah kamu dulu orang yang miskin lalu Allah memberi rahmat kepadamu?’
Si Belang berkata, ‘Sesungguhnya saya mempunyai harta kekayaan ini dari nenek moyang.’ Malaikat berkata, ‘Jika kamu berdusta maka semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaanmu semula.’
Kemudian malaikat itu datang kepada si Botak dengan menyerupai orang yang berpenyakit Botak seperti keadaan si Botak waktu itu, dan berkata seperti apa yang dikatakannya kepada si Belang. Si Botak juga menjawab seperti si Belang; kemudian malaikat itu berkata, ‘Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti keadaanmu semula.’
Malaikat melanjutkan perjalanannya ke tempat si Buta dengan menyerupai orang yang buta seperti keadaan si Buta waktu itu, dan berkata, ‘Saya adalah seorang miskin, saya telah kehabisan bekal di tengah-tengah perjalanan ini dan tidak ada lagi harapanku kecuali kepada Allah kemudian kepadamu. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu dengan menyebut Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu, yaitu saya meminta satu ekor kambing untuk bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.’
Si Buta menjawab, ‘Saya dulu adalah orang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Dan dulu miskin, kemudian Allah memberi kekayaan seperti ini. Maka ambillah apa yang kau inginkan. Demi Allah sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kau ambil karena Allah.’
Malaikat itu berkata, ‘Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridha terhadap kamu dan Allah telah memurkai kedua kawanmu’.” [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:
1. Anjuran untuk berlemah lembut dan memuliakan orang-orang lemah dan miskin, mencukupi kebutuhan mereka, tidak melukai hati mereka dan tidak menghinanya
2. Ujian Allah terhadap hamba-hambaNya, untuk mengetahui di antara para hambaNya yang bersyukur dan kufur nikmat, yang shalih dan bukan shalih.
3. Kewajiban mensyukuri dan menceritakan nikmat dan larangan kufur serta ingkar nikmat.
4. Kemampuan para malaikat dalam merubah bentuk seperti menyamar sebagai manusia dan lainnya
5. Dibolehkan menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau dengan maksud untuk mengambil pelajaran dari kisah tersebut bukan untuk ghibah, dan kemungkinan inilah hikmahnya mengapa tidak disebutkan nama-nama para pelaku dalam kisah tersebut.
6. Diperbolehkan seseorang mengucapkan, “Harapanku hanya kepada Allah kemudian kepadamu.” Perkataan seperti ini tidak termasuk syirik (karena memakai Tsumma yang berarti kemudian, bukan Wa yang mengandung arti dan).
7. Banyaknya harta yang diberikan Allah pada seorang hamba tidak menunjukkan bahwa Allah lebih mencintai hamba tersebut, sebab dengan harta itu Allah bermaksud menguji para pemilik harta.
7. Keutamaan bersedekah.
8. Bakhil dan pelit adalah perbuatan yang tercela.