ABDUL HAMID MUDJIB HAMID BERSHOLAWAT

Jumat, 18 Januari 2013

Ilmu Kanuragan Sebagai Bekal Dakwah

============================
Ilmu Kanuragan Sebagai Bekal Dakwah
===========================

Para wali dan ulama menyiarkan Islam dengan berbagai cara. Namun, seorang muballigh baik kalangan wali ulama atau kiai memang harus memiliki kelebihan dibandaing masyarakat yang lain. Kelebihan ilmu dengan sendirinya menjadi syarat utama, tetapi selain itu harus memiliki keahlian ekstra yang lain, apakah suara yang merdu, kesaktian dalam pengobatan, dan keahlian dalam menaklukkan binatang, penjahat atau mengusir makhluk halus. Kalau tidak, kehadiran mereka tidak bisa melindungi umat yang didatangi.

Kiai Haji Muhammad Cholid seorang mubaligh di Banjarmasin Kalimantan Selatan setiap saat berdakwah ke masyarakat pedalaman yang daerahnya hutan berawa. Masyarakatnya umumnya pencari ikan, tetapi mereka memiliki ancaman serius yaitu dengan banyaknya buaya, setiap saat ada saja orang  disambar predator yang ganas itu, ketika mandi atau mencuci di kali.

Pada suatu ketika terjadi heboh di masyarakat. Ada seorang disambar buaya, maka datanglah mereka kepada ayah kandung KH Idham Cholid mantan Ketua Umum PBNU itu untuk meminta pertolongan. Mereka tidak mau tahu apakah sang kiai seorang pawang yang memiliki ilmu menangkap buaya atau tidak, tetapi mereka mesti minta tolong ke sana dengan yakinnya. Melihat kenyataan itu tidak ada pilihan lain bagi Kiai Cholid kecuali mengabulkan permintaan mereka, walaupun menantang risiko, tetapi tugas keulamaan untuk melindungi umat mesti dijalankan.

Sang kiai bersembahyang kemudian membaca doa, lalu dipersiapkanlah pancing dengan umpan seekor ayam untuk mengkap buaya. Dikatakan hanya buaya penyambar yang akan kena, sementara buaya lain tidak akan memakan umpan itu dan tidak akan ditangkap. Akhirnya tertangkaplah buaya itu dan orang semakin kagum dan takdzim pada Sang Kiai.

Setelah itu orang pada berdatangan minta diajari mantera, pada sat itulah Kiai Cholid mengajarkan mereka tentang kalimat tauhid, dan menuntun mereka bersyahadat. Dengan cara itu orang banyak belajar mantera agar selamat dari sambaran buaya, akhairnya orang ramai-ramai belajar agama. Dengan melalui jalan penyelamatan dan pelindungan pada umat itulah akhirnya orang tertarik untuk memeluk agama Islam
. (Abdul Mun’im DZ)
 
sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,7-id,10964-lang,id-c,fragmen-t,Ilmu+Kanuragan+Sebagai+Bekal+Dakwah-.phpx