ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 29 Agustus 2014

Sahabat Yang Ikut Perang Badar Adalah Paling Afdlol

===========

“Ahlu Badr adalah orang-orang muslim yang paling afdlol”, Mereka lebih Afdlol dari Semua Muslimin yang lain, dan Muslim lain Tidak ada yang lebih Afdlol dari mereka

Oleh: AlHabib Munzier bin Fuad Al-Musawwa
AlHabib Munzier bin Fuad Al-MusawwaKita ingat bahwa hari ini adalah tanggal 13 Ramadhan tepat dengan kejadian Fath Makkah, sebagaimana salah satu riwayat yang mengatakan bahwa Fath Makkah terjadi pada tahun ke-8 H tanggal 10 Ramadhan, sebagian mengatakan tanggal 13 Ramadhan, maka di malam ini kita mengingat kembali kejadian Fath Makkah, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bergerak dengan 10.000 muslimin, diawali dengan perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 H, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipaksa oleh kuffar quraisy untuk tidak masuk ke Makkah, maka para muslimin pun marah dan diantara mereka yaitu sayyidina Umar ibn Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ” Wahai Rasulullah, bukankah kita ini penduduk Makkah?”, maka Rasul berkata: “betul “, maka sayyidina Umar berkata lagi : “bukankah kita ini dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?”, rasul pun menjawab: “betul”, sayyidina Umar berkata lagi : “bukankah Engkau adalh Rasulullah pembawa kebenaran?”,”betul”, jawab Rasulullah. Maka diamlah sayyidina Umar bin Khattab tidak lagi meneruskan ucapannya dan Rasul terus memerintah para sahabat yang jumlahnya di saat perjanjian Hudaibiyah itu adalah 1.400 untuk mundur kembali ke Madinah Al Munawwarah dan tidak jadi memasuki Makkah. Namun di saat perjanjian Hudaibiyyah itu di malam harinya sayyidina Umar tercenung karena ketika ia bertanya kepada Rasulullah dengan satu pertanyaan maka Rasul tidak menjawab, bertanya kedua kalinya Rasul diam juga, bertanya ketiga kalinya Rasul pun tidak menjawab, maka sayyidina Umar pun pergi dalam hatinya ia berkata:“sungguh celaka aku ini, tiga kali bertanya kepada Rasulullah beliau tidak menjawab, celaka diri ini akan dimurkai Allah subhanahu wata’ala”, maka setelah ia menaiki kudanya ia pun dipanggil: “wahai Umar, Rasulullah memanggilmu telah turun ayat kepada Rasulullah”, maka sayyidina Umar berkata dalam hatinya:“sungguh celaka aku, itu pasti ayat yang turun karena murka Allah kepadaku karena aku mengganggu Rasulullah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَليَّ اللَّيْلَةَ سُوْرَةٌ لَهِيَ أَحَبّ إِليَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Sungguh telah turun padaku malam ini surat yang ia lebih kusenangi dan menggembirakanku lebih dari terbitnya matahari” (Shahih Bukhari)
Maka dijelaskan oleh Al Imam Ibn Katsir di dalam riwayat lainnya bahwa Rasulullah bersabda : “telah turun ayat yang lebih kucintai daripada dunia dan seisinya”, maka sayyidina Umar berkata : ” ayat apa wahai Rasulullah?”, Rasul berkata: ” Allah telah berfirman :
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ، مَا تَقَدَّمَ، مِنْ ذَنْبِكَ، وَمَا تَأَخَّرَ، وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ، وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ، نَصْرًا عَزِيزًا ( الفتح : 1-3 )
” Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)” (QS. Al Fath : 1-3 )
Sebagian ahli tafsir mengatakan yang dimaksud adalah dosa para shahabat dan pecinta beliau yang lalu dan yang akan datang. Tetapi makna ayat ini bertentangan karena disaat itu Rasulullah kembali ke Madinah, ditolak oleh kuffar quraisy untuk masuk ke Makkah, tetapi di saat itu Allah menurunkan ayat yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kemenangan untuk Rasulullah dan kaum muslimin, padahal yang terjadi di saat itu adalah Rasulullah dan kaum muslimin di usir untuk kembali lagi ke Madinah. Maka sayyidina Umar berkata : “wahai Rasulullah, apakah janji Allah ini adalah Fath untuk kita?”, maka Rasulullah berkata : “betul”, sayyidina Umar bertanya lagi: “kapan wahai Rasulullah”, tetapi Rasulullah diam tidak menjawabnya. Kapankah Fath Makkah itu terjadi?, dua tahun kemudian yaitu pada tahun ke-8 H, di dalam riwayat mengatakan pada tanggal 10 Ramadhan, di riwayat yang lainnya pada tanggal 13 Ramadhan.
Di saat kejadian itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk tidak satupun diantara mereka yang mengacungkan pedang, tidak ada senjata yang keluar dari sarungnya, kecuali jika ada yang menyerang maka boleh mengeluarkan senjata, maka masuk ke Makkah dari segala penjuru, yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia selamat, yang masuk ke rumahnya sendiri ia selamat, yang masuk ke masjid ia pun selamat, dan yang melawan akan dihabisi, maka tidak ada dintara mereka yang melawan. Dan di saat itu banyak diantara mereka yang masuk Islam dintaranya adalah Abu Quhafah, ayah sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra yang buta, diseret oleh Muslimin untuk mengahadap Rasulullah tetapi Rasulullah yang datang menghampirinya, maka Abu Qahafah masuk Islam di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah menoleh kepada Abu Bakr dan berkata: ” wahai Abu Bakr, kuberi engkau kabar gembira, ayahmu telah masuk Islam”, maka ketika itu berubahlah wajah Abu Bakr As Shiddiq, ia menunduk dan kemudian mengalirkan air mata karena sedih, maka Rasulullah berkata: ” wahai Abu Bakr, bukankah aku membawa kabar gembira bahwa ayahmu telah masuk Islam, apakah engkau tidak gembira dengan hal itu, mengapa kau cemberut “, maka Abu Bakr As Shiddiq semakin menangis dan berkata : ” Wahai Rasulullah , aku senang karena ayahku masuk Islam, tetapi aku lebih senang jika paman-pamanmu (seperti Abu Lahab dan Abu Jahal ) yang meninggal dalam kekufuran mereka masuk Islam karena hal itu akan lebih membuatmu gembira”, maka Rasulullah memeluk Abu Bakr dan berkata : ” Barakallahu fiik wahai Abu Bakr , engkau tau perasaanku “.
Kita lihat bagaimana kecintaan Khalifah pertama sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau senang dengan ayahnya masuk Islam, tetapi setelah beliau ingat bahwa paman-paman Rasulullah ada yang wafat dalam kekufuran, maka beliau merasa bahwa hal itu sangat menyakitkan perasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jika seandainya paman-paman Rasulullah yang masuk Islam hal itu lebih ia senangi karena hal itu pasti menggembirakan Rasulullah, oleh karena itu Abu Bakr merasa terharu, sedih dan malu karena Rasulullah memberi kabar gembira dengan keislaman ayah beliau, sedangkan paman-paman beliau ada yang tidak mendapatkan hidayah, inilah akhlak sayyidina Abu Bakr As Shiddiq.
Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim ketika Rasul mendapat kabar dari Jibril As, bahwa kaum Anshar kasak kusuk setelah hari Fath Makkah itu, dimana kaum Anshar adalah penduduk Madinah dan mereka berkata bahwa mereka tidak memiliki rumah di Makkah, maka mereka harus pulang ke Madinah dan berpisah dengan Rasulullah yang telah sepuluh tahun hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kini Rasul sudah pulang ke kampungnya di Makkah , maka wajah mereka pun sudah mulai suram, sedangkan kaum Muhajirin gembira karena kembali ke rumahnya, kembali kepada keluarganya, temannya , dan para kerabatnya karena sepuluh tahun tidak berjumpa dengan mereka. Dan kaum Anshar yang penduduk Madinah tercenung sedih melihat muhajirin yang saling bergembira, maka Rasulullah berkata kepada kaum Anshar : ” wahai kaum Anshar berkumpullah, aku mendengar benarkah diantara kalian ada yang berkata bahwa aku telah pulang kampung dan kalian akan kembali ke Madinah dan berpisah denganku?”, maka mereka berkata : ” betul wahai Rasulullah, kami risau jika kami harus pulang dan berpisah denganmu”, maka Rasulullah berkata:
كَلاَّ إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ اَلْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ
” Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian “
Demikian cinta Rasulullah kepada kaum Anshar, beliau tidak memilih kampung halamannya, tidak memilih tempat kelahirannya tetapi lebih memilih tempat para pecintanya. Di saat semua kampung  menolak dan mengusir Rasulullah hanya Madinah lah yang menerima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan wilayah lain tidak mau menerima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena akan dikejar-kejar oleh kuffar Qurays, maka semuanya mengusir nabi hanya Madinah yang mau menerima Rasulullah, maka Rasulullah tidak mau berpisah dengan kaum Anshar. Makkah sudah dikuasai tetapi beliau hanya diam selama 15 hari dalam salah satu riwayat, setelah itu beliau kembali ke Madinah sampai wafat di Madinah, beliau ingin selalu bersama dengan para pecintanya. Semoga Jakarta menjadi kota para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, amin.
Assalamu 'alaika Ya RosulallahSubhanallah . Di saat itu Rasulullah meminta pendapat para sahabat, di Badr Al Kubra bukannya Rasul mengajak perang, Rasulullah bukanlah orang yang menyukai perang, rasul tidak menyukai gencat  senjata, namun mereka kuffar quraisy selalu berkumpul untuk menyerang Rasulullah, sampai ketika perang Tabuk Rasulullah keluar ke Tabuk demi menjaga Jazirah Arab agar jangan sampai diserang Romawi, itulah yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula di Badr Al Kubra, kejadian Badr Al Kubra itu bukanlah bertujuan untuk berperang tetapi hendak memotong kafir Quraisy yaitu kafilah Abu Sufyan. Karena setiap kali kafilah muslimin akan masuk ke Madinah, sering dirampok oleh orang-orang kuffar quraisy, maka Rasulullah ingin sekali-kali memberi pelajaran kepada mereka, maka dipotonglah kafilah Abu Sufyan. Dan Rasulullah pun keluar bersama muslimin yang jumlahnya 313, diriwayat yang lain 314 dan dalam riwayat yang lain 319, namun dalam Shahih Al Bukhari tiga riwayat menyebutkan 313, dan yang mengatakan 314 menurut Al Imam Ibn Hajar bahwa yang ke 314 adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang mengatakan 315 karena ada satu orang yang masuk Islam di tengah jalan kemudian ia ikut perang Badr, dan yang mengatakan 319 yaitu karena ada orang-orang yang dilarang ikut tetapi mereka tetap ikut seperti Abdullah bin Umar Ra.
Maka di saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, kaum muhajirin dan anshar dikumpulkan dan beliau berkata: “wahai para sahabat berilah aku pendapat dalam hal ini “, maka sayyidina Abu Bakr berkata : ” kita semua siap untuk berangkat perang wahai Rasulullah”, sayyidina Umar pun berkata demikian. Maka kaum Anshar yang mendengar hal itu terkejut karena mereka bukanlah orang-orang yang ahli dalam peperangan tidak seperti kaum muhajirin, mereka adalah para petani, peternak dan pengelola kebun-kebun kurma yang tidak mengerti tentang perang, maka mereka pun bingung dan hanya diam, hingga Rasulullah mengulang ucapannya lagi : ” wahai para sahabat berilah aku pendapat kalian “, akhirnya salah seorang dari Anshar berdiri dan berkata : ” wahai Rasulullah, sepertinya engkau menunggu pendapat kami dari kaum Anshar ?”, Rasulullah berkata : ” iya betul yang kutunggu pendapat kalian, karena dari tadi hanya kaum muhajirin yang berbicara”, maka orang itu berkata : ” Wahai Rasulullah berangkatlah, kami siap berangkat bersamamu, kemanapun engkau pergi kami ikut, engkau naik ke atas gunung kami ikut naik ke atas gunung, engkau masuk ke dasar lautan kami pun ikut ke dasar lautan, seandainya pun kami harus mati satu persatu tenggelam di lautan, maka tidak satupun dari kami kaum Anshar yang akan tersisa, barangkali hal itu bisa membuat kami menggembirakanmu wahai Rasulullah”. Nyawa mereka tidak ada artinya demi menggembirakan hati sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka ingin menghibur Rasulullah dengan nyawa mereka, demikian keadaan para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin hadirat, namun jangan disalah tafsirkan bahwa Ahlu Badr itu adalah kelompok beringas, kelompok anarkis, kelompok teroris atau yang lainnya, tidak demikian. Ahlu Badr adalah orang-orang damai, sampai-sampai Abu Thalhah Al Anshari Ra dia adalah orang yang sangat pemberani dari kalangan Anshar, dimana Rasulullah berkata bahwa Abu Thalhah sama dengan 1000 pasukan yang lain karena dahsyatnya kekuatan Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah. Maka diriwayatkan dalam Ibn Hisyam bahwa di saat perang Badr pedang Abu Thalhah terjatuh karena kantuknya disebabkan shalatnya yang terlalu lama di malam harinya. Jika seseorang berperang dengan emosi bisakah ia merasakan kantuk?!, melihat ribuan pasukan di hadapannya yang dilengkapi dengan perisai baja dan pedang-pedang terhunus, dan panah-panah yang terus terarah kepada mereka, masih bisakah ngantuk?!, kalau berperang dengan hawa nafsu maka tidak akan pernah bisa ngantuk, yang ada salah satu diantara dua hal yaitu ngamuk dengan serabutan atau lari ke belakang, bukankah begitu?. Tapi Abu Thalhah bisa mengantuk hingga pedangnya terjatuh karena santainya menghadapi perang, mereka menghadapi kematiaan dengan santai dan tenang, karena mereka bukan pasukan beringas, mereka adalah orang-orang damai, ahlu dzikir, demikianlah keadaan Ahlu Badr radiyallahu ‘anhum.
Mereka adalah orang-orang paling mulia, sehingga di hadits yang tadi kita baca dijelaskan bahwa ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pendapat beliau tentang para sahabat beliau ahlu Badr, maka Rasul berkata : ” mereka ahlu Badr adalah orang-orang muslim yang paling afdhal”, mereka lebih afdhal dari semua muslimin yang lain, dan muslim lain tidak ada yang lebih afdhal dari mereka. Ahlu Badr adalah perpaduan dari bangsa arab dan bukan bangsa arab, dari kaum budak dan orang-orang merdeka, dari golongan kaum jelata hingga golongan orang yang kaya raya, dan diantara mereka pula para ahlu bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bendera dipegang oleh dua kelompok , satu dari Muhajirin dan yang satu dari kaum Anshar, bendera Muhajirin dibawa oleh oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah Ra benderanya berwarna hitam demikian yang dijelaskan dalam sirah Ibn Hisyam, dan bendera kaum Anshar berwarna putih. Demikian dahsyatnya perang Badr Al Kubra, maka Rasul berkata bahwa mereka adalah muslimin yang paling afdhal, dan di saat itu pun Jibril menjawab bahwa malaikat yang ikut di perang Badr mereka juga malaikat yang paling afdhal.
Hadirin hadirat, setelah perang Badr selesai tidak semuanya wafat, tetapi ada beberapa yang wafat dan ada yang masih hidup, diantara yang hidup itu terus hidup hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wafat. Dan ketika masa khalifah Abu Bakr As Shiddiq Ra maka di saat itu banyak pemberontakan di beberapa wilayah, diantaranya di Yaman, maka penguasa di kota Tarim Hadramaut meminta bantuan dari khalifah Abu Bakr As Shiddiq untuk mengirim pasukan, karena banyak pemberontak yang memberontak terhadap kekhalifahan Abu Bakr As Shiddiq, maka dikirimlah para pasukan Ahlu Badr ke Tarim Hadramaut, dan disana ada gunung yang disebut Jabal Khailah (gunung kuda), mengapa disebut gunung kuda?, karena disitulah turunnya kuda-kuda ahlu Badr yang datang dari Madinah diutus oleh sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra ke kota Tarim Hadramaut untuk berjihad disana, sebagian diantara mereka wafat dan dimakamkan di Tarim hingga sekarang kuburnya dikenal dengan kuburan ahlu Badr karena disana dimakamkan beberapa orang ahlu Badr, dan sejak itulah Al Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir hijrah dari Baghdad ke Tarim Hadramaut, kemudian cucunya Al Iman Ali Bin Alawy Khali’ Qasm  membangun pemakaman Zanbal di sekitar pemakaman Ahlu Badr, hal ini menunjukkan bahwa para sahabat dan para ahlu bait Rasul ingin selalu berdampingan, para habaib kita selalu ingin dekat dengan para sahabat Ra, maka disanalah makam Al Imam Haddad, makam Al Imam Alfaqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, makam Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Atthas, makam Al Imam Abdullah bin Abu Bakr Al Aidarus, makam Al Imam Abdurrahman As Saggaf, semua berdampingan dengan kuburan ahlu Badr radiyallahu ‘anhum.
Dan sebagian dari mereka berangkat ke pulau Jawa, 9 orang menuju Gujarat kemudian ke Jawa dan meyebarkan Islam dan mereka di kenal dengan sebutan Wali Songo, dimana mereka dari Gujarat yang berasal dari Yaman, para keturunan Al Imam Faqih Muqaddam, keturunan Al Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir. Kita lihat sanadnya Islam di Indonesia yang bersambung yang berasal dari para da’i yang berasal dari Tarim Hadramaut, siapa mereka? Mereka adalah para ahlu bait Rasulullah, keturunan Al Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir yang hijrah dari Baghdad ke Tarim Hadramaut. Kita lihat sanadnya dari zaman Rasululullah ke zaman sayyidina Abu Bakar As Shiddiq kemudian Abu Bakr mengirim pasukan Ahlu Badr ke Tarim Hadramaut berjihad di Tarim dan sebagian wafat, kemudian perjuangan dilanjutkan oleh khalifah Umar bin Khattab, khalifah Utsman, dan khalifah Ali bin Abi Thalib hingga sampai kepada Al Imam Ahmad Al Muhajir yang akhirnya juga hijrah juga ke Tarim dan bergabung lagi dengan para ahlu Badr yang dimakamkan di sana, dan dari sana sampailah ke Indonesia ini, jadi sanad kita ini sebenarnya tersambung kepada ahlu Badr radiyallahu ‘anhum waardhahum.,
Subhaanallah..