ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Rabu, 03 April 2013

Ujung Tombak Aswaja> Menara Kudus, 30 Tahun Berjuang

==========
Esai :
Ujung Tombak Aswaja> Menara Kudus, 30 Tahun Berjuang
=====================
Manusia berusia berusia 30 tahun, sudah pantas kawin. Tetapi saya tidak mengerti tindakan yang harus dilakukan oleh toko kitab yang beroperasi selama 30 tahun. Jawaban itu baiknya diserahkan kepada awak toko kitab dan masyarakat.

Menara Kudus sebuah toko kitab kuning di Jakarta. Belakangan buku-buku agama berjejal di rak toko. Menara Kudus beralamat di Jalan Kramat II Nomor 54 A Jakarta Pusat. Posisinya hanya berselang beberapa rumah dari majelis taklim terkenal Alm Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang.
Sebagai toko kitab, kehadiran Menara Kudus sangat membantu masyarakat khususnya muslim Indonesia yang berpaham Ahlussunah Waljamaah (Aswaja). Selain para kiai dan santri, keberadaannya tidak lain menjadi kaki penyangga bagi paham Aswaja itu sendiri.
Pembaca boleh membayangkan pembelajaran di pesantren atau majelis taklim tanpa kehadiran kitab kuning. Para kiai, santri, dan pengunjung majelis taklim di masjid-masjid akan duduk melongo tanpa mengerti apa yang mesti diperbuat.
“Kami buka setiap hari,” kata penjaga Toko Menara Kudus Muzamil di Toko Menara Kudus, Jakarta Pusat.
Setiap hari harus dipahami secara harfiah. Artinya, ia buka dari Senin hingga Ahad. Libur hanya berlaku bagi hari yang ditandai dengan penanggalan merah. Tetapi libur berlaku bagi penanggalan merah di luar Ahad.
Toko ini sering menerima pesanan kitab dari pelbagai kota bahkan negara. Toko yang setiap tahunnya mengikuti pameran di Senayan, kerap mengirim kitab-kitabnya ke pesantren di Jabodetabek, Medan, Aceh, Bukittinggi, Lampung, Bangka, Jambi, Kalimantan, Surabaya, Malang, Sulawesi, bahkan Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Suriname.
Menara Kudus setiap harinya dijaga oleh delapan petugas. Toko ini menjual kitab berbahasa Arab, Arab Melayu, dan Arab Pegon.
Sebelum memiliki website sendiri, toko ini awalnya memasarkan produknya lewat gelar kitab lesehan di majelis taklim dan masjid-masjid saat Jumatan. Selain itu, pemasaran kitab dilakukan dengan menyebarkan katalog atau kalender Menara Kudus.
Muzammil pria berusia 65 tahun asal Kudus menyatakan bahwa selama 30 tahun mengawal toko itu, dirinya tidak mengeluh apapun meski hingga kini masih sewa tempat. Ia menganggap ramai-sepi pelanggan hanya sebagai dinamika pasar. Namun, ia mengakui permintaan kitab pada sepuluh tahun terakhir agak meningkat.
Meskipun begitu, kelanjutan paham Aswaja di Indonesia selain pada kiai dan santri, akan sangat bergantung pada kehadiran toko kitab seperti Menara Kudus dan toko lainnya.

sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,43179-lang,id-c,esai-t,Menara+Kudus++30+Tahun+Berjuang-.phpx